Hallo, readers! Terima kasih masih setia mengikuti Akhir Penantian(?) S2 sampai sejauh ini! Terima kasih atas semua support untuk para readers maupun reviewers yang diberikan kepada author dalam menulis fanfic inii... Hehehe.
Sekarang author merilis chapter terbaru, isinya tentang kelanjutan kasus ancaman bom yang dihadapi MPD di chapter kemarin. Ceritanya bukan ngegantung sih tp emg dilanjutin di chapter ini hehe... Maaf ya author lupa nulis 'to be continued' sepertinya... Jadi, emang ceritanya itu belum selesai gitu karena pelakunya belum ketangkep daaan... Ada masalah baru yang akan dihadapi oleh MPD di chapter ini dalam menangani kasus tersebut. Melalui masalah itu juga, kita akan menguji Shinichi tentang janjinya untuk melindungi Shiho. Mudah2an author berhasil menuangkannya dengan baik ke chapter ini hehe.
Di chapter ini, author ingin mengungkapkan sedikit soal kenapa author lebih prefer dengan pairing ShinShi dibanding ShinRan. Menurut author, apa yang dilakukan ShinShi lebih memenuhi kriteria tentang 'cinta' itu sendiri walaupun tanpa kata-kata, bukan retoris kayak ShinRan yang sampai menyatakan perasaan di London dan sebagainya itu walaupun ya menyatakan perasaan juga perlu (tp bukan itu yang terpenting) /ditimpukkin fans ShinRan/ Jadi, setelah sebelumnya Shiho jadi detektif polisi supaya bisa melindungi Shinichi saat bertugas, sekarang giliran Shinichi yang akan melindungi Shiho hehe... Ini sesuai dengan prinsip cinta itu sendiri yang saling menyediakan, saling memberi. Bukannya take and give, tapi give and give... Semoga readers suka sama jalan ceritanya yah!
Oh ya, ngomong-ngomong finally author udah berhasil nyelesaiin Ch. 8! Yang artinya, semua chapter di season 2 ini udah selesai dan tinggal dipublish semua ke website ini. Kalau semuanya lancar2 saja, author akan publish secara teratur tiap 2 hari sekali. Gimana gimana? Excitedkah nunggu gimana akhir dari cerita ini? ^_^ Hehehe.
Kemarin juga author cari beberapa referensi ff DC yang rated M dan setelah dibandingkan dgn Ch. 9 author, ternyata tidak sefrontal ff lain ber-rating M terutama yang dalam bahasa Inggris. Jadi, utk ch. 9 akan author tetap gabungkan di sini dan ratingnya gajadi dinaikkin yeaah... Ditunggu saja chapter-chapter selanjutnya yaa!
Oke, sekian author notesnya. Daripada basa-basi terus, langsung saja scroll ke bawah and enjoy the story! Akhir kata, please review! Arigatou, readers and reviewers!
I don't own Detective Conan
All characters belong to © Gosho, Aoyama
CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) Series
AKHIR PENANTIAN(?) S2
CHAPTER 4C
Holmes and Watson – 3
Love does not request, love provides.
Norbert Harms
Shiho berhasil menerobos ke dalam gudang penyimpanan obat-obatan. Dengan berbekal sebuah kartu multifungsi yang dimiliki Kepolisian Jepang, ia bisa masuk ke semua ruangan yang terkunci secara elektrik. Matanya mulai mengamati secara teliti setiap label yang tertera pada kemasan obat-obatan itu, terutama di lorong anestasi dan obat bius.
Berkali-kali ia mengecek label dan mencocokkan dengan daftar yang ia bawa dari ruang arsip. Matanya berbinar mengetahui analisis pertamanya sebagai detektif polisi ini benar. Jumlah obat-obatan di ruang itu jauh lebih sedikit dibandingkan dengan di daftar. Bahkan ada beberapa jenis obat yang tidak ada wujudnya dan tidak pernah dilaporkan keluar dari Universitas itu. "Huh, cerdik sekali ya," pikir Shiho.
