Summary :

Semua orang pasti mempunyainya, bukan? Masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Masa lalu dimana kau melakukan suatu kesalahan yang tak termaafkan. Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kau akan berhadapan dengan masa lalumu itu?

Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Shinohara Kenta-san


Chapter 7 : Relieve

"Apa kau yakin, Kimiko-chan? Semua orang pasti mempunyai rahasianya sendiri... Jangan melakukannya hanya karena terpaksa" kata Bossun.

"Daijobu. Lagipula, seperti yang kubilang tadi, kalian semua berhak mengetahuinya" jawab Kimiko. Dia menarik napas panjang.

"Yah... Seperti yang sudah kalian ketahui, aku pindah dari sini hampir dua tahun yang lalu. Aku cukup menikmati kehidupan di kota baruku. Orang-orang di sana menerima kami dengan ramah. Untuk beberapa waktu, kami tinggal dengan damai" kata Kimiko.

"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Himeko. Raut wajah Kimiko menggelap.

"Lalu... Kejadian itu pun terjadi" jawab Kimiko. Wajahnya tersenyum sedih. Pikirannya mengulang kembali peristiwa itu...


Hari itu sama seperti hari lainnya. Aku pulang sekolah bersama Misao yang sedang bersenandung gembira di sampingku.

Aku dan Misao adalah kakak adik. Aku menjadi sang kakak perempuan. Misao adalah sang adik laki-laki. Kami berdua hanya berbeda 2 tahun. Walaupun begitu, tetap saja banyak orang yang salah mengira Misao adalah kakakku. Fakta bahwa, meskipun aku yang lebih tua, tetapi Misao lebih tinggi daripadaku.

Salah satu dari sekian hal yang sering dijadikan bahan godaannya.

Contohnya yah... Seperti saat ini.

"Hahahaha! Bahkan sampai kasir saja menganggapku lebih tua darimu" kata Misao tertawa terbahak-bahak. Tadi kami berdua mampir sebentar di minimarket, untuk membeli susu. Dan seperti yang sudah dikatakan Misao tadi, sang kasir salah mengira dia adalah sang kakak. Bukan aku.

"Urusai! Bukan salahku kalau cowok itu lebih tinggi dari cewek!" balasku sebal.

"Sudah, sudah... Jangan pasang wajah cemberut seperti itu... Imouto-chan~" goda Misao menepuk-nepuk kepalaku, sama seperti menghibur anak kecil.

Yang sama sekali tidak menenangkanku.

"Enak saja kau ngomong! Panggil aku Onee-chan! Onee-chan! Aku bukan adikmu!" protesku yang diabaikan begitu saja olehnya.

"Ah, ngomong-ngomong" Misao berhenti menepuk kepalaku, "Aku jadi pergi hari Minggu ini"

"Oh? Kau jadi memutuskan untuk melakukannya ya?" tanyaku tersenyum.

"Yah... Setelah kupikir-pikir, kata-katamu itu ada benarnya juga. Jadinya, aku memutuskan untuk jadi mengajaknya" kata Misao tersipu-sipu.

"Ciee! Adikku sebentar lagi akan pergi kencan~ Dan tak lama kemudian mereka tunangan, lalu me–"

"Onee-chan!" seru Misao salah tingkah. Aku malah semakin ingin menggodanya. Balas dendam memang manis.

Jadi begini. Misao adikku tersayang ini sudah sekian lama memendam suka pada Misora, teman sekelasnya. Sebenarnya, hampir satu kelas tahu, kecuali Misora sendiri. Meskipun begitu, hubungan mereka baru sekedar teman sekelas yang entah mengapa saling malu saat berpandang-pandangan. Dan karena aku sudah gemas, akhirnya aku menyarankan Misao untuk mengajaknya kencan.

"Tak perlu rumit-rumit. Taman hiburan saja sudah cukup, kok. Kalau tidak salah ada taman hiburan yang baru buka, kan? Deseney World?" saranku waktu itu.

Saran yang diikutinya terlalu baik. Aku bertanya-tanya... Kalau Misao tidak mengikuti saranku, akankah hal itu tetap terjadi?

