Discailmer: Kalau Naruto punya saya, mengapah saya harus membuat fanfic ini, hah? *nyolot*
mungkin ada typo yang gak kepantau mata seliwer saja ini huehuehue
.
.
.
.
"Halo, apakah ini Sasori?"
'Maaf, handphone Sasori sedang mati. Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi BIP.'
"Aish, mail-box ternyata." Tayuya mematikan sambungannya dengan kasar. Sepengetahuan Tayuya, Temari merebut Sasori dari Ino, dan Sasori adalah orang yang tepat untuk menghancurkan hubungan wanita br*ngs*k itu dengan kekasihnya. Wait, kekasihnya? Bukankan dia dan Shikamaru sudah putus? Oh tidak bisa, suatu hubungan dapat dikatakan berakhir atau biasa kita sebut dengan 'putus' apabila terjadi kesepakatan antara kedua pihak, sementara yang terjadi dengan dia dan Shikamaru, hanya Shikamaru yang menginginkan hubungan mereka berakhir, sedangkan Tayuya sama sekali tidak mau mengakhiri hubungan mereka, berarti mereka belum putus kan? Mana mungkin Tayuya melepaskan lelaki yang ia cintai melebihi apapun. Dia bertekad akan menghancurkan hubungan kedua orang itu, walaupun harus membunuh dan melenyapkan gadis Sabaku itu dari dunia.
.
.
.
.
"Cepat sih sekali jalannya!" Shikamaru berlari mengejar Temari yang masih terus berjalan di depannya tanpa mengindahkan panggilannya sama sekali. Shikamaru menambah kecepatan larinya, sedikit lagi, dan..
Hup.. Dapat..
Shikamaru memeluk wanita blonde itu dari belakang, dan wanita itupun langsung menghentikan langkahnya mungkin karena kaget.
.
.
.
"Dasar playboy, enak saja dia mengatakan 'aku mencintaimu' kepadaku tapi ternyata mengatakan hal yang sama ke orang lain." Temari masih berjalan kencang, tidak memperdulikan teriakan Shikamaru yang semakin terdengar jelas di telinganya.
Eh?
Temari merasakan tangan kekar yang melingkari tubuhnya, membuat langkahnya terhenti. Pelukan ini... Hangat.. Temari terdiam beberapa saat sampai sesuatu yang lembut menyentuh pundaknya yang terbuka. Kami-sama, Shikamaru sedang menciumi pundaknya dengan lembut, membuat Temari sedikit bergetar di pelukan pria itu.
"Jangan marah.." ujar pria itu sambil mengeratkan pelukannya. Dia menghentikan ciumannya di pundak Temari. Temari bisa merasakan kepala pria itu bertumpu di bahu kecilnya, "aku mencintaimu. Sudah tidak ada Tayuya dihatiku." Ucapan itu membuat Temari tersenyum lembut. Merasa tersihir oleh pelukan Shikamaru, Temari mencoba mengembalikan kesadarannya.
"Hey. Apa-apaan kau ini? Kita di tempat umum tahu. Lepaskan!" Temari meronta, berusaha melepaskan pelukan erat suaminya itu, tapi tenaga seorang polisi memang lebih kuat dibandingkan tenaga wanita berusia 18 tahun.
"Tidak apa, aku tidak akan melepaskannya, sebelum kau memaafkanku, dan percaya padaku." Shikamaru makin mengeratkan pelukannya. Orang-orang yang melewati mereka menatap mereka dengan tatapan penuh tanya, namun ada yang tersenyum dan bergumam 'pasangan yang manis'.
"Aish, kau ini, kita dilihat orang, baka." Temari sudah tidak meronta, semburat merah muncul dari kedua pipinya, jantungnya berdetak hebat.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan melepaskannya, sebelum kau percaya padaku," Shikamaru kembali menciumi pundaknya membuat tubuh Temari menegang, tidak ada pilihan lain, kecuali mempercayai pria itu. Pria yang sudah mengisi 40% hatinya.
"Iya, aku percaya." Jawaban Temari membuat Shikamaru tersenyum, membalikkan tubuh wanita yang ia cintai, menatap intens mata beiris teal yang mempesona itu, kemudian memeluk wanita yang sudah lama menjadi istrinya dengan erat. Temari yang sedikit kaget menerima pelukan itu dengan kaku, setelah tersadar dari kekakuannya, ia membalas pelukan Shikamaru yang hangat.
Shikamaru melepaskan pelukannya, "Ehm, sekarang kita tukaran ponsel saja, kau pakai punyaku, dan aku pakai punyamu, bagaimana?"
Alis Temari terangkat, "Eh? Untuk apa? Tidak perlu. Aku 'kan sudah percaya," jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah, sekarang kita kemana?"
"Bar saja ya, aku janji tidak akan mabuk." Temari mengatupkan kedua tangannya di depan dada, dengan nada memelas, "kau bisa menghentikanku jika aku mabuk," ujarnya lagi.
"Merepotkan. Iya kita ke bar. Ayo!" Shikamaru mengenggam tangan Temari dengan lembut, Temari tersenyum bahagia. Betapa menyenangkan punya suami yang pengertian.
Shikamaru menatap tempat yang sedang ia dan istrinya kunjungi. Benar-benar berisik. Oh, apa yang akan dikatakan dunia jika seorang polisi yang sering melakukan razia tempat hiburan malam, malah mendatangi tempat itu, dan dipaksa menikmatinya. Shikamaru belum pernah meneguk alkohol. Dia menatap istrinya yang sudah memesan minuman, sementara dia hanya menemani Temari, sambil menutupi telinganya dan menguap beberapa kali.
