Title : The Wrong Daddy

Pairing : Kai D.O [Kaisoo OTP]

Genre : Drama, Family

Rating : M

Disclaimer : Kaisoo belong to each other & SM Entertaintment, but THE STORY IS BELONG TO ME! No plagiat!

Summary : D.O hamil. EXO heboh. Namun sayangnya, hubungannya dengan Kai malah berakhir. Apa alasannya? [CHANKAISOO] [KAISOO], [CHANSOO], YAOI! MPREG! CANON! DLDR!

WARNING! TYPOS BERTEBARAN, GAJE, OOC.

GET AWAY IF U DON'T LIKE IT! YOU'VE BEEN WARNED!

NO BASH! NO FLAME!

ALL POV IS AUTHOR POV!

.

.

.

.

.

HERE WE GO!

[CHAPTER 6]

ENJOY!

.

.

.

.

Mendengar semua cerita dari Baekhyun, Chanyeol ingin sekali membakar dirinya sendiri. Ia begitu bodoh. Emosi yang meledak-ledak membuatnya bertingkah kelewat bodoh, bahkan sampai menghamili kekasih dongsaengnya. Dulu ia tidak mau tahu tentang Baekhyun. Rasa kecewa karena dikhianati telah menutupi hati nuraninya. Kenyataannya adalah Baekhyun sama sekali tidak pernah mengkhianatinya. Dialah yang mengkhianati Baekhyun dan merusak hubungan Kai dan D.O. Ia jadi bisa merasakan betapa tersakitinya Baekhyun melihat semua kemesraannya bersama D.O. Ia merasa sangat bersalah dan berdosa pada Baekhyun yang diam-diam telah menjaga cintanya selama ini.

"Baek... Mianhae... Mianhae..." Chanyeol terisak keras sambil bersimpuh di kaki Baekhyun

"Yeol-ah... Jangan seperti ini. Bangunlah..." Baekhyun mencoba menarik tubuh Chanyeol untuk berhenti menyentuh kakinya. Ia mencoba menenangkan Chanyeol yang menangis tersedu-sedu. Tangisannya terdengar sangat pilu.

"Hiks... Aku tidak pantas untukmu... Kau terlalu baik, Baek... Kau bahkan tidak pernah membenciku dan terus menerus menyalahkan dirimu atas semua masalah yang aku perbuat. Aku sangat buruk, Baek... Mianhae... Hiks..." Chanyeol terus menangis dalam pelukan Baekhyun

"Apa yang kau katakan, Chanyeol-ah? Kau tidak buruk... Kau selalu pantas untukku." Kalimat terakhir Baekhyun ucapkan dengan nada sangat pelan—nyaris tak terdengar

"Aku namja paling buruk di dunia, Baekhyun-ah! Tidakkah kau muak melihat aku masih hidup dan terus menerus menyakiti hatimu? Aku pantas mati, Baek... Hiks..." tangis Chanyeol makin kencang

"Aniya! Aku tidak akan pernah muak padamu karena aku... Aku mencintaimu, Chanyeol-ah... Sampai kapanpun aku akan mencintaimu. Tidak peduli apapun yang terjadi... Sesakit apapun yang harus kurasakan... Aku akan tetap mencintaimu... Saranghae Chanyeollie..." Baekhyun ikut terisak bersama Chanyeol

"Hiks... Saranghae Bakhyun-ah... Jeongmal saranghae... Mianhae..." Chanyeol masik tetap terisak sambil mengencangkan pelukannya pada tubuh Baekhyun

"Nado saranghae, Yeol-ah... Nado..." balas Baekhyun

Chanyeol melupakan segalanya. Susu yang ia buat untuk D.O pun telah dingin. Dan Chanyeol tak pernah tahu kalau sesungguhnya ada sosok lain yang mendengar semua percakapannya bersama Baekhyun.

"Y—Yeol..." bibir D.O bergetar hebat setelah mendengar semua percakapan Baekhyun dan Chanyeol.

.

.

.

.

.

Awalnya D.O hanya penasaran dengan apa yang dilakukan Chanyeol karena namja itu tidak juga kembali ke kamar mereka. Ia pun memutuskan untuk menyusul Chanyeol ke dapur. Sayangnya, apa yang ia lihat saat ini benar-benar tak pernah ia bayangkan. Ia pikir Chanyeol memang mencintainya dan sudah melupakan Baekhyun. Ternyata keduanya masih saling mencintai dan itu cukup menyakiti hati D.O yang sesungguhnya sudah mulai mencoba melepaskan baying-bayang Kai, meskipun semalam tanpa ia sadari, ia malah mengigaukan nama Kai.

