"Taehyung-ah, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi."

Taehyung menggelengkan kepalanya, tidak ingin percaya dengan apa yang lolos dari bibir mungil wanitanya. "Kau hanya sedang bingung sayang. Kau tidak bisa memutuskan sesuatu saat sedang bingung seperti ini." Tangannya mencoba meraih lengan kekasihnya namun tangannya lebih dulu ditepis kasar.

"Tidak, Tae. Jangan seperti ini lagi. Aku.. Aku tidak ingin keluargaku terancam seperti ini." isakan mulai lolos dari bibir mungilnya.

"Tapi, Irene-"

Irene melangkah mundur seolah tidak mau tersentuh oleh Taehyung, mantan kekasihnya. "Jangan lakukan ini padaku, Tae. Kalian orang kaya hanya bisa menindas orang miskin. Aku lelah dengan semua ini."

Taehyung menggeleng, "Aku berjanji akan menjagamu." Tangannya mencengkram kuat kedua bahu wanitanya. Irene berontak, tangisannya pecah. Rasa takut mulai menggerogoti hatinya. Irene takut, sesuatu akan terjadi dengan orangtuanya.

"Tae, tolong lepaskan aku. Tolong."

Taehyung melepaskan cengkramannya. Airmatanya menetes saat melihat wajah ketakutan wanitanya. Kini Irene menatapnya berbeda.

"Tolong jangan mencariku lagi, Tae." Setelah mengatakannya, Irene berbalik dan melangkah pergi.

"BAIKLAH JIKA ITU MAUMU.."

Langkah Irene berhenti saat mendengar teriakan Taehyung. Tubuhnya enggan berbalik. Irene takut saat melihat wajah rapuh orang yang dicintainya, justru akan membuatnya goyah.

"JIKA KAU TETAP PERGI DARIKU. AKU AKAN MENGHANCURKAN SESUATU YANG BERHARGA DI HIDUPMU!"

Tubuh Irene menegang. Dia mendapatkan ancaman yang sama sebelumnya. Bibirnya berdecih.

"Apa orang kaya hanya bisa mengancam? Menyedihkan." ucapnya pelan namun masih bisa didengar oleh Taehyung.

Kakinya kembali melangkah pergi, ingin segera lenyap dari hadapan Taehyung sebelum pertahanannya runtuh.

"AKU TIDAK AKAN BERHENTI SEBELUM KAU KEMBALI PADAKU."

Bahkan Irene tidak memperdulikan perkataannya dan tetap pergi menjauh hingga menghilang dalam pandangannya.

.

.

Creepy Guy

Chapter 6: Love or Obsession

.

Kau benar-benar mencintaiku atau ini hanya obsesi semata?

.

.

Taehyung menggeliat dalam tidurnya. Sinar matahari begitu menusuk pengelihatannya saat ia membuka mata.

"Sial. Siapa yang membuka kordennya selebar ini." umpatnya

Tangannya menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Lagi pula ini hari sabtu, jadi Taehyung ingin sedikit bermalas-malasan. Pendengarannya menangkap seseorang membuka pintu kamar dan berjalan masuk, tanpa melihatnya pun Taehyung tau siapa pelakunya.

"Tae-Taehyung sunbae, bangunlah. Aku sudah buatkan sarapan untuk kita, ayo makan sebelum makanannya menjadi dingin."

Taehyung tersenyum dalam tidurnya mendengar suara polos yang terlontar dari bibir istrinya. Tubuhnya enggan bergerak, Taehyung ingin tau seberapa keras usaha Jungkook untuk membangunkannya.

Kini Jungkook menyentuh pundaknya yang masih tertutup selimut. "Taehyung sunbae." ucap lelaki itu lagi. Taehyung masih enggan bergerak.

"Aish.. Aku harus pergi sekarang. Apa aku minta Namjoon saja untuk menghangatkan supnya saat Taehyung sunbae ingin makan." gumamnya pelan

Dahi Taehyung mengernyit mendengarnya. Setelahnya langkah kaki Jungkook terdengar mulai menjauh. Taehyung menggeram dan langsung membuka selimut yang membungkusnya.

"Ya! Bagaimana kau bisa pergi begitu saja." ucapnya kesal

Jungkook terkesiap, mata bulatnya mengerjap lucu menatap Taehyung. Setelahnya memasang wajah kesal. "Jadi kau sudah bangun dari tadi? Menyebalkan."

