.
Kepercayaan adalah landasan sebuah hubungan.
Kisah cinta yang terindah memiliki landasan yang kuat.
Dan kisah cintaku denganmu, akan dimulai.
.
..
..
Réamhaisnéis
(oracle/prophecy/ramalan)
A TAEKOOK's fanfiction.
AlphaDominantAbsolutePureBlood Taehyung x OmegaPureBlood Jungkook.
AlphaDominantPureBlood Hankyung x BetaPureBlood Heechul.
AlphaHalfBloodGuardian Jimin x BetaPureBlood Yoongi.
AlphaDominantPureBlood Namjoon x OmegaPureBlood Seokjin.
BetaPureBlood Hoseok.
Another cast? You can find it in the whole story.
Vampire life, Alpha Beta Omega Universe, MPreg.
..
..taekook..
..taekook..
..
..taekook..
..taekook..
..
Hoseok terduduk, penglihatan yang baru saja datang kepadanya membuatnya tersenyum sendiri. 'Maniiiiis!' pekiknya dalam hati. Ekspresi Hoseok yang tersenyum dan menggigiti bibirnya gemas itu mendapat perhatian dari kedua orang tuanya.
Namjoon dan Seokjin memandangi wajah putra semata wayangnya yang terlihat lucu sekaligus menggelikan menurut mereka. "Ada apa dengan wajah anakku ini?" Tanya Seokjin sembari memeluk putranya yang sedang terduduk itu dari belakang.
"Ummmmmmaaaa!" panggilnya dengan lengkingan pelan. "Uh! Itu! Adiknya Hoseok kok manis sekali siiih?" tanyanya dengan tatapan berbinarnya. "Eh umma belum lihat ya, hm, Hoseok jadi tak sabar menunggu tahun depan! Hihihi, adiknya Hoseok manis sekaliiiiii!" pekik Hoseok dengan riangnya.
Kepribadian Kim Hoseok memang seperti itu, meski usia kedewasaan sudah lewat delapan puluh tahun lalu, Hoseok masih suka menyebut namanya sebagai pengganti kata aku untuk dirinya dan itu membuat putra sulung pasangan itu terasa semakin berharga.
"Tahun depan?" Tanya Namjoon mendengar pernyataan anaknya.
"Iya appa! Tahun depan anggota keluarga kita bertambah dan duh appa adiknya Hoseok manis sekali, cantik!" puji Hoseok karena dalam penglihatannya manik kehitaman yang bulat itu telah memenjaranya. "Hoseok melihat wajahnya, dan matanya adalah yang terindah appa! Kkkk~ Appa dan umma, hwaitting! Kalau ingin membuat adik, ingat-ingat kalau kita sekarang sudah tidak tinggal di belahan hutan namun pusat kota yaaa! Jangan menghancurkan rumah! Nanti tetangga bisa bingung karena ada gempa lokal di rumah kita saja!" pekik Hoseok penuh dengan nada humornya dan berlari menjauh sebelum umma cantiknya memekik kencang.
"KIM HOSEOK!" Seokjin yang hendak mengejar anaknya itu tertahan oleh Namjoon yang menyeringai seksi ke hadapan matenya. "Mwo?" tuntut Seokjin tak kenal takut.
"Ayo kita wujudkan keinginan Hoseokie, kita buat adik untuk putra sulung kita!"
Seokjin bisa apa? Bisa apa dia karena matenya ini menariknya begitu saja ke kamar mereka dan Seokjin bisa apa? Bisa apa dia selain mendesah penuh kenikmatan di bawah kungkungan alpha tampannya itu?
..
..taekook..
..taekook..
..
Setahun kemudian, sesuai penglihatan Kim Hoseok yang tak pernah salah itu… adiknya terlahir. Tahun 1997, putra bungsu pasangan Kim Namjoon dan Kim Seokjin terlahir. Putra bungsu yang terlahir di awal bulan September itu terlahir bersamaan dengan hempasan mendayu angin musim gugur. Tapi di hari itu cuaca menghangat dibandingkan hari-hari lainnya, burung-burung yang seharusnya sudah bergelung nyaman di sarang hangatnya keluar hari itu untuk menikmati kehangatan yang tercipta khusus untuk hari itu.
