137darkpinku Present

KYUMIN FANFICTION

.

Eloquent Silence

.

Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan

Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.

.

Don't Like? Just Don't Read ^^

.

.

enJOY it !

.

.


Bab Tujuh

Selama beberapa hari berikutnya tidak ada kejadian luar biasa. Sungmin terus mengajari Minhyun di pagi hari sementara Kyuhyun sengaja tidak mau mengganggu.

Sungmin senang karena kerut-kerut kelelahan di sekitar mata pria itu sedikit demi sedikit menghilang, dan pria itu tampak lebih rileks daripada ketika datang.

Kyuhyun menggodanya dan melontarkan berbagai sindiran, tapi tidak lagi melakukan pendekatan terang-terangan.

Sungmin merasa lega. Tapi kadang-kadang ia kesal pada kemampuan pria itu mengabaikannya saat ia sedang memperhatikan pria tampan itu.

Suatu pagi menjelang siang Ryeowook meminta izin untuk membawa Minhyun dan kedua anaknya piknik. Sungmin senang dengan tawaran itu dan tahu Minhyun pasti suka jalan-jalan. Tanpa ragu sedikit pun dia mempercayakan pengawasan Minhyun pada Ryeowook.

Berjalan-jalan di hutan bukanlah ide yang jelek, pikir Sungmin sambil mengunyah roti isi yang merupakan makan siangnya. Udara musim gugur menyenangkan, dan pohon-pohon aspen berwarna keemasan. Dia memutuskan untuk menikmati hari ini.

Sungmin lalu ke ruang cuci untuk untuk memberitahu Kyuhyun bahwa dia akan pergi, tapi ia terperangah ketika melihat apa yang tengah dilakukan pria itu.

"Sedang apa kau?" Sungmin terkesiap.

Mendengar suaranya, Kyuhyun berpaling dan meringis. "Hai, mana Minhyun?"

"Pergi piknik dengan Ryeowook," jawab Sungmin sekenanya. Lalu dia menegakkan tubuh dan bertanya lagi dengan nada tajam. "Sedang apa kau?"

Pria itu tengah memegang salah satu bra tipisnya. "Kelihatannya sedang apa?" Kyuhyun bertanya kasar, menekankan tiap kata. "Aku sedang memilah-milah cucian. Rumah ini demokratis. Aku tidak keberatan ikut bekerja." Dia mengangkat tali bra itu dan mengamatinya dengan alis berkerut.

"Tapi…letakkan…itu punyaku—" Dia begitu terpana melihat Kyuhyun memegang pakaian dalamnya sehingga tidak sanggup bicara.

"Yah, aku tahu ini bukan milik Minhyun," ejek Kyuhyun. "Dan aku tahu pasti ini bukan punyaku." Dia membaca label bra itu. "Dusty rose. Kenapa mereka tidak menamainya 'pink' saja sih? Dan ini," dia meraih celana dalam tipis dan mungil "daffodil. Kenapa bukan 'kuning' saja? Begitu kan lebih gampang diucapkan."

"Berhentilah memegang-megang pakaian dalamku, seperti psikopat!" teriaknya. "Akan kucuci sendiri pakaianku."

"Tenang, Sungmin," kata Kyuhyun dengan ketenangan menjengkelkan. "Aku tahu pakaian-pakaian dalam seperti ini tidak boleh dicuci dengan mesin. Aku bahkan tahu semua ini harus dicuci dengan air dingin dan deterjen lembut. Kau lupa aku bintang opera sabun? Tidak percuma aku bertahan di situ sampai tujuh tahun!" Dia mengolok-oloknya, dan Sungmin mengentakkan kaki dengan kesal.

"Kyuhyun—" Sungmin menggeram.

Pria itu melihat label bra lagi. "Tiga puluh empat B. Tidak terlalu besar, bukan?" dia bertanya. Matanya berhenti di payudara Sungmin dan memandangnya dengan kritis. Kalaupun pria itu betul-betul menyentuhnya, efeknya tak mungkin lebih terasa dari ini. "Tapi, kalau dipikir-pikir," dia melanjutkan dengan objektif, "kurasa kau akan kelihatan lucu kalau punya payudara besar. Bisa-bisa kau terjungkal karena keberatan."

