To be perfect, To be yours

Chapter 7 : The Awakening

Matahari mulai terbenam dan pemandangan di atas langit Eos sangat memikat para pendatang baru dari Grand Pulse. Vanille yang duduk di tengah antara Gladio dan Fang di bagian belakang Regalia, ia segera menyimpit ke sisi Fang untuk melihat keindahan pegunungan dan batu-batu yang berbentuk unik dunia itu. Mata light-green terbuka lebar dengan rasa kekaguman terhadap pemandangan yang sungguh tak pernah ia lihat sebelumnya.

"Fang," Ia menarik napas panjang, "Lihat ini… Sangat indah…"

Prompto yang berhasil menangkap pergerakan Vanille dari kaca spion Regalia, terdiam melihat mata Vanille yang hijau murni memancarkan pantulan cahaya sunset dan kristal-kristal yang hebat. Jantung Prompto seakan berhenti sejenak melihat Vanille tersenyum manis melihat sekitarnya. Ia pun tersipu malu.

Oerba Yun Fang yang melihat Prompto dan gesturnya yang tegang, tersenyum jahil dan menarik Vanille kembali untuk duduk di tempatnya.

"Ya, Kau benar, Van." Fang tersenyum dan menepuk kepala Vanille, "Pemandangan begini bukanlah pemandangan sehari-hari yang kita lihat di Grand Pulse, kan?"

Ignis yang tertarik mendengar 'Grand Pulse', ia pun memberanikan diri dan bertanya, "Nona Fang dan Vanille, bisakah aku bertanya sesuatu pada kalian?"

Fang dan Vanille mengarah kearah Ignis dan mengangguk, "Tentu saja, dan tolong panggil kami dengan nama saja," Fang tersenyum kaku.

Ignis mengangguk, "Ya, baiklah." Tanpa memalingkan kepalanya dari jalan udara mereka, "Kalian sebenarnya dari mana?"

Gladio yang memikirkan hal yang sama juga memalingkan wajahnya ke arah wanita cantik berkulit coklat. Entah mengapa, ia merasa sangat penasaran terhadap wanita-wanita ini, terutama lagi wanita yang berambut layaknya seorang petarung Galhalad meskipun ia bukan dari sini.

"Kami dari dunia lain yang bernama Grand Pulse." Jawab Fang dengan santai, "Aku seorang Prajurit dan Vanille juga sama."

Bukan hanya Gladio yang terkejut, semua yang berada di mobil itu menatap Fang dengan terkejut, tapi, hanya Gladio yang bersiul. Fang pun memberikannya sebuah kedipan dan senyuman manis, very affective. Gladio pun melihat kesamping, malu untuk menunjukan mukanya yang memerah.

"Heeh~?" Vanille menggerut, "Fang~ Itu dulu!"

Fang mengangkat keningnya dan teringat kembali, "Waduh… Setelah ini terjadi, ku pikir para Dewa kembali memanggil kita untuk berperang lagi…" Ia tertawa pelan, terlihat sedih dan tertekan.

"Fang…" Vanille memberikan muka sedih dan mengelus-ngelus di belakangnya. Si wanita bersurai orange itu kembali mengarah kepada si pengemudi, dan memberikannya senyum paksa, "Maafkan kami, tapi, sebenarnya Fang mengatakan yang sebenarnya kok! Kami…" Ia menarik napas dalam-dalam, "Kami dulu prajurit pilihan Para Dewa untuk memerangi perang mereka."

Para chocobros terdiam dan mencoba untuk memproses informasi yang dikatakan Vanille. Mereka dari dunia lain dan dipilih untuk berperang bukun untuk diri mereka sendiri?

"Jadi, kalian berperang atas nama dewa?" Tanya Prompto dengan kejut.

"Ya~ begitulah!" Vanille menjawab dengan semangat yang kembali, "Tapi, setelah perang selesai, kami bermaksud untuk hidup normal lagi."

"Dengan tidak mengurangi rasa hormat ku kepada kalian," Gladio berkata, "Para dewa kelihatannya sangat tidak adil kepada kalian."

Vanille memberikan muka cemberutnya pada Gladio, "Heehh?"

Fang melambai tangannya dan mengelus rambut Vanille, "Aku juga berpikir demikian. Lihat kita sekarang, Van," Ia membuka telapak tangannya dan menunjuk pesona Eos, "Kita takkan berada di sini jika mereka memang menyukai kita." Ia menghela napas panjang.

Vanille mengepalkan telapak tangannya, "… Ia juga, sih…" ia tertujuk ke bawah dengan muka yang patah lagi.

Prompto dengan panik berkata, "J-Jangan khawatir, Vanille! Mu-mungkin kalian dibawa kemari untuk alasan lain!" Ia memberikan senyum yang nervous

Si wanita cantik bersurai orange dengan mata hujaunya yang gemeralang memberikan Prompto senyum tulus, "Thank you, Prompto."

