Ok this is it, chapter 7 is coming… happy reading ya…

Mungkin disini keromantisan ItaIno akan semakin terlihat

Cekidot :D

Balesan review :

(khamyauchiha23) iya aq emg sngja krang sndri tgl lhir sasu sm ino hehe, mksi wd smngtnya :D (INOcent Cassiopeia) makasih-maksih.. jgn bosen2 yahh :D, wahh klo mslah ita-kun, km cari tau aja pas bacanya ya, aq no comment hahaha (ferryfromhell) arigatou ferry-kun, ttp smngatin yahh (gdtop) waduhh kira2 anak saso-kun ato ita-kun yaa…hehehe cari tahu sndiri, OK (hana37) oke, ini akan dprpnjang lg ;) (dwi2) iya, tp gg aq msukin adegan antara saku yg minta ajarin ino hanguk, nti trlalu pnjang hehehe, psti lnjut ampe ending kok, tnang aja (kitsune) unghhh… blm terprediksi mau ampe chap brp, hehe (guest) :p (de-chan) mkasih udah suka, iya sabar ya.. ini udah lmayan panjang kok (Azetha Mei) aq jg mau kli, syang ita-kun cm anime xixixi.

.

.

.

LOVE TO LOVE YOU

Chapter 7

.

Genre : Romance/Hurt/Drama

Pair : ItaIno

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Love To Love You © Beyb Haraka

Cast : Uchiha Itachi (28), Yamanaka Ino (23), Uchiha Sasuke (23), Haruno Sakura (20)

Akasuna no Sasori (28)

And many other

.

.

.

Ino menatap pantulan dirinya dicermin, sudah terhitung 3 bulan ia menetap dirumah pribadi Itachi, berarti sekarang kandungannya sudah berusia 4 bulan, dan ia dapat merasakan jika perutnya kini terlihat semakin membuncit, semua baju yang ia punya sudah tak muat lagi dibadannya, meskipun bentuk tubuhnya masih tetap proporsional sekalipun. Ino bingung, ia tak punya uang sama sekali untuk bisa membeli baju khusus bagi Ibu hamil, alhasil saat ini ia memutuskan untuk memakai kemeja biru muda milik Itachi yang tak sengaja ia lihat dikeranjang cucian kotor tadi pagi, awalnya Ino ragu untuk memakainya karena ia takut jika Itachi pasti akan marah, namun rasa keinginan yang kuat itu seolah mendorongnya untuk bertindak nekad dengan mengambil dan memakai baju bekas Itachi. Wangi dari aroma tubuh Itachi yang Ino hirup dalam-dalam dari kemeja yang ia kenakan itu seolah membuatnya terasa nyaman dan tenang, mungkin inilah yang disebut dengan mengidam, tapi lagi-lagi kenapa harus berhubungan dengan Itachi? Ino jadi semakin bingung dibuatnya.

"Sayang… kenapa Ibu tidak merindukan Ayahmu? Kenapa Ibu malah selalu memikirkan dan merindukan Ita-kun?" Tanya Ino pada sang bayi yang ada dalam kandungannya sambil mengelus perutnya pelan, kedua matanya berkaca-kaca, perasaannya berkecamuk, ia tak mengerti dengan peningkatan hormon yang ia alami saat ini, hormon yang seolah membuatnya ingin terus bersama dengan Itachi dan tak mau jauh-jauh dari pemuda tampan itu. Ino sudah menyadari atas perasaannya yang ternyata juga jatuh cinta pada Itachi, tapi ia masih sangat takut untuk mengungkapkannya, ia memendam dalam-dalam perasaannya itu sampai membuatnya stress dan kehilangan sedikit berat badan yang seharusnya tidak boleh dialami oleh seorang Ibu hamil.

Tok, tok, tok

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah pintu masuk kamarnya, dan Inopun segera membersihkan airmatanya, lalu berjalan menuju pintu itu untuk membukanya.

Cklek,

"Anyonghaseo Eonni… coba lihat apa yang aku bawa" ucap Sakura yang datang membawa beberapa bungkus belanjaan bermerk.

"Sakura..apa ini?" Tanya Ino yang tampak bingung.

"Aku boleh masuk dulu?" Tanya Sakura.

"Tentu saja" jawab Ino, lalu Sakurapun masuk kedalam kamarnya.

"Tadi kak Itachi menyuruhku untuk berbelanja ke Uchiha Department Store bersama dengan Sasuke-kun" ungkap Sakura sambil menaruh belanjaannya diatas ranjang Ino.

"Lalu?"

"Ya..dan ini hasilnya, dia menyuruh kami agar mencarikan baju Ibu hamil untukmu Eonni, kak Itachi tahu jika semua baju milik Eonni sudah tidak muat lagi karena perut Eonni yang semakin hari semakin membuncit" ujar Sakura sembari mengelus perut Ino pelan, akan tetapi ia langsung sadar dengan apa yang ia lihat didepannya saat ini, Ino yang tengah memakai baju Itachi.

"Lalu sekarang dimana Itachi-san?" Ino sedikit terkejut dengan ucapan Sakura, lantas ia ingin segera bertemu dengan Itachi dan bicara padanya.

"Kak Itachi..masih dikantor, dia masih rapat Eonni, mungkin…dia akan pulang jam 12 malam katanya" jawab Sakura yang masih bingung menatap Ino, kenapa Ino memakai kemeja bekas milik Itachi?

"Kenapa?" tiba-tiba mata Ino memanas, ia kesal sekali mendengar ucapan Sakura barusan.

"E' Eonni? Eonni kenapa menangis?" Tanya Sakura yang terkejut melihat Ino tiba-tiba menangis.

"Sudah dua minggu Itachi-san mengacuhkanku, dia selalu berangkat kerja lebih pagi dan pulang kerja larut malam, dan dia.. tidak mau bicara denganku, dia seolah sedang menghindariku, hiks!" ungkap Ino dengan derai airmata yang turun membasahi pipi putihnya, sekarang ia akan mengungkapkan seluruh perasaannya pada Sakura, Ino sudah tidak tahan lagi menanggung bebannya ini sendirian, apalagi dengan kondisinya yang tengah hamil seperti ini, Ino ingin meringankan beban fikirannya.

"Eonni…" gumam Sakura dengan tatapan iba dan khawatir, sebenarnya ia sudah tahu jika selama ini Ino memang telah jatuh cinta pada Itachi, namun wanita Korea itu takut untuk mengungkapkannya, padahal Sakura sangat mengkhawatirkan kondisi Ino yang menurutnya semakin hari semakin menurun karena beban fikiran yang ditanggung oleh wanita hamil itu. "katakan padaku Eonni, ungkapkan semua perasaan Eonni padaku, aku siap mendengarkan apapun yang selama ini menjadi beban dan fikiran Eonni, Eonni tidak boleh menyimpannya sendirian, itu bisa membahayakan bagi kesehatan bayi Eonni, Eonni harus menceritakannya padaku" pinta Sakura berusaha meyakinkan Ino yang akhirnya menganggukan kepala setuju.

"Aku… aku mencintainya Sakura" ungkap Ino dengan lirih bahkan sampai tak terdengar, namun Sakura dapat mendengarnya.

"Eonni mencintai kak Itachi kan?" Tanya Sakura dengan tatapan lembut kearah Ino yang tertunduk.

"Hiks!" masih dengan isakannya, Ino mengangguk-angguk membenarkan pertanyaan Sakura.

"Aku sudah menduganya" Sakurapun tersenyum lembut sembari menyentuh tangan Ino.

"Aku tidak tahu kenapa perasaan ini bisa muncul, dimana aku selalu berdebar ketika berada didekatnya, merasa selalu ingin terus bersamanya, selalu merindukannya, dan hatiku sangat sakit bila dia meninggalkanku seperti sekarang, apalagi mengacuhkanku, aku tahu, mungkin ia mulai menghindar dariku karena ingin menghapus perasaannya yang tak kunjung aku balas, coba bila kau berada diposisiku Sakura, sanggupkah kau membalas perasaan Itachi-san dengan keadaanmu yang tengah mengandung anak orang lain seperti ini? Apa kau merasa pantas menerima cinta Itachi-san? Itachi-san adalah pria yang sangat baik, dia pantas mendapatkan seorang wanita yang baik pula, bukan wanita kotor sepertiku, hiks, hiks!" jelas Ino pada Sakura yang tampak prihatin dengan keadaannya.

"Eonni..apa yang Eonni katakan? Eonni bukan wanita kotor, kau tidak boleh bicara seperti itu, aku paham dengan apa yang Eonni rasakan, akupun pasti akan melakukan hal yang sama jika berada diposisi Eonni sekarang, tapi Eonni, apa kau percaya akan sebuah takdir dan cinta sejati? Aku yakin sekali jika Kami-sama mengirimkan kak Itachi untuk Eonni karena kak Itachi adalah takdir Eonni, buktinya sekarang kalian saling mencintai, Eonni tidak boleh memendam perasaan Eonni terus-terusan seperti ini, apa Eonni tidak mau merasakan sebuah kebahagiaan?"