"Sendirian?" Ucapan gadis yang berpakaian terlampau seksi-menurut Shikamaru- mengagetkan Shikamaru, gadis seksi itu duduk disampingnya. Mendekatkan kursi ke arah sehingga tubuhnya menempel ke tubuh Shikamaru.
"Tidak," jawab Shikamaru risih sambil menjauhkan tubuhnya mendekati Temari yang masih asyik meneguk minumannya, wajah Temari sudah memerah akibat pengaruh alkohol.
"Wah benarkah? Padahal aku ingin sekali menikmati malam ini bersamamu, Tuan tampan," wanita itu kemudian mengelus lembut pipi Shikamaru. Shikamaru yang kaget menjauhkan tangan wanita itu dari wajahnya dengan pelan tentunya, Shikamaru tidak terlalu suka kasar dengan wanita. Ia menyimpulkan tempat ini sangat berbahaya, bagaimana bisa Temari tahan berada di tempat seperti ini hingga berjam-jam.
"Tuan... Ayolah." Wanita itu berniat mengelus pipi Shikamaru lagi, namun tangan wanita itu digenggam kasar oleh Temari. Temari kemudian melepaskan tangan wanita itu, dan berkacak pinggang.
"Jauhkan tanganmu dari suamiku! Sial*n!" bentak Temari ke arah wanita itu kemudian menarik tangan Shikamaru keluar dari tempat itu.
"Mengapa diam saja sih?" Temari berkata kasar sambil tetap menarik tangan Shikamaru, Shikamaru kemudian tersenyum singkat, melihat Shikamaru yang tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya membuat Temari sebal, "mengapa malah senyum? Oh, jangan-jangan kau menikmati belaian wanita malam itu," ujar Temari dengan nada sarkastik.
"Cemburu ya?" ujar Shikamaru dengan nada menggoda, membuat Temari sedikit salah tingkah.
"Siapa bilang, aku cuma tidak suka saja," kilah Temari sambil menutupi rona merah di wajahnya.
"Kenapa susah sih bilang cemburu?" Shikamaru masih terus menggoda Temari. Temari yang agak risih karena di goda melepaskan tangan Shikamaru yang sedari tadi dipegangnya.
"Iya, aku cemburu, puas?" Jawaban Temari membuat tawa Shikamaru pecah, dasar wanita gengsian, "kenapa kau ketawa? Ada yang lucu?" Temari melemparkan pertanyaan penuh selidik miliknya menatap Shikamaru yang masih terus tertawa. Shikamaru tidak menjawab pernyataan wanita itu, malah mengenggam tangan wanitanya, lembut, "Ayo kita pulang. Aku sudah mengantuk," ujarnya sambil menguap.
"Huh, baiklah." Temari membalas genggaman suaminya. Mereka kemudian berjalan bergandengan tangan menuju hotel tempat mereka menginap.
Setelah berjalan selama 10 menit, Temari dan Shikamaru tiba di kamar bernomor 27 yang sudah mereka tempati hampir satu hari. Shikamaru langsung berbaring di ranjang empuk membuat Temari menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah berganti baju dengan baju tidur, Temari berbaring membelakangi Shikamaru yang sepertinya sudah tertidur dengan lelapnya. Temari menarik selimut yang membungkus tubuhnya dan tubuh Shikamaru. Temari kemudian berbaring membelakangi Shikamaru, dia masih belum mengantuk, mungkin karena sudah tidur lama sore tadi. Wanita pirang itu tak henti-hentinya tersenyum saat mengingat pengakuan cinta dari Shikamaru, dan perlakuan lembut pria berambut nyentrik ala nanas itu kepadanya. Lamunan wanita itu terhenti saat tangan yang ia ketahui milik Shikamaru memeluknya, "Temari, sudah tidur?" Suara lembut itu membuat Temari berbalik dan menatap pemiliknya. Seulas senyum muncul dari bibir Temari, "Belum, aku pikir kau yang sudah tidur." Shikamaru mengeratkan pelukannya, sementara Temari mencari posisi yang enak di dalam pelukan suaminya.
"Shikamaru, terimakasih ya." Pernyataan lembut Temari membuat Shikamaru tersenyum dan merapatkan tubuhnya dengan wanita itu. Temari membalas pelukan itu, dan menempelkan kepalanya ke dada bidang Shikamaru.
"Sama-sama," Shikamaru menyukai wangi Temari, wangi green tea yang dipadukan dengan jasmine menguar dari tubuh wanita ini. Temari meletakan tangannya di dada Shikamaru dan menekannya lembut, "Tubuhmu keras seperti batu ya," ujar wanita itu heran. Shikamaru mencium puncak kepala wanita itu, bau shampo yang di pakai Temari juga ikut menguar dari rambutnya.
"Tentu saja, kau pasti terpesona dengan tubuh gagahku." Shikamaru menjawab dengan nada percaya diri, membuat Temari menjulurkan lidahnya,"Hueks. Pede sekali." Temari tertawa, sungguh ia mulai menyukai pelukan Shikamaru yang dulu ia anggap sangat aneh ini.
"Berjanjilah Temari, membuka hatimu untukku." Temari mengeratkan pelukannya, kemudian mengangguk . Sebuah kecupan mendarat di kening mulusnya, "Tidurlah, kau pasti sudah mengantuk." Ucapan Temari disusul dengan dengkuran halus Shikamaru.
Entah mengapa,
Ia menyukai saat bibir pria ini menyentuh lembut bibirnya.