Si pemuda teman masa kecil pangeran Noctis, berhenti bernapas untuk sejenak dan hanya mampu menatap kecantikan alami Vaniile dan bagaikan kupu-kupu berterbangan dalam perutnya, ia hanya bisa menoleh ke arah berlawanan dari Vanille dengan muka yang semerah tomat, ia berterima kasih kepada para Dewa Eos atas kehadiran malaikat ini.

Para penumpang dan pengemudi selain Vanille, tertawa perlahan dengan sikap Prompto yang sangat lucu. Fang bahkan bisa melihat kemerahan si pemuda bersurai blond itu dari bagian belakang telinganya.

Fang tersenyum, "Tetapi, ada lho, yang lebih dibenci para dewa dibandingkan kami berdua."

"oh?"

Fang dan Vanille tersenyum pasrah dan menjawab, "Namanya Lightning Farron."

Ignis terkejut dan menatap kebelakang, "Maksud kalian, teman yang saat ini bersama Pangeran kami?"

"Kata Cid sih begitu," Fang menjawab, "Setelah diberi keterangan tentang bentuk serta sifatnya, tentu saja itu Lightning."

Gladio tersenyum, "Lightning? Namanya sangat… keren."

Vanille tertawa, "Tentu saja! Lightning adalah orang terkeren, tercantik, dan-"

"Paling menonjol diantara semuanya." Sambung Fang, "Mungkin karena itu dia paling di benci para dewa, ya?" Ia menatap kearah Vanille dan menerima tatapan marah yang imut dari Oerba kecil itu.

Ignis menenangkan pikirannya dan menyetel kembali kacamatanya, "Dia terdengar… membawa banyak masalah,"

Vanille menatap Ignis dengan kejut, sedangkan Fang tertawa, "Bukan, bukan. Dia bukan membawa banyak masalah, kok!"

"Masalah saja yang sangat menyukai warrior goddess kita."


Setelah hari menjadi malam, Ignis menyarankan semua untuk mendarat di sekitar Resort Pantai, Galdin Quay, supaya semua bisa beristirahat untuk malam ini. Semua setuju tanpa keraguan, bahkan Vanille terdengar sangat senang ketika mengetahui mereka akan mendarat di dekat pantai. Kelihatannya dia sangat suka Pantai.

Ketika Ignis mendaratkan Regalia di parkiran Galdin Quay, Mereka langsung melonjat turun dan merenggangkan badan-badan mereka yang kaku setelah duduk berjam-jam lamanya. Vanille langsung tersenyum ketika melihat laut segar pantai * lalu segera berlari ke jembatan kayu resort laut itu.

"Waahhh! Fang, lihat-lihat!" Vanille memanggil Fang yang berjalan mendekati si rambut orange itu, bersama para Chocobros, "Ada kucing!"

Fang tersenyum, lalu, Prompto segera mengambil kameranya dan berlari kearah Vanille dan kucing yang sering di kunjungi oleh Noctis.

"Vanille," Ia berhenti sejenak di hadapan Vanille, "Bisakah aku mengambil foto bersamamu dengan Princess Milky Way ini?"

Vanille mendongkak kepalanya, "Princess Milky Way?" Lalu, ia tertawa, "Apakah maksudmu kucing manis ini?"

Prompto dengan semangat mengangguk, "Ia sering dikunjungi dan dirawat Noct, jadi kami sering memanggilnya Princess Milky Way!" Ia tersipu, melihat Vanille menatapnya dengan heran, "I-ia sering berada di sini melihat bintang-bintang malam dan Noct selalu membawakan susu untuknya, jadi kami memanggilnya Princess Milky Way."

Vanille tertawa mendengar itu, "Benarkah~? kalo gitu, ia jinak kan?" Vanille menerima anggukan dan ia pun segera berlutut dan mengelus-ngelus bulu halus si Princess Milky Way.

Setelah si kucing merasa nyaman dengan tangan Vanille, Vanille pun segera mengangkatnya dan menaruhnya di dalam pelukannya, kucing itu pun merasa nyaman dan mendorong dirinya lebih nyaman dalam pelukan Vanille.

"Pr-Prompto, lihat dia!" Vanille tertawa bahagia, "She's so cuteee~"

Dalam seketika Prompto melihat kesempatan yang indah dimana Vanille terlihat sangat bahagia dengan kucing itu di pelukannya. Prompto pun langsung mengabadikan momen itu dalam kameranya yang berkedip dengan cepat. Si wanita bersurai orange tersenyum.

Prompto menunggu fotonya keluar dari projector kameranya dengan hati yang berkobar-kobar dan ketika fotonya keluar, hatinya bagaikan ingin meledak melihat masterpiece yang ia dapatkan saat itu juga.

Kecantikan Vanille dipenuhi dengan aura bahagia dan innocence, sementara kucing itu menerima kehangatan pelukan Vanille. Si gadis bersurai orange itu terlihat senang kapan saja, dan Prompto, meskipun tahu bahwa mereka telah mengalami hari yang sulit, merasa kagum dengan sikap Vanille yang sangat membawa keceriaan.

Vanille meletakan kucing itu kembali, "Apakah baik-baik saja untuk membiarkan Princess Milky Way disini?"