Tanpa disadari, seseorang mengikuti Shiho sejak ia keluar dari ruang arsip tadi. Karena terlalu sibuk mengamati label obat-obatan itu, Shiho juga tidak menyadari bahwa kini ia tidak sendirian di ruangan itu. Seseorang kini hanya berjarak beberapa meter di belakangnya dengan sebuah stunt gun yang telah disiapkan...
Shiho baru saja hendak melapor kepada Sato mengenai temuannya saat ia merasakan sengatan listrik di tubuhnya. "Cukup sampai di situ," kata orang itu. Tak lama ia kehilangan kesadaran dan terjatuh lemas. Orang itu menyingkap jas lab panjang Shiho dan menemukan pistol dan lencana kepolisian. "Cih," kata orang itu sambil kini menyeret Shiho yang pingsan menuju tempat parkir.
xxx
"Pukul 11.17, Tim Haneda berhasil menjinakkan semua bom yang ditemukan," lapor Shiratori kepada markas pusat. "Baiklah. Bagaimana denganmu, Sato?" tanya Inspektur Megure kepada Sato. Sato menoleh kepada komandan regu penjinak bom yang ada bersamanya. Sebuah anggukan diberikan oleh rekannya itu. "All clear. Bom berhasil dijinakkan," lapor Sato.
"Kerja bagus! Kami juga baru saja mendapat kabar dari kepolisian di daerah lain bahwa semua bom telah berhasil dijinakkan. Kalian pantas mendapat penghargaan! Sekarang kembalilah dan kita akan mencari siapa pelakunya." Inspektur Megure memuji anak buahnya dan membanggakan mereka. "Ini semua berkat Shiho-kun yang sudah memberikan analisis awalnya," kata Sato. "Betul, di mana dia? Bisakah kau menghubungkanku dengannya?" minta Inspektur Megure. "Dia belum menemuiku, aku akan memanggilnya," respon Sato.
"Shiho-kun, di sini komando Narita," kata Sato melalui radio. Tidak ada respon, padahal semua petugas dalam komando Sato bisa mendengar panggilan itu.
"Shiho-kun, laporkan posisimu," ujar Sato lagi.
Hening...
"Miyazaki-san, bisakah kau melacak posisi Shiho-kun?" tanya Sato.
"Pemancarnya tidak menyala, Sato-sama. Ada kemungkinan radionya dimatikan," jawab anak buahnya itu.
"Mustahil. Shiho-kun, Sato di sini, melaporlah kepada kami," kata Sato lagi.
Pukul 11.56.
"Ada sedikit masalah di sini, Inspektur–" lapor Sato, "Kami kehilangan Shiho."
"Mustahil! Apa yang terjadi, Sato-san?" Inspektur setengah berteriak.
"Laporan terakhir dari Shiho masuk sekitar 1,5 jam lalu. Menurut Miyazaki, posisinya terakhir di ruang arsip sebelum radionya mati," jelas Sato lagi. "Perintahkan anak buahmu yang lain untuk mencari!" perintah Inspektur.
"Semua petugas yang ada di Universitas Toto, kembali ke lokasi. Sekali lagi kuulangi, kembali ke lokasi. Ada seorang petugas yang hilang, terakhir dilaporkan berada di ruang arsip. Mohon kerjasamanya untuk segera menemukan petugas tersebut," perintah Sato dari mobil komando.
Pukul 11.59
Pelaku itu kini sudah mengendarai mobilnya keluar dari tempat parkir. Sambil menyetir, ia mengeluarkan sebuah remote dan menekan salah satu tombolnya.
"Aku tidak bisa berdiam di sini saja, aku akan ikut mencari. Chiba, kuserahkan komando kepadamu," kata Sato.
xxx
DUAAARRR!
"Megure! Lihatlah ini!" teriak Jenderal Matsumoto sambil menyaringkan suara televisi.
