Tittle : Don't Hate Me
Cast : ~Kim JongIn/Kai
~Lu Han
~Oh Sehun
~Park Chanyeol
~/Find Other Cast/?
Pair : KaiLu/HunHan/ChanHan
Author : SeLuKai
Chapter : 7 of ?
Rate : M
Genre : Angst, Hurt
.
..
...
_Prev_Don't _Hate_Me_Chapter#6_
.
..
.
"Lu, awas!" Luhan memejamkan matanya saat merasakan tubuhnya terdorong dengan keras kesamping.
Tidak, dia tidak di dorong tapi dipeluk eloh seseorang,
Terdengar decitan keras ban mobil dengan lantai, sebelum mobil itu menghilang di persimpangan pintu gerbang tempat parkir kantor ini.
"Kau tidak apa apa?" Luhan membuka matanya dan mangangguk, matanya kembali membulat melihat siapa yang sekarang sedang memeluknya, atau tepatnya yang sudah menyelamatkannya dari mobil yang tidak tau aturan seperti tadi.
"Ah aku tidak apa-apa berkat anda, terimakasih Sehun-shi"
Luhan mendorong sedikit tubuh Sehun, agak risih karena Sehun terus memeluknya ditambah dengan posisi Sehun yang sedikit menindihnya.
Seolah mengerti, Sehun tersenyum tipis dan melepaskan tangannya dari punggung Luhan lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Luhan berdiri.
Luhan tersenyum dan berdiri sendiri.
"Ehem-" Sehun berdehem dan kembali menarik uluran tangannya yang diabaikan oleh Luhan.
"Soal hutang itu" Refleks keduanya tertawa kecil karena sama sama mengucapkan kalimat yang sama.
"Soal hutang itu aku akan bertanggung jawab" Ucap Luhan akhirnya mendahului dan membungkuk lagi pada Sehun.
"Aku tau kau orang yang seperti itu, akan kita bahas nanti, sekarang aku harus pergi" Sehun melirik jam yang melingkar ditangannya kemudian menatap Luhan lagi.
"Baiklah, lain kali saja, aku tidak akan kabur"
"Baiklah aku percaya padamu"
Keduanya kembali saling melempar senyum.
"Dan terimakasih sudah menyelamatkanku"
Luhan membungkuk lagi.
Sehun tersenyum sebelum ahirnya berbalik dan memasuki mobilnya, saat melewati Luhan dia menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan pada Luhan sambil tersenyum,
Luhan membalasnya dan tersenyum sambil memandangi mobil Sehun yang perlahan menghilang.
Tanpa menyadari ada seseorang yang sudah berdiri di belakangnya dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah.
.
"Sudah puas menggodanya bitch? Kau membuatku benar-benar marah sekarang"
Luhan memeucat, senyum diwajahnya segera luntur mendengar nada datar dari orang di belakangnya.
...
..
.
*****_Don't_Hate_Me_Chapter#7*****
.
..
...
'Apa setelah ini dia akan membunuhku'
Luhan berdiri dengan kaku di depan pintu kamar Kai, bukan di luar tetapi dia berada di dalam kamar tersebut.
Gemercik air dari kamar mandi samar samar terdengar di telinganya, sesekali Luhan menggigit bibirnya takut kalau pintu kamar mandi itu akan terbuka,
Luhan terlalu bingung harus berbuat apa,
pasalnya dia sudah mempersiapkan diri akan dihabisi oleh Kai setelah sampai di rumah ini,
tapi ternyata sepanjang jalan Kai hanya mengemudi dalam diam setelah menyeretnya dengan paksa masuk ke mobil setelah insiden bersama Sehun yang menyelamatkannya di basement parkir tadi.
Dan keheningan terus berlanjut sampai mereka sudah tiba dirumah dan Kai hanya terus menarik pergelangan tangannya dengan kasar sampai ke kamar lalu meninggalkan Luhan begitu saja,
sedangkan Kai sendiri segera beranjak ke kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Luhan.
Jadilah Luhan dengan perasaan campur aduk hanya bisa mematung di posisinya sekarang sambil terus menatap ke arah pintu kamar mandi dimana Kai sedang berada.
.
.
Sementara itu di dalam kamar mandi_
"Hhh~ sebenarnya ada apa denganmu Kai?"
Kai mengacak rambutnya sendiri yang sudah basah terguyur air shower,
lalu menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu maskulin di depan kaca.
"Seharusnya aku sudah menindihnya sekarang dan membuatnya menjerit agar dia tau rasa dan tidak bertindak sesuka hati, haha berani sekali dia, dengan si Oh Sehun sialan itu, harusnya sudah kubobol holenya itu sekarang"
Kai menggertakkan giginya, hanya dengan memikirkan hal tersebut badannya mulai memanas,
entah sudah beberapa hari ini badannya selalu terasa panas hanya dengan memikirkan Luhan,
ralat- dengn memikirkan Luhan beserta pikiran kotornya tentu saja.
"Shit!"
