Chapter 7
A first letter : hai2..:D tengkyu uda setia baca fic ini..:D
Erin-chan : Maav y nak baru balik Surabaya…, Hahaha.. ia, skali2 emak kosnya Lucy harus eksis walaupun kerjanya cuma malakin Lucy. Humm…maafkan daku kalo kali ini harus buat Natsu jadi jahat..:( demi suksesnya lika-liku cinta Lucy #plakk. Ia, neng Lucy berat karena factor 'hanya wanita yg tahu'…wkwkkw… Makasih..:D tapi retretnya bener2 berasa kaya sapi…
Mikuo-V0kal0id : wkwkwkw…kasian ya jadi Len. Owh.. cewenya ada di reviewer ini kah?hahaha… asiik donk bisa bikin ente ketawa..:D. Gimana lomba karatenya? Smoga sukses buat ente and Len juga..:D oiaa… apa kabar Len, koq jarang review..hahahah. Semoga chappi ini bisa bikin ente ngakak terus and jadi inspirasi buat pdkt…wkwkw
Pidachan99 : jangankan dirimu.. ane yang nulis aja juga jerit2 sampe dijewer mama… . Yupii.. Natsu dkk mau ga mau harus jadi jahat..karena The Whisper yang ngendalikan semuanya… Jangan! Kakanda Sting ga boleh d jahatin..,. Di tunggu ya Sticy momentnya. Semoga chappi ini bakal bikin kita teler jejeritan..hahah
I Love Erza : hahha..jangan galau. Lupakan Rupus! Ia, bisa di atur kok kemunculannya mas Jellal. Udah ada bayangannya di kepala dan sukses membuat ane ngakak-ngakak sendiri.. . Bagus deh kalo ente puas..:D Ia, semuanya pada kaget kalo ternyata ibu kosnya Lucy yang bikin heboh hihihi…. Kyaa..Sting jangan ditabok.. TT^TT. Baca aja, walaupun empet sama Sting, dijamin masih bisa ngakak..:D. Kalo boleh tau, ente suka pairing siapa sih di FT? :D
StingyBee : hai2 StingyBee..:D ga papa..:D. Ia, Natsu jadi jahat karena The Whisper pengen Lucy lepas dari bayang-bayang Natsu… hihihi..kapan ya? Masa langsung tancap gas… ga asik dunk..:D… ane mau bikin pembaca ikutan dilemma dengan hidup Lucy dkk..hohoho… ditunggu chappi selanjutnya ya..:D
Hai-hai, ane baru balik dari retret. WOW. Itu kata yang bisa ane ucapkan setelah mengalami retret yang gokil. Gimana nggak, saking reseknya transportasi, kita semua ditinggal di terminal…TT^TT. Tapi, yang bikin gokil, demi mencapai tempat retret, kita semua naik truk + angkot! Amazing yet very FunTastic! Ane berharap ada salah satu dari pengalaman ane yang bisa ane jadikan bumbu penyedap di FF ini..:D
Yosh! Kita lanjut…!:D
Reminder
"Gile.. berat banget lo kaya semen sekarung…" gerutu Sting.
"Sebodo amat. Lo yang nawarin kok..huh" balas Lucy sambil cemberut. Ia melingkarkan tangannya di leher Sting dan membenamkan kepalanya di lekuk leher cowok itu.
"Kita pulang…" gumam Lucy setengah mengantuk. Sting mengangguk dan berjalan menuju apartmen Lucy dengan mengikuti bau tubuh Lucy di sepanjang jalan menuju apartmen cewek pirang itu.
"Bangun.. bangun.." ujar Sting sambil menggoyang-goyangkan orang yang sedang menungganginya. Yang dimaksud, tidak berkutik sama sekali, malah terdengar dengkuran halus yang menggelitik telinga Sting. Cowok pirang itu menghela nafas panjang dan melirik ke belakang, melihat rambut pirang panjang, terjuntai menyapu bahunya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap ada seseorang yang bisa membantunya, tapi nihil. Perlahan, Lector membuka pintu utama apartmen Lucy dan Sting mendorongnya dengan kakinya. Lector masuk pertama dan memeriksa keadaan, kemudian ia mengisyaratkan Sting untuk masuk dan menaiki tangga menuju kamar Lucy yang berada di lantai 2.
