Chapter 7:
Confusion
Len POV
"Kau... Katakan padaku… Aku ini… Apa?"
"Anda adalah Master dari klan kita, klan vampire…"
"Aku… Apa?!"
Wanita itu tersenyum lembut padaku, dan menjelaskan.
"Anda adalah vampire terkuat dan terkejam yang pernah ada… Anda sudah membunuh ratusan, ribuan, bahkan jutaan manusia… Anda lah yang menciptakan klan kita ini, klan para vampire… Bisa dibilang, Anda adalah Raja kami, para vampire…"
"A…"
"APA?!"
"A…Aku… Aku ini… adalah vampire…?"
"Ya, benar sekali, Master…"
Aku… Vampire?
Dan bukan vampire biasa…
Aku lah yang menciptakan para vampire!
Tubuhku terasa sangat lemas, dan aku jatuh terduduk di lantai.
"Master? Anda tidak apa-apa?"
"Kau… Kau pasti berbohong! Hal gila seperti itu tidak mungkin terjadi!"
Aku berteriak frustasi.
Sementara wanita itu tetap tenang menghadapiku.
"Tidak, Master. Ini adalah kenyataannya."
"Tapi… Tapi… Aku mempunyai orang tua… Aku mempunyai teman-teman… Aku mempunyai kenangan-kenangan bersama banyak orang…"
Dan aku mempunyai seseorang yang kucintai…
"Maaf, Master. Tapi semua hal yang ada dalam ingatan Anda itu adalah palsu."
"P-Palsu? A… Apa maksudmu?"
"Ya, kedua orang yang Anda sebut sebagai orang tua, bukanlah orang tua Anda. Mereka hanyalah dua orang agent special yang ditugaskan untuk mengamati pertumbuhan Anda serta melindungi Anda…"
"Yah, walaupun pada akhirnya mereka gagal melaksanakan tugas itu…"
"Bukan… orang tua!? Kalau begitu… Siapa orang tuaku?! Dimana mereka sekarang?"
Wanita itu mendesah, lalu melanjutkan.
"Dulu… Dulu sekali… Saat klan vampire belum ada… Orang tua Anda… Anda sudah membunuh mereka."
.
"A… A-Aku… Membunuh… Orang tuaku…?"
"Ya, Anda membunuh mereka. Menghisap darah mereka sampai habis."
Wanita itu mengambil gelas berisi 'cairan merah' dan meminumnya, lalu kembali melanjutkan penjelasannya.
"Oh, dan juga, soal teman-teman serta orang-orang yang Anda kenal selama ini, mereka semua hanyalah para agent yang juga ditugaskan untuk mengawasi serta melindungi Anda… Kenangan-kenangan serta ingatan-ingatan yang ada pada diri Anda, semuanya itu palsu."
Wanita itu mengakhiri penjelasannya, menghabiskan 'cairan merah' dalam gelas, lalu tersenyum dan menjilati bibirnya.
Tubuhku bergetar hebat.
Aku shock. Tidak mampu berkata-kata.
Pikiranku kosong — tidak mampu mencerna hal-hal yang dikatakan oleh wanita ini.
Aku adalah Vampire, tepatnya, Raja sekaligus pencipta para vampire.
Aku tidak memiliki orang tua — Aku sudah membunuh mereka dulu sekali.
Teman-teman yang kumiliki selama ini hanyalah agent yang ditugaskan untukku,
yang artinya, selama ini hidupku hanya dikelilingi oleh kebohongan serta kepura-puraan…
Semua kenangan serta ingatan yang kumiliki selama ini adalah palsu…
Kalau begitu…
Apakah kenanganku bersama Rin juga palsu?
Apakah hal itu juga hanyalah sebuah kebohongan dan kepura-puraan?
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu, dan lalu seorang gadis masuk.
Gadis dengan rambut teal yang sangat panjang…
EH?!
Dia orang yang mengejar aku dan Rin!
Gadis itu berbicara pada wanita berambut pink tadi. Samar-samar aku bisa mendengar pembicaraan mereka,
"Luka-sama, persiapan untuk itu sudah selesai. Semuanya berjalan sesuai rencana.."
"Bagus, Miku. Bagaimana keadaannya?"
"Untuk sekarang, masih kurang stabil. Dia belum bisa di kontrol. Apa Anda mau bertemu dengannya?"
