[ LoveStory ]

Genre : Drama. Romance. Action. Adventure. Martial arts weapon. Shoujo. Kingdom.

Pair : SasuSaku.

Naruto Masashi Kishimoto.

Rate : M

[ Sifat Karakter Asli ]

Alur cerita tentang kerajaan nuansa China.

Chapter 07

[ IbuKota ]

Harus ku akui semua telah berubah. Rumah yang dulunya aku tempati bersama Naruto dan Sai. Kini telah dipenuhi oleh perumahan penduduk.

Ada perasaan sedih didalam lubuk hatiku karena waktu berjalan begitu cepat dan semuanya seakan hilang dari hidupku.

Jalan Setapak dipinggiran hutan yang dulunya sering aku lalui kini telah menjadi jalan menuju Ibukota.

Dulu tempat ini dipenuhi begitu banyak jenis jamur dan bunga namun semuanya telah berubah. Sedikit demi sedikit masalalu seperti membayangiku saat diriku menyusuri jalan utama yang dulunya hanyalah hutan kecil.

Kini aku tidak tau kemana arah tujuanku yang sudah hilang entah kemana? Yang aku inginkan sekarang hanyalah untuk membalas dendam kepada seorang jendral.

Tanpa kusadari aku melangkah sampai di pasar yang dulunya sering aku datangi.

Aku hanya bisa sedikit tersenyum saat melihat ketiga bocah sedang berusaha mencuri appel berwarna merah yang tersusun rapi di rak yang terbuat dari kayu.

Ketiga bocah itu memanfaatkan kerumunan pembeli seperti cara yang aku, Naruto dan Sai gunakan dulu.

Aku menyusuri jalan yang cukup dipenuhi pejalan kaki, searah dan berlawanan arah denganku.

Aku berpikir sejenak 'bagaimana caraku untuk membalas dendam?' langkah kaki ini terus menyusuri jalan yang tanpa arah, seperti kehidupan dan tujuanku. Balas dendam dan balas dendam, hanya itu yang terlintas dalam batinku ini.

Dugh.

"Maaf tuan" ucapku saat diriku tidak sengaja mengenai bahu seseorang yang tidak aku kenal.

"Hidup!! Jendral Madara!! Semoga panjang umur!!"

Aku menoleh ke arah asal suara, terlihat jelas seseorang yang aku benci, kini sedang menunggang kuda dengan beberapa pengawal dan pasukan setianya.

"Madara" gumamku.

Aku membenarkan tudung jubah merah yang aku pakai, mencoba menyembunyikan wajahku darinya.

Keputusan yang harus aku ambil kali ini adalah untuk membunuhnya dengan tangan ku sendiri.

"Inikan?"

Aku membaca selebaran tertempel di tembok rumah. Tertulis sangat jelas 'pendaftaran pelayan kerajaan.'

Aku bergegas pergi untuk menuju tempat pendaftaran itu di jatungkota kerajaan Uchiha.

"Apa benar aku bisa mendaftar?" tanyaku kepada seseorang yang mengurus pendaftaran bagi yang memang ingin menjadi pelayan kerajaan.

"Jika nona mau mendaftar itu mudah, tapi harus membayar uang pendaftarnya dulu" ucapnya.

"Berapa?" tanyaku.

"2 keping emas" jawabnya.

"Hah?! Mahal sekali" gumamku.

"Mau bagaimana lagi nona.

Ini adalah suatu yang langka dan hanya ada 10 tahun sekali.

Jika nona tidak mampu membayar uang pendaftaran, masih ada oranglain yang ingin mendaftar.

Kurang 2 orang lagi pendaftaran ini akan ditutup" ujarnya.

"Ini 2 keping emas nya" ucapku, saat memberi 2 keping emas untuk si pemeras itu, menurutku.

Ternyata yang mendaftar cukup banyak, kira-kira 20 orang atau mungkin lebih.

Kerajaan memanglah sangat luas, apa lagi kerajaan yang sangat indah ini. Uchiha kerajaan terluas di daratan Konoha ini.

Sesampainya aku dan kerumunan wanita yang mendaftar ingin menjadi pelayan.

Kami pun dituntun agar mengikuti beberapa macam tes. 'Aku pikir akan berjalan mudah' setelah tes selesai tujuan kami semua adalah tempat tinggal bagi para pelayan.