"Sebuah ledakan hebat baru saja terjadi di lingkungan Universitas Kyoto. Ledakan yang tiba-tiba menimbulkan kepanikan di antara mahasiswa yang sedang beristirahat dan makan siang. Ledakan diketahui berasal dari sekitar Fakultas Kedokteran, saat ini kita belum mengetahui informasi detailnya dan kami sedang mencoba menghubungi kontributor kami di sana..."
"Mustahil...," kata Megure tidak percaya.
xxx
"Apa? Ledakan tetap terjadi?" kata Shinichi. "Tidak mungkin, katanya semua bom sudah dijinakkan. Apakah bom itu aktif lagi?" tanya Chiba. "Kepolisian Kyoto belum mengonfirmasi," jawab Shiratori singkat. "Ng menurutku temanku di sana, bom yang sudah dijinakkan semua sudah diamankan dan tidak meledak. Ledakan juga bukan dari ruang arsip. Sepertinya masih ada bom di tempat lain," jelas Takagi.
"Ada kabar buruk lain, Shinichi-san–" kata Shiratori. "Eh?"
"–Miyano-san menghilang," jelas Shiratori.
Kata-kata itu ibarat petir di siang hari. "Haibara-san menghilang?" pikir Shinichi.
xxx
"Sial! Aku tidak mungkin membiarkan hal ini terjadi!" pikir Shinichi yang sudah turun dari mobil komando menuju ke mobilnya.
"Shinichi! Apa yang kau lakukan di sini?" Shinichi menoleh kepada Ran yang sedang menghampirinya. "Ran?" tanyanya. "Kau sedang apa? Ada kasus?" tanya Ran bingung sementara Shinichi hanya menatapnya kosong, "Benar juga, masih ada bom lain di sini. Ran masih dalam bahaya, tapi..."
"Tidak ada apa-apa, Ran-san," jawab Shiratori yang sudah ada di dekat mereka. "Ah, Inspektur Shiratori juga–" kata Ran.
Shinichi sudah memutuskan apa yang harus ia lakukan. "Pokoknya–" kata Shinichi, "–cepatlah tinggalkan tempat ini, Ran." Shinichi segera masuk ke mobilnya dan tancap gas menuju Universitas Toto.
Shiratori hanya menatap kepergian Shinichi. "Eh, apa maksudnya, Shiratori-sama?" tanya Ran bingung. "Eh? Ng, mungkin maksudnya kau harus segera pulang kalau jadwalmu sudah selesai. Dia mengkhawatirkan kalau terjadi apa-apa padamu, seperti biasa. Sudah ya, Ran-san," jawab Shiratori berkilah sambil pergi. "Hu-uh, ada-ada saja," pikir Ran yang kini kembali ke gedung kampusnya. "Shinichi, kupikir kau akan tetap tinggal di sini memastikan Ran tetap aman. Apa jangan-jangan kau...," pikir Shiratori saat kembali ke mobil komandonya.
xxx
Shinichi menghentikan mobilnya tepat di samping mobil komando Tim Narita. "Inspektur Sato! Apa yang terjadi?" teriak Shinichi sambil berlari keluar dari mobilnya. "Ah kau sudah mengetahuinya? Tapi perintah dari pusat saat ini untuk fokus pada kemungkinan lokasi bom lainnya," kata Sato kecewa. "Kita belum mengetahui kondisi Miyano-san, Inspektur!" kejar Shinichi.
Sato yang tadinya berjalan masuk ke mobil komando menghentikan langkahnya. "Shinichi-kun, prioritas utama kita melindungi masyarakat. Kau tahu 'kan kalau Shiho-kun juga polisi seperti kita, ia pasti bisa melindungi dirinya. Aku juga khawatir, tapi aku tetap mempercayainya. Dia pasti baik-baik saja," jelas Sato.
"Apa analisis Miyano-san dan laporan terakhir darinya?" tanya Shinichi sambil mengikuti masuk ke mobil komando.
"Ia menemukan kejanggalan pada data seperti yang kau ketahui. Terakhir kali ia melapor dari ruang arsip. Shiho bilang ia akan menuju ke gudang obat-obatan untuk menyelidiki lebih lanjut. Aku sudah melarang, tapi ia bersikeras, lalu ia memutuskan komunikasi. Sampai saat ini...," kata Sato. Jelas Sato khawatir dengan kondisi anak buah barunya itu.
