Frozen Summer
Pair:
Park Jimin (as Hyperion) x Min Yoongi (as Theia)
Slight:
Kim Namjoon (as Perseus) x Kim Seokjin (as Maeve)
Rate: T - T+
Genre: Fantasy, Romance.
Length: Undetermined
Summary:
Api dan es bagaikan dua sisi mata koin, mereka bersama, tapi mereka tidak akan bertemu. Lalu bagaimana jika takdir mengatakan sang api mencintai dia yang membeku dalam es? / MinYoon, GS!Yoongi.
Notes:
Nama sengaja dirubah untuk kepentingan cerita.
Min Yoongi: Theia (meaning: Goddess) as the Ice Queen
Park Jimin: Hyperion (Theia's husband in Irish/Greek Mytology) as the Fire King
Kim Namjoon: Perseus (meaning: to destroy) as the Fire Knight
Kim Seokjin: Maeve (meaning: intoxicating) as the Petals Princess
Warning:
GS! Yoongi and Seokjin, AU, Fiction. Inspired by 'Halsey - Castle', slightly inspired by The Huntsman: Winter's War.
Notes 2:
Diceritakan dalam sudut pandang Yoongi dan Jimin. Perhatikan agar kalian tidak bingung mana sisi Yoongi dan mana sisi Jimin karena aku tidak akan menuliskan 'Yoongi POV' atau 'Jimin POV' di atas partnya ;)
.
.
.
.
.
.
.
Part 5: Love
Aku tahu Hyperion mencintaiku.
Aku tahu ketika aku bisa melihat pandangan matanya yang membakarku.
Aku tahu semuanya.
Hyperion begitu terbuka, seperti buku yang terbuka dan kau bisa membaca isinya dalam jarak beberapa meter.
Hyperion adalah pria yang baik. Aku tahu.
Dia tidak brengsek seperti apa yang selama ini aku yakini soal pria.
Darimana aku tahu?
Aku tahu dari caranya memperlakukanku dengan baik, tidak peduli seberapa besar aku menggodanya dan seberapa besar dia terpengaruh akan godaan itu, dia tetap tidak akan melakukan sesuatu yang melanggar batas.
Hyperion adalah seorang Raja.
Raja yang sangat diagungkan oleh pasukannya dan mungkin oleh rakyatnya. Aku bisa melihat itu dari cara Perseus memperlakukan Hyperion.
Hyperion adalah seorang pria.
Aku tidak akan meragukan itu lagi.
Terlebih ketika dia sudah membuktikan dirinya sebagai pria padaku.
Ya, hanya padaku.
.
.
.
.
Pagi hari setelah aku menghabiskan malam dengan Hyperion berlalu dengan malas untukku. Tubuhku sakit, sangat. Aku sangat kelelahan dan aku merasa seperti es yang meleleh. Ketika aku melangkah kembali ke perkemahan tempat yang lain berada, Maeve langsung berdiri dan menghampiriku dengan pandangan khawatir.
"Kau kemana saja? Semalam kau dan Hyperion menghilang dan kami tidak bisa menemukanmu."
Aku menatap Maeve dan perlahan bergerak untuk menggigit sudut bibirku. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan padanya kalau semalam aku dan Hyperion menyelinap keluar dari wilayah perkemahan untuk bercinta?
"Aku dan Theia hanya jalan-jalan. Theia bilang dia jarang berada di dalam hutan, jadi aku menemaninya berjalan-jalan di malam hari."
Aku nyaris saja mengucap syukur saat suara Hyperion masuk ke ruang pendengaranku dan pria itu berjalan menghampiriku untuk memeluk pinggangku.
"Tapi tidak seharusnya kalian pergi tiba-tiba seperti itu. Memangnya kalian pergi ke hutan sebelah mana? Lalu kenapa.. –"
"Maeve," selaku cepat kemudian melangkah mendekatinya, "Just use your power to ask the trees, dammit. Do not ask anymore!" desisku padanya.
Maeve mengerjap bingung tapi aku mendelik padanya sehingga Maeve mengangguk polos dan berjalan memasuki hutan tanpa basa-basi.
"Astaga, Princess! Jangan masuk ke sana tiba-tiba! Anda bisa tersesat!" Perseus segera berlari mengejar Maeve yang sudah berjalan cepat menembus rimbunan semak.