"Merepotkan sekali—"
Wanita bernama Luka itu melirik sekilas ke arahku, tersenyum, lalu melanjutkan,
"Tapi, yah, Baiklah kalau begitu… Apa boleh buat, ini semua juga untuk Master…"
Gadis yang dipanggil Miku itu dengan ragu-ragu melirik ke arahku.
Melihat hal itu, Luka memandang sinis pada Miku, lalu berkata,
"Miku, apa tidak ada yang perlu kau katakan pada Master? Tadi itu kau sedikit kasar padanya."
Gadis itu terdiam sebentar, ragu-ragu, lalu secara perlahan berjalan mendekatiku.
Dia berlutut di hadapanku.
Dari ekspresinya terlihat jelas bahwa dia sangat ketakutan..
Dia ketakutan?
Takut padaku?
Miku memejamkan matanya, lalu mulai berbicara,
"Master, saya benar-benar minta maaf atas kejadian sebelumnya. Saya… saya tidak tau bahwa Anda adalah Sang Raja. Silahkan hukum saya sesuka hati Anda."
Tubuh dan suaranya bergetar…
Sekarang aku tidak bisa mempercayai bahwa dia adalah orang yang mengejarku tadi…
Apa dia benar-benar takut padaku?
Luka tersenyum sinis padanya, lalu bertanya padaku,
"Bagaimana, Master? Hukuman apa yang akan Anda berikan padanya?"
Hukuman? Hukuman apa?
Lalu tiba-tiba aku teringat, satu hal yang benar-benar kuinginkan saat ini…
Aku berdiri, dan berkata,
"BAWA AKU PADA RIN!"
Miku dan Luka sama-sama terkejut mendengarnya, tubuh mereka menegang.
Rasanya aneh bagiku untuk memerintah orang seperti ini...
Dari dulu aku bukan tipe yang suka memerintah orang… Hal ini terasa salah bagiku…
Tapi entah kenapa, saat kalimat itu keluar dari mulutku, rasanya sesuatu dalam diriku mengatakan bahwa itu adalah hal yang benar…
Bahwa dari dulu aku memang sudah seharusnya bersikap seperti itu…
Dan, (entah kenapa), aku menyukainya.
Lalu, aku menyadari sesuatu yang aneh pada kedua orang itu.
Tatapan mereka kosong.
Ekspresi Miku yang tadinya ketakutan, dan Luka yang tersenyum sinis, semuanya berubah menjadi datar – tanpa ekspresi.
Tubuh mereka tampak kaku, seolah-olah diikat oleh sesuatu…
Seperti… Dihipnotis…
Apa… Ini karena kata-kataku tadi?
Tetap dengan ekspresi yang sama, Miku berdiri dan berkata padaku,
"Keinginan Anda adalah perintah bagi saya, Master. Silahkan, lewat sini.."
Dia menuntunku keluar ruangan, dan Luka mengikuti dibelakangku.
Ternyata Rin terletak sangat jauh dariku.
Kami menaiki ratusan tangga, menyusuri puluhan lorong, tapi belum juga sampai di tempat tujuan.
Bangunan ini seperti sebuah 'kastil'… Dindingnya terbuat dari batu bata berwarna abu-abu, sama seperti rumahku..
Dan ternyata, semua orang yang ada di kastil ini adalah vampire juga.
Aku bisa tau, karena aku bisa merasakannya.
Para vampire memiliki aura haus akan darah, sama seperti yang kurasakan saat menghadapi ayah—ah, menghadapi salah satu agent itu.
Dan 'keindahan' mereka juga melebihi keindahan manusia biasa…
Mereka terlalu sempurna…
Tapi…
Bukannya ketakutan, aku justru malah merasa senang, dan merasa aman.
Seolah-olah aku juga merupakan salah satu dari mereka…
Kata-kata Luka yang mengatakan siapa sebenarnya aku ini terngiang-ngiang dalam benakku.
Tapi, berbeda dari sebelumnya, bukannya merasa kaget atau ketakutan, sesuatu dalam diriku mengatakan bahwa itu memang kenyataannya. Bahwa aku ini memang bukan manusia…
'Aku ini monster...'
Dan bukannya menolak hal itu, segenap tubuh dan pikiranku, malah menerima hal itu, dan perlahan-lahan menjadikan itu bagian dari diriku…
Setiap orang (vampire) yang kami lewati, pasti akan menghentikan apapun yang sedang mereka lakukan, dan membungkuk pada kami (atau tepatnya, padaku).
