Disclaimer : Aku nggak punya pulsaaaa~! (eh, salah ya?) Aku nggak punya GS/GSD~!

Perhatian : Italic untuk flashback dan gumaman/apa yang sedang dipikirkan/monolog/penekanan kata/telepati/percakapan di telepon


Cagalli memperlambat langkahnya saat mendekati kelas. 'Gaduh, berarti belum ada guru,'pikirnya. Ia membuka pintu lalu melongok ke dalam kelas. Sesuai dugaannya, kelas mendadak sunyi. Cagalli tertawa, menyadari tatapan teman-teman sekelasnya yang tertuju ke arahnya. "Tenang, ini aku kok," ujarnya sembari berjalan masuk dan menutup pintu dibelakangnya.

Teman-teman sekelasnya mendengus pelan. "Kami kira guru." Cagalli terkikik.

"Orang kayak Caga sih mustahil jadi guru," komentar Miriallia dari bangku di sudut kelas.

"Dasar nggak sopan," gerutu Cagalli.

Shiho memandanginya dengan curiga, "Dari mana saja kau? Tiba-tiba menghilang saat bel istirahat.."

"Perpus," jawab Cagalli cepat sembari memamerkan buku di gengamannya. "Kalian nggak mau bantu buat tugas sejarah sih. Jadi aku berjuang sendiri."

Ketiga temannya memasang ekspresi shock.

"Pertanda apa ini Caga tiba-tiba punya kesadaran diri untuk menyambangi perpustakaan?" seru Shiho pura-pura histeris.

"Badai. Pasti hari ini bakal ada badai besar," tambah Flay.

"Terserah kalian deh. Ngomong-ngomong, aku ketemu Zala tadi."

Sunyi sesaat, pandangan sahabat-sahabatnya terfokus padanya. Oh ya, tentu saja.. Zala adalah topik yang 'amat' menarik saat ini. Cagalli mendengus.

"Sempat ngobrol sebentar. Ternyata orangnya nggak begitu nyebelin. Katanya dia sedang diburu fansnya. Dia kabur dan sembunyi di perpus."

Cagalli bersumpah melihat kilatan aneh sepintas dalam mata kawan-kawannya.

Ooh... Flay, Miriallia, dan Shiho bertukar pandang penuh makna.

"Terus?"

"Terus bel masuk bunyi." Sunyi sesaat-lagi. Kentara sekali kalau Miriallia, Flay, dan Shiho kecewa mendengar akhir narasinya. Seakan tak terpengaruh, Cagalli melanjutkan percakapan (dengan leluasa-karena dengan suatu keajaiban, guru yang seharusnya mengajar mereka sekarang masih belum datang).

"Sebenarnya sampai detik ini aku nggak paham kenapa dia sebeken itu.. Dikejar-kejar sampai harus sembunyi.. Memangnya dia penjahat dari mana?" gumamnya.

"Duh, Cag. Semua yang punya mata, dalam hal ini terbatas pada wanita dan ehm 'beberapa pria dengan minat yang lain daripada yang lain', pasti memburunya. Dia kan 'enak dilihat' atau dalam kata yang lebih sederhana tam-"

"Ya, ya, ya Milly.. Aku akui dia punya wajah yang bagus. Tapi tetap saja aku nggak ngerti kenapa dia begitu populer."

Miriallia dan Shiho memutar bola matanya. Keduanya lalu mendesah pelan dan saling bertukar tatapan 'gadis ini benar-benar bebal sampai-sampai menanyakan hal retoris macam itu', tanpa sepengetahuan Cagalli-tentunya. Flay mengambil jalur tengah-memilih tak turut terjun mengomentari apapun dan asyik berkutat dengan Blackberrynya seakan tak mempedulikan dunia-atau dalam bahasa Shiho, 'BB autis mode'.

"Caga.. Dia itu cakep! Cakep! Masa kamu nggak ngerti apa arti cakep? Dia itu tipe orang yang cakepnya universal! Selain itu bau darahnya super menggiurkan-"

"Milly, jawabanmu melenceng lagi dari pertanyaanku," potong Cagalli sebal.

"Masih dalam konteks pembicaraan kok! Kan kau tanya kenapa dia beken. Ya sudah aku jawab."

"Yang aku minta jawaban secara umum dan bukannya dari sudut pandangmu."

"Sudut pandangku kan mewakili sudut pandang semua orang," bela Miriallia penuh percaya diri.