Sementara di rumah asri yang didiami oleh pasangan Namjoon dan Seokjin, Namjoon sedang bersusah payah untuk menuntun putra bungsunya keluar dari perut Seokjin yang mengerang kesakitan saat putra bungsunya mulai membuka jalan dan menampakkan jari-jemari kecilnya. "Ya sayang, benar seperti itu. Perlahan saja. Kau mengenaliku 'kan?" Namjoon masih berupaya membuat anaknya yang akan itu keluar dengan perlahan dan mengurangi rasa sakit untuk matenya.
Hoseok terkekeh geli melihat raut panik Namjoon, "Makanya appa, membuatnya saja yang bersemangat. Lihat, umma menderita seperti ini."
Mendengar itu Namjoon mendelik gemas pada putranya yang kini sedang memegangi bahu Seokjin agar Seokjin tidak beranjak dari ranjangnya. Namjoon hanya bisa menggeleng tak mengerti, menjaga submissive yang sedang melahirkan itu sebenarnya sangat susah. Rasa sakit yang meremukkan hingga ke tulang-tulang tubuh mereka itu membuat rontaan submissive menjadi tak terkontrol. Dan putranya? Masih bisa mengolok-oloknya sementara ia sedang mengerahkan kekuatannya untuk menahan pergerakan sang umma? Memang benar-benar…
Dan saat perhatian Namjoon kembali pada putra bungsunya, ia bisa melihat jika anaknya sudah mengeluarkan tangannya hendak mengoyak perut Seokjin seukuran dengan tubuhnya. Mata tajam Namjoon mengernyit, tubuh anaknya… "Emas?" tanyanya ragu.
Yang ia tahu, warna tubuh saat generasi baru terlahir adalah hitam untuk alpha, abu-abu untuk beta dan putih untuk omega. Dan putra bungsunya… emas?
"ARRRRRRGGGGGGGH!" teriakan Seokjin mencapai puncaknya saat tubuhnya berhenti terkoyak oleh putranya yang telah keluar seutuhnya. Tubuh keemasan putra bungsunya langsung berpindah tangan ke putra sulungnya, sementara Namjoon segera menyelesaikan pengobatan untuk matenya.
"Selamat datang, adikku." Ucap Hoseok sembari memberikan segelas darah untuk diteguk oleh adiknya itu. "Minum yang banyak adikku." Ucap Hoseok dengan gemas.
..
..taekook..
..taekook..
..
Saat Namjoon sudah selesai dengan pengobatannya, Hoseok membawa dirinya dan sang adik ke ranjang yang ditempati Seokjin. Seokjin yang belum sempat melihat rupa putranya itu terkesiap melihat warna tubuh putranya. "Putra bungsuku…" lirih Seokjin. "Bagaimana bisa?"
"Sayang, apa yang…" pertanyaan Namjoon terhenti saat ribuan cahaya menyilaukan tiba-tiba muncul di tengah-tengah ruangan.
Hoseok tersenyum melihat Réamhaisnéis yang sudah datang. "Selamat datang, Réamhaisnéis… perdengarkan nyanyian kelahiranmu pada keturunan baru keluargaku." Sambut Hoseok penuh hormat.
Réamhaisnéis mulai bernyanyi, memperdengarkan senandung kelahirannya yang menjadikan patokan kehidupan bangsa vampire.
"Pangeran bungsu terindah." Mulai Réamhaisnéis menyebutkan kata Pangeran lagi untuk kelahiran putra-putra Namjoon dan Seokjin, mau mereka mengelak seperti apapun… status kebangsawanan melekat pada putra mereka. "Omega berdarah murni terindah." Lanjut Réamhaisnéis lagi.
Seokjin mengangguki nyanyian Réamhaisnéis sementara Namjoon hanya mencoba fokus dan sedikit mengabaikan ekspresi ganjil matenya.
"Omega berdarah murni langka yang muncul kembali setelah sepuluh generasi." Nyanyian itu masih berlanjut. Meninggalkan tatapan bertanya pada Namjoon dan Hoseok sementara Seokjin kembali mengangguk. "Omega berdarah murni langka yang kembali akan bertaut dengan Alpha berdarah murni terkuat pemilik kekuatan suci."
"Woah…" lirih Hoseok kagum akan status adiknya.
"Pangeran bungsu terindah, pangeran bungsu yang manis… namun berbahaya." Di bait ini, mata ketiga vampire dewasa itu terbelalak. "Pangeran bungsu yang berbahaya saat sesuatu mengusik kenyamanannya dan keluarganya."
"Woah…" kini Namjoon yang berdecak kagum.
