AN: Hi, semuanya! Maaf ya, Update DK lama...
Cyaaz sibuk dengan masalah di kampus dan... Freedom (My Kompi) sempet mogok kerja...
T_T
Kok malah curhat sih?
Haha.
Aeni Hibiki: - Thank you review-nya... :) - Mengenai pertanyaan itu, akan terjawab di Chap ini kok... ^^v - Selamat menikmati! :D
Bunny: - Thanks ya udah Review... ^^ - Lemot gara2 Athrun teriak2 di tower waktu itu ya? :v - Duh, Kamu mah selalu suka Athrun di mana pun... -_-' - Cyaaz jarang main game, apalagi RPG. Jd Cyaaz g tau kemiripannya. :v - Cyaaz nggak sehebat itu, kamu jauh lebih hebat! :D (Here we go again... -_-') - Thank you atas koreksiannya ya... ^^ Cyaaz udah chek di kamus dan perbaiki typo-nya... :3 - Nih lanjutannya, selamat membaca... ^^v
HY: - Thank you... Cyaaz harap DK: LiA bisa menghibur HY-san dan readers lainnya... ^^ - Cyaaz juga nulis DK: LiA karena bosan dengan fic Romance... :3 - Selamat membaca Chap 7 ini! :D
Kitty: - Ah, gpp, thank udah mampir & review... :) - Ke mana, ke mana, di mana... #ndangdut ria. :v Ntar ada jawabannya di Chap ini. :D - Haha. Yah, salahkan ide gila yang terlintas di otak Cyaaz... :v - Ah, kamu ama Bunny mah 11:12. Athrun's Loyal Fans... -_-' - Selamat menikmati Chap barunya... ^^
RenCaggie: - Bener udah jelas? :o - Kekuatan Lacus... Silahkan pahami sendiri di beberapa Chap ke depan... :v - Hummm... AC or KC ya...? Cyaaz juga bingung... -_-' Enaknya yang mana? :v - Maaf, Cyaaz update DK: LiA lama... Soalnya fic ini berkali-kali lipat lebih menguras otak daripada TiI... T_T - Thanks review-nya, enjoy this Chap! :D
Mizuka: - Hahaha. Cagalli emang keterlaluan ya...? :v - Thanks udah review... Selamat membaca dan menikmati Chap 7! :D
Panda: - Ah, gpp telat... Yg penting udah review, thanks ya, Panda... :D - Iya, dasar Cagalli... Itu kan bukan bajunya... Ksian Lacus, harus beli baju baru... :v - Yalah, Kira emang selalu keren... :D Cyaaz akan berusaha supaya Kira bisa tambah keren di sini...Semoga bisa... :D - Maaf, Update-nya telat... Cyaaz sibuk dan fic ini nguras imajinasi... T_T - Enjoy this Chap, Panda! :D
Warning!
AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…
Disclaimer: GS/D Bukan milik Cyaaz…
Selamat Membaca…
Dragon Knight : Lost in Aprilius
Chapter 07
Cagalli's PoV
Sudah beberapa hari berlalu sejak aku, Kira, Lacus dan si laki-laki menyebalkan meninggalkan gubuk untuk memulai perjalanan kami. Ke mana kami akan pergi? Kami akan pergi menuju sebuah tempat yang disebut dengan "ZAFT Castle" yang merupakan markas ZAFT.
Selama beberapa hari ini aku mengalami banyak hal menarik bersama dengan Kira dan kedua teman baru kami. Sebuah pengalaman penuh petualangan yang akan sulit dipercaya oleh orang biasa.
Bayangkan saja! Hampir setiap hari aku menemukan berbagai macam hewan baru. Mulai dari hewan yang bentuknya tidak jauh berbeda dengan hewan di ORB, sampai hewan yang bentuknya aneh, menjijikkan dan bahkan mengerikan, tapi ada juga beberapa hewan yang bentuknya imut dan menggemaskan.
