Eunoia
.
.
Jika kau ingin melakukannya
Belum tentu kaubisa
Namun jika kau tak melakukannya
Kau takkan bisa
Kurasa itu cukup keren!
.
Chapter VI: Keluarga Uzumaki Punya Masalah Yang Unik
.
5.1
.
Aku menghela napas, dan uap hangat mengumpul di depan wajahku. Salju turun dan mendinginkan otakku. Sampai tadi, aku benar-benar merasakan hari yang sungguh panjang. Berurusan dengan Sitri, bertemu Uchiha, berunding dengan Bu Rossweisse. Semua itu benar-benar menguras tenagaku.
Berurusan dengan cewek berkacamata itu saja sudah bisa membuatku merasa akhir dunia sudah dekat, apalagi harus bertemu dengan cowok tiada guna itu, ditambah setelah kupikir semua itu sudah berakhir, Bu Rossweisse datang kepadaku.
Mungkin setelah ini aku harus pergi ke tukang pijat wajah, agar kulit mukaku tak keriput duluan.
"Aku pulang."
Aku sedang berdiri di pintu rumah sambil menengok sesekali ke jendela, dan saat aku bilang begitu, seseorang dengan tangan memegang gagang panci menatapku. "Selamat datang."
Dia itu ibuku, wanita berambut merah dan berwajah yang sama sekali tak mencermikan umurnya. Bayangkan saja, umurnya mendekati empat puluh lima tahun, tapi wajahnya bahkan lebih bersinar dari karyawati muda yang melamar pekerjaan. "Oh, ternyata kau, Naruto. Saat aku melihat ada mata mengerikan melihat ke jendela tadi kukira ada orang jahat. Yah, panci yang kubawa jadi sia-sia."
"Tak ada ibu yang bilang seperti itu pada anaknya yang baru pulang sekolah!"
Lagipula, bukan kata-kata seperti itu yang cocok untuk dikatakan ibu-ibu pada anaknya. Apa kau sangat benci padaku?
"Bukan begitu..., aku hanya takut terjadi hal yang tidak-tidak. Di rumah hanya ada aku dan Naruko. Ayahmu juga belum pulang, jadi aku tak bisa mengeluarkan jurus yang baru kami latih. Walau ada juga jurus yang baru-baru ini kulatih sendiri."
"Sekarang aku kasihan pada penjahat itu jika sampai melakukan hal yang tidak-tidak di rumah kita."
Seperti yang pernah kubilang, ibuku ini walau agak meragukan adalah pelatih tetap Taekwondo di suatu perguruan bela diri, dan ayahku adalah penerus Kung-fu keluarga Namikaze. Jadi, jika sampai ada penjahat yang merasakan amukan mereka berdua, aku tak yakin orang itu akan bisa melihat hari esok dengan tenang. "Ya sudah, aku sudah menyiapkan makan malam. Cepat mandi dan ganti bajumu, ayahmu juga akan segera pulang."
Langit sudah merah, dan matahari hampir terbenam. Perutku sudah sangat lapar, jadi saat ia bilang begitu, aku hanya bisa mengangguk dan segera masuk ke dalam.
.
"Jadi, bagaimana harimu, Naruto?"
Pria yang sedang berbicara itu ayahku, Namikaze Minato. Walau nama marga kami berbeda, tapi, dia benar-benar ayahku. Rambut kami sama-sama pirang, mata kami sama-sama biru, dan bahkan, jika rambutku sedikit panjang dan kumis di wajahku dihilangkan, mungkin ibu akan mengira aku suaminya. Tidak, membayangkannya saja membuatku ngeri. Pokoknya, kami hampir terlihat seperti orang yang kembar.
Alasan mengapa dia memiliki marga berbeda, adalah karena ayahku adalah pria yatim piatu yang ditinggal mati orang tuanya saat berumur dua tahun, dan harus hidup dengan kakeknya yang kemudian meninggal saat berumur dua belas tahun. Jadi, setelah itu, dia harus hidup pontang-panting di kota, dan akhirnya bertemu dengan ibu yang akhirnya mereka berpacaran lalu menikah. Yang karena keluarga Uzumaki adalah keluarga besar, maka mereka takkan membiarkan salah satu anggota keluarga mereka menjadi anggota keluarga yang asal-usulnya tak jelas seperti Namikaze.
Jadi, ayah diadopsi menjadi keluarga Uzumaki.