"Dari segi apa? Kalau kau menganggap dengan menulis artikel 'Criminally Handsome' dan memasukkan nama kakakku, Zala, dan 'saudara-saudara' kaum kita yang lain minus Dearka sudah mewakili sudut pandang khalayak umum maka kau salah."

"Artikelku itu mendongkrak habis-habisan penjualan koran klub kami, tahu! Ya kan, Shi-chan?" Shiho mengangguk. Sebuah seringai kemudian muncul di wajah Miriallia. "Lagipula kamu juga beli kan Cag? Karena nama Heine juga kami cantumkan disitu. Mengaku sajalah. Kak Lacus bahkan Flay saja membelinya kok."

"Ap-"

Merasa bosan dengan keributan yang ditimbulkan ketiga sahabatnya (belum lagi celotehan out of topic mereka yang merambah sampai ke urusan pribadi orang lain-yaitu dia), Flay mencoba menginterupsi. "Sederhana," ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar Blackberry tercintanya. "Dia tampan, badannya bagus, punya otak, tingkah laku dan kepribadiannya baik, ramah, dan daftar berlanjut. Silakan tanya Milly untuk detailnya."

"Ta-"

"Terus, dia single. Atau setidaknya tampak seperti itu.. Yah, nggak akan ada yang tahu kan kalau diam-diam dia sudah memacari seribu gadis. Kalau masalah beken sih.. kak Kira, Yzak, Ssigh, kak Aiman, bahkan Heine-mu itu juga termasuk top class jajaran cowok yang diburu para gadis.. Tapi kan tahu sendiri, kak Kira punya kak Lacus, Ssigh nggak akan bernyali menyelingkuhiku, Yzak mengekor Shiho, kak Aiman digosipkan mengidap Oediphus-complex dan Heine terlalu kejam untuk disukai.. Sedangkan untuk Dearka," Flay berhenti sejenak untuk tertawa, "Sayang sekali, Milly.. Dia terlalu playboy sehingga gadis-gadis jadi enggan padanya. Jadi, yup, yang available cuma Zala, kan?"

Cagalli mengangguk khidmat. "Cukup logis bila dibandingkan jawaban absurd Milly."

"Hey!"

"Puas dengan jawabanku? Sekarang bisa tidak kita melakukan hal lain selain membicarakan Zala? Sesuatu yang cukup produktif misalnya-browsing atau apapun? Kau dan Milly terus-terusan mendebatkan hal yang sama berulangkali belakangan ini…" tambah Flay ketus.

"Eits, tunggu! Nah, terus apa maksudmu mempertanyakan kepopuleran Athrun?" tanya Shiho.


"Ngapain kamu?"

"Mau ke kelas."

Heine menatapnya heran," Ini ruang klub bola. Kelasmu jelas-jelas bukan disini kan."

"Memang. Aku hanya numpang sembunyi."

"Aku heran kenapa mereka nguber-uber kamu sampai seperti itu..," ujar Heine tiba-tiba. Athrun mengangkat alisnya.

"Kenapa? Iri?"

"Sama sekali tidak, terimakasih. Aku cuma penasaran gimana pendapat Meyrin tentang ini.." Athrun tertawa menanggapinya. "Jangan bilang kau diincar karena sengaja memberi image single.." tambah Heine dengan penuh kecurigaan.

"Yah..gimana ya.. Mereka sendiri kok yang mencapku single," balasnya tanpa beban. Temannya memberinya tatapan 'dasar-playboy-gimana-nasib-pacarmu-nanti?' yang dia abaikan sepenuhnya. "Daripada mikirin itu.. Aku lebih heran lagi sama kamu. Kenapa kamu selalu nolak gadis yang menaruh minat padamu?"

Heine menggaruk belakang kepalanya-merasa canggung. "Karena aku nggak menaruh minat pada mereka," jawab Heine dengan nada yang lebih cenderung terdengar sebagai pertanyaan daripada ungkapan.

"Masa? Setahuku kamu menolak mereka dengan berkata, 'Terimakasih, tapi maaf saya merasa terganggu dengan itu' atau 'Terimakasih, um..kau siapa?' yang lebih parah malah 'Ng..terimakasih. Tapi aku nggak suka kamu. Dah'. Athrun tertawa terbahak-bahak. "Serius, Heine.. Kamu ini pangeran berhati dingin tak berperasaan! Cobalah lebih lembut pada perempuan," tambah Athrun diantara sesi tawanya. Kawannya hanya mencibir.