Kyuhyun berbicara dengan suara tak peduli, tapi kilat di matanya menunjukkan sebaliknya. "Coba kita lihat," katanya, dan melemparkan pakaian dalam tadi ke mesin cuci.

Sebelum Sungmin dapat menebak maksudnya, Kyuhyun sudah mendekat sambil memejamkan mata. Dengan berpatokan pada perasaan, tangannya secara akurat menemukan payudara Sungmin dan diam di situ. Telapak tangan Kyuhyun perlahan-lahan membuat gerakan berputar. Dia membelainya dengan lembut, menekan jari-jarinya. Ketika merasakankan reaksi yang diharapkannya akibat godaan ibu jarinya, dia membuka sebelah mata dan menatap Sungmin.

"Persis dugaanku," bisiknya. "Tiga puluh empat B yang sempurna." Bibirnya melumat bibir Sungmin. Bibir wanita itu merekah dan siap menerimanya, membalas dengan gairah yang sama. Tangan Kyuhyun meninggalkan payudaranya, dan lengannya melingkari punggung Sungmin dan menariknya dalam pelukan erat.

Otot-otot paha pria itu menegang di balik denim jinsnya dan menekan Sungmin ketika dia melengkungkan tubuh ke arahnya. Punggung Sungmin ditelusuri tangan yang bergerak ke sana kemari sebelum berhenti di lekuk pinggulnya.

Tangan Sungmin memeluk leher Kyuhyun dan menarik kepalanya. Pria itu membiarkan Sungmin sampai gairahnya tak tertahankan lagi. Diciumnya mulut Sungmin dan dilumatnya, membuat Sungmin tergelitik oleh sensasi yang baru kali ini dirasakannya.

"Sungmin, kau tidak bisa membayangkan betapa tersiksanya perasaanku karena ini," dia menggeram setelah menghentikan ciumannya dan menempelkan bibirnya di telinga Sungmin. Untuk memperjelas ucapan nya, Kyuhyun memegang bokong Sungmin dan menekan nya ke tubuhnya.

Api gairah begitu cepat membakar sekujur tubuhnya sampai Sungmin jadi takut sendiri memikir kan bagaimana reaksinya nanti. Kyuhyun, Sungmin tahu, sudah tidak bisa diajak bicara, tapi salah satu dan mereka harus tetap waras. Jika ini diteruskan, kerinduannya pada pria itu mungkin akan tersalurkan, tapi konsekuensinya terlalu berat. Dia tak boleh membiarkannya terjadi.

"Kyuhyun," kata Sungmin terpatah-patah, "kita tidak boleh melakukannya."

Napas pria itu menderu ketika dia berkata parau di telinganya, "Ya, boleh. Kalau kita tidak melakukannya, aku bisa meledak."

"Kyuhyun, tolonglah," kata Sungmin putus asa, dan berusaha mendorongnya. "Tidak, tidak," dia memohon. Dia masih dalam bahaya, karena sewaktu-waktu bisa kembali ke alam impian di mana nafsu membutakan semua pikiran rasional.

Kyuhyun mengangkat kepala dan menatapnya tajam. Tangan yang mencengkeram lengan atas Sungmin bagai gelang baja. "Kenapa? Sialan, kenapa?" Dia mengguncangnya sedikit. "Kau senang melakukan ini terhadapku, ya?" Ditempelkannya pangkal pahanya lagi.

Sungmin menelan ludah dengan malu dan mengalihkan pandangan dari tatapannya yang menusuk. Dia telah merasakan bangkitnya gairah pria itu, dan hal itu membuat gairahnya sendiri timbul kembali. Dia ingin bilang, 'Kalau kau mencintaiku, aku akan langsung bercinta denganmu. Tapi aku tidak mau jadi bayang-bayang istrimu. Aku tidak mau disakiti lagi oleh orang yang membutuhkan aku cuma kalau dia sedang ingin'.

Dia tak sanggup mengatakan semua itu. Bahkan kalaupun sanggup, tak ada bedanya, keadaan mereka akan tetap sama. Dia tetap mencintai istrinya.

