Disclaimer : Harus berapa kali sih saya kasih tempe! Harry Potter tuh milik J. K. Rowling. Dan kalau ada tokoh lain yang bukan OCs saya mah, tidak mau saya akui atuh!

WAJIB BACA BAGI PARA PEMBACA YANG INGIN MEMBACA BACAAN INI. o.0!

A/N: Saya mau tanya sama reader-san, kalian setuju tidak, kalau saya pasangkan Pansy dengan Viktor Krum?... Waduh! Dramione? Kan sudah saya bilang mereka nanti muncul di antara chap 7 dan 8. Readers-san gimana, sih! Ini nih akibatnya kalau langsung review tanpa baca A/N. Ck, ck, ck…

.

.

.

Four Soul

Zenn Von Rozenkreuz

Line 7 : Her Desire

Time Line : Tahun keempat, Harry Potter dan Piala Api. 1 Desember 1993.

.

.

.

"Setiap keinginan harus ada bayaran untuk memilikinya, wadahku."

(Desire)

Ini adalah tempat yang tinggi dan aku melihatnya.

Pupil hitam oval yang agak tipis memanjang dan irisnya yang berwarna biru langit cerah.

Mata yang indah dengan tatapan tajamnya.

Sayap yang halus, lebat, dan berwarna langit malam.

Cakar tajam yang mampu mengoyak daging.

Ia melebarkan sayapnya dan angin bertiup kencang.

Aku tak mampu mengalihkan mata dari keindahan itu.

Tanpa kusadari, bibirku berucap,

"Raven-ku."

(Desire)

Ia terduduk di sudut menara ini. Di sudut yang gelap di mana cahaya bulan tak mampu meneranginya. Ia mencengkeram erat bagian bawah kerah piyamanya. Nafasnya tersengal-sengal hingga uap-uap putih tampak keluar dari mulutnya. Tubuhnya bergetar tak karuan. Butir-butir keringat mengambil tempat di pelipisnya. Matanya menatap horror sosok di hadapannya. Manusia yang tampak fana, yang berdiri tanpa menyentuh lantai.

Sosok itu tersenyum kecil. Poni panjang yang tak beraturan tampak lembut terbelai angin. Rambut perak yang dikepang menjuntai hingga ke lututnya bergoyang lembut. Ia memakai pakaian yang tampak seperti baju bangsawan pria zaman Victoria. Dia memakai mantel berkerah tinggi yang ekornya mencapai betis. Mantel berwarna gading itu memiliki ujung-ujung berukir dengan warna biru cerah dan memiliki kancing sampai di bagian perutnya, hingga menampakkan baju yang ia kenakan di dalam mantelnya, baju hitam yang mencapai pertengahan paha. Ia juga memakai celana yang kakinya di masukkan ke dalam sepatu bot berwarna putih dengan ukiran yang berwarna biru. Di pinggangnya terdapat sebuah tali pinggang yang merupakan tempat ia menyampirkan pedang bersarung platinum di sisi kanannya. Bibirnya membentuk senyum puas melihat ketakutan yang meringkuk di depannya.

"Selamat malam, wadahku," katanya dengan senyum malas yang tampak mengejek. Hermione bergidik ngeri. Wanita itu menunduk dan mengulurkan tangannya yang bersarung tangan putih.

"Jika kau berkenan, akan kuberikan gagak itu padamu," tawarnya sambil melirik seekor gagak hitam besar yang memandangnya tajam dari belakang wanita itu. Gadis berambut coklat terpaku melihatnya.

"Raven-ku."

Si wanita menyeringai. Ia berlutut di depan gadis itu. Memeluknya lembut dan berbisik di telinganya. Seperti iblis yang membisikkan dosa pada manusia yang ia pilih. Membisikkan kata-kata itu sambil berseringai iblis, memperlihatkan taringnya yang putih. Gadis kecil itu terdiam dengan mata membulat sempurna mendengarnya. Kata-kata yang membuatnya terhipnotis hingga tak memikirkan akibat apa yang akan diterimanya. Pipinya bersemu merah saat mengangguk yang ia tak tahu pasti mengapa ia lakukan itu, tanpa menyadari seringai Roh Udara semakin lebar.

