Sejak kejadian di kota waktu itu, kedekatan Tetsuna dengan Para Pangeran dapat diterima baik oleh semuanya. Keadaan Istana juga semakin membaik, bahkan Keempat Pengeran mulai berbicara satu sama lain. Mereka juga mulai mempercayai dan banyak mengandalkan Tetsuna. Hanya saja kecanggungan masih sangat kental bila menyangkut Akashi.
Meski begitu, ada rahasia yang tidak diketahui siapa pun kecuali Tetsuna dan Akashi yang lainnya.
Ya, sejak mereka bertemu di makan Para Selir, keduanya jadi sering bertemu diam-diam setiap pukul 3 pagi. Bahkan hubungannya sudah sangat dekat, karena ternyata Seijuurou mudah diajak bicara.
"Menemani Pangeran Akashi ke Negeri tetangga?" tanya Tetsuna membulatkan kedua matanya tidak percaya.
"Iya. Aku khawatir, meski Akashi-sama sudah pasti bisa melakukannya. Tapi, mengingat dia adalah Putra Mahkota yang sah, pasti akan ada banyak orang yang mengincarnya." Jelas Nijimura yang ada di ruangannya.
Tetsuna sedikit ragu, tugasnya memang melayani Para Pangeran, tapi jika dia harus ikut dengan Akashi, maka bagaimana dengan keempat yang lainnya?
"Mengkhawatirkan mereka itu hal yang bagus. Tapi terlalu berlebihan tidak baik. Mereka bukan anak kecil lagi kau tahu? Aku berterima kasih karena dirimu mereka jadi serius dalam mengerjakan tugasnya atau ikut pelajaranku." Nijimura tersenyum menyuruh agar Tetsuna tidak perlu khawatir.
Setelah bicara dengan Pengajar Istana, Tetsuna pergi untuk mengemasi barang-barangnya. Di lorong Istana ia bertemu dengan Midorima yang membawa banyak buku.
Tanpa disuruh Tetsuna langsung membantunya dan menemani Midorima ke ruangannya.
"Apa kau bisa membantuku membereskan beberapa buku ini?" tanya Midorima dengan sedikit tersipu.
"Baik." Balas Tetsuna dengan wajah datarnya dan mulai menata buku yang menumpuk di lantai.
"Aku dengar kau akan menemani Akashi."
"Un.." Tetsuna hanya mengangguk datar.
"Apa pun yang terjadi, tolong pergilah. Dia itu berbahaya." Kata Midorima merinding, Tetsuna menoleh sedikit dan melihat ekspresi Pangeran Kedua yang ketakutan.
"Kenapa Pangeran bisa berkata begitu? Bukankah kalian bersaudara?" tanya Tetsuna penasaran.
"Aku merasakannya, dia sedikit seperti tiran. Aku merasakan hawanya seperti ayah kami yang termakan kegilaan."
"Hmm bagaimana ya? Dia memang terkesan begitu, tapi bukankah dia melakukan hal itu supaya orang-orang menghindarinya?" tanya Tetsuna yang membuat Midorima terkejut.
"Contohnya, dia selalu mengabaikan orang-orang di sekitarnya. Menjawab singkat pertanyaan mereka. Lalu dia memang senang mengancam, tapi dia tidak benar-benar melakukannya dan hanya menggertak." Tetsuna menatap Midorima yang masih terdiam tidak percaya.
"Kau tidak tahu kan? Dia pernah melukai Kagami dengan benda tajam di wajahnya." Midorima mulai menceritakan kejadian itu di masa lalu.
Karena tidak menuruti perkataan Akashi, dengan gerakan tiba-tiba Akashi menyerang Raja dengan garpu saat jamuan makan malam. Sejak hari itu tidak ada yang berani mendekati atau menentang perintahnya. Bahkan Raja bukanlah apa-apa di Istana.
"Apa Midorima-sama pernah bertanya alasannya begitu?" tanya Tetsuna.