Ia menyukai pelukan yang hangat dari pria ini.
Ia menyukai tangan kekar milik pria ini mengenggam tangannya.
Ia menyukai kecupan yang pria ini berikan di kening dan pipinya.
Ia menyukai senyuman dan gurauan pria ini.
Ia memang sempat tidak percaya ucapan pria itu tentang cinta, namun ia sadar sekarang pria itu tulus mencintainya.
Temari merasakan rasa ini memenuhi dadanya. Ia telah jatuh cinta kepada Nara Shikamaru bukan lagi Akasuna Sasori. Sasori tidak pernah selembut ini kepadanya. Sasori bahkan tidak pernah menghubunginya hingga sekarang. Temari tahu, Sasori sedang mengurusi bisnis, namun tidak bisakah ia menelepon Temari sebentar. Temari masih tersenyum di pelukan seorang Nara Shikamaru, dia sepertinya harus berbangga karena telah menjadi seorang Nara Temari.
Karena perjodohan konyol, mereka terikat oleh benang cinta hingga sekarang.
.
.
.
.
.
Temari bangun pagi-pagi sekali, berniat mencarikan Shikamaru sarapan ketika Shikamaru masih terlelap tidur. Setelah memberi kecupan selamat pagi di kening suaminya, Temari mencoba berkeliling Amegakure seorang diri. Berkali-kali Temari bertanya ke orang-orang di sekitar hotel tempat ia menginap letak dimana tempat makan yang menjual menu sarapan. Setelah menemukan sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai macam kue tradisional dan makanan yang cocok di makan saat sarapan, Temari berkeliling dan membeli banyak makanan, kue-kue dengan bentuk yang unik membuat Temari tergoda untuk membelinya. Sepulang dari pasar, Temari berlari-lari kecil menuju ke hotel, dia takut Shikamaru akan khawatir ketika mengetahui dia tidak ada di kamar. Namun sial bagi Temari, karena dia tidak membawa sepatu flat kecuali high hells, dia harus tersungkur karena hellsnya masuk kedalam lobang. Spontan saja lutut dan sikunya terluka, untung saja kue-kue yang dia beli tidak rusak, dan kotor. Tanpa mengindahkan darah yang mengalir, Temari menyempatkan diri membeli obat merah dan beberapa peralatan untuk lukanya sebelum kembali ke hotel. Setelah menahan nyeri dan darah tak henti-hentinya menetes dari siku dan lututnya, Temari akhirnya tiba di hotel, duduk di sofa di depan televisi, lalu membersihkan lukanya dan mengabaikan sejenak kue-kue lucu yang dibelinya tadi.
.
.
.
Shikamaru yang berniat memberi ucapan selamat pagi ke istrinya kaget melihat Temari tak ada disampingnya. Dia memeriksa di kamar mandi, namun Temari tetap tak ada. Kemana dia? Bahkan ponsel miliknya, tidak ia bawa.
Mata Shikamaru melotot saat melihat Temari duduk di sofa dengan lutut dan tangan terluka, dia langsung berlutut di hadapan istrinya. Temari sedikit kaget melihat Shikamaru yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya, tak lama kemudian senyum merekah dari bibirnya, "Selamat pagi," Temari memajukan bibirnya, mencium kening suaminya (lagi)
"Siapa?" tanya Shikamaru tidak membalas ucapan selamat pagi dari Temari. Shikamaru hanya ingin mengetahui siapa yang membuat istrinya berdarah seperti ini.
"Apa?" Temari mengernyitkan alisnya, bingung dengan pertanyaan Shikamaru.
"Siapa yang membuatmu terluka?" Shikamaru masih menatap wajah istrinya.
"Tidak.. Ini semua karena hak sepatuku, masuk ke dalam lubang," kilah Temari mencoba mencairkan keadaan yang mulai tidak enak ini.
"Benarkah?" Temari mengangguk, Shikamaru kemudian menyentuhkan telunjuknya di pinggiran luka Temari, Temari meringis menahan nyeri.
"Sakit ya? Tolong jangan terluka lagi ya. Kau membuatku hampir terkena serangan jantung!" Omel Shikamaru kemudian mengambil kapas, dan mulai mengobati luka di lutut dan siku Temari. Temari hanya bisa mengigit bibir bawahnya menahan perih. Shikamaru dengan telaten membersihkan dan menutupi luka itu dengan plester khusus luka, "Yak selesai, kau darimana tadi?" tanya Shikamaru kemudian duduk disamping Temari dan merangkul istri cantiknya itu.
Temari tersenyum simpul, kemudian mengambil bungkusan yang berada disampingnya, "Membeli sarapan untukmu," ujar Temari sambil mengeluarkan sarapan yang di belinya.
"Kita bisa beli bersama tahu. Dasar!" Shikamaru mengacak rambut pirang Temari dan mencium lembut pipi wanita itu, "kau wangi," Shikamaru tersenyum sambil mengedip mesum, Temari kemudian bangkit dari tempat duduknya, dan menjitak kepala nanas pria itu.
"Mandi dulu sana. Aku tidak mau mencium orang yang belum mandi," ejek Temari sambil mengambil piring, dan membuat susu untuknya dan untuk Shikamaru.