Misalnya saja kemarin siang, kami tidak sengaja berpapasan dengan sekumpulan… Trunac. Ya, trunac. Begitulah Lacus menyebut hewan itu. Bentuknya mirip dengan penguin, tapi mereka berbulu tebal, berbeda dari penguin yang ada di kutub. Bulu di bagian perut trunac berwarna cream, sedangkan sayap mereka berwarna merah. Ya, mereka bersayap, bukan bersirip. Trunac juga bisa terbang, terbang tinggi dan bebas di udara.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Trunac-trunac itu memang lucu, tapi tetap saja terlihat aneh di mataku.
"Cagalli?" suara Kira menghentikanku yang sedang mengingat-ingat kejadian kemarin. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya sambil membalikkan ikan yang sedang ia panggang di api unggun.
Sekarang kami sedang beristirahat di pinggir sebuah danau. Kira dan si laki-laki menyebalkan sudah menangkap beberapa ekor ikan di danau itu untuk makan siang kami. Semoga saja ikan-ikan itu bisa dimakan, mengingat bentuknya yang… Tidak biasa bagiku.
"Hahaha. Bukan apa-apa," jawabku sambil menatap Kira. "Aku teringat pada sekumpulan trunac kemarin."
Kira mengangkat alisnya. "Memangnya kenapa dengan mereka?"
"Mereka lucu sekali," aku tertawa kecil. "Bagaimana kalau aku membawa pulang satu saja ke ORB untuk dipelihara?" tanyaku riang. "Kurasa Stellar akan menyukainya."
Kira langsung tertawa keras, setelah aku menyelesaikan kalimatku. "Kau ini! Ada-ada saja!" komentarnya. "Seluruh ORB pasti akan gempar, begitu melihat mahluk itu."
Sekarang giliranku yang tertawa. "Ya, kau benar."
"Kalian ini…" suara laki-laki yang tidak ingin kusebutkan namanya menyela pembicaraanku dengan Kira. "Aku sama sekali tidak mengerti dengan kalian," ia terlihat sedang bersiap untuk menikmati makan siangnya. "Memang apa menariknya trunac-trunac itu?"
Aku menoleh ke laki-laki menyebalkan itu, lalu berkata, "Huh, memangnya aku peduli dengan pendapatmu?" aku menjulurkan lidahku.
Laki-laki berambut biru tua yang aku provokasi itu, sontak mengerutkan dahinya dan menatapku tajam. "Kau!" ia sedikit menurunkan ikan bakar yang ditancapkan ke batang ranting di tangan kanannya. "Kau ingin mencari masalah denganku hah?" tanyanya menantangku.
Aku mendengus kesal. Baru aku ingin merespon tantangan si laki-laki menyebalkan itu, Lacus tiba-tiba saja menyodorkan sebatang ranting dengan seekor ikan bakar di ujungnya padaku. "Sudahlah, lebih baik kita makan sekarang," ujarnya sambil tersenyum padaku.
Aku sempat mengerucutkan bibirku, tapi akhirnya aku menerima ikan bakar pemberian Lacus. Aku bisa mencium aroma sedap dari ikan yang sekarang ada di tanganku. Sepertinya ikan-ikan ini bisa dimakan.
Saat aku ingin menggigit ikan bakarku, aku menyadari sesuatu. Laki-laki menyebalkan yang sekarang duduk di samping Kira masih menatapku dengan death-glare-nya. Tatapan itu tentu saja membuatku terganggu dan membalasnya dengan death-glare yang tidak kalah mematikan.
"Hey, hey…" suara Kira sukses menyita perhatianku. "Kalian berdua ini, berhentilah bersikap seperti singa dan hyena begitu!"
Sekarang aku mengalihkan death-glare-ku ke Kira, kurasa si laki-laki menyebalkan itu juga melakukan hal yang sama. Sesaat kemudian, aku melihat Kira meringis gugup, lalu ia segera menyibukkan dirinya dengan menyantap ikan bakarnya.
Akhirnya aku juga memutuskan untuk menyantap makananku. Hmm, ternyata ikan ini terasa cukup enak di lidahku. Rasa ikan bakar yang gurih dan nikmat. Aku jadi teringat pada ikan bakar yang pernah Stellar masak untukku.
