Tittle : Crash.
Rate : T.
Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort.
Author : Skinner Choi.
Pair : DaeLo.
Warning : BL, Yaoi, ANGST, Miss Typo(s), Aneh, DLDR, No Flamers, OOC, AU.
Chapter 7 : Replacement.
" Mulai sekarang Dokter Oh Sehun yang akan menangani pasien itu." Kata kepala Manager sambil keluar dari ruangan.
" Tidak… jangan Sehun…" gumam Daehyun tidak percaya.
" Daehyun-ssi, tenangkan dirimu. Mereka tidak mungkin melukai pasien itu. Kurasa memang saat ini biar Sehun-ssi saja yang menangani pasien itu." Kata salah satu dokter yang tadi menyeret Daehyun kemari.
" Tidak. Aku tidak bisa menyerahkan Junhong pada Sehun." Kata Daehyun bersi keras sambil keluar dari ruangan itu.
" Tapi ini keputusan kepala Manager, kau bisa dipecat jika—"
" Kau tau kan Sehun dokter seperti apa?!." Potong Daehyun kesal.
" … Nde arasseo… Tapi jika memang Sehun dokter yang bisa menangani pasien kau mau apa?."
" Junhong tidak bisa disembuhkan dengan cara hospitalisasi, apa itu tidak cukup jelas?." Kesal Daehyun.
" Aku akan coba katakan itu pada kepala Manager. Kau tenanglah, lihatlah dirimu, kau seperti pasien yang baru saja relaps. Kau seorang dokter bagi orang cacat mental, kau harus tenang Daehyun-ssi…"
Daehyun terdiam sambil menarik nafas panjang agar lebih tenang. Tapi tetap saja hal ini tidak bisa membuatnya lebih tenang dia memikirkan banyak cara untuk bisa mendapatkan Junhong kembali.
.
.
.
.
" Ya! jangan sentuh aku!." Seru Junhong yang masih di seret oleh beberapa dokter. " Aku ingin bersama Daehyun hyung! Lepaskan aku!." Seru Junhong. Tapi cengkeraman dokter-dokter itu benar-benar sangat kuat, membuat Junhong tidak bisa melakukan apapun.
" Kumohon… biarkan aku bersama Daehyun hyung…" mohon Junhong. Tubuhnya gemetar hebat, dia takut dia tidak akan bisa bertemu dengan Daehyun lagi.
Dokter-dokter itu memasukkan Junhong pada ruangan pasien yang di dominasi warna putih hampir sama seperti kamarnya dulu sebelum dia tinggal bersama Daehyun.
Junhong benar-benar tidak tau harus apa, ketakutannya kembali menguasainya. Dia hanya ingin bersama Daehyun lagi seperti dulu.
Beberapa jam kemudian pintu ruangan terbuka, Junhong segera melompat ke pojok ruangan menghindari siapapun yang akan masuk ke ruangan itu.
Seorang dokter bertubuh tinggi dengan wajah yang terkesan dingin. Dia memandang Junhong dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dia menutup pintu lalu berjalan menuju Junhong.
Sedangkan Junhong masih terlihat ketakutan dan mencoba untuk menjauh dari dokter itu.
" Mulai sekarang aku dokter yang akan menanganimu—"
" Shireo! Aku hanya ingin bersama Daehyun hyung! Tidak ingin yang lain! Kka!." Bentak Junhong.
" Sepertinya aku tidak bisa memakai cara lembut padamu." Kata dokter itu.
" Pergi! Jangan dekati aku!." Seru Junhong.
" Kurasa akan sangat sulit untuk jauh darimu sekarang. Kau tidak akan bisa bertemu Daehyun lagi jika kau tidak menurut padaku."
" Shireo! Pergi! Aku tidak mau bersamamu… hiks.. hiks… "
" Maaf, tapi aku memiliki hak dan kewenangan tinggi disini. Jika aku tidak bisa menyembuhkan orang sepertimu, maka jabatanku bisa turun." Katanya.