"Khe, bukannya kau tadi menciumku?" Ucapan Shikamaru membuat wajah Temari memerah, dengan senyuman mengejek Shikamaru kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Pasangan ini kemudian memakan sarapan mereka dengan wajah bahagia, terkadang diiringi canda tawa di antara keduanya. Shikamaru mendekatkan wajahnya dengan wajah Temari, hingga akhirnya bibir mereka bertemu, mereka saling melumat dan menikmati ciuman mereka. Tangan Temari berada di leher Shikamaru seolah memaksa pria itu tidak melepaskan ciumannya. Shikamaru bergerak liar berniat mencium leher terbuka seorang Temari, namun gerakannya terganggu oleh dering ponsel Temari yang berbunyi sangat nyaring. Temari kemudian meninggalkan Shikamaru yang memasang wajah kesal karena kegiatannya terganggu.
Mata Temari melotot saat membaca nama si penelepon.
Sasori calling.
Temari mengangkat telepon dengan bimbang, namun ia mencoba mengatur suaranya agar tidak kelihatan panik, "Ya Sasori. Ada apa?" Temari mengatur nafasnya yang sudah tercekat, "iya aku di Amegakure dengan Shikamaru," katanya lagi.
"Apa? Halo.. Halo.." Sambungan telepon yang diputus sepihak oleh Sasori membuat Temari semakin bingung. Temari merasakaan lengan yang memeluknya dari belakang, mencium lembut pipinya.
"Ada apa?" Suara bariton milik Shikamaru mengagetkan Temari, dengan cepat Temari menggelengkan kepalanya, dan tersenyum ke arah Shikamaru.
.
.
.
Sasori tak henti-hentinya bersyukur karena pekerjaannya telah selesai. Ditambah, neneknya sudah sehat. Dia langsung kembali ke Konoha, tak sabar untuk mengecek ponselnya yang pasti sudah berisi pesan-pesan dari Temari. Dia sudah merindukan wanita berambut pirang itu, ingin memeluknya dan menciumnya. Oh, membayangkan wajah wanita itu saja sudah membuat Sasori senyum-senyum sendiri. Sesampainya di apartemen mewah miliknya, Sasori langsung mengisi baterai ponselnya yang sudah kosong, sejak berminggu-minggu lalu. Sasori tersenyum senang membayangkan omelan-omelan yang akan Temari keluarkan untuk dirinya.
Setelah ponselnya menyala sepenuhnya, senyum Sasori mendadak lenyap.
Tidak ada satupun pesan dari Temari di ponselnya.
Sasori bingung, harus menunjukan ekspresi apa. Harus marah kah? Sedihkah?
Tak lama kemudian, sebuah telepon masuk dari nomor yang tidak ia kenal mengagetkan lamunannya. Dia langsung mengangkat teleponnya dengan bersemangat, siapatahu ini nomor Temari, "Halo," ujarnya. Kemudian, suara seorang wanita terdengar diseberang sana, "iya. Aku Sasori," ujarnya lagi sambil mengernyitkan alisnya. Penelpon itu ternyata dari Tayuya, seseorang yang pernah ia lihat saat di kantor polisi dulu. Mata Sasori melotot saat Tayuya mengatakan Temari sedang berbulan madu bersama Shikamaru, dia langsung menyetujui ajakan Tayuya untuk bekerja sama menghancurkan hubungan kedua orang itu. Dengan emosi yang membuncah, Sasori menelpon Temari, dia tidak bisa membayangkan apabila kekasihnya disentuh oleh pria nanas itu, sampai kiamat Sasori tidak akan pernah rela. Sasori langsung memutuskan untuk langsung pergi ke Amegakure saat Temari mengatakan dia memang berada di Amegakure.
.
.
.
.
Tayuya tak henti-hentinya tersenyum senang, saat Sasori mau berkerja sama untuk menghancurkan hubungan kedua orang itu. Kemarin, saat Tayuya mendatangi rumah Shikamaru dan gadis Rei itu, penjaga rumah mengatakan mereka berdua sedang berbulan madu ke Amegakure, hal itulah yang membuat Tayuya meradang, dan langsung mencoba menelepon Sasori (lagi, karena berkali-kali nomor ponsel Sasori tidak aktif) dan syukurlah, Sasori sudah mengaktifkan nomornya.
Dia kemudian tersenyum licik, biar saja Sasori yang merebut Temari dari Shikamaru, dia hanya tinggal menunggu saja.
.
.
.
.
Temari masih terbayang suara bernada marah milik Sasori yang mengatakan ia akan segera datang ke Amegakure. Temari mengeratkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Ya, dia dan Shikamaru memang melakukan 'itu' di pagi hari. Temari tersenyum mengingat sentuhan lembut yang diberikan suaminya itu untuknya, dia patut bersyukur karena melakukan 'itu' tidak dalam keadaan mabuk seperti dulu. Shikamaru melakukannya dengan lembut, sama sekali tidak menyakiti lutut dan sikunya yang tadi terluka. Mereka saling berbagi kehangatan pagi ini.
"Kau kenapa? Mengapa mendadak diam?" Shikamaru memeluk tubuh istrinya yang polos tanpa sehelai benang pun itu. Temari menggeleng-gelengkan kepalanya, memainkan jemari Shikamaru yang berada di pinggangnya, "Aku tidak apa," jawabnya lemah. Temari merasakan hembusan nafas Shikamaru di pundaknya. Temari harus tegas sekarang, dia harus memilih di antara kedua pria itu. Dia tidak ingin terombang-ambing dengan perasaannya seperti ini. Temari membalikan badannya, menatap Shikamaru yang tertidur, sepertinya ia lelah karena permainan mereka, mencium kening pria itu lama, kemudian bergumam lemah, "aku memilihmu, Shika."
.
.
.
.
.