"Urusai!" protes Misao. Wajahnya semakin merah, mirip dengan kepiting rebus. Melihat wajahnya, aku malah semakin ingin menggodanya. Jarang sekali menemukan topik yang membuat Misao salah tingkah seperti ini. Lagipula, aku tidak bisa menyangkal aku tidak sebal dengannya karena mengejekku tadi. Hukum karma benar-benar ada.

Yap. Hari ini benar-benar seperti hari biasanya.

Tepat pada hari Minggu, Misao sudah bangun pagi-pagi sekali. Jam 7. Pagi, karena menurut standar Misao, dia bangun jam 11 pada hari Minggu. Dia langsung mandi, berpakaian, dan menyisir rambutnya. Ayah dan Ibu sampai tercengang melihatnya. Dan aku? Aku berusaha sekali untuk menahan tawa. Bukan hanya itu saja keanehan Misao. Sudah Daritadi Misao tak bisa diam. Dia mondar-mandir melulu. Ruang keluarga ke dapur. Dapur ke ruang keluarga. Kadang-kadang diselingi dengan toilet. Begitu berulang-ulang. Seperti setrika saja.

"Misao! Cukup! Duduk saja di sofa sana!" perintah Ibu. Akhirnya, habis juga kesabarannya.

Misao duduk. Tapi kali ini, giliran tangannya yang tidak bisa berhenti. Ibu hanya mendesah putus asa. Tepat jam 9, dia langsung pergi.

"Loh? Bukannya janjimu itu jam 10, ya? Kenapa sudah pergi sekarang?" tanyaku.

"Lebih awal lebih baik. Lagipula, tidak baik membuat wanita menunggu. Aku pergi dulu, Yah, Bu!" kata Misao, segera menghilang di balik pintu. Begitu pintu menutup, Ibu langsung menoleh ke arahku.

"Jadi... Kapan giliranmu? Adikmu yang seperti itu saja sudah mempunyai pacar. Masa kau sendiri belum?" tanya Ibu.

"Okaasan! Mereka baru kencan! K-e-n-c-a-n! Belum pacaran!" seruku. "Dan apa yang dimaksud dengan 'seperti itu'?" tambahku dalam hati.

"Betul, Kimiko. Lagi-lagi kau dikalahkan adikmu. Padahal tinggi badanmu saja sudah dikalahkan Misao. Masa kau mau dikalahkan juga dalam pacaran" kata Ayah.

"Jangan Otousan juga!" seruku. Kedua orangtuaku tertawa kecil melihat reaksiku.

Aku tidak menyangka bahwa setelah hari itu, keluarga kami tidak akan seperti ini lagi.


"Kenapa... Kenapa harus Misao? Dia anak yang baik, anak pintar, masih muda pula. Tapi, kenapa dia..." kata Ibu di sela-sela tangisnya. Di sampingnya ada Ayah, yang sedang menenangkan Ibu. Aku hanya menatap mereka berdua dengan sedih.

Pada sore itu, muncul berita di televisi. Terjadi kecelakaan di Deseney World. Bianglala yang ada di sana tiba-tiba roboh. Tak ada yang selamat.

Termasuk Misao.

(Mengapa sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi pasangan untuk naik bianglala di taman permainan?)

Ibuku menangis saat upacara pemakamannya. Ayahku, yang sekeras batu pun ikut menangis. Aku bisa melihat tubuhnya yang ringkih gemetaran menahan sedih. Saudara, teman, kenalan... Semuanya menangis.

Kecuali aku.

Bukannya aku tidak bisa menangis. Aku hanya... Tidak bisa. Seakan-akan mulutku tersumpal batu. Yang bisa kulakukan hanya bisa diam terpaku, menatap peti mati Misao. Foto wajah Misao tepat di atasnya. Tersenyum lebar.

Senyum yang tidak bisa kulihat lagi.

Aku tidak pernah sama lagi sejak itu. Ini mungkin terdengar klise, tapi aku menyalahkan diriku sendiri.

Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk bertanya-tanya. Coba saja aku mencegahnya pergi... Coba saja aku tidak mengusulkannya pergi ke Deseney World... Misao pasti masih hidup. Aku masih bisa mendengar suaranya, tawanya, dan bahkan ejekannya. Aku rela menjadi bahan ejekannya seumur hidup asal dia bisa hidup kembali.