Nah, walau hubungan mereka sama sekali tak ditentang, tapi karena sifat jahil yang keterlaluan kakek dan nenekku, ayahku cepat-cepat memutuskan untuk pergi dari rumah besar Uzumaki dan tinggal sendiri. Dan karena ayahku hanya terlibat dengan ibuku, makanya dia menggunakan nama marga aslinya, katanya Namikaze memiliki sejarah bela diri yang kuat. Sementara aku dan adikku yang memiliki hubungan erat dengan keluarga ibu menggunakan marga Uzumaki.
"Tak menyenangkan. Aku harus berurusan dengan orang yang super merepotkan."
"Eh? Kau, berurusan dengan manusia?"
Jangan tatap aku seolah aku itu sedang melakukan hal yang aneh, dan apa-apaan kata-katamu, memang aku bukan manusia? Aku ini juga anakmu!
"Jangan bertanya seolah kau meragukanku, Ibu!"
Kami baru saja selesai makan dan sedang berkumpul di bawah kotatsu. Adikku ada di sampingku, dan sedang menikmati jeruk yang terlihat sangat manis, ibu ada di depanku, di samping ayah. Ah! Musim dingin di bawah kotatsu benar-benar menyenangkan!
"Aku tak meragukanmu, aku hanya tak menyangka ada orang yang mau berurusan dengan orang bermata mengerikan sepertimu dan punya kebiasaan selalu berpikir negatif. Aku hanya kasihan pada orang itu."
Orang ini!
"Ibu, bukannya sudah aku bilang, yang kasihan itu aku. Lagipula, Ibu tak tahu saja seberapa menyebalkannya mereka."
"Ah, sudah..., sudah. Kushina, jangan terlalu mengejek Naruto begitu, bagaimanapun, dia itu darah dagingmu juga. Sudah lupakah kau, sifat dan keras kepalanya juga berasal darimu 'kan?"
Seperti yang diharapkan dari ayah, dia ada ketika aku dan ibu berada di level perdebatan tak berguna yang akan membuat semua jadi repot. "Benar yang dikatakan ayah! Jika aku punya mata yang mengerikan dan sifat negatif, itu semua berasal dari Ibu. Dasar, orang tua tak bertanggung jawab!"
"Jangan panggil aku tak bertanggung jawab, anak durhaka! Mungkin benar, kata orang, buah tak jauh dari pohonnya. Tapi, dalam kasusmu itu hal lain. Ibarat kata, kau itu buah kelapa di pinggir sungai yang jatuh ke dalam aliran air yang membawanya pergi ke hilir."
"Jadi, dengan kata lain, kakak adalah buah yang hanyut di sungai, dan tak tahu rimbanya di mana?"
"Hmph! Kau benar, Naruko. Buah yang jatuh di bawah pohon setidaknya masih berguna untuk pupuk bagi induknya, tapi buah yang jatuh ke sungai hanya akan membusuk tanpa guna."
"Bahkan Naruko! Ibu, jangan racuni otak adikku dengan kata-katamu! Dan apaan maksud tanpa guna, apa kau ingin bilang kalau aku adalah tipe orang yang tak berguna bagi orang lain bahkan diri sendiri?"
"Aku tak pernah bilang begitu, itu kau yang bilang."
Terkadang, aku ingin melupakan bahwa aku adalah manusia yang pernah berada di perut orang ini. Benarkah ada seorang ibu yang bisa bilang hal seperti itu pada anaknya? "Aku tak yakin orang sepertimu bisa jadi ibu."
Aku menatap cewek berambut pirang yang sedang berbinar matanya.
"Dan yang paling penting, mengapa sekarang orang yang paling kupercayai jadi ikut-ikutan mengejekku? Naruko, sudah bencikah kau pada kakakmu ini?"
Naruko itu adikku yang paling manis sedunia. Bahkan aku yakin alasan mengapa setiap kali ia membuatkanku kopi selalu terasa asin adalah karena gula yang seharusnya menjadi manis malah menangis karena kalah manis dengan pembuatnya. Dengan rambut pirangnya yang panjang dan sungguh terasa lembut itu, mata biru laut berkilau yang begitu indah, dan wajah yang cukup untuk membuat lelaki menabrak tiang listrik, dia sungguh berkilau.
Walau aku yakin setiap orang yang melihat kami berjalan bersama akan mengira salah satu dari kami adalah doppelganger[1]. Yang artinya, kami begitu mirip, tapi dalam artian lain, dia sungguh berbeda.
Aku dan Naruko itu seperti perut bumi yang diinjak-injak dan tak tahu di mana rimbanya dengan sebuah rembulan yang bersinar namun indah dipandang. Jika rambut kami sama-sama pirang, maka milik Naruko adalah permata yang membuat semua orang mencarinya, sementara milikku adalah sianida yang membuat orang-orang mati keracunan. Mata kami mungkin sama-sama biru, namun, milik Naruto adalah matahari yang menyinari dunia, lalu milikku hanya ada kegelapan yang penuh kengerian.
