AyamLvJidat
Naruto Masashi kishimoto
AyamLvJidat Yusha'Daesung AyamLvJidat
Warning :
SasuSaku,NejiTen, NaruHina, SaIno Pairs. AU. OOC. T semi M. Etc.
Enjoy With This One
"Kalau begitu~" pemuda itu menarik tubuh Sakura yang menegang ke dekapannya. Walau gadis itu melawan, tentu saja tenaga Sasuke tetap yang paling kuat di sini. Mengingat sebagaimana kodrat wanita pada umumnya. "~kau maukan jadi induk unggas. Sayang~"
Mata emerald Sakura melebar dengan sempurna, dan detik berikutnya berkedip cepat. Wajah bingung tingkat akut sangat nampak di wajah leader dari Heaven Four itu. Bagaimana tidak, heh? Demi rambut ayam milik pemuda itu. Ia benar Uchiha Sasuke bukan?
Apa tadi?
Jadi induk unggas katanya?
Itukan berarti―
Bibirnya merenggang sedikit, wajah Sakura berubah menegang seketika. Bahkan sekarang jantungnya berdegum tak jelas dengan nada sangat kampungan, aih~ bahkan Sakura malu sendiri kala tahu bahwa itu memang suara jantung miliknya.
Uchiha Sasuke menyatakan cintanya dengan tidak elit dan jauh sekali dari kata romantis. Tipikal Uchiha kebanyakan tampaknya.
Sebelumnya, Ia―Haruno Sakura tak akan dan tak mau membayangkan bagaimana ini semua akan terjadi. Memimpikannya saja enggan, tapi bukan berarti tidak pernah ya.
Haruno Sakura. Kenapa harus dia yang disukai pemuda berambut chicken butt ini? Kenapa bukan yang lain saja? Yang lebih feminim, manis, rendah hati dan juga lebih bisa menjaga attitude. Sekali lagi, kenapa harus dia?
Bukannya si ayam ini mengatainya jelek, jidat, gulali, merah jambu, berisik, menyebalkan dan paling parah adalah setan perempuan.
Sakura tampaknya tidak melewatkan satu-pun panggilan 'sayang' dari ayam jantan itu padanya, heh?
Ya, itu terjadi waktu dulu mereka bertengkar soal tabung reaksi yang tidak sengaja tersenggol Hyuuga Hinata di Lab sekolah. Dan saat itu mulut pedas Sai mengatai Hinata macam-macam namun tidak terkesan kasar. Kau tahu sendiri bukan, biar raut wajahnya―sangat amat innoncent―Sai, terkadang memang suka asal membuka mulutnya. Tidak pintar membaca situasi tampaknya. Padahal Ia tahu, gadis Hyuuga itu paling tidak bisa dimarahi.
Walau dengan nada pelan sekalipun. Apalagi Sai membentaknya. Bisa di pastikan bagaimana wajah Hinata saat itu, menahan tangis dengan pipi memerah dan bola mata berkaca-kaca. Ugh, malangnya kau Hinata.
Sebagai leader, Sakura waktu itu tentu saja tak mau tinggal diam. Masa anggotanya sedang dikatai oleh musuh, Ia sebagai ketua hanya berdiam saja. Maaf sajalah, itu bukan tipenya.
Sakura spontan menghampiri dan mencengkram kerah baju si pucat Sai. Sedang Hinata di larikan oleh Ino sembari di rangkulnya erat menuju Tenten yang melongo di meja tempat mereka mengadakan percobaan reaksi kimia. Hell Four bukan tak ada saat itu. Mereka ada, dan menyaksikan penindasan gadis pemalu Heaven Four itu dengan seringai menyebalkan mereka.
Terkecuali Naruto yang sedari tadi menahan diri. Ia duduk gelisah dengan hasrat ingin memukul telak wajah tanpa dosa milik Sai itu. Tapi sayang, Naruto belum bisa jujur saat itu.
Gadis itu menyalak, dan balik memaki Sai dengan kata-kata pedas, untungnya waktu itu guru pengawas Lab sedang keluar. Jadi kendali aman di tangan leader Haruno Sakura.
Tapi ya memang dasar grup mesum, si Sai itu malah menyeringai dan menarik Sakura ke pelukannya. Ia dengan tanpa bersalah malah membisikkan hal yang begitu menggelikan di telinga si gadis. Dan di saat itu juga, Sasuke Uchiha datang dan menarik Sakura. Ia mengatai Sakura macam-macam―dengan ejekan biasa mereka pastinya. Entah marah karena apa, pemuda itu sampai sebegitu murka padanya dan juga Sai. Harusnya kan si Sai yang disalahkan, bukan dia.
Tipe membingungkan.
Tapi Sakura tak suka dengan ejekan 'setan perempuan' yang keluar dari mulut Sasuke.
Seperti pelecehan, baginya.
Kembali ke pemikiran awal di kepala merah jambu Sakura.
Sekarang apa yang harus Ia katakan? Hey, jawaban 'ya' atau 'tidak' yang harus Ia pilih? Ayolah, apa ada pilihan kata lain selain dua kata itu?
Sebenarnya dia juga bingung tentang perasaannya. Kenapa dia jadi sulit berpikir seperti Chouji yang kekenyangan begini. Ini bukan dia. Kemana sosok Haruno Sakura yang cerdas dan jahil. Kemampuan itu malah seakan hilang di telan debaran jantungnya yang bergema di permukaan dindingnya. Argh! Ini gila. Jika bisa, Sakura ingin menembus tanah dan timbul di kelas untuk memaki Ino yang seenak kepalanya meninggalkannya dan tertelan situasi semenyebalkan ini.
