Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kisihimoto.
Warning : SasuFemnaru, typos, cursing, slight OOC-ness, semi-canon.
A/N : Untuk update di chapter-chapter depan sepertinya nggak akan secepat kemarin-kemarin ya. Tapi, akan kuusahakan untuk tetap update. Makasih buat reviewsnya^^ aku jadi merasa sangat dihargai xD
Selamat Membaca!
Ketika Naruto terlempar keluar dari portal, ia sadar bahwa ada sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang mengganjal. Tapi, sejak dua hari lalu, ia sama sekali tidak memperhatikannya. Kemarahannya pada Sasuke membuatnya lupa akan detail remeh itu. Belum lagi mengenai keberhasilannya dalam membawa kembali Wakai Sasuke ke desa—hal yang sebelumnya terlambat ia lakukan sehingga mengakibatkan dampak yang buruk bagi temannya itu—dan pertemuannya dengan Jiraiya. Mereka berdua berhasil menguras penuh perhatian Naruto dari kejanggalan di dalam dirinya sendiri.
Selain itu, Naruto juga tidak memungkiri akan rasa senang aneh yang ia rasakan ketika berjalan-jalan di Konoha dimensi ini. Rasa nostalgia meluap dari dalam dirinya. Sebab, bagaimana pun juga Konoha asli di mana ia berasal sudah sangat berubah sejak Pein memporak-porandakannya. Kenangan Naruto di sana mungkin akan tetap ada, namun semua bangunan baru itu membuat nuansa desa tersebut terasa beda. Belum lagi dengan seluruh tahap modernisasi yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir—proses itu jelas-jelas mengubah Konoha yang dikenal Naruto di masa kecilnya.
Sedangkan di sini, Naruto bisa melihat segala hal yang dulu sudah dihancurkan Pein. Ia tidak bisa menyangkal kerinduannya akan nuansa Konoha di masa lalu, meskipun Konoha yang sekarang tetap disukai olehnya.
Hell, mana bisa Naruto membenci Konoha?
Intinya, selama dua hari terakhir, Naruto begitu disibukan oleh antusiasme itu. Hingga kemudian sesuatu yang janggal kembali ke permukaan dan membisikinya akan kemungkinan-kemungkinan buruk.
Perutnya seketika melilit.
Kejadian hari itu masih segar di ingatannya. Mulai dari saat Sakura menyeretnya untuk berbelanja perlengkapan pokok—baju, bahan makanan, dan kebutuhan untuk bertahan hidup lain di dunia baru ini—hingga saat ia sparring dengan Naruto Muda. Intensinya saat itu sederhana saja. Naruto ingin mengukur kemampuan dirinya di masa lalu guna melihat perbedaan kekuatan mereka. Setelah mengetahui perbedaan itu, ia akan mulai melatih kembarannya agar memiliki kekuatan yang sama seperti yang ia miliki saat ini.
Ancaman akan serangan musuh sangatlah besar, Naruto sangat menyadarinya. Oleh sebab itulah ia ingin kembarannya segera meningkatkan kemampuannya. Mereka belum tahu kapasitas musuh. Ia sama sekali tidak meragukan kemampuannya sendiri, ditambah lagi dengan adanya Sasuke di sampingnya, Naruto yakin mereka bisa mengatasi semua masalah ini dengan mudah. Namun, pengalamannya sebagai ninja selama dua belas tahun mengajarkannya untuk tidak meremehkan sekecil apa pun ancaman. Ia harus senantiasa waspada dan siap.
Bukankah akan lebih baik memiliki dua Naruto dengan kemampuan penuh jika keadaan memberi kesempatan yang demikian?
Dengan begitu, segala macam kematian yang sia-sia bisa mereka cegah. Naruto sudah belajar dari kegagalannya melindungi orang-orang di perang terakhir mereka. Mereka mungkin menang. Namun, bayaran atas kemenangan itu juga tidaklah sedikit. Jadi, kali ini, Naruto ingin mengantisipasi kemungkinan itu agar lebih banyak orang yang terselamatkan.