"Kyuhyun, kau tahu tidak bijaksana jika kita bermain api seperti ini. Kalau kita menjalin hubungan asmara, aku harus meninggalkan Minhyun. Aku tinggal bersamamu, tapi hanya dalam pengertian kita memiliki alamat yang sama. Jungmo berusaha membujukku supaya tinggal bersamanya sebelum kami menikah. Aku tidak bisa melakukannya saat itu. Sekarang juga tidak. Pandanganku kuno, aku tahu, tapi begitulah aku dibesarkan."

"Yeah?" desis Kyuhyun. "Yah, ngomong-ngomong soal besar, akhir-akhir ini hasratku juga sering membesar."

Sungmin terkesiap mendengar omongan kasarnya. "Menjijikkan," semburnya. "Lepaskan aku!"

Dengan kasar Kyuhyun mendorongnya sambil mundur selangkah. Mereka sama-sama kaget ketika Sungmin terseret dan menubruk dada Kyuhyun. Lengan pria itu memeluknya supaya dia tidak jatuh.

"Apa—" tukas Sungmin sementara Kyuhyun tertawa terbahak-bahak.

"Aku tidak tahu siapa yang salah, tapi kelihatannya kita telah menyatu."

"Apa?" tanya Sungmin bingung.

"Gesper ikat pinggang kita saling mengait," Kyuhyun menjelaskan.

Sungmin memandang sekilas pinggangnya dan melihat pria itu memang benar, entah bagaimana gesper mereka saling mengait waktu mereka berpelukan.

Sungmin memandang pria itu dengan kalut. "Apa yang harus kita lakukan?" tanyanya.

Kyuhyun geli memikirkan situasi mereka. "Kita bisa bersenang-senang." Dia diam waktu melihat mata Sungmin membelalak cemas. "Atau kita bisa berusaha melepaskannya," dia menambahkan dengan tenang. "Yang mana pun, aku tidak bisa melihat apa yang kulakukan. Miringkan tubuhmu ke kiri sedikit supaya aku bisa melihat."

Ketika dadanya bersentuhan dengan dada pria itu, serentak Sungmin menyentakkan kepala ke atas untuk melihat apakah pria itu menyadarinya, dan cengiran senang dan konyol Kyuhyun menunjukkan dugaannya benar. "Betul, kan, ini mengasyikkan?" godanya.

"Tolong cepatlah," Sungmin mengingatkan. "Bagaimana kalau rumah ini terbakar?"

"Kita akan memberi para petugas pemadam kebakaran bahan omongan selama bertahun-tahun."

"Kyuhyun—"

"Oke, oke, pencemas." Dia mengamati gesper-gesper logam mereka. "Masukkan tanganmu ke dalam jinsku," katanya akhirnya.

Sungmin mendongak dengan skeptis. "Oh, memang itu maumu," katanya ketus.

Pria itu tidak bisa menahan cengiran lebarnya. "Aku tidak main-main. Masukkan tanganmu ke balik gesperku, dan begitu ku komando, dorong tanganmu."

Sungmin menghela napas dan memandangnya dengan sebal sambil menyusupkan tangannya dengan ragu-ragu ke balik jins ketat pria itu. Ujung kemejanya tersibak di bawah pinggang, dan tangannya menyentuh kulit hangat yang tertutup bulu sehalus satin.

Secara refleks jari-jarinya bergerak di balik jins ketat untuk menyelidik lebih jauh.

Mata pria itu menggelap sesaat, dan otot di rahangnya berdenyut, tapi dia cepat-cepat memandang gesper-gesper yang saling mengait itu. "Sekarang aku melakukan ini," katanya sambil menyusupkan tangan ke balik pinggang celana Sungmin.

Sungmin terkesiap dan napasnya tersentak, hingga menimbulkan cekungan di perut, membuat tangan pria itu lebih leluasa bergerak.

"Aku cuma melakukan apa yang harus dilakukan," kata Kyuhyun sok polos. Namun jari-jarinya bergerak-gerak di kulit mulus perut Sungmin, dan Sungmin dapat merasakan jantungnya berdentam-dentam.

"Miringkan kepalamu ke kiri lagi," kata pria itu di dekat kepalanya. Napasnya meniup helai-helai rambut di pelipis Sungmin. Sebagai reaksi terhadap jari-jari yang terus bergerak di balik jinsnya itu, payudaranya menegang. Dia tak sanggup menatap mata Kyuhyun.