"Ya. Itu milikmu. Hadiahku untuk wadah yang kupilih, Hermione Jane Granger."

(Desire)

Pansy lantas memegang lengannya. Mata hitamnya melebar. Ia tak mengubah ekspresinya selama beberapa saat. Ia menghela nafas, kemudian menarik selimut hijaunya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia bernafas lelah, mencoba mengingat-ngingat apa yang membuatnya terbangun secara tiba-tiba. Saat itu, tiba-tiba saja ia merasakannya. Perasaan yang sama saat Roh Air masuk ke dalam tubuhnya. Menimbulkan sensasi yang membuat detak jantungnya meluap. Detakkan yang keras, cepat, dan tak teratur hingga membuatnya merintih kesakitan di tanah berumput di tepi Danau, tempat Roh Air menyapanya. Gadis itu bergerak gelisah memikirkannya. Apa yang- Ah, dia mulai bisa membacanya. Tatapannya berubah serius. Bibirnya berkedut sedikit.

"Hee, bukankah terlalu malam untuk membuat orang berteriak kesakitan, eh, Roh Udara?" tanyanya pelan dengan tersenyum mencurigakan. Ia akan merasa senang jika berada di sana saat Granger tengah berteriak histeris hingga membuat telinganya berdenging.

(Desire)

Drap! Drap! Drap! Drap!

Kedua kaki seorang gadis berambut coklat berlomba menuju ke suatu tempat yang terbayang di benak pemiliknya. Tentang seorang gadis berwajah stoic yang menunggunya di koridor bawah tanah, wilayah kekuasaan Snape. Ia tak tahu mengapa ia mau saja ke sana. Ia tak tahu. Ia hanya mengikuti kata-kata Roh Udara. Ia hanya mengikuti kata-kata roh yang telah masuk ke dalam tubuhnya itu.

Ia telah menuruni tangga dan berhenti. Ya ampun! Bagaimana jika dia bertemu muka dengan Snape di tempat itu? Sudahlah. Gadis pemberani itu sudah tak mempedulikan apa pun yang akan terjadi ke depannya. Ia hanya ingin bertemu dengan orang itu. Orang itu!

Ia berjalan perlahan dengan cahaya putih di ujung tongkatnya. Setelah langkah kelima berhasil dibuatnya, tiba-tiba, penerang –obor yang melekat di dinding- menyalakan api yang membara dan gadis bermata coklat madu itu terdiam. Tak jauh di depannya, seorang gadis yang –menurutnya- sebaya dengannya tengah berdiri menatapnya. Ia berjalan lambat-lambat, kembali menatap sorot mata tajam yang dipancarkan gadis itu. Lalu ia mempercepat langkahnya. Perasaan rindu yang membuncah saat melihat sosok yang berpakaian sama dengan Roh Udara, namun beraksen orange-kemerah-merahan. Tidak salah lagi. Dia adala-

"Raja," ucap gadis itu seraya berlutut di depan sosok yang berwujud roh tersebut.

"Angkat wajahmu…" Sosok itu berucap. "Wadah Roh Udara…" Gadis yang tengah berlutut tersenyum tipis.

"…Hermione Jane Granger."

Ia mengangkat wajahnya sesuai perintah. Kembali menatap sorot mata itu. Bola mata hitam kelam yang berkilat merah terang di bawah sinar api.

"Kembalilah ke tempat tidurmu yang nyaman. Kau akan bertemu dengan yang lain besok, Wadah Roh Udara," titahnya dan Hermione melaksanakannya. Hermione yang dikendalikan oleh Roh Udara.

Lalu salju turun, mengawali bulan Desember di Hogwarts.

(Desire)

"Kau tahu, kupikir si Ferret itu penggemar berat Voldemort, ternyata dia-nya doyan dengan opor ayam!" Ron membelalakkan matanya.

"Kau yakin!" tanyanya sambil menahan tawa. Seamus Finnigan menyeringai.