Entah bagaimana, saat membicarakan tentang wajahku yang mirip dengan ayah dan Naruko, aku merasa, diriku ini hanya kebagian bagian yang jelek-jeleknya.
Makanya, dalam berbagai kesempatan, ibu dan ayah lebih sering membawa Naruko untuk dijadikan 'anak' ketika ada acara penting keluarga. Yah, walau aku tahu itu diskriminasi, tapi setidaknya, tak ada yang tersakiti di sini.
Aku senang tak perlu berhadapan dengan orang lain, Naruko senang dapat banyak makanan, dan ayah serta ibu senang anaknya yang bermasalah tak membuat masalah di rumah orang.
"Benci? Tidak, sama sekali tidak!" tangannya yang dikibas-kibaskan bergerak senada dengan rambutnya yang bergoyang. Ah! Manis sekali adikku ini! "Naruko takkan pernah membenci Kakak!"
Tuhan!
Dari sekian mukjizat yang Engkau turunkan ke bumi ini, mungkin ini adalah hadiah terbaik yang pernah ada bagi hamba. Walau hamba dibenci masyarakatpun, hamba akan terus bersyukur pada-Mu. Terimakasih atas adik manis yang menenangkan hati ini!
"Jadi, mengapa kau ikit-ikutan mengejekku?"
"Oh, itu!" Naruko mengacungkan jarinya dan menutup matanya sambil tersenyum lebar. "Naruko hanya terkesan pada perkataan ibu. Kalau Kakak adalah buah yang jatuh dari pohon dan tercebur ke sungai."
Aku tak tahu bagian mana yang bisa membuat orang terkesan. Yang kulihat, semua itu hanya kata-kata yang menyakitkan. "Kalau boleh tahu, apa yang spesial dari kata-kata itu?"
Dia mengambil jeruk dan mengupasnya. Tangannya yang mungil bergerak dengan lincah. "Begini, Kak... Kakak tahu 'kan kalau tetumbuhan yang tak bisa bergerak menggunakan buahnya yang terlihat menarik untuk membuat para pemangsa mereka menyebarkan biji-bijian buah yang merupakan benih mereka agar dapat terus berkembang dan bertahan hidup?"
"Iya." Itu pelajaran dasar biologi.
"Nah, maksud Naruko, bukannya ibu bilang kalau Kakak adalah buah yang terbawa aliran sungai? Yang artinya buah itu kelak akan berkembang menjadi tanaman yang sama dengan induknya. Dan bukannya itu keren? Buah itu akan membuat ekosistem sendiri tanpa induknya tahu? Dan itu terjadi bahkan tanpa bantuan orang lain!"
Karena tumbuhan tak memunyai kaki untuk menanam anak mereka, jadi mereka meminta bantuan hewan lain agar terus menyebarkan biji mereka. Masalahnya, suatu saat pasti ekosistem induk akan hancur. Entah karena bumi yang tak mengizinkan, atau karena hewan lain. Jadi, agar mereka terus eksis di dunia ini, maka satu-satu jalan hanyalah membuat ekosistem baru di tempat lain, dan menyerahkan estafet kehidupan pada anaknya. Eh, tunggu! Aku mulai paham dengan apa yang Naruko maksud.
"Ja..., jadi, maksudmu... Aku adalah buah yang kelak akan melestarikan keturunan Uzumaki walaupun aku tak dianggap di keluarga Uzumaki itu sendiri. Seperti orang yang melakukan sesuatu tanpa pamrih orang lain?"
"Benar sekali! Kakak seperti pahlawan keadilan yang menyelamatkan keluarga Uzumaki agar tetap eksis di dunia ini."
Adikku! Pikiran positifmu itu telah menyelamatkanku. Seberapa kalipun kupikirkan, anggapanku tentang ejekkan ibu itu hanyalah kata-kata yang menyakiti hatiku. Tapi, kau malah berpikir seperti itu, menganggap betapa kerennya daku ini. Adikku ini benar-benar filsuf sejati. Tidak lebih dari itu, dia itu malaikat, bukan, Dewi Yang Maha Agung!
"Dewi Naruko..." aku bersimpuh di hadapannya dan meraih tangannya lalu meletakannya di puncak kepalaku. "terimakasih atas pencerahan yang engkau berkati kepada hamba."
Mulai besok, aku akan menyembah dan menghormati adikku ini!
.
.
5.2
.
.
