Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto™
Highschool DxD © Ichiei Ishibumi™
Rate :
M
Pair :
Naruto U. x Yugao U.
Genre :
Adventure, Supranatural, Family. Dll
Warning :
Jutsu ngarang, OOC, OC, ide Maintream.
.
.
.
Chapter 7
.
.
.
Gadis pirang itu harus meringis kesakitan saat diseret menuju ruang bawah tanah dengan rambut ditarik oleh wanita berambut biru.
"Ka-kalawarner-sama, sakiit."
"Diamlah jalang."
Da Asia Argento harus kembali merasakan kepala dibenturkan pada dinding. Tak menghiraukan rintihan biarawati muda tersebut, baginya hal itu tak penting.
'Tuhan, apakah ini bagian cobaan darimu?'
.
.
.
.
Kedua jari tangannya disilangkan membentuk segel familiar dan merupakan jurus favoritenya.
Kage Bunshin no jutsu
Booft.. Booft.. Booft.. Booft.. Booft..
Sepuluh kepulan asap tercipta didepannya kemudian muncullah replika dirinya yang menatap dirinya serius.
"Ada apa bos?"
"5 dari kalian membuat segel kertas peledak dan produksi massal, 4 dari kalian membantu bunshin Yu-chan melatih anggota baru dan yang terakhir kerjakan PR fisika." Jelas Naruto membagai-bagi tugas sepuluh bunshin yang dibuatnya.
"...Dan aku akan membantu misi perdana para ANBU. Menyebar!" Lanjutnya, supaya tak ada yang memprotes.
poof
Dan merekapun menghilang dalam kepulan asap.
.
.
.
Beberapa bayangan melesat dikegelapan malam, pakaian hitam mereka menyamarkan akan keberadaannya. Beberapa bayangan kemudian bersembunyi dibalik pohon saat merasakan keberadaan seseorang.
"Jadi proses itu akan dimulai sekarang ya?"
Tanya seorang malaikat jauh pada rekannya. Mereka berdua tampaknya memiliki tugas berpatroli disekitar gereja tua.
Para sosok bayangan itu semakin menipiskan hawa keberadaannya. Mencoba mengorek informasi melalui pembicaraan dua malaikat jatuh itu.
"Ya kau benar. Padahal dia gadis yang manis, aku sangat ingin mencicipinya kau tahu?" Jawab satu lagi Da-tenshi sambil mengungkapkan rasa keinginannya.
"Kalu begitu, lakukan pada jasadnya. Haha-kkkk" Ucapan malaikat jatuh itu terhenti saat sebuah kunai dengan lancarnya menusuk tenggorokannya dan mengirim nyawanya keluar tubuh.
"Oi-"
Tap tap tap
Tiga tapak kaki didekatnya membuatnya yang ingin menolong temannya terhenti saat tusukan katana telah menembus tubuhnya.
Tiga sosok serba hitam itu kemudian menggusur tubuh tak bernyawa dua Da-tenshi kearah hutan. Menyembunyikan dirinya.
.
Tap
Pemuda berambut kuning itu menapakkan kakinya pada sebuah tiang listrik. Mata birunya kemudian melirik pada sebuah lingkaran sihir yang muncul disampingnya tepatnya pada kabel-kabel penyalur listrik.
"Yo!"
Sapa seseorang muncul dari sana yang tak lain adalah Cao-cao yang sebulan yang lalu mereka bertemu. Sapaan itu hanya dianggap angin lewat oleh Naruto, dia lebih memilih menatap pada bukit kota Kuoh tepatnya pada bangunan gereja tua yang terlihat dari sini.
"Hei, kau mendengarku'kan? Uzumaki Naruto." Pemuda pemegang True longinus itu terus mencoba menarik perhatiannya.
"Ya?"
Akhirnya setelah beberapa menit diabaikan yang rasanya berjam-jam (menurut Cao-cao) Naruto mau menjawab sapaannya.
"Lagi apa?"
Naruto menatap Cao-cao lekat kemudian bersuara
"Kau kepo deh!"
Uhuk
.
.
"Baik-baik aku serius sekarang."
Berdehem sebentar mencoba menarik minat pemuda kuning disampingnya, itulah dilakukan Cao-cao. Dan berhasil, terlihat dengan Naruto mengalihkan pandangan dari gereja tua kearahnya.
"Aku ingin sebuah aliansi."
"Aliansi?"
Tanya Naruto memastikan dan dijawab anggukan keturunan Cao-cao itu.
