A/N: Thanks for the reviews. I really appreciate it! Hope this chap'll be better and you find the answer for your questions or maybe in next. Enjoy and Happy reading:)

JK. Rowling has everything!

Chapter 7

"Dia menyukaimu, Rosie."

"Tidak mungkin."

Helaine menghela napasnya dan berguling kearahku. Ia tengkurap dengan rambut hitam legamnya menutupi separuh wajahnya. "Kau kurang sensitif, Weasley," ucapnya sambil menyisir rambutnya dengan jari ke belakang.

Aku masih menatap langit-langit kamar asrama kami. Aku berusaha untuk tak percaya dengan pernyataan darinya. Lebih baik bersiap untuk keadaan yang buruk daripada anganku sudah melayang, tapi kenyataan yang ada justru berlawanan.

"Apa yang buat ia menyukaiku? Aku terlalu kurus, rambutku tidak pirang dan cenderung bergelombang, tidak sepertimu."

Helaine mendengus padaku. "Insecure Weasley."

Aku tertawa karena ia mengucapkannya dengan datar a la Scorpius. "Kau cantik, tubuhmu proporsional, rambutmu cantik sama seperti ibumu," tambahnya lagi dengan mata yang masih terus mengamati model-model yang berada dalam Witch Weekly.

"Senang mendengar kalimat itu," ucapku lalu menutup wajahku dengan bantal-bantal di ranjang kami ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga malam. Sedangkan aku dan Helaine masih terjaga dengan pikiran masing-masing. Aku masih menatap langit-langit sementara ia masih sibuk berkutat dengan majalah mingguan gosip dan mode sihir itu. Percakapan yang terbangun memang cukup di luar kebiasaan kami. Persahabatan kami yang sudah memasuki tahun ketujuh ini sangat jarang membahas tentang asmara. Bahkan Helaine yang memiliki catatan dengan kekasih terbanyak selama di Hogwarts saja jarang sekali membicarakan masalah asmaranya denganku. Karena baginya terlalu picisan untuk membahas masalah pria di antara kami. Dan seingatku terakhir kali kami memabahas tentang asamaraku adalah saat kami masih di tahun kelima saat aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Tyrone, kapten Quidditch kami.

Aku meliriknya dan ia masih sibuk menggambar sebuah sketsa baju di perkamennya. Kebiasaan Helaine dari dulu. Ia memperhatikan setiap tren mode yang berkembang kemudian menuangkan ide-idenya ke dalam sketsa dan membuatnya serta menjahitnya sendiri. Ada beberapa dress-ku yang merupakan hasil karyanya. Dibanding menjadi pemain Quidditch profesional, aku lebih mengharapkan ia menekuni bakatnya yang satu ini.

"Hah! Aku lelah," dia tiba-tiba bersuara dan ikut telentang di sampingku.

Aku hanya tersenyum melihatnya. Gadis normal mana yang memakai tanktop dengan celana piyama untuk tidur di cuaca sedingin ini. Bila aku menyinggung tentang hal itu, ia pasti menjawab semuanya menjadi normal bila kau penyihir. Dengan sedikit rapalan mantra tubuhmu akan tetap hangat meski kau tanpa sehelai benangpun di Kutub Utara. Dan aku akan mengiyakan semua argumennya. Saat aku melihatnya lagi ia sudah terlelap dan aku mulai membaca buku harian Mum kembali.

000


Musim Dingin

Harry menjadi anak emas Slughorn. Aku cemburu? Itu sudah pasti. Hal seperti itu tak perlu di pertanyakan. Dan yang membuatku lebih kesal adalah Draco menjadi anak emas kedua. Mengapa semua laki-laki menjadi anak emasnya sekarang? Berterima kasihlah kau Harry pada si empuya buku ramuan itu di masa lalu. The Half Blood Prince. Narsistik.

000

Musim Dingin

Hujan salju melanda. Ooh bagaimana bila aku katakan badai salju. Rasaku itu lebih tepat.

000

Musim Dingin

Lagi! Entah apa yang direncanakan Merlin sampai aku, lebih tepatnya kami, yaitu: aku, Harry dan Ron selalu berada di dalam masalah. Hari ini adalah hari kunjungan kami ke Hogsmeade. Berjalan seperti biasanya. Kami pergi ke Honeydukes, aku membeli beberapa alat tulis, dan berakhir di Three Broomstick untuk menikmati Butterbear. Demi Merlin semuanya berjalan dengan normal sampai kami memutuskan untuk kembali ke kastil.

