Author : EdeLweIS O.O
Genre : Angst, Hurt, Fantasy, MPREG
Main Cast : KaiSoo
Other Cast : Heechul, Yesung, HunHan, ChanBaek and EXO members.
Rate : T to M
.
PLAGITAOR'S OUT!
SILENT RIDER OUT!
YANG G SUKA BACA FF SAYA OUT!
.
The Sepia Love Part 7 . Remember..
Masih sangat terasa di ujung jariku..
Kenangan indah yang begitu kurindukan..
Kenangan dimana saat aku masih bisa menyentuh wajahmu..
Meraba lekukan parasmu yang begitu aku puja..
Meraba bibirmu yang begitu memabukkan bagiku..
Meraba mata tajammu yang membuatku selalu merindukanmu..
Bolehkah?
Bolehkah aku kembali ke dalam masa itu?
Masa yang kini sudah menjadi SEPIA..
..Do Kyung Soo..
"Kami pamit dulu ya Su Ho, Annyeong," pamit Chan Yeol.
"Annyeong Joon Myeon-ssi. Sampai jumpa," tambah Kyung Soo.
Lengkungan manis kini terpatri jelas pada bibir Joon Myeon. Ia melihat sosok Kyung Soo yang sudah menjauh dari pandangannya. Ia merasakkan detak jantungnya yang tak beraturan.
"Seperti yang aku ucapkan seperti yang di taman waktu itu. Aku akan mendapatkan incaranku. Dan incaranku adalah kau.. Do Kyung Soo."
.
.
"Umumkan, umumkanlah kalau kau bukan pekerja komersil yang seperti mereka pikirkan selama ini. Kau bukan orang kotor, kau bukan orang yang menjual dirimu dan harga dirimu sendiri. Umumkanlah pada semua orang. Bahwa kau hanya seorang pelayan restoran, bukan seorang pekerja komersil. Meskipun dengan status itu kau dan anakmu tidak bisa terlindungi lagi," saran Ryeo Wook.
"Tapi aku takut dia akan berulah kembali.."
"Mulai dari sekarang.. cobalah untuk menghadapi Chulli-ah. Bukan lari."
..Remember..
Jong In terbangun dari tidurnya yang gelisah. Rasa nyeri di kepalanya membuatnya mendesis. Ia meremas rambutnya kuat. Berharap rasa sakit itu akan berkurang. Jong In memejamkan matanya. Saat serpihan memori yang tadinya berhambur kini mencoba untuk menyatu kembali. Benar-benar jelas di dalam ingatannya. Seorang gadis kecil tertawa dengan manisnya. Sambil menaiki ayunan yang entah sangat tak asing baginya.
Jong In mulai membuka matanya perlahan. Mencari obat penghilang rasa nyeri yang sudah rutin ia minum jika rasa nyeri di kepalanya kambuh kembali. Setelah ia meminum obat, Jong In langsung menapakan kakinya ke arah balkon kamarnya. Sekadar menghilangkan peluh yang sudah membuatnya gerah. Dan mencoba berteman dengan udara malam yang sering menyapanya. Hingga, tangan kananya bergerak. Menyentuh sang kalbu begitu lama.
"Kenapa rasanya bergemuruh?" batin Jong In. Jong In menghela napas. Mata tajamnya memandang bulan sabit dalam.
"Bulan sabit. Hahaha ya, bulan sabit.." Jong In tertawa kecut.
"Bulan sabit. Separuhnya terlihat dan separuhnya tertutup oleh awan malam. Seperti ingatanku. Hanya setengah dari kehidupanku saja yang masih teringat. Setengahnya lagi masih tertutup kekelaman."
Jong In menyentuh bekas luka jahitan yang bertengger di dahi kanannya.
"Kenapa aku sangat merindukan gadis kecil itu?" gumamnya lirih.
.
.
Lu Han mengomel tak jelas saat Gu seonsaengnim menyuruhnya untuk mengembalikan peralatan olahraga ke ruang penyimpanan alat olahraga. Ia mendorong troli yang berisikan peralatan olahraganya malas. Dan tentu saja diiringi dengan omelan-omelan tak jelas yang keluar dari bibir mungilnya. Namun omelan itu terhenti. Bibirnya menjadi bungkam. Matanya pun membulat. Saat ia melihat seorang Oh Se Hun sedang bercumbu dengan seorang wanita yang tak dikenalnya.