"Aliansi antara golongan pahlawan dengan fraksi yang pimpin. Apa namanya? bahasa jepangku kurang bagus. Shi-shiiiiii-shirit ya?"
"Shinobi." Naruto membenarkan
"Ahahaha, maaf-maaf. Sudah kukatakan jika bahasa jepangku kurang bagus. Jadi bagaimana?" Harap si pemegang True longinus itu.
"Apa ini hanya untuk memperkuat fraksimu? Cao-cao."
"Tidak. Aku menyadari sebulan terakhir ini, pergerakan fraksimu adalah melindungi manusia sama sepertiku."
Naruto mendengus, kurang puas akan jawaban Cao-cao.
"Membunuh pemegang sacred gear yang menolak ajakanmu, apa aku harus percaya jika kau juga ingin melindungi manusia?"
"Itu kulakukan supaya mereka tak diambil oleh iblis, kau tahu'kan evil piece?" Naruto mengangguk, "Hal seperti itulah yang mengganggu, manusia gampang dimanipulasi oleh iblis jadi aku membunuh mereka agar mereka yang menolak tidak jadi hambatan di masa depan."
"Oh.. akan kupikirkan, tawaranmu, Cao-cao."
.
.
.
.
Yahiko melompat ke kiri saat sebuah bola sihir mengahntam tanah yang dipijaknya tadi. Mengeluarkan sebuah belati, kemudian menatap sang pelaku yang terbang melayang diudara.
Seorang pemuda berambut dark silver yang merupakan pelaku serangan tadi menyeringai kearah Yahiko yang kini memasang kuda-kuda siaga.
Aura putih menyelimuti kepalan tangannya pemuda bersayap naga tersebut kemudian melesat kearah Yahiko bermaksud memberikan bogem.
krakk.. graaaahhh
Tanah didepan Yahiko terangkat keatas kemudian melesat kearah pemuda bersayap yang juga melesat kearahnya.
Bugh!
Duarr..
Tinju pemuda bersayap itu mengenai tanah yang dikendalikan Yahiko untuk menyerangnya.
Debu dari hasil dua serangan itu menghilang memperlihatkan pemuda berambut dark silver yang kini berjalan kearahnya. Dan berhenti satu meter didepannya.
"Kau kuat, aku ingin bertarung denganmu." Ucapnya kemudian.
"Ha? maaf aku sedang patroli sekarang. Lain kali saja." Yahiko mengibas-ngibaskan tangannya tak tertarik.
"Cih, baiklah. Padahal aku sedang bosan saat ini. Boleh aku tahu namamu? sebagai tanda jika aku mengakui kehebatanmu."
"Yahiko Yuuki, dan kau?"
Yahiko mengulurkan tangannya mengajak kenalan secara normal.
"Hn, aku Vali. Hakuryuukou generasi sekarang."
Yahiko tentu terkejut mendengar pengakuan Vali jika dia seorang Hakuryuukou.
"Tak perlu terkejut begitu, aku juga terkejut kau memiliki sacred gear unik."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gereja tua itu nampak berbeda dengan malam sebelum-sebelumnya. Para Da-tenshi berjalan kesana-kemari menjaga ritual yang akan segera dilakukan tengah malam nanti. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan, hal itu dikarenakan adanya pergerakan sebuah organisasi yang akhir-akhir ini menyerang kaum supranatural.
Tiba-tiba sebuah kunai dengan kertas yang diikat pada ujung pangkalnya menancap ditengah-tengah kumpulan Da-tenshi yang tengah mengobrol. Mendengar sesuatu yang menancap membuat 6 orang Da-tenshi itu mengalihkan pandangannya kebawah dengan kening yang mengkerut.
Cessss... Dhuarr..
Crink!
Syuutt.. Syuutt.. Syuutt.. Syuutt..
Pertama adalah sebuah ledakan yang merupakan pengalihan, semua Da-tenshi yang berada disana mengendurkan pertahanan mereka dengan memandang kearah sumber ledakan tadi. Bersamaan dengan itu puluhan kunai dan shuriken menyerbu kearah mereka yang dalam kondisi sasaran empuk.
Wushh.. Wushh..
Dua orang yang berpakaian serba hitam dan memakai topeng binatang melesat keluar dari balik daun yang rindang, dengan sebuah katana di tangan mereka. Mereka segera menebaskannya pada tubuh-tubuh Da-tenshi yang selamat dari serangan dadakan itu.