"Ha? Dia menyebut dirinya absolut dan tak terkalahkan, jadi mustahil untuk dirinya kalah atau ada yang menentangnya." Balas Midorima mulai kesal.
"Tapi Akashi-sama menuruti perintah Nijimura-sama, kan? Kalau begitu, dia mungkin hanya berdalih dan memang menggertak saja kan?" Tetsuna tersenyum lembut.
Tapi pembelaan yang ditujukan untuk Akashi sama sekali tak membuat Midorima senang, meski senyumnya begitu tulus. Namun baginya Tetsuna tidak mengerti soal apa pun.
"Itulah mengapa wanita tidak dibutuhkan di sini." Kata Midorima yang berada di belakang Tetsuna dan mengapitnya dengan kedua tangannya.
Tetsuna mengalihkan wajahnya dan melihat ekspresi kesal sekaligus malu Pangeran Kedua di hadapannya.
"Midorima! Aku dengar Tetsu- Oh maaf mengganggu." Kata Aomine yang berteriak tapi langsung menutup pintunya.
"Eh! Bukan! Oi! Apa yang kau lakukan padanya!?" serunya yang kembali membuka pintu dan memarahi kakaknya. Tapi Midorima menyingkir dengan santai dan menjelaskan jika tidak terjadi apa-apa di antara mereka, begitu juga Tetsuna yang tetap datar seperti biasa.
"Kalau begitu, Tetsu! Ikut aku sebentar." Ajak Aomine dengan senyum lebar di wajahnya, Tetsuna hanya memiringkan kepalanya bingung.
Dia terdiam saat melihat Aomine sudah sangat akrab dengan para buruh yang akan bekerja untuk saluran air bawah tanah. Bahkan dia bisa menghimbau serta memberi masukan untuk para buruh yang sudah mulai bekerja.
Tetsuna tersenyum lega, dia senang karena akhirnya Aomine bisa bersikap lebih baik, bahkan dia juga bisa membantu orang lain.
"Bukankah ini baik? Mereka membiarkanku bergabung dan memimpin untuk mengerjakan proyek penting ini!" kata Aomine dengan sangat bersemangat.
"Un, ini adalah hal yang bagus. Saya ikut senang untuk anda, Aomine-sama." Tetsuna menunjukkan senyumnya kembali pada Pangeran Ketiga.
"Hei... Kalau kau terus tersenyum begitu, aku tidak bisa menahannya tahu." Kata Aomine yang tiba-tiba menarik tangan Tetsuna dan mendekatkan tubuhnya.
Kedua mata turquoisenya membulat sempurna menangkap capri blue milik Sang Pangeran.
"Mine-chin, kau tidak boleh memakan Kuro-chin sendiri." Murasakibara datang dan menggendong Tetsuna lalu membawanya pergi.
"Oi! Murasakibara! Kemari!" seru Aomine tidak terima, tapi dia harus kembali bekerja karena para buruh memanggilnya.
Sementara Tetsuna masih digendong oleh Murasakibara, dia merasa bersyukur karena Pangeran Keempat datang tepat waktu, meski caranya menolong agak sedikit berlebihan.
"Murasakibara-sama, sepertinya anda sudah bisa menurunkan saya." Kata Tetsuna dengan pelan.
"Hmm? Tapi kita belum sampai ke kamar." Balas Murasakibara yang membuat Tetsuna langsung kaget dan memberontak.
"Ka-Ka-Kamar?! A-A-Apa yang mau kau lakukan di kamar?" tanya Tetsuna yang gugup dan segera menghindar. Murasakibara sedikit kesal karena Tetsuna memukul tengkuknya cukup keras supaya terbebas dari dekapannya.
Tapi melihat ekspresi Tetsuna yang gugup justru membuat amarahnya meredam. Ia mendekatkan dirinya yang besar dan mengapitnya di tembok.
"Heeeh ternyata Kuro-chin bisa berpikiran mesum juga ya? Apa yang kau pikirkan saat aku bilang kamar?" tanya Murasakibara dengan senyum menggoda. Wajah Tetsuna seketika memerah, dia tidak bisa pergi atau melakukan apa pun lagi. Murasakibara 2x lipat lebih besar darinya.