"Pangeran bungsu yang memiliki kekuatan yang setara dengan matenya. Pemegang kekuatan suci yang sama dengan matenya. Dan… dengan kekuatannya ia bisa menampung dan melahirkan generasi selanjutnya dari dua kekuatan suci yang bersatu. Keturunan dua kekuatan suci yang belum pernah muncul bahkan pada pasangan pertama pemilik kekuatan suci ini."
Nyanyian yang berlanjut tiap baitnya itu membuat mereka semakin kagum akan kekuatan yang dimiliki putra bungsu mereka. Kekuatan besar dan takdir besar berada di pundak kecil omega mungil yang masih berada nyaman dipelukan Seokjin.
"Dibalik semua kekuatannya itu… pangeran bungsu hanyalah sosok omega manis yang membutuhkan cinta dan kasih sayang. Senyuman indahnya akan menarik siapapun tanpa terkecuali untuk mencintainya. Pangeran bungsu yang pemalu pun akan membuka hatinya saat ia sudah merasa nyaman dengan orang yang berinteraksi dengannya."
Namjoon menatap penuh sayang pada putra bungsunya. 'Benar, omega adalah sosok yang membutuhkan kasih sayang yang melimpah, terlebih dari pasangannya.' Dan mata Namjoon bergulir memandang Seokjinnya yang terlihat semakin indah setelah melahirkan putra kedua mereka.
"Pangeran bungsu yang dibantu oleh kakaknya untuk bertemu dengan matenya. Dan mata kelam pangeran bungsu yang akhirnya menyadarkan matenya akan keraguannya. Mata kelam yang ditengahnya terletak samudra dan menghanyutkan mata dwiwarna matenya."
"Keraguan?" gumam Seokjin. "Keraguan seperti apa?" tanyanya tanpa ada yang bisa menjawab.
"Masa depan Pangeran bungsu yang bersanding dengan Pangeran bungsu lainnya akan bahagia, namun mereka harus melewati perang terakhir untuk mengembalikan tahta klan terkuat dan bersama pemegang kekuatan suci Réamhaisnéis yang turut berusaha untuk mendapatkan kembali tahta ayahanda mereka. Omega mungil yang memiliki takdir besar yang menantinya setelah pertemuannya dengan matenya." Nyanyian itu terus merapalkan bait-bait kehidupan omega mungil itu.
Ketiga vampire dewasa itu memandangi si bungsu dengan pandangan tak terbaca, Hoseok pun tertegun mendengar tentang takdir kelahirannya yang disinggung oleh Réamhaisnéis.
"Pangeran bungsu… dengan kekuatan sucinya. Pangeran bungsu… dengan mata sedalam samudranya. Pangeran bungsu yang menanggung takdir berat. Pangeran bungsu yang akan berbahagia. Pangeran bungsu… yang dicintai oleh keluarganya. Pangeran bungsu yang mencintai keluarganya. Pangeran bungsu omega berdarah murni terkuat yang akan bersanding dengan Alpha berdarah murni terkuat. Pangeran bungsu yang akan menduduki tahta klan terkuat bersanding dengan Aplhanya sebagai pemimpin. Pangeran bungsu… putra dari Putra Mahkota Kim Namjoon dan Pangeran bungsu generasi kesembilan klan terkuat Kim Seokjin."
Bersamaan dengan nyanyian yang semakin lirih itu, butiran cahaya yang berjumlah ribuan itu masuk ke tubuh mungil omega yang masih berada di pelukan Seokjin. Semakin dan semakin banyaknya butiran itu masuk, tubuh putih bersih itu semakin terlihat menghapuskan warna emas tubuh omega mungil itu. Dan perlahan-lahan sejumput rambut sepekat malam terlihat, rambut terindah yang pernah dimiliki bangsa vampire. Dan saat butiran terakhir masuk, kelopak mata yang tertutup itu terbuka, menampilkan manik kelam berkilauan bagaikan seluruh bintang di tata surya berkumpul dalam sepasang manik kelam itu. Perlahan, kedua manik itu mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke penglihatannya dan saat ia menangkap siluet wajah yang terasa familiar dengannya, omega mungil itu tersenyum dan menggapai pipi sang bunda.
"Kau mengenaliku, omega mungilku?" omega mungil itu tersenyum mendengar suara sang bunda dan tertawa gemas saat tangan mungilnya menepuk-nepuk pelan pipi sang bunda.
Namjoon yang melihat itu, menghampiri putra bungsunya dan mengusap sayang rambut kelam putranya. "Selamat datang di keluarga ini sayang, Kim Jungkook." Ucap Namjoon dan memegang gemas pipi anaknya yang masih saja tersenyum manis itu.
