Piece of Mine

Lee Taeyong - Ten Chittaphon Leechaiyapornkul


7

Taeyong hanya mengetahui beberapa informasi dasar dari seorang Primmy. Lahir pada tanggal 25 September 1996 dengan nama asli Prim Patnasiri. Semenjak beberapa minggu yang lalu ia pindah ke Korea, kini ia masuk ke sekolah yang sama dengan Ten. Saling mengenal dengan laki laki itu sejak sekolah dasar, pertemanan mereka berlanjut hingga sekarang. Sangking dekatnya, mereka sering disebut sebut sebagai pasangan.

Tidak heran kalau mereka dengan luwesnya bergandengan tangan di depan umum seperti saat ini.

Taeyong jadi mempertanyakan dirinya sendiri, untuk apa ia menerima ajakan jalan jalan mereka berdua? Dan untuk apa pula mereka mengajak dia yang beda sekolah ini jika ini berakhir seperti orang ketiga yang setia mengintili mereka?

"Kalian mau mengajakku kemana, sih sebenarnya? Kalau aku tidak dibutuhkan disini, aku pulang saja"

Primmy memutar badannya ke belakang, "Ke bioskop lalu makan. Ten sedang ngidam sushi"

"Ck, omong kosong" Ten mendorong lengan perempuan di sebelahnya itu dengan pelan.

"Memang benar, kan? Kau sendiri yang bilang"

Lalu mereka berdua memberikan jarak yang lebih jauh lagi dengan Lee Taeyong berkat perubahan bahasa yang sekarang mereka gunakan.

Bagaimana bisa ia merasa nyaman diantara mereka saat bahasa Thailand yang ia ingat hanya sawadeekrap?

Ia mendengus, tangannya merogoh sesuatu dari dalam kantong. 'Menggunakan' chewing gum sebagai bukti kebosanannya saat ini.

Jadi sampai mereka bertiga masuk kedalam mall dan sampai di depan bioskop, Taeyong tidak menaruh perhatian selain mengekor.

"Kita mau menonton apa?" Ten menatap kedua temannya bergantian, menunggu jawaban.

"Film romantis?"

Taeyong mengernyit saat mendengar jawaban Primmy. Bagaimana jika saat adegan romantis, dia dan Ten terbawa suasana? Oh hell no, Ten is his.

Eh, loh?

"Taey, kamu suka film apa?"

"Aku sukanya studio ghibli, jadi terserah saja kalian mau menonton film apa"

Berakhir dengan mereka yang tetap mengikuti usul perempuan disana, menonton film bergenre romantis. Taeyong menyayangkan dirinya yang tidak cukup cepat mengambil duduk di tengah untuk memisahkan mereka.

Sejahat itukah pikirannya?

Namun akhirnya tetap berakhir dengan Ten yang duduk di tengah, memberikan jatah yang sama kepada dua temannya ini.

"Ini film lama tetapi kenapa baru diputar disini, ya?" Ujar satu satunya perempuan diantara mereka. Tangannya mulai mengambil beberapa popcorn dari dalam box.

"Entahlah, baru dapat izin?"

"Ck, di negara lain saja sudah lama sekali"

Menatap sahabat kecilnya, Ten mendengus. "Tidak tau, Prim. Aku juga baru disini, oke?"

Mereka baru bisa diam saat film sudah dimulai.

Awalnya semua terasa baik baik saja, seperti mereka semua fokus dengan sebuah film yang terputar di depan mata mereka ini. Awalnya. Taeyong sendiri juga menyesal sudah menoleh kearah kirinya dan mendapati Primmy yang sedang bersandar di bahu Ten layaknya pasangan kekasih.

Menyesal juga kenapa ia bisa sampai benar benar tertarik dengan laki laki di sebelahnya ini.

Chittaphon adalah satu satunya yang sadar, ia menatap Taeyong balik. Ia mengangkat kepalanya sedikit, sebuah bahasa nonverbal.

Taeyong menggeleng, kembali meluruskan duduknya menghadap kearah layar.


(Ten's side)

Taeyong meluruskan duduknya sesaat setelah ia menggeleng. Ten tentu menyadari mood temannya ini yang sepertinya sedang tidak begitu baik.

Sementara tangan laki laki itu masih berada di tangan bangku, ia meraihnya. Mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya.