Shinichi terlihat berpikir keras. "Data yang berbeda, ruang arsip, gudang obat?–" pikirnya, "Itu dia!"
"Inspektur, sudahkah tim mencari di gudang obat?" tanya Shinichi. "Itu tempat kedua, tapi ruangnya terkunci. Kartu multifungsi yang kami miliki dibawa Shiho," jawab Sato. "Di mana ruangannya?" tanya Shinichi tidak sabar sambil mengambil ancang-ancang berlari. "B1, arah ke parkiran timur," jawab Sato yang kini mengikuti Shinichi berlari.
Tim memutuskan mendobrak pintu ruangan itu. "Miyano-san!" teriak Shinichi. Matanya mengamati sekeliling ruangan. "Inspektur," seorang petugas memberikan kartu multifungsi dan menunjukkan beberapa map yang terjatuh di lantai. "Ini...," kata Sato. Shinichi menunduk mengambil map-map itu, "Laporan flow obat-obatan. Dan semuanya kosong."
"Inspektur, periksa kemungkinan ada bom di sini," minta Shinichi. "Eh?" kata semua petugas yang ada di sana bingung. "Kalau dugaanku benar, ledakan di Kyoto juga bersumber dari gudang seperti ini," Shinichi menjelaskan. "Baiklah, periksa sekeliling dan panggil tim penjinak!" perintah Sato.
"Inspektur! Kami menemukannya! Yang ini dengan timer dan pengendali jarak jauh," kata seorang petugas. "Apa?! Beritahu tim lain dan kantor pusat!" kata Sato. "Ini harus ditangani dengan hati-hati, jangan sampai pelaku tahu dan mengaktifkan bomnya," kata Miyazaki.
xxx
Di tengah kemacetan kota Tokyo, seorang wanita paruh baya berada di balik kemudi. Matanya berkaca-kaca mengamati foto seorang pria berusia belasan yang sudah kumal. Foto yang selalu dilihatnya dengan berlinang air mata. "Ryusuke...," katanya lirih.
xxx
Pukul 13.28
Semua tim sudah kembali ke kantor pusat saat bom-bom itu berhasil dijinakkan. "Jadi, bagaimana menurutmu?" tanya Megure kepada Shinichi. "Apakah Miyano-san diculik pelaku?" tanya Takagi kini.
Shinichi sangat terganggu dengan pertanyaan itu. "Sial, bagaimana mungkin ini terjadi! Kenapa aku meninggalkannya," sesal Shinichi. "Bom di gudang kemungkinan untuk menghancurkan jejak kalau obat-obatan itu tidak pernah ada di sana," jelas Shinichi. "Siapa saja tersangka kita?" tanya Sato. Takagi mengeluarkan foto-foto dari sebuah map dan menempelkannya di papan satu-persatu. "Oi oi, sebanyak itu?" tanya Sato bingung.
"Itu semua orang-orang yang memiliki akses untuk memasok dan menggunakan obat-obatan itu di semua kampus target," jelas Megure. "Kita harus memperkecilnya, Inspektur," kata Shinichi.
"Berapa orang dari semua tersangka yang ada di Tokyo dan tidak sedang bekerja hari ini?" tanya Shinichi. "Oh!" Sato menyadari sesuatu. "Karena ada kemungkinan pelaku menyerang Shiho, berarti pelaku ada di Tokyo. Tapi kenapa tersangka yang di Universitas Tokyo tidak ikut dieliminasi? Shiho kan hilang di Toto," Tanya Sato. "Ada kemungkinan pelaku tidak bekerja di Universitas Toto, tapi sedang ada di sana untuk suatu alasan," jelas Shinichi. "Masuk akal, baiklah eliminasi sekarang!" perintah Megure.