"Kemarin, kudengar dia dan temannya yang bernama Zabini berbicara tentang opor ayam!" jawabnya dramatis. Ron melirik ke meja Slytherin dengan wajah memerah menahan tawa. Gak nyangka orang kaya macam Malfoy mau nyobain opor ayam. Lebaran masih beberapa hari lagi, oii! o.0

Braakk!

Ron dan Seamus terkejut. Mereka menoleh ke depan mereka –ke seberang meja- dan saat itulah mereka menahan nafas. Hermione menatap mereka dengan tatapan marah dan hidung merengut. Tangan kanannya yang terkepal erat berada di atas meja, sepertinya tangan itu yang membuat bunyi tadi. Dan bukan hanya mereka berdua saja yang terdiam, orang-orang yang berada di sebelah gadis itu mendadak terdiam, ketakutan dengan aura di sekitar gadis berambut coklat itu.

Setelah membuat dua orang di depannya menahan nafas cukup lama, Hermione berdiri dan membuat yang lain terkejut. Ia mengeluarkan kakinya dari kursi, hendak pergi dengan tangan kiri menutup sebagian wajahnya. Harry mencoba membuka suara setelah meneguk ludah.

"'Mione, kau terlihat pucat. Ada ap-"

"Aku pergi dulu," selanya cepat –sedikit menggeram- dan sebagian murid-murid yang duduk di meja Gryffindor tak lagi menyentuh sarapan paginya. Terutama Ronald Weasley dan Seamus Finnigan yang harus digotong ke Hospital Wing akibat kejang-kejang dan keringat dingin akut.

Di meja Slytherin, seorang gadis berdiri dengan mata yang mengikuti punggung gadis yang mendekati pintu Aula.

"Kau mau ke mana, Pans?" Pansy melirik Theo dari balik bahunya.

"Entahlah," jawabnya datar seraya melangkah pergi dengan mata yang terfokus pada seorang gadis berambut coklat yang telah melewati pintu Aula Besar. Theo memandangnya heran dan terdiam saat matanya menangkap sosok pemuda dari meja Ravenclaw yang juga berdiri dan melangkah ke arah pintu. Ia merengut saat menatap punggung pemuda itu hingga ia tak terlihat lagi ketika pintu telah ditutup. Tanpa sengaja ia melihat Draco dari ekor matanya. Si rambut perak itu tampak serius memandangi pintu Aula Besar.

"Ada apa, Draco?" tanyanya penasaran. Draco Malfoy diam sejenak lalu menatap piring yang menghidangkan Sandwich isi keju di depannya.

"Tidak ada apa-apa," jawabnya datar. Theo memandangnya sejenak, lalu kembali melahap roti isi keju yang ada di tangannya. 'Hari yang aneh,' batinnya.

Tanpa menyadari laki-laki di sampingnya mencengkeram roti isinya dengan cukup kuat.

(Desire)

"Dia dimana?" tanya gadis berambut hitam seraya mempercepat langkahnya, mencoba menyamai langkah panjang pemuda di sampingnya.

"Asrama Gryffindor. Mungkin dia tidak ingin masuk kelas hari ini," sahut si pemuda Ravenclaw. Pansy tersenyum sinis.

"Pasti sakit sekali. Rasakan itu," gumamnya pelan supaya Sqied tidak mendengarnya. Tiba-tiba ia terdiam.

"Sqied! Dia di asrama Gryffindor! Bagaimana kita bisa masuk ke sana?" tanyanya bingung. Sqied memutar bola matanya.

"Kau pikir kita ini apa, hah?" Pansy terdiam sesaat sebelum menyeringai. Ia segera memakai wujud rohnya sebelum berlari meninggalkan Sqied.

"Bodoh," ujar pemuda itu sebelum ikut mengubah wujudnya dan berlari mengikuti gadis yang sedang menyeringai licik di depan lukisan Nyonya Gemuk.

"Dia bisa lihat kita?" tanyanya saat Sqied telah berada di sampingnya.