Aku menghela nafas panjang, lalu menatap kosong ke ikan bakar yang baru aku gigit tadi. Pikiranku melayang jauh, memikirkan bagaimana keadaan Stellar sekarang. Walaupun Kira sudah meyakinkanku kalau Stellar pasti akan baik-baik saja, tapi aku tetap saja khawatir. Lagipula, aku juga mulai merindukan adik kesayanganku itu.
Aku mengangkat wajahku, menatap lurus ke arah danau. Danau ini cukup indah, airnya jernih dan udara di sekitarnya juga sejuk. Aku bisa melihat beberapa ekor burung, serangga dan bahkan reptil sedang berkeliaran di sekitar danau ini. Tentu saja kebanyakan hewan-hewan tadi bentuknya berbeda dengan hewan-hewan yang biasa aku temui.
Di sela-sela waktu perjalanan kami, Lacus menyempatkan dirinya untuk menjelaskan mengenai berbagai macam hewan dan tumbuhan yang ada di PLANT, terutama yang ada di hutan Aprilius. Dari penjelasan Lacus itulah aku tahu kalau hutan ini dihuni oleh banyak hewan buas yang menyerupai monster. Aku jadi teringat pada monster lipan yang aku lihat saat pertama kali datang ke sini. Kalau tidak salah namanya adalah stroge.
Aku sedikit menurunkan alis mataku. Tiba-tiba saja aku teringat pada percakapan di antara aku, Kira, Lacus dan si laki-laki menyebalkan saat kami masih berada di gubuk, beberapa jam setelah aku mendapat penjelasan tentang SEED.
- FlashBack…
"Ngomong-ngomong…" aku memulai percakapan di antara kami berempat. "Bagaimana denganmu, Lacus?"
Lacus yang sedang sibuk merapikan tungku, langsung menoleh padaku. "Eh, apa?"
"Apa tipe Kristal SEED-mu dan apa elemen SEED-mu?" tanyaku. Aku memang penasaran dengan SEED Lacus setelah si laki-laki menyebalkan bilang kalau Lacus sudah menyembuhkan lukanya.
Lacus tersenyum padaku, lalu menjawab, "Kristal SEED milikku bertipe Sky," ia beranjak dari tempatnya dan menghampiriku di tempat tidur. "SEED-ku adalah Star-SEED."
Aku mengangkat alisku. "Star-SEED?"
Lacus mengangguk. "Ya, SEED dengan elemen bintang."
"SEED elemen bintang sangat jarang ditemukan," sahut si laki-laki menyebalkan. Sekarang ia sedang duduk di depan perapian bersama Kira. "Star-SEED milik Lacus adalah tipe SEED yang paling langka."
Aku menganggukkan kepalaku, lalu kembali menatap Lacus. "Lalu, apa kemampuan dari elemen bin-, maksudku Star-SEED? Apa ada hubungannya dengan penyembuhan atau semacamnya?" aku mengalihkan pandanganku ke arah si laki-laki menyebalkan. "Tadi dia bilang kalau kau menyembuhkan luka-lukanya."
Lagi-lagi Lacus mengangguk "Ya, salah satunya."
Aku berkedip. "Salah satunya?"
"Selain kemampuan untuk menyembuhkan, Star-SEED juga memiliki kemampuan untuk memciptakan medan pelindung," ujar Lacus.
"Saat kau dan Athrun pergi untuk mencari kristal SEED-mu tadi," sahut Kira. Spontan aku menoleh padanya. "Aku dan Lacus pergi untuk menyusul kalian, lalu kami diserang oleh seekor beruang besar. Saat aku hampir terkena serangan monster itu, Lacus melindungiku dengan perisai buatannya."
Aku menganggukkan kepalaku lagi. "Begitu ya."
"Selain itu…" aku mendengar Lacus bergumam. "Lihatlah!" ia menunjukkan gelang perak yang ia pakai di pergelangan tangan kanannya padaku.
Mata oranyeku melebar saat aku menyadari bentuk dari sebuah kristal berwarna pink yang menghiasi gelang itu. "I-ini?" aku mengangkat wajahku untuk menatap Lacus. "Kau juga?"
Lacus mengangguk. "Ya, aku juga seorang Kesatria Naga."