"Bangun… Ya Tuhan!" desisnya perlahan.
'Ini cewek.. udah berat, ngorok, tidur kaya kebo lagi! Untung aja dia cakep plus sexy. Kalo kaga, uda gue lempar ni cewek..' umpat Sting di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Ia hampir putus asa membangunkan Lucy, meskipun dengan bantuan Lector yang sudah bosan menjambak-jambak rambut Lucy, cewek itu tetap aja ngorok dengan merdunya. Sting sekarang berdiri di depan pintu kamar Lucy, ia bisa mencium aroma tubuh Lucy yang sangat kuat menyeruak ke udara dari balik pintu itu. Ia membalikkan tubuhnya sehingga tubuh Lucy yang berhadapan dengan pintu. Dengan perlahan, ia menyandarkan Lucy pada pintu dan melepaskan tangannya yang menahan tubuh cewek itu. Lucy terlepas dari gendongan Sting tapi tetap bersandar di pintu, Sting cepat-cepat berbalik menghadap Lucy dan menjepit tubuh mungil cewek itu di antara dirinya dan pintu.
"Mmm.." gumam Lucy di tengah-tengah tidurnya. Sting berdecak heran, melihat 'kekeboan' Lucy yang dahsyat. Semakin keras usahanya untuk membangunkan Lucy, semakin keras pula Lucy mengorok. Lector tertawa kecil melihat kehebohan partnernya dalam berurusan dengan cewek Fairy. Mendengar kucing kesayangannya ngakak, Sting langsung melotot dan menginjak ekor Lector dengan ujung sepatunya.
"KYAAA…. Sting-kun jahat!" jerit Lector sambil nangis bombay. Wajah imutnya tergantikan dengan wajah penuh air mata dan ingus. Ia berlari, berputar-putar, dan bergulung-gulung di lantai sambil memeluk ekornya yang sekarang membengkak.
"Jahat mana dibandingin sama lo yang tertawa di atas penderitaan gue..?" tanya Sting dengan senyum sadis. Lector terisak-isak sambil mengisap jempolnya. Matanya membulat dan melebar, membuat penampakannya jadi makin bikin gemes (Me : tahu jurus andalan Puss in Boots di Shrek? Matanya yang bulat hitam dan unyu-unyu bikin semua orang meleleh…termasuk ane..kyaaa…_ ). Sting, yang nggak tahan dengan jurus kitten-eyes ala Lector, mengerang dan mengisyaratkan Lector mendekat. Kucing merah itu datang dan melompat ke bahu Sting.
"Cup…cup.. anak papi jangan nangis, nanti nggak dapet ikan pindang lho?" bujuk Sting dengan suara yang dibuat seimut mungkin. Lector mengangguk-angguk sambil terisak dan mendengkur lembut saat Sting mencium kepalanya. Setelah selesai mengurus Lector, cowok itu menghadapi lagi permasalahan utamanya. Lucy. Ia mencari-cari kunci kamar Lucy di antara kunci-kunci spiritnya. Tanpa disadarinya, Lucy semakin meringkuk dan merapat ke dada Sting. Sting baru sadar kalau kedekatan mereka cukup membuat pipinya bersemu merah, saat Lucy melingkarkan tangannya dan memeluk tubuhnya. Dengan gugup, ia akhirnya membuka pintu kamar Lucy dengan kunci yang berhasil ia temukan. –Poof- segumpal asap yang berkilau muncul di hadapan Sting, membuat cowok itu mundur beberapa langkah dan siaga satu, langsung menggendong Putri Tidur ke dalam pelukannya.
"My Princess! Me merindukanmu sangat! Me need your lope lo.. Huu..wat?! Ngapain you ada di sini!?" pekik sosok genit itu dengan histeris, sambil menunjuk-nunjuk wajah Sting dengan telunjuknya. Cowok pirang itu bete setengah mati saat wajah cakepnya ditunjuk-tunjuk oleh tangan yang dipenuhi oleh batu akik.