"Tidak bis- Hei! Sarungkan kembali pedangmu!" serunya saat melihat Pansy mengacungkan pedangnya di depan lukisan penjaga asrama Gryffindor. Gadis itu menggerutu sambil kembali menyarungi pedangnya.

"Ayo, masuk," ajak pemuda itu sambil melangkah masuk melewati lukisan Nyonya Gemuk secara gaib. Pansy mengekor di belakangnya setelah berusaha menendang wajah penjaga pintu asrama di depannya. Gadis itu menyeringai lebar setelah melihat wajah Nyonya Gemuk yang bingung karena merasa seperti telah disentuh dengan kasar oleh sesuatu yang tak ia ketahui.

Mereka disambut dengan warna merah dan emas di ruang Rekreasi asrama itu. Pansy mengernyit jijik. Sungguh, masuk ke kandang musuh memang mimpi paling 'indah' yang pernah ia alami. Dua orang berwujud roh itu mulai menaiki tangga dan masuk ke dalam pintu yang berada di ujung tangga.

Lagi. Pansy Parkinson menampilkan wajah yang siap mengeluarkan kelenjar muntahnya di ruangan yang semakin penuh dengan warna kebanggaan Gryffindor itu. Duuh! Bagusan hijau, kali!

Ia segera mengganti ekspresinya saat melihat Sqied telah merubah wujudnya. Dia ikut mengganti wujudnya seraya berjalan ke arah tempat tidur yang paling ujung. Pansy bersandar di dekat jendela dengan wajah malas, sementara Sqied berdiri di samping tempat tidur.

"Hei, Granger," panggil Pansy, agak nyaring sehingga membuat Hermione tersentak dan segera bangun dari tidurnya dengan wajah lelah. Sqied meliriknya tajam dan Pansy hanya membuang muka sambil bersiul-siul tak jelas. Gadis berambut coklat berusaha menggapai tongkat sihirnya dengan susah payah. Sqied memegang tangannya seraya tersenyum.

"Kamu istirahat saja. Kami hanya mau memberi salam saja, kok," ucapnya lembut. Karena tak melihat potongan orang jahat di wajah pemuda itu –kecuali, Pansy- ditambah dengan tubuhnya yang sedang melemah, Hermione menurut. Ia kembali tidur dengan perasaan bingung tentang cara mereka berdua bisa masuk ke dalam asrama Gryffindor, terutama gadis yang tengah tersenyum culas padanya.

"Kau tahu, prediksiku bahwa memang dia yang akan terpilih benar-benar tak bisa diragukan lagi," pamer Sqied saat melirik Pansy yang mendengus mendengarnya. Hermione mengangkat alisnya.

"Apa maksudmu? Lagipula kau ini siapa?" tanyanya lemah. Sqied tersenyum menyesal karena lupa memperkenalkan diri.

"Well, perkenalkan, namaku Sqiedefs Knightsroot, wadah Roh Tanah," jawabnya dan Hermione tersentak kaget.

"Wadah…roh?" Pansy menaikkan alisnya.

"Jadi… yang tadi malam itu….bukan mimpi?" tanyanya lambat-lambat dan Pansy tertawa nyaring. Sqied meliriknya tajam sehingga gadis di belakangnya langsung membungkam mulutnya dengan air mata 'kebahagiaan' yang mulai menggenang.

"Bukan, itu bukan mimpi." Permata coklat madu gadis itu melebar.

"Kau telah dipilih oleh Roh Udara, Hermione," lanjut pemuda di depannya. Pernyataan tersebut cukup membuatnya terpaku dan diam bagai robot. Pansy menatapnya aneh.

"Oh, ya. Tak apa, 'kan, kalau aku memanggilmu Hermione?" Sqied bertanya sambil tertawa.

"Ng.. Sqied. Sepertinya dia sedang 'terbang', deh," komentar Pansy saat melihat gadis berambut coklat bagai lum-, maksudnya, bagai batang pohon jambu itu terdiam dengan pandangan kosong. Sqied menoleh dan terbelalak.

"Heeeii! Sadarlah!" seru pemuda itu sembari mengguncang-guncangkan bahu gadis di depannya.