"Se-Se Hun," gumamnya teramat lirih.
Kakinya terasa bergetar. Hatinya terasa amat sakit. Disaat ia melihat lelaki yang sudah berhasil membuat kinerja jantungnya menjadi tak beraturan. Disaat ia melihat lelaki yang berhasil membuatnya merasakan apa yang namanya cinta, bercumbu dengan orang lain tepat di depan matanya sendiri.
Lu Han memundurkan langkahnya. Namun nahas, ia malah terjatuh dan tertimpa troli yang berisikan peralatan olahraga. BRUKK! Se Hun langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara yang terdengar begitu keras di telinganya.
Matanya membulat saat melihat sosok yang sangat dikenalnya sedang tergeletak lemah di bawah peralatan olahraga dan troli yang bisa digolongkan ke dalam kategori peralatan berat.
"Lu Han!" pekik Se Hun khawatir. Ia langsung berlari ke arah Lu Han. Menghampiri sosok yang tiga tahun ini sudah menjadi cinta terpendamnya. Tak dipedulikannya panggilan keras dari wanita yang tadi dicumbunya.
"Lu Han! Lu Hannie ireona! Palli ierona!" rahang Se Hun mengeras. Bukan karena marah. Namun karena terlampau khawatir akan keadaan sosok yang sedang ada dipangkuannya saat ini. Dengan lekas ia menggendong Lu Han. Ruang kesehatan sekolah, itu tujuan seorang Oh se Hun saat ini.
.
.
Kyung Soo menghembuskan napas kasar. Ia melihat sekeliling perpustakaan.
"Huff Bosan," gumam Kyung Soo. Ia memutuskan berdiri dari tempat duduknya. Mulai melangkah untuk mengembalikan buku sejarah yang tadi dibacanya. Lalu keluar dari ruangan yang sudah menjadi sahabatnya selama tiga tahun ini.
Kyung Soo berjalan ke arah atap sekolah. Mencoba menghabiskan waktu istirahat yang masih tersisa. Awan dan langit, itu yang pertama kali ia lihat, saat ia sampai di atap sekolahnya. Hingga ia menangkap sosok yang begitu dikasihinya sedang tertidur di bawah teduhan yang berada di atap tersebut.
"Jong In.." batin Kyung Soo. Kyung Soo berjalan mendekati Jong In. Dengan sangat hati-hati ia berjalan. Berusaha tak menimbulkan hentakan suara yang akan diciptakan oleh langkahnya.
"Emmh!" Kyung Soo memberhentikan langkahnya takut saat mendengar lenguhan yang diciptakan oleh Jong In. Dirasa sudah aman ia mulai melanjutkan kakinya untuk melangkah ke arah Jong In. Angin berhembus halus saat itu. Hingga membuat rambut kedua insan itu ikut bergoyang dengan seirama. Kyung Soo tersenyum sangat manis. Ia mulai mendudukan dirinya di sebelah Jong In. Memandangi paras tampan yang begitu ia rindukan selama ini.
"Tampan" gumam Kyung Soo sangat lirih. Takut membangunkan Jong In.
"Emmh! Emmh!" alis Kyung Soo berkerut saat melihat tidur Jong In yang terlihat begitu tak tenang.
"Ja-jangan!" igau Jong In lagi.
"Apa ia bermimpi buruk?" Kyung Soo mulai memberanikan diri. Ia menjulurkan tangannya. Menghapus surai Jong In lembut. Beberapa saat kemudian Kyung Soo tersenyum dengan lembut saat melihat tidur Jong In kini menjadi sangat pulas. Tak mengigau lagi dan menjadi tenang. Kyung Soo membelai surai Jong In berkali-kali dengan sayang. Hingga belaian itu terhenti tepat di bekas luka jahitan yang berada di dahi kanan Jong In.
"Andai.. andai kecelakaan itu tidak terjadi," ucap Kyung Soo lirih sambil memandangi wajah Jong In.
30 menit sudah Kyung Soo menemani Jong In sambil terus menepuk-nepuk halus dan membelai surai Jong In dengan sayang. Ia terus memandangi wajah Jong In tanpa ada rasa puas. Senyuman yang sangat jarang ia patrikan pun terus terpatri di paras manisnya. Tidur Jong In pun terlihat begitu pulas dan tenang. Bahkan Jong In memeluk kaki Kyung Soo yang terjulur lurus di sebelahnya.