"Berisik! Siapa sih lo?!" hardik Sting dengan kasar.
"Oi oi oi! Me is Loke! Me is spirit kesayangan Princess! Ga ada yang boleh masuk kamar Princess tanpa seijin Me!" seru Loke sambil mengepalkan tinjunya. Sting menatapnya dengan malas. Punggungnya udah encok pegel linu gara-gara menggendong Celestial Mage yang tidur seperti kebo. Sekarang, tangannya harus kram karena menggendong Putri Tidur dengan model Bridal Style.
"Gue di sini, ada urusan kerjaan sama Blondie. Gue bisa masuk ke sini juga karena Blondie sendiri. Bawel banget lo jadi cowo..." ujar Sting sambil mendengus kesal .
"Berisik banget sih lo!" jerit Lucy tiba-tiba sambil mencak-mencak di dalam gendongan Sting. Lector dan Loke langsung cepat-cepat menghindar. Tapi malang bagi cowok pirang ini, aura penuh kemurkaan memenuhi ruangan dan menyelimuti Lucy yang bangkit dari hibernasinya.
"Me.. is.. dead… Princess kalo tidurnya digangguin, bisa jadi jin bermuka 10..huhuhuh…" ratap Loke sambil meringkuk memeluk lututnya. Sting bersweatdrop ria mendengar penggambaran Loke yang rasanya alay banget. Nggak butuh waktu lama, Sting dengan cepat mengerti apa yang dimaksud oleh Loke. Lucy's Kick mendarat tepat di wajah Sting.
"Blondie! Mati rodok lo nendang muka gue yang mulus cakep gini!" protes Sting dengan galak setelah bangkit dari penyiksaan yang didapatnya dari tendangan kebanggaan Lucy. Lucy yang sekarang sudah mulai sadar dan nyawanya mulai terkumpul secara utuh, kontan langsung jejeritan histeris mendapati Sting yang mukanya bengep alias babak belur, berlutut di depannya.
"Sting! Omaigat! Omaigat! Muke lo napa?! Bonyok gini kaya habis disosor bebek!?" tanya Lucy dengan panik. Ia berlutut di depan Sting dan memeriksa wajahnya. Urat kesabaran Sting benar-benar sudah beranak pinak dan dengan segenap kekuatan dan cinta kasih, ia menjitak kepala Lucy sampai cewek itu menjerit kesakitan.
"Lo pikir gara-gara siapa, Blondie sarap! Asal maen tendang muka orang!" Umpat Sting dengan geram. Lucy tersentak dan segera membantu Sting berdiri. Ia menuntun cowok itu untuk masuk ke kamarnya yang sudah terbuka tapi Sting menolaknya. Master Sabertooth itu malah berjalan keluar dari apartmen dan mengagetkan Lucy dengan mengetuk jendela kamarnya.
"Ngapain lo bertengger di jendela kaya layangan nyangkut?" tanya Lucy sambil membukakan jendela agar Sting bisa masuk.
"Bukan gaya gue masuk ke rumah orang pake pintu." Jawab Sting enteng. Lucy menepok jidatnya dengan keras sampai meninggalkan bekas merah.
'Nggak habis pikir gue… apa semua Dragon Slayer sukanya nyangkut di jendela?' batin Lucy yang sudah mulai frustasi melihat tingkah laku Sting yang aneh bin ajaib. Setelah Sting masuk dan duduk di kasurnya, Lucy mengambil kotak P3K untuk mengobati Sting.
"Sorry…" gumam Lucy sambil mengobati benjolan di pipi Sting. Cowok pirang itu mendesis pelan dan menghela nafas panjang. Tiba-tiba ia menunjuk ke arah pintu depan. Lucy mengikuti arah yang ditunjuk oleh Sting.
"Loke? Ngapain lo di sini?" tanya Lucy dengan nada menyelidik. Belum sempat Kucing Besar itu menjawab, Sting sudah menyerobot dulu.