"Oke... sekarang dorong gesperku," kata Kyuhyun.

Sungmin melakukan perintahnya sementara jari-jari pria itu melakukan hal yang sama di gespernya. Beberapa detik kemudian terdengar suara logam bergesekan, dan gesper-gesper itu pun terpisah.

Sungmin buru-buru menarik tangannya. Tangan Kyuhyun jauh lebih lambat meninggalkan kehangatan di dalam jinsnya, tapi dia cepat-cepat menjauhi pria itu.

Ia bertanya kesal sambil berkacak pinggang, "Apanya yang sulit? Kenapa kita tidak bisa mendorong gesper masing-masing serentak bersamaan?"

Pria itu mengangkat bahu dengan tak acuh dan bersandar di mesin cuci. "Kurasa memang bisa, tapi siku kita akan menghalangi, dan aku mungkin tidak dapat melihat apa yang kulakukan." Matanya mulai berbinar. "Dan rasanya pasti tidak seasyik tadi."

"Kau…kau…" Sungmin tergagap, mengentakkan kaki dan menyingkirkan pria itu untuk mengambil pakaian dalam berendanya. "Mulai sekarang biar kucuci sendiri pakaianku!"

Ketika dia bergegas keluar dari ruang cuci, tawa Kyuhyun mengikutinya.


.

.

.


"Aku saja," seru Sungmin sambil melintasi ruang tamu untuk membuka pintu depan setelah terdengar bunyi bel. Dia meninggalkan Kyuhyun di dapur untuk mencuci piring-piring bekas sarapan sementara dia dan Minhyun masuk ke kelas untuk mulai belajar.

Tiga hari sudah berlalu sejak insiden di ruang cuci, namun ingatan tentang kejadian itu selalu dengan cepat membuat napas terengah-engah dan jantung berdebar-debar.

Sungmin sengaja sedapat mungkin sengaja menghindari Kyuhyun. Dia kesal sekali karena pria itu menganggap kelakuannya ini sangat menggelikan.

Kyuhyun mengawasinya. Dia mengamati setiap gerakannya dan memperhitungkan reaksinya terhadap situasi apa pun. Sebagai balasan, Sungmin sering marah-marah padanya, tapi pria itu cuma nyengir santai, membuatnya makin kesal.

Sungmin membuka pintu depan dan menyapa pria yang berdiri di depan pintu. "Kangin! Masuklah."

"Terima kasih, Sungmin. Semoga aku tidak mengganggu."

"Tidak. Minhyun dan aku baru akan memulai pelajaran, tapi bisa menunggu. Dia pasti ingin bertemu kau. Kau salah satu favoritnya, kau tahu." Sungmin tersenyum pada pria itu.

Minhyun keluar dengan gembira dari kelas setelah Sungmin memberitahunya tentang tamu mereka. Dia berlari mendatangi Kangin, yang membungkuk dan mengangkat gadis kecil itu tinggi-tinggi dengan lengannya yang tegap. Minhyun menjerit senang.

Tawa melengkingnya membuat Kyuhyun keluar dari dapur.

Dengan mata menyipit dia mengamati pria bercelana terusan yang begitu akrab menggendong putrinya.

'Aku membawa hadiah untukmu, Minhyun', Kangin mengisyaratkan setelah meletakkan anak itu di lantai dan bertumpu di satu lutut di sampingnya. Dia merogoh saku besar celana terusannya dan mengeluarkan sebuah kotak terbungkus tisu.

Minhyun menerimanya dengan malu-malu dan memandang Sungmin untuk minta petunjuk dan izin.

"Kau harus bilang apa padanya, Minhyun?" tanya Sungmin.

'Terima kasih', Minhyun mengisyaratkan.

Kangin membalasnya dengan 'Sama-sama'.

"Bukalah," perintah Sungmin ketika Minhyun cuma mempermainkan pita merah yang diikatkan di sekeliling kotak itu. Minhyun mengikik sementara para orang dewasa memperhatikan.

Dibukanya pita dan kertas dari kotak dan diangkatnya tutupnya. Di dalam terdapat tiga patung mini anggota keluarga beruang. Minhyun mendesah kagum waktu dengan hati-hati mengeluarkan patung-patung ukiran kayu itu dari kotak.