Hyperion terkekeh pelan melihat Perseus yang berlari menerobos semak. "Kau bilang apa padanya sehingga dia langsung masuk ke hutan begitu saja?" tanya Hyperion seraya mendekatkan wajahnya ke telingaku.
Aku mengangkat sebelah bahuku, "Tidak ada. Maeve memang suka tumbuhan, dia Petals Princess, ingat?"
Hyperion tertawa, dan aku tersenyum karena mendengar tawanya yang terdengar begitu renyah dan menyenangkan.
"Oh, baiklah, istriku. Aku tidak akan bertanya lagi." Hyperion menunduk dan memberikan kecupan di kepala kemudian dia menjauhkan kepalanya dan menatapku, "Masuklah ke dalam keretamu. Kita akan melanjutkan perjalanan."
.
.
.
.
.
.
.
Aku dan Theia berada di dalam satu tenda yang sama. Setelah Theia menggodaku di kereta kami siang tadi, aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya karena biar bagaimanapun juga kami berada di tengah hutan belantara saat ini dengan lebih dari selusin pasukan yang selalu berkeliaran. Aku dan Theia jelas tidak akan leluasa untuk melakukan 'berbagai hal'.
Aku mendesah pelan dan menyamankan posisiku di bantal kemudian aku segera menoleh saat merasakan pergerakan dari tubuh Theia dan tiba-tiba saja dia berbalik dan menatapku.
"Ada apa?"
Theia menatapku dengan matanya yang berwarna biru pucat. Dan aku tidak akan bisa memungkiri betapa aku terpesona pada pandangan mata itu.
"Hyperion.."
"Ya?"
Theia menggeser posisinya menjadi menempel padaku, "Kau bilang kau mencintaiku, apa itu benar?"
Aku terpaku padanya. Apa aku mencintainya? Jelas iya.
"Ya, aku.. mencintaimu. Bukan sebagai Ratu, bukan juga karena kekuatanmu yang menganggumkan. Aku mencintaimu, karena kau adalah dirimu."
Mataku bisa melihat sudut bibir Theia yang perlahan tertarik menjadi sebuah senyuman lebar di wajahnya. "Terima kasih,"
Ada satu bagian dari dalam diriku yang kecewa karena Theia mengucapkan terima kasih dan tidak mengucapkan kalau dia juga mencintaiku. Tapi jika itu dia, aku rela menunggu seumur hidup hanya untuk mendengarnya mengatakan kalau dia juga menyukaiku. Aku tidak perlu pernyataan cintanya, hanya jika dia menerimaku, aku akan merasa aku sudah sangat bahagia.
"Hyperion,"
"Hmm?"
"Aku belum pernah berjalan-jalan di hutan sebelumnya. Kau mau menemaniku?"
Sebelah alisku terangkat saat mendengarnya, "Sekarang?"
Theia mengangguk kemudian dia bergerak untuk duduk. Gaun tidurnya yang tipis sedikit turun dahi bahunya hingga sebagian payudaranya terlihat. "Ayo,"
Aku tidak bisa tidak menatap separuh payudaranya yang terbuka. Sial, Theia memiliki tubuh yang terlalu indah untuk dilewatkan oleh siapapun. Aku menggeleng pelan dan menarik mantelku yang berada di sebelah tubuhku. "Oke, tapi pakailah ini."
Theia menatap kain mantelku, "Kenapa?"
"Ini tengah malam, Theia. Suhu di luar sangat dingin."
"Lalu? Aku es dan kau api. Kita berdua jelas tidak akan kedinginan."
Aku menghela napas pelan kemudian memutuskan untuk memperbaiki gaunnya yang terbuka. "Baiklah, tapi mungkin sebaiknya kau memakai pakaian yang lebih tertutup."
Theia menatap jariku yang sedang memperbaiki letak gaun tidurnya yang halus dan tipis. Tentu saja jemariku pasti akan bersentuhan dengan kulitnya yang terbuka dan kulitnya yang halus benar-benar membuat otakku berkabut.
Aku sudah berhasil menutupi tubuhnya yang terbuka dengan kain tipis yang dia pakai tapi jemari Theia menangkap jemariku yang hendak menjauh.