Aku kembali bergelut di dalam kotatsu yang sungguh hangat. Dan bicara soal kotatsu, mungkin apa yang dikatakan orang tentangnya memang benar. Kotatsu itu membuat orang menjadi tak berguna.
Masalahnya, bayangkan saja, di musim dingin seperti ini, orang-orang sedang malas-malasnya keluar. Lalu, di rumah mereka ada alat ajaib yang bisa membuat hangat tubuh mereka. Maka aku yakin orang-orang akan lebih memilih tetap berada di rumah dan tidak melakukan apapun, hanya malas-malasan sambil menghabiskan waktu.
Seperti saat ini. Bukannya melakukan pekerjaan yang lebih bermanfaat, keluargaku malah duduk melingkar di kotatsu dan memakan jeruk sambil mengobrol hal-hal yang tak berguna. "Jadi, Naruto, mengesampingkan fakta kalau kau hanyalah seorang NEET yang dikucilkan dari kehidupan sosial, seperti apa orang yang bisa berurusan denganmu?"
"Jangan panggil anakmu dengan sebutan itu. Dan aku tak dikucilkan, aku hanya malas bersama orang lain." Ah, tidak, aku tak boleh asal berbicara seperti itu. Jika ibu sampai merespon kata-kataku dan membalasnya lagi, mungkin perdebatan kali ini takkan pernah selesai. Jadi, tenangkan dirimu, Naruto!
Ayah dan ibu serta Naruko masih menatapku. "Tapi iya, aku juga tak tahu, bagaimana bisa aku berurusan dengan orang lain. Pokoknya, mereka adalah kumpulan orang-orang paling bermasalah yang ada di sekolah."
"Hmm, begitu... Jadi, apakah mereka seperti yang 'biasa'-nya?"
Saat ayah bilang begitu, sejenak lintas kehidupan seolah menembus pikiranku. Masa SMP-ku yang suram, perkelahian dengan kelompok anarki anak-anak berandalan, sampai keluar masuk ruang kepala sekolah. "Tidak, dan sebegitu seringkah aku berkelahi dengan anak-anak berandalan sampai Ayah menyebutnya biasa."
"Mungkin bisa dibilang begitu."
Hatiku tertusuk! Ayah, tolong jangan katakan hal menyakitkan seperti itu dengan wajah polos sambil santai membaca begitu. Aku jadi mengingat wajah Sitri yang memiliki sistem ekspresi yang sama. Lagipula, saat bilang masalahku yang menumpuk dengan anak berandalan, orang pertama yang harus disalahkan dalam hidupku itu ayah sendiri.
Jika ayahku dulu tak mengajariku tentang ilmu bela diri, mungkin aku takkan sesial ini.
"Selain itu, Naruko juga penasaran dengan orang-orang yang berurusan dengan Kakak."
Aku menatap Naruko yang seperti biasa, kata-katanya menentramkan hatiku. Mungkin, jika semua orang memiliki sifat seindah adikku ini, dunia ini takkan pernah tersulut perang. Masalahnya, apapun yang dikatakan adik manisku ini, selalu terdengar indah di telingaku. Seperti saat ini. Meski hatiku sedang meradang, suara Naruko yang lebih indah dari bidadari itu perlahan menyembuhkan lukaku. "Ah, iya."
Ibu sekarang sibuk mengupas jeruk untuk suami tercintanya. Sementara ayah sendiri sedang membaca koran. Yang benar-benar memerhatikanku hanya Naruko seorang. "Hanya seorang guru yang jadi perawan tua. Seorang gadis SMA tanpa ekspresi. Dan Uchiha tak berguna itu."
Yah, walau terlihat normal bagi orang lain, tapi, yah, mereka jelas-jelas bukan orang normal. Apalagi, besok, di hari mingguku yang berharga, aku harus datang ke rumah Bu Rossweisse hanya untuk latihan basket yang aku yakin juga hanya akan membuat hatiku sakit.
Tapi, sebenarnya, yang masih sangat aku sesali sampai sekarang hanyalah alasan mengapa aku bisa terlibat dengan mereka. Hanya itu. Masalahnya, jikapun aku bisa melakukan apa yang diperintahkan Bu Rossweisse, tak ada keuntungannya bagiku.
Dalam kasusku, aku jelas-jelas bukan pangeran yang akan menyelamatkan tuan putrinya dari bahaya, kemudian menikahinya. Bahkan, daripada begitu, aku lebih mirip goblin yang menculik tuan putri yang sedang berpesta di kerajaan mewah.