Mulutku langsung terbuka lebar. Tidak kusangka, ternyata Lacus juga seorang Kesatria Naga. "Tapi tadi kau bilang… Kesatria Naga yang muncul beberapa tahun yang lalu itu adalah orang jahat?"
Lacus tertawa kecil. "Maaf, aku lupa mengatakan jika ada Kesatria Naga selain dia."
Mulutku masih terbuka. "Ah, ternyata begitu ya…" aku menggaruk-garuk bagian belakang leherku. "Apa ini artinya, masih ada Kesatria Naga lain selain kita?"
Lacus mengedikkan bahunya. "Entahlah, itu mungkin saja," jawabnya. "Tapi jika memang masih ada Kesatria Naga lain selain kita… Aku harap mereka adalah orang-orang yang baik."
Aku mengangguk-anggukkan lagi kepalaku untuk merespon Lacus.
"Cagalli," aku menatap ke arah Lacus. "Aku akan menyembuhkan luka-lukamu sekarang," ia bangkit dari posisinya, yang sejak tadi duduk di sampingku. "Sekaligus akan kuperlihatkan kekuatan Kristal Naga milikku."
Aku mengangguk, lalu memfokuskan kedua mata oranyeku ke sosok Lacus. Sekarang ia mengangkat kedua tangannya, lalu mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Eternal!"
Mataku melebar, aku melihat badan Lacus sudah diselimuti oleh cahaya berwarna pink. Sesaat kemudian cahaya itu menghilang dan sosok Lacus kembali terlihat, tapi kali ini Lacus sudah memakai baju yang berbeda dengan yang tadi. Ia juga memegang sebuah tongkat putih di tangan kanannya.
"W-wow…" aku benar-benar tercengang melihat sosok Lacus sekarang.
Lacus tersenyum padaku, lalu ia berkata, "Tahap ini disebut dengan 'SEED Mode,'" ujar Lacus. "Hanya para Kesatria Naga yang bisa mencapai tahap ini," aku hanya terdiam menatap Lacus. "Sekarang aku akan menyembuhkan luka-lukamu."
Aku menganggukkan kepalaku, lalu aku melihat Lacus mengangkat tongkatnya ke depan dada. Ia memejamkan kedua matanya, lalu aku bisa melihat cahaya berwarna pink di sekitar Lacus. Sesaat kemudian, Lacus mengayunkan tongkatnya ke depan. Tiba-tiba saja, badanku mengeluarkan cahaya putih.
"A-apa ini?" aku mengedarkan pandanganku untuk mengamati badanku sendiri dengan seksama, sampai aku merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi padaku.
Bagian-bagian badanku yang masih terluka dan terbalut perban terasa agak perih. Aku menyempatkan diriku untuk mengintip luka gores yang ada di tanganku, kemudian membuka perban yang masih membalutnya. Saat balutan perban di tanganku sudah terbuka sepenuhnya, aku melihat luka gores di tanganku perlahan-lahan makin mengecil. Sampai beberapa saat kemudian, luka itu hilang tanpa bekas.
Mataku melebar seketika, lalu aku mengangkat wajahku untuk menatap Lacus. "Keren…"
Aku melihat Lacus memiringkan kepalanya. "Keren? Apa itu?"
Sekarang aku sweat-drop, mendengar pertanyaan Lacus barusan. Jangan bilang kalau kosa kata "keren" tidak dipakai atau bahkan tidak ada di dunia ini.
"Ugh, maksudku… Hebat! Ya, kau hebat, Lacus! Haha," jawabku. Tidak ada gunanya aku menjelaskan arti kata "keren" padanya, itu tidak penting.
Lacus tersenyum lebar padaku. "Terima kasih, Cagalli."
Aku membalas senyuman Lacus. "Aku yang harus berterima kasih karena kau sudah menyembuhkanku," aku membuka balutan perban di kepalaku perlahan.
"Huh, baguslah," suara si laki-laki menyebalkan itu terdengar lagi. "Sepertinya sekarang kau sudah tahu cara untuk berterima kasih."
Twitch…
Aku merasakan darahku sudah benar-benar naik ke wajahku sekarang ini. "Heh! Aku 'kan juga sudah berterima kasih padamu!"