Tap tap tap
Suara kaki yang menapak pada tanah khas orang yang meloncat berdatangan. Mereka adalah pasukan ninja yang dikirim oleh Naruto selain untuk menyelamatkan seorang biarawati muda kemunculan mereka juga bertujuan untuk memperlihatkan eksitensinya pada dunia supranatural.
Dengan isyarat tangan, mereka yang berjumlah sepuluh orang itu segera menyebar masuk ke dalam secara acak.
.
.
Wsa Krisna
.
.
Seorang pria berambut putih berpakaian pastor namun tidak dikancingkan kini tengah mengadu pedang dengan seorang bawahan anbu Naruto. Pedang cahaya yang biasa digunakan para Exorcist beradu dengan katana milik anbu yang berkode burung. Anbu itu mengayunkan katana-nya secara horizontal namun hal itu dapat ditahan dengan tebasan vertical si pastor.
Tak kehilangan akal, si anbu yang masih mempertahankan posisi adu pedang itu segera memberikan tendangan ke perut si pastor membuatnya sedikit membungkuk menahan sakit. Tak sampai disitu, si anbu memberikan pukulan kearah pipi kiri si pastor membuat si pastor terlempar kebelakang menabrak dinding.
Syuutt.. Syuutt.. Syuutt.. Syuutt..
Jlebb.. Jlebb..
Tak ingin lawannya menipu dirinya dengan berpura-pura mati, sang anbu melemparkan beberapa shuriken kearah tubuh si pastor. Puas akan serangannya si anbu segera menyusul teman-temannya menuju ruang bawah tanah.
.
Tak lama setelah si anbu pergi, si pastor yang terkena lemparan shuriken tadi segera bangun dan melepaskan shuriken-shuriken yang bersarang ditubuhnya.
"Aw, dia kira aku akan mati cuma karena ini." Satu shuriken terakhir dia buang sembarang, dengan menahan sakit dia mencoba berdiri dengan menjadikan pedangnya sebagai tumpuan.
"Hehe, lebih baik aku pergi."
"Pergi kemana?"
Si pastor menengokkan kepalanya kesamping dan disambut sebuah pukulan kewajahnya. Membuatnya kembali terlempar kedinding.
Para anbu yang telah menyelesaikan pertarungan di luar segera membagi tugas untuk menjaga bagian luar dan dalam sambil menunggu tim yang menuju ruang bawah tanah selesai. Dan disinilah para anbu yang bertugas menjaga bagian dalam mendapati salah seorang anggota kelompok Da-tenshi mencoba melarikan diri.
.
.
.
.
Ruang ritual (ruangan bawah tanah gereja)
Belasan pasukan Ex-exorcist berjaga di depan pintu masuk menuju ruang bawah tanah. Pedang cahaya digenggam erat dikedua tangan mereka, mata mereka mengawasi dengan tegang sampai
Syuutt.. Syuutt.. Syuutt.. Syuutt.. Syuutt.. Syuutt.. Syuutt.. Syuutt.. Syuutt.. Syuutt.. Syuutt.. Syuutt..
Trank! Trank! Jlebb Trank!
"Ahk"
Ratusan shuriken keluar dari pintu masuk yang terbuka, beberapa Ex-exorcist yang telat menahan serangan itu terkapar ditanah akibat tubuhnya telah tertusuk shuriken-shuriken yang tiada hentinya.
Wushh.. Wush..
Ditengah-tengah keadaan Ex-exorcist yang kelelahan menahan serangan tadi harus rela saat tebasan-tebasan dari sosok-sosok yang dengan cepatnya memasuki ruangan itu dan menebaskan katana yang dipegangnya. Tak membutuhkan waktu lama, belasan Ex-exorcist itu telah berhasil di kalahkan baik dengan cara membunuh ataupun membuatnya sekarat.
Seorang wanita berambut biru yang berdiri disamping seorang gadis pirang disalib menatap tak percaya jika bawahannya dapat dikalahkan dengan cepat. Ritual pengambilan sacred masih membutuhkan waktu karena gadis biarawati itu belum sadarkan diri.
"Sialan."
Desis Kalawarner saat merasakan sebuah benda dingin dan tajam berada dilehernya. Dari ekor matanya dapat dilihat seorang anbu dengan topeng kelinci berdiri dibelakangnya dengan sebuah katana yang ditodongkan pada lehernya.
"Siapa kalian sebenarnya? Kenapa mengganggu rencana kami?"
Beberapa anbu segera melepaskan ikatan rantai gadis pirang yang dimaksud sang Taichou.