"Terima kasih Tuhan. Engkau telah memberikan keberuntungan dan kesempatan ini kepadaku," batin Kyung Soo.
Bagaikan durian runtuh. Ia merasa sangat beruntung dan bahagia saat ini. Hingga suara bel tanda masuk telah berbunyi. Merusak momen yang bagi Kyung Soo sangat spesial. Kyung Soo mulai panik. Namun dengan hati-hati ia memindahkan tangan Jong In yang semula memeluk kakinya. Lalu memberikan Jong In sebuah lollipop rasa lemon favoritnya yang ia taruh di atas dada Jong In.
"Meskipun aku hanya bisa berada di dekatmu disaat kau hanya terlelap saja, aku rela Jongie. Aku sudah merasa bahagia. Saranghae.." ucap Kyung Soo sambil mengecup kening Jong In sayang.
Kyung Soo melangkah. Menjauh dari sosok yang sangat dicintainya tersebut. Ia tolehkan kepalanya ke arah Jong In. Tersenyum untuk kesekian kalinya. Dan mulai melangkah lagi hingga sosoknya sudah tak terlihat lagi di atap sekolah tersebut.
.
.
"Hoaamm!" Jong In menguap. Ia merenggangkan badannya. Setelah itu menggosok matanya yang terlihat masih sangat mengantuk.
"Sudah sangat lama aku tidak tidur sepulas ini. Ya.. sudah sangat lama. Terasa sangat nyaman," ucap Jong In heran sambil memandang langit.
"Sentuhan itu.. apa nyata?" tanya Jong In berangan-angan. Ia mengubah posisinya yang semula masih telentang menjadi duduk.
TUKK! Mata Jong In menjadi fokus ke arah sumber suara.
"Lollipop lemon?" Jong In mengambil lollipop lemon tersebut. "Siapa yang memberikannya?" tanya Jong In lagi.
Dengan semangat ia membuka bungkus lollipop lemon tersebut. Setelah itu memasukkan permen yang memiliki rasa asam dan manis itu ke dalam mulutnya. Entah kenapa lollipop lemon dan keadaan dimana ia sedang menyantap lollipop setelah bangun tidur itu terasa tak asing baginya. Namun Jong In tak mau berpikir terlalu jauh.
"Tak buruk.."
.
.
"Joon Myeon!" Joon Myeon pun menoleh ke arah suara. Ia tersenyum.
"Yi Xing!"
"Hosh! Hosh! Ada apa hosh kau menyuruhku cepat-cepat kemari!" ucap Yi Xing diiringi dengan napas yang tersengal-sengal.
"Ayo duduk dulu. Ada yang ingin aku ceritakan padamu."
Yi Xing pun mendudukkan dirinya di sebelah Joon Myeon.
"Aigoo keringatmu.." ucap Joon Myeon sambil mengusap keringat yang menetes di pelipis Yi Xing. Yi Xing hanya melongo dan berusaha mengontrol degupan jantungnya yang mulai tak beraturan.
"Ap-apa yang ingin kau ceritakan padaku?" tanya Yi Xing kepada Joon Myeon. Mencoba untuk bangkit dari rasa terlena yang tadi sempat membuatnya mabuk.
"Ini. Minumlah dulu.." titah Joon Myeon pada Yi Xing. Yi Xing langsung meminum minuman isotonik yang diberikan Joon Myeon padanya. Ia merasa tenggorokannya benar-benar kering sekarang.
"Jadi?" tanya Yi Xing setelah meminum minuman isotoniknya.
"Kurasa aku sedang jatuh cinta.."
DEG! Yi Xing membulatkan matanya. Ia menoleh ke arah Joon Myeon. Bolehkan ia berharap jika rasa cinta itu untuknya?
"Dia bernama Do Kyung Soo.."
DEG! Kecewa! Itu yang Yi Xing rasakan saat ini. Mati-matian ia tahan airmata yang mendesak ingin keluar. Ia paksakan sebuah lengkungan manis untuk terpatri di bibir mungilnya. Lengkungan manis yang sebenarnya palsu dan luka.
"Chu-Chukkae. Aku senang mendengarnya hehehe.." Yi Xing bersumpah bahwa ia begitu sakit saat mendengarnya. Senyumannya terlihat bergetar samar. Ia menggenggam jaketnya erat. Melampiaskan segala perasaan yang sudah bercampur aduk dihatinya.