"Nggak apa-apa, kok!" Prompto tersenyum, "Princess Milky Way tahu arah pulangnya."

Meskipun terluhat sedikit ragu, Vanille mengangguk dan berjalan disamping Prompto. Dari sisi belakang, Fang, Gladio, dan Ignis, melihat kedua orang yang berbicara dan tertawa dengan percakapan mereka. Meskipun ada kesipuan yang tertanda pipi pemuda berambut blond itu, tapi, kelihatannya tidak terlalu berpengaruh pada Vanille yang sungguh amat luar biasa tidak peka terhadap yang beginian.

Fang hanya menghela napas dan tersenyum, "Vanille, please…" Ia berhasil menangkap perhatian kedua pria tampan yang berjalan disampingnya, "Kelihatannya sahabat kalian tertarik dengan adikku." Ia menyeringai.

Ignis menghela napas, "Maafkan kami, sebenarnya Ia hebat dalam banyak hal, tetapi, tertarik pada lawan jenisnya di waktu yang salah adalah kelemahan yang ia punya." Ia menggeleng kepalanya.

Fang tertawa, "What? Kenapa menurutmu ini adalah waktu yang salah?" Fang menggeleng, "Love never comes in the wrong moment, mate."

Sang perisai raja menatap pejuang Grand Pulse itu dengan senyuman, "Mungkin seperti itu, tapi, bukannya itu berlaku jika kedua orang tersebut merasakan hal yang sama terhadap satu sama lain?"

Si wanita bermata saphire-blue itu pun terlihat berpikir, "… Mungkin saja, tapi, mustahil jika kalian mengira Vanille orangnya seperti itu," Fang menghela lega, tetapi terlihat sedikit sedih, "Jika kalian melihatnya sebagai wanita yang mampu bersinar terang kapanpun dan dimanapun dia berada, menjalin hidup tanpa ada masalah apapun, maka kalian salah."

Mereka melihat Vanille dan Prompto memasuki bangunan utama Resort Galdin Quay, masih berbincang-bincang tentang hal-hal yang mampu mereka bicarakan. Dari jauh, Fang menatap si wanita ceria dengan sedih, "Ia telah melewati lebih banyak penderitaan daripada aku."

Gladio dan Ignis menatap Fang dengan terkejut. Butuh waktu untuk memproses kata-kata Fang tentang bagaimana gadis manis bernama Oerba Dia Vanille itu hidup penuh kesengsaran tetapi, masih bisa menjadi orang yang sebagaimana ia saat ini. Ignis hanya bisa menghela napas panjang dan Gladio hanya bisa menepuk Fang di pundaknya, mengucapkan maaf yang sepelan-pelannya.

Fang menatap mereka dengan terkejut pula, "Untuk apa kalian berwajah seperti itu, mate?" Ia tertawa, "Aku hanya ingin bilang, jika sahabat kalian ingin kesempatan dengan Vanille, berusahalah sekuat mungkin! Vanille baik dan manis tapi, nggk murahan, lho!"

Ia memukul pelan lengan Gladio dan mendorong kedua pria jangkung itu kedalam resort dengan tawa dan senyum gembira. Ignis dan Gladio mengikuti kata hati mereka dan tersenyum, lalu pergi mengejar kedua pemuda dan pemudi yang menunggu di depan reseptionist resort itu.

Setelah memesan 2 kamar, dimana Fang dan Vanille bersama, Ignis dan Prompto juga bersama, dan Gladio memaksakan diri untuk bercamping sendiri di atas tebing Galdin Quay, dimana ada safe haven yang pernah mereka tempati.

"Apaa~? Gladio akan berkemah sendiri?" Vanille terkejut melihat para chocobros yang tersisa bersama Fang, lalu menunjuk kearah tebing yang dibilang Gladio, "Di-Di sana~?"

Ignis mengangguk, "Jangan khawatir tentang dia, Vanille, Ia adalah pria yang sangat senang dengan alam."

Prompto juga ikut membantu, "Dia sangat suka camping, makanya, dulu waktu kami menelusuri Eos, kami sanggup bertahan hidup dimana saja berkat bantuan Camping Master, Gladiolus Amiticia."

Vanille tertawa dan Fang tertawa kecil sambil menggelengkan kepala, julukan yang tidak biasa.

Setelah jam dimana semua memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing, Fang membebaskan kelelahannya dengan meluruskan badannya yang kaku diatas spring-bed yang sangat empuk. Ia menghela lega sedangkan Vanille dengan penuh semangat melompat-lompat diatas tempat tidurnya yang menurutnya "boing boing~"

Fang hanya bisa tersenyum melihat Vanille yang terlihat sangat senang dan memutuskan untuk memejamkan matanya. Ia pun tertidur pulas.

Vanille melihat Fang yang langsung tertidur pun, mengambil Inisiatif untuk berkeliling sekitar resort indah ini dengan diam-diam. Ia tidak mau membangunkan Fang, makanya ia tip-toed menuju pintu dan segera keluar.