Dan tidak bisa kupungkiri, hal ini membuatku merasa sangat senang…
Rasanya aneh… Beberapa menit yang lalu, aku menolak semua hal ini, dan tidak bisa mempercayainya…
Tapi sekarang…?
Entah sejak kapan, aku merasa bahwa semua ini normal. Bahwa hal-hal seperti ini memang sudah sepantasnya bagiku. Perasaan bahwa aku lah yang berkuasa, perasaan bahwa aku harus dihormati, — semua perasaan seperti itu bercampur aduk dalam diriku.
Aku tidak tau kenapa, atau apa yang merasukiku..
Tapi semakin lama aku berada di sini,
aku merasakan suatu hal yang bergejolak dalam diriku…
Sebuah perasaan senang… dan bahagia…
Seolah-olah seperti pulang ke rumah.
Seolah-olah memang di sini lah aku seharusnya berada…
Di antara para vampire…
.
.
.
.
Kami sampai di sebuah ruangan berbentuk lingkaran yang sangat besar. Berbeda dengan bagian kastil lainnya, dinding ruangan ini terbuat dari 'perak'.
Eh? Bukannya vampire lemah terhadap perak...?
Ruangan ini seperti sebuah laboratorium. Dan dari seluruh bagian kastil yang telah kulewati, hanya ruangan ini yang berkesan 'modern'.
Berbagai benda-benda laboratorium yang biasanya hanya kulihat di televisi ada di sini..
Ruangan ini dipenuhi dengan orang-orang berjubah putih. Dan saat kami masuk, mereka semua langsung menghentikan aktifitasnya dan membungkuk pada kami (padaku)…
Luka mengibaskan tangannya pada mereka, dan mereka pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dan ada 1 hal yang sangat menarik perhatianku…
Di tengah-tengah ruangan perak berbentuk lingkaran ini, terdapat sebuah ruangan, yang juga berbentuk lingkaran, tetapi dindingnya terbuat dari batu.
Aku menoleh pada Miku dan Luka — Mereka masih sama seperti tadi.
Dan karena penasaran, aku pun bertanya,
"Ruangan apa ini? Kenapa kalian membawaku ke sini? Bukannya aku meminta kalian membawaku pada Rin?!"
"Ini adalah ruang Laboratorium, Master. Dan dia memang ada di sini.. Dia ada di dalam ruangan itu."
Jawab Miku sambil menunjuk ruangan dengan dinding batu yang berada di tengah-tengah.
Lalu Luka menuntun kami menemui salah satu orang berjubah putih yang ada di situ.
Seorang lelaki dengan mata dan rambut berwarna biru.
Dia juga orang yang mengejar aku dan Rin!
Saat kami mendatanginya, lelaki itu tampak kaget, dan ketakutan saat melihatku.
Dia menoleh pada Miku, dengan wajah penuh tanya.
Miku pun menjawab,
"Master ingin bertemu dengan gadis itu. Bisakah kau membukakan pintunya, Kaito?"
Lelaki bernama Kaito itu tampak semakin kaget, dan menjadi panik. Lalu dengan terbata-bata, dia menjelaskan,
"Ti-Tidak bisa..! K-kondisinya masih belum stabil.. D-dan… K-kenapa sekarang?! I-Ini.. terlalu cepat!"
Sekarang dia juga tidak terlihat seperti orang yang mengejarku tadi…
Tiba-tiba Luka menarik kerah jubah lelaki itu. Matanya berkilat-kilat menunjukkan kemarahan. Lelaki itu kaget, dan mencoba melepaskan cengkeraman Luka.
Tapi cengkeraman Luka sepertinya terlalu kuat baginya, dan lelaki itu hanya pasrah.
Luka pun mulai berbicara,
"Kau! Apa maksudmu?! Berani sekali kau melawan perintah Master! Apa kau sudah ingin mati?!"
Lelaki itu menjawab dengan lemas,
"B-Bukan begitu, Luka-sama.. Hanya saja… Ini terlalu cepat… Bukannya ini terlalu… Berbahaya…? Bagaimana kalau… Dia kehilangan kendali… dan… dan… sesuatu terjadi… pada Master?"
Lelaki itu melirik sekilas ke arahku, tetapi saat tatapan kami bertemu, dia langsung memalingkan wajahnya.