" Jangan sakiti aku… kumohon tinggalkan aku sendiri.. hiks.."
" Aku bukan orang yang sabar dan penyayang. Jadi jika kau merasa kau bisa mengusikku dengan bentakanmu itu, percayalah aku tidak akan peduli meski kau menangis hingga mati hingga airmatamu tidak keluar lagi."
Junhong benar-benar membenci orang di depannya, dia sangat takut dan ingin kembali pada Daehyun. Tak ada seorangpun yang mau mendengarkannya.
" Namaku Oh Sehun. Dan aku ingin kau menuruti apa yang kukatakan." Katanya.
Junhong masih terdiam dalam isakan tangisnya, mencoba menguatkan diri dengan dokter barunya.
" Kurasa kau tidak perlu banyak bersiap ataupun berkemas. Sekarang juga kita berangkat." Kata Sehun sambil menarik tangan Junhong keluar dari ruangan itu.
Junhong meronta mencoba melepaskan cengkeraman Sehun, tapi cengkeraman itu benar-benar kuat, bahkan pergelangan tangan Junhonglah yang memerah karena terus meronta, sedangkan Sehun tidak bergeming sedikitpun meski Junhong berteriak ketakutan.
Banyak dokter dan orang-orang yang lalu lalang melihat mereka berdua. Tapi semua dokter tau Sehun memang sudah biasa menarik pasien seperti itu. Sehun terlihat benar-benar tidak punya hati ketika menyeret Junhong.
" Lepaskan akuu! Kumohon lepas!." Seru Junhong sambil memukul tangan Sehun yang masih sangat kuat mencengkeramnya.
Di kejauhan Daehyun masih berada di kantor salah satu dokter yang tadi bersamanya, dia melihat Sehun sedang membawa Junhong pergi.
" Itu Junhong!." Seru Daehyun sambil melihat dari jendela kaca.
Dan saat itu tatapan Junhong dan Daehyun bertemu.
" Daehyun hyung! Tolong aku!." Seru Junhong.
" Junhongie!."
Daehyun mencoba untuk keluar dari ruangan itu, tapi dokter yang sedari tadi bersamanya mencoba menahannya.
" Ya! lepaskan aku Minhyukie! Sehun membawanya pergi! Aku tidak bisa membiarkannya!." Seru Daehyun.
" Andwae! Kau tidak bisa mencegah Sehun. Junhong sudah ada dalam pengawasannya sekarang. Kau bisa kehilangan pekerjaanmu! Biarkan mereka pergi." Kata Minhyuk.
Daehyun masih bisa mendengar Junhong memanggil namanya, tatapan mereka terus terhubung saling meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja dan mereka akan segera bersama lagi. Hingga Junhong hilang di koridor berikutnya.
" Aku tidak bisa meninggalkannya Minhyukie… kau tidak akan mengerti! Aku harus melindunginya." Kata Daehyun kesal.
" Kau pasti bisa bersamanya lagi jika Sehun sudah selesai dengan tugasnya. Aku tau ini sangat berat untukmu karena Sehun-lah yang harus menangani pasienmu. Ini demi kebaikan kalian berdua. Kita tidak bisa menentang Sehun. Geumanhaera, Daehyunie…" Kata Minhyuk mencoba menenangkan Daehyun lagi.
" Bagaimana jika Junhong tidak tahan dengan Sehun? Dia dokter yang menyembuhkan pasien dengan metodenya sendiri." Kata Daehyun.
" Selama itu bisa menyembuhkan Junhong kenapa tidak? Berhentilah mengkhawatirkan Junhong. Dia pasti akan baik-baik saja. Sehun tidak akan melakukan hal-hal buruk padanya."
Daehyun terdiam dalam kekalutannya, mencoba sekuat mungkin bertahan dan menunggu Sehun membawa Junhong kembali padanya.