Rencana Klub Penelitian Ilmu Gaib bersama seorang anggota luar yang direkrut dengan sangat terpaksa adalah memisahkan dua orang yang sedang mabuk asmara karena beberapa alasan yang sebenarnya masih berupa hipotesa awal yang belum diuji. Hipotesa tersebut adalah, jika sampai kesucian gadis Gremory hilang, sekolah juga akan ditutup.
Begitu.
Walau sebenarnya, aku juga tidak peduli dengan kesucian bitch itu, lagipula, dilihat dari segi manapun, dia malah sepertinya akan begitu senang bila itu sampai terjadi. Tipe bitch. Cewek yang paling kubenci. Meski faktanya aku membenci semua cewek. Kecuali bidadari manisku itu.
Eh, tunggu..., bicara soal Naruko, aku tak mendengar responnya. Apa mungkin terjadi sesuatu?
"Na..., Naruko?"
Aku yang sendari tadi menatap ujung jariku, mengalihkan pandangan ke Naruko yang sekarang sedang tersungkur sambil memancarkan aura aneh yang membuatku agak ngeri. "Apa yang terjadi padamu?!"
"Kakak..."
Dengan cepat, aku meraih pundak Naruko. "Katakan apapun pada kakakmu ini!"
Tuhan, apa yang terjadi dengan adik manis hamba ini? Mungkin aku terjebak dalam lubang cacing sesaat tadi? Atau mungkin aku terhenti dan tersingkir dari aliran waktu! Dan selama itu terjadi ada penjahat yang menerang dan menghabisi keluargaku. Sialan!
Revival! Aku ingin melakukan revival!
Satoru-kun, pinjamkan kekuatanmu padaku!
"Naruto..."
Naruko hanya diam saja sambil matanya tertunduk. Aura keunguan yang menyelimutinya yang membuatku agak ngeri sekarang benar-benar membuatku ngeri. Dan ketika aku melihat ke arah ibu, walau tak semengerikan Naruko, dia juga telihat sangat syok. "Apa..., apa yang sebenarnya terjadi di sini?!"
Yang tak kuketahui ekspresinya hanya ayah, karena wajahnya yang ditutupi koran. Tapi dari caranya memegang lembaran kertas itu, memang ada yang aneh juga dengannya. "Tak kusangka..."
Apa yang tidak kausangka, Ibu!? Jangan potong kata-katamu di tempat ambigu seperti itu. Hal yang kubayangkan tak mungkin terjadi bukan? Waktu tak mungkin berhenti ketika aku bicara tadi 'kan?
Jika begitu, maka mungkin sekarang aku sedang dikejar-kejar oleh organisasi rahasia dunia yang siap membuatku jadi puding jeli ketika bertemu dengannya. John Titor, di manakah dirimu?
"Apanya?!"
Kata orang kelebihan emosi memang tak bagus. Tapi bagiku, karena emosi yang biasa kukeluarkan hanya sedikit, dan sisanya hanya bermalas-malasan. Makanya, berteriak dari tadi membuatku kekurangan energi sekarang. Lalu, pikiranku buyar dan menidurkan diri di pundak Naruko. "Naruko, aku kehabisan energi."
Kupikir, aku akan tertidur di pundak kecilnya, tapi, saat dia tiba-tiba mundur, kepalaku yang sudah tak memiliki sandaran jatuh tersungkur. "Aduh!" dan hasilnya, aku terkapar di lantai.
Menjadi seorang penyendiri yang pekerjaannya hanya tidur dan membaca buku ternyata lebih susah dari yang kubayangkan. Karena biasanya aku berada dalam safe mode, bahkan dalam perkelahian sekalipun, maka saat aku menggunakan balance mode tadi, stok energi yang tersisa sedikit sekarang sudah habis. Aku tak menyangka, perdebatanku dengan ibu bahkan membuatku lebih sengsara daripada perdebatanku dengan Sitri.
"Setidaknya, jika kalian masih punya sedikit perasaan, bantulah aku."
Tak ada yang datang menolongku! Bahkan Naruko sekalipun!
Walau aku mulai merasa nyaman dengan posisi ini, tapi dinginnya lantai malah membuatku mulas. Seseorang, tolong bantu tubuh tak bertenaga ini!
"Naruko sudah menduga ini akan terjadi, tapi, bagaimanapun, ini masih terlalu menyakitkan bagi hati Naruko."
Adikku yang manis, yang tersakiti itu kakakmu ini.
"Aku juga belum siap menerima kenyataan ini."
Ibu, hentikan ucapanmu! Jangan gunakan kesempatan ini untuk membuatku tambah bingung. Sialan, aku terlalu malas untuk bicara!
Naruko yang tadi menjauh dariku tiba duduk di sampingku sambil menunyuk-nunyuk pipiku. "Bagaimana Kakak bisa bersama cewek lain selain Naruko?"