Laki-laki menyebalkan berambut biru tua itu mendengus. "Tapi kau juga sudah memukulku, tepat di wajahku!"
Aku tersentak kaget. Benar juga, saat itu aku memang memukulnya. "Itu salahmu sendiri, bicara hal yang memalukan semacam itu," gerutuku. Aku yakin sekarang wajahku pasti sudah memerah.
Aku melihat mulut si laki-laki menyebalkan itu sudah terbuka setengahnya, tapi ia terpotong oleh Kira yang berkata, "Hey, sudahlah! Ayo kembali ke topik semula!"
Aku dan si laki-laki menyebalkan itu, langsung mendengus dan membuang muka secara bersamaan.
"Cagalli?" aku mendengar Lacus memanggilku. Membuatku menoleh padanya. "Aku akan menjelaskan beberapa hal lain mengenai Kesatria Naga kepadamu."
Aku mengangguk untuk merespon Lacus. Walaupun aku masih tidak yakin, kenapa dari sekian banyak orang yang ada di dunia ini maupun di dunia kami, aku yang terpilih jadi salah satu dari Kesatria Naga. Aku hanya seorang murid SMA biasa, apa yang spesial dariku?
Akan tetapi, kurasa aku memang tidak punya pilihan lain sekarang. Aku dan Kira sama sekali tidak tahu cara untuk pulang, jadi yang bisa kami lakukan hanya membantu penduduk PLANT sebisa kami. Lagipula, ada sebagian dari diriku yang memang ingin membantu Lacus dan si laki-laki menyebalkan itu untuk membereskan kekacauan di PLANT.
"Semua elemen SEED memiliki keistimewaan dan kemampuannya masing-masing," suara Lacus membawaku kembali ke realita. "Dan seperti yang aku katakan sebelumnya, setiap Kristal SEED hanya mengandung satu jenis elemen SEED."
Aku mengangguk sambil memproses penjelasan Lacus di otakku. "Hanya Kristal Naga yang memiliki keistimewaan lain," lanjut Lacus. "Para Kesatria Naga bisa menguasai kemampuan tertentu dari elemen SEED lain, selain elemen SEED yang terkandung di dalam kristal naga milik mereka."
Aku mengangkat alis mataku. "Maksudmu?"
"Misalnya saja aku," jawab Lacus. "Meskipun SEED-ku adalah Star-SEED, tapi aku juga menguasai beberapa kemampuan yang seharusnya merupakan kemampuan dari Ghost-SEED."
"Ghost-SEED?" tanyaku agak kaget. "Jadi selain elemen-elemen yang kau jelaskan padaku tadi, masih ada elemen yang lain?"
Lacus mengangguk. "Ya. Masih ada beberapa elemen lainnya. Ghost-SEED adalah SEED yang kemampuannya berhubungan dengan roh, hantu dan sejenisnya."
Aku berkedip beberapa kali. "Kemampuan macam apa itu? Melihat hantu dan roh?"
Lacus tertawa kecil. "Ya," jawabnya. "Tapi bukan hanya itu saja. Masih banyak kemampuan-kemampuan lainnya yang dimiliki Ghost-SEED. Misalnya, kemampuan untuk bisa merasakan dan melacak keberadaan aura SEED seseorang."
"Ohh…" hanya itu yang keluar dari mulutku, untuk merespon Lacus. "Oya, lalu aku bagaimana? Apa tipe elemen SEED-ku?" tanyaku penasaran. Aku sudah tahu kalau Kristal SEED-ku adalah Earth-Crystal, tapi aku belum tahu, apa elemen SEED-ku.
"Mengenai itu…" gumam Lacus. "Kau harus mencari tahu sendiri."
Aku mengangkat alisku. "Bagaimana caranya?"
"Konsentrasikan pikiranmu pada kristal SEED milikmu!" sahut si laki-laki menyebalkan. "Konsentrasi penuh dan rasakan energi SEED yang kau miliki!"
Walaupun aku sedikit enggan untuk menuruti kata-kata si laki-laki menyebalkan itu, tapi akhirnya aku menuruti perkataannya. Aku memejamkan kedua mataku, lalu berusaha untuk berkonsentrasi penuh sambil menggenggam Kristal Nagaku.