"Tapi aku… aku tidak pantas untuknya Sakura" sanggah Ino sambil memalingkan wajahnya.

"Cinta yang tulus pasti tidak akan memandang pantas atau tidaknya seseorang yang kita cintai itu, aku bisa melihat jika kak Itachi mencintai Eonni dengan tulus, buktinya jika dia tidak tulus, buat apa ia membawa Eonni kemari dan memberikan semua ini untuk Eonni, ia juga sangat perhatian dengan kandungan Eonni, dengan semua yang kak Itachi berikan kepada Eonni, apa Eonni tega untuk menolak dan menghancurkan hati kak Itachi? Kak Itachi selalu setia menunggu dan mengharapkan Eonni, lantas apakah Eonni akan menghempaskan kak Itachi begitu saja setelah ini?" Sakura mulai memanas-manasi Ino agar wanita itu mau mengungkapkan perasaannya pada Itachi dan tidak merasa minder lagi, Sakura sangat senang bila Ino dan Itachi akhirnya bisa bersatu, karena menurutnya kedua pasangan berbeda kewarganegaraan itu sangat cocok dan serasi sekali.

"Aku…" ya apa yang Sakura katakan semuanya memang benar, Ino tak bisa membantah lagi, ia tak bisa menyakiti Itachi dan juga dirinya lebih dari ini.

"Nah.. sekarang Eonni tunggu disini, aku akan meminta Sasuke-kun untuk menelfon kak Itachi agar dia segera pulang" ucap Sakura dengan senyuman lembut.

"Tidak Usah-"

"Ssssttt... ini sudah menjadi bukti yang cukup kuat jika sekarang Eonni sangat membutuhkan kak Itachi" sahut Sakura sembari menyentuh kemeja yang dipakai Ino, Ino yang melihatnyapun jadi tersipu malu. "Kalau begitu Eonni tunggu sebentar ya, Eonni sebaiknya istirahat saja, kau sungguh terlihat kacau dan stress Eonni, aku takut sikecil juga akan ikut stress bila Eonni terus-terusan seperti ini" Sakurapun segera beranjak dari kamar Ino setelah menyuruh wanita hamil itu untuk istirahat, dan sekarang tinggal tugasnya untuk menyuruh Sasuke agar segera menghubungi Itachi yang mungkin sedang berbohong jika saat ini ia tengah rapat dikantor Uchiha Corp.

.

LOVE TO LOVE YOU

.

Uchiha Corp, Itachi's Office Room

.

Waktu kini telah menunjukan pukul 10.00 malam, namun Itachi tak kunjung pulang kerumahnya karena ia masih sibuk dengan fikirannya sendiri saat ini, tentu saja apa yang ia katakan pada Sakura bahwa ia akan lembur karena ada rapat mendadak dikantor tadi adalah bohong, sebenarnya ia ingin menghindar dari Ino, menghindar agar tidak bertemu dengan wanita Korea yang sudah 3 bulan menetap dirumah pribadinya itu. Sudah terhitung 2 minggu ia mencoba untuk menghindari wanita hamil itu, entah kenapa Itachi seakan benci dan kesal sekali jika melihat wajah Ino setiap hari, sudah berbagai cara Itachi lakukan untuk menarik hati dan simpati Ino agar wanita itu bisa jatuh cinta padanya, mempelajari sifat dan kepribadian Ino, bahkan Itachi mencari tahu sendiri informasi mengenai Ino, namun tetap saja, segala sesuatu yang ia lakukan pada Ino seolah tak mendapatkan respon apapun dari wanita itu, alhasil Itachipun jadi capek sendiri, selama 3 bulan ia memperhatikan Ino tapi tak mendapat balasan yang berarti apapun darinya, miris sekali nasib cinta Itachi.

"Hah… jika aku terus menggantungkan hatiku pada harapan yang kosong, maka perlahan aku akan membunuh diriku sendiri, tapi jika aku memutuskan untuk melepaskannya, aku juga tidak bisa.." gumam Itachi pada dirinya sendiri, ia menghembuskan nafas berat seolah lelah dengan semua ini.

I want to remind you

You're the one who taught me to love

But I couldn't find you…..

Lantunan nada dering berjudul Please Forgive Me milik Andy Moor itu tiba-tiba terdengar dari I-Phone milik Itachi, menandakan jika saat ini ia sedang mendapatkan sebuah panggilan masuk.

"Sasuke?" kedua alis Itachipun berkerut setelah melihat nama pemanggil dari layar I-Phone 6 miliknya, kenapa Sasuke menghubunginya? Apa ada sesuatu yang terjadi?

"Hallo!" Itachipun mengangkat telefonnya.

("Kak kau masih dikantor?") Tanya Sasuke dari balik telefonnya.

"Hn, ada apa?"

("Cepatlah pulang, ini penting") titah Sasuke.

"Tapi aku-"

("Aku tahu kau bohong, cepat pulang sekarang atau kau mau terjadi sesuatu padanya") ungkap Sasuke dengan nada yang ia buat-buat untuk menakuti Itachi.

"Tch, baiklah" Itachipun mengalah, setelah Sasuke berkata seperti itu, rasa khawatir akan Inopun segera menyelimuti hatinya, kira-kira apa yang terjadi?

("Oke, aku dan Sakura menunggumu dirumahmu")

Tuut, tuut, tuut

Sasukepun langsung memutuskan sambungan telefonnya.

"Semoga tidak terjadi apa-apa padanya!" gumam Itachi sambil memakai jas hitam Brioni miliknya, bersiap pergi dari ruang kantor untuk segera pulang kerumah pribadinya, ia cemas sekali, takut terjadi apa-apa pada Ino, semoga wanita yang ia cintai itu tidak kenapa-kenapa.

.

LOVE TO LOVE YOU

.

Hiroo Garden Place, Itachi's House

.

Beberapa menit kemudian akhirnya Itachipun sampai dikediaman pribadinya setelah menempuh jarak yang tak terlalu jauh menggunakan Black Vanquish mewahnya, pria tampan bertubuh tegap itupun segera turun dari mobil dan berjalan cepat menuju kedalam rumah, ada guratan-guratan kekhawatiran yang menghiasi wajah tampannya, meskipun saat ini ia tengah mencoba untuk melupakan perasaannya pada Ino, namun ternyata ia benar-benar belum mampu untuk melakukannya dengan baik, hati kecilnya seolah tak mengizinkannya untuk melakukan tindakan itu.

.

"Sasuke, apa yang terjadi?" Tanya Itachi yang tiba-tiba sudah datang, mengagetkan Sasuke dan Sakura yang tengah menonton televisi diruang tengah.

"Kak Itachi" seru Sakura yang langsung berdiri dari tempat duduknya, begitupun juga Sasuke.

"Cepat kalian jelaskan, ada apa sebenarnya?" Tanya Itachi kembali yang semakin tidak sabaran.

"Kakak membohongiku kan?" Tanya Sakura dengan tatapan tajam pada Itachi, Sakura marah sekali karena Itachi mengacuhkan Ino selama 2 minggu, ia heran kepada seorang Uchiha yang ada didepannya satu ini, katanya dia genius, tapi kenapa untuk memahami perasaan wanita saja dia tidak bisa.

"Apa maksudmu?" delik Itachi, ia tak mengerti dengan pertanyaan Sakura.

"Tadi kak Itachi tidak rapat kan? Kau sengaja pulang jam 12 malam untuk menghindari Eonni kan? Selama 2 minggu kau mengacuhkan dan tak memperdulikannya, menganggapnya seolah tak ada, kenapa kau lakukan itu padanya?" guratan emosi mulai muncul diwajah cantik Sakura.

"Sakura!" seru Sasuke menginterupsi sang kekasih agar menahan emosinya.

"Biarkan aku Sasuke-kun, aku akan menjelaskan semua kesalah fahaman ini pada kakakmu supaya dia mengerti akan penderitaan Ino Eonni selama berada disini" ujar Sakura pada sang kekasih, Itachipun terkesiap mendengarnya, apa maksud Sakura jika selama ini Ino menderita?

"Cepat jelaskan Sakura, jangan berbelit-belit" seru Itachi dengan nada agak tinggi, ia sudah tak sabar lagi mendengar semua penjelasan Sakura mengenai Ino.

"Kakak tahu kenapa selama ini Ino Eonni tak meresponmu? Kau tahu kenapa dia tak pernah memperdulikan semua perhatian-perhatian yang kau berikan kepadanya selama ini?"

"Heh, itu jawaban yang sangat mudah Sakura, tentu saja dia tidak mempunyai perasaan apapun ter-"

"Kau salah kak, tentu saja bukan itu jawabannya" sahut Sakura dengan penuh emosi.

"Lalu menurutmu apa jawaban yang benar?" Tanya Itachi kembali dengan nada tingginya, ia sudah sangat lelah dengan semua ini, harapannya sudah pupus.