Tapi aku tidak melakukan itu semua. Aku tidak mencegahnya pergi. Aku yang mengusulkan ke Deseney World terkutuk itu. Dan Misao sekarang sudah meninggal. Semuanya gara-gara aku.

Orang-orang berkata, "Ini bukan salahmu". Kenyataanya, aku tetap tak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri.

Lambat laun, aku mulai menutup diri. Aku bahkan hampir tidak membuka mulut kecuali di rumah. Aku tetap pergi ke sekolah seperti biasanya. Tapi, hanya itu saja. Aku bahkan sudah tidak menyentuh piano lagi sejak itu. Piano yang biasanya hampir setiap hari kusentuh. Ayah dan Ibu khawatir, tapi tidak banyak yang bisa mereka lakukan.

Aku juga sadar sepenuhnya bahwa aku menjadi buah bibir di kelas. Aku memang diam, tapi bukan berarti mendadak aku menjadi tuli. Yah, komentar-komentar umum seperti "Kasihan sekali dia" atau "Dia hampir sama sekali tidak bicara" sampai komentar yang cukup menyakitkan hati seperti "Anak aneh itu seharusnya tidak ada di kelas kita". Aku hanya mengabaikan saja mereka.

Hari-hari berlalu begitu saja. Begitu sunyi. Tak terasa sudah hampir sebulan sejak Misao meninggal. Apa kau tahu istilah "Tenang sebelum Badai" ? Mungkin tidak tepat seperti itu istilahnya tapi kira-kira artinya sama. Seperti saat-saat tenang sebelum perang dimulai.

Saat itu sedang malam, di mana kebanyakkan orang sudah ada di rumahnya. Menikmati waktu bersantai bersama keluarga. Aku menonton televisi. Ibu mencuci piring bekas makan malam. Ayah sibuk membaca korannya. Tak ada pembicaraan di antara kami. Kegiatan normal setelah Misao tidak ada. Tiba-tiba saja terdengar bunyi ketukkan pintu. Ibu langsung ingin meninggalkan cuciannya, kalau saja aku tidak menyelanya.

"Biar aku saja yang buka, Bu" kataku beranjak bangun dari sofa.

Begitu aku membuka pintu, aku segera disambut oleh pistol yang teracung ke arahku.

"Anak manis, tetap diam dan balikkan badanmu" kata orang itu. Aku tidak bisa melihat wajahnya, karena dia mengenakan topeng. Satu-satunya yang jelas adalah dia mengenakan baju serba hitam. Aku menuruti perintahnya.

"Kimiko-chan, siapa yang datang malam..." Ibu tidak menyelesaikan pertanyaannya. Tidak setelah melihat pria mencurigakan berpakaian serba hitam dan mengacungkan pistol ke putri satu-satunya.

Tidak diperlukan seorang jenius untuk mengetahui kejadian berikutnya. Laki-laki itu memberi isyarat ke luar, dan tak lama kemudian dua orang rekannya memasuki rumah kami. Sesaat kemudian, kami bertiga terduduk di lantai dengan tangan dan kaki terikat. Aku sangat ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi dahiku. Seluruh badanku gemetaran. Aku, yang padahal terkenal sebagai gadis tidak kenal takut. Salah satu perampok itu, pemimpin mereka sadarku, mendekat ke arahku. Sementara kedua rekannya mengacungkan pistol pada Ayah dan Ibu.

"Sekarang" katanya, "Kalau kamu masih ingin melihat orangtuamu ini hidup... Kusarankan kau langsung mengantar kami dimana tempat penyimpanan barang berhargamu berada"

"Bagaimana? Kau anak yang baik, bukan?" tanyanya lagi, menaikkan wajahku ke arahnya. Aku hanya mengangguk. Tak kuat untuk berkata apa-apa. Pemimpin itu memberi isyarat pada orang yang menyanderaku. Ikatan kakiku dipotong.