"Anninde…" potong Hoseok merusak momen yang seharusnya mengharukan itu membuat kedua orang tuanya memandanginya. "Adik yang baru lahir harusnya…" potong Hoseok dan menghampiri adiknya lalu menggantikan tangan Namjoon untuk mengelus pipi adiknya lalu menariknya kencang-kencang dan menimbulkan tangisan dari adiknya. "Nah seharusnya seperti ini!" pekik Hoseok girang lalu beranjak pergi mengambil darah dalam sedetik kemudian.
Namjoon dan Seokjin hanya bisa terpana tanpa sempat berbuat apapun, saat Hoseok bergerak menarik kedua pipi Jungkook dan membuat Jungkook menangis lalu kemudian menghampiri Jungkook dengan segelas darah, keduanya terdiam melihat tangisan Jungkook berhenti dan menatap darahnya dengan tatapan berbinar yang menggemaskan.
"Kookie mau darah?" goda Hoseok di depan adiknya. "Hm?" Hoseok terkikik ketika jari-jemari adiknya menggapai padanya dan Hoseok terbelalak saat adik kecilnya melesat ke arahnya.
Darah di gelas itu nyaris saja tumpah akibat Hoseok yang tak bisa menahan rasa kejutnya saat adiknya itu melesat ke pelukannya. Namjoon dan Seokjin sama seperti Hoseok, mereka terkejut melihat kemampuan omega mungilnya.
"Mwoji?" Tanya Hoseok tak mengerti saat ia berhasil tersadar dari rasa terkejutnya dan meminumkan darah pada adiknya itu. Dan tiba-tiba saja pandangan Hoseok menjadi kosong, seperti biasa saat penglihatan itu datang kepadanya.
Sekelebat bayangan itu terlihat, api merah membakarnya. Sekelebat bayang itu berlari, api merah menghanguskannya. Sekelebat bayang itu menggeram, melontarkan api merah ke sekelilingnya. Sekelebat bayang itu meraung, memeluk tubuh yang tergeletak itu erat dan tak ingin melepaskannya. Sekelebat bayang itu… membuyar dan menghilang dari pandangan Hoseok.
"Nak?" Tanya Namjoon saat sepasang Teal indah milik Hoseok telah kembali pada fokusnya.
Hoseok menggeleng pelan sebelum menatap adiknya dan menatap kedua orang tuanya. "Aku tak mengerti, appa. Barusan terasa mengerikan, aku takut Kookie yang berada dalam pelukan itu. Anni! Adikku tak boleh merasakan itu. Kau takkan terluka 'kan? Adikku?"
Seokjin meraih pelan tangan putra pertamanya, menggenggamnya erat dan berbisik lembut. "Takkan ada yang terluka selama kita saling melindungi." Ujar Seokjin menenangkan. Ucapan lembut yang melegakan Hoseok dan menenangkan keresahan Namjoon.
"Tá mé go maith, beidh mé sásta go deo." –Aku akan baik-baik saja, aku akan berbahagia selamanya.–
Ketiga vampire dewasa itu memandangi omega mungil yang baru terlahir itu dengan tatapan tak percayanya. Omega mungil itu baru saja berbicara dengan bahasa leluhur mereka?
..
..taekook..
..taekook..
..
"Ummmmaaa~" sosok putra sulung yang hangat bagaikan mentari pagi itu datang menyeruak ke kamar orang tuanya mengabaikan fakta usia kedewasaannya dan bertingkah teramat manis dan ceria.
"Kim Hoseok." Tegur Namjoon mengingatkan putra sulungnya agar tidak meribut.
"Maaf appa, habisnya Hoseok rindu adik!" ujar Hoseok dan melirik sosok bulat menggemaskan yang sedang menikmati darahnya di pangkuan sang bunda. "Hihi, Kookie yah!" panggil Hoseok dan berlari menuju adiknya yang baru terlahir semalam.
Sementara Namjoon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putra pertamanya yang begitu enerjik. Seokjin yang masih asik membantu putra bungsunya menikmati darah itu hanya bisa tersenyum melihat putra sulungnya menghampiri adiknya dengan begitu semangat. "Padahal 'kan Hoseok hanya pergi setengah jam lalu dan Hoseokku sudah merindukan adik?" Tanya Seokjin saat melihat putranya mulai memainkan jemari adiknya.