"Aku tidak keberatan kau membuka ini."
Dan karena kalimat penuh undangan itu lah aku dan Theia berakhir dengan menghabiskan malam pertama kami di perkemahan, di tengah sungai besar yang mengalir deras karena kami sama sekali tidak bisa mengontrol kekuatan kami. Aku selalu nyaris membakar tubuhnya sementara Theia selalu nyaris membekukanku.
Dan bercinta di sungai mungkin adalah satu-satunya solusi agar kami tidak merusak hutan ini.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa hari sudah terlewati dan kami masih dalam perjalanan menuju kerajaan Hyperion. Saat ini kami sedang melewati gunung terakhir untuk menuju pusat kota tempat kerajaan Hyperion berada.
Hyperion meminta pasukannya untuk berhenti saat hari mulai gelap. Aku bergerak turun dari keretaku dan melihat Hyperion masih duduk di atas punggung kudanya.
Siang ini kami melewati daerah yang sedikit berbahaya sehingga Hyperion keluar dari kereta untuk berkuda di sebelah keretaku untuk menjagaku dari bahaya. Aku menatap pria yang sudah resmi memilikiku itu dengan senyum tipis di wajahku.
Hyperion membalas senyum kecilku dengan senyum lebar kemudian dia melompat turun dari kudanya dan berjalan menghampiriku.
'Yang Mulia,'
Suara yang penuh dengan nada dingin dan desisan itu membuat perhatianku teralih seutuhnya. 'Siri?'
'Yang Mulia, anda.. terasa berbeda..'
'Siri, keluar dari kepalaku. Sekarang.'
'Yang Mulia, anda..'
'Siri, keluar. Sekarang.' Aku berusaha mengeluarkan Siri dari dalam kepalaku namun entah kenapa aku merasa begitu lemah.
'Yang Mulia.. anda.. melemah..'
Aku memegang kepalaku yang terasa agak pusing. Aku memang merasa kalau belakangan ini aku sering merasa kelelahan tapi aku selalu menganggap ini karena aku tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh yang sudah mendekati angka dua minggu.
"Theia? Sayang, kau baik-baik saja?" Hyperion menopang tubuhku dengan lembut dan mengusap kepalaku dengan jemarinya yang hangat.
"Aku.. pusing.."
Aku bisa merasakan pelukan hangat khas Hyperion membungkus tubuhku, "Kau harus berbaring. Perseus, cepat bangun tendanya."
'Yang Mulia.. siapa dia?'
Aku mengerang lemah karena Siri yang mulai emosi terasa seperti baru saja memukul pikiranku. Siri itu kuat, tidak diragukan lagi dan disaat kondisi tubuhku tidak sempurna, dia bisa dengan mudah memasuki pikiranku dan mendengar Hyperion yang berbicara padaku.
"Theia? Sabarlah sebentar, oke? Kita akan segera sampai di kota." Hyperion memelukku yang bergelung dalam lengannya dengan sebuah pelukan erat yang hangat dan menenangkan. Aku bisa mendengar degup jantung teratur milik Hyperion dan ini membantuku untuk santai.
"Ada apa dengan Theia, King Hyperion?"
Suara lembut Maeve membuatku ingin sekali membuka mata, tapi pusing di kepalaku semakin menjadi sehingga aku tidak bisa melakukan apapun selain mengeluarkan suara erangan lemah.
"Theia? Apa kau sakit?" aku merasakan sentuhan lembut di kepalaku dan ketika aku mencium aroma mawar yang lembut, aku langsung tahu kalau Maeve sedang mengelus kepalaku.
Aku menggerung lemah dan semakin menempel pada dada Hyperion. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa sangat ingin berada dekat dengan Hyperion saat ini.
"Yang Mulia, kurasa sebaiknya kita berangkat sekarang. Saya mengkhawatirkan kondisi Queen Theia."
Aku mendengar suara berat Perseus dan aku merasakan jemari Hyperion yang panas mengelus wajahku.
"Kau benar, ayo pergi."
Aku merasakan Hyperion mengangkat tubuhku dengan mudah dan kemudian aku merasakan tekstur lembut kursi kereta di bawah tubuhku.