"Maju" kata orang yang menyanderaku, "Dan jangan berpikir untuk melawan"

Perlahan-lahan kami maju. Aku memberi mereka semua barang berharga kami. Sampai tak tersisa sedikit pun.

"Hei, kurasa sekarang kita lepaskan mereka saja. Barang berharga mereka semua sudah di tangan kita" kata orang yang menyanderaku kepada pemimpin mereka. Laki-laki itu tertawa. Tertawa sinis.

"Betul sekali. Lepaskan mereka dan tak lama kemudian polisi akan menangkap kita. Kau tidak mungkin sebodoh itu, bukan?! Jirou!" serunya.

"Tapi... Tamazuki..." balas orang yang ternyata bernama Jirou. Dan aku mengingat dalam hati nama pemimpin mereka. Tamazuki.

"Tidak ada tapi-tapian!" potong Tamazuki. Dia mengamati tumpukan harta yang sudah kuberikan.

"Hanya segini?! Dari rumah yang sebesar ini hanya ada segini saja?! Kau pasti bercanda!" kata Tamazuki kesal. Tangannya menjambak rambutku. Aku meringis menahan sakit.

"Mana. Harta. Lainnya?!" tanyanya marah.

"I-Itu sudah semuanya! Su-sungguh!" jawabku terbata-bata.

"Bohong! Kau pembohong!" balas Tamazuki. Terdengar bunyi tembakkan. Tiba-tiba saja aku merasa kesakitan yang amat sangat di perutku. Alamiah, aku menyentuh perutku. Hanya untuk mendapati darah berlumuran di tanganku.

"A-Aku tidak bohong! Kau bisa memeriksa seluruh rumah ini jika kau tidak percaya!" seruku sambil menahan sakit. Tamazuki kembali menembakkan pistolnya.

"Aargh!" jeritku sakit. Kali ini sasarannya adalah pahaku.

"Jangan pernah menyuruhku seenaknya!" desis Tamazuki.

"Cukup, Tamazuki!" protes Jirou menurunkan tangan Tamazuki.

Kepalaku mulai terasa agak pusing.

"Gawat ini... Aku kehilangan banyak darah" pikirku.

Tamazuki memandangiku terus. Aku bisa merasakan tatapan tajamnya, membuat bulu kudukku merinding. Sekali lagi, dia mengacungkan pistol ke arahku. Kali ini... Ke arah jantungku.

"Kesempatan terakhir. Dimana. Sisa. Hartanya?" tanya Tamazuki dengan penekanan ekstra di setiap katanya. Aku hanya diam, meresapi kata-kata itu masuk ke telingaku. Tamazuki tidak menunggu lagi. Dia menekan pelatuk. Aku menutup mata, menunggu saat peluru itu mengenaiku.

Tapi peluru itu tidak pernah mengenaiku.

Di saat yang hanya sekejap itu, entah bagaimana caranya Ibu berhasil meloloskan diri. Meloloskan diri... Rasanya istilah itu kurang tepat. Lebih tepatnya Ibu berhasil melompatkan diri tepat. ke arah Tamazuki, mengakibatkan peluru itu meleset dari arahku. Tamazuki tampak murka.

Kejadiannya mendadak seperti slow-motion. Tamazuki menembakkan pelurunya ke arah Ibu. Peluru-peluru itu meluncur dengan mulusnya, mengenai badan Ibu. Di perut, di rusuk, dan di dada. Aku mendengar jelas suara erangannya. Ibu kemudian terjatuh di lantai menimbulkan suara "bum" keras. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Ayah berteriak keras, memberontak habis-habisan. Dia berhasil berdiri dan menyerang Tamazuki dengan murka. Tamazuki dengan begitu santainya menembak Ayah. Dan sama seperti Ibu... Aku hanya bisa terdiam melihat Ayah terjatuh di lantai.

"Apa yang baru saja kau–" Dor! Terdengar bunyi tembakkan. Jirou terjatuh, meninggalkan kata-katanya menggantung. Tangannya memegang dadanya yang berdarah. Jirou tidak berkata apa-apa lagi, menatap Tamazuki nanar. Sebelum pada akhirnya dia tak sadarkan diri.