Eh, bersama?
"Benar, dan yang lebih penting, apa sekarang tipemu adalah ibu-ibu yang lebih tua sepuluh tahunan lebih darimu?"
Lebih tua?
"Jadi Kakak sekarang sudah tak suka pada Naruko lagi?"
Beneran! Aku tak tahu apa yang sedang kalian bicarakan. Dan juga, dengar Naruko! Bahkan mati sekalipun, aku akan selalu mencintaimu. Maka, tolong jangan katakan kata-kata seperti itu.
"Keselamatanku terancam. Aduh, bagaimana ini, Minato?"
Dari seribu hal yang tak bisa kupahami mungkin situasi dan apalagi kata-kata ibu tadi yang paling tak bisa kumengerti. Apaan tentang 'terancamnya keselamatan'? Yang ada, orang yang akan melakukan sesuatu pada ibu akan langsung dibubur di panci panas.
Naruko memelukku dari atas. Tidak, tunggu! Bobot badanmu meski ringan sungguh membebani badan yang sudah tak memiliki tenaga ini, adikku. Bukannya aku tak senang, tapi, daripada membebaniku, lebih baik, kauangkat aku dan bawa aku ke kamar untuk istirahat. "Kakak..."
"Naruto sekarang mungkin sedang mengincarku. Minato, anakmu mungkin suatu saat akan berkhianat padamu, dan menikahi ibunya sendiri."
"Oi!"
Aku tak tahu apa yang merasukiku sampai bisa berteriak kencang seperti itu dalam critical mode seperti ini. Tapi, memang benar, kata-kata ibu berefek sangat besar pada perubahan energiku. Sekarang tubuhku benar-benar lemas!
"seperti di anime-anime harem yang bahkan memakan keluarganya sendiri."
Aku bukan karakter utama di anime harem! Bahkan, jika bisa, aku lebih memilih sebagai tokoh pendukung di komik yang bahkan tak digambar dengan sempurna. Lagipula, yang jadi masalah di sini..., KENAPA BISA IBU KEPIKIRAN HAL SEMACAM ITU?!
Aku tak mungkin mengincar wanita sangar sepertimu. Meski kau bukan ibuku, dan hidup semasa denganku, aku takkan pernah kepikiran bahkan sekedar berbicara denganmu. Jadi, mana mungkin aku mau menikah denganmu?
"Kushina..."
Itu suara ayah!
Jelaskan pada ibu betapa bodohnya pikiran dalam istrimu itu!
"..., aku berjanji akan selalu menjagamu. Bahkan jika Naruto ingin melakukan kudeta, akan aku habisi dia!"
Bahkan ayah sekalipun!
Apa urusanku dengan guru perempuan yang lebih tua dariku memang seaneh itu? Atau mungkin memang otak keluargaku yang sudah rusak?
.
.
5.3
.
.
Ada yang bilang kalau keluarga adalah tempat pertama manusia belajar berinteraksi dengan sesamanya. Di mana manusia mulai membentuk karakternya, yang dicontoh dari kedua orang tuanya. Jika orang tuanya baik, maka kecenderungan anak untuk berbuat baik akan lebih besar. Begitu pula sebaliknya. Orang jahat akan memiliki anak yang berkecenderungan berbuat jahat.
Seperti itulah dunia ini terus berputar. Mulai dari zaman sebelum manusia belum mengenal tulisan, bahkan bahasa, sifat setiap induk terus diturunkan ke dalam darah keturunannya. Kejahatan, dan kebaikan.
Makanya, hal-hal dalam sejarah terus dan terus berulang. Perang, kajahatan yang akhirnya kalah oleh kebaikan, semuanya hanya seperti garis berputar yang digambar spiral. Terlihat berbeda namun bertitik temu sama.
Tapi, itu teori yang seharusnya, maka, kehidupanku benar-benar bisa dikatakan garis menyimpang yang tak sengaja dicoretkan Tuhan karena mengantuk.
Maksudku begini, dilihat dari silsilah keluargaku, tak ada keluargaku yang memliki sifat dan kebiasaan serta berpikiran sama denganku.
Dari keluarga ayah, misalnya. Meski ayah tak terlalu paham dengan keluarga sendiri, tapi melihat dirinya, sepertinya keluarganya termasuk keluarga yang mengenal sopan santun dan termasuk keluarga yang berbudi pekerti luhur. Sebab, dari cerita ayah dan ibu, bagaimana ibu bisa suka dengan orang yang sungguh berkepribadian terbalik dengannya ini adalah karena ayah merupakan satu-satunya teman yang bisa bertahan selama bertahun-tahun dan hampir tak pernah bertengkar dengan ibu.