D.O mencoba menenangkan hatinya. Ia perlahan melangkah mundur dan memutuskan untuk meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun di dapur. Namun, tubuh kecilnya menubruk seseorang di belakangnya.

"Apa yang kau lihat dengan ekspresi seperti itu?" tiba-tiba saja Kai sudah berdiri di belakangnya. Kai sangat mengenal D.O. Ia tahu bahwa saat ini, raut wajah D.O menampakan wajah sendu karena kecewa

"Amudeo aniya…" D.O mencoba menghalangi Kai untuk ikut mengintip dapur dengan tubuh kecilnya

"Jangan menyembunyikan apa-apa." Kai mencoba menyingkirkan tubuh D.O yang menghalanginya.

Mata Kai seketika membulat saat melihat Baekhyun dan Chanyeol berpelukan dengan sangat erat sambil saling membalas pernyataan cinta masing-masing. Darahnya langsung mendidih sampai ke ubun-ubun. Hatinya langsung menggelap dan tak sabar untuk segera memberi Chanyeol pelajaran berharga (?)

"Brengsek!" desis Kai

"An—andwae!" D.O terlambat. Kai sudah melangkah masuk ke dapur.

BUGH! Kai melayangkan sebuah pukulan yang cukup keras ke pipi Chanyeol hingga setitik darah tampak di sudut bibir Chanyeol. Kai baru saja akan melayangkan pukulan keduanya ketika Baekhyun dan D.O menjerit.

"GUMANHAE!" D.O dan Baekhyun langsung melerai kedua seme tersebut.

Kai memang tidak jadi memukul Chanyeol untuk yang kedua kalinya, namun dengan deathglare andalannya, Kai langsung menerjang tubuh Chanyeol hingga namja itu tersungkur di lantai. Kai mencengkeram kerah baju yang digunakan Chanyeol.

"Dengar! Aku tidak masalah sekalipun kau mengambil Kyungsoo dariku bahkan mengandung anakmu! Tapi aku tidak akan membiarkan kau menyakitinya sedikitpun! Camkan itu!" Kai nyaris mencekik Chanyeol sebelum akhirnya ia selesai berbicara.

Ia menghempaskan tubuh Chanyeol yang terbaring di lantai, lalu menggiring D.O untuk ikut dengannya. Chanyeol mengatur napasnya yang tersengal. Ia tak menyangka bahwa Kai dan D.O akan melihatnya bersama Baekhyun di dapur saat ini.

"Chanyeol-ah… Gwaenchanha?" Baekhyun langsung menghampiri Chanyeol dan segera membantu namja itu untuk berdiri

"Gwaenchanha, Baek…" ucap Chanyeol sembari mencoba berdiri

"Tapi bibirmu…" Baekhyun bergidik saat menatap luka di bibir Chanyeol
"Ini hanya luka kecil. Kau tak perlu khawatir…" Chanyeol mencoba tersenyum pada Baekhyun

Dalam hati, Chanyeol mengaduh kesakitan karena luka di bibirnya terasa perih saat ia tersenyum. Namun ia pura-pura kuat agar Baekhyun tidak khawatir padanya. Baekhyun menghilang sesaat, lalu muncul kembali dengan membawa obat untuk luka Chanyeol.

"Kenapa tiba-tiba Jongin melakukan hal ini?" Baekhyun membersihkan luka Chanyeol dengan alkohol secara hati-hati agar Chanyeol tidak mengaduh kesakitan

"Sshh…" Chanyeol mendesis menahan perih, tak menjawab pertanyaan Baekhyun hingga akhirnya namja itu menguatarakan pikirannya secara sepihak.

"Jongin pasti kesal karena melihatmu memelukku. Dia tidak terima melihat kita sedang berpelukkan disini, sedangkan Kyungsoo menunggumu membuatkan susu untuknya di kamar. Ia pasti masih sangat mencintai Kyungsoo." Baekhyun mengibati luka Chanyeol dengan hati-hati agar namja tinggi itu tidak kesakitan

"…." Chanyeol terdiam, mencoba mencerna kata-kata Baekhyun.

"Aku rasa, aku sudah merusak hubunganmu dengan Kyungsoo. " ucap Baekhyun dengan nada datar. Kini Baekhyun telah selesai memberi salep untuk luka Chanyeol.

Chanyeol merasa pipinya tertampar keras. Perkataan Baekhyun diakuinya ada benarnya juga. Baekhyun kini juga tak mengatakan sepatah katapun. Ia hanya membereskan kotak obat yang tadi ia gunakan untuk mengobati Chanyeol. Keduanya kini tenggelam dalam keheningan.