"Ung! Kookie manis sih umma, Kookie juga bulat seperti marshmallow, lihat pipinya saat meminum darah? Astaga, appa… kenapa omega harus semanis Kookie dan umma?" ujar Hoseok dan menimbulkan semburat malu di pipi Seokjin sedangkan Namjoon hanya bisa terkekeh geli.
"Karena keindahan adalah nama lain omega, putra nakalku!" ujar Namjoon sembari mengacak surai rambut Hoseok. "Kau kemana tadi, nak?" Tanya Namjoon kemudian.
"Memeriksa sesuatu, appa." Ekspresi ceria itu langsung berganti dengan wajah yang serius serta kernyitan di dahinya. "Aku merasakan keberadaan vampire lain, namun mereka berhasil pergi."
"Tapi kau terlihat santai nak?" Tanya Seokjin yang mengamati wajah serius Hoseok namun sebenarnya terlihat begitu santai.
"Umma tahu ya? Ung, tak ada yang perlu dikhawatirkan, vampire ini akan bertemu dengan kita lagi nanti…" ucap Hoseok dengan nada mengambangnya menandakan jika yang berbicara saat itu adalah Hoseok dengan kekuatan Réamhaisnéisnya. "Omega kecil… takdir besar mengikuti langkahmu dimulai saat usia kedewasaanmu." Tambah Hoseok lagi masih dengan lantunan suara yang halus dan menerawang, pertanda Réamhaisnéis kembali berbicara melalui Kim Hoseok pemegang setengah kekuatan suci Réamhaisnéis sekaligus kakak dari omega kecil yang menatapnya dengan oniks kelamnya.
"Sebenarnya takdir seperti apa yang akan melingkupi masa depan kalian?" Tanya Namjoon sembari memandangi kedua putranya. Lalu pandangan Namjoon berbalik ke arah matenya. "Dan sebenarnya apa yang selama ini kau sembunyikan sayangku?" Tanya Namjoon.
Seokjin terdiam dan lama sekali memandangi kedua putranya, terlebih putra bungsunya. Setelah menarik nafas pelan, Seokjin berujar… "Saat itu aku tak ingin menceritakannya karena kita tak memiliki hubungan apapun, Namjoonku. Karena hal itu hanya diketahui oleh keturunan langsung Raja pertama klan kami, yang artinya hanya keluarga inti kerajaan lah yang mengetahuinya. Sejujurnya sampai sesaat sebelum mendengar isi ramalan Jungkook, aku tetap akan merahasiakannya. Namun sepertinya tak bisa lagi ya?" Seokjin memandangi mata kelam putra bungsunya. "Karena Kookie kita terikat dengan kekuatan langsung Raja pertama."
"Maksud umma?" Tanya Hoseok.
"Nak, mungkin juga saat ini adalah waktunya aku menceritakan padamu, klan asalku." Ucap Seokjin dan menatap Namjoon meminta persetujuannya dan setelah melihat Namjoon mengangguk singkat, Seokjin melanjutkan. "Ummamu ini berasal dari salah satu klan terbesar bangsa vampire, klan yang sampai generasi kesepuluhnya tak pernah terguncang permasalahan apapun. Dan aku, adalah pangeran bungsu dari generasi kesepuluh. Sebuah intrik membuatku terusir dari puri megah tempatku besar selama ini. Intrik itu pula yang menyebabkan kegoyahan klan terkuat itu, klan Rialóir. Sebuah rumor beredar bedasarkan isi ramalan kelahiranku, akan muncul omega berdarah murni langka yang terlahir dari diriku. Omega yang akan bertaut dengan alpha terkuat yang berasal dari klan Rialóir. Mereka hanya mendengar desas-desus yang simpang siur, sehingga mereka berpikir untuk memusnahkanku. Yang tak mereka tahu adalah, selama ini aku dan kakakku menyembunyikan intisari kekuatan kami. Aku melawan, dan aku berhasil keluar dari barrier perlindungan klan. Mereka berpikir jika omega sepertiku lemah, dan mereka salah. Bahkan ayahandapun salah."
"Tapi kakakmu tak memiliki salah apapun terhadapmu, ia mempercayaimu dan selalu menunggu kau pulang, sayang." Seokjin tersenyum mendengar ucapan Namjoon.
"Ya, Permaisuri yang satu itu memang kakak yang terlalu menyayangi adiknya ini." Seokjin tersenyum memandangi Hoseok yang mengerjapkan matanya bingung, lalu melihat kepada Jungkook yang memejamkan matanya damai, terlihat menikmati suara sang bunda yang terdengar bagaikan lullaby indah. "Tentu saja kakakku akan menjadi Permaisuri, karena ia adalah beta yang telah terikat dengan alpha yang tak lain adalah saudara sepupu kami."