Taehyung bersandar pada kepala ranjang dengan tangan yang terlipat didepan dadanya, "Bagaimanapun kau seharusnya memastikan suamimu bangun sebelum pergi." ucapnya dengan suara yang menurut Jungkook menyebalkan.

Jungkook mengumpat, merutuki dirinya yang merasa iba saat melihat Taehyung menangis kemarin malam. Seharusnya Jungkook mentertawakan lelaki itu, kapan lagi bisa melihat orang angkuh seperti Taehyung menangis lemah dihadapannya.

"Cepatlah mandi dan makan sarapanmu. Aku akan pergi ke toko buku."

"Pergi dengan siapa?"

Jungkook menatap jengah lelaki yang masih terlihat tampan walau barusaja bangun tidur itu. "Apa pedulimu-" ucapannya terhenti saat melihat tatapan menusuk dari Taehyung. Ludahnya tertelan bulat-bulat. Sepertinya Jungkook salah bicara lagi.

Taehyung mendengus lalu beranjak dari ranjang dan mengambil handuk untuk bersiap mandi. "Jangan katakan hal seperti itu lagi, Jeon." ucapnya datar kemudian menghilang dibalik pintu kamar mandi.

Setelah selesai mandi Taehyung menggeram saat tidak menemukan Jungkook dimanapun. Bibirnya mencebik kesal, bahkan Jungkook belum berpamitan padanya.

"Lihat saja. Aku tidak akan mengampunimu, Jeon." ucapnya datar.

.

.

Jungkook menautkan jemarinya diatas pahanya, gugup. Semburat merah menghiasi pipinya begitu mendapat pujian dari lelaki disampingnya bahwa dia cantik hari ini.

"Maaf, saat itu aku menciummu sembarangan."

Jungkook menggeleng cepat, "Seharusnya aku yang mengatakan maaf, karena kau dipukuli oleh Taehyung sunbae."

Jimin tersenyum, tangannya mengacak rambut Jungkook pelan. "Kau benar-benar polos, Kook-ah."

Bibirnya tetap menyunggingkan senyum, walau tidak mengerti apakah itu termasuk pujian atau sindiran untuknya. "Jimin sunbae, apa Taehyung sunbae selalu seperti itu padamu?"

Jimin terkekeh, "Panggil aku hyung saja." koreksinya.

Matanya menatap anak-anak yang sedang bermain dihadapan mereka. "Taehyung seperti itu karena kau penting untuknya." ucapnya

Jungkook menggeleng, "Aku? Penting? Tidak mungkin." kekehnya

Jimin menatap lelaki disebelahnya, "Kau penting untuk mengembalikan Irene kepelukannya."

Dahi Jungkook mengernyit, "Irene? Irene noona? Apa hubungannya dengan Irene noona?"

Jimin tersenyum tipis, "Taehyung mencintai Irene, kau tidak tau? Bukankah Irene pernah mengenalkan kalian sebelumnya?"

Jungkook mengernyit, dia memang ingat jika Irene pernah mengenalkannya pada kekasih noonanya itu. Tapi Jungkook tidak benar-benar memperhatikan wajah lelaki itu karena dulu dia orang yang pemalu.

"Taehyung memanfaatkanmu. Irene mengatakan dia sangat menyayangimu. Jadi Taehyung berpikir jika menikahimu akan membuat Irene datang dan menyelamatkanmu dari Taehyung. Setelahnya Taehyung bisa mendapatkan Irene sebagai gantinya"

Pupil matanya melebar begitu mendengar penjelasan Jimin. Bibirnya bergetar, "Jadi.. dia hanya memanfaatkanku?" bahkan saat kata-kata itu lolos dari bibirnya, Jungkook merasa hatinya teremas kuat tanpa sebab.

"Kau tidak menyadarinya? Bagaimana mungkin Taehyung menikahimu tanpa maksud tersembunyi. Kau seharusnya tau itu."

Jungkook tersenyum miris. Benar, seharusnya dia sadar sejak awal. Taehyung hanya memanfaatkannya.

Tubuhnya terkesiap saat Jimin menggenggam kedua tangannya erat. Matanya menatap Jimin yang sedang menatapnya dalam.