"Kupikir kau bisa memanfaatkan mereka dalam suatu cerita. Ada ayah, ibu, dan bayi beruang," kata Kangin halus sambil tersenyum lembut.

"Oh, Kangin, bagus sekali," puji Sungmin, membungkuk untuk mengamati patung-patung tersebut. "Aku pasti bisa menggunakannya, dan ikut berterima kasih bersama Minhyun. Dia akan menyukainya, aku yakin."

"Kurasa kita belum berkenalan," potong Kyuhyun dengan suara bernada tajam.

Dia mendekati Kangin dan mengulurkan tangan. "Cho Kyuhyun, ayah Minhyun."

Apakah cuma khayalan Sungmin, atau betulkah dia menekankan hubungannya dengan putrinya?

"Maafkan aku, Kyuhyun. Aku tadi tidak melihatmu, kalau tahu kau ada pasti aku sudah memperkenalkanmu," kata Sungmin. "Ini Kim Kangin, temanku dan Minhyun. Dia perajin kayu dan memiliki toko di pusat kota. Minhyun dan aku berkenalan dengannya pada minggu pertama kami di sini, dan sejak itu sering mengunjunginya."

"Halo, Tuan Cho." Tangan Kangin menggenggam tangan Drake. "Senang berkenalan dengan Anda. Anak Anda cantik. Aku senang berteman dengannya, juga dengan Sungmin." Alisnya terangkat ketika dia memandang Sungmin dengan hangat.

Baik dia maupun Sungmin tidak melihat denyutan di rahang Kyuhyun dan kilat kemarahan yang bersinar di matanya.

"Sudah berapa lama Anda tinggal di Mokpo?" Kyuhyun bertanya.

Kangin mengalihkan perhatiannya ke Kyuhyun dan dengan sopan memandangnya. "Sejak lulus kuliah. Sekitar delapan tahun yang lalu."

"Anda kuliah berapa tahun? Anda pasti memperoleh beberapa gelar, ya."

Sungmin kaget mendengar kekasaran kata-kata Kyuhyun. Pria itu sengaja menyerang Kangin, dan dia tidak bisa menebak alasannya. Dipandangnya Kyuhyun dengan kesal, tapi pria itu menatap Kangin dan mengabaikannya.

Kangin kelihatannya tidak marah diperlakukan begitu kasar dan menjawab ramah, "Aku cuma memiliki satu gelar, di bidang filosofi."

"Hmm," kata Kyuhyun, sengaja tidak mengatakan maksud sebenarnya. "Pantas."

Sungmin marah sekali padanya, tapi menahan diri ketika bertanya pada Kangin, "Kau mau duduk dulu dan minum kopi?"

"Tidak, aku harus pulang dan membuka toko. Aku sudah terlambat satu jam, tapi aku ingin mengantarkan ini pada Minhyun." Dia memandang si anak, yang duduk dilantai bersama keluarga beruangnya dan mengobrol dengan mereka, tak terpengaruh dengan ketegangan di antara ketiga orang dewasa itu. "Aku juga ingin memberitahumu bahwa aku tidak bisa menepati janji kencan kita Selasa malam ini. Aku harus pergi untuk mengambil beberapa barang. Mungkin aku akan di sana selama beberapa hari."

Dari sudut matanya Sungmin melihat Kyuhyun makin menegakkan tubuh dan menyilangkan tangan di dada dengan gaya kesal.

"Tidak apa-apa, Kangin. Kami akan mengunjungimu setelah kau kembali."

"Bagus." Dia tersenyum lembut, lalu menoleh pada Kyuhyun. "Senang bertemu Anda, Tuan Cho. Silakan kapan-kapan mampir ke tokoku."

"Saya ragu akan punya waktu untuk itu, tapi akan saya ingat tawaran Anda." Dia memandang licik pada Sungmin sebelum menambahkan, "Karena saya sekarang tinggal di sini, saya rasa Sungmin dan Minhyun tidak bisa sering-sering menemui Anda lagi. Saya merencanakan untuk membuat mereka sibuk."

Sungmin sesak napas menahan marah dan malu. Maksud terselubung Kyuhyun begitu jelas, dan Kangin pun mengetahuinya. Pria itu memandang Sungmin dengan ekspresi bertanya.