Hari ini salju turun lebih lebat dari bisanya. Ditambah dengan angin yang cukup kencang hampir menyusahkan kami untuk melangkah. Saat kami sedang berbincang dan tertawa di jalan yang dipenuhi salju itu kami mendengar sesosok gadis berteriak. Dan apa yang kami dapati? Kami melihat gadis yang kukenali sebagai Katie Bell itu sudah melayang di udara dengan tubuh yang terombang-ambing tak karuan. Takut langsung menyergapku saat Bell berteriak dan seketika terjatuh.

Untunglah Hagrid datang tepat pada waktunya. Tetapi, kami tak lepas dari masalah begitu saja. Kami bertiga dipanggil oleh McGonagall dan Snape. Entah untuk menjadi saksi atau menjadi tersangka. Dan aku lega karena tak ada satupun tuduhan yang dituduhkan pada kami. Kadang aku selalu berpikir semua hal buruk yang terjadi padaku, Harry, dan Ron itu murni karena kebetulan, takdir, atau kami memang dijebak? Aku ngeri memikirkannya.

000


Mendekati Natal cuaca semakin berubah secara ekstrim. Salju turun pagi ini lumayan lebat. Aku belum sanggup mengucapkan 'selamat tinggal' pada ranjangku. Helaine sudah menghilang entah kemana. Kuambil kembali bantal-bantal itu dan kembali mengubur tubuhku di dalamnya. Pukul berapa sekarang? Aku tak peduli. Rasaku ini masih pagi. Akhir pekan adalah waktu untuk bersenang-senang, bukan?

Helaine masuk dan berdiri di ambang pintu. "Bangun, Weasley," ucapnya kemudian datang menghampiriku.

"Ini akhir pekan."

"Ini akhir pekan dan kau mempunya jadwal untuk mengawasi anak-anak di Hogsmeade," tandasnya yang kini telah memakai mantel jubahnya.

Hah! Benar sekali. Kunjungan Hogsmeade. Aku bangkit dari tumpukan bantal yang tadi sempat menguburku. "Kau tahu darimana jadwalku?" tanyaku melangkah keluar dari ranjang ini.

"Malfoy sudah ada di ruang rekreasi tadi pagi sekali."

"Malfoy? Maksudmu Scorpius Malfoy?

"Tak ada Malfoy lain di angkatan kita."

Bukan angkatan kita. Angkatan Mum dan Dad yang aku maksudkan. Terlalu banyak membaca buku harian Mum membuatku gamang akan periode waktu.

Aku mendelik saat mendengarnya. "Kenapa dia bisa masuk?"

"Kau lupa, kalau Ketua Murid punya kata sandi untuk semua asrama."

Shit! Bahkan aku tak tahu tentang hal itu. "Tenang saja, Rose. Dia sudah menghilang saat kukatakan kau masih tidur tadi. Jadi, katanya temui ia di Hogsmeade saja."

"Kau mau kesana juga kan?"

"Tentu, tapi aku harus bertemu dengan anggota Quidditch terlebih dahulu. Temui aku di Aula Besar," ujarnya kemudian menghambur keluar dari kamar kami.

Aku kembali duduk di pinggir ranjang. Pukul setengah 12 ternyata. Apa yang ia lakukan sampai datang pagi-pagi keasramaku? Shit! Untuk kedua kalinya aku mengumpat pagi ini. Tadi malam aku tak membawa sehelai pakaianpun ke sini. Dan aku terlalu malas untuk keluar dan kembali ke asrama. Syukurlah ukuran tubuhku serupa dengan Helaine dari atas sampai bawah. Ia tak akan keberatan hanya karena aku memakai pakaiannnya tanpa sepengetahuannya, bukan?

000

Hogsmeade tetap di penuhi para murid Hogwarts meski hujan salju tengah turun. Kunjungan Hogsmeade ini terlihat seperti ajang pelepas penat selama kami berkutat di kastil. Aku ikut kemanapun Helaine melangkah sampai nanti aku menemukan Scorpius. Selepas membeli beberapa cokelat di Honeydukes kami melanjutkan menuju ke Three Broomstick. Kami memesan beberapa cemilan dan Butterbear. Helaine terpikir untuk menyelundupkan Fire Whiskey yang aku sambut dengan pelototan. Dia hanya nyengir kuda dan mengurungkan niatnya.