Taeyong kembali menatap Ten, ia hanya tersenyum.

Ten dapat merasakan tangan yang ia pegang berbalik, menyatukan telapak tangan milik mereka. Mengisi celah celah jarinya dengan jari milik laki laki Lee itu, ia meyakinkan diri bahwa tidak ada yang salah dengan ini semua.

Tidak ada yang salah, atau mungkin selain perasaannya sendiri yang tidak ia mengerti.


Ten dan Taeyong adalah satu satunya yang tersisa di halte itu saat ini. Letak rumah mereka yang tidak satu jalan dengan Primmy membuat perempuan itu harus naik bus berbeda seorang diri.

"Ten, aku mau kesana sebentar. Mau ikut?"

"Lama?"

"Tidak, sih"

"Aku akan menunggu kalau begitu"

Meski berada di jalanan yang gelap namun ramai, Ten masih dapat menangkap sosok Taeyong ditengah kerumunan itu.

Alisnya beradu saat menyadari dua orang yang sedang berdiri di depan Taeyong, membuat laki laki itu berhenti melangkah juga. Sesaat setelahnya, tangannya ditarik, ia melebarkan matanya panik.

Memutuskan ikut melebur dalam kerumunan masyarakat, ia mempercepat langkahnya sampai dia bisa kembali melihat Taeyong dan dua orang yang membawanya.

Yang dapat dia temukan hanyalah mereka yang sedang memasuk bus dengan rute yang sangat berbeda dengan rumahnya.

Sesuatu yang ia sebut panggilan kemanusiaan itu datang lagi, Ten mempercepat frekuensi langkahnya menuju bus. Duduk di salah satu kursi bagian belakang sementara tiga orang itu duduk di bagian depan.

Melewati jalan yang tidak pernah ia lewati sebelumnya, Ten melepaskan blazernya lalu memasukannya kedalam tas. Terbilang nekat, tetapi dorongan untuk memastikan Taeyong baik baik saja terlalu besar.

Lalu mereka turun (termasuk Ten, tentu saja), berhenti di depan sebuah bangunan tidak terpakai. Ada sekitar 4 orang lain yang sudah berdiri disana, mungkin menunggu.

Tidak menghabiskan waktu yang lama, tujuh orang lain muncul disana. Mungkin dia memang tidak pernah menjadi bagian dari mereka, tapi ia tau apa yang akan terjadi setelah ini.

Memundurkan tubuhnya beberapa langkah. Seharusnya ia pergi dari sini dan pulang saja. Seharusnya ia tau ini berbahaya. Dan seharusnya Ten tidak perlu mengkhawatirkan Taeyong seperti sekarang.

Mencari tempat bersembunyi. Ini gila. Dia hanya siswa sekolah lain, namun sudah seperti korban yang harus segera kabur dari tempat kejadian perkara.

Ten menahan nafasnya setiap terdengar suara yang tidak ia harapkan. Seharusnya memang ia tidak disini.

Sampai dua puluh tujuh menit berlalu, suara itu tidak terdengar lagi. Ia memberanikan diri melangkah dari tempat tidak nyaman itu.

Nafasnya lega saat orang orang yang berseragam sama dengan Taeyong meninggalkan tempat itu lebih dulu. Wajah dipenuhi dengan luka dimana mana.

Ketika ia menoleh ke kanan, mata mereka langsung bertemu.

"Kenapa kau disini?"

Suara dingin itu, déjà vu.

"Panggilan kemanusiaan"

"Ten, aku serius"

"Aku mengkhawatirkanmu, oke? Jangan protes"

Laki laki yang lebih tinggi tersenyum.

"Ayo pulang"

Merangkul Tennya, melangkah kedepan.


Berkat kejadian tadi, mereka harus naik bus dua kali. Ya, meski Ten sangat tidak keberatan harus berlama lama dengan laki laki yang sekolahnya baru menang berkelahi ini.

"Kau pasti tidak membantu, hanya sebagai figuran" ujar Ten sebagai awal topik, memulai pembicaraan.

"Cih, aku salah satu alasan mengapa kami bisa menang"

"Mana mungkin. Bahkan lukamu tidak sebanyak temanmu tadi"

"Dia tidak menghindar"

"Iya?"