"Coba katakan, apa yang kau pikirkan tadi?" tanyanya lagi berbisik di telinga Tetsuna. Gadis itu sudah sangat takut dan gemetar, air mata bahkan menumpuk di pelupuknya.
"Hehehe maaf karena menakutimu. Tapi wajah Kuro-chin saat terdesak benar-benar menyenangkan." Murasakibara menjauhkan tubuhnya dan mengusap lembut rambut Tetsuna.
"Kau sangat manis ketika malu-malu dan terbebani." Murasakibara mencium air mata yang ada di pipi Tetsuna. Seketika wajah gadis pelayannya memerah, siapa sangka Pangeran Keempat lebih agresif dari yang lain.
Murasakibara pergi meninggalkan Tetsuna yang terduduk lemas di lorong istana.
"A-Aku lelah..." batinnya yang memegangi pipinya yang masih memerah. Sejak menjadi Pelayan di Istana, kehidupan tenangnya menghilang. Bahkan di hari liburnya, semua Pangeran tak merasa berdosa untuk masuk ke kamarnya.
Membaca buku cerita favoritnya kini hanya sebuah kenangan di masa lalu. Dia rindu membaca di tempat yang tenang dan sunyi seperti dulu.
Usai kejadian itu Tetsuna bangkit dengan lemas, tapi dia harus kembali pada pekerjaannya dan kenyataan. Saat tengah berjalan, Miki berlari mengejarnya karena sesuatu yang buruk terjadi pada Pangeran Kelima, Kise.
Tetsuna segera menuju ke ruangan Raja, di sana dia melihat Akashi dan Kise serta Nijimura. Setelah mendengar penjelasan dari Miki tentang kesepakatan yang batal dengan Lago, Akashi memanggil Kise bertemu Raja.
Ruangan Raja kini sangat berat karena tekanan yang diberikan oleh Akashi, bahkan dia memandang Kise dengan amarah. Padahal Raja terlihat biasa dan tidak mempermasalahkannya.
"Lago memang dipimpin oleh Bangsawan yang memiliki kedudukan di Istana, tapi sifatnya rendahan dan biadab. Aku tidak menyangka jika Kota semakmur itu dipimpin oleh seorang tiran." Kata Kise mencoba membela dirinya sendiri.
"Kise... Kegagalan tetap kegagalan. Aku tahu Haizaki memang rendahan dan tiran, tapi untukmu kalah dan tidak mendapatkan kesempatan ini sesuatu yang memalukan." Ucap Akashi yang membuat Kise semakin tertunduk.
Kise dan Haizaki memang berselisih sudah sejak beberapa tahun. Ini disebabkan karena Kise yang menolak pertunangan dari Bangsawan Lago, lalu Haizaki yang menggantikannya.
Daripada menolak, lebih tepatnya justru dicampakkan. Kise menjalin hubungan dengan salah satu Putri Bangsawan Lago, tapi tiba-tiba dia mendapatinya berselingkuh dengan Haizaki.
Tak tanggung-tanggung, Kise melihatnya dengan mata kepalanya di mana keduanya saling bercumbu mesra. Karen itu dia jadi sangat dendam dan benci pada Haizaki, dan membatalkan pertunangannya.
"Aku tidak bisa menerima kegagalan, bahkan itu jika darimu. Aku yang akan maju sendiri." Kata Akashi semakin membuat Kise tak berdaya.
"Tunggu, Akashi-sama." Sela Tetsuna yang membuat semua orang terkejut.
"Ini adalah tugas yang telah anda berikan pada Kise-sama. Tidak, ini adalah tugas yang Nijimura-sama berikan pada Pangeran Kelima. Jadi biarkan Kise-sama menyelesaikan tugasnya." Tambahnya, seketika Akashi menatapnya dengan tajam dan dingin. Sesaat Tetsuna teringat dengan kata-kata Midorima yang mengharuskan dirinya berhati-hati dengan Akashi.