Blaze…
Aku tersentak kaget dan spontan membuka mataku lebar-lebar, setelah beberapa saat aku memejamkannya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Lacus.
Aku berpikir sejenak, mencoba mengingat gambaran dari apa yang aku lihat saat mataku terpejam tadi. "Aku tidak yakin, tapi kurasa tadi aku melihat… Api?" gumamku.
Lacus tersenyum padaku. "Elemen SEED-mu adalah api. Kami menyebutnya dengan Fire-SEED," aku menganggukkan kepalaku sambil tetap menatap Lacus. "Lalu, ada satu hal lagi. Setiap Kristal Naga memiliki namanya masing-masing."
Lagi-lagi aku mengangkat alisku. "Nama?"
"Ya, nama dari naga yang bersemayam di dalam setiap Kristal Naga," jawab Lacus. "Nama nagaku adalah Eternal," ujarnya sambil menunjukkan Kristal Naga miliknya.
"Bagaimana kau tahu namanya?" tanyaku.
"Eternal sendirilah yang memberitahuku," jawab Lacus. "Kau tidak pernah berbicara dengan naga yang bersemayam di dalam Kristal Naga milikmu?"
Aku menggelengkan kepalaku, lalu tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. "Oh, tunggu! Rasanya ia memang pernah mengajakku bicara."
"Benarkah? Lalu, siapa namanya?" tanya Lacus.
Aku mengerutkan dahiku. "Aku tidak tahu… Saat itu aku tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas," jawabku sambil mengingat-ingat mimpiku. Mimpi di mana aku dikelilingi oleh kobaran api dan melihat sebuah bayangan besar di sana. Mungkin itu adalah naga dari Kristal Nagaku 'kan?
"Ya sudah, lain kali kau harus bisa berbicara dengannya. SEED Mode hanya bisa dicapai jika kau sudah membuat kesepakatan dengan naga yang bersemayam di dalam Kristal Naga milikmu," suara Lacus menghentikan pemikiran panjangku. "Tapi sekarang, lebih baik kau beristirahatlah."
Aku hanya menganggukkan kepalaku, tapi tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. "Oya, bagaimana dengan SEED-mu, Kira?" tanyaku sambil menoleh ke Kira.
Kira tersenyum lembut sambil menatapku dengan mata ungunya, lalu ia mengeluarkan Kristal SEED-nya dari saku kemeja. "SEED-ku adalah Wind-SEED," ujarnya sambil menggenggam erat Kristal SEED-nya.
Aku mengangkat alisku. "Kau sudah tahu?"
Kira mengangguk. "Saat kau pingsan tadi, aku sudah mendapat penjelasan dari Lacus dan Athrun. Aku juga sudah mencoba menggunakan SEED-ku."
"Haah? Kau curang!" seruku, lalu aku memasang wajah cemberut sambil melipat tanganku di dada.
"Hahaha. Kau ini! Kita tidak sedang bermain, tidak ada yang namanya curang," aku mendengar Kira berkata begitu. "Hey, ayolah… Jangan memasang wajah jelek begitu!"
"Hhh…" aku menghela nafas panjang. Aku selalu tidak bisa menolak permintaan Kira yang dilontarkan dengan nada merengek begitu. Suara dan nada lembut Kira selalu bisa melunakkan hatiku. "Ya, baiklah," ujarku sambil tersenyum tipis pada Kira.
Kira kembali tersenyum padaku, lalu matanya beralih ke Lacus. "Oya, jadi… Apa yang akan kita lakukan besok?"
Lacus menoleh ke arah Kira. "Um, mengenai itu…" jawab Lacus.
"Kita akan pergi ke ZAFT Castle," si laki-laki menyebalkan itu, memotong kalimat Lacus. "Kita akan melanjutkan perjalanan kita yang sempat tertunda, Lacus," ia menatap ke arah Lacus.
Aku menoleh ke Lacus dan melihatnya mengangguk. "Ya, kau benar."
"ZAFT Castle?" aku mendengar suara Kira. "Apa itu adalah markas ZAFT?"