"Jangan berikan hatimu pada Taehyung. Aku akan membuat Irene kembali dan merebutmu. Sampai saat itu tiba, tolong jangan menaruh hatimu padanya."

Matanya memanas, "Ka-kau menyukaiku?" tanyanya pelan

Jimin mengangguk lalu menarik Jungkook kedalam dekapannya. Air mata Jungkook mengalir tanpa bisa ditahannya. Entah karena terharu perasaannya terbalaskan atau terluka karena dirinya hanya dimanfaatkan.

Jimin mengusap punggung Jungkook pelan, mencoba menenangkan perasaan Jungkook. Tanpa disadari, sudut bibir Jimin tertarik membentuk seringaian.

'Jika aku tidak bisa memilikimu. Kau tidak boleh memiliki orang yang kau cintai juga.'

.

.

"Justru Taehyung yang seperti ini lebih mudah terlihat. Percaya padaku, Taehyung tertarik pada Jungkook." Setelahnya satu teguk minuman berakohol mengalir masuk ke tenggorokannya. Tidak peduli jika ini masih terlalu pagi untuk minum-minum seperti ini.

Namjoon mengangguk setuju, "Selama bekerja dengan Taehyung, ini pertama kalinya dia terlihat bersungguh-sungguh saat menjaga miliknya." Gelasnya beradu dengan gelas temannya hingga menimbulkan bunyi dentingan, kemudian meneguk menumannya.

"Bagaimana jika Taehyung hanya takut kehilangan seperti sebelumnya, bukan karena perasaan tertarik atau apapun. Hanya takut."

Namjoon menatap jengah teman lamanya, "Hoseok-ah, terlalu lama disekolah sepertinya membuat otakmu kembali menjadi kanak-kanak."

Hoseok mencebik mendengar sindiran temannya, "Ya, Namjoon-ah kau akan menyesal mengatakannya. Sekolah tidak seburuk itu. Benar kan Yoon?" matanya mengedip kearah Yoongi yang hanya menatap malas.

"Terserah."

Namjoon tertawa renyah begitu mendengar ucapan temannya. Tiba-tiba pikirannya teringat akan lelaki yang membuatnya malu kemarin.

"Ah.. Hoseok-ah, kau tau siapa nama teman yang sering bersama dengan Jungkook?"

Hoseok mengernyit kemudian menatap kearah Yoongi seolah menanyakan hal yang sama. Yoongi mendengus, "Kim Seokjin." ucapnya sebelum kembali meneguk minumannya.

Namjoon mengangguk pelan. Hoseok kembali menatapnya, "Ada apa memangnya?"

"Eum.. Taehyung menyuruhku memeriksa sesuatu, jadi aku membutuhkan namanya."

Yoongi mengernyit, "Biasanya Taehyung akan meminta kita untuk mencari informasi penting. Kau hanya bertugas untuk mengawasinya kan?"

Namjoon terlihat gelagapan, "Ini.. bukan informasi penting.. jadi yah- kau tau kan Taehyung kadang suka seenaknya."

Nafasnya berhembus lega saat melihat kedua temannya mengangguk setuju. Gelas mereka kembali terangkat dan beradu diudara.

.

.

"Bukankah ada yang aneh dengan Namjoon?" Hoseok membuka percakapan saat dirinya dan Yoongi sudah berada didalam mobil. Yoongi hanya mengangkat bahunya acuh sebelum melajukan mobil mereka.

"Biarkan saja dia, aku yakin Namjoon tidak akan menyakiti Taehyung." ucapnya dan Hoseok mengangguk setuju.

"Apa kita biarkan Taehyung dan Jimin terus seperti ini?" tanyanya lagi

Yoongi menatap kearah Hoseok sebentar lalu kembali fokus pada jalanan didepannya. "Taehyung mengatakan tidak masalah, hanya saja dia tidak bisa menyapa Jimin seperti sebelumnya. Ini juga pasti sulit untuknya, bahkan sudah kedua kalinya Jimin seperti ini."

Hoseok menatap kosong, "Mengapa tidak kita katakan yang sebenarnya saja?"

Yoongi menginjak pedal rem mendadak hingga suara ban mobil yang berdecit karena bergesekan dengan aspal terdengar di telinga mereka. Matanya menatap nyalang kearah Hoseok. "Jika kita mengatakannya itu akan justru menjadi semakin buruk."

