Title: Letter (Epilog)
Genre: Romance. Humor(?).
Rate: T
Cast: TVXQ's member: Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Junsu, ShimChangmin, Park Yoochun; Lee Dahae (eomma Yunho); Kim Hyunjoong; and other.
Disclaimer: Saya cuma pinjam nama. Yunho milik Jaejoong dan Jaejoong milik Yunho. Plot is mine.
Pairing: Of course Yunjae.
School life romance.
Warning: AU. OOC. GS for uke. Typo. Minim narasi.
.
a/n: anneyoong.. epilog is comiiiing~ ada yang menunggu? (gak adaaaa) update ngebut nih sebelum bulan puasa, biar lebih enak gitu.. haha. Okay, happy reading~ *ketjup
.
[Letter]
.
Seorang gadis yang tidak bisa dibilang anak kecil, apalagi orang tua (iyalah, orang tua mana ada yang masih gadis? #eh), yang biasa disebut ABG sedang berjalan menyusuri koridor sekolahnya dengan langkah menghentak riang. Dilewatinya ruang guru yang terbuka sedikit pintunya hingga menampakkan siluet yang sepertinya tidak asing, tapi tetap saja gadis itu tak dapat memastikan karena hanya punggungnya yang terlihat.
"Ada apa seonsaengnim memanggil saya?"
Benar dugaannya. Suara berat nan seksi itu Jaejoong tau betul siapa pemiliknya. Jung Yunho, seorang lelaki yang dikaguminya, bahkan sudah naik tingkat ke tahap 'suka'. Mereka tak bisa dibilang dekat, tetapi karena suatu hal yang terjadi, setiap minggu mereka harus duduk berhadapan... dengan jarak yang tidak bisa dibilang jauh.
"Terima kasih telah mengajariku, Yunho-ssi. Entah kenapa, kalau kau yang menjelaskan, rasanya mudah dimengerti, tetapi kalau Lee seonsaengnim, aku malah mengantuk mendengar penjelasannya di tengah pelajaran. Mungkin seharusnya kau yang menjadi guru Matematika, bukan dia. Hahaha.."
Sialnya (atau untungnya(?)), Lee seonsaengnim mendengar kata-katanya waktu itu. Alhasil, guru Matematika itu mewajibkan Jaejoong belajar bersama Yunho di akhir pekan dan menantang yeoja itu untuk mendapatkan setidaknya nilai standar dalam ujian akhir nanti. Karena frekuensi pertemuan yang cukup sering itulah perasaan suka muncul dalam diri Jaejoong, tapi ia cukup tau diri untuk tidak terlalu berharap. Lagipula, sepertinya Yunho tidak menyukainya, terlihat dari sikap Yunho yang tidak pernah menyapanya jika mereka sama sekali tidak ada urusan.
"Kau tentu sudah tau, Yunho. Sekolah kita setiap tahun mengirimkan satu siswa di sini untuk melanjutkan sekolah ke Ryokufu High School, salah satu sekolah favorit di Jepang, tanpa perlu menjalani tes masuk. Ibu memanggilmu kesini untuk memberitahu bahwa semua guru merekomendasikanmu. Bagaimana? Kau setuju?"
"Ryokufu.. High School?" Jaejoong menggumamkan nama sekolah yang diimpi-impikan seluruh siswa peraih ranking 1 di kelas.
Masuk ke sekolah itu tanpa tes, rekomendasi dari gulu pula. Daebbak. Semakin kagum saja Jaejoong pada guru privat dadakannya ini.
'Kalau begitu, aku akan ikut tes masuk sekolah itu. Yeah.. Kim Jaejoong, fighting!' teriak Jaejoong dalam hati. Kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya.
"Su-iiiiiie..."
Junsu memandang horror Jaejoong yang masuk kelas dengan tampang seperti idiot. Parahnya lagi, Jaejoong juga memeluknya!
"Yak! Kim Jaejoong! Ini bukan FF yuri. Kau pikir apa yang kau lakukan, eoh?!"