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan ini. Tak ada tanda-tanda dari sosok Scorpius. Dimana anak itu? Kami seharusnya berpatroli sekarang, tapi ia tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. "Kau mau disini sampai kapan?" tanyaku

"Entahlah, mungkin sampai aku diusir Madam Rosmerta," jawab Helaine yang masih mengunyah kue kering Hazelnut yang tadi kami pesan.

Aku terkekeh dengan candaan bodohnya. "Aku keluar sebentar, mungkin saja akan menemukannya. Bila aku tak menemukannya, kau mau menemaniku?"

"Iya aku temani. Sekarang lebih baik kau cari dia," jawabnya lagi yang kini tengah mencelup kue kering tadi ke dalam Butterbear di hadapannya. Entah apa rasanya, tapi setahuku hal itu memang sering di lakukan Helaine setiap kami datang kesini.

Aku sudah berada di luar dengan kepala yang kujulurkan serta mata yang tak hentinya mencari sosok itu. Kemana Scorpius sebenarnya? Mungkin ia pergi dengan anggota Qudditch atau teman-teman Slytherin-nya. Entahlah. Bukannya menemukan Scorpius mataku malah menemukan sosok yang tak kusangkan akan berada disini. Pria tinggi menjulang dengan kacamata dan rambut hitam berantakannya itu melambai kepadaku. Senyumku sontak mereka dan aku berlari padanya.

"James!" aku memeluknya dengan erat.

Ia memelukku sampai rasanya aku sudah tidak menginjak daratan lagi. "Rose Weasley, si Ketua Murid," ucapnya yang kemudian menurunkanku.

"Hanya sementara," balasku. "Kau sedang apa disini?" tanyaku bersemangat.

Selain Helaine, James merupakan teman dekat merangkap sepupu bagiku. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya. Pelatihan Auror serta aku yang harus kembali ke Hogwarts membuat kami jarang berkomunikasi. Lagipula ia sangat sibuk sampai jarang sekali menyuratiku.

"Tadi aku berada di sekitar sini dan beberapa teman Auror-ku akan tiba sebentar lagi untuk membicarakan kasus yang sedang kami tangani di Madam Rosmerta," jelasnya.

Aku mengangguk. "Apa kabarmu?" kini ia bertanya.

"Baik."

"Kau jatuh cinta, Rose," tandasnya.

Aku yakin sekarang pipiku tengah memerah walaupun cuaca sedang sangat sedingin ini. "Jangan bercanda," jawabku cepat.

Ia tertawa. Tertawa lepas a la James Potter. James seperti sosok yang berlawanan 180 derajat dengan Scorpius. James ceria, ekspresiv, terbuka, dan hangat. Sementara Scorpius datar, tak berekspresi, tertutup, dan tidak banyak bicara. Kenapa aku harus membandingkan mereka berdua?

"Kau pembohong yang payah, Rose."

Aku hanya tertawa. James melanjutkan ceritanya. Cerita tentang training Auror-nya di berbagai negara. Bagaiamana serunya menangkap penjahat dan semua kehidupannya beberapa bulan belakangan ini. Dia sangat bersemangat dan semua itu membuatku semakin bersemangat untuk segera lulus dan segera melihat indahnya dunia luar.

"Rosalie," sapa seseorang dari belakangku dan aku tahu siapa sosok itu.

Aku berbalik dan tersenyum padanya namum seperti biasanya, ia tak membalas setiap ekspresiku. "Scorpius."

"Kita bisa patroli sekarang?" tanyanya tanpa basa-basi pada James yang masih berdiri di sampingku.

Aku mengangguk. "Scorpius kenalkan ini, James. James, ini rekan Ketua Murid-ku, Scorpius."

Mereka hanya saling mengangguk. Aku pikir mereka akan berjabat tangan, ternyata tidak. Apakah begini cara pria saling berbasa-basi?

"Hey, James."

Helaine mendekati kami bertiga. Ia keluar dari kedai Madam Rosmerta untuk bergabung bersama kami. "Helaine Nott," sapa James.

