Previous Chapter: Kyuhyun mengajak Sungmin ke tempat yang asing dan belum pernah didatangi Sungmin.


-SUNGMIN POV-

Aku sedang menunggunya di sini. Di sebuah restoran cepat saji. Dia, bocah bernama Kyuhyun itu bilang padaku kalau dia kelaparan dan mengajakku ke sini. Sebenarnya aku sendiri sedang kelaparan. Aku belum sarapan pagi ini, wajar saja.

Aku memperhatikannya yang sedang mengorder makanan kami. Telunjuknya tergantung-gantung menunjuk papan menu yang ada di atasnya. Kami sudah sama-sama lapar setelah terlalu asyik bermain di game center. Sepertinya aku harus ke sana lagi lain kali. Tidak bersamanya tentu saja.

Kyuhyun membalikkan badannya dan berjalan ke arahku dengan nampan berisi makanan dan minuman yang baru dipesannya. Begitu duduk, dia langsung menyambar burgernya dengan lahap.

"Kenapa tidak makan?" tanya bocah itu dengan mulut yang penuh.

Aku mengambil burger dan mulai memakannya. "Kau bisa tersedak kalau makan terlalu cepat begitu," kataku yang heran melihat cara makannya yang seperti orang tiga hari belum makan.

"Aku tidak sempat sarapan pagi ini. Lapar sekali rasanya," katanya masih dengan mulut penuh. Aku tertawa kecil melihat cara makannya yang bar-bar. Ada sisa mayonaise di susut bibirnya. Ah, bibir menyebalkan itu lagi.

"Ada mayonaise di sekitar mulutmu."

Bocah itu hendak mengelap mulut kotornya dengan punggung lengannya.

"Pakai tisu, kau akan mengotori bajumu kalau begitu caranya, bocah."

Bocah itu menuruti dan menggunakan tisu untuk membersihkan mulutnya. "Aku sudah tidak memanggilmu ahjumma, tapi kau tetap saja memanggilku bocah. Kau membuatku kehilangan selera makan," katanya sambil meletakkan burgernya yang sudah dimakan setengah itu ke nampan.

"Arraseo, jadi kau mau kupanggil apa?"

"Kyunnie saja," jawabnya. "Atau chagiya," kali ini sambil senyum-senyum tidak jelas.

"Sekarang kau malah membuatku tidak selera," aku membalik ucapannya. Membuat diriku seolah-olah akan berhenti makan. Padahal tidak, sungguh cacing-cacing di perutku sedang butuh asupan makan sekarang ini.

Wajahnya kali ini cemberut. "Kalau kau tidak mau memanggilku chagiya, panggil saja aku Kyunnie, chagiya." Coba lihat wajah yang ditunjukkannya sekarang. Persis seperti kartun Crayon Shinchan dengan mata penuh bintang.

"Arraseo, Kyunnie," akhirnya aku memanggilnya Kyunnie. Kurasa panggilan Kyunnie jauh lebih baik dari pada aku harus memanggilnya chagiya.

Bintang-bintang yang tadi hanya ada di matanya, seperti terlihat sedang mengelilingi dirinya. Girang sekali dia. Bocah ini, maksudku Kyunnie, punya banyak perbendaharaan ekspresi. Tidak seperti aku yang lebih sering menunjukkan ekspresi serius atau marah.

"Jadi, ceritakan padaku. Apa namja yang kemarin hampir memukulmu itu adalah mantan pacarmu, eoh?" tanya Kyunnie di sela-sela kegiatan makannya.

Benar apa kubilang, kan? Ekspresi marahku keluar saat Kyunnie menyebut kata 'mantan'.

-SUNGMIN POV END-


-KYUHYUN POV-

Aku senang sekali saat akhirnya mendengar dirinya memanggilku Kyunnie. Bukan bocah. Aku tahu usiaku lebih muda darinya, tapi sungguh rasanya menyebalkan sekali saat mendengar seseorang yang kau suka memanggilmu dengan sebutan 'bocah'. Ini aneh, tapi sepertinya aku memang suka sekali padanya.

Meskipun dia lebih sering menunjukkan ekspresi wajah yang masam atau marah, tapi Sungmin terlihat cantik dan manis. Dan tadi, saat dia tersenyum karena melihat ada mayonaise di bibirku, aigoo… aku hampir mati tersedak. Kalau aku tidak mampu menahan diriku sendiri, aku pasti sudah menculiknya dan mengurungnya di kamarku untuk selamanya.