Si laki-laki menyebalkan berambut biru tua, yang duduk di samping Kira mengangguk. "Ya. Aku dan Lacus memang sedang dalam perjalanan untuk menyerang kastil mereka."
Aku mengangkat alisku. "Menyerang? Hanya kalian berdua saja?"
Lacus mengangguk. "Sebenarnya, pada awalnya hanya aku yang pergi ke hutan ini," ucapan Lacus, membuatku makin shock. Apa Lacus memang tipe orang yang senekat itu? Sama sekali tidak terlihat dari penampilannya. "Tapi Athrun datang menyusulku," tambahnya.
"Itu sudah jelas!" sahut si laki-laki menyebalkan, membuatku mengalihkan pandanganku ke arahnya. "Aku tidak mungkin membiarkanmu menghadapi mereka sendirian, walaupun aku bukanlah seorang Kesatria Naga."
Aku menatap langsung mata si laki-laki menyebalkan itu. Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang ganjil saat ia mengucapkan kalimat terakhirnya. Sepertinya ada banyak emosi yang tersirat di kedua mata hijau itu. Kesedihan, kemarahan, kebencian dan… Kekecewaan?
"Aku mengerti, Athrun…" suara Lacus menyita perhatianku. "Karena itu, terima kasih dan… Maaf, aku selalu membuatmu cemas."
Suasana hening menyergap kami. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku merasa kalau aura di ruangan ini jadi suram dan membuat depresi.
"Ehem," Kira memecah keheningan. "Baiklah kalau memang begitu, besok kita berangkat ke ZAFT Castle," ia bangkit dari kursinya. "Sekarang lebih baik kita semua istirahat."
Setelah itu, kami berempat beristirahat di dalam gubuk kecil ini. Aku dan Lacus berbagi tempat tidur, sementara Kira dan si laki-laki menyebalkan itu tidur di kursi.
- End of FlashBack…
"Ada apa, Cagalli?" suara Lacus membangunkanku dari lamunanku. "Kau tidak suka ikan?"
Spontan aku menoleh ke arah Lacus dan menggeleng-gelengkan kepalaku. "Bukan begitu, tadi aku hanya melamun sebentar. Haha," aku menatap ikan bakar di tanganku, lalu menggigitnya. "Ikan ini enak."
"Jangan sering melamun di siang bolong begini, Cagalli," Kira mulai menceramahiku. "Itu tidak baik."
Aku menoleh untuk menatap Kira, dan melihat ia sedang asyik menyantap ikan bakar di tangannya. "Iya, iya," setelah itu, aku kembali menyantap ikanku sendiri sambil kembali teringat akan petualanganku di Aprilius.
Di sela-sela perjalanan kami menuju ZAFT Castle, aku dan Kira terus mendapat latihan dari Lacus dan si laki-laki menyebalkan itu. Lacus menjelaskan beberapa hal penting tentang SEED pada kami, sementara si laki-laki menyebalkan menunjukkan pada kami bagaimana praktik dalam menggunakan SEED.
Hasil dari latihan yang aku dapat beberapa hari ini adalah… Aku bisa membuat api, hanya itu. Berbeda dengan Kira yang sekarang sudah bisa menggunakan GUNDAM-nya.
Aku sudah berusaha keras berkonsentrasi pada energi SEED-ku, untuk mendengarkan suara naga yang tersegel dalam Kristal Nagaku, tapi usahaku sia-sia. Aku bahkan tidak pernah lagi melihat sosok naga itu, walaupun hanya dalam mimpi.
'Kalau begini terus, kapan aku bisa mencapai SEED Mode?'
Aku menghela nafas panjang. Padahal Lacus sepertinya sangat berharap banyak padaku, berharap kalau aku adalah orang yang akan menyelamatkan PLANT.
"Aku pergi sebentar," tiba-tiba saja, si laki-laki menyebalkan bangkit dari posisinya.
Aku hanya memandangi sosok si laki-laki menyebalkan itu untuk sesaat, sampai aku mendengar Kira berkata, "Aku juga ikut,"
Aku tersentak, lalu menoleh ke Kira "Kalian mau ke mana?"