"Apa yang kau lakukan? Mengunjungi Rose?" tanyanya.

James hanya tertawa mendengar Helaine. "Kita bisa pergi sekarang?" Scorpius tampak tak nyaman berada di antara kami.

Kembali aku mengangguk. "Aku pergi dulu, James," ia memelukku kemudian aku sedikit berjinjit untuk mencium pipinya.

"Jaga dirimu," balasnya mengacak rambutku seperti kebiasaanya.

"Kau juga. Berhati-hatilah," tambahku.

Ia mengangguk. Dari kejauhan aku melihat ia masuk ke Three Broomstick bersama Helaine. Melihat James sekarang aku berpikir untuk menjadi Auror kelak, tapi melihat tingkat kemahiranku dalam terbang sangat buruk sepertinya aku akan mengurungkan niatku. Mum mewarisi semua bakatnya padaku, sampai bakat gagal terbangnya. Mengapa tak ada sedikitpun bakat terbang yang dimilki Dad dicipratkan padaku?

Aku melirik partner yang berajalan berdampingan denganku ini. Ia lebih diam dari biasanya. Dan di cuaca seperti ini ia terlihat lebih pucat dari biasanya pula. Mungkin bila Mum sekarang melihat Scorpius dia pasti akan teringat pada Mr. Malfoy. Dari semua ceritanya, aku dapat berasumsi bahwa Scorpius adalah cetak biru orisinil dari Mr. Malfoy.

Scorpius masih diam bahkan sampai kami sudah berada di kastil. Ia tetap diam saat kami di Aula Besar tadi bahkan sampai kami sudah berada di asrama. Tak ada ucapan selamat malam bagiku malam ini. Apakah aku berbuat salah? Aku rasa tidak.

000


Musim Dingin

Harry mencurigai Draco menjadi dalang di balik peristiwa Bell beberapa hari yang lalu. Aku tak mengiyakan atau menolak argumennya. Mungkin ini adalah bagian dari tugasnya. Dan berarti aku tak bisa ikut campur tangan memberikan informasi. Kali ini aku akan menyerahkan semuanya pada Harry.

Kecurigaan Harry timbul saat ia melihat nama Draco muncul di Peta Perampok setiap malamnya. Aku tak berharap banyak. Semoga apapun yang Draco lakukan tak sampai membahayakan dirinya. Meskipun hal itu berarti dia harus membahayakan orang-orang di sampingku bahkan mungkin membahayakan diriku sendiri.

000

Musim Dingin

Untuk sejenak aku ingin melupakan semua kegilaan yang tiba-tiba datang seperti ini. Kegilaan akan kecurigaan Harry yang menyangka Draco sudah menjadi Pelahap Maut dan bahwa ia ingin membunuh Dumbledore (walaupun aku tahu salah satu tuduhannya memang benar adanya), kegilaan lainnya adalah Slughorn membuat sebuah klub yang berisi anak-anak yang ia sukai, mulai dari kepintarannya sampai latar belakang keluarganya. Ron sangat ingin masuk ke dalam klub ini disaat aku sangat jengah dan disaat Drao dengan acuh menolaknya. Dan hal yang aku pikirkan adalah Harry sangat bersemangat di setiap pertemuannya. Mungkin Harry sekarang sudah berubah menjadi sosialita, seperti seharusnya karena melihat dari latar belakangnya. Atau mungkin dia memiliki rahasia lain yang belum siap ia bagikan padaku dan Ron.

Tadi sore aku menghabiskan waktu dengannya. Yaa, aku merindukannya. Sudah dua hari kami tak menghabiskan waktu barang sebentar saja untuk bersama. Aku sibuk dengan semua tugas dan aku yakin dia juga seperti itu.

"Kau harus makan lebih banyak," ucapku sambil menyentuh rahangnya yang terlihat semakin minim daging dan lemak itu.

Ia hanya tersenyum lalu mengambil tanganku dan mengecupnya kemudian ia tempelkan di pipinya tanpa ada sepatah katapun yang terucap. "Kau lelah?" tanyaku lagi.

Ia mengangguk. Aku membelai lembut rambutnya yang juga mulai memanjang dari biasanya dengan tangan kananku, karena tangan kiriku masih terperangkap di pipinya. "Seharusnya saat kami menang kemarin ketika melawan Ravenclaw dan saat semua nilaiku berada di interval yang sempurna, seharusnya mereka semua harus berterima kasih padamu," ujarnya.