"Tapi kenapa harus yang tidak sedang bekerja hari ini?" tanya Chiba kali ini. "Tidak mungkin pelaku mau berada di gedung yang ia pasangi bom kan?" jawab Shiratori sedikit kesal. "Ini tersangkanya," tunjuk Takagi ke papan terebut, tersisa 5 orang. "Tiga orang dari Universitas Tokyo dan dua orang dari Universitas Toto. Tetapi informasi terbaru menyatakan 3 dari 5 orang ini sedang mengikuti seminar di luar Jepang," jelas Takagi.
"Jadi, sisa 2 orang?" tanya Shinichi. "Eh ya, begitulah," kata Takagi. "Periksa CCTV di Universitas Toto! Apakah kedua orang itu ada terlihat di sana!" perintah Megure. "Hai!" ujar Takagi sigap. "Ada sedikit masalah, Inpektur, CCTV di Universitas Toto tidak berfungsi sejak 3 hari lalu karena proses maintenance," jelas Sato. "Bagaimana di Universitas Tokyo? Mungkin kita bisa melihat saat pelaku memasang bom," tanya Megure penuh harap. "CCTV dimatikan pada malam hari, negatif pada siang hari," jawab Shiratori.
"Kami akan coba menanyai pihak kampus," jawab Sato.
xxx
Pukul 13.51
"Inspektur, kedua orang tersebut sama sekali tidak terlihat di kampus hari ini. Kecil kemungkinan mereka menculik Miyano-san," kata Takagi. "Apa dia punya kaki tangan?" tanya Megure bingung. "Tidak mungkin, Inspektur, untuk masuk ke dua ruangan tersebut membutuhkan kartu akses dan kalau ada orang mencurigakan pasti akan langsung diketahui," jelas Shinichi. "Inspektur, pihak Interpol menolak untuk negosiasi. Mereka menginginkan buronan mereka tetap diserahkan sesuai jadwal," kata Chiba. "Sial, waktunya tinggal satu jam," Megure kesal.
"Berapa orang tersangka yang kita coret dari Universitas Toto, Takagi-san?" tanya Shinichi. "Eh, untuk apa?" Takagi membongkar kembali berkas-berkasnya, "Ada 2 orang lagi tersangka dari Universitas Toto, tapi kedua orang itu bekerja seperti biasa." Takagi menunjukkan foto-fotonya, "Ini mereka, Megumi Haruka, Kepala Laboratorium Farmasi, dan Mishio Shimura, seorang dosen." "Bisakah kau membantuku memeriksa profil dua tersangka awal dan dua orang ini? Sepertinya kita perlu mengecek segala kemungkinan," pinta Shinichi.
xxx
"Shinichi-kun, ini berkasnya," Takagi memberikan 4 buah map kepada Shinichi. Shinichi membaca keempat berkas tersebut dengan seksama. "Sudah kuduga," pikir Shinichi, "Inspektur Sato, apakah Mishio Shimura hakase ada di kantornya hari ini?" tanyanya kemudian. "Eh? Ya, kalau tidak dia masuk daftar tersangka dari tadi."
"Jangan-jangan, kau sudah mengetahui sesuatu?" tanya Sato penasaran. "Kemungkinan dialah tersangka kita," jawab Shinichi. "Takagi, cepat ke Universitas Toto! Lakukan pemeriksaan terhadapnya," perintah Megure. "Hai!"
xxx
"Inspektur! Mishio Shimura memang masuk sejak pagi, tapi tersangka meninggalkan kampus sekitar tengah hari tadi," terang Takagi. "Apa? Itu sekitar saat Miyano-san kemungkinan hilang" teriak yang lain. "Perintahkan pencarian terhadapnya, kita punya tersangka kuat dalam hal ini! Cepat!" perintah Megure.