Si mantan L'cie tertawa perlahan ketika ia melihat kembali kearah pintu kamar mereka, Fang tidak mengikutinya. Ia pun segera berbalik dan mukanya langsung menabrak badan yang terasa keras dan muskular. Seketika, mereka pun jatuh ke lantai dengan teriakan kecil.

Entah bagaimana, tapi, Vanille terselamatkan dari kesakitan karena ia mendarat di badan orang yang ia tabrak tadi.

"Oh ya ampun, maafkan aku, tadi aku tidak sempat-" Vanille melihat keatas lalu ia merasakan tepukan pelan pada kepalanya.

"It's okay, Van," pemuda berambut blond yang bernama Prompto Argentum, tersenyum, "Tadi, aku yang salah karena tidak melihat kedepan. Aku sedang membalas mail dan tidak melihatmu tadi."

"Pr-Prompto!" Vanille terkejut dan ia pun segera berdiri, "Kau baik-baik saja?" Vanille memberikan bantuan tangan yang diterima oleh si pemuda.

"Yup, never been better." Prompto tersenyum malu, "Sedang apa kau? Ini sudah larut, lho. Apakah Fang-"

Vanille langsung menutup mulut Prompto dengan tangannya yang halus, dan menyuarakan 'shhhh!'. Prompto merasakan kehangatan telapak tangan Vanille di bibirnya dan mukanya lebih memerah.

"Prompto, ikut aku." Vanille menggenggam tangan Prompto dan menariknya menjauhi kamar miliknya dan Fang. Si pemuda sahabat Pangeran itu pun

Tidak diketahui pemudi itu, sahabatnya yang adalah mantan prajurit dewa dan L'cie selama beratus tahun lamanya, telah terbangun setelah aksi jatuh mereka karena Fang adalah orang yang sangat mudah terbangun.


"Van-Vanille!" Panggil Prompto, yang tertinggal di belakang seorang wanita yang sangat gembira dan berlari sangat cepat menuju balcon dingin resort itu, "Tunggu aku."

Vanille tertawa girang, "Ayo, Prompto! Di situ terlihat sangat indah!"

Prompto tersenyum kaku. Jujur, ia sangat senang berada di dekat Vanille meskipun mereka baru saja bertemu. Berbeda dengan Cindy yang gemar menjahilinya, Vanille adalah seorang wanita yang cantik, manis, dan sangat baik. Ia, mungkin terlalu cepat untuk berkata demikian. Tapi,... Sulit untuk tidak melihat radiasi yang gemerlang terpancar dari seluruh bagian tubuh dan sifatnya. Ia tersenyum dan meyakinkan langkahnya untuk maju dan mencoba untuk lebih mengenal Vanille.


Fang tidak bisa tidur lagi. Ia khawatir tentang Vanille dan mencoba memperhatikannya dari jarak jauh. Ia terkejut ketika Prompto sedang bergandengan tangan dengan teman masa kecilnya, tetapi, Fang hanya tersenyum dan membiarkan mereka pergi. Vanille sudah besar dan Prompto, ia percaya, mampu untuk menjaga Vanille hingga ia merasa ingin kembali ke kamarnya.

Fang dengan langkah diam, ia keluar dari Resort itu dan pergi mencari udara segar di luar. Ia sungguh merindukan udara pantai seperti saat ini. Setelah beribu tahun lamanya sejak ia terpisah dari Cocoon, ia tidak punya waktu untuk menikmati kesejukan seperti ini lagi. Menurutnya, Cocoon adalah tempat terindah dengan pantai.

Wanita bersurai hitam itu, duduk diatas pasir pantai, dengan tenang menerima segenap angin malam yang menyentuk mukanya. Ia tersenyum. Petualangan yang baru muncul di dunia yang sama sekali ia tidak ketahui. Bukankah cerita ini sering ia dengar?

Tidak.

Ini cerita yang ia lakukan beribu tahun yang lalu.

Cerita tentang tempat dimana ia bangun setelah beratus tahun lamanya.

Tempat yang tidak ia ketahui.

Tempat yang indah.

Tempat dimana ia bertemu teman-teman terbaiknya.

Tempat dimana ia menghancurkan begitu banyak jiwa dan hampir tempat itu sendiri.

Fang mengepalkan tangannya dan ia menggertakan giginya. Ia mengunci kedua tangannya dan menyembunyikan wajahnya yang tampak sangat marah dan sedih.

"Please..." Ia berkata, "Not again..."

Tidak ia ketahui, Gladiolus Amiticia sedang berdiri tepat di belakangnya.


Vanille menemukan tempat yang begitu indah. Tempat dimana ada api unggun dan tempat duduk untuk bersantai dibawah langit malam yang terang. Bintang-Bintang bersinar sangat cerah dan laut yang begitu tenang di ikuti sepoian angin yang menyegarkan. Ia tersenyum dan tertawa kecil, serta segera menempatkan dirinya di tempat duduk di samping api unggun tersebut.

Ia menarik napas dalam-dalam untuk merasakan angin dan kehangatan yang bercampur sangat lembut di kulitnya. Vanille menutup matanya untuk menikmati rasa santai di malam hari itu dengan sepenuh hati.

