Cardfight! Vanguard (c) Bushidroad - Akira Itou.

Fanfic by Ratu Galau.


Pagi minggu pertama di musim gugur. Bulan September.

Sendou Shizuka baru saja hendak masuk ke dapur. Dia menguap sekali, sebelum akhirnya mengukir senyum ketika mendapati mangkuk, piring, gelas dan sumpit sudah tertata rapi di atas meja makan. Kai Toshiki sudah ada di sana, sedang memasak, hingga tak menyadari bahwa Shizuka tengah memerhatikan punggung lebarnya.

Siluet pria yang tertimpa cahaya mentari pagi itu menumbuhkan rasa damai pada hati Sendou Shizuka.

Wanita itu melirik meja makan. Senyumnya terbit, membayangkan betapa lamanya meja makan itu mennyisakan satu kursi saat jam makan bersama tiba. Suaminya jarang ada di rumah, hingga hanya tiga kursi yang terisi selama ini. Bekerja tanpa kenal waktu membuat pria yang mengikat janji sehidup-semati dengannya jarang bertemu dengan anak-anaknya. Sangat jarang mengisi kekosongan dalam meja makan itu.

Hingga akhirnya kekasih sang putra sulung hadir. Meja makan itu penuh, keempat kursinya lengkap terisi beberapa hari belakangan. Shizuka terkikik amat pelan. Jika suaminya pulang nanti, Kai harus dideportasi ke sisi meja yang lain, ah, tapi tidak tega juga memisahkannya dengan Aichi. Toh jika Ayah pulang nanti, mereka pasti sudah resmi menikah.

Resmi menikah.

Ah ... benar. Putra sulungnya akan pergi. Membangun rumah-tangganya sendiri.

Rumah akan sangat sepi jika hanya dihuni oleh dua orang wanita.

Ketika Kai berbalik, ia terpaku canggung mendapati ada yang memerhatikannya. Lamunan Shizuka membuyar, mendapati calon menantunya tengah memberi salam sengan gerakan agak kaku.

"Kamu terlalu formal," kikik Shizuka. Geli. "Tapi terima kasih, ya. Setiap kamu pulang, aku benar-benar merasa lebih santai, karena kamu selalu mengambil alih tugas dapur."

"Tidak masalah. Lagipula aku menumpang di sini, tidak sopan rasanya—

"Menumpang?" Shizuka menautkan alisnya. "Toshiki-kun, ini rumahmu. Dan kami keluargamu. Jangan merasa sungkan dengan kami. Bukankah kamu akan menikahi Aichi sebentar lagi?"

"Benar, tapi—

Sendou Shizuka maju, mengusap pelan helai cokelat Kai Toshiki. Pemuda itu tersentak, namun tak ada protes ataupun kata-kata. Kai hanya dapat memejamkan matanya, membiarkan pucuk kepalanya diusap pelan, membiarkan benaknya membangkitkan kembali masa-masa kecilnya, saat keluarganya masih lengkap. Saat ibunya dulu dengan senang hati mengusap kepalanya. Kini ia mendapatkan lagi usapan itu, dari ibu mertuanya.

"Kamu dan Aichi akan menjadi satu sebentar lagi. Bersatu menghadapi lautan kehidupan, berdua saling mendukung dan melengkapi," ucapan yang terdengar selembut angin musim semi. "Bagiku, kau putraku."

Kai Toshiki hanya menggumam kecil, lalu mengangguk pelan.

"Kamu mirip kucing, deh. Malu-malu meong."

"Ha—" Kai ingin menggeram, tapi karena wajah usil Shizuka mirip Aichi, jadi dimaafkan.

Sekarang ketahuan, kan, gen usil Emi dari mana?

Shizuka menarik kursinya, lalu duduk dan mencicipi sarapannya. "Ayo duduk, kita tunggu calon istri dan adik iparmu bangun," dia tersenyum amat senang. "Masakanmu memang enak. Kalau begini aku mana rela kalian pindah setelah menikah nanti. Tetap di sini saja, ya?"