Jaejoong melepas pelukannya, seraya sedikit mendorong tubuh Junsu ke belakang. Dia pikir aku menyukainya? "Maaf, Su. Aku masih suka cowok. Serius."
"Lalu kenapa tiba-tiba memelukku, heh?"
"Aku terlalu senang, hehe." Jaejoong memasang senyum alias cengirannya, kemudian menatap sahabatnya sejak kelas 1 SMP itu dengan mata berbinar, "Junsu yah, kita ikut tes masuk Ryokufu High School, yuk!"
"M..mwo?! Kau bilang apa?"
"Aish, kenapa kau tiba-tiba tuli, eoh? Kubilang—"
"Ani, ani. Bukan aku yang tuli, sepertinya kau yang salah bicara."
"Salah bicara?"
"Aaah, bukan. Bukan salah bicara. Sepertinya ada yang salah dengan otakmu!"
"Dimana letak kesalahannya?"
Junsu hanya memandang Jaejoong dengan tatapan 'Kau benar-benar salah obat ya?'
"Aish, Kim Junsu. Memang apa yang salah?"
"Tentu saja salah. Kalau kau adalah Jung Yunho sang juara umum SMP Hanyoung, barulah kau pantas mengatakan hal itu. Sadarlah, Jaejoongie. Kesempatan kita untuk mendapatkan satu kursi di sana hanya 1:100000000. Ah, apa kau berpikir kau akan direkomendasikan guru-guru di sini untuk masuk kesana tanpa tes? Jangan bermimpi! Bangun! Ini sudah siang. Pabbo!"
Selesai Junsu berpanjang lebar, Jaejoong hanya mengorek telinga kanannya dengan jari kelingking. Satu tangannya yang bebas mengutak-atik ponsel.
"Ya!"
"Su, lihatlah." Jaejoong menghadapkan layar ponselnya ke wajah Junsu, "Orang-orang tampan ini adalah siswa-siswa di Ryokufu High School. Dan lagi mereka pintar. Coba kau bayangkan kalau salah satu dari mereka menjadi kekasihku—"
"Enak saja. Mereka lebih cocok jadi kekasihku."
"Geure. Kekasih kita. Pasti menyenangkan bukan?"
"Jadi, kau mengincar mereka? Karena itu kau ingin bersekolah di sana?"
"Ne." Lelaki tampan dan pintar. Jung Yunho. Jaejoong tertawa sendiri memikirkannya. Orang itulah yang sebenarnya dia incar.
"Jadi, formulir SMA Hanyoung yang kemarin kita isi ini, kurobek saja ya?"
"Nde. Robek menjadi potongan kecil lalu buang ke laut lepas. Kita harus menyongsong masa depan yang lebih cerah. Terus berada di gedung ini tiga tahun lebih lama lagi tidak akan memberi kita kemajuan."
"Ck, kau ini cepat sekali berubah pikiran. Padahal kemarin kau yang memaksaku dengan puppy eyes-mu itu agar aku mau mengisi formulir masuk SMA Hanyoung."
"Bagus kan? Setidaknya aku mempunyai pikiran untuk berubah ke yang lebih baik."
"Baik gundulmu! Hanya mengincar lelaki tampan dan pintar saja."
.
~yunjae~
.
"Haruskah.. saya menjawabnya sekarang?"
"Aaah, tidak perlu dipaksakan. Ibu akan menunggu jawabanmu sepulang sekolah nanti kalau kau memang butuh waktu untuk berpikir."
"Baiklah, saya permisi." Yunho membungkuk hormat, kemudian beranjak keluar dari ruang guru setelah sang wali kelas mempersilakannya.
"Hhhhhhh.."
Menyenderkan tubuhnya pada dinding koridor, Yunho menghela napas panjang seraya pandangannya menerawang. Sok dramatis. Namja itu sedang mempertimbangkan hal berat. Masuk ke sekolah unggulan di Jepang tanpa tes adalah impiannya. Tetapi, kemarin ia mendengar Jaejoong tidak mau pusing-pusing memikirkan tes masuk karena itu memutuskan untuk mengisi formulir khusus siswa SMP Hanyoung yang juga ingin melanjutkan ke SMA yang sama. Dirinya pun sudah mengisi formulir itu.