Kangin berjongkok supaya sama tinggi dengan Minhyun dan mereka mengisyaratkan beberapa kalimat. Sungmin berusaha menarik perhatian Kyuhyun, tapi pria itu sengaja tidak mau memandangnya dengan mengamati kuku ibu jarinya.

"Aku minta maaf telah membuat pelajaranmu tertunda, Sungmin," kata Kangin sambil berdiri, menjulang di atasnya.

"Aku berharap kita bisa segera bertemu lagi."

"Terima kasih sekali lagi karena kau telah mampir dan membawakan hadiah untuk Minhyun. Kembalilah kapan-kapan," kata Sungmin tulus.

Kangin memandang Kyuhyun dengan hati-hati, tapi pria itu cuma mengangguk dan berkata singkat, "Tuan Kim," dan tidak menegaskan undangan Sungmin pada Kangin.

Kangin membalas anggukan Kyuhyun, dan berkata, "Sungmin," kemudian melangkah melewati pintu dan berjalan pelan menuruni tangga teras.

Sungmin menutup pintu pelan-pelan, menahan keinginan untuk membantingnya dengan kemarahan menggelegak yang ingin ditumpahkannya pada Kyuhyun. Dia perlahan-lahan berbalik untuk menghadapi pria itu. Kyuhyun menunggunya sambil berkacak pinggang.

Sungmin marah sekali, dan suaranya bergetar ketika dia berkata, "Kau tadi amat sangat kasar pada pria baik dan penuh pengertian itu, dan aku ingin tahu sebabnya."

"Dan aku ingin tahu kenapa kau membawa putriku ke mana-mana dengan orang itu." Dicengkeramnya lengan atas Sungmin dan ditariknya wanita itu ke arahnya. "Apa maksudnya dengan janji kencan Selasa malam, hah? Kau membawa Minhyun juga?"

Sungmin membebaskan diri dari cengkeramannya dan menjauh. "Ya. Tiap Selasa malam Kangin menutup tokonya satu jam lebih cepat. Kami menemuinya ketika dia menutup toko dan pergi makan malam bersama."

"Aku yakin, karena dia baik dan penuh pengertian" cemooh Kyuhyun, "dia pasti mengantarkanmu pulang. Berapa lama dia di sini? Apa dia terlambat satu jam membuka toko kecilnya keesokan harinya?" Suaranya semanis madu meskipun wajahnya kaku. Kecurigaannya itu begitu konyol sehingga, kalau saja Sungmin tidak semarah ini, dia pasti menertawakannya.

"Itu bukan urusanmu," bentak Sungmin.

"Enak saja. Ini rumahku!"

"Tidak semua orang dikuasai nafsu birahinya seperti kau, Tuan Cho," Sungmin menuduh sengit.

"Akan kutunjukkan nafsu birahiku padamu," geram Kyuhyun. "Sudah lama aku ingin melakukannya." Dia memeluknya lagi, dan kali ini tak ada jalan untuk meloloskan diri. Lengan pria itu menjepit lengannya.

Usaha untuk melepaskan pelukannya akan sia-sia saja, tapi Sungmin tidak mau menciumnya. Dirapatkannya bibirnya, dilawannya keinginannya untuk menyambut ciuman pria itu.

Beberapa saat kemudian Kyuhyun mengangkat kepala.

Sungmin sejak tadi memejamkan mata rapat-rapat, tapi rasa ingin tahunya menang, dan dia membuka mata sedikit. Wajah pria itu tak jauh dari wajahnya. "Kau takut menciumku, kan? Kau tahu apa yang terjadi padamu tiap kali kau menciumku, dan kau melawan keinginanmu, kan?"

Sungmin tercengang mendengar kesombongannya. "Tidak!" serunya.

Kyuhyun tersenyum malas dan melepaskan pegangannya.

"Kalau begitu, buktikan," tantang Kyuhyun. "Cium dan yakinkan aku bahwa sekujur tubuhmu tidak akan jadi bergairah." Matanya menantang ketika menjelajahinya, berhenti di tempat-tempat yang dia tahu akan bereaksi terhadap ciumannya.