Lalu, di luar sana, sayup-sayup terdengar suara sirene polisi. Tampaknya segala sura tembakan tadi cukup menarik perhatian orang. Para perampok, atau setidaknya yang masih hidup, langsung panik.

"Ta-Tamazuki! Ba-bagaimana ini?" tanya rekan satu-satunya yang masih hidup. Suaranya jelas-jelas menandakan ketakutan.

"Ke-Kenapa kau tanya padaku, Kuro?!" seru Tamazuki. Panik mulai menjalari dirinya.

"Memangnya siapa lagi yang harus kutanyai?!" balas orang yang bernama Kuro itu.

Polisi-polisi mulai mengepung rumah. Tamazuki berpikir keras. Berpikir bagaimana mereka bisa kabur dari polisi.

"Kemari kau, Kuro!" panggil Tamazuki akhirnya. Kuro menghampiri Tamazuki. Tanpa diduga, Tamazuki malah menembak kaki Kuro. Kemudian, dia meninggalkannya pergi melalui pintu belakang.

Kejadian berikutnya menjadi blur. Di antara kesadaranku yang semakin menghilang, aku menyadari para polisi mendobrak pintu. Dengan segera mereka menangkap Kuro, dan sebagian dari mereka mengejar Tamazuki. Pandanganku semakin menggelap. Hingga pada akhirnya, kesadaranku benar-benar menghilang.


"Begitu aku sadar, aku sudah ada di rumah sakit. Polisi-polisi datang, dan menanyaiku beberapa pertanyaan. Untungnya, mereka berhasil menangkap perampok itu. Dan karena aku sama sekali tidak mempunyai saudara di sana, mulai saat itu aku tinggal bersama tetanggaku. Satu-satunya kenalan yang kupunyai" kata Kimiko tersenyum miris.

"Apa yang terjadi berikutnya?" tanya Switch, merasa masih ada kelanjutan dari cerita Kimiko. Kimiko menghela napas panjang.

"Aku didiagnosa terkena PTSD" kata Kimiko dengan ekspresi suram.

"PTSD?" tanya Bossun dan Himeko bersamaan.

"Kepanjangan dari post-traumatic stress disorder. Intinya yah... Trauma setelah kejadian tertentu" jelas Switch dengan memberi pandangan penuh arti pada Kimiko. Kimiko mengangguk.

"Aku... Sudah berkali-kali berteriak sendiri di kelas. Hanya karena tiba-tiba saja aku terbayang lagi kejadian itu. Bahkan aku juga terkena insomnia akut. Gara-gara itu semua, aku dibawa ke psikolog. Untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Sayangnya, hal itu tidak terjadi" kata Kimiko.

"Mengapa?" tanya Bossun.

"Kejadian ini terjadi tidak lama setelah Misao meninggal. Bahkan tidak sampai sebulan. Kematian berturut-turut dalam satu keluarga... Dan satu-satunya kesamaan mereka adalah mereka orang yang dekat denganku. Ditambah dengan, seperti kubilang tadi, beberapa kali teriakan di kelas... Aku dianggap sebagai pembawa sial. Tepatnya, pembawa kematian" jawab Kimiko.

"Kau adalah Dewi Kematian" kata Switch.

"Apaaa?!" seru Bossun dan Himeko.

"Sepertinya kau sudah menebaknya, ya? Kau benar, Kazu-kun. Aku dipanggil Dewi Kematian karena itu"

"Tapi, itu tidak adil! Kau tidak pernah mau semua itu terjadi!" protes Bossun.

"Bukan masalah adil atau tidak adil. Kenyataannya, itulah yang terjadi. Mereka mulai memanggilku Dewi Kematian, mengolok-olokku, dan mengasingkanku dari kelas. Kurasa kau pasti bisa menebak apa yang terjadi berikutnya " kata Kimiko memandang Switch.

"Kau menjadi hikikomori" jawab Switch.

"Tepat sekali. Aku mengurung diri di rumah. Kalau dihitung-hitung aku menjadi hikikomori kira-kira... 8 bulan" kata Kimiko.

"De-Delapan bulan?!" seru Himeko dan Bossun. Kimiko mengangguk-angguk.