.

.

.

.

.

"Jongin-ah… Seharusnya kau tidak boleh memukulnya seperti itu…" ujar D.O dengan nada kesal

"Lalu apa, Kyungsoo-ya? Apa kau ingin aku menciumnya? Lalu memeluknya dan bilang kalau aku mencintainya?" Kai melantur tak tentu arah (?)

"A—ani! Bukan seperti itu… Maksudku, kau tidak seharusnya memukulnya. Itu bukan sepenuhnya salah Chanyeol. A—aku.. Aku pantas menerima ini. Aku telah mengkhianatimu. Jikalau Chanyeol memang masih mencintai Baekhyun, gwaenchanha… Aku sudah sepantasnya mendapatkan ini." Ucap D.O seraya menahan perih di hatinya

"…" Kai terdiam

Diam-diam, Kai merasa bersalah melihat wajah sendu D.O saat ini. Ia sebenarnya hanya tidak ingin ada seorangpun menyakiti D.O. Ia terlalu mencintainya. Ia pikir, menyerahkan D.O sepenuhnya pada Chanyeol adalah hal yang benar karena ia percaya bahwa Chanyeol sangat menyayangi dan akan menjaga D.O dengan baik. Ia sudah mulai menerima kenyataan bahwa posisinya untuk menjadi orang yang akan membahagiakan D.O telah digantikan oleh Chanyeol. Dan ketika melihat Chanyeol dengan asyik berpelukan dengan Baekhyun—tak lupa dengan kata-kata cinta yang keluar dari mulut keduanya—Jongin sontak naik pitam. Ia menyesal karena sudah mulai mempercayakan D.O kepada Chanyeol.

"Kau adalah orang yang sangat berharga untukku. Aku tak ingin siapapun menyakitimu, termasuk Chanyeol hyung. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan pernah." Kai segera meninggalkan D.O tepat setelah ia menyelesaikan kalimatnya sebelum ia tidak mampu menahan hasratnya yang sangat menggebu untuk memeluk dan menenangkan namja mungil di hadapannya itu.

D.O kini hanya mematung meratapi kepergian Kai dengan menatap kosong lantai di bawahnya.

"Mianhae Jongin-ah…" lirih D.O pelan

.

.

.

.

.

"Baekhyun-ah… Aku…" Chanyeol menghentikan kata-katanya. Ia bingung bagaimana mengutarakan maksud hatinya

"Kupikir kau harus memilih, Chanyeol-ah…" kata Baekhyun dengan tatapan yang begitu dalam

"…" Chanyeol mengangguk pelan

Mereka terdiam cukup lama hingga akhirnya Chanyeol tersadar akan susu yang tadi ia buat. Susu itu jelas sudah dingin. Timbul rasa bersalah di hatinya. Ia benar-benar merutuki kebodohannya. Bagaimana mungkin ia meninggalkan D.O di saat-saat seperti ini? Dengan sangat berat hati, Chanyeol memutuskan untuk memilih D.O yang sedang mengandung anaknya. Tidak mungkin ia membiarkan seseorang yang sedang mengandung anaknya tanpa perhatian dari dirinya.

"Baekhyun-ah… Jeongmal mianhae… A—aku… Kita tak bisa meneruskan semua ini. Aku sudah memiliki Kyungsoo sebagai tanggung jawabku. Aku tidak mungkin meninggalkannya. Mianhae…" wajah Chanyeol kini memelas dengan mata berkaca-kaca.

"Ne, Chanyeol-ah… Aratjji… Aku bisa mengerti posisimu. Aku kecewa padamu karena kau tidak memilihku, tapi aku bangga karena kau sangat bertanggungjawab. Kuharap kita bisa tetap bersahabat." Baekhyun mencoba tersenyum meski sesungguhnya hatinya hancur berkeping-keping

Ia sudah terbiasa. Ia terbiasa seperti ini, ia cukup menjadi penonton. Ia tak perlu jadi aktornya, karena ia tidak pernah lolos audisi. Ia tidak pernah diterima menjadi aktor dalam suatu kisah indah yang terjadi di hidupnya. Ia tidak pernah menyalahkan siapapun karena memang seperti inilah hidupnya.

"Tentu saja, Baek…! Kita akan selalu jadi sahabat!" ucap Chanyeol dengan wajah cerianya. Chanyeol langsung memeluk Baekhyun dengan begitu bersemangat.

