Chapter 07

Little Screet

Secret Mission

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina

Rated : T

"Moshi-moshi" Kataku menjawab telepon yang berbunyi tersebut setelah kulihat nomor orang yang sangat kukenal tersebut.

"Jangan belagak formal, Teme" Jawab suara dalam telepon tersebut. Aku mendesah pelan mendengar suara tersebut.

Yak...! Mungkin hanya ada satu orang yang memanggilku 'Teme' didunia ini. Dan itu adalah sahabatku sejak kecil yang sekarang meneleponku dari daerah Otogakure, Naruto.

Naruto bocah yang sangat berisik sekaligus energik. Berbeda denganku yang selalu berpikir dan pendiam. Dia memiliki keahlian dibidang teknik sehingga aku dan dia sudah berkali-kali menyabet kejuaraan robotika nasional Jepang.

"Ada apa sih kau menelepon malam-malam kayak gini, Dobe" Keluhku dengan suara kesal atau lebih tepatnya dibuat sekesal-kesalnya.

"Emangnya gak boleh ya ? Disini masih siang lho" Candanya seperti membohongi anak kecil. Aku tahu kalo Otogakure dan Konohagakure tidak begitu terpisah jauh sehingga bahkan tidak akan ada perbedaaan waktu semenit pun antara aku dan Naruto yang sekarang menelepon dari Otogakure.

"Apa yang mau kau bicarakan, langsung keintinya aja" Kataku memperingatkan Naruto untuk langsung berbicara pada intinya saja. Meskipun dia yang membayar pulsa telepon tapi tampaknya akan memakan sangat banyak waktu yang sia-sia dihadapannya.

"Aku hanya menanyakan pengalamanmu dihari pertama di Konoha ?" Tanya Naruto langsung menuju intinya. Kudesahkan nafasku pelan begitu mendengar pengakuan tidak berguna tersebut.

"Hanya itu ?" Tanyaku sambil mendesah malas mendengar pengakuannya yang ternyata hanya ingin tau pengalaman pertamaku di Konohagakure.

"Kau masuk ke SMA Konohagakure kan ? Disana pasti banyak cewek cakep, aku denger dari temenku yang sekolah disana" Cerocos Naruto yang ternyata juga punya temen di SMA tersebut.

"Siapa namanya ?" Tanyaku mencoba untuk memperpanjang dialog. Yah...! Meskipun aku sama sekali gak tertarik ama temen si duren busuk itu.

"Kiba, Inuzuka Kiba. Rambutnya coklat jabrik dan ada tatoo taring merah di kedua belah pipinya. Aku belum tahu asal usul tatoo tersebut dan kenapa dia tidak dihukum gara-gara tatoo tersebut. Kau lihat dia ?" Cerocos Naruto tanpa henti. Coba kuingat-ingat dulu, apakah tadi aku melihat dia ? Kayaknya tidak dech, aku tadi pingsan di ruang UKS.

"Kayaknya nggak tuh, aku tadi sempet jatuh dari kursi dan tepat pada tengkukku sehingga aku pingsan cukup lama sampe jam pelajaran berakhir. Cukup membosankan" Keluhku mengingat hari-hariku yang terasa sangat menyakitkan tadi.

"Heh...! Jatuh dari kursi ? Kau gak sedang coba-coba main akrobat kan ?" Tanya Naruto dengan nada yang cukup penasaran.

"Aku tadi bergulat dengan cewek sebangkuku. Lalu dia mendorongku sampai jatuh dari kursi" Kataku menjelaskan. Terdengar suara tawa samar dari telepon Naruto.

Si brengsek itu ternyata tertawa diam-diam disana. Mungkin dia sambil membayangkan keadaan yang tidak elit tadi.

"Heh...! Sabar ya, Teme" Kata Naruto seolah aku ini hanya seorang anak kecil yang butuh nasehat. Padahal sendirinya juga anak kecil yang butuh nasehat.

"Dobe, kau tau gak forum hentai yang asik ?" Tanyaku begitu mengingat suatu hal yang berhubungan dengan hobi Hinata.

"Kenapa kau tiba-tiba tanya begituan ? Jangan-jangan kau mulai tertarik ama dunia animasi lalu meninggalkan cewek yang asli ya. Fansmu dikelas lumayan banyak lo, sayang kan ?" Kata Naruto dengan sedikit nada heran dan nada lelucon di suaranya.

"Bukan buat aku, tapi buat seseorang. Aku merencanakan sesuatu untuk membantu orang tersebut" Kataku menjelaskan tentang hentai tersebut.

"Heh...! Apa maksudmu dengan 'membantu'nya ?" Tanya Naruto dengan nada penasaran.

"Temen sebangkuku suka banget dengan gambar hentai. Dia cewek dan aku mengetahui rahasia itu tadi siang. Lalu sepertinya dia ngefans sama Kimimaro tuh. Lalu gue ada rencana jika dia bener-bener mencintai Kimimaro ?" Jelasku menjelaskan tentang asal-usul Hinata yang sekarang jadi pacar bo'onganku.