Kai mengumpat untuk kesekian kalinya, sudah lebih lima menit dia berdiam dibawah guyuran air shower sambil terus berkutat dengan fikirannya.
Salahkan saja wajah kelelahan Luhan sampai terkantuk kantuk sepanjang perjalanan tadi, beberapa kali kepalanya mencium pinggiran mobil karena tertidur, dan setelahnya dia akan terbangun, dan setelah tersadar Kai ada disampingnya, dia akan membenarkan posisinya yaitu merapatkan badannya ke pintu mobil dengan ekspresi ketakutan dan sedikit gemetar tentu saja,
namun beberapa menit kemudia dia akan mulai mengantuk lagi dengan mulut yang sedikit terbuka.
Membuat Kai yang tadi benar benar berniat menyiksanya malah meneriakinya saja untuk membangunkannya rasanya mulut Kai tidak bisa tebuka.
Jadilah dia hanya mengemudi dalam diam sambil sesekali mencuri pandang pada mahluk mungil disebelahnya.
"Hhh~ bisa-bisanya dia tertidur dalam keadaan sedang diambang maut begitu"
Kai tersenyum miring mengingat kejadian di mobil tadi,
Dan tanpa sadar mereka sudah sampai dirumah dia menginjak remnya mendadak membuat Luhan terbangun tentu saja karena keningnya yang selalu mencium kaca depan mobil karena ulah Kai.
Melihat wajah terbangun dan terkaget Luhan selama beberapa menit tersebut amarah Kai yg tadinya sudah sampai ke ubun ubun sudah ia lupakan, terbang begitu saja entah kamana,
sampai akhirnya ia hanya menarik kasar pergelangan tangan Luhan yg masih kebingungan menuju kamarnya, lalu ia sendiri tidak tahu ada bsisikan dari mana yang membuatnya berahir di kamar mandi seperti sekarang.
"Mungkin acara menghukum Luhan bisa ditunda lagi dengan rencana yg lebih matang"
Smirk aneh tergambar diwajahnya dan dengan itu Kai menyudahi acara mandinya, melilitkan handuk dipinggangnya dan membuka knop pintu kamar mandi tersebut.
.
.
"Benar benar bodoh" Desisinya ketika pandangan pertama yang ia dapatkan adalah sosok Luhan yg masih tetap pada posisinya seperti dia meninggalkan namja itu tadi sebelum masuk ke kamar mandi.
Luhan mengernyit mendapati Kai sudah berada didepannya, dia belum siap, dia terlalu bingung dengan pikirannya sendiri tanpa disadarinya Kai sudah keluar dari sana.
"A-aku-" Luhan memainkan ujung bajunya dengan berantakan,
Gugup? Ya tentu saja, dengan tampang Kai yang rambutnya basah basahan begitu, oh jangan lupakan perut kotak kotaknya juga yang masih sedikit basah, membuat kepala Luhan semakin berputar dan terasa campur aduk
"Tidak mandi? Kau kotor"
Kai tersenyum mengejek dan melipat tangannya didada sambil menatap intimidasi pada Luhan
Luhan masih terdiam dan menunduk, belum bisa menguasai dirinya sendiri.
"Mandi sana sebelum aku berubah pikiran ikut mandi sekali lagi denganmu"
"I-iya" Dengan cepat kali ini Luhan bisa menjalankan otaknya, tanpa menoleh lagi pada Kai langkahnya terus menuntunnya hingga masuk dan menghilang di kamar mandi.
"Astaga apa yang aku pikirkan"
Luhan memukuli kepalanya berkali kali,
bisa bisanya dia merasakan sesuatu yang aneh saat berhadapan dengan Kai tadi,
dia seharusnya memikirkan keselamatannya saja setelah ini, tidak sempat memikirkan yang lain.
Perlahan Luhan melepas pakaiannya satu persatu dan membiarkan air shower membasahi rambut, kepala, sampai seluruh tubuhnya.
Kepalanya terasa berdenyut memikirkan sikap Kai,
''Apa sekarang orang itu punya alter ego?", Bukannya dikantor tadi sepertinya Kai akan menelannya hidup hidup karena sangat marah, dan setelah sampai di rumah dia malah tidak menyiksakan Luhan sedikitpun, dan sekarang malah megijinkannya mandi dikamar mandi pribadinya.
"Hhh- semoga saja Kai memang sudah tidak marah dan semuanya akan membaik" Luhan memejamkan matanya dibawah guyuran shower,
Menyudahi acara mandinya setelah dirasa badannya segar kembali,
Luhan mencari handuk dan menepuk keningnya sendiri saat sadar dia tidak membawa handuk tadi, haruskah ia berteriak dan meminta Kai membawakannya handuk?
Tidak, Luhan tau itu sama saja menggali kuburannya,
Luhan akhirnya memakai bathrobe yang dia yakin Kai punya yang menggantung disana, biarlah Kai akan membunuhnya setelah ini, itu lebih baik daripada ia harus keluar dengan telanjang.