"Itu benar." Kata Nijimura yang ikut bicara.
"Ini adalah tugasnya. Jika dia gagal, maka dia akan memperbaikinya bersamaku. Lagi pula, kau juga sudah memiliki tugasmu sendiri, Akashi-sama." Nijimura tidak takut atau gentar saat menghadapi Akashi yang menatapnya dengan penuh amarah.
"Aku mengerti jika ini memang bagian dari pelajaran. Tapi... Jika ada kegagalan lagi, aku tidak akan diam. Bahkan jika itu Nijimura." Akashi pergi begitu saja meninggalkan ruangan Raja.
"Haaah..." semuanya menghela nafas bersamaan.
Nijimura menyuruh Tetsuna mengantarkan Kise ke ruangannya, sudah pasti Pangeran Kelima lelah dengan perjalanannya. Sedangkan dirinya akan berbicara lebih lama dengan Raja.
Di kamarnya Kise hanya diam dan tidak bersemangat, sifat cerianya seolah hilang entah ke mana.
"Kise-sama, teh madu anda telah siap." Kata Tetsuna lembut, ia meletakkan teh kesukaan Kise di depan meja.
"Kise-sama..." panggil Tetsuna pelan, tapi sepertinya Kise benar-benar sudah berada di dunia lain.
"Kise-sama!" panggilnya lagi dengan meninggikan nada.
"Eh? Ah? Iya?" respons Kise terkejut, dia tampak pucat dan tidak baik-baik saja.
"Saya sudah membuatkan anda teh madu, tapi karena anda sibuk melamun selama 5 menit. Tehnya sudah tidak hangat." Balas Tetsuna datar, Kise meminta maaf dan hanya tertawa. Ia mengambil teh yang dibuatkan oleh pelayannya, dan menyeduhnya.
"Menyedihkan sekali... Padahal sebelumnya aku bilang padamu jika aku akan berhasil, tapi..." Kise kembali menundukkan kepalanya dalam.
"Aku benar-benar tidak berguna dan tidak bisa diandalkan."
"Plak!" tiba-tiba Tetsuna memukul wajah Kise sedikit keras.
"Saya benar-benar tidak suka melihat anda murung. Tidak, untuk Kise-sama. Saya yakin anda sudah berjuang menahannya bahkan selama perjalanan ke Lago..."
"Berkata jika anda tidak berguna dan tidak bisa diandalkan itu menyakitkan. Kise-sama boleh menangis jika kau merasa ingin menangis." Kata Tetsuna dengan wajahnya yang murung dan sedih.
"Kurokocchi... Pukulanmu menyakitkan." Balas Kise yang membuat Tetsuna tersadar, dia segera melepaskan tangannya dari wajah Kise dan meminta maaf.
"Maafkan aku!" serunya tidak enak, tapi Kise justru tertawa. Dia memeluk gadis yang ada di depannya dengan erat.
"Terima kasih... Aku benar-benar ingin menyerah, tapi... Aku tidak mau menyerah di hadapanmu, aku akan mencobanya lagi." Ucap Kise yang mengeratkan dekapannya, dan menyandarkan nyaman kepalanya pada pundak Tetsuna.
"Aku tahu jika Kise-sama bisa melakukannya. Jika sesuatu yang buruk terjadi, aku memang tidak bisa menemanimu, tapi aku ada di sini. Aku akan menunggumu pulang." Tetsuna mengusap lembut rambut Kise.
Rasa nyaman dari usapan lembut di kepalanya membuatnya tidak bisa lepas. Terlebih lagi aroma manis yang melekat pada tubuh gadis di dekapannya.
"Vanila.." batin Kise memejamkan matanya dengan nyaman hingga tertidur.
Setelah Kise tertidur dengan nyenyak, Tetsuna membaringkannya dengan posisi yang benar, lalu menyelimutinya.