"Vanille?" Prompto datang dan melihat wanita yang ia panggil tadi, duduk dengan tenang sambil merasakan api unggun di teras Resort itu. Si pemuda berambut kuning itu tersenyum dan duduk di tempat yang bersebrangan dengan Vanille.

Prompto sangat terpukau dengan wajah Vanille yang tersenyum lega, menikmati kehangatan api unggun ini, terlihat seperti tidak ada masalah apapun dan ia hanya ingin merasakan apa yang dunia ini berikan padanya.

"Prompto?" tanpa membuka matanya, Vanille memanggil.

Prompto terkejut berkata, "Y-Ya?"

"Apakah dunia kalian saat ini sedang dalam perang?"

Entah darimana Vanille bertanya seperti itu, tapi, Prompto hanya menggaruk kepalanya, "Tidak. Mu-Mungkin Tidak." Ia setengah-setengah menjawabnya karena mungkin, yang ia tahu bahwa Perang terbesar antara Lucis dan Nifleheim telah berakhir tapi, ia tidak tahu bagian dunia yang lain, kan?

Prompto berpikir kembali, "Tidak. Perang sudah selesai. M-Maksudku, Perang terbesar dalam dunia tentang Lucis dan Nifleheim telah selesai! Jadi mungkin-"

"Apakah kau pernah ikut berperang?" Vanille membuka matanya, dan dengan bantuan api unggun kecil itu, mata pure-greennya tampak berkilau.

Prompto melihat Vanille membalikkan badannya dan mengangkat kakinya untuk dipeluk, mengarah kearah laut. Ia terlihat sangat sedih. Si blond itu merasa ingin memeluk si wanita bersurai orange itu karena ia terlihat seperti sangat terluka dan terbebani.

"Ya," Prompto menjawab dengan halus dan jujur, "A-Aku membantu sahabat-sahabatku untuk berperang melawan Nifleheim yang jahat!" Ia tertawa paksa, ingin membuat senyum Vanille kembali lagi. Meskipun hanya sesaat, ia sangat merindukan senyuman itu.

Usaha Prompto tidak sia-sia karena Vanille mengeluarkan tawa kecil, dan sungguh itu melegahkan hati Prompto.

Prompto menarik napas dalam-dalam, "Tapi, sebenarnya aku adalah seorang Nifleheim..." Ia memaksakan sebuah senyuman ketika melihat Vanille menatapnya dengan kaget.

"Tapi, bukannya kau bilang kau membantu teman-temanmu melawan-"

"Yes, that's true." Prompto mengangguk, "Aku... Sebenarnya orang tuaku adalah mata-mata dari Nifleheim untuk mewaspadai Lucis. Tapi, aku bertemu Noctis. Pangeran Lucis dan menjadi sahabat terbaik selama kami SMA. Aku bahkan melupakan semua tentang Nifleheim dan menjadi seorang Lucian yang sejati." Ia mengenggam hati dibalik bajunya.

Vanille tepuk tangan dan tersenyum, "Wahh! Kau sungguh hebat, Prompto! Demi persahabatanmu, kau mampu mengesampingkan semua perbedaan itu!"

Prompto tersenyum malu, "Ma-Makasih, Van."

"B-Bagaimana denganmu, Vanille?" Prompto bertanya kembali. Ia merasa tidak yakin dengan pertanyaan ini, tapi, ia ingin tahu apapun tentang Vanille.

Vanille mengatur kembali posisinya menghadap Prompto, "Bagaimana dengan aku?" ia bertanya dengan polos.

"Maksudku, A-Aku ingin tahu tentang kamu, Van. pertanyaan-pertanyaan simple, seperti; apa yang menjadi hobbymu, konstilasimu, seperti itu?"

Si wanita bersurai orange itu tertawa, "Astaga~ Baiklah, baiklah, aku akan menjawab satu-satu pertanyaanmu."

"Great!" Prompto sorak, "Apa warna kesukaanmu?"

"Biru."

"Hewan apa yang kamu sukai?"

"Boco. Chocobo."

"Hey, sama dong! Makanan kesukaanmu?"

"Hmm~ apapun yang manis?"

"Tempat yang paling kamu sukai?"

"Pantai~!"

"Nama teman terbaikmu?"

"Oerba Yun Fang, Lightning dan Serah Farron, Sazh dan Dajh, Snow, Hope-"

"Sungguh nama-nama yang membingungkan."

Mereka berdua tertawa girang dibawah langit malam yang cerah. Mereka saling menatap mata satu sama lain dan melanjutkan perbincangan dengan ceria.


"Fang?" panggil sang Perisai Raja, "Sedang apa kau disini?"

Pejuang Gran Pulse itu terkejut lalu mendongkak kepalanya kebelakang untuk melihat Gladio, berdiri dengan wajah yang khawatir. Fang menghela napas lega.

"Oh, it's just you, Gladio." Ia tertawa, "Kau hampir membuatku terkena serangan jantung!"

Gladio mengatakan permohonan maaf dan izin untuk duduk disampingnya. "Silahkan."