Itulah mengapa siang tadi, ia membawa Wakai Naruto ke sebuah tanah lapang di luar Konoha. Mereka sparring selama dua jam dan berhenti ketika pemuda itu tergeletak di tanah karena kelelahan. Kesempatan tersebut digunakan Naruto untuk menguji Kyūbi. Ia harus mengetahui keadaan Kurama dan secepat mungkin meyakinkan bijū tersebut untuk bekerja sama dengan mereka. Meskipun harus melalui latihan seperti yang ia lakukan bersama Paman Bee, tapi Naruto yakin ia bisa sedikit mempersiapkan Kurama agar Wakai Naruto bisa lebih mudah bekerja sama dengan chakra rubah itu.
Dengan keyakinan yang besar, Naruto pun menyingsingkan lengannya—memperlihatkan sebuah pola kunci segel Kyūbi yang diberikan Jiraiya padanya. Tanpa ragu, ia membuka segel tersebut. Tapi, tidak semuanya. Tidak. Naruto tidak senekat itu—hell, ia sudah belajar untuk menggunakan otaknya untuk berpikir, terima kasih untuk Sasuke yang selalu mengolok kecerobohannya. Naruto hanya membuka tiga dari lima segel yang ada. Tindakannya bertujuan agar segel lain di tubuh kembarannya tetap terkunci. Naruto tidak ingin membawa perkara buruk. Transformasi paksa itu jelas-jelas mengerikan. Ia tidak berniat membagi pengalaman tersebut dengan siapa pun termasuk kembarannya sendiri.
Setelah tangannya menyentuh segel di perut Wakai Naruto, pemuda itu menatapnya bingung. Tidak perlu waktu lama hingga bola mata safirnya berubah menjadi kemerahan dan tubuhnya dilingkupi oleh chakra merah. Luapan energi yang besar memenuhi tanah lapang itu, menyebabkan tanah yang diinjak oleh mereka tergerus dengan mudahnya hanya karena raungan dari Mode Kyūbi Cloak tersebut. Di depan matanya, Naruto akhirnya melihat seberapa mengerikan ia ketika mengamuk. Kyūbi Cloak tidaklah keren ketika kau tidak bisa mengendalikannya.
Atmosfer gelap yang familiar menyerangnya. Aura kebencian, kemarahan, dan intensi membunuh melingkupi udara di tanah lapang itu. Wakai Naruto tidak terlihat seperti manusia. Ia tampak mengerikan dengan gigi taring yang menyerupai rubah, mata merah menyala, dan empat buah ekor di belakang tubuhnya. Naruto tergugu selama beberapa saat, sebelum mulai bergerak melindungi diri ketika Wakai Naruto kembali meraung dan menyerangnya.
Pertarungan tidak dapat dielakan. Naruto sudah memperkirakannya, ia sama sekali tidak masalah dengan hal ini. Tujuannya memang agar Kurama di dalam diri kembarannya itu mengambil alih kontrol selama sesaat. Ia ingin berbicara dengan sang rubah sejak pertama kali dirinya mengobrol dengan Naruto Muda. Tapi, ia tidak mampu menghubungi rubah yang tersegel di dalam diri kembarannya itu. Atas dasar tersebut, Naruto mengambil jalan ini. Ia akan membiarkan Kurama yang berada di dalam dirinya untuk berbicara dengan Kurama II—sebut saja begitu, Naruto tidak sanggup memanggil Kurama sebagai Kurama Muda. Rubah itu tetap saja tua! Ia tidak bisa memanipulasinya.
Jubah Kejinggaan melingkupi dirinya. Aliran kekuatan familiar yang lebih hangat memenuhi tiap titik chakranya. Naruto mengatasi kembarannya dengan mudah. Ia balas menyerang dan memegang kendali pertarungan mereka. Gerakannya yang cepat tidak bisa ditangkap dengan baik oleh mata merah lawan. Sejauh ini memang hanya Sasuke yang mampu melihat pergerakannya ketika bertarung. Itu pun karena sang Uchiha memiliki mata yang bagus. Naruto hanya menggunakan taijutsu. Ia memukul, menendang, melempar transformasi rubah yang belum sempurna tersebut. Tujuannya hanyalah melumpuhkan bukan mengalahkan dengan telak. Naruto tidak ingin melukai dirinya yang muda.
Sayangnya, rencana yang sudah ia pikirkan matang-matang tidak berjalan lancar. Amukan rubah cukup sulit untuk ditangani. Butuh waktu hingga setengah jam hingga sang Rubah benar-benar lengah dan memberinya kesempatan untuk memanggil Kurama di dalam dirinya. Saat itulah semua rencananya gagal. Kejanggalan di tubuhnya kembali ke permukaan, menyerukan kata salah di dalam kepalanya.