"…Trance," gumam Pansy sembari tersenyum sinis, cukup keras agar Sqied bisa mendengarnya. Sqied mengacak-acak rambutnya sendiri seraya menghela nafas.

"Sudahlah, Pans. Kau datang ke sini bukan untuk mengejeknya, tapi menyapanya." Pansy membuang muka. Sqied mengernyitkan keningnya.

"Kau tak akan tahu saat Ein memasangkanmu dengan wadah Roh Udara. Seharusnya sikapmu mendukung," katanya seraya berjalan keluar. Pansy merengut saat menggeretakkan giginya. Ia ikut melangkah keluar sebelum menatap wajah gadis yang sedang tertidur di kasur dengan tatapan marah dan jijik.

Seharusnya bukan kau yang terpilih, Darah-lumpur!

Semoga Ein tidak memasangkanku dengan makhluk menjijikan sepertimu!

(Desire)

"Kau kesakitan, eh?"

Hermione menoleh ke sumber suara. Namun, tak ada yang bisa dia lihat. Segalanya hitam. Yang ada hanya dirinya dan rasa berat yang mengganggu system pernafasannya. Keningnya bertaut marah.

"Siapa kau!" tanyanya keras. Lalu, seseorang tertawa kecil. Suaranya terdengar seperti suara perempuan dewasa, nyaring dan lantang seperti suara gemerincing bel. Nafas Hermione tercekat. Ia mengenal suara itu!

"Kau…"

"Roh Udara, dear."

Wanita itu tertawa lagi. Dan Hermione tak menyukai jenis tawa dengan nada mengejek seperti itu, sebab ia tak senang mengingat kejadian semalam.

"Kau yang membawaku ke sini?" desisnya tak sabar. Hening sejenak.

"Kenapa? Kau ingin pulang?"

Lagi-lagi. Wanita itu mengejeknya. Hermione mengepalkan tangannya.

"Apa maumu?" geramnya. Wanita itu tertawa kecil.

"Aku ingin kau melaksanakan tugasmu."

Hermione tersentak saat sosok wanita itu muncul di hadapannya dan memegang kedua pipinya yang pucat. Mata wanita itu berwarna hitam pucat. Ia menatap culas gadis di depannya.

"Aku telah memberi apa yang kau mau,

dan kau menerimanya.

Kau tahu ada syarat di balik semua itu.

Aku yakin, kau tahu itu."

Dan bulu-bulu berwarna hitam malam menghujani mereka. Roh Udara menarik tangannya. Permata coklat madu Hermione melebar saat melihat sesosok monster besar di belakang wanita itu. Pupil hitam oval yang memanjang dengan irisnya yang berwarna biru langit cerah, menatapnya dengan sayap terkatup. Hermione terperangah. Ia mengulurkan kedua tangannya ke atas seolah-olah ingin menjangkaunya.

Roh Udara tersenyum tipis. Kakinya meloncat anggun ke samping gadis itu. Membisikkan sugestinya.

"Kau benar-benar menginginkannya."

Helaian-helaian bulu berjatuhan. Roh Udara melangkah anggun. Suaranya bagai bunyi bel yang bergoyang.

"Dia milikmu…"

Roh Udara memegang pundak Hermione dari belakang. Ia mendekatkan wajahnya ke samping. Mendekatkan bibirnya di atas telinga gadis itu. Sementara Hermione masih terpesona dengan keindahan monster itu.

"… dan kau milikku."

Sontak Hermione berbalik dan menepis tangan wanita itu. Ketakutan menaungi wajahnya dengan tubuh bergetar hebat. Roh Udara kembali berdiri di depan monster malamnya. Ia mengangkat tangannya ke atas dengan seringai lebar.

"Kau menginginkan Raven!

Tapi kau tak membayar apapun padaku untuk memilikinya!

Kau pikir itu adil!"

Gadis itu terpatri dengan permata biru cerah bagai langit. Ia sangat menyadari keinginannya. Tangannya kembali terulur. Helaian-helaian bulu berterbangan saat si monster melebarkan kedua sayap hitamnya. Ada hasrat di balik mata coklat Hermione dan Roh Udara menyeringai.