Gladio duduk diam dan menatap Fang yang menutup matanya dan mencoba mengatur napasnya kembali.

"Maafkan aku, Fang. Aku tidak bermaksud untuk mengejutkanmu." Ia menundukkan kepalanya dengan bersalah.

Fang menggeleng kepalanya, "Tidak, tidak, kau baru saja menyelamatkanku dari sesuatu, Gladio. Thank you."

Setelah diam untuk beberapa saat lagi, membiarkan Fang tenang sebelum melanjutkan perbincangannya. Setelah melihat keadaan sudah normal, Gladio mengambil kesempatannya.

"Sedang apa kau disini, Fang? Ini sudah larut dan kau seharusnya beristirahat."

"Senang melihatmu khawatir tentangku, darling," Fang mengedipkan matanya, untuk melihat Gladio tersipu malu, "Tapi, pikiranku penuh dengan hal-hal yang membuatku tidak bisa tidur saat ini."

"Apa itu?" Gladio mencoba untuk tidak terbawa perasaan dengan sikap Fang yang jahil.

Sejenak, Fang terdiam dan melihat kelangit malam, "... Gladio, kau pernah berperang sebelumnya?"

Gladiolus terkejut dan memikirkan kata-kata yang tepat, "Ya, aku pernah berperang sebelumnya."

"Biar ku tebak," Fang tersenyum, "Perang itu bahkan belum berlalu 5 tahun lamanya."

"B-Bagaimana kau tahu?" Gladio mulai mengira Fang adalah seorang sorcerer yang mampu melihat pikirannya.

"Sementara melewati jalanan dan alam yang indah dunia ini tadi, aku melihat beberapa tempat yang pasti bukan terbentuk karena alam itu sendiri. Itu terbentuk dari semacam ledakan dan berada dimana-mana." Fang jelaskan dengan detail.

Gladio salut dengan wanita ini, "Kau sungguh hebat, Fang."

Fang tersenyum dan memukul lengan Gladio dengan canda, "Hahaha! Memang kan?" Ia menarik Gladio dan merangkul pundaknya dalam lengan Fang yang panjang, layaknya sahabat.

Gladio ikut tertawa, wanita seperti Fang benar-benar menarik. Dari kekuatan tangannya, Gladio sadar dengan gengamannya yang kuat dan erat. Tapi, perilakunya sedikit tomboy, tetapi terlihat sangat elegan.

"Fang," panggil Gladio dengan tenang, "Apakah kau ada ide tentang mengapa kalian sampai terdampar di dunia kami?"

Sejenak, Fang terdiam,"... Dulu, dunia tempat aku bersama Vanille tinggal, terjadi perang terhadap dunia lain yang berada diatas langit kita." Fang cerita dengan senyuman. Seketika itu juga, Gladio terdiam dan langsung tertuju kearah Fang.

"Para dewa dari kedua dunia itu sangat membenci satu sama lain dan menggunakan kami, manusia biasa, sebagai senjata mereka dalam berperang." Fang melepaskan Gladio dan menatap kearah laut yang tidak berujung.

"Aku dan Vanille kehilangan kampung halaman kami dan terpaksa untuk dibawah ke panti asuhan setempat."

Gladio tidak menyangka Fang mengatakan hal-hal ini sebelum ia menanyakannya, tetapi, ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengenal Fang.

"Lalu?"

Fang memberikan Gladio seringaian, "Aku... terpilih menjadi prajurit dewa bodoh untuk menghancurkan Cocoon. Dunia Langit di atas Gran Pulse."

Gladio langsung terpukul mendengar ini, ia bahkan kehilangan kata-kata. Fang terlihat sangat sedih.

"Aku... berubah menjadi Ragnarok, Senjata terkuat para dewa Gran Pulse, dan membawa terror kepada seluruh orang di Cocoon."

"Tanpa sadar aku hampir membunuh banyak orang tidak bersalah yang tinggal di atas Cocoon."

Gladio menatap kearah pasir halus yang sedang ia duduki, ia bingung harus berkata apa, tapi, ia tidak pernah menyangka kehidupan Fang sangat sulit seperti itu. Ia mengunci dan mengepalkan kedua tangannya.

"Setelah beberapa saat, aku akhirnya mengerti bahwa perbuatanku salah dan aku tidak ingin memenuhi focusku."

"Focusmu?"

"Hmm... Mungkin bisa dibilang misi mutlak ku."

Gladio mengangguk, mulai mengerti sedikit tentang pekerjaan Fang dulu.

"Jika seorang L'cie, prajurit pilihan dewa, membentak perintah dewa, ia akan menjadi seorang monster, Cie'th. Tentu saja, bagiku itu tidak masalah. Lebih baik aku menjadi seorang monster yang bukan lagi diriku sendiri daripada menjadi seorang pembunuh berdarah dingin akibat perang yang bukan untuk diriku sendiri maupun orang-orang yang kusayangi." Fang menggeram dan membersut kearah laut yang tak berujung.