"…" Baekhyun tak mengatakan apapun dan hanya meresapi pelukan Chanyeol yang setidaknya bisa sedikit mengobati rasa sakit di hatinya

"Mianhae, Baekhyun-ah… Mian…" Chanyeol mengusap-usap belakang kepala Baekhyun yang berada di pelukannya

Setelah itu, Chanyeol mulai sibuk membuat susu hamil untuk Kyungsoo lagi. Dan Baekhyun hanya bisa menatap Chanyeol dengan tatapan terlukanya. Ia segera meninggalkan Chanyeol untuk menenangkan dirinya.

.

.

.

.

"Soo-ya…" Chanyeol membawa susu hamil yang ia buat ke dalam kamarnya bersama D.O.

Ia melihat D.O sedang berbaring sambil membelakangi pintu kamar, sehingga Ia mengira D.O sedang tidur.

"Jagiya… Ireonna~ Kau harus minum susu dulu, nanti kau boleh tidur lagi." Chanyeol mendekati D.O dan duduk di pinggir single bed yang ditempati D.O

"Hiks… KA!" seru D.O disela tangisannya. Ternyata namja hamil ini tengah menangis.

"Soo-ya…" Chanyeol menambah erat genggamannya pada gelas berisi susu yang ia pegang

"KA! Aku tidak mau melihatmu!" usir D.O dengan kasar.

D.O mendorong tubuh Chanyeol untuk menjauhinya hingga susu yang dipegang tumpah mengenai bajunya.

"KYUNGSOO-YA! APA YANG KAU LAKUKAN?" bentak Chanyeol secara reflek.

Namun perasaan bersalah langsung menghinggapi hatinya saat menatap wajah D.O yang berlinangan air mata.

"Chanyeol-ah! Mwohaneun geoya? Kenapa kau membentak Kyungsoo? Dia sedang hamil!" seru Suho terkejut

Suho mendengar bentakan Chanyeol dan langsung menuju sumber suara. Ia menemukan D.O sedang terisak dan ia langsung menarik D.O ke dalam pelukannya. Ia mengelus kepala D.O dan mencoba meredakan isakan D.O.

"Mianhae… Kyungsoo-ya… Mian… Jeongmal mianhada…" Chanyeol tak peduli lagi dengan bajunya yang kotor dan kulitnya yang memerah karena terkena susu panas. Hanya penyesalan-lah yang ada di dalam otak dan hatinya.

"Hiks… Hiks…" D.O seolah tuli dan tak mau mendengarkan kata maaf dari Chanyeol

"Mulai malam ini, akan ada Jongin yang ikut tidur bersama kalian di kamar ini." Suho menatap tajam Chanyeol, lalu membawa D.O keluar kamar.

Chanyeol langsung terduduk di ranjangnya dengan perasaan kacau balau. Ia yakin, hidupnya akan bertambah buruk mulai malam ini.

.

.

.

.

#SKIP

D.O berulang kali mengubah posisi duduknya. Ia sangat tidak nyaman dengan perutnya yang besar karena usia kandungnnya sudah memasuki bulan ke 7. Aktifitas EXO tetap padat, sehingga mau tak mau ia hanya terus-terusan berada di dorm tanpa pergi kemana pun. Ia jarang sekali keluar dorm. Ia benar-benar hiatus dari dunia entertainment. Bayinya yang aktif turut membuat ia jadi super malas untuk melakukan banyak pergerakan. Kini ia hanya membaca buku yang dibelikan oleh member yang lain.

Saat member lain sedang melakukan show atau tur, sesekali manajer akan datang untuk melihat keadaannya sejenak, setelah itu manajer akan mengajaknya keluar dengan penyamaran ketat untuk berbelanja kebutuhan bayinya kelak.

Ketika berbelanja bersama manajernya, D.O akan selalu menggunakan pakaian hamil berupa dress dan juga syal serta kacamata hitam untuk menutupi wajahnya. D.O benar-benar terlihat seperti yeoja yang sedang hamil. Apalagi dengan perubahan bentuk tubuhnya saat ini. Dadanya bertambah sintal dan pinggulnya melebar. D.O bahkan harus memakai bra agar putingnya yang bengkak tidak tercetak dengan jelas di balik baju yang ia kenakan, meskipun pada kenyataannya ia sama sekali tidak nyaman dengan itu karena tidak terbiasa menggunakan bra. Rasanya dadanya sesak dan ia jadi tambah kesulitan bergerak karena ada bra yang melingkupi dadanya. Ia juga memanjangkan rambutnya dengan potongan bob agar ia tak perlu repot-repot memakai wig saat menyamar untuk sekedar keluar rumah.