"Hey.." Shikamaru mengusap lembut wajah Temari yang tengah mengerjap-ngerjapkan matanya. Temari tersenyum lembut dan membalas sapaan Shikamaru.
"Kau darimana? Mengapa sudah rapi?" tanya Temari heran, mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Aku menunggumu. Cepat sana mandi. Kita makan. Aku sudah lapar," Shikamaru menarik hidung Temari membuat Temari menepuk tangannya kasar, kemudian memasang wajah kesal, dan beranjak menuju kamar mandi. Shikamaru merasa bahagia sekarang. Cintanya berbalas. Sambil tersenyum, dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah. Dia memang membeli sebuah cincin untuk Temari. Dia mau bukan cincin peninggalan kakek mereka yang melingkar di jari manis Temari, namun cincin pemberiannya. Kemudian memasukan kotak itu ke dalam saku celananya, dia sudah menyiapkan kejutan saat Temari tertidur tadi.
.
.
.
Dengan malas, Sasori melangkah keluar dari bandara Amegakure. Dia berniat menemui Temari dan meminta penjelasan dari wanita pirang itu. Dia masih kekasih Sasori, dan seharusnya Temari menghargai itu. Dia memesan sebuah taksi, dan segera menuju hotel yang juga telah ia pesan. Sasori mengeluarkan ponselnya, menekan beberapa tombol, dan menempelkan ponsel mungil itu di telinganya, "Halo Tayuya, aku sudah di Amegakure."
.
.
.
"Tempatnya jauh sekali," keluh Temari sambil menatap bosan wajah Shikamaru yang terlihat bersemangat berbeda dari wajah mengantuk yang selalu ditunjukkannya, "kita ini mau makan malam saja kan? Mengapa harus naik bukit seperti ini?" omel wanita pirang itu lagi, dan sialnya, Shikamaru sama sekali tidak menggubrisnya, "hey! Kalau aku bicara tolong didengar Tuan Polisi, kita sudah melewati berpuluh-puluh kafe, mengapa harus sampai menaiki bukit seperti ini?" sambung Temari lagi.
"Diamlah," jawab Shikamaru malas, membuat Temari kesal, dan mengerucutkan bibirnya, dia sudah mengomel sedaritadi hanya dijawab satu kata singkat, menyebalkan sekali. Temari melihat penampilannya tidak terlalu sempurna karena luka di lutut dan sikunya.
"Yak, sudah sampai," Shikamaru tersenyum dan menarik Temari untuk memasuki cafe bernama Sierra. Restoran yang terletak di Bukit Amegakure Timur ini memiliki pemandangan yang indah, khususnya bila dinikmati pada malam hari dimana suasana café ini berwarna kekuningan dari pancaran sinar lampu yang menghiasi sekeliling sudut bangunan. Dari tempat ini tampak panorama kota Amegakure yang dihiasi dengan kerlap kerlip lampu kota yang begitu indahnya. Memiliki Interior desain yang tertata dengan baik, Sierra Café and Lounge menampilkan suasana yang elegant dan nyaman. Untuk tempat makannya terdapat dua sitting area yang dapat dipilih yaitu indoor dan outdoor. Kita dapat memilih tempat makan yang nyaman didalam ruang dengan alunan live music yang disajikan atau dapat memilih di luar ruangan dengan pemandangan kota Amegakure yang menawan dengan udara yang sejuk.
Shikamaru kemudian menarik Temari masuk ke dalam ruangan, dan memilih tempat duduk di dekat sebuah piano.
"Kenapa tidak diluar saja?" Ujar Temari setengah berbisik, Shikamaru hanya tersenyum. Temari sedikit heran melihat tingkah Shikamaru malam ini, dia sering tersenyum dan membuat Temari sedikit kikuk.
"Sebentar ya, aku mau ke toilet." Jawaban Shikamaru membuat Temari kembali memonyongkan bibirnya karena Shikamaru mengacuhkan pertanyaannya lagi, "kau mau pesan apa?" tanya Temari sebelum Shikamaru melangkahkan kakinya menuju toilet.
"Samakan denganmu saja." Pria itu kemudian berjalan menjauhi Temari. Temari hanya mendengus, namun dia menyukai tempat ini. Shikamaru memang selalu membuat kejutan. Setelah memesan pesanannya, Temari menatap bosan sekeliling kafe karena Shikamaru tak kunjung kembali.
Tak lama kemudian, cafe yang sebelum senyap diisi oleh denting piano yang indah.
I may not be beside you every day
I may run out of tender words to say
Can't promise you the world
When all I have is love
Only love
Nyanyian seorang pria membuat Temari tersentak dari lamunannya, dia merasa familiar dengan suara ini. Temari mengarahkan pandangannya ke arah piano. Temari memandang tidak percaya saat suaminya tengah memainkan piano sambil menatap wajahnya.
I may not be the one your thinking of
I may not fit your perfect dreams of love
One thing I know for sure
And you can rest assure
My love is always yours
Wajah Temari memerah. Pengunjung kafe terlihat menikmati nyanyian seorang Nara Shikamaru.
Oh baby won't you look into my eyes and see Beyond the things I'm not, there's love inside of me .
Just love me for all things I am,
love me
The lighter side, the darkest side
Try to love me for everything I am...