"Kami hanya manusia biasa yang muak akan kelakuan jenis kalian yang bertindak seenaknya."
"Kelinci, segera ikat dia. Kita akan membawanya ke markas untuk introgasi."
"Baik."
.
.
.
.
Naruto melompat kesamping menghindari tebasan dari lawan dihadapannya. Kemudian membalasnya dengan melemparkan beberapa lemparan kunai yang dapat dihindari dengan mudah. Lawannya yang merupakan seorang Da-tenshi dengan tiga pasang sayap hitam segera melesat kearah pemuda kuning itu dengan tombak cahaya yang siap dihujamkan.
Jlebb
Seringai kemenangan tercetak diwajahnya saat lawannya tidak menghindar dan menerima tusukan tombaknya. Namun, bukannya meringis kesakitan pemuda kuning itu malah tersenyum lebar sambil membentuk sebuah segel tangan.
"Bunshin daibakuha."
Dhuarr..
Tiba-tiba pemuda kuning yang ternyata bunshin milik Naruto itu meledak secara tiba-tiba. Da-tenshi yang tadi menyeringai itupun harus pasrah karena ikut hancur saking kuatnya ledakan si bunshin.
Disisi lain, Cao-cao yang juga ikit-ikutan bertarung melawan pasukan Da-tenshi yang diperintahkan sebagai bala bantuan untuk menjaga proses ritual sekarang tinggal tersisa 3 orang akibat serangan kombinasi antara Naruto dan Cao-cao.
Terlihat Cao-cao yang tengah memutar-mutarkan True longinus sedang diatasnya 2 Da-tenshi tengah melayang dengan sebilah pedang cahaya (satu lagi baru dihabisi Naruto). Tidak menunggu lama Cao-cao segera melakukan gerakan menusuk beberapa kali diikuti dengan munculnya gelombang energi suci yang menuju arah mereka.
Dua Da-tenshi yang merupakan anggota baru Grigori dan kurang berpengalaman dalam hal bertarung hanya pasrah menerima ajal yang menjemput mereka. Lenyap dari dunia dan meninggalkan bulu-bulu hitam.
.
.
Cao-cao sampai ditempat Naruto bertarung keadaan disana tidak terlalu buruk, entah bagaimana caranya Naruto dapat menghabisi mereka dengan rapi tanpa adanya kerusakan berlebih tidak sepertinya dan itu membuat rasa hormat Cao-cao sedikit bertambah.
"Benar-benar cara seorang ninja, menghabisi mereka dengan bersih." Pujinya sambil berjalan mendekat
"Bukan apa-apa, ninja memang sudah seperti ini."
Beberapa detik kemudian muncul kepulan asap di tengah-tengah Naruto dan Cao-cao. Ternyata itu merupakan pasukan anbu yang dikirim oleh Naruto.
Para anbu yang berjumlah tiga puluh orang itu berlutut selayaknya kesatria dihadapan raja. Naruto yang mengerti maksud sikap mereka segera memberi kode untuk memberikan laporannya.
"Lapor Naruto-taichou, misi penyelamatan Asia Argento berjalan sukses."
"Apa ada yang terluka?" Tanya Naruto sambil mengambil mengeluarkan sebuah gulungan.
"Satu luka berat terkena tusukan di perut, dan dua luka ringan. Tapi sudah kami beri pertolongan pertama!"
Poof
Asap keluar dari gulungan yang dibuka Naruto, dari sana satu botol kecil berwarna bening Naruto lemparan pada satu anbu yang menyangga tubuh rekannya yang terluka.
"Obati dia dengan itu!"
Menuruti perintah sang Taichou, anbu tadi segera meneteskan isi botol yang dengan cepat membuat luka diperutnya menghilang tanpa bekas. Cao-cao yang melihat hal itupun terkejut.
"Air mata Phenex? bagaimana kau mendapatkannya Naruto?"
"Nanti kuceritakan. Dan kalian segera kembali, penampilan perdana kalian cukup memukau."
"Baik!"
BOOFT
"Jadi..."
Cao-cao menagih janji Naruto tadi, Naruto yang tahu hal itu hanya menghela nafas panjang.
"Katakanlah aku memiliki cukup uang untuk membeli itu." Ucap pemuda kuning itu enteng.
"Hoy, bahkan jika kau seorang penguasa Eropa sekalipun mendapatkan hal berharga seperti itu sangat sulit. Phenex clan sangat pilih-pilih dalam memilih pembeli dan selalu membuat penjualannya seperti pelelangan."