Luhan memantapkan dirinya dan membuka knop pintu kamar mandi tersebut
dan-
"Aghh sakit-"
Luhan meringis tertahan saat baru saja dia keluar kamar mandi tubuhnya sudah dipojokkan ketembok dan punggungnya terasa sedikit panas karena mencium langsung pada tembok yang keras itu.
"Kau memang tidak bisa dibaikin Luhan" Mata Kai menyala menatap Luhan dengan gusar,
dicengkramnya kuat kedua tangan Luhan diatas kepalanya dan menghimpit badan kecil Luhan diantara tembok dan badan kekarnya sendiri.
Luhan yang mendapat perlakuan tiba tiba dari Kai sepert itu berkedip beberapa kali mencoba mencerna apa yang sedang terjadi sekarang, dia mulai yakin kalau orang dihadapannya kini memang mulai memiliki alter ego atau kepribadian ganda atau apa itu, melihat emosinya cepat sekali berubah ubah dalam hitungan beberapa jam ini.
"Sekarang kau mulai meremehkanku hm? Budakku" Kai menghirup leher Luhan dan aroma wangi khas baru mandi Luhan sedikit membuatnya mabuk
"A-aku, ah aku minta maaf karena sudah lancang memakai ini, a-aku"
Luhan gelagapan karena Kai terus manatapnya dengan tajam ditambah badannya semakin merapat menghimpit Luhan,
apa Kai marah karena dia memakai barang Kai tanpa ijin?
"Actingmu terlalu hebat Luhan, ah aku lupa kau mungkin emang sudah biasa melakukan ini pada banyak orang, tapi ingat- aku tidak akan tertipu"
Kai menjambak rambut Luhan dengan kasar, masih basah memang tapi tidak mengurungkan niat Kai untuk terus manjambak rambut yang terasa lembut itu ditangannya.
Dia tidak bisa menahan amarahnya kali ini
"Ma-mphh~"
Belum sempat Luhan mengutarakan kebingungannya Kai sudah membungkam bibirnya dengan bibir tebal milik Kai
Kai masih menahan tangan Luhan diatas kepalanya dengan satu tangan kekarnya membuat Luhan tidak bisa berbuat apa apa.
"Mmh-" Luhan meringis tertahan saat Kai dengan sengaja menggigit keras bibirnya yang masih terasa bengkak, kai menghisap bibir tersebut dan menjilatinya.
"Aku sudah mengatakan kau harus mebalasnya kan bitch?"
Kai mencengkram dagu Luhan dengan kasar sesaat setelah melepas tautan ciuman mereka,
ditatapnya wajah Luhan yang memejamkan matanya dan penampilannya yang err-
bayangkan rambutnya yang masih basah acak acakan, baju mandinya yang kebesaran mengkspos lehernya dan sebagian dadanya.
Belum sempat Luhan merespon, Kai sudah terlebih dahulu menciumi bibirnya lagi, menghisapnya, melumatnya dan mngigitnya sesekali dengan rakus,
Luhan yang memang tidak berpengalaman dan dalam keadaan yang bingung seperti sekarang hanya bisa diam dan pasrah.
"Kau benar benar mengujiku Luhan, kau akan menyesal" Emosi Kai sangat tersulut dengan tanggapan Luhan,
dia ingin Luhan membals ciumannya,
dia ingin Luhan membuatnya lebih panas lagi,
jangan lupakan emosinya yang terus tersulut,
setiap kali ia menjamah Luhan ada perasaan yang meledak ledak dalam dirinya yang meminta segera dikeluarkan.
"Agh~ aku benar benar minta maaf-"
Luhan kembali pada kesadarannya,
Kai kembali seperti semula membuatnya kembali takut dan gemetar,
kenapa Kai tiba tiba menjadi sangat marah lagi padanya?
Kai tidak memperdulikannya, dia sibuk menjelajahi leher Luhan, menjilatinya, menghisapnya, dan membuat tanda baru yang hampir memudar disana.
Tangannya tidak tinggal diam, mulai mencari cari tonjolan kecil didada Luhan yang terhalang bathrobenya,
"Buka bitch,lepaskan sekarang"
Kai membisikkan dengan nada berat pada telinga Luhan dan meniup telinga Luhan yang membuatnya merinding.
Dengan berat hati Luhan melepaskan bathrobe Kai yang ia pakai,
kalau memang Kai sangat marah karena ia memakainya ia akan melepasnya dari tadi,
telanjang lebih baik daripada harus berhadapan dengan Kai seperti sekarang.
Kai menghentikan sebentar aksinya dan menatap Luhan dengan lapar,
bisa Luhan lihat kalau nafas Kai mulai tidak beraturan,
dilihat dari dadanya yg naik turun tidak teratur,
bahkan Luhan baru menyadari kalau Kai juga masih mengenakan handuk saja yang melilit piggangnya sampai diatas lutut.