"Jadi maksud umma, ikatan meskipun itu hubungan saudara sepupu, tak apa?" Hoseok bertanya dengan suara lirih, seperti merahasiakan sesuatu.
"Ya, tak ada masalah apapun. Karena ikatan yang terjalin itu tak mengenal status, sekalipun saudara yang lahir dari satu tubuh." Namjoon dan Hoseok memandangi penuh tanya. "Raja pertama dan Permaisuri pertama adalah saudara kandung. Kedua orang tua mereka sama. Dan ikatan itu terjalin di antara mereka. Tetua berpikir jika itu salah, namun ikatan itu tak bisa disalahkan. Jadi mereka mengusir Raja pertama dan Permaisuri pertama dari kelompok vampire mereka, saat itu belum ada sistem klan dan penguasa jadi mereka hanya terusir dan terasingkan dari kelompok tinggal mereka saja. Kelompok tinggal mereka berpendapat, vampire yang baru memasuki usia kedewasaan seperti Raja pertama dan Permaisuri pertama itu takkan bisa bertahan hidup di luar kelompok. Namun, nyatanya… mereka bertahan. Mereka tetap terikat dan mereka membentuk klan Rialóir." Seokjin kembali memandangi putra bungsunya.
"Lalu umma, hubungannya dengan Kookie?"
Seokjin tersenyum singkat, "Hubungannya adalah kekuatan suci yang disebutkan di dalam ramalannya adalah kekuatan suci yang sama dengan Raja pertama dan Permaisuri pertama. Kekuatan yang tak dimiliki vampire manapun. Raja pertama dengan api merahnya dan Permaisuri pertama dengan kemampuannya mengendalikan siapapun sesuka hatinya."
"Api merah? Maksudmu…" pikiran Namjoon melayang pada pertemuan pertamanya dengan alpha kecil yang memenangkan perang di usia dua tahun dengan kekuatan yang tak pernah dilihat olehnya.
"Ya sayang, keponakan kita. Anak dari kakakku lah pemegang kekuatan api merah itu. Kekuatan suci yang sama dengan Raja Yunho. Dan jika memang benar, maka uri Kookie akan memiliki kekuatan yang sama dengan Permaisuri Jaejoong."
Namjoon tertegun, takdir yang berat memang akan mewarnai keturunannya. Sama dengan takdir kehidupannya. "Lalu, keturunan…" Tanya Namjoon mengingat bunyi ramalan akan keturunan yang belum pernah muncul pada generasi pertama.
"Raja Yunho dan Permaisuri Jaejoong memiliki dua pangeran dengan satu status, yaitu beta berdarah murni yang tak mewarisi kekuatan suci keduanya. Jika benar uri Kookie mewarisi kekuatan Permaisuri Jaejoong, maka kita nantinya akan memiliki cucu alpha berdarah murni ataupun omega berdarah murni perpaduan kekuatan uri Kookie dengan matenya nanti."
Hoseok terdiam, penglihatannya kemarin saat sedang meminumkan darah kepada adiknya itu muncul kembali di dalam ingatannya saat mengetahui tentang mate adiknya yang memiliki kekuatan api merah suci itu. Hoseok tak mau berspekulasi, namun penglihatannya kemarin sungguh mengerikan. Dan ia tak mau adiknya mengalami hal yang mengerikan.
"Jangan berspekulasi dengan penglihatanmu nak, tidakkah kau belajar dari pengalaman ummamu? Spekulasi yang salah akan ramalan, membuat takdir yang mengerikan pada satu kehidupan. Kita jalani takdir masa depan itu dengan tangan saling bertaut untuk saling melindungi, karena kita adalah keluarga."
Namjoon mengelus sayang kepala putra sulungnya, membuat Hoseok berpikir… benar, meskipun ia memiliki penglihatan sempurna karena separuh kekuatan suci Réamhaisnéis berada padanya, namun… takdir masa depan bisa berubah sesuai dengan tindakan yang diambil oleh si pemilik takdir.
..
..taekook..
..taekook..
..
"Umma! Kenapa Kookie harus sekolah di sekolah manusia? Umma, kalau Kookie haus nanti bagaimana?" si bungsu itu merengut sebal karena pembahasan tentang bersekolah dengan manusia yang menurutnya menyebalkan.