" Hanya ada 2 hasil yang bisa dibawa oleh Sehun, kesembuhan pasien atau malah sebaliknya, trauma pasien akan semakin parah." Kata Daehyun pelan.
" Selama ini hanya ada 1 pasien yang gagal di sembuhkan olehnya. Aku yakin Junhong akan sembuh." Kata Minhyuk.
" Pasien yang dulu gagal disembuhkan oleh Sehun adalah pasien yang hampir sama traumanya dengan Junhong. Itulah kenapa aku tidak ingin Sehun yang menangani Junhong." Kata Daehyun.
Minhyuk terdiam agak lama sambil menatap Daehyun dengan tatapan kasihan. " Kenapa kau begitu peduli pada pasien itu?." Kata Minhyuk pelan.
" Kalian boleh mengatakan aku tidak professional sebagai seorang dokter, tapi aku tidak memungkiri bahwa dia adalah cinta pertamaku dulu. Aku mencintainya Minhyukie, dan aku tau dia bisa sembuh, aku percaya itu. Karena dia aku berusaha sebaik mungkin untuk bisa membuatnya percaya padaku dan aku pasti menyembuhkannya." Kata Daehyun.
" Kurasa Junhong pasti memiliki perasaan yang sama denganmu. Aku bisa melihat dari tatapan matanya bahwa dia sangat menyayangimu juga." Kata Minhyuk.
" Karena itu aku tidak ingin dia berubah karena Sehun, aku sudah susah payah mendapat kepercayaan darinya aku tidak mau itu hilang karena Sehun." Kata Daehyun.
" Bersabarlah dan percaya pada Sehun." Kata Minhyuk.
.
.
.
.
Sehun membawa Junhong ke parkiran Rumah Sakit dan memasukkan Junhong ke dalam mobil. Dan sehunpun segera mengemudikan mobil keluar dari Rumah Sakit.
" Buka pintunya! Aku ingin turun! Aku ingin kembali!." Seru Junhong sambil menggedor kaca mobil dengan panik. Sedangkan Sehun hanya diam tak bergeming dan tak terganggu sedikitpun.
Dia memang sudah terbiasa dengan ribuan pasien dengan penyakit jiwa yang pernah ia urus dan ia tangani. Teriakan, pukulan, cakaran, dan banyak hal yang ia terima dari pasien-pasien ketika mengamuk sudah menjadi hal biasa baginya. Karena itu dia bisa membetahkan diri dengan pasien yang mengamuk. Junhong hanyalah sebagian kecil dari itu.
" Teruslah berteriak seperti itu, setelah 3 hari suaramu akan habis." Sahut Sehun datar.
" Aku tidak peduli! kembalikan aku pada Daehyun hyung!." Seru Junhong.
" Tidak sampai aku menyembuhkanmu." Jawab Sehun.
" Aku tidak ingin bersamamu! Aku ingin Daehyun hyung! Sekarang juga!."
" Terserah kau mau bilang apa." Gumam Sehun tidak peduli.
Beberapa saat kemudian Sehun masuk ke daerah apartement, dengan cepat dia segera memarkirkan mobilnya.
" Ayo keluar." Kata Sehun sambil membuka pintu mobil untuk Junhong.
" A… aku tidak mau… kita akan kemana? Ada banyak orang disana…." Kata Junhong gemetar.
" Kau ingin berjalan sendiri atau kuseret?." Tanya Sehun pelan.
" Shireo! Aku takut…" kata Junhong ketakutan.
Sehun meraih pergelangan tangan Junhong dan menariknya keluar dengan paksa.
" Jangan… kumohon jangan… aku takut! Hiks hiks hiks… lepaskan aku…" kata Junhong. Kakinya begitu lemas dan gemetar, hanya tarikan dari Sehunlah yang menjadi tumpuannya melangkah.