"Wah...! Mulya sekali hatimu, Teme" Ledek Naruto lalu kudengar tawa samar seperti yang tadi.

"Oh, ya. Besok aku akan ke Konohagakure, aku ada kejutan untukmu. Lalu ngomong-omong gimana dengan orang 'itu' ?" Hatiku langsung bergetar begitu mendengar Naruto membicarakan orang itu.

"Kudengar dia menyusup ke Konohagakure. Dan kau pindah karena mengejarnya bukan ?" Tanya Naruto dengan nada serius.

"Aku masih satu hari di Konoha jadi aku belum dapet petunjuk sepeser pun" Kataku.

"Sou ka" Kata Naruto dan kemudian kututup teleponnya setelah mendengar suara Naruto yang sedang menguap tersebut.

Aku masih penasaran dengan ucapan Naruto yang tadinya ingin pergi ke Konohagakure dengan sebuah kejutan.

Kulihat daftar kontak yang kuperoleh dari Hinata untuk kulihat-lihat sebentar.

Sakura Haruno ?

Dia yang berambut pink dibelakang itu ya ? Rasanya aku pernah liat dia dech.

Oh ya, aku emang pernah liat cewek berambut pink itu. Kupencet tombol call di hapeku untuk menelepon cewek itu.

Sembari kumenunggu, lantunan lagu single pertama Hebi terdengar di hapeku. Kulihat jam digital yang berada di pojok kanan atas hapeku dan menyadari kalo sudah cukup malam yaitu setengah sembilan.

"Moshi-moshi" Terdengar suara seorang yang cukup lembut diseberang telepon tersebut.

"Halo...! Sakura, aku mau tanya suatu hal, apakah besok ada pesta di sekolah ? Aku Sasuke" Tanyaku langsung pada intinya saja.

"Nggak ada tuh, siapa yang memberitahumu ?" Tanyanya balik. Aku tau dia bo'ong, OSIS emang selalu bo'ongin muridnya untuk suatu kejutan.

"Duren busuk dari Otogakure" Jawabku. Sakura tampak terdiam sejenak, tapi aku berhasil memancingnya begitu aku mendengarkan bunyi desahan pelan dari mulutnya tersebut.

"Bo'ong kan ?" Tanyaku dengan nada yang sangat kubuat-buat untuk membuat Sakura mengakuinya.

"Darimana kau tahu hal itu ?" Tanya Sakura dengan nada penasaran.

"Temanku dari Otogakure memberitahuku bahwa dia akan datang besok ke Konohagakure. Kupikir aneh saja bila saat hari sekolah gini akan datang bepergian dari kota yang jauh tersebut sehingga aku berkesimpulan bahwa dia diberi tugas dari sekolahnya" Jelasku.

"Lalu, apakah duren busuk itu memberitahukan tentangku padamu ?" Tanya Sakura dengan nada marah.

"Bukan, aku pernah melihatmu di foto saat taman kanak-kanak. Lalu, saat di kantor guru pun aku melihat fotomu di kalender. Jadi aku berkesimpulan bahwa kau, adalah pacar Dobe yang kemudian bersekongkol dengannya untuk membuat pertunjukan dengan Hebi sebagai bintangnya. Right ?" Tanyaku dengan nada suara seperti seorang detektif yang berhasil memecahkan kasus.

"Jangan kau kabarkan ini pada Dobe. Biarkan aku yang memberinya kejutan" Kataku sambil bersiap untuk menutup telepon.

"Chot...Choto matte kudasai" Suara Sakura jelas membuatku langsung berhenti.

"Apa lagi ?" Tanyaku dengan nada tak sabar.

"Siapa kau sebenernya ?" Tanya Sakura dengan nada yang sangat penasaran. Kutersenyum lemah dalam telepon tersebut.

"Menurutmu ?"

-0-

"Bukankah agak berlebihan ?" Kataku begitu melihat mobil berwarna merah terang itu parkir tepat di depan rumahku saat aku berjalan menuju garasi untuk mengambil sepeda megapro milikku.

Aku pun berjalan menuju mobil tersebut dengan membuka pagar depan dan kulihat Hinata tersenyum membuka jendela bagian belakangnya.

"Yo, Ohayou" Sapaku sambil berjalan mendekati jendela mobil tersebut.

"Naiklah" Perintah Hinata sambil bersiap membuka pintu belakang mobil tersebut.

"Bentar" Kataku sambil mendekat pada Hinata sambil menahan pintu agar tidak terbuka.

"Apa-apaan sih kau ? Aku bisa berangkat sendiri tau gak ?" Protesku pada Hinata yang hanya memandangku dengan tatapan meremehkan.

"Mudah, aku gak mau kau benar-benar membocorkan rahasiaku" Kata Hinata dengan wajah tenang. Ya ampun...! Kutepuk jidatku dengan cukup keras mendengar ucapan Hinata yang paranoid tersebut.