Jika dia mencoba memaksanya untuk menciumnya, Sungmin pasti sanggup melawan. Tapi tantangan mencemooh itu justru berhasil memancingnya. Dia tidak bisa mengelak dari tantangan itu. Kemarahannya sudah mencapai titik didih. Jelas Sungmin takkan menang jika berkelahi secara fisik dengannya, tapi dia bisa mengalahkannya dengan cara lain. Dia akan menunjukkan pada pria itu bahwa dia tidak takluk pada pesonanya seperti wanita-wanita lain yang ditemuinya.

Akan ditunjukkannya pada Kyuhyun bahwa dia kebal terhadap keseksiannya.

Matanya menyipit dan tampak seperti bara ketika dia mengangkat tangan dan memegang kepala pria itu. Dia ragu-ragu sesaat, tapi ketika Kyuhyun mengangkat sebelah alis dengan ekspresi bertanya, Sungmin melanjutkan dengan tekad makin bulat. Ini tetap merupakan permainan bagi pria itu.

Dengan lembut bibirnya menyentuh bibir Kyuhyun. Pria itu tidak bereaksi, menyerahkan semua inisiatif padanya.

Dikulumnya sudut bibir Kyuhyun. Dia merasa tubuh pria itu bergetar sedikit, yang membuatnya tambah berani. Pria itu mulai terpengaruh.

Dia menenangkan diri bahwa cuma reaksi refleks dan bukan gelombang kejut gairah yang membuat tangannya makin kuat mencengkeram kepala Kyuhyun dan menariknya makin dekat. Itu hanya reaksi fisik, bukan kebutuhan emosional, yang mendekatkan tubuhnya ke tubuh pria itu sampai payudaranya menekan dadanya yang bidang.

Dia menjelajahi mulut Kyuhyun, merasakan dan menikmati pria itu. Kyuhyun masih belum memeluknya. Pria itu tidak memprotes, tapi juga tidak berpartisipasi.

Perasaan Sungmin kacau-balau. Dia tadi menerima tantangan pria itu tapi sekarang berjuang supaya tidak jadi korban ulahnya sendiri. Sejauh ini dia belum berhasil menggoyahkan Kyuhyun. Darahnya yang menggelora dan bukan kepala pria itu yang berdentum-dentum bagai drum. Perasaan menggelenyar di tubuhnya merupakan bukti yang sangat jelas bahwa dia wanita yang memberikan respons terhadap laki-laki.

Sungmin tidak boleh membiarkan Kyuhyun tahu. Dia harus membuat pria itu bereaksi dan menyembunyikan reaksinya sendiri. Tujuannya takkan pernah tercapai kalau dia tidak memenangkan pertempuran ini.

Bibirnya terus menggoda mulut laki-laki itu, sebelum bergerak ke dagu dan lehernya. Dengan malu-malu tangannya turun dan mengusap leher Kyuhyun. Penuh rasa ingin tahu Sungmin menyusuri dadanya. Melupakan semua rasa sungkan dan menegaskan bahwa tindakannya didorong oleh tekad untuk menang dan bukan keinginan kuat untuk menyentuhnya, dia menyusupkan tangan ke balik kemeja pria itu dan mengusapkan jari-jarinya di dada pria itu.

Napas Kyuhyun makin cepat, dan dia mendengar desis pelan.

Bagus! pikir Sungmin. Tekniknya berhasil. Tidak mempercayai keberaniannya, bibirnya bergerak ke cekungan di leher Kyuhyun yang sudah sangat dikenal jari-jarinya dan menciumnya dengan mesra. Tangannya terus mengusap-usap dada pria itu.

Geraman pelan terdengar dari tenggorokan Kyuhyun sedetik sebelum lengan pria itu membelit Sungmin dan memeluknya dengan kekuatan yang menakjubkan.

Lengan Sungmin memeluk lehernya sementara bibir mereka saling melumat. Tubuh mereka menyatu.

Kyuhyun menciumnya dengan ganas, membuyarkan segala protes. Hilang sudah keinginan untuk membuktikan ketidakpeduliannya. Sungmin tahu pertandingan telah berakhir, dan dia bersedia mengaku kalah kalau Kyuhyun mau terus menciumnya seperti ini. Dengan senang hati dia akan bertekuk lutut akibat serangan penuh kenikmatannya.