Aku mengerutkan kening saat mendengar perkataannya. "Karena kau yang membuatku berfungsi sebagaimana mestinya sampai sekarang."

"Oh Malfoy," aku tersenyum mendengarnya lalu memeluknya erat.

Ia membalas pelukan seperti biasa. Membenamkan wajahnya di rambutku. Aku suka saat seperti ini. Mungkin orang-orang akan menganggap Draco sebagai orang jahat dan merasa takut saat berasamanya ketika tahu bahwa ia adalah salah satu dari pengikut Voldemort, tapi bagiku saat bersamanya adalah saat teraman bagiku. Aku selalu merasa dilindungi bila ia memelukku. Seakan-akan nama Voldemort tak pernah ada di dunia ini.

Kulepaskan pelukkannya dan kembali pada posisi awal kami. Kami duduk berhadapan. Kemudian aku berlutut sehingga posisiku lebih tinggi darinya. Ia melihat bingung padaku.

"Kau mau apa, Granger?"

Aku menyeringai. Menyeringai a la dirinya. "Gadis nakal," ucapnya pelan dengan seulas senyum di wajahnya.

Aku ikut tersenyum lalu menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. "Kau selalu memilkiku. Datanglah kapan saja saat kau membutuhkanku dan aku akan memberikanmu ini," kemudian aku menunduk dan mulai mencium keningnya, lalu pipi kiri, pipi kanan, hidungnya, dagu, kemudian hidung, dan berakhir pada bibirnya.

Aku melepaskannya. Ia kembali bernapas lembut tepat di hadapanku dan memberiku tatapan yang menuntut jawaban atas apa yang aku lakukan tadi padanya. "Aku menyebutnya sebagai '7Seconds in Heaven'. Aku akan mencium satu detik untuk setiap bagian wajahmu dan dua detik khusus disini," aku menyentuh bibirnya dengan ujung jariku.

Ia kembali tersenyum. Sangat lebar kalin ini. "Itu baru gadisku," jawabnya kemudian menarikku dalam pelukannya.

Aku selalu berharap waktu dapat berhenti di saat seperti itu. Waktu tak akan pernah berjalan saat aku bersama dengannya. Agar aku tak harus menghadapi kenyataan pahit yang pasti menunggu kami di depan sana.

000

Musim Dingin

Gryffindor menang! Ah yaa bukan lagi hal yang menakjubkan rasaku. Ron berhasil dimanipulasi oleh Harry. Brilian Harry! Ia berpura-pura memasukkan ramuan Felix Felicis ke dalam jus labu Ron yang berdampak pada kepercayaan diri seorang Ronald Weasley. Dan akhirnya Ron menemukan gadisnya. Lavender Brown. Aku sudah menduganya. Apa yang akan terjadi bila Ron dan Lavender menikah kelak? Lucu. Keluarga mereka pasti sangat unik. Aku tertawa membayangkannya.

Dibalik kemenangan Gryffindor dan penemuan Ron akan kekasih barunya, malam ini adalah malam yang mengejutkan bagiku. Draco cemburu. Baru kali ini ia menunjukkan kecemburuannya padaku. Aku tak tahu apakah harus senang atau kesal akan hal ini.

Setelah selebrasi kemenangan Gryffindor di ruang rekreasi tadi aku bergegas keluar menuju manapun sampai aku bisa menemukan sebuah tempat tenang tanpa siapapun yang mengganggu. Tiba-tiba aku teringat tentang semua masalah yang kami hadapi ini. Harry yang akan berduel dengan Voldemort kelak serta Draco yang sudah jelas akan berada di pihak mereka. Semua hal itu selalu berhasil menyita setiap pikiranku, membuatku terjaga dengan segala mimpi buruk yang datang, sampai membuatku kekurangan kosentrasi terhadap apapun. Melihat Ron tadi membuatku teringat kembali, apakah hal seperti ini masih bisa kami rasakan nanti? Dan aku merasakan mataku mulai terasa panas, jadi aku melarikan diri dari situasi tadi. Aku sampai di ruang tangga dan aku membiarkan semua air mata itu tumpah. Aku tak tahu sejak kapan aku mulai menjadi cengeng seperti sekarang. Tak lama kemudian kudengar suara derap kaki menghampiriku dan Harry langsung duduk disampingku. Ia memeluk bahuku. "Ada apa?" hanya itu yang ia ucapkan dan aku langsung menyandarkan kepalaku di bahunya.