"Dia. Dia yang bikin lo bangun dan nendang dengan penuh cinta kasih ke muka gue yang cakep nan rupawan. Dia si cowo bawel yang bikin berisik." Ujar Sting dengan penuh dendam. Lucy menganga dan akhirnya berjalan mendekati Loke yang sekarang gemetar.
"Miaw?" hanya itu yang sempat dikatakan Loke sebelum Lucy menendangnya kembali ke Spirit realm. Puas dengan proses pengusiran arwah kucing gentayangan yang merusak jatah tidurnya, ia kembali mengobati Sting.
"Beresin barang lo. Kita bakal pergi jauh dan lama. Gue nggak tahu job ini bakal bikin kita jadi apa. Job paling nggak jelas sepanjang masa." Ujar Sting sambil melihat sekeliling. Lector menghampirinya dan duduk di pangkuannya. Lucy beranjak ke dapur menyiapkan perbekalan dan memanggil Virgo untuk membantunya membereskan pakaian dan kebutuhan lainnya.
"Barang-barang gue udah siap di Spirit Realm. Gue mandi dulu ya… bau ketek nih!" cuap Lucy dengan cuek. Mendengar itu, Sting bergidik jijik, membayangkan cewek pirang di depannya, cantik, sexy, tapi bau ketek.
"Lector, lo temuin Rogue dulu ya di stasiun. Bilangin, gue sama Blondie bakal telat, lo ceritain aja masalah yang kita hadapin dari tadi. Oke?" Lector mengangguk dan segera terbang keluar melalui jendela dan menyusul A'a Rogue di stasiun. Sementara itu, Lucy asyik dengan kegiatan mandinya demi menghilangkan bau ketek. Sekitar setengah jam lamanya, akhirnya Lucy keluar dari kamar mandi dan mendapati Sting sedang ngiler di atas bantalnya, ketiduran.
"Cepetan ambil baju lo sebelum dia bangun! Bego banget sih lo mandi pake ga bawa baju!" omel The Whisper tiba-tiba. Mendengar itu Lucy hanya bisa meringis. Cewek itu, hanya bermodalkan tubuh dibalut dengan handuk, berjalan berjingkat-jingkat menuju lemarinya dan mengambil pakaian. Dasar kalau udah sial, emang sial. Kaki Lucy tersandung kursi dan jatuh mencium lantai, menimbulkan suara cukup keras untuk membangunkan Sting.
"Lo udah sele..aaaaahhh…." ucapan Sting terpotong karena ia mimisan melihat keadaan Lucy yang sekarang, sedang tertelungkup di lantai hanya berbalut handuk, mengerang kesakitan sambil memegang kakinya.
'Ya Tuhan… ini godaan iman banget.. tolong gue.. siapapun….' Batin Sting penuh sukacita.
"KYAAA….! Jangan ngintip!" jerit Lucy berusaha menutupi tubuhnya. Sting cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan melemparkan selimut ke arah Lucy.
"Cepet lo tutup! Pake baju sana! Lo napsu banget sih sama gue, sampe setengah telanjang gitu!?" gerutu Sting asal ceplos demi menutupi rasa sukacitanya mendapatkan kesempatan langka melihat cewek sexy Sorcerer Weekly itu. Wajahnya memerah dan hidungnya belepotan darah. Lucy langsung melongo mendengarnya.
'Bukannya yang harusnya bilang gitu, malah gue ya? Kok jadi dia yang ngira gue napsu!? Ya Tuhan! Emak gue salah apa sih waktu hamil…" ratap Lucy di dalam hatinya.
"Lo edan apa sarap! Gue juga kaga mau kali setengah telanjang gini! Lagian, gue ga napsu sama cowo kaya lo!" pekik Lucy sambil berusaha menutupi tubuhnya menggunakan selimut. Wajahnya bersemu merah. Ia cepat-cepat berdiri, berlari menuju lemari mengambil pakaiannya, dan berlari secepat kilat ke kamar mandi. Tak lama kemudian, ia sudah siap dengan sweater model Sabrina lengan panjang warna carmine red yang mengeskpos lekuk bahu Lucy. Ia memadukannya dengan rok lipit mini warna cobalt, thigh high black stocking, dan knee high combat boot yang sewarna dengan sweaternya. Fleuve d'étoiles dan dompet Spirit Key-nya, bergelantung manis di sabuknya. Sting sempat terpana melihat penampilan Lucy yang girlie namun gahar.