Sasuke merengkuh punggung gadis itu dengan tangan kanannya, sedang lengan kirinya terangkat mengusap pelan kepala merah jambu jemarinya di antara helaian merah muda itu, meyusurinya dari atas sampai pada ujungnya. Wajahnya terkubur tenang di tengkuk kiri si gadis. Menghirup dalam-dalam aroma lembut milik gadis berambut gulali itu. Mengingat wangi apa yang memenuhi rongga paru-parunya saat ini.
"Apa jawabanmu?" ucapnya kemudian, setelah tahu wangi apa yang Sakura gunakan sekarang. Gadis ini, murni masih menggunakan wewangian khas bayi. Dan wangi lembut itu yang Sasuke suka.
Kenapa Sasuke bisa tahu?
Tanya saja pada Itachi Uchiha yang selalu menitipkan anaknya pada Sasuke jika kakak tunggalnya itu tengah berlibur dengan sang istri Hana Inuzuka. Maka, Sasuke-lah yang mengambil alih makhluk kecil itu. Seorang keturunan murni Uchiha, dengan sepasang pipi chubby dan juga dua buah bola mata onyx yang selalu menatap Sasuke dengan tatapan miris nan menggemaskan. Gengsi Sasuke bisa dipastikan runtuh jika sudah berhadapan dengan tubuh kecil berjari-jari mungil itu.
Sasuke sering mengajak anak umur tiga bulan itu untuk mengobrol dengannya menggunakan bahasa cadel khas anak kecil. Si bayi di kereta, sedang Sasuke berjongkok di hadapannya dengan memegang sebuah mainan kenyal yang biasanya untuk merangsang pertumbuhan gigi pada bayi. Pemuda itu kadang ikut sesekali mencuri-curi kesempatan untuk menggigit benda itu. Rasa penasaran mungkin? Tapi, bagaimana kalau warga sekolah atau teman-teman Sasuke tahu ya?
Helaan nafas Sasuke barusan, jujur membuat Sakura merinding sendiri. Lihat saja, bulu halus tangannya remang berdiri.
Walau bingung, Sakura dapat menarik keismpulan dari apa yang Ia rasakan. Dan Haruno Sakura itu pintar mengartikan apa arti dari debaran memalukan yang ada padanya sekarang dan hari-hari kemarin sebelum ini. Ia juga menyukai si ayam pervert. Sasuke Uchiha.
Ia―Haruno Sakura mengangguk singkat, seiring dengan tangannya yang naik―agak ragu membalas pelukan musuh besarnya itu. "Y-ya." Sahutnya, lalu menelan ludah dengan wajah bercoret merah muda pada kitaran pipi ranumnya. Ia menghela nafas dalam, saat penciumannya dipenuhi wangi maskulin pekat dari Sasuke. Walau sudah terkontaminasi keringat, tetap saja wangi itu begitu lekat di indra penciumannya.
Seringai Sasuke berkembang.
Heh! Sakura sekarang resmi miliknya. Dan Sabaku tanpa alis. Jauhi gadis Haruno milik Uchiha! Sasuke membatin puas penuh kemenangan.
"Tapi ada satu syarat―"
APA?
Syarat?
Sasuke spontan melepaskan pelukannya, Ia mendelik kearah kekasih barunya itu. Sedang Sakura mengangguk singkat dengan tampang―pura-pura―polos miliknya.
"Syarat apa?" Nada suaranya terdengar kesal, Ia mendengus keras. "Kau ini sebenarnya serius tidak heh?" alis pemuda itu bertaut bingung. Memperhatikan Sakura. Kali ini dari ujung kaki sampai tepat pada bola mata yang menatapnya dengan berbinar, seolah meminta sesuatu darinya.
Gadis kita ini hanya tersenyum semanis mungkin, dan dengan pelan membuka suara. "Serius lah, tapi jika kau mau juga sih ayam." Bola matanya berputar jenaka untuk kali ini. Soalnya, Ia ragu juga kalau Sasuke akan setuju akan hal ini. Tahu sendirikan sebesar apa gengsi Uchiha Sasuke?
Otaknya tampak mulai berkerja lagi sepertinya. "Aku kan tahu kalau kau itu pengecut ja―"
"Apanya?" Tanya Sasuke gusar, menyela kalimat menyindir Sakura sebelum benar-benar mampir ke gendang telinganya. Ia memasukan kedua lengannya di dalam saku dan mengepal di sana. Ekh! Salah jatuh cinta kau Uchiha! "Apa syarat darimu, jidat?"
Senyum manis Sakura mengembang. Ia menarik nafas sebelum berkata, "syaratnya adalah―"
××XX××
Ino berkali menyumpahi komik milik Tenten yang tengah Ia remas-remas. Lalu Ia pukulkan berkali-kali pada sisi meja dengan tampang gemas. Kesal dan marah.
Panas! Entah kenapa, hati Ino berasa panas. Ia membeliak saat melihat Sai yang baru sampai tengah bersandar di daun pintu dengan seorang gadis yang Ino tahu anak kelas sebelah. Lihat gayanya saja sudah membuat emosi Ino meletup-letup tak jelas rasanya.
Tapi kalau dipikir, cantik Ia ke mana-mana tahu. Dia bisa saja saat itu juga memasang wajah―sok sedih atau menderita mungkin, dan dapat dipastikan semua pemuda yang ada di pinggir jendela itu langsung melesat ke arahnya dengan sebatang coklat atau mungkin bunga curian. Tapi sayangnya Ino sedang kehilangan mood terbaiknya untuk menjadi aktris dadakan saat ini.