Kurama tidak muncul.
Kurama tidak merespon panggilannya.
Kurama seakan hilang.
Kepanikan melingkupi Naruto. Ia mencari-cari sang rubah di alam bawah sadarnya seperti yang biasa ia lakukan. Tapi, alih-alih menemukan sebuah penjara yang terbuka dan seekor rubah, ia malah mendapati kegelapan pekat. Tubuhnya menabrak sebuah penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk menemukan monster yang sudah menjadi teman baiknya itu.
Fokusnya yang teralihkan pada ketiadaan Kurama membuatnya lengah dengan ancaman luar yang tengah dihadapinya. Kurama II yang telah mengambil alih tubuh Wakai Naruto melemparnya keras. Tubuhnya menghantam puluhan batang pohon, seketika membuat pepohonan itu tumbang. Rasa sakit menyerangnya. Telinganya berdengung dan suara krak yang keras menandakan tulang punggungnya yang patah. Erangan sakit keluar dari mulutnya. Tubuhnya seakan mengejang.
Ini salah. Ini salah. Adalah kalimat yang ia teriakan di dalam kepalanya.
Hantaman semacam ini tidak pernah terasa sakit. Setidaknya, tidak sesakit ini dengan bantuan Kurama.
Tapi, Kurama hilang.
Tidak, Naruto hanya tidak mampu merasakan keberadaannya. Ia masih ada di sana. Buktinya adalah Jubah Kejinggan yang masih meliputi tubuhnya. Sebagian chakra sang rubah masih mampu dikendalikan Naruto.
Namun, kenapa hantaman tadi sangat sakit? Tidakkah Kurama secara otomatis melindunginya? Ia selalu begitu sejak dulu, bahkan sebelum mereka baikan.
Jadi, kenapa? Apa yang salah?
Ketika sibuk memikirkan hal tersebut. Wakai Naruto kembali menyerangnya. Kali ini Naruto kewalahan. Seiring pertarungan, kekuatannya seolah melemah. Tubuhnya terasa sangat lelah. Rasanya seperti saat ia kehilangan banyak chakra ketika bertarung melawan Sasuke di Lembah Akhir delapan tahun lalu. Seiring pertarungan pula, Mode Kyūbi menghilang, meninggalkan Naruto dalam Sage Mode yang secara mati-matian ia pertahankan.
Satu jam kemudian, Naruto mampu melumpuhkan sang rubah dan menutup segel itu. Kekuatan menguap dari dua sosok berambut pirang tersebut. Keduanya terkapar di atas tanah, napas mereka memburu. Ketika Wakai Naruto menanyakan keterkejutannya, Naruto hanya tertawa kering dan meminta maaf. Ia mengalihkan perhatian sang Uzumaki Muda dengan tawaran mentraktir ramen yang tanpa pikir panjang langsung diterima olehnya.
Kurama?
Naruto kembali mencoba memanggil sang Rubah begitu tersadar dari lamunannya. Ia belum mendengar jawaban apa pun.
Rubah Sialan, di mana kau?!
Umpatannya juga tidak mendapat jawaban.
Rubah Tua! Jangan bercanda! Akan kupotong telinga panjangmu itu! Kau mendengarku?! Aku tidak main-main! Aku bersumpah, akan kupotong kedua telinga dan seluruh ekormu—
"AH!" serunya terkejut. Matanya menatap nanar luka sayatan pisau di jari telunjuk dan jari tengahnya. Darah segar mengalir keluar dari sana. Naruto mengerjap. Ia menghitung mundur angka lima hingga satu, menunggu luka itu agar tertutup.
Tidak ada yang terjadi.
Ia menunggu lebih lama. Sepuluh detik, dua puluh, tiga puluh…
Dua menit.
Lima menit.
"KAU BERCANDA?!" teriaknya frustrasi. "Apa-apaan?!"
Dilemparkannya dengan sembarang pisau yang tengah ia genggam. Darah menetes menodai sayur-sayuran yang sedang ia potong. Matanya masih menatap cairan merah itu dengan tidak percaya. Lelucon yang ditujukan padanya ini sangat tidak lucu! Ke mana perginya kemampuan penyembuhan itu? Ke mana perginya si Rubah Sialan itu?!