"Aku nggak butuh komentar dari playboy. Lagipula apa juga untungnya kau membahas ini?"

Athrun tertawa lagi. "Kamu yang mulai kan?"

Heine mendecis kesal lalu mengalihkan pembicaraan,"Ngomong-ngomong… kemarin aku ketemu Rusty dan dia babak belur."

"Masa? Seorang Rusty? Gimana bisa?"

"Entahlah… Vampire tua mungkin… tapi katanya perempuan. Pirang. Cantik."

Athrun menyernyit. "Apaan tuh… nggak jelas banget."

"Khas Rusty kan?"

Keduanya tersenyum geli. "Iya sih.."

"Kau... sudah kau selidiki soal haumea milik Atha?"

Athrun terdiam sejenak. "Katanya itu pemberian orang…"

"Lalu?"

"Aku… nggak yakin kalau Cagalli mendapatkannya dari 'kakak'."

"Tapi-" Heine berusaha mendebat namun Athrun menyangkalnya.

"Sekalipun itu miliknya, Heine, haumeanya sekarang ada pada Cagalli. Kau tak lagi berhak atas haumea merah itu."

"Kau menginginkannya, Athrun?"

"Ap-bukan begitu maksudku," ia menatap Heine tak percaya.

"Akui saja, Athrun. Kau juga menginginkan haumea itu. Kau menginginkan posisinya. Lihat saja dirimu sekarang.. Anggota khusus dari divisimu-yang dicalonkan sebagai anggota Faith."

"Bukankah kita setara Heine? Kau juga-"

"Aku? Haha.. Jangan bercanda! Anggota khusus yang dibebas tugaskan sepertimu dan mantan anggota Faith yang diasingkan sepertiku jelas-jelas berbeda."

"Lalu apa yang kau inginkan dari haumea itu?"

Mata emerald Heine berkilat tajam, "Jangan bertanya seakan kau tak tahu apa yang ada dalam haumea merah milik anggota Faith, Athrun.."

Pemuda berambut biru tua dihadapannya bergeming. Ia menatapnya tajam, menilai kejujurannya.

"Kau benar-benar tak mengetahuinya, eh?"

Athrun menggeleng.

"Darah. Haumea anggota Faith berisi darah vampire."

Menyembunyikan keterkejutannya-Athrun bertanya, "Kau menginginkan darah mereka? Untuk apa?"

Heine hanya tersenyum penuh ambisi.

"Aku tak peduli apa yang kau pikirkan, sobat. Yang pasti aku tak akan segan menggunakan cara apapun untuk mengambilnya kembali dari Atha."

Pemuda dihadapannya mencengkram kerah kemejanya. "Apa yang akan kau lakukan pada Cagalli?"

"Itu urusanku."

"Jangan kau coba-coba! Heine, dia menyukaimu!" bentak Athrun.

Heine tersenyum sinis. "Jadi kau cemburu?" Athrun tak menjawab, cengkramannya makin kuat. Kesal, Heine menepis tangan Athrun dari lehernya lalu berpaling meninggalkan Athrun. "Aku tahu Atha menyukaiku. Dan aku berterimakasih akan itu. Bukankah tujuanku malah akan lebih mudah diraih?"


Dering telepon mengalihkan pria itu dari tumpukan dokumen dihadapannya. Ia menghela napas pelan, merasa sedikit terganggu. Diraihnya gagang telepon di samping kirinya dengan sigap lalu dengan suara yang terdengar lelah-disapanya si penelepon di ujung line.

"Kediaman Clyne."

"Siegel," balas suara di ujung telepon.

Si pria menegakkan posisi duduknya, ekspresinya berubah serius menampakkan garis-garis usia di wajahnya. "Ya, Ullen. Ada apa?"

"Semalam Mwu datang mengirimiku kabar."

"Apa dia masih disitu?"

"Dia pergi pagi ini. Ada keributan yang harus diselesaikannya di Rusia."

Siegel terkekeh, "Eroschenko, eh?"

"Seperti biasa." Ullen berdeham sebelum melanjutkan, "Aku ingin memperingatkanmu."

"Mengenai?" balasnya tenang.

"Kau diincar Siegel. Dewan mengawasimu. Data Rumah-mu tertulis lengkap di Rumah Besar. Mereka menganggapmu menghianati perkumpulan dengan tak mengirim perwakilan saat pertemuan."