Sesekali Ia mengerucut tak suka,lalu membuang muka ke arah lain saat matanya bersirobok dengan onyx Sai. Pemuda itu tersenyum menyebalkan ke arahnya membuat Ia benar-benar kesal melihat tingkah Sai yang terkesan menganggap bahwa tidak ada satu masalah-pun di antara mereka. Padahal, tingkah cuek Sai pagi ini―dan puncaknya di kantin tadi, sudah membuat kepala Ino panas. Sok datar, pikirnya.
Setahu Ino juga, Ia tidak memiliki masalah apapun pada Sai sebelum hari ini. Pintar sekali pemuda itu memainkan emosinya. Menyebalkan.
Pandangan Ino beralih ketika Ia menangkap Tenten yang meneriakinya dengan suara yang cukup nyaring. Gadis itu tampak tengah terburu-buru berjalan ke arah bangku yang tengah Ino duduki dengan wajahnya yang gusar bercampur kesal. Matanya terpancang bergantian, antara Ino dan juga sebuah buku yang tengah gadis itu gulung.
Ino meringis sebentar, makin kiat menggulung buku itu di tangannya. Kerena saking gugupnya.
Gadis itu murka tampaknya, Ia menyela Ino sebelum si blondie itu sempat angkat bicara. "Apa yang kau lakukan pada komikku, Ino?" dan dengan cepat merebut komik itu dari tangan penghancur Ino, sedang Ino hanya diam memperhatikan Tenten dengan raut bersalah. Ia meluruskan komiknya yang tampak kusut dan kumal akibat ulah sobat blondienya yang satu itu.
Hilanglah koleksinya yang satu ini. Sialan Ino!
Di belakang Tenten berdiri Hyuuga Neji yang hanya menghela nafas bersidekap dengan wajah datar memperhatikan mereka―kekasihnya Tenten, dan juga Yamanaka Ino yang tengah berdebat sengit demi sebuah buku bergambar. Neji hanya bisa maklum, kekasihnya itu maniak komik dan Neji mau tak mau harus menerima itu dengan lapang dada bukan?
Ino menarik ujung bibirnya, tersenyum namun tampak meringis. Bukan apa-apa, kejadian tak selang beberapa bulan yang lalu kembali berputar di kepala kuningnya. Saat di mana Tenten tidak mau menegur atau sekedar menyapanya karena Ino tidak sengaja menginjak komik miliknya.
Apalagi sekarang, di saat semua yang dilakukan Ino adalah mutlak hal yang sama. Tapi dalam kasus berbeda.
"Maaf, aku emosi Ten." Akunya, sedikit melirik Neji memohon bantuan. Gadis Yamanaka itu berdehem pelan masih dengan nada gugup. Saat itu juga Tenten menarik tinggi alis kirinya, sedang Neji tampaknya tak mengerti kode aneh dari Ino. Hyugaa itu sekarang malah menarik ujung alisnya mengikuti Tenten, ada apa dengan gadis itu? Pikirnya aneh. Karena sekarang Ino lebih terlihat seperti orang yang terkena sembelit.
"Halah―" Tenten menyipit tak suka, "―emosi? Lalu kau menjadikan komikku sebagai pelampiasanmu? Iya, heh?" lanjutnya tak sabar. Wajahnya makin mengeras melihat Ino yang tampaknya tak mau bertanggung jawab akan perbuatannya. Ditaruhnya komik tak bersalah itu pada meja. "Kau ini, ini yang kedua kalinya nona." Heh~ ternyata Tenten tak lupa akan kejadian itu, ckckckck. Kalau hal ini terjadi lagi, katakan 'caw' pada Yamanaka Ino. Karena Tenten, akan memberikan hukuman yang cukup 'ngeh' untuk gadis ceroboh macam Ino.
Kepala Ino mengangguk, lalu tertunduk lesu. Ia yakin, teramat sangat yakin. Tenten akan marah padanya kali ini jauh lebih parah dari kemarin. Andai Ino tahu, mungkin Ia akan memastikan, jika Tuhan mengijinkan, Ino tidak akan melakukan hal itu lagi. "Maafkan aku," gumamnya dengan nada rendah. Bola matanya bergerak gelisah bahkan tanpa sadar, Ia mulai menautkan kedua belah tangannya dan saling cengkram-mencengkram.
Bagi Heaven Four, sosok Tenten bagaikan kakak tertua mereka. Dan itu yang meyebabkan mereka segan pada gadis itu.
Sialan! Hyuuga Neji ternyata tek sepintar yang Ia kira. Pemuda itu malah tetap datar seperti tadi. Dasar bodoh! Batin Ino mengamuk.
"Aku yang menggantinya."
Kepala Ino terangkat cepat, Tenten dan Neji menoleh menatap Sai yang berjalan ke arah mereka namun melewati barisan bangku lainnya. Pemuda itu mendudukan diri pada bangku kosong di sebelah Ino. "Sampai seri akhir, asal jangan memarahinya. Bagaimana?" Tawar Sai, Ia merangkul pundak Ino yang mendelik ke arahnya. Pemuda itu meringis saat tangan Ino melesak mencubit perut bawahnya. Sai mengurungkan niatnya untuk merangkul Ino.