"Tapi mungkin Taehyung akan mengerti mengapa Jimin melakukan itu padanya. Ini juga salah kita karena menyembunyikan kebenaran dan mengatakan pada Taehyung sebuah kebohongan."

Yoongi menggeleng, "Kau tau kan, Taehyung hanya menganggap Jimin sebagai temannya. Tidak lebih dan kita melakukan ini untuk kebaikan mereka berdua juga."

"Mungkin jika Taehyung tau bagaimana perasaan Jimin sesungguhnya dia akan baik-baik saja. Atau mungkin Taehyung akan berusaha mencintai Jimin juga."

Tangan Yoongi terkepal dikedua sisi tubuhnya, "Jimin tidak mencintai Taehyung. Dia hanya terobsesi dengan Taehyung dan menganggap itu sebagai tanda cinta. Kau tau cinta dan obsesi itu berbeda walaupun terlihat sama."

Hoseok terdiam mendengar perkataan lantang temannya. Bibirnya tersenyum kecil, "Jangan katakan kau menyukai salah satu diantara mereka.." Kepalanya dimiringkan sedikit. ".. kau ternyata sangat transparan hyung."

.

.

Kaki pemuda Jeon melangkah gontai. Setelah mendengarkan cerita Jimin tentang Taehyung, entah mengapa membuatnya enggan bertemu lelaki Kim itu. Matanya menatap kosong gedung apartemen didepannya. Apartemen milik Taehyung. Bahkan kakinya enggan melangkah masuk kedalam gedung walaupun matahari sudah terbenam.

'Dia hanya memanfaatkanmu untuk mendapatkan Irene kembali

Bibirnya tersenyum kecil, "Apa peduliku." gumamnya. Tubuhnya berbalik berniat untuk bermalam ditempat lain, namun sepasang sepatu yang sepertinya sejak tadi berada dibelakangnya membuatnya menghentikan langkah.

Kepalanya terangkat menatap pemilik sepatu, walaupun sebenarnya pemuda Jeon itu sudah tau siapa pemiliknya. Kim Taehyung

Taehyung menggunakan hoodie abu kebesaran dengan tudung yang menutupi kepalanya menatap Jungkook tajam. "Mau kemana?" ucapnya datar

Jungkook menatap pongah, "Bukan urusanmu." kemudian kakinya melangkah ingin melewati tubuh Taehyung namun tangannya lebih dulu dicengkram kuat.

Taehyung menatap sinis kearah Jungkook yang berada disebelahnya. Sambil mengeratkan pegangannya, ia berbisik. "Sudah ku katakan jangan mengatakan hal semacam itu lagi, Jeon Jungkook." ujarnya penuh penekanan.

Mata Jungkook memanas. Tangannya mencoba menepis tangan Taehyung namun gagal, cengkraman lelaki itu lebih kuat dari tenaganya. "Kemana saja kau sepanjang hari ini?" tanya Taehyung tajam

Sebenarnya, sejak tadi Taehyung mengikuti kemana istrinya pergi. Pelacak yang terpasang di ponsel Jungkook membuatnya mudah mengetahui keberadaan lelaki itu. Dan hal yang membuatnya marah adalah Jungkook yang bertemu dengan Jimin secara diam-diam dan pergi berkencan seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang kasmaran.

Jungkook justru menggigit bibir bawahnya, tidak ingin membuang tenaganya untuk lelaki iblis dihadapannya.

"KEMANA SAJA KAU, JEON JUNGKOOK?"

Jungkook terkesiap. Tubuhnya menegang dan airmata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya kini mengalir.

"APA URUSANNYA DENGANMU? HANYA AMBIL APA YANG KAU BUTUHKAN DARIKU LALU BIARKAN AKU BEBAS." balasnya berteriak. Tenggorokannya tercekat dengan airmata yang tak hentinya mengalir. Dadanya seakan sesak dan hatinya terasa perih.

Taehyung menggeritkan giginya. Terlihat jika lelaki itu benar-benar marah. Dengan emosi yang memenuhi dirinya, Taehyung menarik Jungkook kuat. Memaksa istrinya untuk mengikuti langkahnya seperti sebelumnya.

Sejak tadi Taehyung berusaha mengendalikan dirinya, namun kata-kata Jungkook seakan menuangkan garam pada api yang membara. Taehyung marah saat apa yang dilihatnya beberapa saat yang lalu kembali terngiang dalam ingatannya.