"Aku tahu," ucapnya lirih. "Biarkan saja mereka mengawasiku. Banyak hal lain yang harus kuurus sementara ini, terutama mengenai para non-ras yang datang dan pergi diluar otoritasku."

"Hati-hati terhadap mereka, saudaraku. Rumah-mu, adalah satu dari sedikit rumah yang belum mereka kacaukan. Mereka menginginkan kejatuhanmu untuk mendapatkan pengakuan dari dewan mengenai posisi mereka."

"Aku sudah bernegosiasi dengan mereka, dan kesepakatan mereka ada di tanganku Ullen. Setidaknya, kedudukanku diakui setiap vampire ras maupun non-ras yang menjejakkan kakinya di Orb."

Ullen bergumam menyetujui.

"Selain itu, Ullen, ada hal lain yang ingin kau sampaikan?"

Lawan bicaranya menggumam lagi dari ujung telepon. "Aku mengirimu informasi yang Mwu berikan padaku. Aku ingin kau membacanya. Isinya beberapa salinan kripto dan catatan-catatan Rumah Besar lainnya mengenai 'perburuan' kita. Beri tahu aku pendapatmu setelahnya."

Siegel menaikkan sebelah alisnya, "soal Tetua baru atau Sang Penerus?"

"Kurasa kau sudah tahu," jawab Ullen datar.

"Rupanya mereka sudah lelah mencari, hm?" komentarnya kecewa.

"Sepertinya tidak. Ingat, betapa tidak setianya Boleslav pada Tetua sebelumnya?"

"Bukan tidak setia, Ullen. Hanya berbeda pendapat. Tetua sebelumnya wanita-dan Boleslav adalah seorang sexist."

"Dan juga rasis," tambahnya tajam.

"Jangan berprasangka pada vampire tua malang itu, Ullen. Dia kakek istrimu, bukan?" tegur Siegel. "Ngomong-ngomong, Da Costa melaporkan kepadaku soal pergerakan hunter di wilayah kita."

"Ya, anakku jadi korban mereka semalam. Beruntung Kira cukup tangguh untuk memukulnya jatuh. Awasi baik-baik Rumah-mu, Siegel. Ancaman terbesarmu bukan dewan atau para non-ras, tapi mereka."

"Aku memahaminya dengan baik sobat. Oleh karena itu, jika terjadi sesuatu padaku... kutitipkan putriku padamu."


Fisika. Cagalli benci fisika. Kenapa pula vampire sepertinya harus belajar Hukum Hooke?

Maka, ketika bel eksekusi berdentang menandakan kemerdekaan untuk hari ini, ia langsung bangkit berdiri dengan penuh syukur sekaligus kesal.

Cagalli menatap Flay-yang senasib dengannya, Miriallia-yang masih terlelap dengan elegan di atas buku fisikanya, dan Shiho-yang masih berkutat dengan catatannya. Maniak Einstein-pikir Cagalli.

Tak terpikir olehnya bahwa akan ada berkah dari langit yang dikirim langsung oleh Tuhan kepadanya.

Ia menoleh ketika Mayura Labatt, teman sekelasnya memanggil dari depan pintu kelas.

"Apa?" Sahut Cagalli menghampiri.

"Ada yang mencarimu."

Dan, untuk sesaat, Cagalli lupa bagaimana caranya bernapas. Di hadapannya berdiri seorang Heine Westenfluss-hidup dan nyata.

"Um.. Hai," sapanya. Cagalli tidak menjawab karena masih dilanda shock.

"Bisa minta waktu sebentar?" tanyanya canggung yang disambut anggukan antusias dari Cagalli.

Tanpa permisi, Heine segera meraih dan menggandeng tangan Cagalli lalu mengajaknya pergi. Terlampau bahagia, Cagalli mengikutinya tanpa berkomentar apapun.

"Aku ingin bicara. Ikut aku." Dan mereka pun berlalu meninggalkan Mayura yang sedari tadi mengamati mereka dengan penuh tanda tanya.

Gadis berambut merah cherry pendek itu memekik kaget ketika Flay menepuk bahunya dari belakang.

"Cagalli mana?"

"O-oh," ia menghela napas-menyurutkan rasa terkejutnya. "Tadi ada senior memanggilnya." Flay mengangkat alis.

"Senior? Siapa?" tanya Shiho.

Mayura mengangkat bahu. "Entah. Aku lupa namanya. Yang pasti dia ada di artikelmu, Milly."

"Athrun Zala?" tebak Miriallia cepat.