"Aku…milikmu, Roh Udara," ucapnya tanpa melihat seringai lebar wanita itu. Ia larut dalam warna mata itu. Tanpa menyadari kedua kakinya tak lagi berpijak di atas lantai tak kasat mata.

Angin kencang berhembus.

Kegelapan melingkupinya.

Samar-samar, Hermione masih mendengarnya.

Suara tawa bagai gemerincing bel,

yang lenyap dalam deru angin.

(Desire)

Dentuman sepatu bot seorang gadis bergema di sebuah koridor sepi di dalam kastil. Di pertigaan koridor, dua orang menunggunya. Salah seorang dari mereka menyeringai senang.

"Aku tak pernah berpikir akan dibebaskan dari kelas Transfigurasi," ujarnya sambil memilin-milin ujung rambut hitamnya. Sqied meliriknya malas.

"Kau tahu, jika Ein tak menyuruhku, maka kau akan tetap belajar, bodoh," katanya seraya menepuk kepala Pansy. Gadis itu meringis sebal. Ia nyaris berhasil menendang kaki pemuda itu, namun Sqied telah meloncat lebih dulu.

"bodoh, bodoh, bodoh!" ledek Sqied sambil menahan kepala Pansy yang hendak meninjunya agar menjauh darinya. Sqied menoleh saat suara dentuman sepatu itu semakin mendekat.

"Kau akan kemana, Ein?" tanyanya saat menarik tangannya dari Pansy yang sudah mulai bisa mengendalikan diri setelah menendangnya di pergelangan kaki. Gadis yang bersyal putih tebal hingga menutupi mulutnya, menatap datar pemandangan dari jendela di depannya. Pansy duduk bersila di lantai dan bermain dengan Cheshire.

"Pertemuan," jawabnya datar sambil memasukkan tangannya ke kantung mantel merah gelapnya. Sqied menatapnya sejenak.

"Kau bisa membawa Pansy." Pansy lantas mengangkat wajahnya dengan mulut terbuka. Mata hitam Ein masih terpatri dengan pemandangan Danau Hitam yang mulai membeku di luar jendela.

"Dia belum siap." Pansy tersenyum kecut, lalu kembali bermain dengan Cheshire. Sqied mengangkat alis.

"Jangan mengelak. Dia sudah sangat siap," bantahnya sembari menatap serius gadis di sampingnya. Ein tak mengalihkan tatapannya yang datar dan menusuk. Sqied menunggu jawaban gadis itu.

"Kau berani sekali, Sqied," ucapnya dan wadah Roh Tanah memalingkan wajahnya dengan menghela nafas berat. Pansy menutupi kepalanya dengan tudung jaketnya. Ia tak berani terlibat jika wadah Roh Api sudah berbicara seperti itu.

"Berapa lama?" Sqied kembali menatap Ein.

"… 5 hari," jawabnya datar. Si permata emerald memicing curiga.

"Jika selama itu, seharusnya kau bawa saja Pansy!" desisnya. Ia tahu ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan. Ein meliriknya datar. Sqied membalas tatapannya.

"Kau mau membunuh wadah Roh Udara?"

Sqied lantas melotot dan Pansy tersentak. Hanya dengan 1 pertanyaan retoris itu, ia bungkam. Pemuda itu merengut marah.

"Kau selalu banyak alasan jika sedang menyembunyikan sesuatu," ujarnya dengan nada rendah menahan amarah. Angin membelai rambut pirangnya. Pansy bersandar sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Ekspresinya datar. Ia benar-benar malas jika mendengar kekeraskepalaan Sqied.

Ein menggerakkan jari-jarinya dan Cheshire langsung berada dalam gendongannya. Ia mengelusnya pelan, kemudian kucing itu menghilang. Cheshire tiba-tiba muncul dalam sosok yang berbeda. Kucing itu berubah menjadi lebih besar, sebesar gajah remaja. Pansy menyeringai melihatnya. Ia lantas berdiri dan mengelus kucing besar itu.