"Tidak salah kau bisa menaklukkan banyak orang dengan tubuhmu ini bitch"
Kai menelusuri tubuh Luhan dengan jemarinya,
baru kali ini ia bisa melihat semua tubuh telanjang Luhan dengan jelas, dan jauh dalam hati dia berdecak kagum akan keindahan mahluk tuhan diahadapannya ini.
Luhan menunduk dalam, ada perasaan malu, sedih, marah, takut, semua jadi satu sekarang, tidak tahu harus berbuat apa,
Luhan merapatkan kakinya mencoba menutup area selangkangannya yang terus ditatap oleh Kai,
ingin rasanya Luhan menenggelamkan dirinya saja sekarang kedalam bumi.
"Tidak ada penolakan Luhan, aku tidak akan berbaik hati malam ini"
Kai kembali menaikkan kedua tangan Luhan ketas kepalanya, menjilati dagu, pipi, sampai bibir Luhan,
melumatnya lagi dengan kasar, menghisapnya, menyesap rasa manis dari bibir Luhan yang sudah jadi candu baginya.
"Hhhah-hhh~"
Luhan meraup udara sebanyak banyaknya saat Kai sudah melepas tauan bibir mereka.
Kai turun mengerjai leher Luhan lagi dan membuat tanda baru disana, tidak berlama lama, Kai sudah memainkan tonjolan kecil didada Luhan yang mulai memerah,
Kai melahap puting Luhan dengan rakus, menghisapnya dan menggigitnya sesekali.
"Aghh Kai, tolong hentikanhh- "
Entah sudah sejak kapan mata Luhan sudah berair menahan tangis,
Rasanya dirinya sangat hina di depan adiknya sendiri, dan diperlakukan seperti sekarang.
"Tidak usah munafik bitch, kau akan menikmatinya"
Kai sengaja menekan miliknya yang masih berbalut handuk ke milik Luhan, membuatnya melenguh tertahan karena adiknya mulai bangun dibawah sana.
"Tidak, Kai jangan, aku mohon"
Luhan menggelengkan kepalanya dengan panik saat kai mulai berjongkok dihadapannya memposisikan mulutnya tepat di depan milik Luhan.
"Actingmu itu tidak akan mempan, dan jangan panggil namaku dengan mulut kotormu itu"
Kai sengaja meremas kuat milik Luhan membuat empunya menggigit bibirnya keras menahan desahannya.
"Sudah tegang begini masih sok polos hm? Biar kubuat dirimu yang sebenarnya keluar Luhan"
Kai mulai memsukkan milik Luhan ke mulutnya yang hangat, mengulum milik Luhan, memanjakannya dengan lidahnya yang sudah mahir.
"Aahh~ hentikanh-"
Desahan tertahan bercampur isakan keluar dari mulut Luhan,
tubuhnya menikmati ini tapi hatinya sakit,
ini kedua kalinya ia merasakan hal seperti ini,
dan kenapa haarus adiknya sendiri yang mebuatnya terangsang seperti sekarang.
"Aahhn~" Tubuhnya memang tidak bisa berbohong, Kai begitu lihai membuatnya merasa melayang, walaupun airmatanya terus berjatuhan, tapi adiknya dibawah sana juga mengeluarkan cairan kenikamatannya di mulut Kai.
Kai mengeluarkan smirknya melihat tubuh Luhan yang menegang sampai sekarang sudah hampir merosot karena habis orgasme,
Dengan sigap Kai berdiri dari posisinya dan menarik Luhan lalu mengehempaskannya ke ranjangnya yang tidak jauh dari tempat mereka tadi.
Luhan tidak bisa melwan, dia menatap Kai dengan mata berair dan masih mencoba menetralkan nafasnya.
Tanpa aba aba Kai sudah melebarkan kedua paha Luhan tanpa bisa Luhan tolak,
Kai mengoleskan sisa cairan Luhan yang sengaja dia balurkan ditangannya lalu mengoleskannya ke kejantanannya sendiri yang sudah tegak berdiri dihadapan Luhan,
entah sejak kapan Kai juga sudah telanjang, Luhan tidak bisa mengingatnya.
"Hiks jangan~ aku mohon"
Luhan mencoba bangun dan merapatkan pahanya, dia panik menegtahui apa tujuan Kai selanjutnya.
"Diam bitch! Ah kau sudah menginginkan ini kan? Aku hebat dalam memuaskan orang-orang sepertimu"
Kai menjambak rambut Luhan dan menindihnya agar Luhan tidak bergerak dari posisinya.
"Ini tidak boleh, kita sedarah, tolong hentikan" Isak tangis Luhan semakin menjadi, dadanya sangat sakit,
apa maksud Kai dengan orang sepertinya?
Luhan tidak bisa memikirkannya,
dia terlalu panik melihat Kai yang sudah menindihnya dan melebarkan kedua pahanya tanpa bisa ia tolak lagi.