"Bukan.. Anak klub sepak bola yang rambutnya orange itu lho.. Hyena atau entah siapa namanya."

Ketiga sekawan itu membelalak. "Nggak mungkin!" ujar mereka serempak lalu buru-buru lari keluar kelas.

"Lho, hei! Kalian mau kemana?" panggil Mayura heran.

"Laporan ke kakaknya Cagalli!"


Kira menanti adiknya di depan gerbang bersama Lacus. Matanya menyipit saat tiga sekawan datang menghampiri. 'Heine mendekati Cagalli'-oke trio itu punya beban moril tersendiri pada Kira kalau itu sampai terjadi. Oleh karena itu mereka beradu lari untuk bisa bicara lebih dulu-tentunya dengan motif yang berbeda. Shiho karena merasa terikat dengan aturan 'dilarang berinteraksi dengan manusia lebih dari yang seharusnya' (atau dalam konteks yang lebih sederhana-jatuh cinta pada manusia), Flay karena ingin mengerjai Cagalli, dan Miriallia yang over bahagia karena sahabat favoritnya akhirnya didekati cowok.

"Ada apa? Cagalli mana?" tanya Kira setelah mereka berada cukup dekat.

Ketiganya saling berpandangan, mencoba mengatur napas setelah lari sprint dari kelas mereka di lantai dua ke pintu gerbang sekolah, lalu berkata terburu-buru (dengan saling menyerobot kata satu sama lain).

"Caga-"

"Barusan-"

"Diajak pergi-"

"Sama-"

"Heine Westenfluss!" pekik mereka bersamaan.

Menanggapi kabar tersebut, sudah dapat ditebak reaksi apa yang ditimbulkan sang kakak. Ekspresi Kira sama seperti orang yang hampir tertabrak truk-jauh lebih epik jika dibandingkan dengan lukisan Picaso dengan kombinasi warna 'kakak yang terganggu, adik super manis, dan cowok tak dikenal'.

"Wah! Pasti mau ditembak," komentar Lacus spontan dengan nada riang-menambah buruk keadaan.

"Apa?" sentak Kira dengan suara yang menggelegar-mengagetkan gadis berambut pink disebelahnya. "Tidak akan kubiarkan!" ujarnya murka. Ia beranjak tetapi Athrun menghentikannya dengan menahan bahunya.

"Ijinkan aku untuk turun tangan. Aku kenal Heine." Kira menaikan sebelah alisnya, memberi Athrun tatapan 'itu'.

Athrun menyeringai. "Hey, kau sendiri yang bilang kalau 'dibandingkan cowok macam Yuuna dari klub volly itu aku lebih menyukai orang sepertimu yang mendekati Cagalli'."

"Dimana, kapan, jam berapa, menit dan detik keberapa, hari apa, bulan apa aku pernah bilang hal mengerikan itu ke kamu?"

"Sekarang bukan saatnya berkelahi, kak!" tegur Shiho.

Kira menatap Athrun kesal, mendengus lalu berbalik memasuki area sekolah.

"Tunggu, Kira!" Lacus berlari kecil mengejarnya. Ia memejamkan matanya sesaat, menggunakan kemampuannya-mencoba 'merasakan' Cagalli. "Dia ada di dekat ruang klub soccer," bisiknya pada Kira. Kekasihnya mengangguk pelan lalu mempercepat langkahnya. "Nggak akan kubiarkan manusia manapun menyentuh adikku."


"Ng.. Kak?" panggil Cagalli lirih. Mata ambernya menatap takjub tangannya yang berada dalam genggaman pemuda berambut orange didepannya. Si pemuda menghentikan langkahnya, melepas genggaman tangannya lalu berbalik menghadapi Cagalli.

"Ada yang ingin kutanyakan," ia berhenti sejenak. "Mengenai kalungmu."

"Oh.." Gadis di hadapannya berujar pelan, kecewa. Aku kira ingin menanyakan sesuatu yang lebih penting yang bisa dia ucapkan dalam tiga kata.

Heine melanjutkan, "Kau dapat darimana?"

"Ada yang memberikannya padaku," jawab Cagalli jujur.

"Siapa?" cecar Heine. Cagalli sudah akan membuka mulut untuk menjawab saat suara yang familier terdengar memanggilnya.

"Cagali-chan!"

Ia dan Heine menoleh. Menyadari siapa yang datang mengganggu, Heine menatapnya dengan tajam, "Athrun."