"Jadi, ceritakan padaku. Apa namja yang kemarin hampir memukulmu itu adalah mantan pacarmu, eoh?"

Aku melihat ekspresi wajah kesalnya (lagi). Pasti dia menganggapku sebagai orang menyebalkan. Tapi aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasaranku.

"Kenapa tiba-tiba bertanya tentangnya? Apa kau memang berniat merusak selera makanku?"

Aku menggelengkan kepala. "Aku hanya ingin memastikan bahwa penyebab berakhirnya hubungan kalian bukan karena kesalahan ada padamu, tapi karena dia," kataku beralasan.

Ekspresi wajahnya memang kesal, tapi aku tahu dia tidak sungguh-sungguh saat mengatakan selera makannya rusak karena pertanyaanku. Speed makannya justru bertambah. Mungkin Sungmin sama laparnya denganku.

"Tentu saja karena dia. Namja yang sangat pencemburu, egois, dan sama sekali tidak bisa bersikap baik pada yeoja," jawabnya sambil mengunyah makanan yang penuh di mulutnya. Pipinya yang sudah tembam jadi terlihat semakin tembam. Rasanya ingin kucubit. Menggemaskan sekali.

"Kau tahu, kemarin itu dia baru saja memarahiku di depan banyak orang. Bahkan dia menyiramkan minumannya saat kami sedang berada di kafe." Kubiarkan dia mengeluarkan emosinya. Hitung-hitung sebagai balasan karena aku sudah mengganggu sesi curhatnya saat di Skyrail.

"Aku memang bodoh. Seharusnya aku tidak pernah menerimanya. Aku menyesal pernah menjadi yeojachingu-nya. Dasar Heecul pabbo!"

Ah, jadi nama si bodoh itu Heecul. "Kau bodoh tapi dia lebih bodoh. Bisa-bisanya dia melepaskanmu. Kalau aku jadi dia, aku tidak akan pernah melakukan hal sebodoh itu," pengakuanku itu meluncur tanpa terkendali lagi.

"Benar sekali," katanya bersemangat saat aku menjadi tim pro untuknya. "Dia memang bodoh karena sudah berbuat jahat padaku… Mwo? Apa kau tadi sedang berusaha merayuku, eoh?" tanya Sungmin menyadari aku sudah membuat sebuah pengakuan.

-KYUKHYUN POV END-


"Mwo? Apa kau tadi sedang berusaha merayuku, eoh?" tanya Sungmin saat menyadari kata-kata yang tadi diucapkan Kyuhyun.

"Ani, hanya pendapatku saja," ujar Kyuhyun mengakhiri makan burgernya. Kini beralih pada french fries.

"Kau sendiri, kenapa bisa tidur siang di dalam Skyrail? Pasti kau membolos, kan?" tebakan Sungmin lebih kepada menuduh.

Raut wajah Kyuhyun terlihat berbeda. Sedih, marah, atau terluka? Ekspresi Kyuhyun yang seperti baru kali pertama dilihat Sungmin. Sulit ditebak apa yang dipikirkan Kyuhyun saat ini dan juga apa yang terjadi padanya pada hari itu.

Kyuhyun mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, mungkin Tuhan hanya ingin membangunkan aku dari mimpi buruk di siang hari, agar aku bisa bertemu dengan kenyataan yang indah," ujar Kyuhyun sepertinya sudah kembali ke asalnya. Senyum Kyuhyun yang menurut Sungmin sangat menyebalkan itu keluar lagi.

Sungmin menggelengkan kepalanya. Karena terlalu gemas sekaligus kesal pada Kyuhyun, Sungmin menggigit kentang goreng dengan kasar. "Menyebalkan. Apanya yang mimpi indah? Bagiku siang itu hanya mimpi buruk," sahut Sungmin sambil bersungut.

Kyuhyun tertawa melihat cara makan Sungmin dan wajahnya yang sedang cemberut. "Sudahlah, kita habiskan makan. Setelah itu aku janji akan mengubah mimpi burukmu jadi kenyataan yang indah. Sama seperti yang aku rasakan," ujar Kyuhyun dengan senyum yang sangat terlihat sangat tulus.

'Bocah ini sepertinya dewasa sebelum usianya,' pendapat Sungmin dalam hati.


"Ini tempat apa?" tanya Sungmin.

Kyuhyun berjalan meninggalkan Sungmin yang masih terpaku di pintu ruangan.

"Menurutmu apa? Tentu saja ini studio musik," jawab Kyuhyun menempati kursi grand piano yang ada di sudut ruangan itu.