"Cih! Kau berusaha terlalu keras bitch, setelah ini kau akan menjerit kenikamatan, diam saja dan tutup mulut kotormu itu"
Entah setan darimana yang sudah merasuki Kai,
biasanya saat Luhan sudah terisak hebat seperti sekarang moodnya akan hilang dan akan menghentikan aktivitasnya menyakiti Luhan,
tapi kali ini semakin melihat Luhan menolak dan menangis dihadapannya malah membuat emosi Kai semakin memuncak,
jangan lupakan libidonya yang juga terus memuncak tanpa bisa ia redam setiap kali menyentuh Luhan.
"AARGHH~ saakit-"
Luhan mencengkram sprei dibawahnya dengan sangat keras saat Kai mamsukinya tanpa persiapan, dan menanamkan miliknya kedalam diri Luhan dalam sekali hentakan yang sangat kuat
"Aahh~"
Berbeda dengan Luhan, Kai malah memejamkan matanya menikmati sensasi hangat menyelimuti miliknya di dalam hole Luhan.
"masih sempithh hmmh? Kau merawatnya dengan baik bitch" Kai mulai menggerakkan pinggangnya perlahan sambil menggeram merasasakan hole sempit Luhan menjepit miliknya dibwah sana.
"Aagh sakit~ hiks hentikan"
Luhan hanya bisa menangis manahan perih dibagian bawahnya,
rasanya seperti terbakar dan panas saat benda tumpul dan keras milik Kai memasuki dirinya, tanpa persiapan, dan ini pertama kalinya buat Luhan.
"Nikmati saja bitch, tidak usah habiskan air mata buayamu itu"
Kai menggeram disetiap katanya sambil terus berusaha menggerakkan miliknya dibwah sana, perlahan dan mulai menambah temponya.
"Shh sa-kith hiks"
Air mata Luhan terus mengalir tanpa bisa ia bendung, benar benar sakit,
ditambah melihat wajah Kai yang sama sekali tidak merasa iba padanya sedikitpun membuat hati Luhan ikut sakit.
"Ahh- nikmath "
Sesekali Kai menampar bokong Luhan sambil terus menggerakkan pinggangnya maju mundur menggenjot hole Luhan, menambah sensasi tersendiri untuk Kai.
"Kau nikmat bitch"
Kai semakin menambah tempo kecepatannya menggenjot hole Luhan dibawah sana,
Kai menatap Luhan yang berada dibawahnya.
Luhan memalingkan wajahnya kesamping sambil menggigit buku buku jarinya untuk menahan desahan dan isakannya,
walaupun sesekali masih lolos begitu saja kalau Kai menghantam titik kenikmatannya.
"Akhh henth-hiks henthikanhh-"
Luhan masih mencoba bangun walaupun ia tau itu sisa sia,
tubuhnya sudah lemah tidak bisa berbuat apa apa selain menangis,
genjotan Kai terlalu lihai unuk membuatnya merasa melayang,
tapi semakin dia menikmati semakin hatinya terasa sakit kalau menyadari yang sedang menggenjotnya adalah adiknya sendiri.
"Ahhh aku keluarhh bitch"
Kai menambah kcepatannya membuat tubuh Luhan terhentak kasar berlawanan arah dengan genjotannya,
dan tidak lama Kai mencapai puncak kenikmatannya dan mengeluarkan semua cairan hangatnya di lubang hangat Luhan.
Luhan tidak menatap Kai, dia menahan isakannya yang semakin menjadi mendengar desah kenikmatan Kai,
sampai dia merasa posisi kakinya diubah menjadi menyamping dan dia membuka mata dan mencoba menatap Kai
"Aghhh sakithh"
Luhan pikir Kai sudah selasai karena sudah mengeluarkan miliknya dari tubuh Luhan, tapi baru setengahnya, Kai kembali mendorong masuk miliknya yang kembali menegang kedalam hole Luhan.
"Ahhh~ sudah kubilang aku ahli memuaskan jalang sepertimu"
Kai mulai menggerakkan pinggulnya dan menggeram nikmat tanpa memperdulikan isakan kesakitan Luhan
"Ahhh mau berapa ronde hm?"
Kai terus mengenjot lubang Luhan yang sudah dirasa lecet dan semakin perih Luhan rasakan, karena Kai memperlakukannya sangat kasar dan semakin cepat menghantam prostat Luhan.
Alih alih menjawab, Luhan sibuk menepis airmatanya berkali kali,
sesekali desahannya lolos saat titik kenikmatannya berhasil Kai sentuh,
tapi Luhan tidak bisa menikmatinya, rasa perih di holenya yang terasa sobek lebih ia rasakan,
"Aahh damn-"
Kai berhenti sejenak dan menikmati puncak kenikmatannya lagi sambil mendongakkan kepalanyaa dan memejamkan mata.
.
.
"Menungginglah"
Kai menampar pantat Luhan yang sudah memerah, entah sudah berapa kali ia melakukannya, Luhan tidak berniat melawan, hanya menurut,
percuma melawan karena Kai akan terus menyakitiya lebih yang pada akhirnya akan membuatnya menuruti keinginan Kai.