"Eh, aku mengganggu ya?" celetuk Athrun dengan wajah yang tanpa dosa-menyembunyikan rasa senangnya karena berhasil mengusik rencana Heine.

"Tidak," ujar Heine dingin.

Merasa kikuk, Cagalli memutuskan kalau lebih baik dia pergi menjauh dari Heine dan Athrun (terlebih ia yakin ia dapat merasakan keberadaan Kira di dekatnya dan itu membuatnya ngeri). "Ng, senior.. Maaf aku harus-"

"Tunggu." Heine menarik lengan Cagalli, mencegahnya pergi. "Akhir pekan ini ada waktu?"

Cagalli tergagap, tidak percaya apa yang baru ia dengar. "A-ada.." Tidak mungkin Heine mengajaknya-

"Oke. Ini nomor teleponku." Cagalli menerima secarik kertas yang diberikan Heine kepadanya. "Kau boleh pergi," tambahnya datar. Cagalli menyernyit sebelum berlalu. Apa-apaan dia? Aku diusir setelah puas diintrogasi?

Athrun mengawasi dari ujung matanya. Setelah yakin ia dan Heine berada diluar jangkauan pendengaran Cagalli-ia berkata, "Cara pendekatan yang hebat ya..."

"Bukan urusanmu," balasnya sinis.

"Heine," Athrun membalas tatapan tajam kawannya dengan intensitas yang sama. "Akan kulakukan apapun jika kau ingin mendapatkan kalungnya. Tapi kumohon..." ia terdiam.

Heine tahu ia mengancamnya.

"Jangan kau permainkan Cagalli."


"Kenapa kamu menemuinya?"

Cagalli memekik tertahan-tak berani menoleh, menyadari siapa yang mengajaknya bicara.

"Cagalli, jawab aku."

Ia memberanikan diri menghadapi kakaknya. Tatapannya terfokus pada sepatunya. "Kakak..."

"Bukankah kakak sudah memperingatkanmu?"

Mati aku. Dan Cagalli hanya bisa berdoa akan nasibnya setelah ini.


"Shinn! Shinn!"

Teriakan histeris terdengar memecah keheningan dari depan pintu apartemen. Sumbernya tidak lain adalah seorang gadis hyper berambut merah marun pendek. Mata birunya menyiratkan kepanikan yang berbaur dengan rasa senang.

"Apaan sih? Berisik!"

Pintu apartemen terbuka, menampakkan sosok pemuda berambut cyan dengan suasana hati yang jelas sekali tidak baik. Si gadis berteriak lalu buru-buru menutup matanya.

"Auel! Pakai baju dulu sebelum buka pintu, bisa nggak?"

Auel, tampak tidak peduli dengan kondisinya sekarang yang hanya memakai celana pendek, mendengus kesal. "Terserah. Shinn ada di kamarnya. Tidur. Ada apa memangnya?"

Si gadis mengacungkan ponsel ke depan muka Auel.

"Perintah dari pusat. Mereka berhasil mendapat petunjuk mengenai sarang vampire di kota ini."


Catatan Kecil:

Sexist : membedakan gender, diskriminasi terhadap wanita

Oediphus-complex : kecendrungan dimana anak cowok naksir sama ibunya sendiri (menurut Sigmund Freud), tapi ada juga yang menyebutkan kalau Oedophus-complex merupakan kecendrungan dimana cowok naksir sama wanita yang lebih tua... (dalam fic ini, yang dimaksud Flay adalah pendapat yang ke dua)


Author's Note:

Umm… tiga atau empat bulan yaa? Pakai alasan apa yaa? XD Mohon maaf (lagi) atas delay yang lamaaa sekali. Saya nyasar di piramid di Moroc waktu main RO dan baru pulang sekarang (alasan macam apa itu?). Sekali lagi mohon maaf… saya berusaha untuk terus berdedikasi pada Vryko-chan koook XD

Thanks to : Gunpla, FushionAC, Naw d Blume, Ishida Yuri Kobayakawa, Ritsu-ken, Mei Anna AiHina.

Special thanks to : FushionAC, Citrus Bergamina, dan teman-teman semua yang masih setia menantikan Vryko-chan

Saya akan berusaha melanjutkan Vryko! (melirik kalender dengan tanggal 9-11 yang dibulati dengan tulisan ujian praktek maak dengan tinta merah- lebay jebay)

Oleh kerena itu, segala bentuk kesan dan pesan amat berarti bagi saya (inget kartu undangan ulang tahun waktu SD XD)

Salam, Ofiai.