Aku masih sesenggukan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dan Harry masih menepuk-nepuk lenganku berusaha untuk menenangkan. Hanya itu yang ia lakukan dan aku berhasil mengendalikan perasaanku dan mulai bangkit kemudian tersenyum pada Harry. "Aku baik-baik saja."

"Aku selalu siap mendengar segala keluh kesahmu, 'Mione," ujarnya yang masih menepuk-nepuk punggung tangangku.

Kembali aku tersenyum. "Aku akan mengatakan padamu suatu saat nanti."

"Akan kutagih tentunya."

Hal yang selanjutnya kami bahas adalah tentang Harry. Aku menyuruhnya untuk menyatakan perasaanny pada Ginny. Persetan dengan Ginny yang sekarang sedang berkencan denga Dean. Mereka hanya berkencan bukannya akan menikah. Aku tahu ia menyukai Ginny. Tatapan mata selalu dapat berbicara di saat mulut berkilah melawannya. Tatapan Harry pada Ginny persis seperti tatapan Draco kepadaku. Berbicara masalah Draco, tadi ia tetiba 'memanggilku' disaat aku dan Harry sedang bersama. Langsung saja aku mengajak Harry kembali ke asrama, tapi sebelumnya aku mengatakan padanya bahwa aku harus ke toilet terlebih dahulu dan ke perpustakaan untuk meminjam sebuah buku dan seperti biasa ia mempercayaiku.

Draco sudah menungguku di ruang kebutuhan dengan sebuah buku di tangannya. Ia tampak duduk menyandar dengan sebuah buku di tangannya, A Hogwarts History. Tatapannya beralih padaku dan kembali pada buku di tangannya. Aku tersenyum dan duduk di sampingnya. "Apa kabarmu hari ini?" tanyaku padanya.

Tanpa mengalihkan pandangannya pada buku itu ia menjawab. "Seperti biasa."

Lalu tak ada percakapan yang terjadi di antara kami. Ia sibuk pada dunianya dan aku teronggok tak melakukan apapun. Suara jarum jam yang bergeser bahkan terdengar di telingaku. Apa sebenarnya yang terjadi? Dia memintaku menemuinya dan kini ia hanya dia tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku itu. Draco tak pernah seperti ini. Momen ini tak pernah berlangsung lama biasanya, tapi keheningan ini sudah mencapai batasnya. Kutarik buku di tangannya dan duduk tepat di hadapannya.

"Kataka apa yang mau kau katakan, jangan mendiamkan aku seperti ini."

Ia melihat padaku dan mengambil kembali buku yang berada di tanganku. "Aku sedang membaca."

Aku frustrasi menghadapinya. "Jangan berbohong," ucapku. "Katakan bila aku melakukan kesalahan."

Ia menutup buku yang tadi sempat ia buka kembali. "Apa kau merasa melakukan kesalahan?" ia berbalik tanya yang membuatku kesal setengah mati padanya.

"Jadi, kau memintaku kesini hanya untuk melihatmu membaca dan bermain tebak-tebakkan tentang apakah aku bersalah padamu hari ini, Malfoy? Ooh sangat kekanakan," dengusku.

"Kau tak mau menemaniku sekarang? Atau mungkin kau akan lebih memilih menangis di pundak Potter di ruang tangga bukannya padaku?" ia bertanya dengan teramat sangat tenang.

Draco tak marah, tapi aku tahu hal ini adalah suatu kesalahan baginya. "Huh! Kau marah padaku hanya karena aku meletakkan kepalaku di pundaknya bukannya di pundakmu, lantas mendiamkanku sekarang?"

"Aku.." Draco tak melanjutkan kalimatnya.

Aku masih menatapnya kesal. Lalu pikiranku terbuka kemudian aku sedikit tersenyum. Aku langsung memeluknya. "Kau cemburu. Maafkan aku," ucapku berbisik.

"Spekulasi yang bagus, Granger."