"Ahhh aku tidak tau kau senikmat ini" Kai terus menggenjot Luhan dalam posisi menungging
Luhan masih menangis, rasanya tenggorakannya akan kering karena terus menangis,
jangan lupakan sakit diabawah sana yang sudah menjalari tubuhnya.
Tidak menatap Kai sedikitpun, Luhan hanya terus menunduk dan menopang tubuhnya yang sudah lemah agar tidak terjatuh ke kasur,
"Aahhh bitchh"
Kai mendapatkan kenikmatannya yang entah sudah keberapa, dan seiring desahan nikmat Kai, Luhan sudah tidak bisa menahan berat tubuhnya dalam keadaan meungging, dia terjatuh telungkup dikasur.
Kai yang meihat itu menatap punggung Luhan, dan membalikkan tubuhnya, mengelus pipi Luhan dan seterusnya bibir pucatnya,
di kecupnya sebentar bibirnya yang bengkak itu lalu mulai melumatnya lagi dengan kasar,
mulai menindih Luhan lagi dan mencoba memasukkan kembali miliknya ke dalam Luhan yang sudah mulai memejamkan matanya kelelahan.
"Mphh-" Luhan terkesiap saat Kai kembali menghentak milinya dibawah sana,
dia pikir sudah berahir, tubuhnya sudah sangat lelah, entah sudah ronde keberapa percintaan panas yang mereka lakukan,
lebih tepatnya percintaan untuk Kai sendiri, sedangkan untuk Luhan ini adalah siksaan, berakhir sudah pertahanan hidupnya.
"Tidak perlu menangis, kau sangat keras kepala, nikmati saja"
Kai malah menambah kecepatannya menerjang tubuh Luhan dibawah sana.
Air mata terus mengalis dari mata Luhan, Kai sendiri tidak bisa mengendalikan dirinya, rasanya dia ingin lebih dan lebih dari tubuh Luhan, benar benar sangat nikmat rasanya, miliknya sangat pas dengan tubuh Luhan.
"Ahhh-"
Akhirnya setelah desahan dan geraman tertahan dari Kai yg entah sudah keberapa kalinya, dia menjatuhkan tubuhnya diatas Luhan, sambi menetralkan nafasnya.
"Kau hebat jalang"
Kai mengelus pipi Luhan dengan smirk yang tercetak dibibirnya.
Luhan memejamkan matanya dan airmata kembali lolos dari sudut bibirnya, melihat itu Kai merasa ada yang mengganjal dihatinya.
Dilepasnya tangannya dari pipi Luhan dengan kasar dan menggeser tubuhnya pindah dari atas Luhan, lalu mulai memejamkan matanya dalam posisi telungkup membelakangi Luhan.
.
.
Merasa sudah tidak ada pergerakan disampingnya, Luhan memperhatikan namja yang sudah tertidur disampingnya, nafasnya terlihat teratur.
Luhan kembali menteskan airmatanya,
Kai memang sama sekali tidak merasa bersalah setelah melakukan hal barusan padanya,
dia tertidur dengan tenang, harusnya Luhan menyadari lebih awal kalau Kai memang hanya akan menyakitinya.
"Akh~"
Luhan mencoba bangun dan mendudukkan dirinya,
membuat Luhan harus membekap mulutnya sendiri guna menahan sakit dibagian bawahnya.
Dengan sangat pelan dan menahan sakit ditubuhnya dengan sekuat tenaga,
Luhan turun dari ranjang Kai,
memungut bathrobe yang tadi ia kenakan,
terserah Kai akan membunuhnya setelah ini,
Luhan hanya tidak tau harus mengenakan apa,
dadanya terlalu sesak untuk tetap berada disebelah Kai.
Luhan berjalan dengan pelan sambil sesekali berhenti berpegangan pada tembok, guna mentralkan sakit dibagian bawahnya,
kenapa bisa sesakit ini,
beginikah pengalaman pertama melakukan hal tersebut, apalagi Kai memperlakukannya dengan sangat kasar.
Sebelum benar benar menuruni tangga,
Luhan manatap sekilas ke arah ranjang mamstikan kalau Kai masih tertidur, lalu Luhan menggigit bibirnya sepanjang menuruni tangga balkon kamar Kai guna manahan rintihannya.
Luhan akan kabur? Tidak, dia tidak akan kabur,
kalaupun dia ingin itu tidak akan berhasil,
penjagaan rumah ini sangat ketat,
Luhan hanya berjalan ke arah taman yang tepat berhadapan dengan balkon Kai, dan di sebelahnya ada kolam renang yang mewah, yang memang sengaja dihubungkan dengan kamar Kai,
Luhan mengetahui tempat ini saat tanpa sengaja ia berkeliling ketika Kai sedang mandi di hari hari sebelumnya.
"Ugh" Luhan dengan perlahan mendudukkan pantatnya pada kursi taman tersebut.
"Ahh sakit sekali" Luhan akhirnya mebiarkan ringisannya lolos.