Mereka melewati beberapa orang yang berlalu lalang disana, Junhong semakin menangis sejadi-jadinya dan terus melawan. Tetapi Sehun masih tetap diam dan terus menarik Junhong menuju lift.
" Kenapa… hiks… kenapa kau melakukan ini padaku? Hiks hiks… kumohon padamu…. Bawa aku menemui Daehyun hyung…" kata Junhong sambil menangis.
Sehun hanya melirik Junhong sejenak dan terdiam. " Aku… tidak bisa." Jawab Sehun datar.
Lift berhenti di lantai 21. Sehun kembali menarik Junhong keluar dan berjalan masuk ke koridor. Itu adalah sebuah apartement yang mewah, apartement pribadi Sehun sendiri. Dia tinggal di lantai paling atas.
Mereka berhenti di depan pintu kamar. Dan Sehun segera membawa masuk Junhong. Apartement itu sangat luas, ada sedikit bau obat disana, bau yang amat di benci oleh Junhong. Tata ruang disana benar-benar bagus.
Sehun membawa Junhong masuk ke salah satu kamar. " Mulai sekarang ini adalah kamarmu. Jangan coba melarikan diri atau aku akan menghukummu." Kata Sehun.
" Aku ingin pulang! Aku ingin kembali!."
" Kau adalah pasienku, dan kau akan mendapat perawatan pribadi dariku hingga kau sembuh. Karena ini rumahku, maka kau ikuti aturanku. Dan jangan membantah apa yang kukatakan." Kata Sehun.
" Kubilang aku ingin pulang!." Potong Junhong, nafasnya sudah memburu tak karuan karena marah, takut, sedih, dan kesal yang amat sangat. Kedua matanya sudah memerah dan berkaca-kaca, kapanpun siap air mata itu akan mengalir.
" Kau. Tidak. Akan. Pulang." Kata Sehun tegas dan dalam, tidak terlihat sedikitpun rasa kasihan.
Junhong terlihat semakin emosi, dia mengambil beberapa perabot di ruangan itu pada Sehun. Sedangkan Sehun hanya bisa diam dan menerima lemparan-lemparan benda dari Junhong.
" Akan kutoleransi perbuatanmu ini karena ini baru pertama. Jika besok kau masih seperti ini maka aku tidak akan segan-segan meladenimu." Kata Sehun sambil keluar dari kamar dan membanting pintu.
Junhong jatuh terduduk di lantai sambil menangis keras. Dia benar-benar ingin pulang pada Daehyun. Dia membutuhkan Daehyun, hanya Daehyun seorang yang bisa menenangkan hatinya ketika sangat ketakutan.
" Daehyun hyung… hiks hiks… bogoshipeoyo… hiks…" kata Junhong disela tangisannya.
.
.
.
.
.
Malam itu Daehyun tidak bisa tenang di rumahnya. Dia ingin sekali bertemu dengan Junhong. Perasaan khawatir, marah, rindu, dan takut ia rasakan menjadi satu. Matanya terasa tak membutuhkan waktu untuk di istirahatkan. Seolah setiap jengkal dalam tubuhnya hanay terfokus untuk memikirkan Junhong.
Jika dia pergi ke tempat Sehun, pasti Sehun tidak akan memberinya izin untuk bertemu dengan Junhong. Tapi jika dia harus menunggu Sehun hingga Junhong sembuh, dia tidak akan tahan jika tiap harinya dia harus bersabar menunggu. Menyembuhkan Junhong butuh waktu yang lama. Entah kapan Sehun bisa menyembuhkan Junhong.
" Aku tidak bisa seperti ini… aku ingin bertemu dengan Junhong…" kata Daehyun frustasi. " Ya Tuhan, ketika aku sudah mendapatkannya, kenapa Kau memisahkan kami?." Lanjut Daehyun.