Sampai malam hari pun dia tetap harus melayani Pangeran, seperti tidak ada ruang bernafas untuknya. Ketika semua pekerjaannya sudah selesai, Tetsuna terbaring di tempat tidurnya.
"Lagi-lagi, hari yang melelahkan... Aku ingin pulang, dan membaca buku cerita yang belum aku selesaikan." Batin Tetsuna melihat langit-langit, dia bahkan belum berganti pakaian.
"Apa ayah dan ibu baik-baik saja? Mereka tidak mengirim surat? Sudah dua bulan, tapi tidak ada yang memberitahuku." Kini dia membalikkan posisinya dan melihat tumpukan buku yang belum dibacanya. Perlahan-lahan matanya semakin berat, dia mulai merasa mengantuk kemudian tertidur.
"Na... Tetsuna... Tetsuna..." samar-samar Tetsuna mendengar seseorang yang memanggil namanya, suaranya begitu lembut dengan nada rendahnya yang sedikit serak. Saat membuka kedua matanya perlahan, ia terkejut melihat wajah Pangeran Pertama di depannya persis.
"Akashi-sama?" jeritnya, tapi langsung ditutup oleh Akashi.
"Ini aku..." balas Akashi yang tersenyum lembut.
Akashi menjauhkan dirinya, sementara Tetsuna duduk dan membenarkan rambut serta pakaiannya.
Matanya masih berat, tapi dia sudah harus terbangun karena teman main malamnya sudah datang.
"Kau ini bodoh atau apa, tidur dengan pakaian maid. Ini musim panas, apa kau tidak gerah?" tanya Akashi mengomel.
"Hmmm..." respons Tetsuna yang masih sangat mengantuk, dia bahkan berkali-kali menjatuhkan kepalanya lagi dan lagi.
"Jika kau masih mengantuk, maka tidurlah untuk malam ini. Kau pasti kelelahan karena terus diganggu oleh adik-adikku." Kata Akashi menghela nafasnya dan berdiri hendak pergi.
"Kau mau ke mana?" tanya Tetsuna tiba-tiba menyentuh pakaian Akashi.
"Ha? Aku akan pergi, kau harus istirahat." Balasnya yang hendak melepaskan tangan Tetsuna, tapi gadis itu menggenggamnya erat.
"Jangan pergi... Aku tidak mau kau harus pergi meninggalkanku lagi." Ucap Tetsuna dengan nada yang bergetar, bahkan ekspresinya sangat sedih, matanya berkaca-kaca.
"Apa kau akan meninggalkanku lagi?" tanya Tetsuna mendongak dan menatap Akashi dengan tatapan yang sangat trenyuh.
Melihat kedua mata turquoise yang digenangi air, tampak bagai lautan jernih yang indah. Wajah Akashi tersipu sekaligus tertegun, sepertinya Tetsuna berbicara dalam tidurnya. Ia memutuskan untuk duduk dan memegang tangannya dengan erat.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku ada di sini..." ucap Akashi lembut, ia menepuk pelan kepala Tetsuna, perlahan-lahan gadis manis itu mendekatkan tubuhnya.
Dengan nyaman Tetsuna menyandarkan kepalanya pada dada bidang Pangeran Pertama. Akashi mendekapnya dan membuat Tetsuna semakin terbuai dalam mimpinya.
Tapi dia tidak tahu jika yang dipeluknya bukanlah lelaki yang berasal dari mimpinya...
AAAAAHHHH halooo semuaaaa udah lama banget gak apdet yak ;;;;
maafkan diriku karena baru bisa apdet di tahun baru ini, sejujurnya saya lagi banyak nulis ff tentang akakuro, tapi seperti biasa akafemkuroko muehe (cinta femkuro)
Terima kasih untuk semua yang udah selalu review dan mempertahankan follow/fav
Sejujurnya saya mau apdet lama, tapi feels dan arah ceritanya ngeblank di tengah2 h4h4
Maafkan diriku jika banyak typo dan kesalahan dalam ejaan ;;;
