Kau melayani dirimu sendiri dengan teh di apartemen Akashi—mengingat lelaki merah sialan itu tidak mungkin mau menjamumu.
Kini, duduk di sofa—bersandar melepas lelah; menenangkan diri. Akashi di sebelahmu, duduk melipat kedua tangan depan dada angkuh. Kau tidak memedulikannya, mengangkat cangkir—meneguk teh, dan meletakkannya kembali pada piring di meja.
"Jadi apa yang membawamu kemari?" tekan Akashi. Kau menoleh padanya—mengerjapkan kedua mata. Jarak antara duduk kalian tidak dapat dikatakan jauh, namun dekat juga tidak—toh tak lebih dari satu meter.
"A-Ano ne, Akashi-kun." Kau tersenyum kaku—respon dari pandangan mengintimidasi sang lelaki terkait. Kemudian meneguk ludah, menyerukan pemikiranmu.
"A-Apa kau mau menemaniku melakukan interview?"
Mangaka
Story © alice dreamland
The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi
Genre: Romance, Drama, (slight) Humor gagal
Warning: Typo(s), all in 2nd PoV, alur lambat/ngebut, AkashixReader, slight KisexReader & KurokoxReader, Mangaka!Reader (Kitagawa Ruri), OOC, random
[Drabble 7—Janji, Penuh Resiko dan Harus Ditepati]
"Tidak," tolak Akashi tegas. Manikmu melebar.
"Heee? Nandeee?!" Berdiri—meloncat-loncat kala memandangnya dengan tatapan memelas, berharap hatinya sedikit luluh karena perbuatanmu.
"Membuang-buang waktu," ujar sang pemuda merah datar—berdiri, hendak pergi jika saja kau tak menahan pergelangan tangan kanannya dengan kedua tangan mungilmu. Ia menoleh ke belakang—alis bertaut kesal. Kenapa kau memaksanya? Toh itu bukan urusannya, ia berhak menentukan pilihan.
"Mou! Tapi kan Akashi-kun sudah menjadi asistenku!" serumu—nada suara meninggi.
"Sejak kapan aku menjadi asistenmu? Dan lepaskan tanganku sekarang." Pemuda itu memicingkan kedua mata. Kau menggeleng dan justru mengeratkan pegangan kedua tanganmu—bersikeras tidak melepaskannya.
"A-Akashi-kun kan bilang akan membantuku!" Kau berusaha memberi argumen.
"Dan aku sudah membantumu kemarin." Ia menepis tanganmu cepat—namun kau menariknya lagi; membuat lelaki itu mendecak kesal dengan perempatan di pelipisnya.
"Uhh..." Kau menggembungkan pipi—batin berusaha mencari alasan lain. "J-Jaa! Kalau begitu kau bisa ikut dan duduk diam saja di pinggir menemaniku!"
Perempatan di pelipis Akashi mengganda.
Memangnya kau pikir dia apa? Benda pajangan?
"Tidak. Aku tidak mau," hardiknya. Kau menghela napas pasrah. Namun mengerjap berulang kali kala benak mendapati sebuah ilham.
"B-Bagaimana kalau aku akan mengabulkan satu permintaan Akashi-kun? T-Tapi yang bisa aku lakukan!" Kau menatapnya penuh harap. Meski tahu mungkin akan merugikan, setidaknya kau akan ada teman kala interview berlangsung.
(Teman yang dapat membantumu menjawab pertanyaan kala kau terlalu gugup untuk memberi respon.)
Akashi tampak menimbangkannya sejenak—terlihat dari maniknya yang mencerminkan keraguan. Kau menatapnya serius—atau setidaknya berusaha serius—hingga lelaki itu menatapmu tajam, mengangguk singkat menyetujui perjanjian.
Jika dipikir-pikir, itu bukanlah pilihan buruk—mengingat interview tidaklah sulit, juga kau tipikal orang yang sulit diperintah Akashi. Kau juga takkan mungkin ingkar janji.
Kedua manikmu berkaca-kaca gembira—senyuman lebar mengembang. Kedua tangan terbentang lebar, segera melompat—hendak memeluk sang pemuda jika saja ia tidak menyingkir, membuatmu terjatuh di lantai.
"ITAAII!" serumu kala tubuh membentur lantai. Tak membuang waktu lebih lagi, cepat—kau berdiri seraya menggembungkan kedua pipi.
"Jangan coba-coba memelukku," ujar Akashi sarkastik. Kau melipat kedua tangan di depan dada—mengalihkan pandang.
"Tidak apa-apa, kan! Uuhh... Akashi-kun dingin sekali," gumammu kesal. Pemuda merah itu memicingkan kedua mata seraya duduk kembali di sofa. Untuk apa berdiri lama-lama? Melelahkan saja.
Kau yang melihatnya ikut mengambil posisi duduk—menatapnya intens; membuat Akashi mau tak mau merasa risih. Ia hendak menanyakannya, namun mulutmu telah lebih dulu memulai pembicaraan baru.
"Sou ieba, Akashi-kun," ucapmu kala tidak ada perbincangan antara kalian—menyisakan keheningan. "Boleh tidak Akashi-kun kupanggil Sei-chan?"
Akashi menatapmu tajam. "Dan apa alasanmu memanggilku seperti itu?"
"Datte, nama itu imut!" Kau tersenyum lebar—kedua tangan terkepal erat; manik memandangnya antusias.
Perempatan siku-siku kembali muncul di pelipis Akashi—
DLEB!
—dan sebuah gunting mendarat mulus di tembok sebelahmu. Wajahmu memucat, sepertinya memanggil sang emperor 'imut' adalah hal yang tabu. Senyumanmu memudar.
"Aku rasa kau ingin merasakan ketajaman guntingku, hm?"
"C-Chotto!" Kau menggembungkan kedua pipi. "A-Aku kan hanya mengatakan apa adanya! Memangnya masalah kalau di mataku Akashi-kun terlihat i—"
DLEB! DLEB! DLEB!
"HUWAAAA! G-GOMENASAAAAAIII!"
.
Saya harap ngak OOC. Dan maaf pendek huehehe, makasih banyak yang sudah fave, fol, dan mereview :3
Maafkan saya karena lama banget updatenya 0/0)/
Humor gagal astaga—saya ngak bisa humor soalnya hiksu. Semoga aja semua betah membacanya :'
Sekian!
~alice dreamland