Daehyun berdiri dari sofa lalu mengambil jaket dan kunci mobilnya. Diapun memutuskan untuk pergi keluar agar lebih tenang, meski dia tau rasa kalut itu tidak akan hilang jika dia tidak bertemu dengan Junhong.
Daehyun berhenti di depan sebuah pub jauh dari rumah-nya. Dia masuk kesana dan duduk di depan meja bar mencoba menghilangkan rasa gundahnya dengan minuman-minuman alkohol.
Tak dipedulikan beberapa wanita yang menghampirinya untuk mengajak turun ke lantai dansa. Hanya ada Junhong seorang di pikirannya.
Suara dentuman musik yang begitu keras di telinga semakin membuat pikirannya kacau. Dia ingin tau apa yang di lakukan Junhong sekarang, dia ingin menyentuh kembali wajah Junhong yang sangat ia kagumi itu. Belum 24 jam terpisah dia benar-benar sudah kacau seperti ini, entah jika Sehun menahan Junhong hingga berbulan-bulan atau lebih dari satu tahun. Dia tidak akan bisa bernafas lega dan tidak akan bisa tidur dengan nyenyak tiap malamnya.
Jam-jam berlalu bersama dengan alkohol yang ia konsumsi, pagi itu Daehyun memutuskan untuk kembali pulang. Dia mencoba meraih kesadarannya dan memaksa untuk fokus meski beberapakali dia menabrak beberapa orang ketika berjalan ke pintu keluar.
BRRUUKK!
Daehyun jatuh ke belakang ketika kembali menabrak seseorang dengan keras. Dia mengaduh dengan suara tidak jelas sambil berusaha untuk bangkit.
" Daehyun-ssi?. kenapa kau ada disini?."
Daehyun menengadah mencoba mengenali siapa yang ia tabrak tadi.
" Daehyun-ssi kau terlihat kacau sekali, apa yang terjadi padamu?."
" Kris?." Tanya Daehyun pelan.
Kris dengan cepat membantu Daehyun berdiri dan membantu Daehyun keluar dari pub menuju parkiran.
" Ini tidak seperti dirimu. Apa yang kau lakukan? Bukannya kau harus menemani Junhong?." Tanya Kris.
Daehyun semakin galau ketika Kris menyebut nama Junhong. " … jika saja Junhong masih bersamaku, maka aku tidak akan berada disini. Aku pasti akan bersamanya…" kata Daehyun dengan suara putus asa.
" Apa maksudmu? Dimana Junhong?." Tanya Kris.
Daehyun terdiam sesaat, lalu menjambak rambutnya frustasi. " Andai saja aku bisa menyembuhkannya lebih cepat… andai saja aku bisa menjaganya… andai saja—"
" Daehyun-ssi! lihat aku! Apa yang terjadi pada Junhong?." Tanya Kris dengan nada tinggi, mencoba menyadarkan Daehyun.
Daehyun menatap Kris dengan pandangan putus asa. " Dia mengalami relaps ketika dia menjalani tes… pimpinanku mengalihkan Junhong untuk di sembuhkan dokter lain. Aku tidak bisa mencegahnya. Dia tidak akan tahan dengan cara terapi yang di berikan Dokter Sehun… dan aku tidak diijinkan untuk melihatnya lagi. Aku sudah gagal…" kata Daehyun, kali ini suaranya sedikit lebih tenang dan fokus.
Kris juga terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan Daehyun, dia bisa melihat bagaiman Daehyun sangat mencintai Junhong, meski Junhong bukanlah orang yang sempurna. Ada suatu perasaan yang timbul pada hati Kris, bahwa dia sangat ingin melindungi ikatan Daehyun dan Junhong.
Seolah dia ingin membalas semua dosanya yang pernah ia lakukan pada Junhong. Dia bertekad akan membantu Daehyun untuk terus bersama Junhong.