Udara malam yang dingin langsung menusuk kulitnya yang hanya mengenakan bathrobe selutut yang bagian dadanya terekspos karena kebesaran,
Luhan tidak memperdulikannya,
bayang bayang Kai yang meggenjot dirinya tadi kembali melintas difikirannya, membuatnya menekuk lututnya dan memeluk tubuhnya sendiri, mulai gemetar dan kembali meneteskan air matanya.
"Hiks mama, maafkan aku tidak bisa menjaga diriku, betapa kotornya aku ini"
Luhan mengusap tubuhnya dengan kasar, melupakan sebentar rasa sakitnya, dia merasa kotor pada dirinya sendiri
"Sebenarnya apa dosa yang sudah kuperbuat sampai tuhan menghukumku seperti ini hiks"
Luhan mendongakkan wajahnya menatap langit malam, yang terlihat banyak bintang berkedip disana, sangat berbeda dengan suasana hatinya sekarang.
Luhan sendiri tidak tau apa yang membuat Kai sangat membencinya,
yang dia tau ayah Kai meninggalkan ibu Kai demi menemui mamanya dan dia di china,
dan dia mendengar ibu Kai meninggal,
tapi sampai saat ini dia tidak paham betul apa hubungan semua itu dengan dirinya, dengan mamanya, dengan perasaan benci Kai yang mendalam pada dirnya sampai saat ini.
Menetralkan nafasnya sambil sesegukan sesekali setelah tangisnya mulai reda,
Luhan memejamkan matanya dan mebayangkan wajah mamanya,
masa masa bahagia ketika dirinya masih dibangku SMP di China dulu bersama dengan mamanya.
Seulas senyum terlukis dibbirnya, mencoba menepis kejadian yang baru menimpanya, dan mencoba memasuki alam mimpinya.
Melupakan sakit di bagaian bawah dan di hatinya.
.
.
"Mau kemana dia?"
Kai yang merasakan pergerakan dari orang disebelahnya tidak jadi memasuki alam mimpinya tapi juga tidak mengubah posisinya,
dia meperhatikan Luhan yang mulai memakai bathrobenya kembali,
berkali kali ia mendengar ringisan kesakitan dari mulut namja cantik itu,
tapi dia tidak berniat meakukan apapun dan masih tetap dalam posisinya,
sampai Luhan mulai berbalik dan menatap ke arahnya,
Kai memejamkan matanya persis sedang tertidur,
saat bayangan Luhan sudah menghilang di balkon kamarnya, Kai membuka matanya.
Dia tidak tidur, tidak akan bisa, pikirannya pun kacau, jauh di dalam hatinya dia merasa dirinya sudah menjadi monster yang sudah menyakiti Luhan sangat dalam malam ini.
"Hhh~ kalau memang benar, kenapa dia sangat terluka seperti ini"
Kai meraih ponselnya dan memainkan jemarinya sebentar disana, membuka kotak pesan disana dan menampilkan foto Luhan bersama seorang namja tinggi yang terlihat sedang berjabat tangan, saling melempar senyum, bahkan sedang makan bersama, yang dia sendiri hapal betul dimana tempat tempat Luhan dan orang itu berada,
"Dulu saat masih di China, dia memang sering mengincar lelaki kaya dan merayunya untuk mendapatkan uangnya, dan sekarang kau lihat sendiri dia mengincar musuh bebuyutan kita"
Itulah sederet tulisan dan beberapa data lainnya di bawah foto tersebut.
Kai meletakkan ponselnya dengan kasar dan mangusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya
Kai mulai bangun dari posisinya dan melangkahkan kakinya ke balkon,
ditatapnya Luhan dibwah sana yang memeluk tubuhnya sendiri yang sedikit bergetar,
hati Kai terenyuh melihat itu,
ingin sekali ia kebawah sana dan menyelimuti kakaknya yang ia anggap budaknya itu,
tapi itu tidak akan terjadi karena egonya yang sangat besar selalu menguasai dirinya.
"Kenapa harus Sehun sialan itu, aku tidak bisa memaafkannya Luhan"
Kai akhirnya kembali ketempat tidurnya menenangkan pikirannya yang kacau.
.
.
Setelah insiden di bagasi kantor tadi antara Luhan dan Sehun, Kai yakin ada yang tidak beres, dan Kai mrnyuruh informannya segera melacak tentang Luhan dan Sehun, dan tepat setelah ia menyuruh Luhan mandi tadi, pesan yang mamacu emosinya smpai ke ubun ubun itu masuk kedalam ponselnya,
membuatnya sangat gusar saat mengetahui ternyata Luhan sedang mencoba menggoda Sehun,
bahkan berani bertemu dengannya beberapa kali tanpa sepengetahuan Kai,
ingin rasanya dia membunuh Luhan saat itu juga,
ditambah menurut data dan info yang dkirm orang tersebut, Luhan sering bermain dengan laki laki lain selama di china dulu,
emosi Kai langsung tersulut mengetahui fakta tersebut,
selama ini dia pikir Luhan sangat polos melihat dari kelakuannya yang bahkan berciuman saja tidak bisa dengannya,
ternyata itu hanya actingnya saja,
itu yang mebuat Kai lepas kendali dan menghilangkan rasa ibanya pada Luhan sampai membuat Luhan sakit seperti sekarang,
"Hhh aku bisa stress lama lama"
Kai mencoba mejamkan matanya dan melupakan semuanya sejenak.