"Oi! Ayo berangkat! Ngelamun mulu!" seru Lucy sambil mengetuk-ngetukkan sepatunya dengan nggak sabaran. Sting tersadar dari lamunannya. Pandangannya bertemu dengan tatapan kekanak-kanakan Lucy yang sedang cemberut. Sting langsung berdiri dan merapikan tampilannya lalu menarik Lucy keluar dari apartmen.
"Cepetan! Keburu ngambek tuh si Rogue nungguin lo yang lelet setengah mati!" protes Sting dari kejauhan. Celestial Mage mungil itu, terbatuk-batuk dan banjir keringat, berusaha mengikuti ritme lari Sting yang cepat banget. Jarak yang memisahkan mereka cukup jauh dan itu membuat si Master Sabertooth mengerang bete, nungguin Lucy yang nggak sampai-sampai. 2 menit kemudian, mereka sudah bersama lagi. Hari semakin gelap, matahari sudah terbenam. Perjalanan menuju stasiun terasa sangat lambat. Sting yakin sejuta persen, Rogue udah menggendutkan diri di stasiun karena bosan menunggu mereka yang nggak sampai-sampai.
Sementara itu di stasiun, flashback ke waktu Lector akhirnya berhasil menemui A'a Rogue dan Frosch…
"Heh? Nggak penting banget masalah mereka berdua.." ucap A'a Rogue dengan muka bosan setelah mendengarkan cerita Lector. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari kedai makanan atau kafe yang bisa menyuplai kebutuhan perutnya yang sudah mulai buka konser musik keroncong. Pencariannya berhenti pada kedai ramen yang baru saja membuka tokonya. Ia menghampiri kedai ramen tersebut. 45 menit berlalu dan 6 mangkok ramen sudah tersusun rapi di hadapan A'a Rogue.
"Oi, oi… Rogue, buka lembar job di kantong lo.. ada update baru!" sebuah suara terngiang di kepalanya. Mendengar suara itu, ia jadi teringat dengan lembar job yang menjadi sumber masalah bagi mereka. Cowo tapres itu merogoh kantongnya dan mendapati adanya perubahan mandat. Dibacanya kertas itu dan ekspresinya yang tapres tergantikan dengan ekspresi helpless!
"Rogue, Frosch bingung.. kok Sting-kun dan Lucy-san belum datang?" tanya Frosch sambil menguap.
"Nggak tahu, nak.. papi aja bingung mereka berdua jalan atau ngesot ke sini.." jawab A'a Rogue datar. Ia mengelus-elus kepala Frosch dan membuat kucing-kodok itu tertidur di pangkuannya. 5 menit berlalu dan A'a Rogue benar-benar udah bosen menunggu. Ia memutuskan untuk mencari apa yang diminta oleh kertas job ajaib itu.
Kembali ke Lucy dan Sting yang malah aysik jajan dalam perjalanan menuju stasiun.
"Sting! Cepetan! Gue pengen es krim!" rengek Lucy dengan ekspresi kekanak-kanakan. Sting yang sedang antri beli takoyaki jadi bete dan berusaha menghindari tatapan memelas dari Lucy.
"Hiks..hiks..Sting..jahat…. Sting Jahat!" rengek Lucy sambil menangis air mata buaya. Mendengar namanya yang tersohor disebut-sebut sebagai 'seorang yang jahat' oleh seorang cewek yang sedang mewek di depannya, membuatnya panik dan pusing 7 keliling.
"Oi! Oi! Yaelah! Sabar dong, gue aja lagi antri ini…" mendengar itu, tangisan Lucy semakin keras dan mulai mengundang perhatian orang –orang di sekitar mereka. Ibu-ibu mulai berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah mereka berdua. Keringat mulai membanjiri wajahnya.