"Dia takut kak, dia merasa tidak pantas untuk kau cintai, dan sebenarnya dia juga mencintaimu tapi dia-"

"Jangan mengarang Sakura, kau tidak tahu apa-apa, tidak mungkin jika dia mencintaiku, itu hanya sebuah omong kosong" kini giliran Itachi yang menyahut kata-kata Sakura dengan nada sinis.

"Aku tidak mengarang apapun, jika kakak tidak percaya padaku, kau bisa lihat sendiri dikamarnya sekarang juga, dan aku bisa menjamin jika kau pasti akan tercengang setelah melihat keadaannya nanti" ujar Sakura masih dengan guratan emosi diwajahnya, ia benar-benar kesal sekali dengan Itachi yang keras kepala.

"Hah, ini konyol sekali" meski berkata seperti itu dengan nada sinisnya, namun Itachi tetap menuruti perkataan Sakura dengan berlalu pergi untuk menuju kamar Ino guna membuktikan ucapan gadis musim semi itu.

"Dan ingat satu hal kak, jika kau mencintai Eonni dengan tulus, maka seharusnya kau menggunakan Cinta untuk Mencintainya!" seru Sakura dengan menekankan kata 'cinta untuk mencintainya' pada Itachi yang tengah berjalan menuju lantai dua tepatnya kekamar Ino, Itachipun bisa mendengar semua penuturan Sakura itu, dan kata-kata itu ternyata sukses membuat hatinya mencelos.

"Sudah selesai?" Tanya Sasuke pada sang kekasih yang masih terlihat tersengal-sengal karena emosi.

"…" Sakurapun tak menjawab, malah kini kedua matanya mulai berkaca-kaca.

"Sudahlah" Sasukepun langsung merengkuh Sakura kedalam pelukannya, mengelus rambut gadisnya itu agar ia tenang. "Semuanya sudah beres, untuk apa kau menangis? Apa kau tertular penyakit sensitif kak Ino karena sering menemaninya?"

"Habisnya kakakmu hiks.. dia jahat sekali pada Eonni" ungkap Sakura dengan sedikit sesenggukan.

"Tapi yang penting sekarang Itachi sudah tahu jika kak Ino juga mencintainya, sebentar lagi kita berdua pasti akan menyaksikan kemesraan mereka setiap hari" ucap Sasuke sambil menangkup wajah Sakura.

"Huumb" angguk gadisnya itu dengan senyuman tipis, Sasukepun lega melihatnya.

LOVE TO LOVE YOU

Itachi kini telah berada didepan kamar Ino, iapun sudah beberapa kali mengetuk pintu kamar wanita hamil itu, namun tak kunjung dibukakan juga oleh sang pemilik kamar, Itachi jadi semakin khawatir dibuatnya, ia takut terjadi sesuatu pada Ino, alhasil pemuda tampan itupun memutuskan untuk langsung masuk saja kedalam kamar Ino, toh ternyata pintunya juga tidak dikunci.

"Ino.." panggil Itachi sembari menutup pintu kamar Ino, karena tak ada respon sama sekali, iapun berjalan lebih mendekat kearah ranjang Ino, dan ketika sudah berada didepan ranjang berukuran Queen Size tersebut, kedua mata Onyx milik Itachi langsung dibuat terbelalak kaget oleh pemandangan yang tersaji didepannya. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, Ino yang sedang tidur membelakanginya itu tengah memakai kemeja biru muda kotor miliknya dengan punggung yang bergetar karena menahan tangis.

Itachipun lantas bergerak perlahan setelah beberapa menit sempat terjebak dalam keterkejutannya, pemuda tampan itu perlahan merangkak naik keatas ranjang secara hati-hati supaya Ino tak menyadari akan kehadirannya, dan ketika Itachi sudah berhasil memposisikan tubuhnya untuk berbaring disamping Ino, iapun secara perlahan memeluk Ino dari belakang.

Ino dapat merasakan rengkuhan hangat itu menerpa tubuh ringkihnya, wanita itupun langsung terkesiap dan terkejut dengan tangan besar yang tengah memeluknya saat ini, ia takut sekali jika yang memeluknya kini adalah hantu atau semacamnya, tapi jika yang memeluknya adalah hantu kenapa rasanya sangat hangat dan menenangkan sekali, kira-kira siapa pria yang telah berani memeluknya saat ini? Itachikah? Tapi itu tidak mungkin.

"Si-siapa-"

"Ssssttt ini aku" sahut Itachi yang langsung memotong ucapan Ino, tubuh Inopun langsung menegang seketika saat mengetahui jika pria yang sedang memeluknya saat ini memang benar-benar Itachi. "kenapa kau memakai kemeja kotor milikku?" Tanya Itachi yang sukses membuat rasa takut Ino semakin dalam, wanita itu takut jika Itachi akan marah karena dia telah sengaja memakai kemeja milik pemuda itu tanpa izin.

"Maafkan aku, aku sudah lancang memakai kemejamu tanpa izin, aku, aku akan melepaskannya sekarang juga" jawab Ino gelagapan dengan derai airmata yang semakin meluncur bebas dari sudut matanya, ia mencoba bergerak bangun untuk mengganti baju namun Itachi segera menahan tubuhnya.

"Apa benar jika kau juga mencintaiku?" Tanya Itachi secara tiba-tiba, Ino yang mendengarnyapun kembali terkejut, jantungnya berdebar tak karuan.

"A-aku-"

"Katakan dengan jujur dan jangan membohongi dirimu sendiri, katakan jika kau juga mencintaiku Ino" desak Itachi agar Ino segera menjawab pertanyaannya, lantas pemuda tampan itupun langsung membalikan tubuh Ino agar mengahadap kearahnya, dan ketika Ino sekarang sudah berbaring dihadapannya, alangkah terkejutnya ia melihat wajah Ino yang sangat pucat dan tubuhnya begitu kurus, Itachi baru sadar jika Ino memang benar-benar menderita selama ini, semua yang Sakura katakan memang benar.

"Hiks.." Ino hanya terisak dan mengangguk, membenarkan pertanyaan Itachi, wanita itu sudah tak sanggup lagi untuk membohongi perasaannya sendiri, ia akan mengatakan segalanya pada Itachi, mencurahkan seluruh beban dan fikirannya selama ini pada pemuda tampan yang ada dihadapannya ini, ia tak peduli bila nantinya Itachi akan membencinya atau apa, yang penting ia sudah bebas dari semua beban-bebannya.

"Lantas jika kau juga mencintaiku, lalu kenapa selama ini kau selalu mengabaikanku?" tanya Itachi dengan jantung yang berdebar-debar pula, ia bahagia sekali mendapat balasan cinta dari Ino, namun ia juga bingung dengan respon negatif Ino selama ini terhadapnya.

"Aku takuuutttt, aku takut sekali untuk membalas perasaanmu karena aku sadar tentang siapa aku dan siapa dirimu, kita jauh berbeda, kau baik Itachi-san, bahkan amat sangat baik bagiku, sedangkan aku, aku hanyalah wanita kotor, maka dari itu aku merasa tidak pantas untuk bersanding denganmu, hiks.. aku mencoba untuk terus membunuh perasaan ini dengan menghindari dan mengabaikan semua perhatian yang kau berikan, tapi tetap saja aku tidak bisa, hiks..hiks...aku mencintaimu tapi...aku...aku takut.." ungkap Ino yang sukses membuat Itachi kembali merengkuhnya, namun kini pemuda itu lebih sangat hati-hati karena ia takut menekan perut buncit Ino.

"Sssshh, tak ada yang perlu kau takutkan, aku mencintai dan menerimamu apa adanya, inilah jawaban yang aku tunggu-tunggu darimu Ino, maaf bila selama ini aku tidak peka terhadap perasaanmu hingga membuatmu stress dan kurus seperti ini, aku benar-benar minta maaf, secara tak sengaja aku sudah membuatmu menderita dan tertekan" ujar Itachi dengan perasaan yang meluap-luap, ini sudah cukup, hanya balasan cinta dari Ino saja yang ia inginkan, ia tak peduli dengan status ataupun anggapan orang lain tentang Ino, yang ia inginkan hanyalah wanita Korea itu.

"Ita-kun... hiks.. aku mencintaimu, rasanya sungguh sakit sekali menanggung perasaan ini sendirian, aku sudah tidak kuat lagi..hikss aku selalu ingin bersamamu, aku tidak mau kau meninggalkanku, rasanya sungguh menyakitkan sampai aku tidak bisa bernafas hiks, hiks.." ucap Ino dengan airmata yang semakin deras.

"Curahkan semuanya, aku ingin mendengarkan segala beban yang ada difikiranmu, ungkapkan semuanya padaku Ino, jangan ditahan lagi, aku tidak mau terjadi sesuatu pada kalian berdua jika kau terus memendamnya" Itachipun semakin merengkuh Ino, ia iba sekali melihat wanitanya tampak begitu rapuh seperti ini, perasaan bencinya terhadap wanita pirang itupun juga sudah menguap entah kemana, dan kini perasaan benci itu telah tergantikan dengan perasaan sayang dan cinta yang semakin mendalam. Ternyata Itachi memang harus mengurungkan niatnya untuk membunuh perasaan cinta terhadap sang pujaan hati yang sedang ia peluk saat ini.