Gladio mengerti dengan keputusan Fang. Memang benar, lebih baik mengorbankan diri sendiri daripada melakukan kejahatan yang sangat berat tanpa alasan pasti.

"Tapi, para tetua dunia kami, menentang keputusanku untuk mengubah diriku menjadi Cie'th dan mengancamku menggunakan Vanille."

Gladio bukan hanya terkejut, tapi ia juga murka dengan, "Bagaimana mereka mungkin melakukan hal seperti-"

"Aku adalah L'cie yang hampir berhasil menghancurkan Cocoon dengan menjadi Ragnarok. Meskipun aku tidak berhasil, mereka akan membasmi ku dan menjadikan Vanille L'cie selanjutnya yang akan menjadi Ragnarok."

Gladio terdiam melihat Fang tampak sangat sedih, "Fang..."

"Tentu saja aku tidak bisa membiarkan itu terjadi pula. Vanille berusaha meyakinkan para tetua untuk memberhentikanku sebagai pembawa Ragnarok, tetapi, itu sudah terlambat."

"Sebelum aku berhasil menghancurkan Cocoon, Goddess Etro, Dewi Kematian penjaga Cocoon, menyelamatkan aku dan Vanille dengan Crystalysis Sleep."

Fang menghela napas panjang, "Dulu aku pernah percaya bahwa Ia adalah Dewi yang kejam, pembawa kematian dan bencana, tapi, tak pernah kusangka ia menyelamatkan aku dan Vanille, hingga kami bertemu Lightning dan kawan-kawan kami."

Ia kembali tersenyum paksa, "A-Aku sangat berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan Vanille." Ia tertawa perlahan, "Setelah terbangun dari Crystalysis, aku melupakan semuanya tentang Ragnarok. Tapi, Vanille..."

"Vanille mengingat semuanya dan berusaha menanggung semua dosaku dalam punggungnya." Fang melemparkan tubuhnya dan terbaring diatas pasir halus, "Vanille adalah orang yang bodoh karena telah melakukan semua itu untukku, tapi... Ia adalah satu-satunya yang ku punya untuk mengingat masa laluku."

"Semua kesalahanku..."

"Dosaku..."

Gladio sudah muak mendengar Fang yang sedih, "Fang, hentikanlah." Ia berdiri dan menarik Fang, "Semua itu bukanlah kesalahanmu. Kau- Kau- Semua ini bukanlah kesalahanmu! Kau dipergunakan dewa-dewa yang- yang bodoh!"

Fang tersentak dan hanya bisa terdiam. Tangannya digenggam kuat oleh Gladio dan tangannya terasa sangat hangat nyaman.

"Mereka tidak memperdulikan kalian dan mereka bahkan... mereka bahkan! Mereka bahkan membuat kalian budak perang mereka!" Gladio tidak tahu apa yang ia katakan, tapi, ini adalah kata-kata hatinya, "Kalian adalah korban ketidakadilan mereka tetapi, kenapa?!-"

Fang tertawa pelan. Ia mengenggam tangan Gladio yang hangat. Ia tersenyum dan menggenggamnya lebih erat.

"Itu sudah berlalu, Gladio." Fang menarik dirinya untuk berdiri dan menatap Gladio dengan sedikit sayang, "Aku hanya takut jika hal itu terjadi lagi."

"Fang..."

"Sudahlah... Apapun alasan mengapa kita dikirim kemari," Fang mengangkat bahunya, "Aku takkan membiarkan diriku melukai siapapun dan aku akan melukai siapapun itu yang berani melukai teman-temanku."

Tatapan Fang menajam dan ia menyilangkan tangannya, "Aku harus mencari tahu kenapa kita ada disini. Jika alasannya untuk menghancurkan sesuatu yang ada di dunia ini," ia menggeram.

Ia menepuk pundak Gladio dan memberikannya tatapan serius, "Bunuh aku."


"Terus Vanille, bagaimana kampung halamanmu?" Prompto bertanya, senang dengan mood yang sedang ia jalani.

Vanille tampak berpikir, "Hmm~ Oerba dulu adalah tempat yang menyenangkan, kok! Oerba ada di dekat laut makanya kebanyakan penduduknya bekerja sebagai nelayan!"

Prompto tersenyum, "Apakah orang tuamu juga nelayan?"

"Aku lupa~"

"Heehh?" Prompto menyeru dengan kaget, "Kok lupa?"

Vanille tetap tersenyum tapi ada sedikit keraguan dan sedih dibaliknya, "Oerba sudah hancur dan aku melupakan semuanya disitu sejak aku dan Fang..." ia terdiam sejenak, "dipilih..."

"Dipilih?"

Vanille mengangguk dan menceritakan kembali tentang masa kecilnya yang sungguh menyedihkan dan caranya bertumbuh dibawah pelatihan sebagai seorang L'cie. Tragedi perang antara Cocoon dan Gran Pulse. Fang dan Ragnarok. Pertempurannya bersama Lightning dan kawan-kawan mereka. Saat dia hampir mengorbankan dirinya untuk Bhunivelze dan rencana jahatnya.