"Ayo.. cepetan beliin! Lo mau dikatain penjahat wanita gara-gara bikin cewek nangis di depan umum?" ujar suatu suara di dalam kepala Sting.
"Lucy! Nangis lebih keras lagi! Biar dia jadi luluh lantak..hahaha… ayo! Nangis yang giat, biar bisa makan es krim gratis!" seru The Whisper memberi semangat.
'Seriusan?! Demi es krim gue jadi cengeng gini…. Ga papa deh, sekali-sekali ngerjain Sting lucu juga,' batin Lucy sambil berusaha menahan tawa saat melihat ekspresi panik di wajah cowok pirang itu.
'Demi Tuhan! Gue! The Great Sting Eucliffe! Harus ngalah hanya karena cewek ababil tiba-tiba nangis buaya minta es krim?! Kalo bukan gara-gara Ibu-ibu tukang gosip pada ngeliatin kita, ga bakal gue jadi lembek kaya gini!' gerutu Sting dalam hati. Setelah pergulatan batin yang panjang dengan suara di kepalanya, Sting mengalah dan akhirnya keluar dari antrian.
"Yey!" pekik Lucy dengan bahagia.
"Diem lu! Berhenti mewek! Bikin malu gue aja." Gerutu Sting sambil memijat-mijat kepalanya.
"Wekk.. kan situ yang malu, bukan gue.." seloroh Lucy ngasal sambil menjulurkan lidahnya. Sting menyerah dengan tingkah ajaib Lucy dan mengikutinya ke stand penjual es krim. Nggak tanggung-tanggung, Lucy memesan 1 cup es krim ukuran setengah liter rasa strawberry cheesecake. Wajah Sting pucat pasi saat Lucy menodongkan tangannya ke wajahnya.
"Mana?"
"Apanya?"
"Jewel"
"Heh? Mang lo kaga bawa jewel?"
"Di mana-mana, cowo selalu bagian pembayaran kalo lagi jalan bareng cewe… gue lagi masa penghematan.. hihihi…" jawab Lucy dengan polos.
"Asem! Ngomong aja dari awal lo minta dibayarin! Berapa sih?!" tanya Sting kepada penjual es krim.
"Semuanya 15 ribu jewel, Mas." Jawab penjual es krim.
"What!? Es krim doang 15 rebu!? Lo jual es krim atau malak orang sih!?" seru Sting histeris.
"Mbak-nya beli ukuran setengah liter dan pilih rasa yang tergolong mahal, Mas." Jelas penjual itu. Muka Sting langsung helpless. Ia merogoh dompetnya dan dengan wajah melas, membayar es krim sementara Lucy dengan lahap menikmati es krim gratisnya.
"Nih!" sesendok penuh es krim terpampang di depan wajah Sting. Cowok itu menolak tapi Lucy tetap memaksanya untuk memakan es krim tersebut. –Grooo..ooo- suara musik keroncong mengalir merdu dari perut Sting. Ekspresi sok cool Sting jadi gagal total tergantikan dengan semburat merah merona menghiasi wajahnya.
"Bruakakakaka….! Kalo laper bilang aja, nggak usah sok cool gitu!" ledek Lucy sambil ngakak.
"Grrrr… resek lo! Gara-gara lo juga! " gerutu Sting bete. Lucy berusaha menghentikan tawanya dan memasang wajah penuh penyesalan. Ia menyodorkan sendok es krimnya ke mulut Sting. Dengan enggan, ia memakan es krim itu.
'Sialan… harga diri gue anjlok beneran. Masa makan es krim di suapin cewe…' omel Sting dalam hati.
"Enak kan es krimnya? Ga usah jaim, bro. Kalo laper, minta lagi disuapin sama neng Lucy.." goda suara misterius yang berbicara di dalam kepalanya.
'Bener juga.. daripada perut gue konser terus, mendingan gue makan es krimnya Blondie. Dompet gue kering kerontang pula habis bayarin es krimnya Blondie..'