Yunho berpikir yang keras-keras #plakk (maksudnya berpikir keras). Kalau ia menerima tawaran wali kelasnya, impiannya tercapai, tapi ia harus menelan pil pahit (bahasanya -_-) yaitu harus berpisah dengan sang pujaan hati, Kim Jaejoong. Tiga tahun tanpa melihat wajah Jaejoong. Bagaimana kalau di SMA gadis itu memiliki kekasih? Tiba-tiba Yunho merasa parno.
"Hhhhhh..." sekali lagi ia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan langkah menuju kelasnya. Kelas yang sama dengan Jaejoong.
"Su, lihatlah. Orang-orang tampan ini adalah siswa-siswa di Ryokufu High School. Dan lagi mereka pintar. Coba kau bayangkan kalau salah satu dari mereka menjadi kekasihku—"
"Enak saja. Mereka lebih cocok jadi kekasihku."
"Geure. Kekasih kita. Pasti menyenangkan bukan?"
"Jadi, kau mengincar mereka? Karena itu kau ingin bersekolah di sana?"
"Ne."
Percakapan Jaejoong dan Junsu yang tak sengaja tertangkap oleh indera pendengar Yunho membuat langkah namja itu terhenti di luar kelas. Menguping.
Jadi Jaejoong berniat untuk melanjutkan sekolah ke sana? Batinnya bertanya-tanya.
"Jadi, formulir SMA Hanyoung yang kemarin kita isi ini, kurobek saja ya?"
"Nde. Robek menjadi potongan yang sangat kecil lalu buang ke laut lepas..."
Yunho mengambil formulir SMA Hanyoung dari saku kemudian memandanginya, 'Apa kurobek juga saja ya? Toh sepertinya keputusan Jaejoong untuk masuk Ryokufu High Shool sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat.'
Oke, robek saja. Yunho manggut-manggut(?) kemudian merobek formulir di tangannya menjadi potongan kecil.
.
~yunjae~
.
"Hmm, jadi... itu alasan sebenarnya? Lelaki tampan apanya? Hanya seekor Yunho. Huh.."
"Apa katamu? Seekor? Enak saja. Yunho-ku bahkan jauh lebih tampan dibanding Chunnie-mu itu, duckbutt."
"Siapa yang kau panggil duckbutt, hah? Dasar Kim Jaejoong si pantat tepos!"
"Apa kau bilang? Berani padaku, eoh? Kau mau merasakan pisau ini?"
"Kau pikir aku takut? Aku juga punya pisau. Dua!"
"Kau—"
"J—jaejoongie? Junsu-ie? Apa yang kalian.."
Lee Dahae, eomma Yunho, menatap takjub(?) pada pisau yang diacungkan kedua yeoja yang saling melempar tatapan tajam itu.
"Ahjumma.. aah, ini. Aku hanya meminta Junsu untuk menyerahkan pisau yang baru saja dipakainya untuk kucuci." Jaejoong cengar-cengir tidak jelas kemudian merebut pisau di tangan Junsu secara paksa dan menyalakan keran, berpura-pura agar terlihat sedang mencuci piring.
"Oooh, kupikir kalian sedang perang dunia ketiga."
"Haha, itu tidak mungkin kan, ahjumma?" kali ini Junsu yang bersuara. Tetapi, tawanya terdengar sumbang. Kentara sekali bahwa ia gugup dan.. sedang berbohong. Tapi untunglah, kepintaran Yunho adalah keturunan dari appanya, sehingga eomma Yunho tak menyadari keganjilan dalam ucapan Junsu.
"Benar, itu tidak mungkin. Kalian kan imut-imut tak berdosa. Sudah Jaejoongie, biar bibi Nam saja yang mencuci piring. Kalian sepertinya sudah ditunggu."