Selama Prompto mendengar setiap cerita dan kata-kata yang keluar dari mulut Vanille, ia hampir tidak mempercayai apapun yang si pulsian berambut orange itu katakan. Tentu saja ia lupa dengan masa kecilnya. Masa pertumbuhannya saja dilanda begitu banyak masalah yang hampir mereggut nyawanya.

Tanpa sadar, Prompto memeluk Vanille yang terlihat sedih sepanjang saat ia menceritakan kisah hidupnya. Ia tidak tahu kenapa tapi, pelukan itu bagaikan hal yang dilakukan otak Prompto dibawah alam sadarnya. Ia hanya perlu... memeluk Vanille.

Vanille yang shock dengan pelukan Prompto, tidak bisa melakukan hal lain selain memeluk kembali pria berambut blond itu karena, sejujurnya ia menyukai pribadi Prompto yang gampang malu, jujur, lucu, dan hangat. Ia rasa pelukan itu juga bukan pelukan yang memiliki arti lain selain menenangkan dirinya yang kedinginan dan sedih karena mencoba mengingat kembali masa lalunya.

Ia merasa nyaman di dalam pelukan Prompto. Sangat nyaman dan aman.

"Maafkan aku..."

Vanille mendongkak kepalanya yang bersandar di bahu Prompto, "...why?"

"Aku tak tahu kenapa. Aku hanya... ingin meminta maaf..." Ia memeluk Vanille lebih erat.

"shh... it's okay." Vanille tersenyum, "... it's okay now." Ia mengelus-ngelus belakang Prompto.

Dalam keadaan seperti ini, Vanille merasa sangat senang karena Ia bertemu Prompto. Ia menemukan seorang teman lagi. Teman yang spesial lagi.

"Prompto?" Ia memanggil, "Aku sangat senang bisa bertemu dengan-"

Seketika itu juga, seperti dadanya ditusuk belati, Vanille merasakan kesakitan yang sangat ekstrim dan bagian dada dimana jantung berada, bersinar terang bagaikan ingin meledak.


Fang berteriak kesakitan dan menggenggam bagian dadanya yang bersinar bagaikan api. Ia bahkan tidak sanggup berdiri dan langsung terjatuh diatas pasir. Ia tidak bisa bernapas dan seluruh badannya sakit. Detak jantungnya terdengar bergumam dengan sangat kencang.

"Fang!"


"Vanille!"

Prompto menahan sang pulsian dari pundaknya dan melihat jantungnya bersinar cahaya orange yang gemilang. Cahayanya keluar dari dalam jantung Vanille. Ia panik karena Vanille terlihat dalam kesakitans sehingga air mata mulai bercucuran dari mata indahnya.

"Vanille! apapun yang sedang terjadi, don't give up! Kumohon!," Ia mengangkat Vanille dalam bridal-style, dan berlarian kedalam, "Please be okay!"


Gladio menahan Fang dalam pelukannya dan mengangkat Fang, yang kehilangan sadarnya tetapi, badannya masih bergemetar akibat sakit yang tidak berakhir. Ia berlari kedalam, mencoba mencari Ignis yang mungkin bisa membantu.


"Fang?"

"Vanille?"

"Dimana kita?" Vanille bertanya, ia melihat sekitar tapi tidak ada apa-apa selain mengetahui bahwa mereka dalam ruangan putih yang tidak ada ujungnya.

Fang terdiam untuk sejenak, "Aku... tidak tahu." Ia tidak menurunkan kewaspadaannya biarpun tidak ada siapapun dan apapun selain ia dan Vanille-

"Oerba Yun Fang...

Oerba Dia Vanille..."

Mereka terkejut dan seketika itu juga mereka berada di tempat lain. Mereka berada di sebuah... altar?

Fang terpanah dengan satu kursi takhta yang terbuat dari cristal indah dan berada di tengah-tengah ruangan yang agung dan megah itu.

"Kalian adalah kawan seperjuangan dari prajurit ku. My Knight. My Savior. My Champion.

Saat ini, dunia yang kalian berada sedang dalam bahaya...

Bhunivelze...

Rising...

Prevent...

Help my Champion..."

Fang menatap takhta itu dengan serius, "Kau adalah Goddess Etro?"

Vanille terkejut dan melihat kearah Fang dengan tidak percaya, "G-Goddess Etro?"

"Kau ingin kami membantu Lightning? Apa maksudmu dengan Kebangkitan?" Fang bertanya dengan tatapan tajam.

Vanille menelan kegugupannya, "Apakah maksudmu Bhunivelze berniat untuk... bangkit lagi?"

"Dan ia berniat untuk menggunakan Eos sebagai sumber kekuatannya untuk bangkit lagi."

Fang dan Vanille langsung terpanah kearah pintu masuk dan melihat seseorang yang sungguh mereka rindukan. Wanita tinggi berambut Pink dan cantik tersenyum kearah mereka.

"Hai, teman-teman."

Tanpa sadar kedua pulsian itu berlari kearah sosok itu dan menyerbunya dengan pelukan.

"LIGHTNING FARRON!"