Selesai menyanyikan lagu itu, Shikamaru menuju ke tempat duduk Temari, mengeluarkan kotak merah berisi cincin dari saku celananya. Terdengar tepuk tangan dari pengunjung kafe. Mereka seakan mendukung apa yang Shikamaru lakukan. Shikamaru memakaikan cincin di jari manis istrinya itu, disusul tepuk tangan dan ucapan selamat dari pengunjung. Sementara, Temari masih tidak percaya dengan apa yang Shikamaru lakukan, "Aku hanya ingin mengikatmu dengan cincin pemberianku bukan cincin perjodohan kakek. Kau milikku sekarang dan selamanya," ucapan Shikamaru di sambut senyum yang merekah dari Temari, Temari kemudian memeluk pria yang sekarang ia cintai ini dengan erat. Para pengunjung sibuk bersiul ria dan turut larut dalam moment kedua pasangan ini. Mereka kemudian menikmati makan malam dengan suasana romantis.
.
.
.
Sasori masih terus mencoba menghubungi Temari, namun tak kunjung ada jawaban. Kemana wanita pirang itu? Sialan, dia benar-benar tidak suka kekasihnya disentuh oleh orang lain. Dia telah dipenuhi oleh rasa cemburu yang membara.
.
.
"Huh, kau membuatku malu." Temari masih menatap cincin putih yang melingkar di jari manisnya. Sekarang mereka dalam perjalanan pulang menuju hotel, besok adalah hari terakhir mereka di Amegakure.
"Mengapa malu?" Shikamaru masih mengenggam tangan wanitanya lembut. Temari hanya bisa menggeleng kemudian tersenyum lembut, mengapa harus memikirkan Sasori disaat seseorang yang lain memberikan cinta yang tulus untuknya.
Sesampainya di hotel, Temari langsung menonton televisi dan larut di dalam sinetron dengan beratus-ratus episode itu.
"Kasihan sekali, anaknya tertukar." Komentarnya sambil memakan popcornnya. Shikamaru yang baru berganti baju langsung duduk di samping istrinya, "Cih, ganti chanelnya." Perintah Shikamaru sambil mengambil remot dari tangan Temari. Sementara Temari hanya menatap kesal, selain romantis terkadang pria ini menyebalkan, batinnya. Dengan sebal, Temari berganti baju dan langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dia tidak mengindahkan Shikamaru yang masih menonton film Zombie yang membuat Temari hampir muntah. Temari dengan iseng memainkan handphone Shikamaru, mengecek foto dan pesan singkat, "Kau belum tidur?" Suara lembut itu mengagetkan Temari, Shikamaru membaringkan tubuhnya di samping sang istri yang masih berkutat dengan handphone miliknya, "serius sekali." Komentarnya sambil memeluk istrinya.
"Mengapa banyak sekali foto Tayuya disini?" Ada nada cemburu dari suara Temari.
"Hm. Tayuya yang memasukannya sendiri. Kalau kau tidak suka hapus saja." Jawab Shikamaru enteng, Temari kemudian meletakan ponsel silver itu dan menatap wajah tampan milik suaminya.
"Kau sudah mengantuk?" Shikamaru menguap kemudian mengangguk. Temari memainkan helaian rambut hitam milik Shikamaru sambil mencoba tidur. Hingga dering ponselnya mengagetkannya, untung saja Shikamaru tidak terbangun. Mata Temari melotot saat membaca nama penelepon.
Sasori.
Dengan ragu, Temari mengangkat telepon dari pemuda berwajah mirip Gaara itu.
"Halo Sasori.. Apa? Bertemu di Gondola Amegakure? Iya aku tahu. Baiklah, aku segera kesana."
Temari langsung berganti pakaian, menatap sekilas wajah tenang Shikamaru ketika tidur. Untung saja dia mengetahui tempat itu. Temari memakai jaket tebal karena udara cukup dingin kemudian berjalan sendiri menemui Sasori.
.
Tak dapat dipungkiri lagi jika Temari memang merindukan pria berambut merah itu. Saat menatap wajah pria yang sudah lama tidak temui itu membuat hatinya kembali kacau. Dia terus mendekat tanpa ekspresi ke arah Sasori. Sasori kemudian tersenyum dan memeluk Temari dengan erat, "aku merindukanmu," bisik Sasori lembut di telinganya. Temari tidak menjawab ucapan Sasori, dia tidak mengerti lidahnya mendadak kelu. Hey, bukankah dia merindukan Sasori dan 60% cintanya untuk pria ini?
Hingga sampai pada saat Sasori mencium lembut bibirnya dan Temari sama sekali tidak membalas ciumannya.
Tidak boleh begini Temari. Demi Tuhan tidak boleh. Kau sudah memilih Shikamaru.
Suara hatinya membuat Temari melepas paksa ciuman Sasori. Sasori kaget saat Temari melepas ciumannya, kemudian menatap wanita pirang itu tajam, "ada apa?" ujarnya ketus.
"Tidak." Jawab Temari yang bingung dengan kelakuannya sendiri.
"Kau tidak merindukanku?" Ucap Sasori sambil membelai rambut pirang Temari. Temari menarik nafas sesaat sebelum menjawab pertanyaan Sasori.
"Aku merindukanmu." Jawab wanita pirang itu membuat Sasori memeluknya dengan erat, "apa kau mencintaiku, Sasori?" Pertanyaan konyol dari Temari dijawab anggukan dari Sasori, "apa kau bisa melepasku?" Pertanyaan konyol kedua dari Temari membuat Sasori bagai mendapat petir di hari yang cerah. Temari sudah tidak merasakan jantungnya berdegub kencang bila bersama Sasori.
"Maksudmu apa, hah?" Sasori menatap intens mata hijau Temari, sementara Temari menunduk.