"Lucy… enak kan es krimnya? Bagi-bagi dong sama Sting. Masa sesendok doang.." Goda The Whisper sambil tertawa cekikikan.
'Iya sih enak… enak banget malahan. Uhm.. haruskah? Hueee… gue ga rela es krim gue dibagi…'
"Jahat banget lo! Anak orang lo palak, sekarang lo telantarin keroncongan sepanjang jalan." Tegur The Whisper dengan galak. Lucy menghela nafas panjang dan timbul rasa bersalah setelah mendengar omelan The Whisper.
"Sting/Blondie." Mereka berdua mengedip-ngedipkan matanya, mendengar namanya dipanggil secara bersamaan.
"Jangan panggil gue Blondie! Lo juga pirang tau! Dasar rambut nanas!" protes Lucy sambil cemberut. Sting tercekat mendengar julukannya, tapi tetap berusaha memasang tampang cool.
"Sorry.. gara-gara gue, lo jadi laper.." bisik Lucy dengan suara sekecil mungkin. Tapi, telinga seorang Dragon Slayer memang nggak bisa ditipu. Sting bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Lucy. Sting akhirnya memanfaatkan rasa penyesalan Lucy demi memenuhi kebutuhan nutrisinya.
"Aaa.." Lucy menoleh ke sumber suara tersebut dan takjub melihatnya. Sting membuka mulutnya lebar-lebar dan tangannya menunjuk-nunjuk ke arah mulutnya.
"Jangan diliatin aja! Suapin gue! Gue laper, butuh nutrisi." Cuap Sting dengan nada manja. Lucy tertawa kecil melihat tingkah laku Sting yang kekanak-kanakan. Dengan penuh kesabaran, ia menyuapi Sting dengan es krimnya. Mereka berjalan menuju stasiun sambil menikmati es krim. Tanpa mereka sadari, seseorang tengah mengikuti mereka.
Sesampainya di stasiun, mereka tidak bisa menemukan A'a Rogue beserta 2 ecxeeds.
"Oi, sebelah sini." Mereka menoleh ke sumber suara dan mendapati A'a Rogue, Frosch, Lector, dan seorang bapak, sedang duduk bersandar pada sebuah gerobak besar penuh dengan jerami. Mereka mendekati A'a Rogue.
"Ngapain lo di sini? Kenapa nggak nunggu di dalam?" tanya Sting sambil menyelidiki bapak tersebut dengan penuh curiga. A'a Rogue kemudian memberikan kertas job dan menyuruh Sting membacanya.
"Selamat! Kalian berhasil menjemput Celestial Mage Fairy Tail untuk ikut bersama kalian! Good job untuk request pertama. Saya tahu, sekarang kalian sedang berada di stasiun, tapi kalian pasti tidak tahu ke mana kalian harus pergi.
Kota ini hidup di antara 9 penguasa langit dan memiliki 9 hukum yang mengatur kehidupan kota ini.
Kota ini tidak terdaftar dalam rute perjalanan kereta. Untuk mencapainya, kalian harus menemui seorang pengumpul jerami. Ikutlah bersamanya karena ia mengetahui rute menuju kota tersebut.
Yang perlu kalian ketahui, kalian harus menyebutkan nama kota itu kepada pengumpul jerami, maka ia baru akan mengantarkan kalian ke kota itu.
Sesampainya di sana, sampaikan salam kepada 9 penguasa langit dengan mengucapkan 9 hukum yang mereka miliki."
Sting hanya bisa menganga membaca kertas itu. Otaknya sudah macet tidak mampu berpikir lagi setelah membaca teka-teki itu. Lucy segera mengambil kertas itu dan membacanya.
"Darimana lo nemu pengumpul jerami?" tanya Sting.
"Nggak setiap hari lo nemuin pengumpul jerami duduk baca buku di depan stasiun, di tengah kota modern, yang udah jarang memakai jerami dalam hidup mereka." Jelas A'a Rogue dengan wajah tapres.