Cao-cao tampaknya cukup memiliki informasi mengenai air mata Phenex sehingga dia mulai terus mendesak Naruto untuk bercerita lebih lanjut.
"Sephiroth Graal."
Dua kata yang merupakan nama sebuah sacred gear itu sudah cukup membuat Cao-cao terdiam dengan mulut menganga dan jari telunjuk yang menunjuk Naruto yang memasang sikap acuh.
"Kau lebih gila dariku, Naruto. Memproduksi massal barang berharga Phenex... itu..."
"Hanya 30% hasil dari produksi massalnya, tapi cukup membantu juga. Dan kau lebih baik diam, aku punya cara tersendiri dalam meraih perdamaian."
Mengetahui jika hal yang sia-sia terus mengomentari tindakan GILA Naruto dalam memproduksi massal copy-an air mata Phenex. Cao-cao akhirnya dapat menenangkan diri dan berdehem.
"Tapi syukurlah jika pemegang Sephiroth Graal berada dipihakmu. Itu sedikit membuatku lega."
"Tak selega itu Cao-cao, dia masih melatih kemampuannya dalam bidang sacred gear..."
Naruto berjalan menuju sebuah batu besar disana kemudian duduk sambil memberi isyarat pada Cao-cao mengikutinya. Kepulan asap keluar dari salah satu segel ditangan Naruto, memunculkan mini kompor gas, teko memasak air dan dua bungkus ramen instan. Melihat hal itu membuat Cao-cao bersemangat melihat makanan yang menurutnya cocok dimakan disaat seperti ini.
Sambil menunggu air matang, Naruto melanjutkan ceritanya.
"...Kau tahu dia seorang half-vampire. Normalnya seorang setengah akan dibuang karena aib, tapi dia tidak."
"Hmm, aku memang mendapat informasi soal itu. Dia seorang putri kerajaan disana'kan?" Naruto mengangguk mengiyakan ucapan Cao-cao. Air yang telah panas segera dia seduhkan kedalam dua bungkus ramen, kemudian ditutupnya kembali dan menunggu ramennya mengembang.
"Dia berhasil melarikan diri ke Jepang, dan ditemukan istriku dan diurusnya. Sampai akhirnya kami mengetahui fakta dia seorang pemegang sacred gear. Dan kau mengerti kenapa aku menceritakan ini padamu?" Tanya Naruto, sambil meniup-niup helaian mie ramen yang mengepul. Cao-cao mengangguk, beberapa helai ramen dimasukkannya kemulut-kunyah dan telan.
"Kau meminta bantuanku jika para Vampier itu datang menyerang. Apakah mereka berniat mengambil setengah vampire itu lagi?" Tanya pemegang True longinud itu tak mengerti.
"Tentu saja, dengan Sephiroth Graal ada kemungkinan membuat tubuh Vampire mereka kebal akan cahaya suci membuat mereka tak terkalahkan."
"Fuee. Itu hal gila, Naruto. Perang takkan terelakkan lagi." Dari informasi Naruto, Cao-cao sudah menangkap maksudnya jika hal itu sampai terjadi.
"Yup, jadi bagaimana?"
"Apakah itu berarti kita resmi beraliansi?"
"Apa kau ingin pesta perayaannya?"
"Huahaha, tidak-tidak. Baiklah, dengan ini Fraksi Pahlawan dan Fraksi Shinobi resmi beraliansi."
Kedua laki-laki dengan tujuan sama itu berjabat tangan menandakan jika mereka akan bekerja sama dalam melindungi umat manusia.
.
.
.
"Ngomong-ngomong, kenapa rasa ramen ini aneh sekali?"
"Haaaa, aku lupa memasukkan bumbunya."
.
.
.
TBC or End?
.
.
.
Apakah lanjut atau tidak tergantung kalian. Yang penting ini chapter nyambung dengan summary (walau rasanya kurang pas. Haha)
Pertama, maaf karena menelantarkannya selama setahun lebih ini. Terlalu banyak hal terjadi, sampai saya harus membuat ulang plot-nya.
Kedua, lanjut tidaknya terserah kalian. Mengingat banyak yang meminta lanjut jadi saya lanjut, mengingat cerita multi-chap saya banyak jadi gak mungkin update cepat.
Ketiga, terima kasih untuk kalian yang sabar menunggu ini cerita dan selalu memotivasi. :D
Terakhir, apa ya ?_? emm, ditunggu review kalian :D
Wsa Out. ~Ciao