Dan yah..., orang yang bisa bersama dan tidak emosi ketika bersama wanita mengerikan ini, hanyalah mereka yang memiliki hati seputih salju.
Lalu, sekarang bicara soal keluarga ibuku. Meskipun, kelihatannya sifat mereka itu sama sekali tak baik sepertiku, tapi sebenarnya jika dilihat lebih dalam, mereka bahkan lebih berbudi daripada ayah.
Contoh mudah saja, sebagai keluarga kelas atas yang memiliki silsilah murni, harusnya Uzumaki takkan pernah membiarkan orang lain yang tak jelas asal-usulnya seperti ayah masuk dan menikahi putrinya. Tapi, kakek dan nenekku malah melakukan itu dengan senang hati. Selain karena mereka adalah orang tua berpikiran modern yang tak terpaku pada aturan keluarga yang merepotkan, itu pasti karena kebesaran hati mereka.
Pasalnya, bayangkan saja, saat itu ibu sudah dilamar oleh orang dari keluarga bangsawan yang jelas-jelas sudah pas dengan mereka. Tapi, ketika ayah datang dan bilang ia menginginkan ibu dan ibu juga melakukan hal yang sama, kakek dan nenek malah lebih menerima ayah dan mengusir keluarga bangsawan itu. Yah, walau dengan sedikit insiden yang membuatku malu mendengarnya, tapi itu cukup membuktikan kalau keluarga Uzumaki memiliki kebesaran hati yang tak bisa dianggap remeh.
Makanya, sekarang aku bingung tentang teori itu. Jika benar manusia terlahir dengan membawa sifat kedua orang tuanya... Lalu, aku membawa sifat siapa?
Jika berbicara soal Naruko, aku setuju. Dia benar-benar mewarisi semua kebaikan dan budi pekerti Uzumaki maupun Namikaze. Tapi, aku...
Aku adalah tipe pemalas yang takkan mau mengerjakan pekerjaan berat yang sepertinya merepotkan. Bahkan, saat terlibat dalam masalah dengan orang lain, aku lebih sering menghindar dan membiarkan orang-orang itu menghancurkan dirinya sendiri. Misalnya saja, ketika aku harus berkelahi dengan anak SMP lain tahun-tahun lalu. Dari luar, memang sepertinya aku yang mengalahkan mereka, tapi apa yang terjadi sebenarnya sama sekali berbeda.
Dibanding mengalahkan mereka, aku lebih sering mengalihkan pukulan yang mereka arahkan untukku ke teman mereka sendiri. Dan setelah itu, karena merasa tidak terima, biasanya yang dipukul itu akan membalas. Lalu, di saat seperti itu, aku tinggal diam dan melihat siklus saling memukul dalam kelompok itu berlanjut. Seperti melakukan devide et empera-nya orang Belanda.
Selain itu, aku juga adalah orang yang selalu berpikiran negatif dan hanya kepada Naruko aku bisa berbuat baik. Tak pernah memedulikan, apalagi menolong orang lain dan hanya selalu memikirkan diri sendiri.
"Jadi, Kakak tak membenci Naruko?"
Aku jelas tak mewarisi sifat ayah bahkan ibu. Apa mungkin, aku adalah anak adopsi yang dipungut mereka? Tapi melihat ciri fisikku, itu tak mungkin. "Aku akan selalu mencintaimu apapun yang terjadi."
Ah, entahlah..., mungkin jika kuumpamakan dengan jus buah. Naruko adalah jus buah yang dinanti semua orang, sementara aku adalah ampas tak berguna dan dibenci serta tak diharapkan lalu berusaha untuk dihilangkan. "Kakak..."
Naruko lalu merendahkan tubuhnya dan merangkul pinggangku.
Batas maksimum penggunaan energiku hari ini sudah melebih batas, dan karena itu aku sekarang hanya bisa duduk di kotatsu sambil menaruh kepalaku di lengan. Berbicarapun, aku hanya bisa mengeluarkan suara dengan volume rendah.
Bahkan tadi, jika Naruko tak membantuku duduk, mungkin sekarang aku masih tiduran di lantai. "Tadi kukira Kakak akan mendapatkan orang lain yang spesial di hati Kakak. Masalahnya, jarang sekali Kakak bicara dengan perempuan 'kan? Dan biasanya di film-film itu, orang yang pertama bicara akan jadi pacarnya."