"Selama ini aku takut tidur seorang diri, mimpi buruk itu selalu datang setiap malam hiks.. aku, aku selalu ingin agar kau menemaniku saat tidur, tapi itu tidak mungkin, kau pasti akan menolak dan menertawakanku hiks, tapi semakin aku tahan, rasanya semakin menyakitkan sampai dadaku terasa sangat sesak, aku juga ingin memanggilmu Ita-kun, Ita-kun, Ita-kun tapi... aku takut kau akan marah padaku hiks...aku tidak tahu.. aku tidak tahu kenapa aku selalu menginginkanmu, aku tidak mau jauh-jauh darimu, aku selalu takut kau akan meninggalkanku.." jelas Ino dengan tangisan memilukan, sakit rasanya hati Itachi mendengar semua keluh kesah Ino, jadi selama ini Ino menahan mati-matian semua keinginannya hanya untuk menjaga perasaan Itachi.

"Ino..." Itachi hanya menggumamkan nama Ino, ia terlalu shock dan tak bisa berkata apa-apa, ternyata selama ini ia tak peka terhadap perasaan Ino, malah ia selalu mengacuhkan dan tak memperdulikannya sama sekali, betapa bodohnya ia yang malah berfikir jika dirinyalah yang paling menderita selama 3 bulan ini, tapi ternyata ia keliru, justru sebaliknya, Inolah yang lebih menderita karena menanggung beban seberat ini sendirian selama ia tinggal dirumahnya.

"Dua minggu ini..kenapa kau menghindariku? Kau mengacuhkanku hiks, hiks, kau tidak mau menatapku, bahkan hanya untuk menyapaku kau tidak mau hiks..aku sangat tersiksa, aku-"

"Ssssttt iya aku salah maafkan aku, maaf karena sudah membuatmu menderita, aku janji mulai saat ini tidak akan pernah lagi menghindar, mengacuhkan ataupun meninggalkanmu, aku janji akan selalu ada disampingmu, aku akan menjagamu" Itachi mulai melonggarkan pelukannya, ia tatap kedua mata Aquamarine itu lekat-lekat seraya berkata "dan aku berjanji, mulai sekarang aku akan menemanimu tidur, aku akan menjaga tidurmu agar tetap nyenyak dan terhindar dari mimpi buruk, satu hal lagi, kau boleh memanggilku dengan panggilan apapun sesukamu, aku tidak akan pernah marah padamu, malah aku sangat senang bila kau memanggilku dengan panggilan Ita-kun"

"Ita-kun.." Ino sungguh bahagia mendengar semua kata-kata Itachi, rasanya seperti melayang diudara, airmatanyapun kembali turun dengan deras, namun itu bukan lagi airmata kesedihan, tapi airmata kebahagiaan.

"Hn, mulai sekarang kau harus terbuka padaku ya" ujar Itachi dengan senyuman menawan yang baru pertama kali Ino lihat, benar-benar tampan. Itachi terlihat sangat bahagia sekali malam ini.

"Hmm!" Ino hanya mengangguk-angguk patuh.

"Janji?"

"Aku janji Ita-kun" Inopun langsung memeluk Itachi dengan spontan, membuat Itachi kaget sekaligus khawatir.

"Hey! kau harus hati-hati dengan perutmu Ino" ujar Itachi dengan nada khawatir sambil membalas pelukan Ino.

"Terimakasih Ita-kun.. aku mencintaimu hiks!" ungkap Ino tanpa memperdulikan ucapan Itachi, ia terlalu bahagia sekali.

"Hn, aku juga mencintaimu hime" balas Itachi, lalu mencium leher Ino.

Inopun melepaskan pelukannya dari Itachi, kedua manik Aquamarine dan Onyx itu saling berpandangan sebentar sebelum Itachi bangun dan duduk diatas ranjang untuk melepaskan jas serta kaus kaki dari tubuhnya.

"Kau mau kemana?" tanya Ino dengan nada khawatir, khawatir bila Itachi akan meninggalkannya.

"Ketoilet sebentar, kau mau ikut?" goda Itachi yang sukses membuat kedua pipi putih Ino merona merah, wanita cantik itu jadi tertunduk malu, Itachipun sedikit tersenyum geli melihatnya, Ino benar-benar terlihat sangat manis sekali jika tengah memerah seperti itu. "akukan sudah janji akan menemanimu tidur, jadi tidak usah khawatir, aku tidak akan pergi kemana-mana" imbuh Itachi dengan senyuman tipisnya, sungguh tampan sekali.

"Hm, aku mengerti" angguk Ino dengan senyuman kecil, ia sungguh bahagia sekali saat ini.

"Baiklah, tunggu aku sebentar" Itachipun segera beranjak menuju toilet yang ada didalam kamar Ino.

Setelah kepergian Itachi, Inopun mengelus perutnya pelan seraya berkata "Kau puas sekarang nak? Inikah yang selama ini kau inginkan?, Ibu tidak mengerti dengan semua keinginanmu yang selalu berkaitan dengan Ita-kun, malah kau melupakan Ayahmu dan tak menginginkannya sama sekali, apa kau begitu membenci Ayahmu dan jatuh cinta kepada Ita-kun sama seperti Ibu?" gumam Ino kepada bayi yang ada didalam kandungannya dengan haru dan derai airmata yang kembali menghiasi wajah cantiknya. Ino tidak tahu entah ini sebuah isyarat atau hanya sebuah kebetulan saja, selama ini ia benar-benar sudah melupakan Sasori, malahan ia terus memikirkan dan menginginkan Itachi, seperti ada sebuah dorongan kuat dari dalam tubuhnya untuk selalu mendambakan dan menginginkan seorang Uchiha Itachi. Tapi Ino tak mau ambil pusing, ia tak mau menahan-nahan semua keinginannya lagi, sudah cukup ia menderita karena menahan semua rasa ngidamnya selama 3 bulan ini, ia akan mengekspresikan rasa cintanya pada Itachi, dan tidak takut lagi untuk mencurahkan semua isi hatinya pada pemuda tampan itu.

.

Selang beberapa menit, akhirnya Itachi telah keluar dari toilet, kini pemuda tampan yang hanya mengenakan kemeja abu-abu dan celana hitam itu berjalan kembali keranjang Ino. Jantungnya berdebar-berdebar, ia tak menyangka jika malam ini adalah malam yang begitu membahagiakan sekali dalam hidupnya, Itachipun sempat tersenyum-senyum kecil, kesalahfahaman ini sudah berakhir, dan setelah ini ia akan hidup bahagia dengan Ino.

"Ita-kun.." panggil Ino yang sontak membuyarkan lamunan Itachi.

"Ah ya, kenapa kau belum ganti baju?" Tanya Itachi sambil duduk ditepi ranjang, ia penasaran sekali dengan Ino yang memakai kemeja biru mudanya yang sudah kotor dan bau keringatnya itu, apa tidak ada baju selain itu? Toh masih banyak kemeja baru yang tergantung dalam lemari pakaian Ino, kenapa wanitanya itu tidak memakai itu saja.

"Aku tidak mau" jawab Ino dengan gelengan pelan.

"Tapi kemeja itu sudah kotor dan bau keringatku, apa kau tidak merasa mual?"

"Tapi aku suka baumu, ups!" Ino keceplosan, ia segera menutup mulutnya.

"Apa?" Itachipun mendelik keheranan, seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. "Coba katakan sekali lagi" imbuh Itachi dengan nada tak percaya, ia memposisikan tubuhnya agar lebih dekat dengan Ino.

"A-aku..suka" jawab Ino agak gagap, ia akan jujur pada Itachi jika ia sedang mengidam ingin memakai baju pemuda tampan didepannya itu.

"Jangan bercanda, kau suka bauku? Itu tidak lucu Ino" ujar Itachi dengan seringaian tak habis fikirnya, Ino menyukai bau badannya? ini konyol sekali, fikir Itachi.

"Aku tidak bohong hiks!" ungkap Ino yang kembali terisak, salahkan Itachi yang menyeringai.

"Eh" Itachipun langsung terkesiap ketika melihat Ino yang kembali menangis, gara-gara sering mengacuhkan Ino ia jadi kembali lupa jika Ibu hamil itu sangatlah sensitif, tanpa berlama lagi iapun segera merengkuh Ino kedalam dekapan hangatnya sambil mengumpati dirinya sendiri. "Maafkan aku.." ucap Itachi merasa bersalah pada Ino.

"Jika kau keberatan kalau aku memakai kemejamu aku bisa melepaskannya sekarang-"

"Tidak-tidak, aku tidak keberatan sama sekali, kau boleh memakai semua kemeja bekasku, aku hanya merasa bingung saja kenapa kau menyukai bau badanku"

"Aku tidak tahu kenapa aku bisa menyukainya, yang jelas baumu selalu membuatku nyaman dan rilex, seolah ada dorongan dari dalam tubuhku yang selalu menginginkanmu, menginginkan semua hal yang berkaitan denganmu" jelas Ino tanpa rasa takut sedikitpun.