"Pencarian melalui udara membuahkan hasil, petugas menemukan mobil tersangka melintas di jalan tol," kata Yumi dari Satlantas. "Cepat, kita juga mengarah ke sana! Ada kemungkinan Miyano-san di mobil itu juga," kata Shinichi.
xxx
Mobil itu melaju kencang di tol. Manuver yang ugal-ugalan dan kondisi jalan yang tidak terlalu rata menimbulkan guncangan keras di bagasi membuat Shiho tersadar. "Di mana ini?" pikirnya. Ia mencoba kembali mengingat apa yang terjadi kemudian ia mencoba melihat sekeliling. "Bunyi mobil, gelap, apa ia menaruhku di bagasi?" batinnya lagi. Ia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya. Percuma, semuanya terikat, begitu pula mulutnya yang dibekap. Sesaat kemudian ia melihat seberkas cahaya berkedap-kedip, ia memusatkan penglihatannya ke sana. Sebuah timer yang masih berjalan dan kini ia sadar ada sesuatu yang terikat di badannya.
"Sial!" gerutunya. Manuver mobil itu kembali membenturkan tubuhnya. Ia kembali memperhatikan timer yang ada di sana. 10 menit lagi. Tak lama ia mendengar raungan sirene polisi, ia tersenyum dalam hati, "Kudo-kun–"
"–aku mempercayaimu."
xxx
Mobil itu menyerah di sebuah jembatan setelah dikepung dari dua sisi. Wanita itu turun dari mobil dan mengangkat kedua tangannya, sebuah remote terlihat di salah satu genggamannya. "Wah kenapa kalian mengejarku?" kata wanita itu. "Kau tidak perlu melarikan diri kalau tidak merasa bersalah, Mishio Shimura," teriak Inspektur Megure.
"Kaulah orangnya, perancang sekaligus orang di balik semua teror ini bukan?" kata Shinichi. "Huh, tahu apa kau, anak muda?" tanya wanita itu kembali. "Ini semua tentang anakmu bukan? Ryusuke Shimura?" jelas Shinichi lagi. Wanita itu terkejut. "Motifnya adalah kematian anakmu beberapa tahun lalu karena narkotika, benar?" tanya Shinichi.
"Dia adalah anak baik-baik, detektif. Hingga suatu hari aku menemukannya tak bernyawa di kamar," suaranya terbata-bata. "Aku tahu ia kecanduan sejak lima tahun lalu, ia memohonku untuk membantu melepaskan diri dari kecanduannya saat aku memergokinya. Aku memasukkannya ke rehabilitasi, tapi saat ia sudah mulai sembuh, teman-temannya mengucilkannya karena ia seorang bekas pecandu. Ia dikeluarkan dari kampus, bahkan orangtua teman-temannya pun melarang anak-anak mereka untuk menemuinya," wanita itu tak mampu menahan tangisnya kemudian melanjutkan, "Ia berubah menjadi pemurung dan kembali mengonsumsi obat-obatan itu. Aku merasa tidak mampu berbuat apa-apa lagi, dunia seolah tidak lagi merestui dirinya. Hingga akhirnya ia bunuh diri karena orang-orang telah menghancurkan cita-citanya."
"Ia satu-satunya anakku, satu-satunya harta yang kumiliki setelah kematian suamiku. Saat ia direnggut dariku, aku sadar bahwa bukan narkotika yang sesungguhnya menyebabkan kematiannya. Ini semua karena orang-orang itu, teman-temannya dan lingkungannya yang tidak memberikannya kesempatan," Shimura mengepalkan tangannya sebagai wujud kekesalan. "Saat itu aku bersumpah untuk membalas dendam, aku ingin melihat anak-anak mereka juga hancur, aku ingin orangtua mereka merasakan bagaimana perjuanganku menyembuhkan anakku dari kecanduan. Aku ingin melihat bagaimana teman-temannya yang mengejeknya dulu juga jatuh ke dalam penderitaan yang sama," lanjutnya.
"Jadi kau mengendalikan distribusi obat-obatan itu dari kampusmu? Benar kan?" tanya Shinichi. "Ya, aku ingin menghancurkan kehidupan anak-anak Jepang sebagaimana mereka menghancurkan kehidupan anakku, anakku yang terus berusaha untuk membangun kembali impiannya," jawabnya. "Omong-omong, ini sudah hampir jam 3. Bukankah deadlinenya sudah sangat dekat?" tanya Shimura yang kini sudah menguasai diri. "Kami sudah menjinakkan semua bom yang kau letakkan, Shimura," tegas Shiratori.