Bisa dikatakan, penampilannya saat ini benar-benar seperti yeoja. Tubuh D.O sama sekali tidak bertambah gemuk. Hanya perutnya saja yang kian minggu kian membesar. D.O pun terlihat semakin cantik. Kebiasaannya yang jarang memakai celana di rumah atau di dorm pun semakin menjadi-jadi. Ia kini sering sekali bertingkah cuek dengan hanya menggunakan t-shirt hitam kedodoran atau baju hamil super pendek tanpa menggunakan celana—dengan catatan ia masih tetap menggunakan celana dalam. Kelakuannya ini tentu saja menjadi godaan yang sangat berat untuk seme-seme EXO. Pahanya yang putih mulus dengan bulu halus yang tipis dan nyaris tak terlihat seringkali membuat para seme menaik-turunkan jakunnya untuk dapat bertahan dari pemandangan paha menggoda milik D.O.

DUG!

"Ngh!" pekik D.O saat merasakan tendangan yang cukup kuat dari dalam perutnya.

"Waeyo baby? Kau rindu appamu? Bersabarlah, sebentar lagi appa pulang." D.O mengusap perutnya penuh kasih sayang.

Masih dengan mengelus lembut perutnya, D.O menyenandungkan instrumen yang sangat merdu dari bibirnya, seolah menyanyikan lullaby untuk bayi aktifnya itu. Awalnya, bayi yang telah diketahui berjenis kelamin namja itu bergerak-gerak lincah, mungkin karena senang diajak berbicara oleh ibunya. Lama kelamaan, gerakan bayi itu melambat dan akhirnya tenang. Sepertinya, bayi itu kini sedang tidur karena mendengar senandung dari D.O.

D.O tersenyum senang karena bayi yang ia kandung sepertinya telah mengenali suaranya. Ia benar-benar tak sabar agar bayi itu segera lahir ke dunia.

"Baby…"

Sebuah suara bass tiba-tiba mengalihkan perhatiannya. Ia segera menolehkan kepalanya dan melihat seorang namja kini berdiri di belakangnya sambil memegang kedua pundaknya.

"Jongdae hyung? YA! Seenaknya saja kau memanggilku baby! Aku bukan babymu. Mau kulaporkan pada Minseok hyung?" ancam D.O pedas karena merasa telah dilecehkan oleh Chen. Ia tidak suka dipanggil seperti itu, kecuali oleh Chanyeol—dan juga Kai—tentunya.

"Kenapa kau percaya diri sekali, huh? Aku sedang memanggil keponakanku yang sedang ada di dalam sini. Hey, jagoan… Cepatlah lahir, nanti kita akan bermain ke Lotte World bersama-sama, lalu bermain ski, hockey, billyard, softball, tenis dan apapun itu. Aratjji? Hei kenapa kau tidak menendang?" Chen dengan aura kebapakannya langsung mengusap perut D.O dan mengecupnya tanpa merasa berdosa sedikitpun karena telah mengganggu si kecil itu tidur di dalam rahim eommanya.

"Mwoya? Jadi hyung menyuruh anakku lahir prematur, eoh? Tentu saja Ia tidak menendang, ia baru saja tidur sebelum hyung datang." wajah D.O berubah buas, seperti induk serigala yang merasa anaknya sedang dalam bahaya.

"Aigoo! Kyung! Kenapa galak sekali? Aku hanya merindukan anakmu saja. Oh Tuhan! Kenapa mood swingmu bertambah parah sekian hari? Kau seperti serigala betina saja." keluh Jongdae dengan dahi berurat (?)

"Ne, mood swingku memang bertambah parah. Jangan ganggu aku!" usir D.O dengan kejam

"Arasseo… Padahal aku membelikanmu sesuatu. Tapi karena kau menyebalkan seperti ini, aku tidak jadi memberikannya untukmu." Ucap Jongdae dengan nada kecewa

"Berikan padaku! Ppalli!" paksa D.O sambil menarik-narik tangan Chen yang berdiri di hadapannya

"Andwae. Kau menyebalkan." Balas Chen dengan gaya kekanakan

"Uuhh..! Baiklah. Kim Jongdae yang baik hati dan jago menari, bolehkah aku meminta hadiah untukku." Akhirnya, D.O mau juga melawan egonya dan mencoba merayu Chen semanis mungkin karena ia sangat penasaran dengan hadiah dari namja bersuara melengking itu. Sesungguhnya dia amat mual saat mengatakan pujian—coret—hinaan—kepada Chen barusan, namun ia berusaha menahannya agar Chen mau memberikan hadiah itu.