Bagaimana tidak? Manusia dengan perilaku anarkisnya, manusia dengan mulut mereka, manusia dengan pemikiran bahwa dirinya adalah sosok sempurna. Dan itu membuat Jungkook kecil geram.
"Kalau Kookie haus, 'kan umma sudah membekali Kookie dengan darah di botol minum Kookie." Seokjin tersenyum geli melihat bibir merah anaknya yang maju pertanda ia merajuk.
Jungkook kecilnya kini sudah berusia tujuh tahun dan ini adalah tahun pertama ia sekolah dan bersosialisasi dengan lingkungan manusia tempatnya tinggal. Meski hari ini bukan hari pertama ia masuk ke sekolah, namun si kecil kesayangan keluarganya itu selalu merajuk dengan topik yang sama semenjak dua bulan lalu.
Ya, sudah tujuh tahun terlewati semenjak Seokjin mengungkapkan kebenaran jati dirinya pada putra pertamanya. Meskipun Namjoon masih belum bisa bercerita tentang jati dirinya, Hoseok memaklumi itu dan hanya menjawab ringan "Terkadang Hoseok memang harus diam saat appa dan umma merahasiakan sesuatu dan bertahan untuk tidak bertanya 'kan? Karena, pasti ada saatnya rahasia itu kalian ceritakan." Putra sulungnya tak menuntut apapun, membuat perasaan pasangan itu sedikit lega.
"Jika Kookie kembali melalui minggu ini dengan baik, tanpa ada masalah… hyung janji akan membawa Kookie berlatih." Hoseok yang datang dari belakang si vampire kecil itu membuat vampire kecil itu melonjak senang dan segera berlari ke arah kakaknya itu.
"HYUNG! SERIUS!?" tanyanya dengan suara yang melengking senang.
"Hyung mana pernah berbohong pada Kookie?" Hoseok tersenyum geli melihat adiknya yang kembali merajuk.
"Oh iya, hyung memang tak pernah berbohong. Tapi hyung selalu menghilang saat latihan kita baru setengah jalan, dan Kookie sebal!" rajuk Jungkook kesal.
"Tapi hyung janji, kali ini hyung akan menemani Kookie berlatih tanpa meninggalkan sesi latihan kita di tengah jalan." Hoseok memberikan jari kelingkingnya ke arah Jungkook yang langsung disambut oleh si kecil dengan dengusan kecil.
"Hyung sudah berjanji, kalau hyung bohong… Kookie akan membuat hyung malu!" ucap Jungkook sembari menautkan jari kelingkingnya dengan kakaknya.
"Nah, kakak-adik disana! Sekarang appa membutuhkan Jungkook kecil appa untuk diantarkan ke sekolah." Panggil Namjoon yang sudah siap di belakang kemudinya. Membuat Jungkook merengut kesal dan berjalan dengan langkah kaki yang berat menuju Namjoon.
"Eits, kau melupakan sesuatu, nak." Panggil Seokjin yang membuat Jungkook menepuk pelan dahinya.
Jungkook memejamkan matanya, berkonsentrasi pelan dan menutup baunya. "Sudah, umma. Kookie berangkat ya." Pamit Jungkook dan pergi ke sekolahnya diantarkan oleh Namjoon.
Setelah mengantarkan anak bungsunya itu, pandangan Seokjin beralih pada putra sulungnya. Tatapannya memicing dan mencoba mengintimidasi anaknya.
"Aku memang tak bisa menyembunyikan apapun terhadap umma cantikku ya?" Hoseok terkekeh geli. Seokjin hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu menarik anaknya untuk duduk di sofa nyaman dan membawa kepala anaknya ke dalam pelukannya.
"Ceritakan, nak." Pinta Seokjin.
Hoseok menenggelamkan kepalanya jauh ke dalam pelukan Seokjin, "Aku sudah bertemu dengan calon mateku, umma." Mulai Hoseok. "Malam di mana aku keluar sesaat sesudah kelahiran Kookie, tiba-tiba saja aku melihatnya dalam pandanganku. Calon mateku. Saat aku datang menghampirinya, dan pandangan kami bertemu… mata peraknya sudah mengikatku umma. Aku melihat dua warna yang berbeda, coklat seperti yang kebanyakan vampire lain lihat, dan perak yang hanya bisa dilihat oleh keluarganya dan juga matenya. Iapun demikian. Ia sudah melihat dua warna yang berbeda untuk warna mataku. Tapi ia menjauh, umma. Ia mengatakan bahwa meskipun kami ditakdirkan bersama, masa lalu kedua orang tua kami akan membuat kami susah untuk bersatu."