"Oh ya, kalian yakin tidak melewatkan sesuatu? Setahuku juga kalian kehilangan seorang teman," katanya sambil tersenyum licik. "Ja-jangan-jangan," Shinichi melangkah perlahan menuju ke mobil Shimura. "Bukalah, itu hadiah untuknya karena terlalu ingin tahu," kata Shimura. Shinichi membuka bagasi mobil itu dan menemukan Shiho yang meringkuk dengan sebuah bom terikat. "Kudo-kun!" batin Shiho.
"Aku memang sudah mematikan timernya, tapi aku masih memegang kendali. Aku akan menekan tombolnya kalau kau mencoba melepaskan bom itu," kata Shimura mengacung-ngacungkan remote di tangannya. Shinichi mengangkat Shiho keluar dari bagasi itu. "Bodoh! Menjauhlah!" teriak Shiho yang hanya terdengar seperti erangan karena mulutnya yang masih dibekap. "Salah satu teman anakmu yang kau maksud itu saat ini hidup bebas dan sedang ada di puncak kariernya sebagai dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tokyo, benar kan?" tanya Shinichi sambil membopong Shiho mendekat ke arah Shimura.
"Ya, benar, hidup ini memang tidak adil," kata Shimura. "Kalau begitu dendammu belum terbalas, bukankah begitu?" taya Shinichi lagi. Raut muka Shimura berubah. "Kalau kau meledakkan bom ini sekarang, kau juga akan mati dan sampai kapanpun dendammu takkan terbalas," kata Shinichi. "Oi oi, Shinichi," kata Inspektur Megure tidak bisa menebak rencana Shinichi.
Kali ini Shinichi memapah Shiho agar berdiri di sampingnya, di sisi jembatan yang berbatasan dengan sungai, masih dengan kedua tangan dan kakinya terikat. Ia menyangga Shiho dengan melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Shiho. "Letakkan remote itu, Nyonya. Permainanmu dengan mereka memang belum selesai, tetapi permainanmu dengan kami sudah selesai. Kau juga akan mati jika menekan tombolnya dan dendammu tidak akan terbalas. Sementara kalau kau menyerah, kau bisa kembali membalaskan dendam setelah menjalani masa hukuman," Shinichi menengok ke arah Sato yang membidikkan senjata dan mengangguk. Sato menembak ke arah remote control yang dipegang Shimura. "Menyerahlah, Nyonya!" teriak Inspektur Megure. Shinichi kini berusaha secepat mungkin melepaskan bom yang terikat di tubuh Shiho. Timernya kembali berjalan! 30 detik lagi!
xxx
Bunyi ledakan terdengar hingga beberapa ratus meter dari lokasi itu, diikuti dengan cipratan air yang membasahi hampir semua petugas yang ada di sana, termasuk Shinichi dan Shiho. "Kau baik-baik saja, Haibara-san?" tanya Shinichi saat ia melepaskan bekapan pada mulut Shiho. "Kurasa akan lebih mudah jika kau melepaskan ikatanku lebih dulu tadi, daripada terus menggendongku," jawab Shiho ketus, mencoba menyembunyikan perasaan sebenarnya. "Oke, itu artinya kau baik-baik saja," Shinichi tersenyum. Shinichi beralih menunduk melepaskan ikatan di kaki Shiho.
Inspektur Sato mendatangi mereka berdua, "Shiho-kun! Kau baik-baik saja kan?" Shinichi kemudian meninggalkan mereka setelah melepaskan semua ikatan dari Shiho. "Untung Shinichi tidak terlambat menyadari pelakunya, ia yang melengkapi analisismu," kata Sato lagi. Shiho memandang Shinichi yang berjalan memunggunginya. "Aku mempercayai partnerku, Sato-nee," jawab Shiho tersenyum.
to be continued...