"Hahahahaha! Baiklah, manis. Aku akan memberikannya untukmu. Tada! Sebenarnya hadiah ini bukan untukmu, tapi untuk keponakanku tercinta." Tawa troll Chen menggema singkat, lalu ia menunjukan sepasang kaos kaki dengan hiasan boneka tokoh piglet—babi kecil di kartun Winnie The Pooh—di ujungnya kaos kaki itu, tepat di atas jari-jari kaki.

D.O hampir saja tersedak ludahnya sendiri saat melihat hadiah dari Chen. Bagaimana tidak? Kaos kaki mungil itu terlalu 'lucu' untuk seorang bayi lelaki. Apalagi warnanya yang merah muda cerah membuat kaos kaki itu terlihat sangat girly. D.O bergidik membayangkan anaknya memakai kaos kaki itu.

"Hyung…..! Michyeosseo? Kau serius memberikan kaos kaki pink itu untuk anak lelakiku? Gosh!" D.O berteriak kesal

"Tapi ini lucuuuu… Keponakanku akan sangat menggemaskan kalau menggunakan ini…" Chen mempoutkan bibirnya

"Tapi hyung! Dia namja! Namja tidak cocok dengan warna pink."

"Aku suka warna pink dan kaos kaki ini mirip dengan punyaku! Aku sangat senang karena sebentar lagi bayimu akan lahir, Kyung. Kau tahu? Aku dan Sehun sangat senang karena kami tidak perlu lagi berharap agar EXO membintangi reality show Hello Baby karena sebentar lagi… Bayi ini akan lahir dan anak ini adalah keajaiban di EXO! Yeah!" Chen tertawa lebar sebelum sebuah tepukan mesra menyadarkannya.

PLETAK!

"Aw!" keluh Chen sambil memegang kepalanya yang baru saja dipukul oleh entah siapa.

"Berhentilah bertingkah bodoh dan menjauhlah dari calon istri serta anakku." Chanyeol tersenyum menatap D.O dan memberikan tatapan tak sukanya pada Chen

"Aku hanya ingin menemui keponakanku saja. Heol! Kalian jahat sekali! Baby Min tidak bisa hamil seperti Kyungsoo, tapi kalian yang diberi anugerah seperti ini malah sangat protektif dan pelit. Menyebalkan!" Chen melenggang pergi dengan hentakan kaki karena kesal pada Chanyeol dan D.O

"Jongdae-ya! Kami hanya pelit padamu saja!" seru Chanyeol diikuti tawa bassnya yang terdengar sedikit menyeramkan

D.O tertawa nyaring, namun ia meringis di tengah-tengah tawanya karena tendangan bertubi yang ia rasakan dari dalam perutnya.

"Ahahahaha.. Ugh… Hahaha… Jangan menendang terus, sayang. Apa kau terlalu senang karena ada appa disini?" D.O membelai perut buncitnya dengan penuh kasih dan kelembutan

"Annyeong aegiya… Appa yeogisseo.." Chanyeol menyentuh perut D.O dengan ekspresi takjub

DUG! DUG!

"Woah! Kau senang, ne?" Chanyeol mengecup perut D.O yang bergerak-bergerak. Bayi laki-laki itu ternyata begitu lincah karena terus bergerak.

"Aigoo… Aegi… Jangan bergerak terus. Itu sakit." D.O menggigit bibir bawahnya untuk menahan nyeri di perutnya yang bergejolak karena ulah bayi yang ia tunggu-tunggu itu.

"Aegiya.. Kau tidak boleh nakal pada eomma, ne? Eomma sudah membawamu selama ini, jadi kau tidak boleh menyusahkan eomma di dalam sana. Aratjji?" Chanyeol mencoba berdialog dengan jabang bayi yang ada di perut D.O

DUG!

"Ah.." reflek D.O

"Kau pasti mengerti, ne? Good boy!" Chanyeol mengecup perut buncit D.O dengan penuh kasih sayang

"Sudah puas bermesraannya, eoh?"

Suara khas milik Kai menginterupsi lovey dovey Chanyeol dan D.O. Keduanya kini malah bertingkah aneh dan langsung menjaga jarak.

"Sekarang waktunya aku dan Kyungsoo yang bermesraan." Kai mencoba membantu D.O berdiri dan membawanya menjauhi Chanyeol.

.

.

.

.

.

Sejak hari dimana Kai resmi tidur di kamar yang sama dengan Chanyeol dan D.O, hubungan Kai dan D.O mulai membaik. Kai bahkan selalu menghiburnya dan menyediakan banyak hal yang diinginkan D.O ketika ia ngidam. Bahkan Chanyeol jarang sekali melakukan sesuatu untuk memenuhi ngidam D.O, bisa dikatakan bahwa Kai-lah yang selalu ada untuk D.O.