" Kau tidak gagal Daehyun-ssi. semua akan baik-baik saja…" kata Kris mencoba menenangkan Daehyun. " Akan kuantar kau pulang. Kau tidak bisa pulang sendiri dengan keadaan seperti ini." Kata Kris sambil membantu Daehyun masuk ke dalam mobil.
.
.
.
.
Pagi itu Sehun bangun lebih awal untuk membuat sarapan. Hari ini dia yakin pasti akan mengeluarkan banyak energi untuk Junhong. Apapun yang ia dapati di balik pintu kamar itu pasti akan sangat merepotkan.
Memang dia sedikit berhati-hati dalam menyembuhkan Junhong, karena salah satu pasien yang pernah gagal ia sembuhkan hampir sama seperti Junhong. Dia memang sangat terbiasa tinggal dengan pasien yang harus ia sembuhkan.
Karena dia sudah memilih untuk mendedikasikan diri pada pekerjaannya. Dia tidak pernah keberatan sama sekali meski tidurnya akan terganggu dengan teriakan-teriakan pasiennya, ataupun rumahnya menjadi porakporanda ketika pasien mengamuk. Dia tidak pernah khawatir sama sekali.
Kamar yang di tempati Junhong sekarang memiliki banyak kisah dan sejarah tentang siapa saja yang pernah tinnggal disitu. Ada 3 ruangan yang biasanya di pakai Sehun untuk para pasiennya.
Pertama, ruang kamar yang sekarang di tempati oleh Junhong. Kedua, ruang kecil yang ada di bawah tangga, yang lebih terlihat seperti penjara. Dia akan menaruh pasien yang benar-benar sudah mengamuk disana. Dan yang ketiga ruangan khusus yang ia rancang sendiri, berada di luar jendela apartementnya. Ruangan itu hanya memiliki luas 1x1 meter, dengan bahan kaca yang amat tebal yang di pasang kuat dari jendela apartement-nya. Sehingga siapapun yang masuk ke dalam ruangan itu akan bisa melihat pemandangan luar apartement yang terasa ekstrim, biasanya Sehun akan menaruh pasien dengan phobia ketinggian di dalam sana. Itulah mengapa dia memilih apartement di lantai paling atas. Ruangan kaca itu biasanya sangat efesien untuk membuat pasien tenang ketika mengamuk, karena dengan ketinggian 21 lantai dan bisa melihat riuh jalan raya penuh kendaraan maka para pasien itu akan meminimalisir rasa berontaknya.
Cara Sehun menyembuhkan pasiennya adalah dengan cara memaksa pasien itu untuk mau melakukan apa yang pasien itu takuti. Dalam prosesnya, Sehun akan melakukan hal-hal yang membuat pasien itu menurut padanya, entah dengan ancaman, atau hal lainnya. Sehingga dia mengalihkan rasa takut pasien pada dirinya.
Kebanyakan pasien yang sembuh setelah di terapi oleh Sehun sudah tidak memiliki rasa takut berlebihan pada traumanya melainkan pasien-psaien tersebut lebih takut pada Sehun sendiri. Itulah mengapa metode yang diciptakan Sehun tidak sama seperti yang biasanya di lakukan dokter lain. Tetapi Rumah Sakit Jiwa tempatnya bekerja membolehkan Sehun menyembuhkan pasien dengan cara itu, karena memang cara itu lebih cepat dan selalu berhasil, meski banyak yang menentangnya karena dalam prosesnya Sehun memakai kekerasan dan pemaksaan pada pasien.
Sehun bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju kamar Junhong. Dengan cepat dia membuka pintu, dilihatnya disana Junhong tidak ada di tempat tidur. Dia melangkah masuk lalu melihat kebawah tempat tidur. Disana Junhong tertidur dengan mata yang sembab dan hitam.
" Junhongie. Cepatlah bangun aku sudah siapkan sarapanmu." Kata Sehun.
Junhong tersentak kaget, dia semakin ketakutan ketika melihat Sehun.