"Haha.. yang ditunggu pasti dagingnya, ahjumma."
"Itu sih Changmin. Kalau Yunho dan Yoochun pasti menunggu kalian."
"A—ahjumma..." ucap Jaejoong dan Junsu bersamaan dengan wajah yang memerah. Dua gadis labil itu pasti berubah kalem jika nama kekasihnya disebut oleh orang lain, terlebih Jaejoong. Yang menggodanya kali ini adalah eomma Yunho, calon mertuanya (maunya sih begitu).
"Aigooo, manisnyaa... Jja, bawa ini ke halaman belakang." Lee Dahae menyerahkan 4 mangkok besar berisi daging mentah ke tangan Jaejoong dan Junsu. Kedua gadis itu beranjak pergi setelah sebelumnya sedikit membungkuk hormat.
"Soal tadi, jangan bilang-bilang pada siapapun, termasuk Chunnie-mu itu."
"Nde. Ini rahasia perempuan. Lelaki tak boleh tau."
"Bagus." Jaejoong melangkah pasti menuju halaman belakang rumah Yunho setelah memberikan sedikit ultimatum pada sahabatnya yang kadang-kadang keceplosan bicara.
Liburan golden week kali ini YunJaeYooSuMin memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka, Korea Selatan. Dan kini mereka berada di rumah Yunho untuk barbeque. Kalian tentu tau siapa yang memberikan ide ini.
"Dagingnya dataaang."
SIIIING.
"Lho? Ada apa?" Junsu memandang bingung pada ketiga namja yang menatap Jaejoong aneh, kemudian mereka menyeringai. Seringai Changmin terlihat mengerikan sekarang.
"Jaejoong noona, tak kusangka kau lulus tes masuk Ryokufu High School, kupikir kau lewat 'jalan belakang'."
"M—mwo?" Kenapa? Kenapa Changmin bisa tau soal itu? Jaejoong menatap Junsu tajam yang dijawab oleh yeoja imut itu dengan tatapan 'Kau baru saja menceritakannya tadi dan sejak tadi aku bersamamu, bodoh. Jadi hentikan tatapan itu.'
"Darimana... kau tau?"
"Yunho hyung baru saja menceritakan kisah SMPnya."
"Aku mendengar percakapanmu dengan Junsu waktu itu. Aaah, jadi lelaki tampan dan pintar yang kau maksud itu aku?" Yunho mengerling nakal pada Jaejoong.
"Ja—jangan terlalu percaya diri!"
"Memang kenyataannya begitu kan?"
NGEKK
"Adaawww... Ya!" Yunho memelototkan matanya pada Jaejoong yang baru saja menginjak kakinya kemudian berlalu begitu saja tanpa mempedulikan ringis kesakitan dari bibir seksi Yunho.
Jaejoong yang sudah cukup jauh dari Yunho –jarak mereka sekitar 890cm (Changmin sudah mengukurnya dengan penggaris(?)), berbalik badan kemudian memeletkan lidah pada kekasihnya itu, "Rasakan."
Yah.. begitulah sikap sepasang kekasih itu. Meski sudah jadian, tidak ada yang banyak berubah kecuali status mereka saja. Bahkan Yunho mem-bully Jaejoong lebih sadis lagi.
.
~yunjae~
.
"Waah, Jaejoongie. Kau membalik daging seperti chef professional."
Terdengar suara yang asing. Ya.. tentu saja asing. Diantara mereka berempat tak mungkin ada yang memuji Jaejoong begitu, bahkan Yunho sekalipun. Jadi, siapa gerangan yang berbicara?
"Uwaaaa.. Hyunjoong-ssi. Mengagetkanku. Kenapa kau tiba-tiba di sini?" Jaejoong menatap horror Kim Hyunjoong yang entah sejak kapan telah bergabung di antara mereka.
"Anneyonghaseyo, yeoreobeun. Senang bertemu kalian."
"Sayangnya aku tidak senang bertemu denganmu, Hyunjoong-ssi. Asal kau tau, kau adalah orang yang—yah! Dengarkan aku!"