Chanyeol tak tahan lagi dan langsung menjelaskan segalanya pada D.O bahwa ia akan tetap bersama D.O dan bayi mereka, sekalipun ia juga masih menyukai Baekhyun. D.O akhirnya mau berbaikan lagi dengan Chanyeol dan hubungan mereka kembali seperti semula. Lagi-lagi, Kai merasa dibuang. Namun ia tetap dengan sekuat tenaga mencoba merebut perhatian D.O dari Chanyeol dengan macam-macam alasan, dari yang logis sampai yang gila. Semua ia lakukan semata-mata hanya karena ia sangat mencintai D.O, malaikatnya yang bertubuh mungil.

"Kyungie… Kata dokter kemarin, jalan-jalan bagus untukmu dan bayimu. Ayo jalan-jalan keluar." Ajak Kai dengan begitu bersemangat

"Dengan pakaian seperti ini?" D.O menatap tubuhnya dan tubuh Kai bergantian

"Tentu tidak. Ayo menyamar dahulu." Kai menggandeng tangan D.O menuju kamar mereka dan menyamar seperlunya agar tak ada yang mampu mengenali bahwa mereka adalah member EXO.

Di taman, keduanya tak berbicara sepatah kata pun. Kai hanya mengayunkan tangannya sambil menggenggam tangan D.O lalu berjalan lambat-lambat agar D.O tidak merasa cepat lelah.

"Mau duduk di sana?" tanya Kai yang hanya dibalas anggukan dari D.O

Keduanya duduk di sebuah bangku yang ada di taman itu. Kebetulan taman itu tidak jauh dari dorm mereka sehingga D.O tidak keberatan harus berjalan kaki dengan keadaan berbadan dua seperti ini.

"Hahahaha… Lihatlah, Kyung! Anak-anak itu bermain kejar-kejaran dan salah satu di antara mereka menginjak kotoran anjing!" Kai terbahak cukup keras. Iris matanya memandang sekumpulan anak-anak yang sedang tertawa karena salah satu teman mereka menginjak kotoran anjing. Anak yang menginjak kotoran itu kini sedang menangis karena ditertawakan.

"…"

D.O hanya tersenyum kecil. Ia malah membayangkan kehidupannya nanti setelah bayinya lahir. Pasti akan sangat menyenangkan sekaligus melelahkan. Ia bersama dengan Chanyeol yang bermain dengan anak mereka… Seketika saja wajah D.O berubah murung. Ia merasa bahwa ia harus benar-benar mengakhiri segalanya dengan Kai. Ia benar-benar ingin fokus pada Chanyeol dan bayi mereka, seperti Chanyeol yang rela melepaskan Baekhyun demi dirinya.

"Jongin-ah…" panggil D.O

"Ne..?"

"Kurasa. Kita benar-benar harus mengakhiri semuanya. Di sini. Saat ini." Rasa sakit perlahan menjalar di hatinya. Cintanya kepada Kai masih tertanam kuat dan ia mencoba mencabut perasaan itu secara paksa sehingga rasanya begitu sakit.

"…" Kai terdiam dan berpikir keras, mencoba mengahalau semua pikiran negatif yang berseliweran di otaknya

"Kau pasti tahu kalau Chanyeol…. Chanyeol melepaskan Baekhyun." D.O nyaris tak mampu melanjutkan perkataannya yang bahkan belum semuanya ia katakan

"Kau ingin bilang kalau kau juga akan melepasku seperti Chanyeol hyung melepas Baekhyun hyung?" selidik Kai

"…." D.O tak mampu mengatakan apapun lagi. Ia menyerah pada hatinya yang begitu bergemuruh. Rasanya sangat menyakitkan karena harus melepaskan orang yang ia cintai begitu dalam.

"Kyungsoo… Saranghae saranghae saranghae saranghae… Bahkan sampai beribu-ribu kali kata-kata itu kuucapkan, itu tak akan pernah mampu mengungkapkan apa yang kurasakan tentang cinta padamu. Jika kau—cintaku—memilih untuk pergi, apa lagi yang bisa kulakukan?" Perlahan Kai beranjak dari bangkunya

"Jonginie…" entah kenapa lidah Kyungsoo tercekat

"Sebaiknya kau segera pulang sekarang. Maaf tidak bisa menemanimu sampai akhir.." Kai mencoba memberi senyum pada D.O dan langsung pergi begitu saja.

"Mianhae… Neomu mianhae…" D.O mengusap sebulir air mata di sudut matanya

.

.

.

.

.

.