" Pergi! Jangan dekati aku… pergi… tinggalkan aku sendiri!." Kata Junhong, suaranya sedikit serak setelah semaklaman menangis dengan kuat.
" Kau harus makan." Kata Sehun.
" Shireo! Aku tetap tidak ingin keluar!." Kata Junhong.
" Aku tidak akan merasa kasihan melihatmu. Tapi aku tidak akan memberi makan pasienku di bawah tempat tidur seperti seekor anjing. Cepat keluar. Sekarang." Kata Sehun dingin.
" Aku tidak mau! Tinggalkan aku sendiri! Aku tida—"
Dengan cepat Sehun meraih tangan Junhong dan mencoba menarik Junhong keluar dari bawah tempat tidur dengan paksa. Membuat Junhong berteriak histeris dan ketakutan.
" Jangan sentuh aku! Pergiiii! Lepaskan tanganku!." Seru Junhong ketakutan.
Sehun menyeret Junhong keluar dari kamar tidak peduli Junhong sudah berteriak kesetanan karena marah dan takut.
" Turuti kata-kataku! Kau harus makan." Kata Sehun pada Junhong.
" Aku tidak mau! Hiks hiks hiks… lepaskan aku!." Kata Junhong.
Tanpa sepengetahuan Sehun, Junhong dengan cepat mengambil sebuah vas bunga dari meja dan memukulkannya ke tengkuk Sehun.
PYAAR!
Langkah Sehun terhenti, tangannya meraba tengkuknya dan merasakan ada cairan yang mengalir dari kulit yang sobek. Sehun berbalik dan memandang Junhong dengan tatapan dinginnya.
Junhong segera melepaskan tangannya dari cengkeraman Sehun dengan paksa lalu mulai berontak dan melempar segala benda yang bisa ia raih untuk menyerang Sehun.
" Ya! geumanhae!." Seru Sehun.
" Sudah kubilang aku tidak ingin bersamamu! Aku benci padamu! Hiks hiks… biarkan aku sendiri!." Seru Junhong.
" Turuti kata-kataku atau kau akan menyesal!." Ancam Sehun.
" Berhenti menyakitiku! Kau kejam!." Seru Junhong semakin menjadi. Dia berteriak sangat keras dan histeris. Dan itu benar-benar menguji kesabaran Sehun yang sudah mendapat beberapa luka dari apa yang dilemparkan Junhong.
" Geurae jika itu maumu. Kau tidak ingin makan dengan cara manusia? Maka kau akan mendapat apa yang kau inginkan." Kata Sehun dingin tetapi tersirat penuh dengan ancaman.
Dia menyeret Junhong dengan paksa tanpa rasa kemanusiaan sedikitpun. Junhong masih terus meronta dan beberapa kali terjatuh, tapi langkah Sehun tidak berhenti hingga Junhong terseret-seret.
Sehun melemparkan Junhong masuk ke dalam ruangan penjara di bawah tangga dan menguncinya disana.
" Nikmati dulu kemarahanmu disana. Jika kau tidak bisa bersikap seperti manusia, maka kau pantas berada disana seperti hewan." Kata Sehun lalu meninggalkan Junhong yang berteriak tidak terkontrol.
" Keluarkan akuu!." Seru Junhong seperti orang gila.
.
.
.
.
.
.:: To Be Continued ::.
.
.
.
.
.
A/N : Halooooo readers yang amat kurindu, kucinta, dan kuPHP. Akhirnya aku update juga. Maaf atas keterlambatannya. Maaf kalau misal kalian kesel atau geregetan pas nagih FF ke aku, tapi masih aku bales dengan alasan-alasan kenapa aku telat update. It's so hard being an author T^T /deep bow.
Thanks juga buat readers yang udah support aku, dan menyemangatiku pas lagi sakit. Percayalah guys, gak seharipun aku nggak mikirin kalian, itulah kenapa tiap hari kuusahakan ngetik FF meski hanya 1 halaman.