"Kau mengidamkanku?" Tanya Itachi sedikit terkejut, lalu iapun melepaskan pelukannya dari Ino dan menangkup wajah cantik wanita Koreanya itu dengan intens.

"Hm!" Ino mengangguk-angguk membenarkan ucapan Itachi, Itachipun jadi semakin bingung dan curiga, apa jangan-jangan…. Tapi ia segera menepis fikiran gila itu.

"Apa tidak ada sebersit rasa sedikitpun yang tersisa untuk Sasori?" Tanya Itachi lagi, ia ingin memastikan apakah Ino masih mencintai pemuda brengsek itu.

"Tidak ada sama sekali, malah aku juga bingung kenapa aku tidak pernah mengidamkannya, bahkan memikirkannya saja tidak pernah, seolah-olah aku tidak pernah mengenalnya, padahal bayi ini.." Ino tak sanggup melanjutkan kata-katanya, ia hanya menunduk dan mengelus perutnya.

"Ssshh, iya aku mengerti" Itachipun kembali merengkuh wanitanya itu dan mengelus rambutnya. "mungkin kalian berdua terlalu mencintaiku makanya sampai melupakan Sasori dan berbalik mengidamkan segala hal tentangku" imbuh Itachi dengan senyuman tipisnya yang dibalas anggukan setuju oleh Ino. Sebenarnya pemuda Uchiha itu masih curiga akan sesuatu hal dimasalalu yang tiba-tiba ia ingat secara samar-samar, namun ia tidak tahu sesuatu apa itu, semuanya terlalu susah sekali untuk ia ingat dengan jelas. Dan karena tak mau ambil pusing lagi, iapun segera menepis semua bayang-bayang samar itu dari fikirannya, biarkan saja semua berjalan apa adanya, ia tak mau menatap kemasa lalu, ia ingin fokus saja pada Ino dan menatap masa depan indah mereka, meskipun pasti ada banyak sekali badai yang akan mengahadang mereka setelah ini, tapi Itachi akan menghadapinya bersama-sama dengan Ino, tentunya dengan kekuatan cinta yang mereka miliki.

"Hoam.." uapan kecil dari mulut Ino tiba-tiba terdengar, sontak membuat Itachi segera tersadar dari lamunannya.

"Kau sudah mengantuk?" Tanya Itachi melepaskan pelukannya dari Ino.

"Hum!" angguk Ino "pelukanmu membuatku ngantuk" sambungnya sedikit gugup.

"Hn, kita tidur sekarang, lagi pula sudah pukul sebelas malam, kau tidak boleh tidur terlalu larut" ajak Itachi.

"Iya!" ujar Ino patuh, Itachipun segera menariknya untuk berbaring dan menyelimuti tubuh mereka berdua dengan bedcover, posisi merekapun kini saling berhadap-hadapan.

"Tidurlah, aku janji malam ini kau tidak akan mimpi buruk lagi" ucap Itachi sambil mengelus pipi halus Ino yang tengah menatapnya dengan pandangan tak percaya.

"..." Ino hanya mengangguk, ia merapatkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Itachi dan menyandarkan kepalanya didada bidang yang sangat hangat itu, Itachi yang mendapatkan perlakuan seperti itupun agak sedikit terkejut karena ternyata Ino agresif juga rupanya, namun ia bisa mengerti kenapa Ino jadi seperti ini, pasti bawaan dari moodswingnya, iapun bisa memaklumi semua itu. "Ita... jantungmu berdebar-debar" ungkap Ino sambil menyentuh dada Itachi, Itachi yang mendengar itupun langsung bersemu merah, bisa-bisanya Ino bicara seperti itu padanya.

"Hn, itu karenamu!" jawab Itachi sekenanya.

"Ternyata Ita-kun benar-benar mencintaiku" Ino kembali mengelus dada Itachi dan memainkan kancing kemejanya.

"Tentu saja, kau fikir aku main-main?" tanya Itachi dengan nada serius, tentu saja ia mencintai Ino, sangat malah.

"Tidak!" Inopun tersenyum dan menggeleng pelan, "aku hanya belum percaya saja, ini seperti mimpi yang sangat indah setelah mimpi-mimpi buruk yang kualami selama ini"

"Hn, kau harus percaya jika ini nyata dan bukan hanya sekedar mimpi" Itachipun mengecup ujung kepala pirang Ino.

"Kau tidak malukan jika-"

"Jangan berfikiran dan berkata yang macam-macam Ino, jika aku malu, maka kita berdua tidak akan seperti sekarang ini" sahut Itachi sedikit kesal, lagi-lagi wanitanya itu merasa minder dan meragukannya.

"Ne, gomawo Ita-kun, jeongmal gomawo.." ucap Ino dengan senyuman manis, dan kini iapun mulai memejamkan kedua matanya.

"Cheonmaneyo sarang!" balas Itachi dengan senyuman tipisnya "annyeonghi jumuseyo, norul hangsang saranghal goya" imbuh Itachi yang tak lama kemudian ikut memejamkan kedua matanya. Dan malam ini, kedua sejoli yang saling mencintai itu pasti akan mengarungi mimpi-mimpi indah mereka dalam tidur yang nyenyak.

.

LOVE TO LOVE YOU

.

Pagi telah menjelang, menampakan cahaya matahari yang bersinar sedang dimusim gugur yang indah ini, dan Sakura yang terkenal enerjik itupun tak mau mensia-siakan pagi yang menyenangkan ini sendirian, ia menyeret paksa sang kekasih yang sedang asik tidur dirumah Itachi untuk menemaninya lari pagi dilokasi Jogging Area yang tersedia di Hiroo Garden Place.Dan disinilah mereka saat ini, duduk santai disebuah kursi panjang dengan Sasuke yang tampak terengah-engah karena habis berlari kencang mengejar Sakura.

"Sasuke-kuuuunn... kau memang payah" ujar Sakura dengan kekehan pelan, gadis manis bertubuh langsing itu telah berhasil mengerjai kekasihnya.

"Hn, tertawalah sepuasmu" Sasuke hanya memalingkan wajah karena kesal, nafasnya masih tersengal-sengal sehabis berlari kencang.

"Maaf-maaf.. kau marah?" tanya Sakura agak merasa bersalah, ia lupa jika Sasuke paling benci jika ditertawakan.

"Hn!" Sasuke hanya menggumamkan kata andalan keluarga Uchiha.

"Sasuuu jangan marah.. maafkan aku"

"Membangunkanku dengan paksa dihari minggu ini dan membuatku berlari sampai aku hampir mati, kau harus menerima hukuman dariku" ucap Sasuke dengan tatapan horrornya pada Sakura, Sakurapun menelan ludah, kalau Sasuke sudah seperti ini, maka tamatlah riwayatnya.

"Hu-hukuman apa?" tanya Sakura agak gugup, sukses membuat Sasuke menahan senyuman geli.

"Hn, morning kiss!" Sasukepun menunjuk bibirnya, rupanya ia ingin agar Sakura menciumnya.

"A-apa?" Sakurapun agak terkejut, itu tidak mungkin ia lakukan, disinikan banyak orang.

"Kenapa? Biasanya kau yang paling agresif"

"Tapi Sasu-"

"Jika kau tidak mau ya sudah, aku tidak memaksa" Sasukepun kembali memalingkan wajahnya, ia yakin jika Sakura pasti tidak akan pernah bisa untuk menolak permintaannya.

"Oke baiklah, aku akan melakukannya, sekarang mendekatlah" pinta Sakura, Sasukepun tersenyum puas dalam hati dan iapun mulai mendekat kearah kekasih pinkynya itu.

"Hn, cepat lakukan" titah Sasuke yang sudah berada dihadapan Sakura, jarak mereka hanya 2 cm dengan hidung yang hampir bersentuhan.

"…" Sakurapun mendekatkan bibirnya secara perlahan, menempelkan pink peachnya itu pada bibir tipis merah yang ada dihadapannya, akan tetapi baru saja ia menempelkan bibirnya, ada sesuatu yang tak terduga datang secara tidak tepat dan membuatnya terpaksa harus menghentikan aksinya.

"TEMEEEEEEEE!" seruan si kepala durian yang tiba-tiba datang itu sontak membuat Sasuke langsung terkesiap dengan wajah yang memerah.

"NARUTO!" bentak Sasuke dengan tatapan horror pada sahabat pirangnya yang ternyata juga tinggal diHiroo Garden Place itu.

"Ma-maaf Teme, aku sungguh tidak sengaja, maafkan aku ya Sakura-chan" ujar Naruto dengan gugup dan merasa bersalah karena sudah mengganggu pasangan SasuSaku.

"Hehe, tidak apa-apa Naruto!" ucap Sakura sambil tersenyum geli, geli melihat Sasukenya yang tengah ngambek disampingnya.