"Aku... Maafkan aku... Aku sudah mencintai Shikamaru," Temari menjawab dengan yakin makin membuat darah Sasori mendidih, ternyata alasan Temari tidak menghubunginya gara-gara pria berambut nanas itu, dan itu. Oh, Tuhan, cincin di jari manis Temari apakah juga pemberian pria itu?
"Kau sudah berjanji menceraikannya, Temari!" Nada suara Sasori semakin meninggi, Temari tetap terdiam, "Jawab aku!" Sasori membentaknya, bahkan Shikamaru tidak pernah bersikap kasar begini kepadanya. Shikamaru selalu bersikap lembut jika berada didekatnya.
"Maaf, aku tidak bisa menceraikannya.." Tangis Temari akhirnya pecah.
"Brengs*ek! Ternyata selama ini kau berselingkuh dibelakangku..." Sasori mendorong Temari dengan kasar, membuat wanita itu jatuh terduduk dengan siku menghantam tanah, tangis wanita itu juga semakin terdengar. Shikamaru adalah suaminya, bukankah sudah seharusnya Temari mencintainya? Cinta memang datang tidak terduga dan hal itu yang terjadi dengan Temari.
"Maaf." Temari terus menangis sambil menunduk, Sasori yang sadar perbuatan kasarnya kemudian memeluk wanita itu, "aku mencintaimu, Temari.." ujar Sasori di pelukan Temari.
"Kau tidak pantas mencintaiku, Sasori. Carilah wanita lain,"
"Maksudmu?"
"Aku sudah tidak suci lagi, Sasori."
Brengs*k, si nanas itu memang sudah menyentuh Temari. Namun, rasa cinta Sasori ke Temari memang terlampau besar.
"Aku tidak peduli, Temari." Jawabnya, ada ketulusan dari perkataannya. Sasori yang tadi kasar berubah menjadi Sasori yang lembut.
"Maafkan aku, Sasori.." Temari melepaskan pelukan Sasori, kemudian meninggalkan pria yang dulu dicintainya itu.
Sasori menatap kepergian Temari dari jauh, "Aku akan merebutmu kembali, Temari." Ujarnya lirih.
.
.
.
.
Temari merasakan luka di sikunya kembali mengeluarkan darah karena dorongan Sasori, malahan dia mendapatkan beberapa memar di kaki dan tangannya. Sasori memang terlihat menyeramkan apabila sedang marah, dan sering melukai Temari, entah mengapa dia dulu bisa jatuh cinta dengan pria itu. Tadi, Temari meminta Sasori melupakannya, apakah Sasori mau melupakannya? dan apakah keputusannya untuk memilih Shikamaru tepat? Temari tidak mengerti mengapa air mata terus mengalir dari wajahnya. Sambil meringis kesakitan dia kembali ke hotel dan mencari obat untuk mengobati lukanya yang berdarah, dan memar di tubuh mulusnya, sekarang tubuhnya tidak benar-benar mulus, huh. Setelah mengobati lukanya, Temari tidur disamping Shikamaru yang sedang memeluk guling dan selimut yang berantakan. Sambil tersenyum, wanita pirang itu membetulkan selimutnya dan tidur sambil memeluk suaminya. Semoga keputusannya untuk melupakan Sasori dan memilih Shikamaru adalah tepat.
.
.
.
Shikamaru masih menatap wajah wanitanya yang sedang tertidur lelap. Dia merasa ada yang salah dari wajah istrinya. Saat dia hendak menuju kamar mandi matanya tertuju dengan memar di tangan istrinya, tidak hanya berjumlah satu namun tiga. Ada apa ini sebenarnya? Shikamaru mengelus memar di tangan istrinya dengan lembut, tepat disaat Temari terbangun. Perkiraan dia tidak salah, mata istrinya sembab seperti orang menangis.
"Kau baik-baik saja? Kau menangis?" tanyanya kemudian mendekati Temari.
Temari tersenyum, "Aku baik-baik saja, sayang," ujarnya sambil mencium pipi suaminya.
"Memar apa ini?" ujar Shikamaru sambil menunjuk memar di tangan Temari.
"Aku terjatuh dari kamar mandi, sudahlah lupakan." Temari mendekatkan bibirnya ke bibir milik suaminya, menciumnya dengan lembut, "selamat pagi," ucapnya ketika selesai memberikan ciumannya.
"Kau membuatku ingin memakanmu," ujar Shikamaru diiringi senyuman mesum, dan kembali menciumi bibir dan setiap bagian dari tubuh istrinya ini. Mereka saling berbagi kenikmatan dan kehangatan satu sama lain.
.
.
.
.
"Aku lapar," Temari memegang perutnya yang sedari tadi keroncongan. Shikamaru bahkan tidak melepaskan pelukannya sejak mereka selesai bercinta.
"Sebentar lagi." Shikamaru masih terus memeluk Temari sambil menciumi puncak kepala Temari. Temari hanya tersenyum, hingga akhirnya suara keras dari perut Temari mengagetkan mereka berdua.
"Tuh kan, aku bilang juga apa." Temari melepaskan pelukan Shikamaru, dan menuju ke kamar mandi, sementara Shikamaru hanya terkekeh.
.
.
"Hah kenyangnya." Temari menatap suaminya yang daritadi berkutat dengan ponselnya sambil memasang wajah kesal, "kenapa?" tanya Temari penasaran.
"Aku mengirim e-mail ke Kakashi meminta cuti tambahan, tapi dia tidak mengabulkannya," ujarnya dengan nada manja seperti anak kecil yang membuat Temari gemas, "penjahat yang sedang kami selidiki terus mengirimkan surat kaleng berisi ancaman," lanjutnya lagi sambil meminum jusnya.