"Setelah delapan bulan, aku memutuskan untuk pergi ke sekolah lagi. Tapi karena aku tidak kerasan di sana, akhirnya aku memutuskan untuk pindah" kata Kimiko.

"Dan kau memutuskan untuk pindah ke sini" kata Himeko.

"Yah... Aku hanya berpikir bertemu dengan teman lama dan lingkungan lama akan membantu. Itu saja" kata Kimiko menggigit bibirnya.

"Kimiko, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu" kata Switch akhirnya, "Sebenarnya, aku juga pernah menjadi hikikomori"

Kimiko tidak bisa berkata-kata setelah mendengar perkataan Switch. Dia hanya menatap Switch tidak percaya.

Lalu, Switch pun menceritakan semuanya. Apa yang terjadi pada Sawa, apa yang terjadi pada Masafumi, dan apa yang terjadi pada dirinya. Tidak ada lagi yang disembunyikan. Kimiko terhenyak mendengar penjelasan Switch.

"Jadi... Begitulah ceritanya" kata Switch. Kimiko tersenyum lemah.

"Setidaknya sekarang mereka semua sudah meninggal dengan tenang. Pasti Masafumi senang bertemu kembali dengan Misao" kata Kimiko menyengir.

Bossun daritadi hanya terdiam saja. Dari raut wajahnya yang serius, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.

"Bossun...?" tanya Kimiko.

"Kimiko-chan, aku mau kau bertemu dengan seseorang. Stalker-mu!" kata Bossun tiba-tiba.

"Eh? Stalker-ku? Kau sudah menemukannya?" tanya Kimiko lagi. Bossun mengangguk.

"Tunggu, Bossun! Apa kau benar-benar mau–" Bossun memotong perkataan Himeko.

"Percaya saja padaku, Himeko" kata Bossun.

"Switch!" seru Himeko.

"Lakukan saja yang menurutmu terbaik" kata Switch yang dibalas anggukkan Bossun. Kemudian Bossun pun pergi ke luar. Himeko memberi tatapan Switch kalau-ada-masalah-semua-tanggung-jawabmu.

"Ada apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kalian..." Perkataan Kimiko menghilang begitu Bossun kembali masuk, dengan seseorang di sampingnya. Mata Kimiko terbelalak melihat orang itu karena, dia tahu betul siapa orang itu.

Soutaro Tamazuki.

Pelaku perampokkan dan pembunuhan orangtua Kimiko.


Kimiko pikir, sudah tidak mungkin lagi ada kejadian tak terduga hari ini. Tapi tampaknya dia harus mengubah pikirannya. Tepat sekarang ini, berdirilah Soutaro Tamazuki, pelaku perampokkan dan pembunuhan orangtua Kimiko. Pembunuhan yang membuatnya sampai mengalami mimpi buruk hingga sekarang. Pelaku, yang secara tidak langsung, membuatnya dipanggil Dewi Kematian dan menjadi hikikomori.

Yang membuat dirinya merasakan itu semua.

Perlahan tapi pasti, Kimiko melangkahkan kaki ke arah Tamazuki. Langkah kakinya bergema ke ruangan yang sepi. Saat Kimiko berdiri tepat di hadapan Tamazuki, Tamazuki langsung berlutut.

"A-Aku... Maafkan aku! Sungguh-sungguh maaf! Aku benar-benar menyesal atas perbuatanku!" kata Tamazuki.

"Lalu, kalau kau minta maaf, semua kembali seperti semula. Begitu pikirmu, hah? Kau pikir orangtuaku akan hidup lagi, karena permintaan maafmu?!" balas Kimiko marah.

"Aku tahu permintaan maafku memang tidak memperbaiki keadaan, tapi–"

"Lalu, mau apa kau ke sini?" potong Kimiko ketus, "Gara-gara perbuatanmu, sudah berapa kali aku... Aku..."

Kimiko terdiam, tidak menyelesaikan kata-katanya. Setiap tangisan, setiap mimpi buruk, setiap cemoohan... Dia ingat semuanya. Dan semua itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Diamnya Kimiko, dianggap Tamazuki sebagai kesempatan berbicara.