Tak mempedulikan ucapan Yunho, Hyunjoong dengan seenak bokongnya menyempil(?) di antara Yunho dan Jaejoong.
"Waah.. sepertinya yang ujung sana enak, Jaejoongie. Boleh aku mencobanya?"
"Hhh... sesukamu lah. Ambil saja."
"Suapi akuuu~"
LEBPH.
"Hoaaaah.. hanash.. hanash (Panas.. panas)." Hyunjoong melepeh(?) daging yang terpaksa masuk ke mulutnya, kemudian mengibas-ngibas mulutnya yang terasa melepuh, "Cha—changmin ah, ka—kau tega.. hah.. sekali. Harusnya.. ka—kau.. hah... meniupnya terlebih dahulu... baru... hah... memasukkannya ke mulutku. Huh.. hah... huh.. hah.. dan lagih.. harusnya... pakai sumpit kan? Memang... hah... tanganmu bersih, eoh?"
ChunSuMinHo hampir ketiduran menunggu Hyunjoong selesai bicara. Untunglah Jaejoong tak ikut-ikutan, bisa-bisa daging yang sedang dipanggang gosong nantinya.
"Ah, aku tadi belum sempat cuci tangan setelah memungut bola yang kecebur got(?)."
"M—mwo?! Hueeeeek."
.
~yunjae~
.
"Bukannya segera diusir, orang itu malah numpang makan di sini." Yunho menunjuk Hyunjoong yang berada 5 meter darinya dengan dagu.
"Sudahlah, Yunho. Kau cepat tua kalau marah-marah terus." Yoochun mencoba meredam amarah Yunho yang bisa meledak kapan saja.
"Aku mendengarmu loh, Yunho-ssi. Ck, begitu bicaramu pada tamu? Tak sopan sekali."
"Tamu apa? Tamu tak diundang, iya!"
"Kenapa mara-marah terus, eoh? Jaejoong saja senang aku di sini. Iya kan, Joongie?"
"Ani."
"What?! Apa kau baru saja mengatakan 'ani'? Tega sekali kau, boo."
"Ya! Apa-apaan itu? Boo? Jangan seenaknya! Itu panggilan kesayanganku untuknya."
"Apa? Panggilan kesayanganmu? Aku sama sekali tak mendengar kau pernah memanggilnya begitu sejak chapter 1 FF ini."
"Ck, kau saja baru muncul di epilog. Biar kuulangi.. E-P-I-L-O-G."
"Sudah, sudah. Hyunjoong-ssi, aku kan sudah pernah mengatakan padamu bahwa orang yang kusukai hanya Yunho. Seberapa keraspun kau berusaha meniru cara Yunho dengan mengirim surat-surat itu tak akan berpengaruh apa-apa padaku. Aku menyukainya sejak dulu, bukan karena dia yang mengirim surat-surat itu."
Sontak Yunho langsung menatap Jaejoong yang berbicara terus terang seperti itu. Bahkan tampaknya Hyunjoong sudah membatu mendengarnya.
Hening.
Waktu seakan terhenti. Bahkan rumput tak bergoyang meski terkena angin. (halah)
"Se—setidaknya.. hargailah usahaku."
"Aku sudah berusaha untuk menghargai dengan tidak langsung mengusirmu ketika sedang dekat-dekat denganku."
"Itu saja tidak cukup. Berkencanlah denganku.. sekali saja."
"M—mwo?!"
Jaejoong berseru kaget. Yoochun, Junsu, dan Changmin memberikan seluruh atensi mereka pada dua orang yang sedang berbicara cukup serius itu. Sedang Yunho sudah melotot. Changmin menyadari seluruh iblis yang bersarang dalam dirinya kini telah melingkupi Yunho.
"Aku janji... setelah itu tidak akan mengganggumu lagi. Berkencanlah denganku, Jaejoongie."
Segera iblis-iblis anak buah Changmin kembali pada bosnya setelah Yunho mendengar janji Hyunjoong itu.