"Disaat pertama kali aku bertemu dengannya, entah kenapa hatiku merasakan sebuah desiran begitu halus. Aku merasa ia sangat tak asing," lanjut Joon Myeon bercerita.
"Aku senang jika kau sudah mendapatkan seseorang yang kau cintai," ucap Yi Xing diiringi oleh senyuman manisnya.
"Kau memang sahabatku yang terbaik Yi Xing.."
"Sahabat yang terbaik ya.." gumam Yi Xing sangat lirih. Sehingga Joon Myeon tak dapat mendengar gumaman Yi Xing tersebut.
"Kuatkanlah aku Tuhan. Aku tahu, aku hanyalah pengecut ulung. Hanya mampu memendam dan tersiksa akan perasaanku sendiri," batin Yi Xing.
.
.
Heechul bertemu dengan Yesung di restoran milik Ryeo Wook. Membicarakan pernikahan anak mereka lebih tepatnya.
"Undangannya akan kusebarkan besok. Bagaimana? Apakah Kyung Soo sudah menemukan pakaian yang cocok?" tanya Yesung sambil menyesap kopi hitamnya.
"Kyung Soo akan mengenakan gaunku, Yesung.." ucap Heechul sambil memeriksa undangan-undangan yang diberikan yesung untuk pernikahan anak mereka. Jong In dan Kyung Soo.
"Apa itu tidak terlalu aneh. Kau tahu kan kal-"
"Aku tahu Yesung. Namun bukankah kita tahu bahwa sebenarnya jati diri Kyung Soo lebih condong kewanita? Sama sepertiku," sergah Heechul.
"hermaprodit atau kelamin ganda. Hermaprodit pseudo male lebih tepatnya. atau diistilahkan dengan laki-laki palsu bukan? Bukankah kalian memiliki kelamin ganda.."
"Ya.. dulu aku dan Kyung Soo memilih jalan kami sebagai wanita. Hingga disaat Kyung Soo berumur sepuluh tahun. Bencana itu terjadi. sehingga mengharuskan Yun Ho aboji dan Kang In ajusshi, ayahmu, menjadikan kami seperti ini.." ucap Heechul sambil membayangkan masa-masa pahit yang sudah mereka lewati.
"Tapi bukankah itu tak mengubah segalanya? Bukankah alat reproduksi kalian tetap dominan menjadi wanita? Mereka hanya menyamarkan bentuk tubuh kalian. Mencondongkan bentuk tubuh kalian untuk menjadi laki-laki. Dan tak mengoperasi alat reproduksi kalian sama sekali kan? Bukankah dengan itu semua kalian lolos dari pencarian Choi Kang Ta?"
"Ya.. itu memang benar. Tapi masih ingat jelas diingatanku. Saat Kyung Soo menangis karena rambut hitam panjangnya harus dipotong sedemikian pendeknya. ia bilang padaku 'Eomma.. Kyungie tak mau rambut panjang Kyungie dipotong! Jongie suka rambut panjang Kyungie! Kyungie mohon jangan dipotong Eomma!" ucap Heechul sambil meniru cara bicara Kyung Soo saat itu.
"Dan akulah sang pemotong rambut tersebut. Dan kau tahu. Gara-gara itu Jong In mendiamkanku selama tiga hari.."
"Aku tahu itu.." ucap Heechul sambil tersenyum.
"Sudahlah jangan terus-terusan mengingat masa lalu. Bukankah itu terlalu kelam?"
"Ya.. sangat kelam dan masih sangat rahasia.."
TBC
EdeL's Note : Maaf banget ya readers… sekian lama baru update hehehehe. Maafin saya yang semakin lama FF ini semakin absurd hehehe. Dan maafkan saya FF ini membingungkan kalian. Tapi lama-kelamaan akan jelas semuanya. Memang sengaja EdeL ngebuatnya masih ngegantung begini hehehe. Jangan lupa RnR ya! Itu semangat saya buat ngelanjutin ni FF hehhehhehe. GOMAWO! INGAT! READ AND REVIEW! Tapi komen lebih penting sih sebenarnya hehehehe. RESPON itu yang paling diinginkan oleh seorang AUTHOR! HEHEHEHHE