"Istirahatlah dulu." bisik Hyperion di telingaku kemudian aku merasakan tubuhnya menjauh karena kehangatan yang sejak tadi membungkusku perlahan-lahan mulai menghilang.
"Tidak.." ujarku lemah, tubuhku semakin lemah karena aku mengerahkan semua kekuatan yang tersisa untuk mengusir Siri dari dalam kepalaku. "Jangan pergi.." bisikku lagi.
Hyperion mengelus lembut kepalaku, "Baiklah, aku di sini."
Aku merasakan tubuh Hyperion mengangkat bagian atas tubuhku untuk kemudian memelukku dengan erat di dalam lengannya. Aku mendesah penuh perasaan lega dengan kepala yang terus berdenyut nyeri.
'Anda.. melemah.. karenanya..'
Suara Siri masih terus bergaung dalam kepalaku dan aku sudah tidak mampu mengusirnya dari dalam sana.
'Dia.. merusak Anda. Dia merusak daya tahan tubuh anda..'
'Siri, hentikan..'
'Orang asing ini telah membuat Ratuku melemah.. dia.. harus dihabisi..'
'Siri, tidak..'
Dan aku merasakan kesadaranku menguap seiring dengan meredanya denyutan di kepalaku.
.
.
.
.
.
.
.
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Theia. Dia terlihat begitu lemah dan pucat. Aku tahu biasanya Theia memang berkulit pucat, tapi kali ini dia benar-benar pucat. Sejak aku resmi menjadi suami Theia, wajah Theia perlahan berubah menjadi tidak terlalu pucat, dia mulai memiliki rona alami dan suhu tubuhnya mulai menghangat. Apalagi beberapa hari ini.
Dan karena itu aku menganggapnya sehat bahkan sangat sehat jika melihat dari kondisi tubuhnya. Tapi entah kenapa hari ini Theia terlihat begitu lemah. Bahkan dia bersandar sepenuhnya padaku ketika aku memeluknya.
Suara erangan yang dikeluarkan Theia membuat hatiku teriris. Aku tidak pernah mau melihatnya menderita karena sakit yang tiba-tiba menyerangnya seperti ini.
Lenganku tidak pernah melepaskan Theia sejak wanita itu memintaku untuk tinggal bersamanya di sisa perjalanan kami menuju istanaku. Kepalaku turun menatap Theia yang tertidur dalam pelukanku, napasnya terdengar teratur dan wajahnya terlihat sangat damai.
Tanganku bergerak untuk mengelus wajahnya dan perlahan senyum muncul di wajahku. Theia yang begitu cantik saat ini sudah menjadi milikku. Sejak pengalaman pertama kami berdua, kami kembali beberapa kali menyelinap keluar dari perkemahan untuk bercinta.
Tubuh Theia tidak akan pernah membuatku bosan. Aku begitu menggilai tubuhnya yang sempurna dan aku yakin bahkan seumur hidup pun tidak akan cukup bagiku untuk puas menyentuh tubuhnya yang indah.
Aku menggerakkan tanganku menelusuri lekukan tubuhnya dan aku terhenti saat merasakan bagian perut Theia yang terasa lebih hangat dari bagian tubuhnya yang lain.
Apa yang terjadi padanya?
.
.
.
.
.
.
.
Aku merasakan permukaan yang lembut di bawah tubuhku yang sedang berbaring. Tapi karena aku tidak merasakan kehangatan yang selalu diberikan Hyperion, aku yakin sekali saat ini aku berada jauh darinya. Aku memaksakan diri untuk membuka mataku dan hal pertama yang aku lihat adalah sosok Maeve yang sedang duduk seraya membaca buku.
"Maeve?" ujarku serak.
Maeve menutup buku yang dibacanya kemudian berjalan menghampiriku, "Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? Apa yang sakit?"
Aku menggeleng pelan, "Aku sudah merasa jauh lebih baik."
Maeve tersenyum puas kemudian duduk di pinggir tempat tidurku, "Sudah kuduga kau hanya kelelahan."
"Sudah kau duga?"