Tenten mengangguk, "baiklah. Aku memaafkan dia." Tenten berseru sembari melirik Ino yang tersenyum ke arahnya, gadis itu menyeringai mengalihkan pandang pada Sai, "ku tunggu janjimu dua hari lagi Nakamura Sai." Sambungnya tanpa ragu sedikit-pun.
Sai mengangkat bahunya cuek. "Aha,"
"Terimakasih." Gumam Ino tak jelas dengan nada super cepat tanpa menatap Sai. Gadis itu malah melihat kearah Tenten yang sekarang tengah mengernyit dengan tampang anehnya. Mungkin gadis itu bingung, sejauh mana hubungan mereka―Ino dan Sai selama beberapa hari ini. Berhubung mereka jarang kumpul dan bercerita-cerita seperti biasa, terlampau sibuk dengan masalah masing-masing tampaknya.
"Kau bilang apa tadi?" Sai memajukan tubuhnya kearah Ino, lalu menarik dagu gadis itu agar menoleh ke arahnya, tentu saja hal itu mau tak mau membuat wajah mereka berada dalam jarak cukup tipis. Wajahnya dibuat seimut mungkin. "Aku tidak dengar," sambungnya. Akal-akalan Sai biasanya akan berjalan mulus. Dan well, lihat Ino.
Wajah gadis itu memanas, entah kesal, atau malu. "Terimakasih." Ulangnya agak nyaring dari yang tadi dan tentu saja dengan nada yang lambat.
"Hey kami ke kantin ya." Neji menyela. Pemuda itu tidak ingin menghalangi rencana sobatnya itu, jadi Ia menarik tangan Tenten yang memandang Ino khawatir. Dari pada semuanya hancur berantakan, pikirnya. Setelah ini apalah yang akan Ia buat untuk menjadi alasan Ia mengajak kabur Tenten, asal semuanya beres.
Tanpa menarik jarak, Sai menjawab. "Dengan senang hati."
Pasangan karate itu-pun beranjak dengan pundak Tenten yang di dorong Neji keluar kelas, karena gadis itu masih belum bisa melepas sobatnya dalam keadaan genting dengan makhluk seperti Sai. Neji sempat mengacungkan jempol kanannya ke arah Sai sembari menyeringai. Sai meliriknya dan menarik ujung bibirnya.
Sai kembali menatap Ino, kali ini Ia tersenyum hangat pada gadis itu. Memeluk Ino. "Tidak gratis loh," bisiknya pelan, lalu mencium helaian kuning yang jatuh bebas di pundak si gadis.
Ino menganga, apa? Tidak gratis katanya?
"Maksudmu?" Memang selain mesum, mereka―Hell Four itu pelit semua ya? Tapi, cocok saja mereka kaya. Pelit semua! Ino mendengus dalam hati, meruntuki pertolongan hitungan dari Sai.
Kembali tersenyum, Sai berucap pelan di bagian telinga kiri Ino. "Berdandanlah sesederhana mungkin, namun manis." Pemuda itu melepas peluknya. Mengusap sisi wajah Ino dengan tangan besarnya, "jam tujuh malam nanti ku jemput." Sambungnya tanpa membuang senyumannya sedetik-pun.
Sai beranjak dari sana setelah mengecup singkat kening Ino dan menampilkan senyum terakhir terbaiknya pada gadis itu.
Harusnya Ino senang saat ini bukan?
Tapi entah kenapa Ia malah merasa terancam setelah ini.
××XX××
"Aih itu Neji." Naruto berseru girang. Ia menarik-narik tangan Hinata yang tengah duduk di pinggiran pot bunga besar. "Ayo Hinata!" Ajaknya kemudian.
Hiperaktif sekali sih Uzumaki ini. Lihat, kasihan Hinata. Wajahnya pucat, nafasnya tersenggal tak jelas dengan bunyi 'glek' berkali-kali keluar dari kerongkongannya. Dandanannya juga tampak berantakan, entah apa yang pemuda itu lakukan sampai kekasihnya yang imut ini sampai sekacau ini. Naruto sungguh terlalu.
Bagaimana tidak. Kekasihnya tersayang―Uzumaki Naruto, sudah begitu menyiksanya hari ini dengan berkeliling sekolah yang ukurannya 'ngeh' hanya untuk mencari anggota Hell Four yang lain. Gila! Tapi kalau sudah cinta mau diapakan lagi, Hinata hanya bisa pasrah saat Naruto berseru seperti melihat Neji, Sasuke, ataupun Sai. Dan akhirnya pasti selalu salah orang. Memalukan.
Harusnya Naruto tahu bukan bahwa Ia memiliki sahabat-sahabat dengan wajah di atas rata-rata, lantas? Kenapa sampai tidak bisa membedakannya?
Hinata mendongak, matanya menatap Naruto yang berdiri menjulang di hadapannya. "K-kau yakin Na-Naruto?" Ia was, was. Masalahnya sudah hampir kurang lebih dua puluh orang yang di terka sebagai anggota Hell Four oleh Naruto. Dan hasilnya, nihil. Salah semua. Kalau yang ini sampai salah lagi, entahlah.
Kepala Naruto mengangguk mantap, Ia menunjuk Kantin dengan pasti. "Lihat! Dia dengan temanmu!" serunya, tangan kanannya memegang pipi Hinata memaksanya menoleh menghadap sosok yang tengah di tunjuknya.
Hinata menurunkan lengan Naruto dengan cepat, "ma-maaf, tidak sopan Na-Naruto." Ucapnya gugup, Ia menyipit kearah itu. Kali ini benar. Gadis itu membatin senang.