"Naruto-kuuuun… hosh..hosh..hosh.. ke-kenapa kau meninggalkan aku?" seru Hinata yang baru saja datang dengan nafas terengah-engah, gadis indigo itupun mengelapi wajahnya yang bercucuran keringat.

"E' Hinata-chan maafkan aku, aku lupa jika kau dibelakangku" Narutopun hanya menggaruk belakang kepalanya tanpa dosa.

"Kau itu selalu kebiasaan Naruto!" ujar Sakura terkekeh pelan.

"Eh.. ada Sakura dan Sasuke disini" Hinata baru menyadari keberadaan Sakura dan Sasuke.

"Hai Hinata, kalian berdua sedang berkencan disini ya?" Tanya Sakura dengan senyuman manisnya.

"Ung..kami hanya lari pagi saja kok Sakura" jawab Hinata dengan kedua pipi yang bersemu merah.

"Kau tumben sekali berada disini Teme?" Tanya Naruto pada Sasuke yang masih terlihat agak kesal.

"Hn, aku menginap dirumah Itachi" jawab Sasuke datar.

"Wahhh… menginap dirumah yang super mewah itu ya? Aku jadi ingin mampir kerumah kakakmu itu Teme.." ucap Naruto dengan mata berbinar-binar. Ia tahu jika rumah yang dihuni Itachi adalah rumah yang paling mewah dikompleks perumahan Hiroo Garden Place, dulu ia juga pernah kesana sekali saat Sasuke mengajaknya, dan ia terkagum-kagum dengan kemewahan bangunan yang bergaya modern minimalis itu. Rumah Naruto dan Itachi memang berada dalam satu kawasan yang sama, namun jaraknya agak jauh karena berada dalam blok yang berbeda.

"JANGAN!" seru Sasuke dengan spontan, tentu saja ia tak mungkin mengajak Naruto untuk mampir kerumah kakaknya. Bisa gawat nanti jika Naruto tahu tentang rahasia kakaknya.

"Ke-kenapa Teme?" Tanya Naruto yang terkejut karena penolakan tegas Sasuke.

"Eh.. begini Naruto, bukannya Sasuke tidak mau mengajakmu mampir kerumah kak Itachi, tapi kak Itachi sedang tidak enak badan dan dia menyuruh Sasuke untuk tidak membawa tamu kerumahnya, jadi…sayang sekali, maafkan Sasuke-kun ya Naruto" jelas Sakura mengarang cerita, Narutopun tampak kecewa mendengarnya.

"Hmm sayang sekali, padahal aku ingin sekali main kerumahnya" ucap Naruto menghela nafas pasrah.

"Lain kali kan masih bisa, iya kan Sasuke-kun?" Tanya Sakura pada sang kekasih.

"Hn!" angguk Sasuke.

"Baiklah kalau begitu!" Narutopun tersenyum tipis.

"Nah lebih baik sekarang kita double date saja bagaimana?" ajak Sakura dengan antusias.

"Sakura?" delik Sasuke dengan tatapan tajam pada sang gadis, ia sudah lelah sekali, dan sekarang mau diseret kemana lagi?

"Itu ide yang sangat bagus Sakura-chan" seru Naruto dengan wajah gembiranya.

"Hinata, kau setuju kan?" Tanya Sakura pada Hinata, ia seolah tak memperdulikan tatapan tajam Sasuke.

"I-iya..Sakura, aku setuju" angguk Hinata dengan senyuman kecilnya.

"Ya sudah ayo.." Sakurapun langsung menggandeng tangan Sasuke dengan paksa, Sasuke yang awalnya tidak mau akhirnyapun pasrah dengan ajakan gadis pinkynya itu, percuma saja ia menolak, toh ia juga tak pernah bisa menolak ajakan dari si gadis musim semi yang sangat ia cintai itu.

"Hinata-chan jangan jauh-jauh dariku" Narutopun turut menggandeng tangan Hinatanya agar wanita pemalu itu tidak ketinggalan lagi seperti tadi.

"I-iya Naruto-kun" angguk Hinata yang sudah memerah seperti kepiting rebus.

.

LOVE TO LOVE YOU

.

Itachi's House

.

Tubuh Ino menggeliat pelan, kedua manik Aquamarinenya terbuka akibat terpaan sinar matahari pagi yang tak begitu menyilaukan menembus kedalam ruang kamarnya. Ia mengerjap-ngerjap sebentar, menoleh kesamping dan menyentuh ranjangnya, hangat, berarti kejadian semalam bukan hanya sekedar mimpi belaka bagi Ino. Wanita cantik itupun tersenyum manis, ia bahagia sekali mengingat kejadian tadi malam, kira-kira bagaimana ya kehidupannya kedepan bersama si sulung Uchiha itu? Semoga saja penuh akan kebahagiaan dan keharmonisan, walaupun badai pasti datang menghadang mereka kapan saja, ia dan Itachi akan menghadapi itu semua bersama-sama, tentunya dengan kekuatan cinta mereka.

"Nona pemalas baru bangun eh?" Tanya Itachi yang tiba-tiba datang mengagetkan Ino, pemuda tampan itu baru saja datang dari kamarnya, ia terlihat begitu segar karena habis mandi, dan tampak sangat menawan dengan balutan pakaian cassual yang pas sekali ditubuh atletisnya.

"Ita-kun?" Ino terpana melihat pemandangan yang tersaji didepannya, rasa-rasanya ingin sekali ia memeluk tubuh pemuda yang ada dihadapannya itu.

"Hn!" Itachipun berjalan lebih mendekat dan duduk ditepi ranjang Ino. " mandilah, lalu kita sarapan dan pergi kerumah sakit" ujar Itachi sambil mengelus rambut Ino.

"Kerumah sakit?" delik Ino tak mengerti, ia tak sakit, kenapa Itachi harus mengajaknya kerumah sakit segala.

"Iya, beberapa waktu yang lalu Sakura bilang padaku jika kau sudah dua kali menolak untuk check up kandungan kerumah sakit, berarti sudah dua kali pertemuan dalam satu bulan kau tidak menemui dr. Tsunade, dan dr. Tsunade juga sempat menelfonku, dia menanyakanmu, kenapa kau tidak memeriksakan kandunganmu secara rutin?" Tanya Itachi penasaran.

"Hm, aku hanya sedang tidak mau saja" jawab Ino enteng, sebenarnya bukan itu alasannya.

"Jangan berbohong Ino"

"…" Ino hanya menatap Itachi sebal.

"Cepat katakan, kenapa kau tidak mau?" desak Itachi.

"Aku hanya bosan bila ditemani Sakura terus" ujar Ino lirih sambil memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan si sulung Uchiha.

"Hn?" kedua alis Itachi berkerut, apa maksud Ino?

"Aku..ingin kau yang menemaniku, tapi kau selalu sibuk, lagi pula itu tidak mungkin" moodswing Ino mulai timbul rupanya, kedua matanya terlihat berkaca-kaca, siap untuk menangis.

"Ino, tatap mataku!" seru Itachi.

"…" Ino hanya menggeleng kesal, kesal karena tak dapat menahan hormon kehamilannya ini, kenapa ia jadi begitu cengeng sih!

"Tatap mataku sekarang atau kutinggal pergi" ancaman Itachi sukses membuat Ino langsung menuruti perintahnya. "Sekarang kau mandi dan pakai baju yang sudah kubelikan kemarin, lalu kita sarapan bersama, setelah itu aku akan menemanimu check up kerumah sakit" ucap Itachi dengan tatapan lembut, Ino yang mendengarnyapun langsung merubah ekspresi sedihnya menjadi sangat gembira, ia tersenyum manis dengan perasaan yang meluap-luap, akhirnya keinginannya selama ini tercapai juga. "dan aku janji, mulai saat ini, aku yang akan selalu menemanimu untuk check up secara rutin" imbuh Itachi, Ino jadi semakin senang mendengarnya.

"Ita-kun!" karena saking senangnya, Inopun segera bangun dan memeluk Itachi dengan erat, ia sampai lupa dengan kandungannya yang mungkin saja bisa tertekan oleh tubuh besar Itachi.

"Hati-hati Ino!" pekik Itachi dengan raut khawatir, lagi-lagi wanita Korea itu membuatnya hampir jantungan.

"Aku senang sekali Ita-kun, Terimakasih!" ujar Ino tanpa memperdulikan pekikan Itachi, lagi-lagi ia terlalu senang dan gembira sekali.

"Hn!" Itachi hanya mengangguk dan tersenyum tipis menanggapinya, ia terlalu fokus dengan perasaan aneh yang ia rasakan saat ini, ketika Ino memeluknya dan perut buncit wanita itu tak sengaja menempel pada perutnya, rasanya ia seperti tersengat listrik, jantungnya berdebar kencang, perutnya juga bergejolak aneh seperti ada banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Itachipun dibuat bingung dan terheran-heran, kenapa ia bisa mempunyai perasaan seperti ini, padahal ia tahu jika bayi yang ada dalam kandungan Ino adalah anak Sasori, bukan anaknya kan? Itu mustahil sekali. "sama-sama hime" imbuhnya, Itachi menepis segala pemikiran-pemikiran aneh yang ada didalam otaknya, mungkin saja perasaan yang ia rasakan saat ini hanyalah sebuah kebetulan saja. Ya! Hanya kebetulan belaka.