Kulepaskan pelukanku. "Aku menangis di pundaknya karena ia sahabatku, sama seperti kau dan Parkinson. Aku menangis padanya karena ia datang menghampirku. Mungkin bila kau yang datang tadi pasti akan beda ceritanya."

"Tapi aku tak mungkin dapat menghampirimu di tempat umum seperti tadi."

"Aku mengerti," jawabku.

"Dan hal itu menyakitkan bagikiu. Melihatmu bersama dengannya di tempat umun rasanya aku ingin sekali menggantikannya," ucap Draco yang membuatku kembali memeluknya.

"Saat seperti itu pasti akan datang suatu saat nanti," ucapku lembut. "Kita hanya perlu bersabar," tambahku.

"Bersabar," ia mengulanginya.

Lalu aku tertawa. "Ada apa?" tanyanya mengerutkan dahi.

"Kau cemburu pada Harry. Draco Malfoy cemburu pada Harry Potter. Aku akan mengingat hal ini selamanya."

Ia mendengus. "Ooh tertawalah, Granger, sepuasmu."

"Hah! Darimana kau tahu aku bersama dengan Harry?"

"Aku melihatmu," jawabnya cepat.

"Penguntit!" ia tertawa.

Draco menarikku dan aku berada tepat di beberapa centi dari wajahnya. Aku melihat ia menyeringai. Helaan napas lembutnya menerpa wajahku dan aku menyukai hal itu. "Berikan 7Second in Heaven-ku," ucapnya dan aku menciumnya.

Aku sangat menyukai makhluk itu ternyata.

000


Entah berapa banyak musim yang kubaca dan telah Mum lalui bersama Mr. Malfoy. Aku iri pada mereka. Cinta mereka mungkin tak berakhir bahagia. Walaupun aku belum membaca buku Mum sampai akhir, tapi aku mengetahuinya. Bila berakhir bahagia mungkin sekarang Mum masih berasama Mr. Malfoy dan aku mungkin tak pernah terlahir di dunia menjadi Rose Weasley. Mungkin aku akan menjadi Rose Malfoy. Atau mungkin Scorpius Malfoy-lah yang akan menjadi anak dari Mum. Bila Helaine mengetahui ini ia pasti memarahiku karena berpikir berlebihan. Tetapi, aku tak ada niatan untuk memberitahunya. Aku masih sanggup menyimpan rahasia ini. Mungkin nanti. Atau mungkin juga aku tak akan mengatakannya sama sekali.

000

Apa aku melakukan kesalahan? Aku tak tahu. Lalu mengapa Scorpius tak berbicara sama sekali padaku sampai sekarang? Bahkan ia tak mau melihatku. Ia tak menungguku di ruang rekreasi lagi setiap pagi seperti biasa setiap kami akan masuk kelas bersama. Ia diam. Aku berani sumpah pada Merlin, aku tak tahu apa aku melakukan kesalahan.

000

Scorpius Malfoy rekan Ketua Murid-ku yang baru saja aku pikir akan berteman baik padaku, ternyata aku terlalu berekspektasi berlebihan. Sudah berapa lama ia acuh terhadapku. Seminggu? Atau lebih rasaku. Terakhir kali ia berbicara padaku adalah saat kami akan berpatroli di Hogsmeade. Dan sejak kejadian itu jangankan berbicara menatapku saja ia enggan.

Aku frustrasi. Bagaimana rasanya berada di satu atap dengan orang yang sama sekali tak berbicara padamu. Mungkin aku akan mempelajari Legilimens untuk mengetahui apa yang ada di pikirannya. Setidaknya aku harus tahu bila ia tak menyukaiku dan aku akan menerimanya lapang dada. Dan aku berharap Faviana untuk segera kembali agar aku tak harus berada di situasi seperti ini.

Aku keluar dari kamarku setelah berhasil mengerjakan essay Mantra-ku tadi. Tubuhku pegal tak karuan. Scorpius duduk di sofa itu dengan, A Hogwarts History di tangannya. Apakah semua klan Malfoy menyukai buku itu? Aku ingat tulisan Mum yang mengatakan bahwa Mr. Malfoy juga membaca buku itu. Langkahku terhenti di depan pintu kamarku saat matanya memandangku. Ia kemudian kembali membaca buku itu tanpa menghiraukanku. Apakah aku harus berbicara padanya? Setidaknya aku harus mengetahui bila aku berbuat salah. Bila ia tak lagi mau berteman denganku, aku rasa aku tak perlu memasalahkannya.