"Masa lalu orang tua kalian?" Tanya Seokjin.
"Sepertinya ia berasal dari klan yang sama dengan appa." Ujar Hoseok. "Saat umma menceritakan jati diri umma, aku bertahan untuk tidak menanyakan jati diri appa. Aku yakin appa memiliki alasan kenapa ia tak bisa menceritakan itu semua terhadap kami. Tapi umma… apa benar kami tidak bisa bersatu?"
"Takkan ada mate yang tidak bersatu saat mereka sudah bisa melihat warna asli dari mata matenya. Takkan ada. Hoseokku pun akan mendapatkan pasangannya, aku yakin itu. Dan! Takdir masa depan, si pemilik takdir yang mempunyai kendali akan takdirnya. Kalau Hoseok sudah menyerah di sini, bagaimana kedepannya?"
Hoseok tersenyum mendengar kata-kata sang bunda. Ia mengangguk dalam pelukan Seokjin. "Umma benar. Ah, aku seharusnya menceritakkan ini sedari lama pada umma."
Seokjin melonggarkan pelukannya dan mengecup kening putranya. "Tempat seorang anak untuk berlari pulang adalah orang tuanya, bahkan di bangsa kita hal itu turut berlaku. Keluarga adalah tempat berlindung dan tempat penyelesaian masalahmu. Jadi sekali lagi umma katakan, jangan pernah menyembunyikan apapun pada keluargamu. Anak nakal!" Seokjin memukul pelan lengan Hoseok dan kembali memeluk anaknya. "Umma akan meminta appa bercerita tentang klannya, masa lalu kami harus kami sendiri yang menceritakannya pada anak-anak kami. Jadi Hoseok bersabar ya." Hoseok kembali mengangguk mendengar ucapan sang bunda.
..
..taekook..
..taekook..
..
TBC
..
..taekook..
..taekook..
..
Hai.
Chap spesial pake telor tentang kelahiran dedek emesh sama segelintir masa lalu Seokjin serta siapa pemilik kekuatan suci generasi pertama. Jangan tanya aku kenapa harus YunJae! Jangan tanya aku! YunJae is my king~ couple terhot, termanis, termanja, tapi tersakiti karena harus pisah /hiks/
Masih belum ada moment TaeKook… iya maafin… alurnya memang lambat. Belum ada perkembangan berarti untuk couple utama. Tapi tolong jangan protes, karena penggambaran karakter dan masa lalu memang diperlukan untuk sebuah cerita.
Chap depan… menurut kalian enaknya apa ya?
Certain masa kanak-kanak si baby Kook
Atau langsung buat baby ketemu mas etet yang ngejablay?
Wkwkwk, aku ketawa pas di chap kemarin kalian bilang si etet ngejablay, saoloh. Etet sih udah nya meragu, ngebangsad, gak ketemu sama matenya malah ngejablay. Wkwkwkwk.
Aku sih dari awal nulis cerita ini udah punya pandangan gimana TaeKook ketemu. Sama pandangan gimana proses mating pertama Taekook. Menurut kalian yang mana background yang enak?
Di bawah air terjun.
Di dalam danau dan dikelilingi pegunungan.
Di dalam resort khusus bulan madu dengan kelopak mawar di mana-mana.
Di bawah sinar rembulan yang mengintip malu.
Dipilih yaaaaaaa!
Ah, untuk balas-balas review, aku memang akhir-akhir ini gasempet bales-bales review kalian, tapi percayalah aku membaca seluruh kata di review kalian. Dari yang protes bilang kenapa dedek gamuncul, kapan TaeKook ketemuan, kesian NamJin yang jadi pasangan pelarian, kepisah antar benua, sama beberapa review yang pereviewnya kurang minum akua. Wkwkwk. Review yang berisi dukungan kalian juga aku bacaaaaaa~ yang bilang gatahan manisnya pasangan disini, serius… hm, bahkan untuk cerita fantasy ini aku gabisa menghilangkan kebiasaan aku yg bikin cerita manis-manis yang bikin gumoh. Aku gamau bikin sedih-sedih di cerita ini, tapiiii gajanji… kalau moodnya sedih kubuat sedih ini cerita /dibanting/
Wkwkwkwkw, terus dukung writer sengklek dan moodyan ini ya…
Sampai jumpa di chap selanjutnya~
.