Naruto memasang cengiran khasnya, Ia mengusap pelan puncak kepala Hinata. "Hehehehe, maaf." Untung Naruto memilih Hinata, coba kalau Sakura, Ino dan yang paling parah Tenten. Bisa remuk dia. Sudah ceroboh, tak sopan pula.
Naruto memang patut bangga pada dirinya sendiri.
―kenapa?
Ok, tentu saja karena sudah berhasil menggeser posisi para pemuda lain yang antri mencari perhatian gadis Hyuuga itu. Kau bukan tidak tahu bukan, bagaimana posisi grup para gadis Heaven Four di sini. Sekumpulan gadis dengan prilaku di atas rata-rata dan wajah yang di atas rata-rata pula.
Dan terutama Hyuuga Hinata. Manis, sopan, pemalu dan baik hati. Oh~sempurnalah di mata Naruto dan fans dari gadis itu. Hinata mungkin juga memiliki kekurangan, dan sepertinya kekurangan itu ada pada Naruto―kekasihnya―jadi, itu sama saja lengkap melengkapi paket bukan. Dan itu yang sebenarnya disebut pasangan.
Begitupun Naruto, kekurangannya di tutupi oleh kehadiran Hinata.
Hinata mengangguk singkat, lalu beranjak berdiri dari posisinya.
"I-iya, tak apa." Sahut si gadis pelan, sembari menepuk belakang roknya yang―agaknya kotor terkena serpihan pasir dari tempatnya duduk―dengan gugup. Kepalanya masih di biarkan merunduk malu, "ja-jadi?" sambungnya. Sebenarnya, tak usah di lihat, Hinata sudah tahu apa kegiatan Naruto sekarang. Pemuda itu pasti tengah tersenyum lebar ke arahnya. Jikalau Ia melihat-pun, Hinata tidak akan mampu mengelak debaran jantungnya dan radang merah di tulang pipinya. Intinya, senyuman Naruto bisa membuat jantung Hinata cepat rusak!
Naruto mengenggam tangan Hinata dengan erat, sedikit menariknya ke sisi pemuda itu sendiri. "Ayo kita hampiri mereka!" dan Hinata hanya bisa kembali pasrah saat Naruto mengayunkan lengan mereka yang bertaut dengan penuh semangat. Wajah gadis itu memerah seiring dengan langkah mereka yang berlalu meninggalkan taman tengah dari sekolah itu.
Para pemuda yang melihat itu hanya cengo di tempat, membatin lirih akan nasib princess mereka Hinata. Sedang yang gadis hanya bisa gigit jari melihat wajah manis Naruto kian bertambah tampan saat tersenyum ke arah Hinata.
Pasangan cuek namun menyita perhatian.
××XX××
"Kenapa kau menarikku ke kantin, Hyuuga!" Desis Tenten gusar. Ia berkacak pinggang di hadapan Neji yang berdiri di depannya memasang wajah seolah semuanya baik-baik saja. Padahal, di sana bisa saja sesuatu menimpa sahabatnya Yamanaka Ino. Tenten tahu benar, kalau Ino itu tidak pintar menjaga dirinya sendiri. "Kau―" telunjuk Tenten tegak menunjuk batang hidung Neji. Spontan, sepasak perak itu menatap sebuah telunjuk yang berada tepat pada pucuk hidungnya.
"―kalian! Pasti ada yang kalian rencanakan." Dan gadis dengan ikatan cempol dua itu menyipitkan mata kirinya dengan sengit.
Firasat-firasat buruk berterbangan di dalam otak imajinasinya. Antara Ino dan Sai―si pucat mesum.
Orang di sekitaran mereka hanya menganggap hal itu adalah sebuah 'ritual' biasa yang sering terjadi di dua kubu grup tenar sekolah itu. Tenten yang memaki salah satu anggota Hell Four dengan kata-kata pedas dan tajam, akh, itu sudah seperti makanan sehari-hari mereka.
Bahkan biasanya, Tenten menonjok salah satu dari mereka sampai anggota itu dilarikan ke UKS terdekat. Dan korban utama yang paling sering menjadi target Tenten adalah. Nakamura Sai.
Si lidah tak bertulang.
Neji meringis sedikit, lalu menurunkan tangan―tepatnya telunjuk Tenten yang menudingnya dengan perlahan. Lalu menarik gadis itu untuk duduk di bangku mereka dengan tenang dan tidak menyita perhatian siapa-pun dari warga kantin.
Tenten hanya manut.
Neji jadi bingung sendiri saat ini. Sebenarnya status mereka apa sekarang? Sepasang kekasih? Atau masih dalam pangkat yang kemarin-kemarin? Sepasang musuh. Pasalnya, Ia maupun Tenten―err setelah adegan ciuman itu tidak ada yang menjelaskan akan jalan selanjutnya ke depan bagaimana. Salah sendiri juga, tidak langsung to do point pada intinya.
"Dengar―" kalimat Neji menggantung, Ia menghela nafas panjang. Ia agaknya tak suka pada Kelakuan Tenten yang masih saja berlaku kasar padanya, bukankah sepasang kekasih itu harusnya romantis dan saling―ehm menyayangi, heh? "―sebenarnya aku―" kepalanya menggeleng frustasi.
Melipat lengan―kanan-kiri hemnya dengan terburu-buru, lalu menarik bangku setelah Ia memutar duduknya menghadap Tenten terlebih dulu. Membuat jaraknya dan Tenten menjadi dekat dengan ini.