Aku baru saja selesai menjelaskan situasi yang sebenarnya kepada keluargaku. Tentang Bu Rossweisse, Sitri, dan Uchiha itu. Reaksi mereka berbeda-beda, Naruko seperti yang diharapkan, dia langsung terlihat lega. Sementara ibu malah telihat mengerikan dengan bayang-bayang di matanya. Ayah, aku tak tahu reaksinya, karena koran tentunya.
Lagipula, Naruko, aku bukan hanya jarang bicara pada perempuan 'kan? Aku memang tak pernah bicara pada siapapun selain ke keluarga. "Tenang saja Adikku yang manis. Aku takkan pernah mencintai orang lain kecuali dirimu."
"Janji?"
"Hmph."
Dia spontan memerdalam pelukannya.
Aku melirik ibu yang sedang tertunduk sambil memerah wajahnya. Tangannya terlihat bergerak gelisah, sementara sesekali melirik ayah. Tangan ayah juga bergerak berirama jarinya. "Anu, Naruto..."
Aku hanya menggeram kecil.
"Walau aku tahu kau itu anak yang tak berguna, bermata ikan mati yang mengerikan, berwajah seram, dan selalu berpikiran negatif."
Aku tahu kau ingin meminta maaf, tapi jangan mengejekku seperti itu!
"Masalah tadi, sebenarnya, kukira kau itu mengidap oedipus complex. Karena, yah, kau tahu, kau jarang sekali bersosialisasi seperti yang Naruko bilang, namun, malah sekarang kau sedang berhubungan dengan orang yang lebih dewasa darimu. Maka, tak salah bukan, jika kukira kau sedang mengincarku?"
Jadi kau menyalahkanku?
"Kushina..., akui kesalah pahamanmu!" ucap ayah pelan sambil melipat lembaran korannya perlahan.
Wajah ayah agak sama seperti ibu, tapi tanpa kemerahan. Matanya yang biru penuh penyesalan. "Selain itu, aku juga minta maaf. Aku terbawa suasana oleh ibumu ini."
Aku menghela napas. Jam sudah menunjukkan angka delapan. Sudah dua jam kami duduk di kotatsu sore ini. "Tak apa..." malam ini aku harus istirahat dengan baik untuk latihan basket besok. Ditambah, aku tak yakin bisa melewatkan sesi perdebatan dengan Sitri besok.
"Ibu bersikap begitu karena sikapku juga. Dan Ayah bersikap begitu juga karena sangat mencintai Ibu." karena aku juga akan melakukan hal itu, jika sampai Naruko dibegitukan. "Jadi, tak ada yang salah di sini. Lagipula, tanpa itu semua, keluarga kita mungkin sudah hancur dari dulu."
Karena, satu-satunya kelebihan dari keluarga Uzumaki adalah kekurangannya.
"Dan tolong, seseorang, angkat aku ke kamar, kumohon."
.
.
A/N: Pertama, seperti biasa, saya tak bisa update cepat. Tapi, karena di chap sebelumnya banyak yang minta filler, saya nulis edisi spesial di arc 1. Lagipula, sebelum itu, saya benar-benar minta maaf karena harusnya ini chapter khusus NaruNaru, malah saya nulisnya keluarga Uzumaki. Masalahnya begini..., mungkin awalnya saya kepikiran untuk menyatukan Naruko dan Naruto dengan si adek sifatnya mirip Kirino, bahkan Komachi.
Tapi, gara-gara saya nemu komik Tanaka-kun, dan langsung jatuh cinta sama Rino. Dan kalian tahu, Rino cintanya seberapa sama kakaknya [saya nggak tahu nama depannya Tanaka-kun]. Makanya, saya buat Naruko mencintai Naruto dan begitu pula sebaliknya.
Soal keluarga, dan tekhnik bertarung Naruto sudah saya tulis lengkap di chapter ini. Dari awal memang terknik bertarung Naruto itu bukan [menyerang] ataupun [bertahan] tapi [adu domba]. Jadi, bayangkan saja besok bagaimana Naruto bermain basket dengan juara nasional sekelas Takayama.
Dan juga, saya mohon sarannya di bagian development chara. Saya masih berpikir kalau ketika saya membuat Naruto berbicara dengan seseorang, yang lain seperti didiamkan. Pula, tentang development ceritanya, apa nggak terlalu lambat, atau terlalu bertele-tele atau bagaimana, silakan ditulis. Juga, kira-kira menurut kalian, saya lebih baik mengunakan bahasa sederhana seperti ini atau yang biasa saya pakai. Terakhir, apa yang kalian pikirkan tentang Naruto versi saya. Saya mohon dengan sangat jawabannya, bahkan, dalam bentuk flame, akan saya terima dengan senang hati.
.
.
.
.
Moga Untung Luganda, out!