Fokusnya yang terpaku pada keadaan frustrasi itu membuatnya tidak mendengar dentangan besi akibat lemparan pisau tadi. Ia juga tidak menyadari keberadaan seorang lelaki berambut hitam dengan kedua mata yang sudah menyala kemerahan. Alisnya menyatu, menatap sang Uzumaki dengan seksama. Netranya menangkap beberapa makanan yang sudah matang dan seorang wanita pirang yang menunggunginya, tengah terdiam kaku di depan pantry. Terdapat buah-buahan segar dan beberapa jenis sayuran di atas meja kayu itu.
"Bagaimana bisa Sakura mempercayakan dapur padamu?" ujar Sasuke sambil mendekati Naruto. Tangannya memegang sebuah pisau yang tadi hampir mengenainya. "Kau ingin membunuhku?"
Naruto mengerjap, kemudian bergumam, "Andai saja sebuah pisau dapur bisa membunuhmu. Kau sudah mati di tanganku sejak dulu." Menolehkan kepala, Naruto melihat Sasuke berpakaian biasa—kaus hitam pendek dan celana yang sewarna. "Huh, kapan kau pulang?"
Diletakannya pisau itu ke atas meja. "Sejam yang lalu. Aku tidur sebentar."
Kerutan tercipta di dahi Naruto. "Aku tidak menyadarinya. Kau sangat diam, tahu. Mengesalkan."
Sasuke mendengus. "Menyusup adalah kemampuan dasar ninja, Idiot." Matanya beralih pada sayuran di bawah tangan Naruto, kemudian pada tangan perempuan itu. Apa yang dilihatnya tampak meragukan. Sasuke segera menarik tangan tersebut, memperhatikan dua luka sayatan yang masih mengeluarkan cairan merah nan kental. Darah. "Kau melukai dirimu sendiri?" serunya tidak percaya.
Tanpa menghiraukan protes dari sang pirang, ia menarik perempuan itu mendekati wastafel guna menghilangkan bekas darah itu. Setelahnya, ia megulurkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas luka itu. Chakra kehijauan mengalir dari sana, menutup luka secara perlahan-lahan.
"Ninjutsu medis dasar itu penting," ungkapnya ketika melakukan hal tersebut. "Kau masih menolak untuk mempelajarinya sampai sekarang?"
Menarik tangan kirinya dari cengkraman Sasuke, Naruto balik menatap lelaki itu. "Mengontrol chakra sekecil itu sangatlah merepotkan," balasnya. "Lagi pula, aku tidak memerlukannya. Lukaku selalu sembuh dengan sendirinya."
Realisasi seakan menerpa Sasuke. Ia menatap Naruto kosong. Yang ditatap hanya menghembuskan napas panjang. Ia melalui lelaki itu begitu saja, menyibukan diri dengan piring-piring dan berbagai peralatan makan lain, menatanya di atas pantry. Telapak tangannya meraup sayuran yang sudah ternodai darah dan membuangnya ke tempat sampah. Ketika tengah menuangkan miso sup ke dalam mangkuk, suara Sasuke terdengar di telinganya.
"Aku tidak bisa mengaktifkan Rinnegan," ujar lelaki itu. Ia duduk di samping Naruto yang tengah berdiri, memperhatikan ekspresi terkejut di wajah sang Uzumaki.
Tanpa aba-aba, Naruto langsung meletakan mangkuk ke atas meja dan menunduk guna menyapukan tangannya pada rambut hitam lelaki itu. Ia menyeka rambut panjang Sasuke yang menutupi sebelah matanya, sebelum kemudian mendekatkan wajahnya guna mendapat penglihatan yang jelas dari mata kiri itu. Iris yang dilihat Naruto berwarna oniks. Oniks yang tajam.
Napas Naruto menerpa wajah Sasuke, warna biru langit memenuhi penglihatannya. Indra penciumnya menangkap aroma mint dan jeruk segar yang berasal dari tubuh dan rambut perempuan itu. Helaian pirang yang halus sedikit menerpa wajahnya. Suara itulah yang mengembalikan fokusnya yang jelas-jelas terganggu.
"Kemarin kau mengaktifkan Rinneganmu. Aku melihatnya, di mana itu? Tunjukan padaku," ujar Naruto, masih belum menjauh.