#SKIP

[HOSPITAL]

Sudah hampir 3 jam yang lalu D.O masuk ke dalam ruang operasi. Tadi pagi kontraksi datang dan tak lama air ketubannya pecah sehingga ia langsung dibawa ke rumah sakit. Chanyeol, Suho, Tao dan Chen menunggu harap-harap cemas di ruang operasi mereka khawatir sekali dengan keadaan D.O yang tengah berjuang di antara hidup dan mati. Manajer mereka sesekali muncul membawa makanan, lalu kembali lagi ke dorm dan muncul lagi hingga 4 member EXO itu bosan. Sedangkan member lainnya menunggu kabar di dorm saja.

Bak melihat oase di padang gurun yang bersuhu 45 derajat, suara tangis bayi yang terdengar dari ruang operasi membuat mereka kini dapat bernapas lega karena bayi yang sudah dinantikan selama ini akhirnya lahir ke dunia. Mereka langsung berpelukan ala teletubbies, apalagi dengan jumlah mereka yang sangat pas berempat. Mereka sangat bahagia sekarang. Tak lama kemudian, munculah seorang perawat dengan baju operasi biru yang masih melekat ditubuhnya. Ia menggendong sebundel bayi yang diselimuti kain berwarna biru.

"Park Chanyeol-ssi. Anak anda laki-laki yang sehat. Lahir jam 10.35 KST dengan berat 3,4 kg dan panjang 54 cm. Bayinya cukup besar dan normal. Apa anda ingin menggendong anak anda?" tawar perawat tersebut

Chanyeol langsung mengangguk cepat. Ia tak sabar sekali menggendong sang jagoan kecil untuk pertama kalinya. Dengan perlahan, ia mengambil alih bayi mungil itu dari gendongan perawat tadi. Langsung saja ia dikerubungi oleh Tao, Suho dan Chen.

"Hei.. Anak ini tidak mirip dengan Chanyeol." Komentar Suho

"Dia juga tidak mirip dengan D.O." –Chen

"Tunggu dulu. Kenapa hidung anak ini pesek sekali? Padahal Kyungsoo dan Chan hyung tidak pesek." –Tao

"OMONA! SEPERTINYA ANAK INI BUKAN ANAKKU! PERAWAT! ANAKKU TERTUKAR! TOLONG!" seru Chanyeol dengan suara bassnya yang nyaris membuat seluruh penghuni rumah sakit itu cepat-cepat menutup telinganya masing-masing.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue….!

Hallo… Maaf baru muncul lagi…

Saya sempet WB karena stress OTP saya (baca:Kaisoo) gak ngerayain ultah and anniv bareng.

Buat tanggapan chapter kemarin, aku nggak ngambek, sungguh!

Demi apa aku ngambek?

Aku Cuma sempet kehilangan semangat aja, bukan karena ada yang bash ff ini.

Semua komentar aku tanggepin positif kok.

Nggak apa-apa ada yang mau hina-hina ff ini karena emang aku sadar, ffnya gak bagus.

Jadi silahkan berikan opini sebebas-bebasnya..

Gratis kok! Gak dipungut biaya, hehe.

Banyak banget yang bingung, sebenernya ff ini Chansoo atau Kaisoo sih?

Well~ ini Ff Chankaisoo.

Jadi fokus utama adalah hubungan threesome (?) ini.

Dan pair utama disini Kaisoo karena aku bakal bikin endingnya Kaisoo.

Ok?

Spoiler nih, Kaisoo endingnya…

Chansoo shipper, maaf ya…

Aku juga chansoo shipper kok, tapi hatiku dari awal sukanya kaisoo.

Mungkin adegan chansoo disini memang lebih dapet (?) daripada adegan kaisoo karena author lagi mabok Chansoo moment yang unyu-unyu naujubile.. Sayangnya chanbaek moment di Barca membuat saya balik lagi ke official couple. Wkwkwkwk..

Tapi namanya koki gak selalu bisa memuaskan semua pelanggannya.

Saya sebagai author juga dengan rendah hati mengakui kalau sebagai author, pastinya saya gak akan bisa memuaskan seluruh reader.

Inilah ff saya dengan segala kekurangan dan kelebihan (bacotnya) yang ada.

Maaf kalo author notenya bikin munte-munte saking banyaknya.

Mau balas lewat PM, modem lagi jebol.

Rada susah nih…

Maapkeun yah gaes…

Next Chapter is the Last ~….!

Mind to review?

(Kayaknya gak ada deh, soalnya udah pada munte2 baca author note)

Wkwkwk…

HAPPY KAISOO DAY

HAPPY KAISOO DAY

HAPPY JONGIN DAY

HAPPY KYUNGSOO DAY