Kyuhyun dan Sungmin saat ini sudah ada di studio musik. Studio musik yang sangat luas dengan alat musik yang cukup lengkap.

Ting.

Kyuhyun menekan satu tuts piano. Menyadarkan Sungmin yang dari tadi masih asyik menyusuri setiap sisi ruangan. Sungmin menghampiri Kyuhyun dan berdiri di seberang Kyuhyun.

"Maksudku, kenapa kau membawaku ke sini?" Sungmin bertanya lagi.

"Ini tempat rahasiaku, saat senang, atau sedih aku sering kali menghabiskan waktu di sini." Kyuhyun menekan lagi satu tuts. "Studio ini milik temanku. Kalau sedang tidak ada yang menyewa, dia memperbolehkan aku ke sini," lanjut Kyuhyun.

Sungmin membulatkan mulutnya seperti membentuk huruf O.

Kyuhyun memainkan lagi tutsnya. Kali ini tidak hanya satu. Kyuhyun mulai mengalunkan intro sebuah lagu. Lagu yang tidak dikenal Sungmin. Tapi Sungmin meyakini bahwa lagu itu pasti indah.

Sungmin melangkahkan kakinya, mencari space yang agak luas di studio itu. Sungmin menyingkirkan standing microphone yang ada di tengah sedikit ke pinggir dengan jari tangannya yang lentik. Kaki sungmin mulai bergerak mengikuti irama. Begitu pun tangannya, terlebih jemarinya. Sungmin sedang menari!

Kyuhyun yang sedang memainkan piano sempat teralihkan pandangan matanya ke arah Sungmin. Diperhatikannya setiap gerak Sungmin. Kepalanya, tangannya, pinggangnya, lutut bahkan kakinya yang sekarang sedang sedikit berjinjit.

Kyuhyun melihat gerakan Sungmin yang indah. Bahkan terlalu indah. Sungmin menari menyesuaikan gerakannya dengan nada-nada yang keluar dari tekanan jari Kyuhyun pada tuts piano. Sungmin seperti sedang merasuki musik. Gerakannya sangat indah layaknya penari profesional. Sungmin, gerakannya, dan musik melebur menjadi satu.

Ting.

Kyuhyun mengakhiri lagunya dengan satu nada yang indah dan tepat. Sudut matanya melihat Sungmin dengan pose terakhirnya. Masih tetap indah, meskipun napas Sungmin sedikit cepat dan tidak beraturan.


"Apa hari ini kau senang kencan denganku?" tanya Kyuhyun saat dirinya dan Sungmin berjalan kaki dari halte menuju flat Sungmin.

"Jawabanku akan lebih menyenangkan kalau kau menghapus kata kencan dari pertanyaanmu," jawab Sungmin. "Sudah lama aku tidak menari. Ternyata sangat menyenangkan bisa menari lagi. Dan lagi, aku senang saat kau mengajakku ke game center. Aku belum pernah sekali pun ke sana," terang Sungmin jujur.

"MWO?" Kyuhyun kaget. Ia mengambil satu langkah di depan Sungmin dan berjalan mundur agar tetap bisa menatap Sungmin.

Sungmin mengangguk. "Aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk belajar."

"Masa remajamu suram sekali," Kyuhyun masih berjalan mundur.

"Bicaramu asal sekali," Sungmin mempoutkan bibirnya. "Aku belajar untuk menjaga nilai-nilaiku agar tetap baik," kilah Sungmin. Sungmin tidak pernah merasa terpaksa di kala dirinya hanya fokus belajar. Bagi Sungmin belajar itu sangat menyenangkan, hanya dirinya telat menyadari bahwa banyak hal yang lebih menyenangkan di dunia ini.

Kyuhyun terlihat agak kesulitan mengatur langkahnya yang sambil mundur. "Benarkah kau sepintar itu?" Kyuhyun bertanya seperti meremehkan.

"Tentu. Aku banyak menguasai pelajaran. Sastra, seni, sains, dan lainnya juga," Sungmin berkata sangat yakin.

Kyuhyun kembali menyejajarkan langkahnya dengan langkah Sungmin. "Karena hari ini aku sudah membuatmu senang, dan karena kau ini sangat pintar, bagaimana kalau kau mengajariku pelajaran?"

"Mwo?!" Sungmin membelalakan matanya.


TBC


Dear readers, buat yang menunggu momen Kyumin jadian, mudah-mudahan ada di chap berikutnya ya. :)