Aroma segar dari diri sang Uzumaki benar-benar… memabuk—
Mengganggunya.
Ya, menganggunya.
Sasuke mengalihkan pandangannya dari iris safir yang tengah menatapnya penasaran. Ia mengalihkan pandangannya… ke objek yang salah.
Bibir penuh berwarna merah muda yang tampak kering, berada hanya beberapa inchi darinya.
Jika ia mencondongkan dirinya sedikit lagi.. mungkin ia bisa…
Dammit, Sasuke!
Telapak tangannya mendorong sisi wajah perempuan itu, memaksanya menjauh. Diambilnya apel yang berada di atas meja. Rasa manis yang bercampur asam memenuhi indera pengecapnya, sedikit memuaskan keinginan sial yang sempat menerpanya beberapa detik lalu.
"Kau tahu apa yang dinamakan personal space, Naruto?" ujarnya membalas protes sang Jinchūriki mengenai sikap kasarnya. "Jangan-terlalu-dekat-denganku," lanjutnya sambil menekankan tiap kata.
Naruto menghempaskan diri di kursi samping sang Uchiha. Wajahnya tampak jengkel.
"Siapa yang peduli!" serunya kesal. Ia merampas apel yang sudah dimakan setengah oleh Sasuke sebelum menggigit buah itu untuk dimakan oleh dirinya sendiri. Tatapan tajam temannya ini membuatnya berujar, "Apa? Kau memakan satu-satunya apel hijau yang secara khusus sudah kubeli dengan susah payah. Aku menginginkan ini sejak tadi. "
Sasuke menatapnya aneh, tapi Naruto terlalu sibuk menikmati buah yang selama lima tahun terakhir menjadi makanan favoritnya selain ramen. Mengesankan bukan? Tapi, cerita itu untuk nanti saja.
"Mata kiriku memang masih bisa memperlihatkan Rinnegan. Tapi, hanya sebatas itu. Kemampuan khususnya, aku tidak bisa menggunakannya," ungkap Sasuke sambil mengamati Naruto. "Menurutmu, kenapa kita masih di sini?"
Naruto mengerjap. Ia melempar sisa apel itu ke tempat sampah di seberang meja.
"Huh, karena gulungan itu 'kan?"
Memutar bola matanya, Sasuke berdecak. "Tidak salah. Tapi, tidak benar juga. Aku akan langsung melapor pada Kakashi dan meminta bantuan Divisi Intel untuk memastikan apakah mereka sempat menyalin data dari gulungan itu atau tidak. Jika iya, maka kita tidak perlu melanjutkan pencarian dan langsung saja menyusun rencana pertahanan sebagai antisipasi jika mereka menyerang." Matanya menangkap raut pemahaman dari Naruto. "Mereka akan segera menargetkanmu. Mereka akan datang ke Konoha. Itulah kenapa lebih baik kita kembali dan melaporkan ini semua."
"Rinneganmu tidak berfungsi. Kau tak bisa mengembalikan kita ke sana karena kau tak mampu membuka portal antar dimensi. Atas alasan itulah kita menetap di sini," simpul Naruto. "Begitu?"
Sasuke mengangguk dengan muram. "Mungkin ini semua jebakan dan disengaja."
"Apa maksudmu?"
Kedatangan seseorang menginterupsi mereka berdua. Perempuan berambut merah muda menampakan diri. Wajahnya tampak kusut, begitu pula dengan baju terusan yang ia pakai. Ekspresi wajahnya masam. Ia menghempaskan diri pada kursi yang berada di seberang kedua temannya dan menatap miso sup serta tempura yang tersaji rapi di atas meja dengan mata berbinar-binar.
"Naru-chan, aku selalu bisa mengandalkanmu!" serunya gembira. Tanpa buang-buang waktu, ninja medis itu segera mengambil piring kosong yang sudah disediakan—mengisinya dengan nasi yang kelihatan lebih banyak dari porsi normal seorang Haruno Sakura. "Itadakimasu," lanjutnya setelah mengisi piringnya dengan lauk pauk lain.
Sementara Naruto mengoceh protes akan panggilan Naru-chan yang ia dapatkan dari Sakura, Sasuke memilih untuk menanyakan hal yang lebih penting.
"Apa yang terjadi?" tanyanya langsung. "Kau tampak berantakan."