Minhyun-lah yang menyadarkan mereka kembali. Tadi dia asyik dengan mainan baru dari Kangin, lalu melihat ayahnya dan Sungmin berciuman. Dia berdiri dan menarik-narik kaki celana Kyuhyun, ingin merebut perhatian dan ikut dalam permainan baru yang mengasyikkan ini.

Kyuhyun menjauh dari Sungmin dan lama menatapnya. Mata pria itu diselubungi gairah, dan Sungmin sadar bahwa tak satu pun dari mereka yang menang. Kyuhyun sama kacau dan terangsangnya dengan Sungmin.

Minhyun tidak mau diabaikan dan memprotes lebih keras karena tidak dipedulikan. Kyuhyun mengalihkan pandangan dari Sungmin dan membungkuk untuk menggendong anaknya.

"Siapa ini? Siapa ini yang terus merecoki Daddy, hah?" tanya Kyuhyun bercanda, dan menggelitik perut Minhyun.

Sebelah tangan anak itu meraih leher ayahnya dan yang sebelah lagi meraih leher Sungmin, lalu menyatukan ketiga kepala mereka dan mencium kedua orang dewasa itu kuat-kuat. Dia tertawa melengking, kemudian menyatukan mereka lagi. Upacara cium-mencium ini diulang beberapa kali sampai mereka semua tertawa.

"Kurasa lupakan saja sekolah untuk hari ini, ya?" tanya Kyuhyun pada Sungmin dari atas rambut ikal Minhyun.

"Mobil sewaan itu terus menguras uangku, padahal cuma ku parkir di luar. Bagaimana kalau kita pergi ke pusat kota dan mengembalikannya ke agen penyewaan mobil? Setelah itu kita makan malam dan pulang. Menurutmu Minhyun sanggup melakukan perjalanan itu?"

"Tentu. Dia memang butuh jalan-jalan. Aku mesti pakai apa?" Sungmin bertanya karena tidak tahu apakah akan memakai jins saja karena nanti cuma makan malam biasa atau berpakaian rapi karena akan makan di restoran yang lebih mahal.

Mata Kyuhyun menyusuri tubuhnya dan naik kembali. "Terserah," geramnya. Matanya mengatakan dia lebih suka Sungmin tidak memakai apa pun.

Meskipun baru beberapa saat yang lalu dia bersikap penuh gairah, Sungmin merah padam dan menarik Minhyun ke dalam pelukannya. "Kami akan siap setengah jam lagi," katanya cepat-cepat, dan bergegas menaiki tangga.


.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Halo ^^

I'm back with GK BAB 7.

Pada kepancing sama omongan saya di BAB kemarin ya… kkk~

Sabar teman-teman, hehe ^^

Update kilat nih update kilat. Kenapa saya buru-buru mau nyelesaiin FF ini. Karena saya mau ngelanjutin Bared To You , eehhh, bocoran XD

Oke. Just it ^^

BIG THANKS TO

Kyu rin 71 , abilhikmah , Baby niz 137 , TiffyTiffanyLee , Frostbee , nurindaKyumin , danactebh , Joyers , 137lee , ssuxzy , Pspnya kyu , orange girls , inyezreceel92 , youlliana , alit , minnieGalz , anum, Sri Kencana , Lee Minry , hyunmiie , sanmayy88 , cho kyumin137 , Deliadelisa , nova137 , ryeota Hasu , joy04 , PaboGirl , faizlovely , rahmaotter , shanakanishi , kyukyu , ikakyuminss , chocoyaa , Prince Changsa , GyeOmindo , Mara997 , lee hye byung , nabeshima , Cho Kyuna , mayasiwonest everlastingfriends , SuniaSunKyu137 , LauraChoilau324 , onew's wife , keykyu , nuralasyid , kyushiii , PumpkinEvil137 , Fitri , jin , parklili , Park Heeni , Lilly Aylia , choikyumin , chopurple3 , Acho137 , kimpichiadjah & Guest.

(Yang di cetak tebal itu Reviewer di BAB 6 dan Reviewer di BAB sebelumnya yang baru masuk maupun yang baru review. Untuk yang namanya belum disebut, mungkin reviewnya belum masuk. Apabila ada kesalahan dalam pengetikan nama, mohon maaf ^^)

Once again! Thank you ^^