Setelah sampai dikamarnya, Taehyung mendorong kasar Jungkook hingga terjatuh diranjang. Pintu kamarnya ia kunci dan kuncinya dilempar keluar jendela begitu saja. Persetan jika dia tidak bisa keluar. Taehyung hanya tidak mau Jungkook pergi. Taehyung tidak mau Jungkook kembali menemui Jimin dan pergi meninggalkannya.

Jungkook memekik saat Taehyung menindih tubuhnya. Tangannya berusaha kuat menyingkirkan tubuh Taehyung diatasnya. Airmatanya kembali menetes saat hal buruk menghantui dirinya.

Taehyung mencengkram kuat kedua pergelangan tangan istrinya dan menahannya dengan satu tangan diatas kepala Jungkook. Tangan lainnya mencengkram kedua sisi pipi gembil Jungkook dan mencium bibirnya paksa. Bahkan Taehyung tidak peduli saat Jungkook mengigit bibir dan lidahnya hingga berdarah.

Kaki Jungkook bergerak acak, tetap berusaha menyingkirkan Taehyung diatasnya. Namun Taehyung tetaplah lebih kuat darinya. Tenaga terkuras bahkan hanya untuk menyingkirkan Taehyung dari atas tubuhnya.

Jungkook memekik keras saat Taehyung menggigit kerah bajunya dan tangan lelaki itu menarik sisi lainnya hingga kemeja Jungkook terlepas dengan kancing yang berhamburan dilantai.

"Hentikan." Jungkook meronta untuk kesekian kalinya. Taehyung menatap tajam kearah Jungkook. Bibirnya tersenyum kecil, "Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan denganmu."

Tangan Taehyung terulur membuka laci nakasnya dan mengambil seuntai tali. Jungkook mendelik, kepalanya menggeleng berharap Taehyung tidak akan melakukan apa yang ada dipikirannya.

Taehyung tersenyum sambil mengikatkan kedua pergelangan tangan Jungkook dan mengikatnya di kepala ranjang. Setelah memastikan ikatannya cukup kuat, Taehyung kembali menatap Jungkook.

"Aku berikan kau pilihan untuk terakhir kalinya." Tangannya bertumpu pada kedua sisi tubuh Jungkook. Kepalanya mendekat hingga deru nafas keduanya dapat terasa diwajah mereka. "Jauhi Jimin atau aku akan menghabisimu malam ini." bisiknya

Jungkook menatap mata tajam Taehyung, berusaha melawan rasa takutnya sendiri. Dalam pikirannya terus terngiang kata-kata Jimin pagi tadi.

"Jangan berikan hatimu pada Taehyung. Aku akan membuat Irene kembali dan merebutmu. Sampai saat itu tiba, tolong jangan menaruh hatimu padanya."

Giginya bergerit dan rahangnya menegang saat mengingat Taehyung yang hanya memanfaatkannya. Matanya menatap angkuh kearah Taehyung, "Aku tidak akan menjauhi Jimin." ucapnya lantang

Taehyung berdecih, "Brengsek."

Setelahnya seperti mimpi buruk bagi Jungkook saat Taehyung menjadi begitu liar seakan bukan Taehyung yang dikenalnya. Mereka seperti orang asing yang bertemu untuk One night stand. Bahkan Taehyung begitu kasar dan menggigit seluruh bagian kulitnya.

Jungkook menggigit bibirnya yang sudah berdarah karena ciuman kasar Taehyung saat merasa lelaki itu membuka celananya dan membuangnya asal. Jungkook telanjang bulat didepan Taehyung.

Jungkook tidak ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya, maka dia memutuskan untuk memejamkan matanya erat. Hal terakhir dilihattnya sebelum semuanya menjadi mimpi buruk adalah mata tajam Taehyung yang meneteskan airmata luka.

Jungkook berteriak keras saat tanpa persiapan apapun dan dengan terburu Taehyung menembusnya begitu saja. Milik Taehyung begitu besar dan seakan menyobek bagian selatannya. Tangannya yang terikat terkepal erat, bahkan pergelangan tangannya berdarah karena ikatan yang terlalu kuat. Jungkook menangis dalam erangannya.