Tenten memperhatikannya, Ia mengangguk. "Apa?" Seperti halnya kemarin, perasaannya kembali tak tenang. Jangan-jangan, Neji mau mengatakan bahwa kejadian―saat Ia mengecup Tenten tadi adalah sebuah hal sepele dan tak masuk hitungan. Tenten takut kejadian kemarin, terjadi lagi.
"―aku ini kau anggap apa?" matanya menatap Tenten. Dari suaranya, suara Neji terdengar gamang dan terlafas ragu. "Maaf sebelumnya," sambungnya.
Ujung bibir Tenten tertarik, Ia meringis. "Ku pikir kau tau," ejeknya.
Keduanya tampak melupakan topik awal mereka ke sini tadi. Dan kembali membahas apa hubungan mereka sebenarnya selama beberapa jam ini.
Terang saja Neji tak mengerti, Tenten tidak menunjukkan bahwa gadis itu juga memiliki perasaan sama sepertinya. Malah terkesan terpaksa ada di dekatnya.
Keduanya saling memandang dalam diam.
"Neji, Tenten!"
Spontan, kedua orang itu menoleh dengan raut sama. Sepertinya keduanya sama-sama terganggu akan datangnya si blondie itu. Kenapa tidak dibuatkan box khusus saja untuk mengobrol dengan sebuah pintu lengkap dengan gembok. Jadi semuanya aman, bebas dari pengganggu macam Uzumaki Naruto yang satu ini.
Neji menarik bangkunya menjauhi Tenten tanpa menoleh pada sosok yang sekarang tengah memandangnya bingung. Kenapa Hyuuga itu terkesan memainkan perasaannya? Tadi dia tidak seperti ini, bahkan pengakuannya beberapa waktu lampau benar-benar membuat Tenten merasa bahwa pemuda itu tulus padanya. Dasar lelaki!
Mendengus, Tenten berdiri dari bangkunya.
Naruto yang tak paham akan situasi, malah memandang kedua sosok itu dengan wajah polosnya. Beda dengan Hinata yang spontan melepaskan genggaman Naruto dan berjalan menghampiri Tenten. "Ten-Tenten," lengan gadis itu menggapai lengan Tenten yang berasa dingin. Hinata sempat menjengit saat permukaan tangannya bersentuhan langsung dengan kulit lengan Tenten yang dingin.
"Aku mau ke kelas," Ia mencoba memberikan senyum terbaiknya pada Hinata―yang Tenten tahu pasti gadis itu tengah khawatir pada dirinya. "Aku tidak apa-apa, Hinata." Sebenarnya Tenten juga tak yakin akan perasaannya saat ini. Semuanya terasa kebas, tak terasa.
Neji berdiri dari bangkunya, menarik lengan Tenten dari Hinata. "Aku akan mengantarnya," kakak sepupu dari Hyuuga Hinata itu menyakinkan. Ia sedikit menarik ujung bibirnya saat Hinata tengah memandangnya ragu.
Hinata hanya mengangguk pelan, dan mulai melepaskan tangan Tenten perlahan.
Naruto menyela saat semuanya mulai terasa kaku, "em―maaf," pemuda itu benar-benar merasa seperti sosok lain di sini. Kesannya tak dianggap, "―sebentar lagikan bel masuk, ku rasa kalian haus, heh?" satu penawaran.
Tenten mengibaskan lengannya, menatap Neji sekilas yang tengah kaget akan perilakunya barusan. "Terimakasih tawarannya," dan matanya beralih memandang Naruto, "Uzumaki."
Dan semuanya terasa hampa saat Tenten pergi dari sana. Sesak dan―bingung. Itulah yang di rasakan Hyuuga Neji.
Sekarang, bagaimana dengan usahanya tadi?
Sedang Hinata memandang sang kakak dengan prihatin, begitupun Naruto. Ternyata tak selancar yang Hell dan Heaven bayangkan.
Tapi Neji tak mau kalah tampaknya. Jika Uchiha Sasuke dengan gengsi sebesar gunung bisa mengakui perasaannya pada Sakura. Kenapa dia tidak?
"Tenten!" Detik berikutnya Neji berlari ke arah Tenten.
Pasangan itu hanya melongo tak percaya, mereka kira Hyuuga Neji akan menyerah tadi. Ternyata salah ya? Coba di jadikan bahan taruhan, kan lumayan. Batin Naruto greget.
××XX××
Neji menghela nafas dalam-dalam. Paru-parunya terasa hampa udara, lengannya memegang tungkai tangan Tenten. Tampaknya salah jika Tenten masuk dalam ekstrakulikuler karate, gadisnya ini harusnya berada di klub lari jauh. Lihat saja, baru sebentar pergi saja jalannya sudah sejauh ini, seperti berlari saja.
Begitulah Tenten kalau sedang kesal, kakinya terasa lebih ringan dan cepat. Tak khayal jika yang melihat gadis itu berjalan dari jarak jauh langsung menghindar. Alasan kuatnya ya, takut ditabrak gadis itu.
"Cepat sekali kau jalan," suara Neji masih terengah.
Tenten menatapnya datar, "hakku, apa urusanmu?" Tantangnya sengit. Dengan tampang kaget dan gugupnya. Ia kira Neji tidak akan menyusulnya tadi. Ternyata salah, pemuda itu ada di hadapannya. Bahkan memegang erat tangannya. Mati-matian Tenten menahan diri untuk tak tersenyum untuk saat ini. Gengsi tahu!
Neji mendengus, memutar bola matanya dengan jenaka. Lalu memandang gadisnya itu dengan tatapan tegas. "Berhenti berkelakuan kasar pada kekasihmu!"