'Untunglah aku bisa lolos walaupun dengan nilai terendah'

"Namamu siapa? Apa aku boleh tau?" tanya seorang perempuan yang mungkin seusiaku.

"Namaku Sakura. Lengkapnya Sakura Haruno." ucapku.

Mungkin aku harus belajar untuk tegas kali ini walaupun hanya dalam berbicara.

"Namaku Tenten, yah cuma itu yang aku tau." ucapnya.

"Maksudmu?"

"Begini, aku tidak memiliki marga karena dulu aku hidup dipati asuhan" ucapnya lagi.

"Jadi begitu ya" gumamku.

Tenten dia adalah teman sekamarku. Semoga saja aku bisa mendapatkan teman ditempat ini.

Setelah pelatihan yang menyibukan bahkan sampai membuat diriku ini kelelahan, tanpa terasa sore pun menuju malam.

Semua diharuskan agar cepat beristirahan karena besok pagi pelatihan akan dimulai lagi.

Ternyata sebagai pelayan sangat berat juga lebih mudah berlatih pedang atau berburu rusa ditengah hutan dari pada harus mencuci dan memasak juga membersihkan hampir seluruh halaman tempat kami semua tinggal.

Mereka menyebutnya tempat ini adalah asrama pendidikan pelayan.

"Sakura?"

Aku menoleh ke arah kiri, Tenten masih terjaga begitu juga denganku.

"Tujuanmu menjadi pelayan apa?" tanyanya.

"Aku memiliki tujuan yang besar" jawabku.

"Wah, tujuan apa itu?"

"Rahasia, kau tidak boleh tau."

Dia terlihat kesal dan masih saja bertanya, penasaran dengan apa tujuanku yang aku rahasiakan darinya. 'Mana mungkin aku akan bilang tujuanku ingin membunuh jendral Madara kan?'

Pagi-pagi buta kami harus bersiap untuk semua kesibukan yang menanti. Tenten dan aku, kini berada di dapur kerajaan membantu juru masak yang ada di Istana kerajaan.

"Hey, kau cepat cuci ini semua!" ucap juru masak.

"Baik nona" jawabku.

"Sakura, aku akan membantumu" ucap Tenten.

"Aku jadi merepotkanmu" ucapku.

"Hehe.. Jangan bicara seperti itu kitakan teman."

"Benar juga kitakan teman" gumamku.

Aku mulai menikmati pekerjaan yang aku lakukan sekarang. Biarpun hanyalah sebagai pelayan istana kerajaan.

'Aku harus menunggu jalanku untuk balas dendam.'

"Sakura! Kenapa kau melamun? Ayo cepat sini, kita akan mendapat hukuman jika terlambat" ucap Tenten.

"Ah, iya.."

Saat malam hari, aku diam-diam keluar dari asrama.

Pergi untuk melihat suasa istana yang penuh dengan penjaga tapi aku bisa mengelabuhi mereka semua dengan mudah, karena aku sudah menyiapkan diriku untuk apapun yang akan terjadi padaku.

"Malam yang indah.

Bulan pun terlihat sangat cantik"

Aku hanya bisa bersembunyi dibalik tembok, saat aku mengintip, mencoba melihat siapa yang berkata puisi singkat itu?

"Heeh.. Ternyata hanya penjaga saja" gumamku.

"Kau seperti musafir saja"

"Hahaha... Walau aku bukan musafir paling tidak bisa membuat puisi pendek yang indah"

Aku perlahan pergi dari tempat itu dengan hati-hati dan menjaga tiap langkahku.

Untung malam ini bulan purnama yang sebagai penambah penerang langkahku.

"Aku harus cepat kembali.

Sial penjagaan menuju taman istana dijaga sangat ketat" gumamku, saat aku melangkah pergi.

Sesampainya aku di kamarku, Tenten masih tertidur pulas membuatku bisa bernafas lega. Aku mulai memejamkan mata dan bersiap untuk kesibukan yang akan menunggu saat pagi hari nanti.

'Semoga besok malam, aku bisa memasuki taman yang dikatakan indah oleh Tenten'

BERSAMBUNG

NEXT

Chapter 08

[ Pilihan ]