Maeve mengangguk, "Hyperion mempercepat perjalanan kita saat kau tiba-tiba saja sakit. Kita sudah sampai di istana dua jam lalu dan kau juga sudah diperiksa oleh tabib istana ini. Mereka bilang kau baik-baik saja. Aku baru saja masuk ke kamarmu setelah tadi bertanya pada tabib yang memeriksamu."
"Dimana Hyperion?"
"Dia sedang mengadakan rapat. Biar bagaimanapun juga, dia baru saja menikah denganmu dan sudah pergi terlalu lama dari kerajaannya. Ada banyak urusan yang harus dia selesaikan, tapi rencananya pesta untuk memperkenalkanmu akan digelar secepatnya."
Aku terdiam saat mendengarkan penjeasan panjang Maeve kemudian mengangguk pelan. "Baiklah, kurasa itu bukan masalah."
Maeve tersenyum lebar, "Jelas saja."
Aku tersenyum memperhatikan Maeve yang terlihat ceria seperti biasanya, kali ini dia tidak memakai mahkota, tapi aku bisa melihat kelopak bunga mungil yang menghiasi sela helaian rambutnya.
"Kau dan Hyperion sangat cocok, kau tahu? Aku sangat yakin Hyperion benar-benar mencintaimu." Maeve tersenyum lebar kemudian dia menepuk-nepuk perutku dan seketika itu juga senyum di wajahnya luntur.
Aku menatapnya dengan bingung, "Maeve?"
Maeve menyibak selimutku dan kembali menyentuh perutku, kali ini mengelusnya dengan gerakan lembut dan perlahan. "Astaga, Theia.."
"Apa?" ujarku agak takut karena ekspresi Maeve yang tegang.
"Kau.. hamil.."
"Hah?" ujarku terkejut.
Maeve menatapku dalam-dalam, "Tolong katakan padaku kalau ini adalah bayi Hyperion."
"Maeve, aku tidak hamil."
"Ya, kau hamil. Theia, kau mengenal kekuatanku. Jika kemampuanmu adalah mematikan orang lain, maka kemampuanku adalah menghidupkan orang lain. Aku bisa mendeteksi kehidupan baru yang tumbuh di dalam perutmu. Di dalam rahimmu, ada bayi yang sedang tumbuh."
Aku terpaku. Aku sama sekali tidak bisa bereaksi karena ucapan Maeve. Jemariku turun dan mengelus perutku dan aku agak terkejut merasakannya yang terasa jauh lebih hangat dari bagian tubuhku yang lainnya.
"Kau hamil, Theia. Ini kabar yang sangat bagus!" pekik Maeve senang.
Aku tersenyum melihat reaksi Maeve yang terlihat begitu gembira. "Ya, aku juga.."
'Jangan khawatir, Yang Mulia. Saya akan membunuhnya..'
'Siri?'
'Saya akan membunuh dia yang sudah melemahkan anda..'
'Siri, apa maksudmu?'
"Theia?"
Suara Maeve membuat kesadaranku kembali. Aku menatapnya dan Maeve menatapku balik dengan pandangan bingung.
"Kenapa?" tanya Maeve.
Aku menggeleng, aku tidak boleh memberitahu Maeve soal urusanku dengan Siri. Tapi.. apa maksud ucapan Siri? Siapa yang akan dia bunuh? Seseorang yang sudah melemahkanku? Siapa?
"Kurasa sebaiknya kau memberitahu Hyperion, Theia. Kau dan dia akan memiliki bayi. Pria itu benar-benar berhasil melelehkan esmu." Maeve tersenyum gembira sementara aku terdiam dengan wajah tegang.
Pria itu benar-benar berhasil melelehkan esmu..
'Saya akan membunuhnya yang sudah melemahkan anda..'
Hyperion.. melelehkan esku..
..dan apa itu berarti Siri akan.. membunuhnya?
To Be Continued
.
.
.
.
.
Rencanaku sih chapter berikutnya itu chapter terakhir dari Frozen Summer ini. hehe
Untuk yang curiga kalau Siri mau bunuh Hyperion, selamat, kalian benar! *peluk*
.
.
.
.
Sekarang kira-kira kalian maunya Siri berhasil atau tidak? Siri itu assassin lho. Membunuh itu keahliannya. Hahaha
.
.
.
See ya next chap!
Do not forget to review~
Love ya!
.
.
.
Thanks