SING―
Apa? Kekasih?
Sudut bibir Neji terangkat lagi, "karena kalau aku mau, aku bisa lebih kasar darimu―" Ia memeluk Tenten dengan gerakan tak terduga, "―Sayang." Ucapnya penuh penekanan.
Setidaknya, perkataan barusan dari Hyuuga itu bisa membuat Tenten merasa tenang. Gadis itu mengangguk balas memeluk Neji yang tengah asik dengan aroma dari tengkuk Tenten. "Maafkan aku,"
Sedingin apapun manusia, Ia akan kalah dengan yang namanya 'cinta'
Neji tersenyum hangat, mencium sekilas pinggir kepala gadisnya. Sebuah sahutan kecil itu semakin membuat mereka merapatkan diri. "Hn,"
××XX××
Senyum manis Sakura mengembang. Ia menarik nafas sebelum berkata, "syaratnya adalah―"
Uchiha tampan kita mendengus tak sabar. Dasar gadis gulali, lihat gayanya! Seperti pembawa acara kuis saja. Ia berontak dalam batin. Bagaimana tidak murka, dari tadi Ia sudah mengorbankan harga dirinya, dan gadis itu seenaknya saja memberikannya syarat tak jelas sama sekali. Benar-benar gadis menyebalkan.
Sakura mengalungkan lengannya pada leher Sasuke, dengan jarak cukup dekat dengan cuping telinga si pemuda, Haruno itu berkata. "Jadilah sosok manis dalam sehari ini―" darah Sasuke terasa naik pada bagian wajahnya saat Haruno Sakura mengecup pipinya sekilas, "―untukku."
Lihat, betapa imutnya wajah gadis Sasuke ini. Alat masa depan yang menjamin mutu selanjutnya. Sasuke bisa pastikan, bahwa generasinya ke depan adalah sederet sosok-sosok manis namun cool macam dirinya dan Sakura. Dan catat satu lagi. Generasi mereka harus menjadi sosok pemimpin yang cerdas, lengkap dengan paket kepemimpinan tegas ala Uchiha dan Haruno.
Lupakan bagian itu, kita lanjutkan ini.
Jadi manis ya? Susah- susah gampang sebenarnya. Susahnya, nanti banyak yang jatuh cinta pada Sasuke, mengingat dia memang punya garis tampan. Tapi, hey! Tidak adil bukan kalau dia sudah tampan serakah pula mau mengambil jatah milik sobatnya sendiri? Si blondie, Naruto.
Gampangnya, Ia bisa saja menjadi apa yang gadisnya ini mau. Asalkan Sakura tetap menjadi miliknya.
Sasuke mengeluarkan tangannya dari dalam kantong celananya. Ia menarik pinggang Sakura mendekat, lalu menatap gadisnya se-intents mungkin. "Manis yang bagaimana, maksudmu?" Dan perlahan, tangan kanannya memainkan anak rambut Sakura. Lalu menciumnya sekilas, "jidat?" Aktivitas Sasuke masih sama, masih setia memilin-milin kecil ujung rambut gadisnya dengan wajah yang polos dan datar.
Sakura hanya mendengus, Ia masih belum berniat melepaskan kalungan lengannya pada Sasuke. Dan juga membiarkan si pemuda itu sibuk dengan mainan barunya. Ujung bibirnya menarik senyuman tipis menawan. "Ku pikir kau tahu apa maksudku ayam~" ejeknya tanpa ragu.
"Petunjukmu kurang jelas." Sela Sasuke, diiring dengan tarikan nafasnya yang terdengar gusar.
"Jadi sosok penurut, manja dan―" gadis dengan bola mata emerald itu memegang rahang tegas Sasuke dengan kedua sisi tangannya. Membingkai wajah kekasihnya. "―menyenangkan."
Bodoh sih tidak, bingung? Iya! Amat sangat malah.
Tapi, mau tak mau kepala Sasuke mengangguk juga. Ia menyunggingkan senyuman tipis dan bergumam 'hn' kecil sebagai persetujuan atas persyaratan tak jelas dari Sakuranya.
Sasuke baru sadar, ternyatadunia ini begitu sempit. Buktinya, Ia tak jauh-jauh menemukan jodohnya. Musuhnya sendiri malah.
Kalau dipikir-pikir, Sasuke geli sendiri jika mengingat perseteruannya dengan gadisnya selama ini. Pertengkaran bodoh yang tanpa Ia sadari bisa menimbulkan rasa memalukan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Perasaan kesal dan ketagihan secara bersamaan saat tengah berselisih dengan Haruno Sakura, teman sekelasnya dari awal masuk Senior High School.
Gadis menyebalkan yang tak mau kalah darinya. Sosok usil namun berjenis kelamin perempuan. Ck! Sasuke jadi bingung sendiri, bukankah wanita itu harusnya bersikap manis dan penurut ya? Lalu?
―bagaimana dengan Sakura?
Jangan tanya.
Tapi, Sasuke memang tak bisa mengelak saat-saat Ia merasa kesepian kala Sakura tak turun sekolah atau tengah badmood untuk meladeninya. Wanita memang uring-uringan.
Singkatnya, Sasuke akhirnya merasakan perasaan egois ini. Perasaan ingin memiliki si musuh dalam status lain. Ia mulai sadar, bahwa Ia sudah jatuh cinta pada musuhnya sendiri. Haruno Sakura.
Sakura meniup wajah Sasuke yang tengah bengong memperhatikannya. "Baiklah, jadi?" tertangkap di mata Sakura, pemuda itu mengerjap cepat dengan dengusan kecil bertanda Ia tak suka atas perilaku Sakura barusan.