Menelan makanannya. Sakura berujar, "Tsunade-sama memintaku mengautopsi mayat beberapa bawahan Orochimaru yang mereka bawa setelah kegagalan misi penyegelan Sanbi. Dia menginginkan data penelitian untuk mempelajari ramuan anti-racun yang dikembangkan Orochimaru setelah menemukan fakta bahwa Sasuke-kun dan ketiga temannya kebal dari semua jenis racun." Matanya tidak repot-repot melihat ekspresi lawan bicaranya ketika ia melanjutkan, "Beliau ingin mengaplikasikan penemuan itu nanti pada semua ninja Konoha. Hanya saja, mengautopsi lima orang itu sangat merepotkan. Struktur tubuhnya hampir tidak menyerupai manusia. Mereka sudah… meledak."
Menjauhkan makanannya, Sakura mengerutkan dahi tidak senang. "Jangan ingatkan aku, Sasuke-kun. Aku jadi tidak enak makan."
Mengabaikan keluhan Sakura, Sasuke kembali bertanya, "Bukankah autopsi sudah biasa untukmu?"
"Memang. Tapi, entahlah. Aku merasa lebih lelah dari biasanya."
Naruto dan Sasuke saling lempar pandang. Keduanya mengerti keadaan ini. Kesimpulannya sangat jelas. Portal itu mempengaruhi kemampuan mereka. Pengaruh negatif yang buruk. Fakta ini terdengar sangat menganggu. Keduanya pun memilih untuk diam memulai makan malam mereka. Naruto baru menjelaskan keadaan yang menimpa mereka bertiga di sela makan, menyebabkan kerutan dalam di dahi sang ninja medis. Sementara itu, Sasuke menjelaskan tentang pencariannya di tempat kemunculan portal yang tidak menghasilkan apa pun. Para Otsutsuki tidak diketahui keberadaannya. Mereka tidak terlacak untuk saat ini.
Mengalihkan topik pembicaraan pada persidangan esok hari, Sakura sudah memperkirakan reaksi diam dari Sasuke. Ia menyerah untuk mempertahankan percakapan dan memilih untuk kembali menikmati tempura goreng yang tersisa. Ocehan Naruto baru kembali ketika ia selesai menghabiskan misonya dan mengeluh tentang Sakura yang melarangnya memasak ramen. Mereka berdua beradu mulut seperti biasanya, meninggalkan Sasuke dengan makanannya seorang diri. Nuansa familiar ini terlampau nyaman. Sasuke sudah terbiasa dengan semua ini. Keberadaan mereka selalu membuatnya merasakan kehangatan keluarga. Memikirkan bahaya yang tengah menghadang sukses membuat perutnya melilit.
Sasuke menghela napas pelan. Nama Itachi yang disebut oleh Naruto di sela perbincangannya dengan Sakura berhasil menarik perhatiannya.
"Kau akan pindah bersama Chibi Sakura setelah persidangan Itachi? Kenapa?" tanya Naruto.
Menopang pipinya dengan sebelah tangan, Sakura berujar, "Aku ingin serumah dengan kedua orangtuaku selagi mereka hidup."
Dua tahun yang lalu, kedua orang tua Sakura meninggal dunia. Keduanya meninggal akibat sakit-sakitan—fakta yang sedikit kejam mengingat anak mereka adalah seorang ninja medis yang merangkap sebagai suksesor Tsunade di Divisi Kesehatan Konoha.
Meskipun bebal terhadap banyak hal, Naruto tahu akan topik senstitif semacam ini. Ia tidak bertanya lebih lanjut dan mendaratkan perhatiannya pada Sasuke.
"Itachi dan kembaranmu akan menetap di sini?" tanyanya. "Sepertinya aku harus pindah juga bersama kembaranku. Bukankah itu ide yang bagus?"
"Tidak," balas Sasuke langsung. Sebelum Naruto sempat memprotes, ia menambahkan. "Apartemenmu sempit dan hanya memiliki satu kamar berisi single bed yang hanya muat untuk seseorang saja."
"Tidak sesempit itu!" ungkapnya masih berusaha protes. "Aku tidak masalah berbagi tempat tidur dengan siapa pun, apa lagi dia adalah aku. Dengan tubuhku yang sekarang, kami jelas-jelas bisa berbagi tempat tidur."