.

Beberapa menit kemudian, Inopun akhirnya selesai mandi dan berganti baju. Itachi melihat Ino dengan pandangan takjub dan terpesona, menurutnya semakin hari Ino semakin terlihat sangat cantik sekali, mungkin itulah yang disebut dengan aura seorang ibu hamil, Itachi jadi semakin gemas ingin memeluk wanitanya itu.

"Kenapa? Apa aku jelek?" Tanya Ino pada Itachi yang tak henti-henti memandanginya.

"Mana mungkin seorang model professional sepertimu terlihat jelek" jawab Itachi sambil berdiri menghampiri Ino.

"Lalu?"

"Kau terlalu cantik pagi ini" puji Itachi yang sontak membuat kedua pipi Ino memerah, meski ia sering mendapatkan pujian seperti itu, tapi rasanya akan berbeda jika orang yang kita cintai yang mengucapkan pujian itu.

"…" Ino hanya tersenyum malu, ia tak bisa berkata apa-apa.

"Baiklah, kita turun sekarang?"

"Hm!" angguk Ino setuju, Itachipun segera menggandengnya untuk keluar kamar, menuju dapur yang berada dilantai satu dan sarapan bersama disana.

.

Setelah tiba didapur, Itachi segera menyuruh Ino untuk duduk dikursi makan, pagi ini Itachi sendiri yang akan menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Tak butuh waktu lama bagi pemuda itu untuk membuat masakan lezat seperti Chicken Yakiniku, karena ia hanya tinggal memanaskannya saja didalam oven, nasi yang ia nanak pukul 05.00 tadi juga sudah matang, kini ia tinggal menatanya saja dipiring.

"Nah sudah siap, kita makan sekarang" ajak Itachi pada Ino setelah ia selesai menata makanannya dimeja makan.

"Hm!" angguk Ino antusias, wanita itupun segera mengambil mangkuk yang sudah berisi nasi, lalu mengambil sendok yang ada disamping mangkuk. Ino jarang sekali makan menggunakan sumpit, karena biasanya ia makan menggunakan sendok. "Ita!" panggil Ino.

"Hn?" Itachi yang akan memakan selada favoritnya jadi terhenti.

"Bisa berikan aku.." Ino tak melanjutkan ucapannya, ia merasa sedikit takut.

"Berikan apa? Kau ingin sesuatu?" Tanya Itachi menatap lembut wanitanya, ia tahu jika Ino agak sedikit takut untuk mengungkapkan keinginannya.

"Bisa berikan semua seladamu padaku?" permintaan Ino langsung membuat Itachi terkejut, sejak kapan wanita Korea didepannya ini menyukai selada, seingatnya dulu Ino malah mual-mual karena mencicipi sayuran favoritnya yang mempunyai rasa pahit itu, tapi kenapa sekarang Ino malah menginginkannya?

"E' sejak kapan kau menyukai selada?" Tanya Itachi dengan tatapan heran.

"Akhir-akhir ini aku suka sekali memakannya" jawab Ino sedikit canggung, ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba bisa menyukai sayuran favorit Itachi itu, seperti ada dorongan yang kuat dari dalam tubuhnya dan ia tak bisa menahannya lagi.

"Tapi setahuku kau tidak menyukai sayuran pahit ini"

"Sekarang aku jadi menyukainya"

'Ini aneh sekali' ungkap Itachi dalam hati, kenapa lagi-lagi keinginan Ino selalu berkaitan dengannya, iapun kembali curiga, namun segera menepisnya lagi, mungkin ini hanya sebuah kebetulan saja.

"Kalau tidak boleh juga-"

"Siapa bilang tidak boleh? Kau bisa memakan semuanya, aku akan merelakan semua seladaku untukmu" sahut Itachi dengan cepat, ia tak tahan melihat wajah sedih Ino terlalu lama.

"Benarkah?" Tanya Ino dengan mata yang berbinar.

"Hn!" angguk Itachi dengan senyuman tipis, lalu iapun menyodorkan semangkuk selada segarnya kepada Ino, biarlah pagi ini ia tak memakan seladanya, toh nanti siang juga masih bisa.

"Terimakasih Ita-kun" ucap Ino dengan senyuman manisnya, akhirnya keinginannya terpenuhi juga.

"…" Itachi hanya mengangguk dan tersenyum, melihat Ino semangat serta lahap ketika makan seperti ini membuatnya seolah merasa sudah kenyang.

.

Waktu telah menunjukan pukul 08.00 pagi, Itachi dan Ino sudah menyelesaikan sarapan mereka, dan kini tiba saatnya bagi Itachi untuk membawa Ino kerumah sakit guna memeriksakan kandungan wanita cantik itu. Meskipun sekarang hari minggu, dan kemungkinan dr. Tsunade sedang mengambil cuti dihari libur ini, namun Itachi bisa menyuruh dokter kandungan itu agar tetap datang kerumah sakit dan memeriksa kandungan Ino, karena ia tahu jika dr. Tsunade tak akan pernah bisa untuk menolak apapun permintaannya. Jikapun dokter itu menolak, maka ia harus menanggung segala konsekuensinya.

"Kalian mau kemana?" Tanya Sakura yang baru datang bersama Sasuke, kedua tubuh sepasang kekasih itu dipenuhi oleh banyak keringat karena habis berolahraga, Sakura tampak masih bugar, tapi beda lagi dengan Sasuke, pemuda emo itu terlihat sangat lemas seperti habis lari marathon.

"Kerumah sakit" jawab Itachi singkat.

"Kak aku lapar" ujar Sasuke pada Itachi, Sasuke tahu jika kakaknya itu pasti sudah menyiapkan makanan untuknya. Dari dulu Itachi memang terkenal mandiri dan bisa melakukan berbagai hal, beda dengan sang adik yang tak begitu bisa melakukan apapun sendiri karena ia selalu dimanja oleh ibunya.

"Cari sendiri didapur" ucap Itachi.

"Hn!" Sasukepun segera masuk kedalam rumah kakaknya, ia sangat lapar sekali sehabis berlari dan melakukan double date konyol bersama dengan pasangan NaruHina tadi. Semua ini gara-gara Sakura, dan nanti Sasuke harus balas dendam kepada kekasih tercintanya itu.

"Hari ini Eonni terlihat sangat cantik dan segar!" puji Sakura pada Ino, ia turut bahagia melihat Itachi dan Ino akhirnya bisa sedekat ini, kecanggungan Ino juga sudah sedikit berkurang ketika didekat Itachi.

"Hn, kau pandai memilihkan baju untuknya" ujar Itachi.

"Tentu saja, siapa dulu yang memilihkan" kepedean Sakurapun mulai timbul.

"Baiklah, kalau begitu kami akan pergi sekarang" pamit Itachi.

"Iya kak hati-hati" jawab Sakura dengan senyuman bahagianya, bahagia melihat kebersamaan Itachi dan Ino. Ternyata benar apa kata Sasuke, mulai saat ini ia pasti akan melihat kemesraan pasangan itu setiap hari.

"Aku tinggal dulu ya Sakura!" pamit Ino dengan senyuman manisnya pada Sakura.

"Iya Eonni, Eonni hati-hati ya, aku doakan semoga sikecil sehat"

"Hm, Terimakasih" angguk Ino "dan terimakasih juga untuk yang semalam" imbuhnya.

"Aaa sama-sama Eonni" Sakura turut mengangguk-angguk mengerti.

Inopun segera berbalik, berjalan kearah Itachi dan masuk kedalam Nissan Juke merah milik pemuda kaya itu. Setelah Ino masuk, Itachipun langsung menutup pintunya, dan segera berjalan menuju kursi kemudi.

"Jaaa Eonni" Sakurapun melambai-lambaikan tangannya kepada mobil Itachi yang perlahan mulai berlalu dan menghilang dari pandangannya. "Terimakasih Kami… akhirnya Kau menyatukan cinta mereka berdua" gumam Sakura dengan penuh kelegaan dan kebahagiaan, sekarang iapun harus masuk kedalam rumah Itachi untuk sarapan bersama Sasuke yang mungkin sedang ngambek karena dirinya.

.

LOVE TO LOVE YOU

.

Konoha Central Hospital, Shibuya

dr. Tsunade room

.

dr. Tsunade telah selesai memeriksa kandungan Ino, dan sekarang gilirannya untuk memberi beberapa nasehat kepada calon Ibu muda itu, tak lupa Itachipun turut serta dalam mendampingi wanita Korea itu.

"Sepertinya Nyonya Uchiha kelihatan stress sekali akhir-akhir ini, apakah ada sesuatu yang mengganggu fikiran anda Nyonya?" Tanya dr. Tsunade pada Ino.

"…" Ino hanya membalasnya dengan senyuman hambar, bilapun ada, tak mungkin juga ia menceritakannya pada dr. Tsunade.