Malam itu ia mendesah, mengerang, berteriak, menangis dan terluka karena Taehyung. Namun sebelum Jungkook tidak sadarkan diri karena terlalu lelah, pendengarannya menangkap suara Taehyung yang berbisik di telinganya.

"Maafkan aku."

.

.

Taehyung meregangkan tubuhnya saat matahari menyapanya menandakan hari telah berganti. Matanya terbuka dan menatap kebagian kosong disebelah ranjangnya. Tidak ada siapapun disana dan kamarnya yang kemarin benar-benar berantakan kini menjadi sangat rapi. Bahkan Taehyung ragu apakah kejadian kemarin adalah nyata.

Tangannya menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Ia telanjang, berarti kemarin tidaklah mimpi. Tangannya mengacak rambutnya menjadi semakin berantakan.

"Aish.. Kim Taehyung.. Kau bodoh." umpatnya

Taehyung memutuskan untuk pergi mandi dan setelahnya ia akan minta maaf pada istrinya. Tubuhnya menegang begitu melihat darah yang begitu banyak menodai seprainya. Wajahnya meringis membayangkan sakitnya Jungkook kemarin. Tangannya memukul kepalanya berkali-kali karena baru menyadari kebodohannya.

Taehyung mandi dengan cepat dan langsung memakai pakaiannya. Dia harus segera minta maaf pada Jungkook, bagaimanapun caranya. Kakinya melangkah pelan keluar dari kamarnya dan langsung mendapati figur Jungkook yang duduk dimeja makan.

"Kenapa kau tidak membangunkanku?" tanyanya setelah berada cukup dekat dengan istrinya.

Wajah Jungkook terlihat baik-baik saja, meski bibirnya lecet dan lehernya penuh bercak kebiruan dan pergelangan tangannya terluka. Taehyung meringis, pasti banyak luka dibagian tubuh yang lain juga.

"Maafkan aku." ucapnya lagi

Jungkook bergeming menikmati sarapannya. Enggan membalas perkataan Taehyung. Kepala pemuda Kim mengangguk, mungkin Jungkook sedang tidak ingin bicara dengannya.

"Siapa yang membukakan pintu kamar?" tanyanya disela-sela makannya. Jungkook tetap tidak bicara. "Pasti Namjoon, kan?" Tetap tidak ada reaksi apapun dari istrinya, seakan tidak ada Taehyung disana.

Jungkook bangkit dari duduknya dan membawa piring kotornya untuk dicuci. Setelahnya meninggalkan Taehyung begitu saja menuju ruang tengah.

Taehyung menghembuskan nafas gusar kemudian mengikuti Jungkook ke ruang tengah tanpa berniat menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu. Taehyung mencekal lengan Jungkook dan menariknya sehingga pemuda itu berbalik kearahnya. Matanya menatap iris kelam Jungkook, saat itu Taehyung menyadari ada yang salah dari istrinya. Jungkook balas menatapnya. Namun tatapannya berbeda. Saat ini mata Jungkook menatapnya kosong. Tidak ada emosi apapun dalam matanya.

Pegangan tangannya terlepas begitu saja, dan tanpa reaksi apapun Jungkook berbalik untuk melanjutkan langkahnya.

"Jungkook-ah, maafkan aku."

"Jungkook-ah.."

"Maafkan aku.."

Berkali-kali Taehyung berucap, berkali-kali juga tak mendapat balasan dari Jungkook. Istrinya hanya memasang wajah datar dengan tatapan kosong.

Taehyung baru menyadari bahwa ia sudah menghancurkan Jungkook dan terlalu terlambat untuk menyesal.

.

.

Bersambung...

Author's Note:

I'm back~~~

Udah bisa nebak apa kejutan yang aku kasih? yepp, spam ff wkwk lol

Kenapa? Pengen aja hehe

Maklum aku penulis amatiran yang agak" jadi semuanya juga agak" lol

Gak sih, sebagai hadiah aja karena aku merasa bersyukur punya readers yang setia seperti kalian hehe aku tipe author gabut jadi suka stalkerin readersnya lol

Ini sebagai penutupnya

Aku sebenernya ragu bikin adegan naenanya karena ini menjurus bdsm, nanti kalian gaksuka makanya gak aku jelasin detail hehe

Semoga kalian gak kecewa sama semua fanficts yang aku post hari ini, tolong berikan reviewnya juga yaaa

Happy weekend

Aii-nim

2017.07.23