Di depan Naruto, Sakura menahan tawa, terlalu terhibur dengan pertengkaran yang secara gamblang dimengerti olehnya. Ia tahu betul alasan Sasuke menolak ide itu.
"Kau terdengar sangat bersemangat untuk tidur bersama kembaranmu sendiri, Naruto."
Perkataannya mendapatkan tatapan kedua insan di depannya. Yang satu menatapnya tajam. Sedangkan yang satu lagi menatapnya bingung.
"Huh, apakah itu ide buruk? Aku bahkan tidak masalah untuk menikahinya dan mempunyai anak bersama—"
"Dia juga perempuan, Idiot," potong Sasuke tidak sabar. Ia segera menghabiskan makannya. "Kau akan tetap di sini," tegasnya sekali lagi.
Naruto mengerang kesal. Ia bersikeras untuk tetap rutin mengunjungi kembarannya dan menghabiskan waktu sedikit mungkin di rumah ini dengan alasan bahwa para Uchiha harus memiliki waktu untuk mempererat rasa kekeluargaan dan ia tidak akan menganggu mereka. Sakura akhirnya memutuskan untuk membantu Sasuke keluar dari neraka kecil ini dengan mengalihkan topik pembicaraan mengenai rencana pertemuan para Kage. Kemarin, Shizune sudah mengirim beberapa tim untuk menyampaikan pesan tersebut pada lima negara—berharap bahwa penyampaian pesan secara langsung tanpa perantara burung mampu mendapat penghargaan dari keempat pemimpin desa.
Berita yang baru ini tentu saja disambut baik olehnya. Mata biru langitnya berbinar senang. Ia menangkupkan kedua tangannya sambil berseru, "Aku bisa bertemu Gaara! Astaga, aku sangat merindukannya! Terakhir kali aku melihatnya adalah dua tahun lalu ketika kita menghadiri acara pernikahan Shikamaru. Yosh! Kesialan kita di sini tampaknya tidak buruk-buruk amat."
Sakura tahu bahwa langkahnya mengganti topik pembicaraan tidak membuat nuansa makan malam menjadi lebih baik.
Well, bukan salahnya 'kan kalau dia melupakan topik tabu bagi Sasuke?
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Sakura melihat Sasuke beranjak dan pergi dengan ekspresi kaku. Sosok berambut pirang yang masih merasa bahagia itu tidak menyadari perubahan suasana yang ada. Ia menganggap reaksi Sasuke sebagai angin lalu—mengomentarinya sebagai arogan dengan kemampuan sosial buruk yang takkan mendapatkan pasangan hidup karena tidak ada perempuan yang tahan dengannya kecuali Naruto sendiri.
Sakura menghembuskan napas panjang ketika mendengarnya. Meskipun tangannya sibuk menumpuk peralatan makan mereka dan mencucinya di wastafel, pikirannya berkelana. Ia bertanya-tanya, apakah Sasuke lega dengan keadaan mereka saat ini sehingga akhirnya mampu menarik diri dari kehidupan normal? Atau ia juga sama khawatirnya dengan ancaman yang menghadang mereka?
Tidak ada jawaban yang ia dapatkan sekarang. Satu-satunya hal yang bisa Sakura lakukan adalah berharap supaya semua masalah di dimensi ini selesai dengan baik sehingga dua sahabatnya itu juga mampu menyelesaikan masalah mereka. Dammit! Sakura harus segera memastikan keduanya rukun sebelum ia meninggalkan mereka. Neji takkan menunggunya sampai ia menjadi seorang wanita tua. Tapi, di sisi lain, ia juga tidak bisa melepas statusnya begitu saja dengan keadaan dua sahabatnya yang jelas-jelas masih membutuhkannya sebagai penengah di sela pertengkaran kecil mereka. Pertengkaran kecil yang bisa meledak menjadi perang dingin jika diabaikan begitu saja dengan keduanya yang saling menjauh karena kesalahpahaman.
Kenapa aku selalu berakhir bersama mereka berdua? keluhnya sedih.
Menerima tawaran Naruto untuk memanaskan air untuknya, Sakura berterimakasih dan melesat ke kamar. Ia memutuskan untuk ikut campur kalau Sasuke tidak juga bergerak setelah semua ini berakhir. Sorot tersiksanya tidak tertahankan. Selain itu, kenapa Naruto bisa begitu bebal? Sakura harus menyuruhnya membaca novel romansa jika mereka sempat mendapatkan waktu luang.