"Kondisi kesehatan istri anda sedikit menurun Tuan, dia terkena gejala anemia, tapi jangan khawatir, itu biasa dialami oleh Ibu hamil, Nyonya Uchiha tinggal meminum sebutir kapsul penambah darah saja setiap hari sampai kandungannya berumur 7 bulan, nanti saya akan menuliskan resepnya" ujar dr. Tsunade "Oh ya, berat badan Nyonya Uchiha juga menurun 2 kilo bulan ini, harusnya itu tak boleh terjadi, saat ini kandungan istri anda sudah berusia 4 bulan, seharusnya berat badan istri anda semakin bertambah naik, untung saja kandungannya sangat kuat, jika tidak, saya tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, istri anda mengalami tekanan batin dan stress yang cukup berat" imbuh dr. Tsunade, ia sungguh heran melihat hasil pemeriksaan Ino, secara ia seorang istri dari Uchiha Itachi, tidak mungkin sekali kan ia mengalami stress dan tekanan batin seperti ini.

"Hn, mungkin karena saya sering meninggalkannya untuk urusan pekerjaan, jadinya saya tak begitu memperhatikan kondisinya" jawab Itachi bohong, padahal ia tahu jika penyebab Ino stress adalah karena memendam perasaan terhadapnya, dan tentu saja karena ia sering mengacuhkan wanita imut itu. Itachi jadi merasa sangat bersalah kalau begini.

"Sayakan sudah bilang pada anda, seharusnya anda sering meluangkan banyak waktu untuk istri anda, ini kehamilan pertama baginya, dan anda harus selalu ada disampingnya agar ia tidak mengalami stress berat yang akan berdampak buruk pada pertumbuhan bayi yang ada didalam kandungannya, anda mengerti Tuan?"

"Hn, saya mengerti" angguk Itachi dengan senyuman palsunya, demi Kami-sama mulai sekarang ia akan benar-benar menjaga Ino dengan baik, sumpahnya dalam hati.

"Dan untuk anda Nyonya, saya harap mulai saat ini anda benar-benar memperhatikan kandungan anda, jangan merasa stress atau tertekan lagi, ungkapkan semua apa yang anda inginkan pada Tuan Uchiha, dan yang terpenting check up kandungan anda secara rutin, saya tidak mau anda absen-absen lagi" tutur dr. Tsunade pada Ino sambil menulis resep untuknya.

"Iya dokter!" Inopun mengangguk-angguk mengerti.

"Nah ini saya berikan resep untuk Nyonya Uchiha, tolong segera tebus diApotik setelah ini" dr. Tsunadepun menyerahkan resepnya kepada Itachi. "Ah, satu hal lagi Tuan, anda harus selalu memperhatikan pola makan istri anda, gizi antara Ibu dan bayi harus benar-benar tercukupi"

"Baik dok, saya akan memperhatikan itu semua" ucap Itachi sungguh-sungguh.

LOVE TO LOVE YOU

"Tunggu disini sebentar, aku akan keApotik untuk menebus obatmu" ujar Itachi pada Ino, mereka berdua saat ini tengah berada diloby rumah sakit.

"Iya!" angguk Ino patuh, lalu duduk dikursi tunggu sambil melihat kepergian Itachi.

Beberapa menit kemudian setelah kepergian Itachi, tiba-tiba Ino tak sengaja melihat seorang anak kecil yang menangis tak jauh dari tempatnya duduk. Wanita bersurai pirang itupun segera menghampiri anak perempuan itu karena merasa kasihan.

"Hwaaaa Ibuuuu, Ibu kemana…hiks hiks.." anak kecil itu menangis tersedu-sedu.

"Adik kecil, kau kenapa?" Tanya Ino khawatir sambil menyentuh pundak anak kecil imut itu.

" …Ibuku tidak datang-datang bibi" jawabnya dengan sesenggukan.

"Memangnya ibumu kemana?"

"Ibu, hiks, ibu,,katanya beli obat, ta-tapi tidak kembali-kembali huwaa….."

"Ssshhh sudah ya, anak cantik tidak boleh menangis" ujar Ino dengan lembut. Berusaha untuk menenangkan gadis kecil yang ia rengkuh saat ini, jika begini, ia jadi teringat akan panti asuhannya yang ada diKorea, ino jadi sedih, ia sangat merindukan anak-anak disana. Namun Ino segera menepis kesedihan itu, sekarang ia harus menolong anak kecil itu agar segera dapat bertemu dengan ibunya."Bibi..akan membawamu bertemu dengan Ibumu, Ayo" ajak Ino pada si anak.

"Tapi aku tidak bica jalan, ka-kakiku cakit.." ungkap gadis kecil itu dengan wajah polosnya.

"Eh.." Ino agak sedikit terkejut, jika bocah yang ada didepannya ini tidak bisa jalan, lantas bagaimana ia akan membawa bocah itu untuk bertemu Ibunya? Inopun lantas berfikir sejenak, menimbang-nimbang keputusan yang akan ia lakukan. Dan setelah beberapa saat ia berfikir, akhirnya iapun memutuskan untuk menggendong bocah tersebut. Tak ada cara lain lagi.

"Bagaimana bibi?" Tanya bocah itu dengan sorot memohon.

"Ya sudah, bibi akan menggendongmu, ayo!" Inopun mulai mengangkat tubuh bocah yang lumayan berat itu dan menggendongnya disebelah kiri. Sebelum berjalan, Ino sempat menghela nafas sejenak, melonggarkan tubuh bocah itu agar tidak menekan perut buncitnya. "Oke, kita cari Ibumu sekarang!" ucap Ino pada bocah itu dengan senyuman tulusnya.

"Um!" bocah itupun mengangguk setuju. Dan Inopun segera berjalan menuju Apotik.

.

Itachi telah selesai menebus obat Ino diApotik, dan kini ia harus kembali keloby untuk menjemput wanita tercintanya itu. Seulas senyuman tipispun tercipta dibibir merahnya. Entah kenapa saat ini ia merasa seperti seorang suami yang tengah melakukan beberapa hal untuk istrinya yang sedang hamil. Padahal Ino dan Itachi belum resmi menikah, tapi mulai sekarang Itachi akan menganggap Ino seperti istrinya sendiri. Sebenarnya Itachi ingin sekali menikahi Ino secepatnya, namun ia tahu jika saat ini waktunya sangat tidak tepat untuk merealisasikan keinginannya tersebut. Jika ia menikahi Ino sekarang, lantas bagaimana dengan orangtuanya, dengan karirnya, dengan pers dan dengan keluarga Ino? Semua orang pasti akan menentang keras pernikahan mereka karena anak yang dikandung Ino bukanlah anak kandung dari Itachi. Alhasil Itachipun memutuskan untuk menikahi Ino setelah anak yang dikandungnya lahir. Biarlah saat ini semuanya menjadi rahasia untuk sementara. Rahasia indah yang hanya akan ia nikmati bersama dengan Ino. Hanya berdua.

Itachi berjalan cepat meninggalakan Apotik Konoha Central Hospital dengan wajah stay cool. Ia melangkahkan kaki jenjangnya menuju loby rumah sakit yang terletak agak jauh dari Apotik yang ia datangi tadi. Pandangannyapun tetap lurus kedepan saat menaiki escalator yang membawanya turun kelantai satu, ia tak peduli akan pandangan-pandangan mata dari para pengunjung rumah sakit yang menatapnya dengan sorot memuja. Itachi sudah biasa mendapat tatapan-tatapan seperti itu,dan iapun tetap bersikap cuek.

Saat tak sengaja menolehkan pandangannya kearah bawah, kedua mata Onyx milik Itachi tiba-tiba terbelalak, ia terkejut akan pemandangan yang ia lihat saat ini. Tiba-tiba ia merasa khawatir sekaligus panik.

"Ino!" serunya dengan nada geram. Lantas iapun segera berlari menghampiri wanitanya yang tengah menggendong seorang bocah perempuan. Ia kesal dan marah ketika melihatnya. Marah karena lagi-lagi Ino membuatnya sangat khawatir terhadap kandungan wanita Korea itu. Kenapa Itachi merasa takut dan sekhawatir ini, ia juga tak tahu. Semuanya terlalu tiba-tiba. Seolah ada dorongan aneh yang selalu muncul dari dalam tubuhnya jika berhubungan dengan kandungan Ino.

.

.

To Be Continued…

.

Nah gimana menurut kalian? Apa msh krg pnjang?, uda kriting nih tgnq hehehehe, tapi lumayan kan…

Oh ya di LTLY, Ita-kun emang agak cuek dan arogan, tapi klo udah berhubungan dg org yg dia cintai, dy psti akan brubah jd manissssss bingits, jadi pngn dipluk Ita-kun *digampar Ino*

Oke readers.. tunggu chapter 8 yah…, pasti ItaIno makin so sweet deh dichap depan, thanks bgt udah mau baca fic yang ugly ini ya, iloveu *peluk-peluk*

dntfrgttoREVIEW