"Benar kau berjanji tidak akan mengganggu hubungan kami lagi?" tanya Yunho memastikan.
"Nde. Kau juga laki-laki, Yunho. Tau pasti bahwa laki-laki selalu memegang ucapannya."
"Arra. Pergilah."
"Mwo? Ya! Jung Yunho mata sipit! Apa yang baru saja kau katakan, eoh?" Junsu yang sedari tadi tak menyumbangkan suara mulai mengeluarkan lengkingan 9 oktafnya, tapi sepertinya Yunho sama sekali tak terusik. Dapat dilihat namja itu berlalu tanpa repot-repot melihat bagaimana reaksi Jaejoong.
.
~yunjae~
.
Tik. Tik. Tik.
Yunho memandang jarum detik pada jam tangannya. Entah kenapa waktu sekarang berjalan sangat lambat. Ia ingin hari ini segera berakhir.
"Kencan.. apa yang akan mereka lakukan di tengah kencan? Awas saja kalau si brengsek itu mengembalikan Jaejoong dalam keadaan lecet(?)."
Lagi ia memandangi pergelangan tangannya. Jam 1 lewat 10 menit. Itu artinya kencan sang kekasih dengan namja yang kini dibencinya baru berlangsung selama 10 menit.
"Aaaarrrrrggghhhh.. kenapa lama sekali?"
"Yunho."
DEGG.
Suara Jaejoong.
"Apa yang... kau lakukan di sini?" Tanpa menatap Jaejoong, Yunho bertanya.
"Kau sendiri... apa yang kau lakukan di pinggir sungai? Jangan bilang kau ingin masuk koran sebagai korban ke-1508769 (jangan tanya saya itu dapet angkanya dari mana) yang tenggelam di sungai Han."
"Ya! Mana mungkin!" Yunho bangkit dari duduknya, menatap (lagi) jam tangannya, "Sudah jam 1 lewat. Kalau kau tidak cepat, nanti Hyunjoong akan marah menunggumu lama."
"Wah.. kau sampai tau kalau kencanku dengan Hyunjoong dimulai jam 1."
"Di gerbang SMP Hanyoung abis Jum'atan(?). Ck, tak adakah tempat pertemuan yang lebih elit?"
"Kau mencari tau ternyata."
Masih tak menatap Jaejoong, Yunho menyilangkan kedua tangannya di dada. "Junsu yang memberitauku."
"Kau sengaja bertanya pada Junsu?"
"Sudah kubilang Junsu memberitauku. Bukan karena aku bertanya padanya."
"Aaah, seperti itu." Jaejoong berucap dengan logat ala Syahrini kemudian berjalan selangkah ke depan, "Saat dia datang, aku minta maaf padanya karena tidak bisa memenuhi permintaannya untuk berkencan."
Yunho memberanikan diri untuk melirik sang kekasih. Mulai dari bawah. Heels? Tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Jaejoong-nya memakai heels? Orang sembrono dan sering terjatuh karena alasan yang tak masuk akal memakai heels hanya untuk berkencan dengan namja yang bahkan bukan kekasihnya?
Mengulurkan tangannya ke depan, Yunho membalik tubuh Jaejoong untuk menghadapnya.
Manis.
Kata itulah yang terbersit di pikiran Yunho kala menatap penampilan Jaejoong. Dress selutut berwarna biru laut yang memberikan kesan lembut dengan bolero berwarna putih, dipadu high heels berwarna senada dengan bolero yang dikenakan. Rambutnya ditata apik di sebelah kiri kepalanya, dibuat bergelombang dan digelung sedemikian rupa dengan pita berwarna senada dengan dress-nya tersemat di atas gelungan rambut yang jatuh dengan indah itu.
"Ck. Kau sengaja berdandan demi Najong itu?"
"Namanya Hyunjoong, Yunho yah. Kau dan Junsu tak pernah menyebutnya dengan benar. Uhm.. apa aku terlihat aneh?"
"Kau tak pernah tidak terlihat aneh di mataku."