Rencana itu terdengar bagus. Ia mengangguk puas pada refleksinya di cermin. Matanya menangkap kotak obat khas rumah sakit yang berada di atas nakas. Hanya pekerja rumah sakit yang bisa memperoleh kotak itu. Siapa yang membawanya? Pikirnya bingung.
Berbalik mendekati nakas, Sakura membuka kotak itu dan menemukan bekas jarum suntik yang tampak baru saja dipakai. Dahinya mengerut, ia mendekatkan jarum itu ke hidung, dan semakin mengerutkan dahinya.
Bukankah bau inilah yang menganggunya selama satu jam terakhir? Kenapa bajunya bisa mengeluarkan aroma yang serupa dengan obat entah apa di jarum ini? Siapa yang menggunakannya? Sakura bahkan tidak mampir ke rumah sakit. Ia menghabiskan waktu penuh di ruang autopsi Divisi Investigasi sejak siang tadi—setelah ia membeli banyak kebutuhan pokok dengan Naruto.
Pertanyaan di kepalanya masih belum terjawab ketika Sasuke menemuinya untuk membicarakan penyakit yang diderita Itachi. Sasuke memintanya untuk memeriksa saudaranya itu secara personal tanpa campur tangan desa. Pengetahuan baru ini berhasil mengalihkannya dari kotak obat itu. Ia sempat menanyakan apakah mereka harus merahasiakan ini dari Naruto, tapi Sasuke membolehkannya untuk bercerita. Di akhir pembicaraan, Sakura menerima permintaan temannya itu dan berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk membantunya.
Sebelum melangkah pergi, ia teringat satu hal yang hendak ia utarakan pada sang Uchiha.
"Dia belum menerimanya, putuskanlah selagi masih ada waktu," ungkapnya pendek. Ia mengambil napas dalam. "Bukankah kalian sudah sama-sama dewasa? Seharusnya kau sudah siap dengan resikonya."
Sakura tidak mendapatkan respon. Ekspresi Sasuke pun sulit ditebak.
Menyerah, ia berbalik dan melayangkan tangannya ke udara.
"Lamaran politik yang ia dapatkan sangat banyak. Semua surat resmi itu menumpuk di apartemenku. Belum juga dengan lamaran personal yang saat ini kuketahui sama banyaknya. Mungkin, kau tak perlu khawatir dengan yang ajakan personal. Tapi, Naruto akan melakukan apa pun untuk desa. Kau mengerti 'kan?"
"Kau yang menyukaiku dulu tidak semengesalkan ini, Sakura," gerutu sang Uchiha.
Menghentikan langkahnya, Sakura tertawa. Tawa ringan yang terdengar amat lepas. Ketika menoleh, ia masih tersenyum sambil menunjukan cincin perak yang sudah melingkar di jari manisnya.
"Sayang sekali, Sasuke-kun. Aku bukan dia yang bisa tahan dengan seluruh tabiatmu," ungkapnya riang. "Lagi pula, aku lebih senang meledekmu seperti ini. Kau jelas-jelas punya sisi menyenangkan."
Teriakan Naruto dari dapur membuat Sakura segera meninggalkan Sasuke yang masih menatapnya kesal. Ia menanyakan keberadaan kotak obat itu dan segera menyuruh Naruto melupakan pertanyaannya ketika ia mendapatkan jawaban tidak dari Naruto. Pengakuan tersebut sedikit mengganggunya, tapi Sakura memfokuskan diri pada data hasil autopsi yang belum juga mendapatkan hasil. Ia berencana untuk merangkum datanya malam ini sebelum Tsunade-sama menanyakannya. Pemikiran itu menenangkannya. Sakura melanjutkan mandi dengan damai dan mengernyitkan alis ketika mendapati shampo berperisa jeruk.
Meskipun sedikit kekanakan, ia mengakui bahwa sebagai perempuan, Naruto memiliki selera yang bagus. Ia tidak tahu kalau Naruto memilih jenis tersebut hanya karena kecintaannya pada warna jingga. Kesan bagus yang ia tinggalkan pada dua temannya itu semata-mata hanyalah kebetulan belaka.[]
TBC