"Yasudah kalau tidak percaya" Taeyong menjauhkan jaraknya dengan Ten. Melakukan pout.

"Iya iya. Aku percaya padamu"

Taeyong jadi kembali menoleh.

Ten kembali melanjutkan, "Dan akan selalu percaya"

Berakhir dengan tersenyum bersama.

"Well, terima kasih"

"Untuk?"

"Semuanya. Diantaranya karena sudah percaya padaku dan mengkhawatirkanku"

"Tidak masalah"

Ten bisa merasakan bahu sebelah kanannya memberat. Tangan mereka masih bertaut sedangkan kepala Taeyong sudah berada di bahu Ten.

Mati matian menahan gejolak aneh di dalam tubuhnya, tetapi jantungnya tidak bisa memperlambat detaknya. Begitu pula dengan kupu kupu yang enggan berhenti mengepakan sayap di dalam perutnya.

"Taey, kau berhenti dimana"

Tidak ada jawaban

"Taey.."

"…"

"Taeyong"

"…"

"Astaga Lee Taeyong, jangan bilang…"

Tetapi memang kenyataannya Taeyong tidak berkata apapun, sudah terlanjur terjun kedalam mimpinya.

Dan kabar buruknya, Ten tidak tahu rumah anak ini.

Oh, shit.

Jadi mau tidak mau ia membawa Taeyong kerumahnya. Ibunya hanya mengangguk mengerti dan malah menyuruhnya untuk cepat cepat membawa Taeyong kedalam kamar. Agar bisa berbaring dan tidur dengan tenang. Iyakan?

Dan salah satu hal yang ia ingat sebelum masuk ke dalam kamarnya, suara ibunya terdengar lagi.

"Jangan lupa gantikan bajunya"

Yang benar saja?!

Tidak, Ten tidak seberani itu. Ya, setidaknya tidak Taeyong juga.

"Taey.. Taeyong. Ayolah bangun. Aku tidak mau menggantikan bajumu"

Hasilnya tetap nihil, tetapi tidak ada salahnya mencoba lagi, kan?

"Lee Taeyong.." Tangannya mulai bergerak menggerakan tubuh laki laki itu.

Sedikit putus asa, ia mendudukan dirinya di lantai. Mengamati wajah damai laki laki itu.

Ketika dirinya mulai berani, Ten mengelus rambut laki laki itu. Lalu jari telunjuknya mulai menelusuri wajahnya, dengan luka yang sudah ia bersihkan sebelumnya.

Dahinya.

Matanya.

Hidungnya.

Pipinya.

Rahangnya.

Dan bagian 'favorit'nya saat mengobati Taeyong saat itu, bibirnya.

Sedikit iri mengapa bibirnya bisa setipis ini dan mengapa wajah laki laki ini terlihat begitu sempurna? Benar benar karakter komik.

Suasananya memang sangat mendukung, jarak mereka pun tidak jauh. Terlebih lagi Ten terus mengiris jarak diantara mereka.

Mungkin tinggal dua senti lagi saat mata itu perlahan membuka. Ten adalah satu satunya yang bergerak mundur.

"A-aku bisa jelaskan!"

Taeyongnya sendiri masih mengedipkan matanya, lalu mendudukan tubuhnya.

"Seharusnya kau lanjutkan saja"

"Lanjutkan apa, itu tidak sengaja. Siapa yang mau menciummu?"

"Memangnya aku bilang kalau itu untuk rencana ciumanmu tadi?"

Mati lah kau, Chittaphon.

"Ah.. Ya, tidak sih. Oh iya, kau mau langsung pulang saja? Kalau iya akan kuantar ke pintu depan" Suaranya terdengar sangat gugup, persetan. Yang penting pengalihan topiknya bermutu.

"Tidak, aku mau menginap"

Benar benar mati.

"Eh? Kau bahkan belum izin dengan orangtuamu kan?"

"Ten, memangnya aku dan orangtuaku tidak punya ponsel?"

"Oh.. Kalau begitu yasudah. Bajunya disitu"

Ten menunjuk ujung tempat tidurnya. Sebuah kaos bewarna putih dengan celana pendek nike abu abu.

Taeyong baru saja bersiap membuka bajunya saat pekikan Ten menghentikannya.

"Kenapa?"