"Yasudah. Segera memesan tiket pesawat kalau begitu." Jawaban Temari disambut anggukan dari Shikamaru.
.
.
.
Mereka tak henti-hentinya mengumbar kemesraan di tempat umum, seperti sekarang berciuman di pesawat, yang membuat penumpang yang lain menatap mereka aneh.
"Heh lepaskan! Kita dilihat aneh tahu!" ujar Temari sambil melepaskan ciuman Shikamaru di bibirnya. Shikamaru memandang kesal kemudian mengenggam tangan wanita itu lembut.
Sesampainya di rumah besar milik mereka, mereka berdua langsung mengucapkan terima kasih dan memberikan uang ke orang yang sudah menjaga rumah ini selama mereka pergi.
Temari langsung membaringkan tubuhnya di ranjang besar miliknya, "hah. Capeknya!" ucapnya. Entah mengapa, Temari bahagia dengan kehidupannya sekarang. Temari memejamkan matanya, mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah.
"Temari." Suara khas milik Shikamaru mengagetkan Temari. Temari menatap Shikamaru sudah menggunakan seragam polisinya.
"Kau mau pergi ya?" tanya Temari, dia sedikit kesal sih, dia sebenarnya masih ingin bermanja-manja dengan Shikamaru.
"Iya. Penjahat itu sudah mulai menjalankan aksinya," Shikamaru mengelus kepala kemudian mengecup kening istrinya.
"Jangan lupa pintunya dikunci," Ucapnya sebelum menutup pintu kamar Temari.
"Ya Tuaaaaan!" jawabnya nyaring, entah didengar atau tidak.
.
.
.
"Shika, akhirnya kau datang!" Naruto berteriak sambil memasang wajah serius.
"Apakah mereka segila itu?" tanya Shikamaru sambil menyiapkan pistol miliknya.
"Iya ternyata pengirim surat itu sebuah geng bernama Akatsuki dan dia sudah membunuh tiga orang wanita," ujar Sasuke sambil menyiapkan beberapa pistol yang hendak dipakainya nanti, "Akatsuki merencanakan pembunuhan masal." ujarnya lagi.
"Kalian harus memberitahu keluarga kalian agar tidak pergi ke tempat hiburan di kota Konoha," Kakashi berdiri dengan wajah serius. Baru kali ini Shikamaru melihat Kakashi berwajah serius seperti ini, "Akatsuki berbahaya, mereka melancarkan aksinya di tempat hiburan yang penuh pengunjung," ujar Kakashi lagi.
.
.
.
.
To Be Continued.
.
.
.
.
*mijet-mijet tangan* akakakakaka Citraa kembali updated fic ini wakakaka. Adegan itunya ada 2 ya. *mimisan* *mesum* *digampar*
lagu yang dinyanyiin Shikamaru itu lagunya pacar citraa Christian Bautista (tolong jangan protes ya) wkwk judulnya For everything I am, entah kenapa cocok aja gitu untuk fic ini hehe.
Didalam pembuatan fic ini citraa ditemani sama lagu, Sum41- with me, MYMP-especially for you, Imagine me without you- Jaci Velasquez, One Direction-Kiss you (makanya banyak adegan kissnya ya akakakakakaka *kelelep*), dengerin aja siapa tau lebih dapet feel nya *promosi*
Citraa udah pengen banget namatin fic ini. Sebenarnya fic yang lain udah citraa bikin tapi baru setengah jalan. Heheehe secepatnya deh citra update. Okeee *tebar ciuman*
Makasih buat yang sudah review dan baca cerita ini hehe..
Bales review dulu yaa~
*Sora-san: wkwkkw ini udah ada sesuatu lho di sini akakaka xD udah lanjutttttt bang :p
*Mantan istri athrun zala-san: namanya lucu mihihihi. Hai salam kenal jugaaa :D gpp hehe terimakasih yaa :D
*yuri-san: ini sudah update kilat belum? Hehe
*Susti-san (Nara love Sabaku-san bener ga ya?): wkwkwk ikutan bejeg-bejeg Tayuya ah xD hihi sudah update nih :D
*Dek Ayu: jawabannya ada di chpater ini hoho :P sudah update kilat belum dek? :p
*sisilia-san: hehehe ini sudah lanjut xD gapapa kok dek.. Hehehe
*Lalarealistitsseksi: Akakakakak :p love you juga :p
*Aden-san: hehehehe di chapter ini perasaan Temari udah seratus persen kok hueheueheue udah lanjut nih :)
*Melanie-san: salam kenal juga melanie-san:) gapapa kok. Iya manis kayak citra ya kakakaka *digebukin masal* :p makasih yaa. Ini udah update hehe :D
*kitty-san: ini udah ada adegan itunya loh kitty-san *mesum* *plak* udah update nih hehehe
*Nara Kazuki-nee: sudah lanjutkan kak :D
*endah-san: sudah lanjut nih, endah-san hehehe..
*Zen haruka-san: akakakaka ketahuan (?) udah lanjut dek :D
*faris shika nara-san: heheh udah lanjut nih hehehe. Makasiiih yaa xD
*Michelle: sudah update loh hehehe hehe makasiiih michelle-san :D
*Naoru-san: heheh gak nyangka ya hehehe :p ia dia bakal citraa bikin hamil hohhooo :D sudah lanjuttttt *hug*
terimakasih sekali lagi buat yang udah baca dan review. Hehe see you di chapter 8 yaa. Mind to review? :)