"Kalau itu yang Anda minta—"

"Kamu beneran terlalu formal, ya," Shizuka tertawa pelan, lalu bersenandung riang. "Tapi menantuku lucu sekali~ mirip kucing~ jadi dimaafkan~"

Kai kehabisan kata-kata, akhirnya hanya bisa ikut duduk di kursinya, ikut mencicipi sarapan. Oh, kurang merica. Ibu mertuanya baik sekali, masih bisa bilang enak walau ada bumbu yang terlupa.

Tak ada yang tahu bahwa kakak-beradik Sendou sudah bangkit sejak tadi dan kini tengah sembunyi di balik dinding dapur, menguping.

"Aku setuju sama Ibu," bisik Emi. "Aichi pergi kuliah ke Amerika saja rumah jadi sepi sekali, loh. Apalagi pergi memulai hidup baru. Sudah, setelah menikah nanti tetap di sini saja, ganti, tuh, tempat tidurmu dengan ranjang king size," Emi menepuk pelan lengan Aichi. Dan tentu saja, kalau Aichi pindah, aku tak bisa menguping atau mengintip saat Kakak Ipar dan Aichi main Smack Down di malam hari.

"Begitu, ya?" Aichi menggaruk pelan pipinya. Ada rasa haru membuncah dalam batinnya. Tolong, Kakaknya percaya.

"Karena aku ingin rumah ini tetap ramai. Pokoknya Kakak Ipar harus setuju dengan permintaan Ibu. Jangan pindah."

"Aku setuju, kok."

Keduanya menoleh kaget, mendapati Kai Toshiki sudah bersandar di ambang pintu. Keduanya terkekeh kaku, lalu masuk ke ruang makan seraya berlari kecil.

"Hayo, kalian berdua nguping, ya?" Shizuka menuduh dengan nada bercanda Emi hanya terkekeh sedangkan Aichi sudah menunduk malu.

"Jadi Kakak Ipar dan Aichi sudah setuju kalau setelah menikah akan tetap tinggal di sini, kan?" Emi memulai sarapannya. Kini keempatnya telah duduk, menyantap sarapan sebelum memulai hari.

Hari ini Minggu, semuanya dapat makan dengan begitu santai, tak ada kegiatan. Mungkin nanti hanya Emi yang akan keluar, hangout dengan teman-teman kampusnya.

"Aku setuju, karena ..." Kai neneguk ludah, agak canggung. "Aku tak bisa menolak permintaan keluargaku."

Kalimat terakhir terdengar amat manis. Aichi mengulas senyum bahagia, lalu menatap calon suaminya dengan tatapan begitu sayang. Ikut mensyukuri bagaimana calon suaminya telah menemukan tempat untuk pulang. Tak lagi sendirian, tak lagi merasa terasing.

"Kalau begitu permintaanku juga akan disetujui, kan?" Emi menyahut, membuyarkan lamunan Aichi.

"Mungkin—tunggu, kamu minta apa dulu?" Kai hanya menatap Emi dengan tatapan penuh tanya, juga waspada. Belakangan Emi mirip Miwa. Suka ngerjain.

"Jadi ini keinginan pribadiku. Kalau punya anak nanti, aku pesan keponakan yang lucu, ya," ungkap Emi, membuat Aichi langsung menoleh cepat. "Model rambutnya harus perpaduan antara Aichi dan Kakak Ipar, warna biru, tapi biru langit, kayak Shotacon Nagichu di Anime Kelas Bunuh-Bunuhan itulah. Matanya aku nggak mau biru atau hijau, bosen, mungkin merah lebih matching, kayak Akangbener Kurma di Kelas Bunuh-Bunuhan itu, terus—

Ini Sendou Emi. 27 September nanti kepala dua. Dikira bikin anak kayak bikin cake ulangtahun, bisa didesain. Kai dan Aichi langsung beku di tempat, sementara Shizuka terkikik geli.

"Mungkin agak susah, tapi Kakak Ipar berusahalah bikin yang seperti itu, ya?

"Itu gimana caranya?" skor 1-0 untuk Emi atas kakak ipar.


Tu bi kontinyuuuuh sampek jumpa Sabtu depan~


((Ga ada cuap-cuap author hari ini, yang pasti aku laper- #heh RnR? C )