Dan jangan pangling ama pen name-ku sekarang. Karena aku sengaja ganti dengan nama yang nggak ada kata Skinner-nya lagi. Alasannya karena aku antisipasi beberapa junior-ku di dance itu banyak yang fujo dan beberapa temen-temenku ada yang suka iseng. Takutnya mereka nge-search di FF dan akhirnya nemu FF-ku. Selain menjaga anak dibawah umur baca FF Rate M-ku, aku juga gak mau ntar anak-anak bilang aku pervert. Soalnya nama Skinner itu semacam the one and only aku yang di kenal, karena anak-anak dance dan K-Pop udah hafal kalo Skinner itu aku. Jadi aku ganti pen name-nya rada Gaje. [ Ojel Aho Not Nut] semoga kalian inget kalo aku update lagi. Karena emang dulu aku selalu ganti pen name tiap update biar gak ketahuan.
Oke, yuk kita bahas chapter ini.
Siapa dari kalian yang emosi dan kesel ama Sehun? Padahal chapter-chapter kemaren keselnya ama si Kris xD *ketawa nista
Siapa yang kesel karena Daehyun pisah ama Junhong? Yes, I know what you feel bro. tapi ini Cuma awalnya doang lho…
Semoga saja ide angst tidak bermunculan di otakku.
Review kalian juga menjadi hal yang masuk perhitunganku, dan sumber inspirasiku. Kalau kalian bisa tulis review dengan kreatif dan membuatku mendapatkan ide, maka aku akan sangat berterimakasih karena kalian ikut andil dalam penciptaan sumber cerita chapter selanjutnya.
Thanks buat support kalian yang selama ini, dan sudah membantu membawa Crash sampai chapter ke-7.
Semoga bisa mencapai 10 chapter atau lebih.
Katakan apa yang kalian inginkan di chapter depan. Soalnya kalo aku lagi gak punya ide mesti FF-ku jadi angst xD
Aku harap kalian suka dengan chapter ini, dan keep kepo dengan FF-ku. Btw promosi bentar, ada FF baru yang aku posting, judulnya Sacramental Confession, kalau kalian penasaran bisa cek dan baca. Ceritanya sedikit fantasy, tapi kuharap kalian bakal suka, karena aku jarang bikin FF yang rada fantasy. Tapi fantasy-nya masih normal kok, nggak alay-alay banget.
Dan FYI lagi, FF-ku yang What's Poppin itu kali ini nggak aku posting, karena aku udah bilang bilang deadline update minggu ini, dan aku nggak bisa nyelesein What's Poppin karena aku bener-bener harus fokus ke acaraku, setelah kemarin aku udah di tegur ama leader-ku untuk fokus dulu, soalnya aku juga termasuk ketua dari sie panitia. Sorry for this late guys. Tapi secepatnya minggu-minggu depan aku akan posting What's Poppin. Dan untuk update setelah itu aku nggak tau kapan lagi bisa update karena aku juga mau daftar kuliah. Huweee eottohkaji? Pasti kalian bakal banyak yang protes, tapi kalo aku bisa update lebih cepet pasti aku update kok. Kalo ada yang mau hubungi juga silahkan sms. Kalo PM lewat FFN itu aku jarang buka akun FFN kalo nggak lagi update. Jadi aku juga kaget banyak yang PM aku di FFN dan itu udah sebulan yang lalu. SMS ato PM FB aja guys biar aku respon cepet.
Dan untuk readers yang ada di Malang kalo pingin ketemuan juga boleh. Ato mau dateng ke acara kita tanggal 8 maret nanti :D
Thanks buat yang udah support dan setia nungguin. Semoga kalian nggak kapok-kapok mantengin FF-ku dan nungguin aku update /deep bow
Oke deh, mungkin sampai disini dulu aku ngobrol-ngobrolnya.
Last things, Mind To Riview?