.
.
.
Pagi ini benar benar tidak nyaman buat Kai, dia terbangun dan tidak menemukan Luhan disampingnya juga tidak ada di balkon ataupun di taman yang terhubung degan kamarnya
Emosinya naik dan akan segera memberi perintah pada petugas dirumahnya, tapi langsung ia urungkan saat menemukan Luhan sudah rapi dan menunggu di depan pintu.
Kai sendiri juga tidak tau harus berkata apa, mereka mulai memsuki mobil dan Kai mulai menjalankannya, sesekali melirik Luhan yang akan meringis kalau ada jalanan yang tidak rata yang membuat mobil mereka sedikit terguncang.
Hening-
Itulah yang Kai rasakan selama perjalanan, memang biasanya juga diam seperti ini karena Luhan tidak akan berani banyak bicara padanya, tapi kali ini Kai merasakan Luhan berbeda
Tatapannya lurus kedepan, dengan tatapan kosong dan tidak fokus, jangan lupakan wajah pucatnya dan bibirnya yang bengkak.
'Apa dia sakit'
terlalu sibuk dengan pikiran masing masing, sekarang mereka sudah sampai dikantor.
Luhan turun dalam diam walaupun Kai mengerem mobilnya mendadak dan membuat keningnya kembali mencium kaca mobil,
Luhan tidak merengut seperti biasanya, hanya sedikit meringis hampirt tidak terdengar, membuat Kai semakin merasa tidak enak dihatinya
Kai berjalan ke kantornya tidak mau memperlihatkan perasaannya pada Luhan lebih jelas,
dia tidak akan pernah menyasali kejadian semalam,
'sudah sepantasnya Luhan mendapatkan itu', itu yang selalu ia jadikan mantra pengusir rasa bersalahnya.
Kai sudah jauh di depan sedangkan Luhan masih tertinggal dibelakang sana, sesekali namja bermata rusa itu menghentiakan langkahnya sambil mengigit bibirnya
Kai memperhatikan dari jauh dengan berpura pura memainkan ponselnya agar jalannya juga melambat,
dan sampai akhirnya Luhan sudah dekat dengannya, baru ia mulai melanjutkan langkahnya yang dibuat sependek mungkin.
Saat dipersimpangan menuju ke atas, Luhan membelok arah menuju tangga berbeda dengan Kai yang menuju lift,
belum beberapa langkah,
Kai menarik tangan Luhan mengkutinya kedalam lift tanpa meperdulikan Luhan yang gemetar,
rasanya sentuhan Kai ditangannya mengingatkannya akan kejadian semalam,
mengerti hal itu, Kai melepaskan tangan Luhan, dia juga masih terbayang bayang akan kejadian semalam,
Cuma bedanya kalau Luhan trauma ngingatnya, Kai malah akan merasa mulai keanasan mengingat itu.
"Hari ini kau ikut denganku, aku ada urusan, dan aku mebutuhkan budak untuk kusuruh suruh"
Tepat setelah lift terbuka Kai melangkah dengan angkuh menuju ruangannya tanpa memeprdulikan Luhan yang kesusahan mengikutinya dari belakang.
Saat sebelum mencapai ruagan Kai, ia berpapasan dengan Sehun,
Sehun menatapnya sekilas namun kemudian tatapannya beralih pada Luhan,
dia melempar senyum pada Luhan tapi Luhan tidak melihatnya karena terus menunduk dan mengikuti Kai,
Kai memasang senyum meremehkan pada Sehun melihat itu.
.
.
"Kau sudah masuk perangkap tuan kim"
Sehun memasang smirk di bibir tipisnya menatap punggung Kai dan Luhan yang sudah mulai menghilang di lorong menuju ruangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
...
.
.
.
.
Hehehehe, halo/?
Pertama sekali marilah kita panjatkan, eh salah
Pertama sekali saya minta maaf yang sebesar besarnya karena hampir membuat ff ini ulang tahun lagi updateannya :'v maaf banget, udah lupa sebenernya sama ff ini, tapi kmaren iseng buka eh ada yg nungguin ternyata :'v
Seperti janji saya kalau ada yg nungguin bakal dilanjut, karena menunggu tanpa kepastian itu ga enak kan ya wkwk :'v
Okdeh makin gaje? Makin ga nganu? Rcl aja deh krisannya, tapi jangan bash ya hehehe
Sayang kalian yang udah nyempetin baca, rcl, dan juga yang siderin ff ini :'v see you lagi kalau jodoh kita pasti ketemu lagi /eh