Si laki-laki menyebalkan berambut biru tua itu sama sekali tidak meresponku, ia terus berjalan ke dalam hutan. Sementara Kira, ia sempat menoleh padaku dan memberiku sebuah tatapan dan satu kedipan mata.
'Oh…'
Aku menganggukkan kepalaku, lalu mengalihkan wajahku. Setiap kali Kira memberikan isyarat itu padaku, artinya ia ingin pergi ke toilet. Entah kenapa, aku bisa mengetahui arti isyarat itu. Mungkin karena kami sudah terlalu sering menghabiskan waktu bersama.
Beberapa menit kemudian, aku dan Lacus membereskan sisa-sisa makanan kami bersama-sama. Membuang sisa tulang ikan dan ranting-ranting yang kami pakai untuk membakar ikan. Tidak ada salahnya untuk menjaga kebersihan hutan 'kan?
"Cagalli?" Lacus memanggilku.
Aku yang baru selesai membuang sisa tulang ikan, langsung menoleh ke arah Lacus di belakangku. "Ada apa?"
Lacus tersenyum padaku. "Terima kasih."
Mendengar ucapan Lacus, aku mengangkat alisku. "Untuk apa?"
Lacus melembutkan pandangannya. "Karena kau dan Kira sudah bersedia membantu kami."
"Eh, kau ini bicara apa? Aku bahkan belum melakukan apa pu-," kalimatku terpotong, saat tiba-tiba saja aku mendengar suara aneh dari belakang.
Hiss…
"Cagalli, awas!" aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sekarang Lacus sudah memelukku dan mendorongku ke belakang sampai badan kami berdua tersungkur di tanah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Lacus setelah ia bangkit.
Aku hanya menganggukkan kepalaku, lalu melirik untuk melihat apa yang ada di belakang Lacus.
'Baluer?'
Baluer adalah hewan yang berbentuk seperti ular berkepala naga. Ukuran dan warna hewan itu tidak jauh berbeda dengan ular.
"Kenapa baluer itu, tiba-tiba menyerang kita?" tanyaku. Kalau aku tidak salah ingat, Lacus pernah menjelaskan padaku dan Kira tentang hewan itu. Mereka adalah hewan pemakan daging yang cukup berbahaya, tapi mereka tidak akan menyerang manusia kalau tidak diganggu.
"Hati-hati," ujar Lacus, saat ia sudah sepenuhnya berdiri. "Mereka bukan baluer biasa."
Aku yang sedang dalam proses untuk berdiri tegap, tersentak kaget. "Mereka?" tanyaku. Saat mataku mengidentifikasi keadaan di sekelilingku, barulah aku menyadari sesuatu. Bukan hanya seekor baluer yang ada di sini. Aku bisa melihat ada belasan, bahkan mungkin puluhan ekor baluer sudah berada di sekitar kami.
"Se-sejak kapan mereka semua ada di sini?" aku tersentak mundur selangkah.
"Kurasa mereka dikirim ke sini oleh ZAFT," aku mendengar suara Lacus. Saat aku menoleh padanya, aku melihat cahaya pink sudah menyelimuti sosoknya. Dalam sekejap, ia sudah dalam SEED Mode.
Aku tersentak kaget, tapi segera memantapkan hatiku. Aku tidak boleh terus-terusan ditolong oleh Lacus, ataupun si laki-laki menyebalkan berambut biru tua itu. Sesaat kemudian, aku melangkah maju untuk mensejajarkan posisiku dengan Lacus. Lalu aku menatap lurus ke arah sekumpulan baluer yang sekarang juga sudah menatapku.
"Aku juga akan bertarung, Lacus."
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
T – B – C
Aduuh… Jeleknya Chapter ini…
Sejak Cyaaz selesai ngetik, sampai mem-Publish Chap ini, Cyaaz merasa kalau Chap ini jelek… Mana lama di Update lagi...
Jadi Gomenn, Readers, kalau Chap ini nggak memuaskan. (Nangis tersedu-sedu dipojokan kamar).
Gomenasai…
#Puppy's teary eyes.
DK: LiA by DK
15/07/2013