Sqied menyipitkan matanya saat cahaya keemasan bersinar dari tubuh Ein. Ia menatap tanpa ekspresi wujud roh gadis itu.

Pakaian yang sama, namun berbeda warna coraknya. Jika ia kecoklatan, maka Ein berwarna orange kemerah-merahan. Pansy menarik tangannya saat melihat Cheshire melipat kakinya agar Ein bisa naik ke punggungnya. Tatapan wadah Roh Api tetap fokus ke depan.

"Jaga wadah Roh Udara," titahnya dan Cheshire melompati jendela dan berlari kencang di udara. Pansy melambaikan tangannya. Terkadang dia iri dengan wadah Roh Api yang memiliki tunggangan seperti Ein. Gadis itu selalu berpikir kalau mempunyai tunggangan akan membuatnya tampak keren. Ia menghela nafas. Hening sesaat.

"Yak!" Sqied menepuk tangan. Pansy menatapnya heran dan si pemuda menyeringai.

"Pakai kembali jubahmu dan pergilah ke kelas Transfigurasi-mu," katanya. Pansy membelalak.

"A..aha..haha.. apa yang kau bicarakan? Kita, 'kan, disuruh untuk menjaga Granger," elaknya sambil tertawa gugup. Sqied melempar senyum –yang menurut Pansy- sangat kurang menyenangkan.

"Apa tadi kau bicara, Pans?" tanyanya dengan senyum menekan. Pansy meneguk ludah. Terkadang ia sangat jengkel dengan pemuda yang selalu mengambil peran 'kakak tertua' dalam kelompok mereka. Gadis itu menggeleng cepat.

"Kalau begitu, pergilah sekarang!" serunya dan dalam 1 kedipan mata, Pansy Parkinson tak lagi berada di depannya. Sqied tersenyum puas. Ia menyandarkan punggungnya di jendela. Air mukanya datar tanpa ekspresi.

Kini, ia tahu alasan Ein melarang Pansy bertarung dengan para pencuri Roh. Gadis itu berusaha menghambat latihan Pansy agar dia bisa pergi sendirian ke Pertemuan. Ia memberi alasan bahwa dia tak bisa didampingi oleh wadah yang bahkan belum pernah mengacungkan pedang pada pencuri roh. Dan terpilihnya wadah Roh Udara dalam jangka waktu yang lama, cukup membuatnya yakin bahwa gadis itu telah meminta Roh Udara untuk mengambil wadah di bulan Desember.

Agar si wadah Roh Tanah tetap tinggal untuk menjaga wadah Roh Udara sehingga wadah Roh Api dapat pergi sendirian tanpa pendamping.

Entah apa yang telah direncanakan gadis itu. Sqied hanya bisa berharap agar Ein pulang dengan selamat dan memberinya penjelasan yang masuk akal tentang semua itu.

Lalu, membantunya mengawasi wadah baru dalam kelompok mereka.

"Aah! Mengapa bisa ada raja seperti itu, sih!" ujarnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Memikirkan wadah Roh Api yang selalu bertindak sendirian.

-To be continued-

"Kenapa diam, eh? Kau tersing-"

Craash!

Brukkk!

Hening. Tak ada yang terdengar, kecuali deru angin yang semakin ribut. Gadis itu diam tanpa ekspresi.

"Kaulah yang harusnya kutanya. Kenapa diam…"

"…sampah?"

Permata coklatnya menatap dingin laki-laki yang terkulai lemas dengan rambut perak yang bernoda darah.


Alhamdulillah!

Thanks buat Abcd-san, Laland-san, dan Diggory Malfoy-san atas kesediaan anda semua mereview chap sebelumnya!^^ Oh, ya! Para penunggu Dramione chap selanjutnya akan saya beberkan sedikit tentang hubungan mereka berdua yang berdarah-darah! Hahahaha!

Yosh!

Thanks, for reading! Jika ada yang ingin dikatakan, silahkan tekan 'review'. ^_^

_Touch Of Fire_

{Zenn Von Rozenkreuz }