"Naiklah, cepetan" Desak Hinata sambil tetap mendorong pintu tersebut agar terbuka. Kulihat pintu depan yang masih tertutup.

Kuberjalan dengan cukup tergesa-gesa kearah pintu depan dan langsung mengetuk pintunya dengan cukup keras.

"Ada apa ?" Seseorang dengan rambut hitam jabrik dan wajah lumaan seram pun membuka jendela dan membentakku dengan suara yang berat dan keras.

"Biarin aku yang menyetir" Kali ini dia langsung merubah ekspresinya yang tadinya mau marah menjadi kaget.

"Heeehh...! Kau mau nyetir ?" Hinata yang malah terkaget-kaget mendengar aku mau nyetir.

"Ya, makanya cepet buka" Perintahku pada sopir yang masih kaget tersebut. Sopir itu menoleh kearah Hinata untuk memastikan tindakanku.

"Awas kau...!" Ancamku dengan tatapan mata tajam ala elang. Hinata mendesah pelan sambil menundukkan kepalanya.

"Biarkan dia mencoba" Kata Hinata sok denganku. Kusunggingkan sebuah seringai tipis di bibirku sambil berpindah kekursi kemudi.

"Bisa kau pindah kedepan, nona Hinata" Kataku meminta tolong pada Hinata untuk berpindah kedepan dengan nada seorang pelayan.

"Hhhhh...! Apa katamu pangeran" Ledek Hinata sambil berpindah kebangku depan disampingku dan sopir itu sekarang berpindah ke bangku belakang.

Aku pun memasukkan perseneling dan langsung menjalankan mobil tersebut dengan kecepatan sedang lalu langsung menambah kecepatan secara drastis.

"Hei...! Kau masih pemula kan ? Jangan terlalu cepat" Hinata mulai panik melihat dia sudah berada di kecepatan enam puluh km/h.

"Enak aja, kamu tuh yang masih pemula. Aku sudah mengendarai mobil sejak kelas enam SD tau" Sungutku pada Hinata yang hanya mendengus kesal.

"Ne, Sasuke...-kun" Dia tampak ragu-ragu memanggilku dengan sufiks -kun. Kulirik dia sekilas sebelum akhirnya fokus kembali kejalanan.

"Kalo mau panggil dengan sufiks -kun boleh saja" Kataku sambil tersenyum kecil kearah Hinata yang tampak malu-malu tersebut.

"Hinata-chan" Kataku sambil tersenyum meledek yang langsung buat ekspresi Hinata berubah mendadak.

"Jangan seenaknya bilang dengan sufiks -chan atau -tan, baka" Sungut Hinata sambil melipat kedua tangannya dan memanyunkan bibirnya. Aku hanya terkekeh pelan sambil memasukkan gigi perseneling dari dua menjadi tiga dan menambah kecepatan setelah melalui lampu merah di perempatan dekat pasar Konohagakure.

Ada sesuatu yang menggangguku saat ini. Mungkinkah akan kutanyakan ? Kutanyakan saja.

"Ne, Hinata. Ada hal yang harus kutanyakan ?" Kataku membuka pertanyaan sambil menyetir. Sekolah kurang satu kilometer lagi jadi aku harus selesaikan semuanya.

"Eh ?" Hinata tampak menggumam pelan sambil menoleh kearahku.

"Kenapa kau menjadikanku pacar sementaramu ? Bila aku jadi kau, aku pasti akan langsung membunuhmu atau paling tidak mengancammu agar tidak memberitahukan apapun tentang rahasiaku" Tanyaku langsung pada intinya. Hinata tampak terdiam dengan hal tersebut. Tampaknya dia berpikir keras untuk menemukan hal yang hilang itu.

Aku juga merasa aneh dengan hal itu karena bisa saja Hinata mengacuhkanku, mencoba untuk mengancamku atau bahkan menyewa seorang pembunuh bayaran (oke, saya akui, ini terlalu lebay).

Apakah Hinata menyukaiku ?

Kutepis pikiran gila tersebut dari benakku karena hal itu bisa dengan mudah dieliminasi dari jumlah kemungkinan alias hal itu mustahal atau mustahil.

"Ummmm...! Kenapa ya ?" Kata Hinata dengan ekspresi wajah berpikir sambil memandang keluar jendela. Apa kupancing aja dia ya ? Baiklah, kupancing dia.

"Perasaan ?" Tanyaku dengan nada datar meskipun dalam hati aku gugup setengah mati.

"Enak aja" Sungut Hinata dengan sewot. Kusunggingkan sebuah senyuman kemenangan begitu mendengar ucapan yang sewot tersebut.

"Oh, mungkin aja aku berharap kau bisa sedikit mengubah kebiasaan buruk tersebut. Kau kan punya wajah-wajah intelektual" Kata Hinata sambil tersenyum meledek.

Emang gue kayak gitu ya ?

TBC

Apa misi besar Sasuke ? Siapa yang dimaksud dengan orang 'itu' oleh Naruto ? Sekali lagi, siapakah Sasuke sebenernya ?