Kuberanikan diriku untuk duduk di seberang sofanya. Ia masih tak memandangku. "Hai," sapaku.

"Hey," balasnya tetap membaca buku tebal itu.

Rasanya aku ingin segera berlari ke kamar dan megubur diriku di tumpakan bantal. Atau aku akan membawa semua barangku dan kembali ke Gryffindor. "Kau mendiamkanku," ucapku spontanku.

Scorpius menurunkan bukunya sehingga aku dapat melihat jelas wajahnya sekarang. Wajahnya terlihat datar atau serius – aku tak tahu definisinya – saat menatapku. "Kau mendiamkanku, Scorpius," ulangku lagi. "Sudah seminggu kau tak berbicara padaku, bahkan kau enggan menatapku. Apakah aku melakukan kesalahan atau kau sadar bahwa aku tak pantas untuk berteman denganmu," aku berbicara tanpa henti. Mungkin ia sekarang akan lebih membenciku. Hebat, Rose!

"Picik sekali pikiranmu, bila kau berpikir kau tak pantas untuk berteman denganmu," ia menutup buku itu lalu menaruhnya di meja yang berada di hadapan kami dan menyilangkan kakinya. "Lalu menurutmu apa definisi dari teman yang pantas untukku, Weasley?"

Ooh sekarang kami kembali pada Malfoy dan Weasley. Tak ada lagi Scorpius dan Rose. Pertemanan kami benar-benar tamat rasaku.

"Entahlah."

"Lalu mengapa kau bertanya seperti itu?"

"Karena aku frustrasi saat kau tak lagi berbicara padaku!" aku lepas kendali. "Kau tahu apa rasanya bertemu denganmu dan berada di sampingmu saat kita berpatroli tapi kita tak berbicara sama sekali?" kini kendali sudah berada di tanganku kembali karena aku mengatakannya dengan sangat perlahan.

Scorpius tetap diam. Mematung di posisinya. Tak bergerak. Apalagi berbiara. Dan aku baru sadar mungkin ia takut padaku sekarang karena aku yang lepas kendali tadi. Wajahku memanas dan aku langsung bangkit dari tempat itu dan berjalan secepat mungkin meninggalkannya.

"Tunggu," ia mengejarku dan sekarang aku berada di depan pintu kamarku dengan Scorpius yang berada hanya dalam hitungan centi di hadapanku.

"Aku hanya tak leluasa berbicara denganmu saat kutahu kau sudah memiliki kekasih," ucapnya teratur. Aku sama sekali tak dapat membaca emosinya.

Kekasih? Siapa yang ia maksudkan? "Siapa kekasihku?" kini aku berbalik tanya padanya.

Ia memundurkan tubuhnya. "James Potter, bukan kekasihmu?" tanyanya dengan raut wajah yang tetiba terlihat tak percaya. Dan itu sangat tak ternilai saat kau melihatnya.

"Kau tak berbicara denganku selama seminggu karena kau berpikir aku sudah memilki kekasih?" tanyaku tak percaya.

Ia tak menjawab pertanyaanku. "James adalah sepupuku. Aku tak – maksudku aku belum memilki kekasih," jelasku.

"Benarkah?"

Aku menatapnya dengan tak percaya kemudian mengangguk. "Syukurlah," ujarnya.

Ia menyeringai. Scorpius kembali menyeringai padaku. Tubuhnya kembali menjauh dariku dan ia tersenyum lalu ia kembali berjalan ke ruang rekreasi dan kembali membaca bukunya.

Apakah ini semacam deklarasi? Apakah ia senang saat mengetahui bahwa aku tak berpacaran dengan James? Atau apakah ia mendiamkanku karena ia selama ini cemburu? Cemburu. Aku senang mendengar kata itu bila disandingkan dengan Scorpius. Situasi ini seperti mengulang kejadian Mum dengan Mr. Malfoy yang baru saja kubaca. Walaupun tak ada 7Second ini Heaven a la mereka, tapi aku sudah cukup melihat senyuman itu kembali di wajahnya.

000

to be continued

Once again thank you guys! Keep read and review. Love you:)