Ten mengedipkan matanya beberapa kali, gugup. "Kenapa ganti baju disini?"

"Memangnya dimana? Kamar mandi?"

Ten mengangguk.

"Kita kan sama sama laki laki, tidak masalah, kan?"

Bingo.

"Iyasih.. Tapi kan—"

"Malu, ya?"

Ten dihadapannya langsung berubah seperti anak kecil yang ketauan mencuri permen. Lalu ia menyeringai.

"Aku hanya bercanda, astaga"

Tetapi tetap saja Taeyong telanjur melepas semua kancing seragamnya. Ten sendiri langsung meringkuk di kasur, memainkan handphonenya sebagai pengalih nomor satu. Tau tau Taeyong sudah duduk di sebelahnya saja.

"Langsung tidur?"

Ten melirik laki laki di sebelahnya.

"Mungkin?"

"Oke"

Si Rambut Hazel langsung berbaring di salah satu bantal dan menutupi tubuhnya dengan selimut sampai leher.

"Untungnya besok hari libur"

Si pemilik tempat tidur merespon, "Memangnya kenapa kalau hari libur?"

"Aku tidak perlu bangun lebih pagi lagi untuk pulang dulu dan berganti baju"

Tiba tiba Ten membalikan badannya menghadap Taeyong.

"Taey.."

"Hm?"

"Bagaimana kalau aku suka dengan Primmy"

Taeyong langsung memutar badannya menghadap Ten juga.

"Serius?"

"Tidak tahu.. Aku hanya bertanya"

"Ya.. Yasudah. Dia cantik, kok. Dan cukup menyenangkan. Kurasa kalian akan cocok"

Jawaban Taeyong mungkin dapat ia gunakan sebagai pendorong. Namun terbesit hal lain yang seharusnya tidak ia biarkan menghancurkan harapannya.

"Bagaimana kalau dia tidak menyukaiku balik?"

"Berarti dia tidak bodoh"

Tangannya mendarat di lengan Taeyong, cukup keras.

"Aku serius"

"Berarti kau harus mencari yang lain"

"Ah, Jaehyun akan bilang apa kalau dia tau aku suka dengan teman kecilku sendiri?"

Well, Taeyong sudah tau siapa itu Jaehyun. Ten sudah sering bercerita tentang anak itu.

"Bagaimana kalau tidak?"

Ten kembali memfokuskan dirinya kepada Taeyong.

"Tidak apanya?"

"Bagaimana kalau kau tidak suka dengan Primmy?"

"Bisa saja, sih. Memangnya kenapa?"

"Ya, itu karena…"

Ten menaikan alisnya saat Taeyong menggantukan kalimatnya. Jantungnya makin berpacu saat tangan laki laki itu memegang rahangnya. Tidak ada hal lain terbayang di pikiran Ten selain bagaimana Taeyong memajukan wajahnya, menyempitkan jarak wajah mereka.

Mata laki laki itu tertutup saat ia berhasil menyatukan bibir mereka. Sengatan listrik itu langsung terasa hingga ke ubun ubun. Apa yang bisa ia dengar hanyalah detak jantungnya.

Ten tidak membalas tautan itu namun ia lebih tidak mampu untuk menolaknya. Saat bibir Taeyong mulai bergerak pelan lalu menjauh, ada sedikit perasaan menyesal disana.

"Karena aku tidak akan membiarkannya"

Saling menatap mata orang yang di sebrangnya, Ten tidak bisa lebih berdebar lagi saat bibir Taeyong kembali menyentuh miliknya.

Tidak lagi.

Kepalanya sedikit lebih maju sementara tangannya perlahan merenggut leher laki laki di depannya, menghapus jarak sekaligus memperdalam apa yang sedang terjadi diantara mereka.

Dan Ten tau bahwa ia memang tidak pernah memiliki perasaan lebih terhadap teman kecilnya itu.

.

.

.

TBC

.

.

a.n: Malu sendiri udah lama gak nulis yang scene yang paling terakhir itu. Hope u guys like it hehe. And.. that "cinema scene", inspired by Make it Right the series!

Bakal ada karakter baru di chapter depan, oke.

Don't be silent reader! Don't forget to follow, fav & review. Thank you~

p.s: fire truck is so lit! Dan akhirnya switch dirilis juga ashdxjjsdw