"Sejak kejadian itu, aku selalu dihantui perasaan bersalah. Aku tidak pernah memaafkan diriku sendiri! Tidak pernah!" seru Tamazuki menangis keras di lantai.

"Mengapa? Mengapa kau melakukan itu semua? Orangtuaku orang baik-baik! Apa motifmu?" tanya Kimiko.

"Aku... Aku melakukannya karena terpaksa. Anak perempuanku satu-satunya, Megumi, terkena penyakit parah dan membutuhkan pengobatan segera. Masalahnya uang yang kumiliki tidak cukup, jadinya..." jawab Tamazuki.

"Kau memutuskan untuk merampok begitu? Semudah itu? Kau pikir apa itu nyawa orang? Kacang goreng?" sambung Kimiko dingin. Tamazuki hanya tertunduk.

Kimiko berjalan menyusuri ruangan. Dia mengambil sesuatu dari samping Himeko. Hockey stick Flagrance-nya. Begitu Himeko sadar, tongkat itu sudah ada di tangannya. Kali ini, Bossun pun turun tangan. Dia mau bangkit menahan Kimiko, tapi Switch menahannya.

"Biarkan dia saja yang mengurusnya" kata Switch pelan. Bossun ragu-ragu, tapi akhirnya dia kembali duduk.

Kimiko menghampiri Tamazuki. Tangannya membawa Flagrance. Tamazuki semakin menundukkan kepalanya. Kimiko mengangkat Flagrance, dan siap-siap mengayunkannya tepat ke arah Tamazuki. Tamazuki sudah memejamkan matanya, menunggu saat hockey stick tersebut menghantam kepalanya. Lalu...

"Braak!" Bunyi pukulan hockey stick. Tapi bukan kepala Tamazuki yang menjadi sasarannya. Begitu membuka mata, Tamazuki menyadari lantai kayu di sebelahnya berlubang.

"Kau... Tidak memukulku?" tanya Tamazuki tidak percaya.

"Untuk apa? Orangtuaku sudah mati, tak mungkin hidup lagi" kata Kimiko. Tamazuki bernapas lega.

"Tapi bukan berarti aku sudah memaafkanmu" tambah Kimiko. Tamazuki menatapnya penuh tanya.

"Apa yang kau lakukan itu... Sampai kapan pun aku tidak pernah memaafkanmu. Tapi, kau jelas-jelas berhutang padaku. Kalau kau punya waktu dan uang untuk mengikutiku selama ini, memberiku berbagai hadiah itu, lebih baik gunakan saja itu semua untuk putrimu. Rawat dia baik-baik seumur hidupmu. Jangan biarkan dia kehilangan kasih sayang orangtua sepertiku" kata Kimiko. Di mulutnya tersungging senyum lemah.

"A-Arigatou! Hontou ni arigatou! Aku pasti akan melakukannya! Ini janji seumur hidupku!" seru Tamazuki.

Kimiko membantu Tamazuki berdiri dan mengantarnya keluar. Wajah keduanya penuh dengan air mata. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Tamazuki pun pergi.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Bossun setelah Tamazuki hilang dari pandangan.

"Entahlah. Kepalaku rasanya sudah penuh. Terlalu banyak yang terjadi hari ini. Tapi satu yang jelas, aku merasa sangat lega. Lega sekali" kata Kimiko tersenyum tulus.

Senyum yang dibalas seluruh anggota Sket-dan dengan senang hati.

End of Chapter 7


Author's Note ;
Update yang cukup lama, memang. Seminggu mungkin? Kenapa lama? Karena seperti yang bisa dilihat, chapter ini panjang dan penting. Cukup banyak revisi di sana sini. Apalagi tiba-tiba saja hujan proyek datang... Jadinya yah...

Tentang Deseney World. Basically, sebenarnya itu terinspirasi dari Disney World. Deseney World gua ambil dari komik The World God Only Knows. Lalu kalau masih belum mengerti tentang PTSD, cari sendiri di Google yak! Oh by the way, in unrelated topic, tindakan Switch yang menolak untuk berbicara meskipun sebenarnya dia bisa, itu disebut elective mutism. Again, just check it out in Google!

Nevertheless, review!

Lady of Gray