Gadis itu tersenyum geli, baru kali ini Ia bisa memperhatikan bahwa Sasuke memiliki sisi manis lain. Dan Sakura menyukai itu, "hello?" tangan gadis itu menarik-narik kecil rambut pinggir di belakang cuping telinga Sasuke.
"Iya, kenapa?"
"Kau melamun, ayam?"
"Cih~"
Terkikik, Sakura tertawa kecil. Membuat Sasuke menarik ujung alisnya bingung, dengan nada menyindir Ia bertanya sinis pada Sakura. "Ada yang lucu, heh?"
Kepala pink itu menggeleng cepat, "berhenti menatapku Uchiha jelek." Meremas main-main wajah Sasuke, Sakura masih belum bisa menahan tawanya.
Mau tak mau ujung bibir Sasuke berkedut, lalu tersenyum kecil. "Hn,"
Sekali lagi Ia memeluk gadisnya, dengan sebuah pelukan hangat.
Sedang Sakura yang tadinya kaget, mulai menerima itu. Dan mulai bergerak pelan, menyusupkan wajahnya di dada Sasuke dengan sebuah senyuman kecil di sana.
"Aku membencimu, jidat jelek."
"Aku juga―" tangan Sakura memukul punggung Sasuke main-main, "―muak dengan wajah sokmu itu, ayam sok tampan."
Ya, ya, ya. Bahkan, mereka masih susah untuk menyatakan perasaan masing-masing. Dan selalu berakhir dengan pertengkaran kecil yang berbuntut perkelahian bodoh di antara mereka. Sasuke yang tak mau kalah pada gadisnya, dan Sakura yang tak mau dikalahkan kekasihnya. Uchiha Sasuke.
Hell and Heaven to be continue
××XX××
Hallow^^adakah yang merindukan fic abal ini? Maaf, kelas tiga ini tugas makin banyak, dan well, ilang deh kesempatan untuk buka netbook dan ngelanjutin fanfic-senyumbersalah-
Chapter ini kayaknya udah memperjelas semua hubungan mereka―except SaIno yang mungkin chap depan baru jelas apa statusnya. Maaf kalau bagian SasuSaku'nya kurang atau nggak memuaskan, soalnya ini demi jalan cerita juga. Dan kalau ada yang ngerasa chap ini aneh dan terkesan maksa bilang ya, soalnya lama nggak nulis jadi kaku―alesan amat ya?
Dan info terpentingnya adalah, chap depan mungkin jadi yang terakhir buat fic ini. So, maaf kalau ada salah ya dalam satu tahap terakhir sebelum ending ini ^^
Ya udah, saatnya balas ripiu^^
Uchiha Athena :
Makasih ya sayang ^^, soal req'nya, pasti Yusha bikini deh, tunggu tamatnya ini ya ^^
Makasih udah ripiu, so? Niat ripiu lagi? ^^
uchiharuno phorepeerr :
MAAF SAYANG, SENPAI SIBUK―capslockjebol― kamu sampai ripiu dua kali―meringis―selama itukah Saia? O.o tapi jangan jera ya, dan harap maklum ^^ Ini updetannya, makasih ripiunya ya, ripiu lagi? ^^
Higurashi cherryblossom :
Canon ya? Wah wah, canon rumit, tapi―ntar ada deh Yusha bikini buat kamu ya dear ^^ tapi sabar nunggu khekhekhekhe dan well, si Saku emang bawaannya ngajak rebut kalau deket si Sasu, tapi chap ini Yusha kasih bedalah, walau sedikit sih―meringis
Ripiu lagi ya ^^ makasih
Hime uchiharuno :
Hahahah nggak papa kok―nepuk kepala Hime―req'nya udah jadi sayang di fic yang 'Pengganti' ―promosi dianya―makasih buat pujiannya hehehehe, bikin semangat ^^
Ripiu lagi ya ^^
agnes BigBang :
Nes, mungkin fantasy/romance aja ya―smile―udah ada idenya, tapi tunggu aja ya ^^, ntar di kabarin deh. Dan masalah telat, nggak papa, yang penting hadir dan meripiu ^^ makasih ya
Ripiu lagi loh―maksa―plakk
Leekrysanblackjackvip :
Makasih, tapi―pundung―seabal itukah fic Saia?―sesenggukkan―nggak apa deh, makasih banyak ya :')
Ripiu lagi?
Chini VAN :
Makasih, ini updetannya ^^
Ripiu lagi ya ^^
B-Rabbit Lacie :
Ini updet Sayang ^^ makasih ya―hugging
Ripiu lagi ya ^6^
Silent reader :
Nggak apa, makasih udah mampir ^^
Ripiu lagi ya ^^
Juvia Imouet :
MAAF!―nunduk-nunduk―KK banyak tugas Dear :') makanya lambat banget updetnya, semoga nggak jera ya. Salam kenal buat kalian semuanya―big hug―
Ripiu lagi? ^6^
Makasih juga buat : uchiha dita-kun jinchuuriki, Honami Michiyo, Uchiha Reyvhia, 4ntk4-ch4n, Akari Nami Amane, Rizuka Hanayuuki, uchihaiykha, Cherry Blossom Phantomhvie, Nami Forsley, Akio Uchiha-chan, Ai Kireina Maharanii, Lactobacilluss, Michilatte626, eLLiz4'k4Wai-bAn93T, Raquel isn't masochist, and all of Silent Readers ^^
RnR?