"Ah! Gue pernah baca soal 9 penguasa langit! Tapi gue nggak pernah dengar soal 9 hukum.." cuap Lucy secara mengejutkan.
"Lanjutkan," perintah A'a Rogue.
"9 penguasa langit bisa berarti kedudukan yang tinggi ataupun secara fisik bisa berarti mereka memang besar. Seingat gue, nama kota ini berasal dari bahasa kuno. 'Kota ini hidup di antara 9 penguasa langit', artinya kota ini dikelilingi atau ada di dalam 9 penguasa langit. Pertanyaannya, 9 penguasa langit ini benda atau abstrak?" gumam Lucy sambil mengetuk-ngetukkan sepatunya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, berharap menemukan petunjuk.
"Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." Tulisan ini samar terukir di gerobak pengumpul jerami. Jemarinya menelusuri tulisan itu.
'Menara, puncaknya sampai ke langit. Supaya jangan terserak ke seluruh bumi… tertutup, terisolasi, jangan terserak, bagai penjara, menara, sembilan… Omaigat! Gue inget!' pekik Lucy dalam hati.
"Gue inget nama kotanya! Kota yang tertutup, terisolasi, jangan terserak ke seluruh bumi. Itu serupa dengan legenda Menara Babel. 'Puncaknya sampai ke langit' itu adalah menara! 9 penguasa langit adalah sembilan menara! Kalimat ini, " ujarnya sambil menunjuk tulisan di gerobak pengumpul jerami. "Gue inget jelas, buku yang gue baca bilang kalau legenda Menara Babel memicu pembangunan kota ini sebagai sarana perlindungan dari serangan musuh, saat terjadi perang sekitar 100 tahun yang lalu."
"Terus, nama kotanya apa? Kita langsung berangkat kalau udah tahu nama kotanya." Sting sudah menyerah dengan yang namanya 'berpikir'. Jadi, ia ingin cepat-cepat pergi ke kota itu. Semakin cepat, semakin baik.
"City of 9 Tower, Ennis," jawab Lucy dengan senyum lebar. Bapak pengumpul jerami itu langsung menaiki gerobaknya dan mengisyaratkan mereka berlima untuk naik dan duduk di atas tumpukan jeraminya. A'a Rogue sekarang tahu alasan mereka untuk melakukan tugas ini bersama Lucy, karena ia satu-satunya manusia yang bisa berpikir secara sehat dan waras dan menggunakan otaknya dibandingkan dengan Sting yang lebih memilih 'berpikir' menggunakan otot.
"Kita akan sampai setidaknya 6 jam lagi." Ucap bapak pengumpul jerami yang disambut dengan desahan panjang dari kelima penumpang.
A'a Rogue duduk memucuk bersama Frosch dan Lector, bersandar pada dinding gerobak yang cukup tinggi. Sting memilih duduk berlawanan arah dengan A'a Rogue. Lucy duduk di samping Sting. Sekitar setengah jam perjalanan, Lucy tertidur pulas. Kepalanya terantuk-antuk, ke kiri dan ke kanan. Melihat kondisi Lucy yang melas banget, Sting melingkari bahu Lucy dengan tangannya dan menyandarkan kepala cewek pirang itu ke dadanya dan memilih untuk tidur daripada harus menghadapi mabok transportasi. Ia menyandarkan kepalanya di atas kepala Lucy dan dengan cepat tertidur. Tanpa ia sadari, Lucy melingkarkan tangannya, memeluk tubuh Sting dan meringkuk semakin dalam, mencari kehangatan di dalam pelukan Sting.
Tadaa! Finish Chappi 7!
Wuah..semakin lama, setiap chapternya semakin panjang… .
Maafkan ane ya yang telat update..:( semoga kalian nggak bosan menunggu dan tetap setia baca Fic ini sampai selesai… Tanpa kalian, ane berasa sia-sia jadi author..TT^TT.
Oia, sadarkah kalian, sebenarnya pengalaman ane yang berangkat retret dengan truk itu ane gambarkan dalam perjalanan Sting dkk menggunakan gerobak? Hihihi….
RnR please…TT^TT
Matursuwun..:3