"Ukh. Sudah kuduga."
'Si Junsu itu... awas saja kalau nanti ketemu.'
"Ya! Apa-apaan ini? Aku ingin rambutku diikat biasa saja, Junsu yah."
"Biar saja! Aku ingin Yunho menyesal telah memperlakukanmu seperti barang. Seenaknya saja menuruti permintaan aneh Najong itu."
"Namanya Hyunjoong, Su. Yah.. sebenarnya aku juga kesal. Tapi mau bagaimana lagi? Mungkin ini demi kebaikan hubungan kami."
"Aaah.. kau ini. Kenapa selalu membelanya di depanku?"
"Hehe.."
"Nah, selesai. Ini!" Junsu menyodorkan sepasang high heels.
"Mwoya? Kau tidak bermaksud menyuruhku berkencan menggunakan sepatu merepotkan ini kan? Lagipula, kelihatannya itu mahal. Aku pasti akan mematahkan hak sepatunya."
"Kupinjam dari sepupuku. Dia punya banyak yang seperti ini. Rusak satu saja tak apa-apa."
"Bukan itu masalahnya—"
"Pakai."
"Shireoo."
"Harus pakai."
"Su~"
"Kenapa kau menolak ajakan kencannya?"
"Kenapa kau bertanya? Tentu saja aku tidak mau kalau aku bersenang-senang sementara kau pundung di sini."
"Pundung gundulmu. Ck.."
Yunho berjongkok. Membukakan high heels yang dikenakan Jaejoong.
"Karena kau sudah sengaja berdandan, aku akan menghargainya dengan menggantikan Hyunjoong menjadi teman kencanmu. Kajja.. eomma memberiku dua tiket ke taman bermain."
Tak.
Dengan seenak bibir merah cerinya(?), Jaejoong menyentil keras jidat Yunho.
"Ya! Apa yang kau lakukan? Kalau jidatku menjadi lebar seperti Yoochun bagaimana?"
"Kau bodoh ya? Aku tidak mau berjalan-jalan dengan kaki telanjang begini."
"Aku bisa menggendongmu ke toko sepatu di ujung sana."
"Tapi.. nanti kelihatan."
"Kelihatan... apa?" Yunho memiringkan kepala bingung, namun sejurus kemudian matanya melotot, "Jangan bilang kau tidak memakai celana pendek?"
"Sayangnya aku memang ingin mengatakan itu."
"Wow.."
"A—apa maksudmu dengan 'wow'?"
"Coba lihat."
"YA!"
TAKK
"Dasar mesum!"
END
Balasan review:
ruixi1: yeah.. ahirnya mereka bersama *gak terharu /plakk/ gomawo reviewnyaaa^^
boojaebear2601: makasih udah dibilang lucu :p iki tak kasih epilog (mendadak Jawa) gamawo reviewnyaaa^^
Lawliet Jung: wakwaw~ iyah, akhirnya *lap ingus. Uwooow, makasih udah bilang sweet ending dan udah suka :) waduh, baca dari ulang? Jadi malu, hehe.. iyalah senyum2 gak jelas, wong ceritanya juga gak jelas -_- siapa yang lucu? Saya? Hehe.. iya, ada epilog. Makasih udah menunggu dan ini bener-bener saya cepet updatenya biar kamu gak usah baca ulang lagi, haha. Tapi maaf gak ada NC-nya (sekarang giliran saya yang dibunuh) gomawo ne reviewnyaaa^^
nanajunsu at chapter 1: Tp apa hayooo? Tapi mereka jadian, haha. Gomawo ne reviewnya^^
buat yang favoritin:
kimJJ boo, lulufika, teukie.
Buat follower:
dandandansh, kimJJ boo.
Buat reviewer:
ruixi1, boojaebear2601, Lawliet Jung, nanajunsu.
Terima kasih atas perhatian kalian di akhir FF ini. Terima kasih banyak~~
Sampai bertemu di FF selanjutnya
Regards,
Ai CassiEast