Tiba-tiba Luka seperti tersadar akan sesuatu — sepertinya dia sudah kembali seperti semula, begitu juga dengan Miku.
Luka melepaskan cengkeramannya dari kerah jubah lelaki itu.
Lelaki itu terduduk di lantai sambil terbatuk-batuk. Miku membantunya berdiri sambil menenangkannya.
"Kau tidak apa-apa, Kaito?" tanya Miku.
"Aku baik-baik saja…"
Kaito mendekat pada Luka. Mereka sedikit menjauh dariku, dan berbisik mengenai sesuatu. Tapi tetap saja, samar-samar aku bisa mendengar percakapan mereka.
"Luka-sama… Apa yang terjadi? Anda adalah orang yang paling mengerti keadaan Master… Tapi kenapa Anda melakukan ini? Anda seharusnya tau apa yang akan terjadi jika Master bertemu dengannya saat kondisinya masih tidak stabil…"
kata Kaito.
Luka mendesah, lalu menjawab,
"Aku tau… Tapi mau bagaimana lagi? Master menggunakan hal itu… Aku tidak bisa menolaknya… Tidak ada vampire yang bisa menolaknya saat dia menggunakan itu. Kau juga tau, kan?"
'Itu'? Apa maksudnya 'itu'?
Kaito nampak kaget, lalu kembali bertanya,
"Itu… Maksud Anda… Kemampuan Master untuk mengendalikan para vampire?"
EH!?
Kemampuan mengendalikan para vampire!?
Apa maksudnya!?
"Ya, kemampuan itu… Walaupun seharusnya seluruh kekuatannya masih tersegel dan saat ini Master masih manusia , tapi sepertinya kekuatan Master tidak tersegel sepenuhnya..."
"Bukankah itu bagus?! Kalau begitu, Luka-sama, ritual itu harus dilakukan secepatnya!"
'Ritual'?
"Kau benar… Baiklah kalau begitu… Persiapkan semuanya!"
"Ah, tapi… Bukannya Master ingin bertemu dengan dia? Apa Anda tidak akan mempertemukan mereka?"
Hening sejenak.. Luka menoleh sekilas ke arahku, lalu berkata pada Kaito,
"Kurasa… Mungkin… Tidak apa-apa… Kita bisa langsung mengeluarkan Master jika sesuatu terjadi… Bukakan pintunya, Kaito."
"Baik."
Kaito berjalan menuju ke arahku, lalu berkata,
"Master, silahkan lewat sini.."
Kaito menuntunku mengelilingi dinding luar ruangan batu itu, lalu berhenti pada satu titik.
Dia menekan sebuah batu yang permukaannya menonjol, lalu tiba-tiba muncul sebuah celah seperti pintu pada dinding batu itu.
Aku masuk ke dalamnya, dan pintu batu itu menutup di belakangku…
Di dalam sini kosong dan tidak ada cahaya.
Mataku belum terbiasa dengan kegelapannya, jadi aku hanya bisa samar-samar melihat dinding-dinding batu yang mengelilingiku.
Lalu, aku mencium sebuah aroma. Aroma yang tersebar di seluruh ruangan ini.
Aroma yang terasa menyengat,
tapi juga terasa manis…
Aku berjalan sambil meraba-raba dinding.
Hingga tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu.
Suatu cairan… terasa hangat… dan lengket…
Aku mencoba menciumnya…
Aromanya sama seperti aroma yang kurasakan sejak masuk ke sini.
Aroma yang sedikit memabukkanku…
Mataku mulai terbiasa dengan kegelapannya, dan aku sudah bisa melihat lebih jelas.
Aku melihat cairan di tanganku.
Cairan berwarna merah…
Ah, ini… ini…
Darah, kan!?
Aku mengamati keseluruhan ruangan ini.
DARAH.
Seluruh dinding maupun lantai ruangan ini, berwarna merah… ditutupi oleh darah…
Dan,
Pandanganku terpaku pada sesuatu di tengah ruangan ini.
Sepasang mata…
Sepasang mata berwarna merah terang yang menyala-nyala, melihat-tepat-ke-arahku dari tengah-tengah ruangan. Tatapannya seolah-olah membakarku.
Hingga tiba-tiba, aku mendengar sebuah suara… Suara yang sangat familiar…
Memanggilku.
"Len…"
Suara itu berasal dari tengah-tengah ruangan ini..
Dan barulah aku menyadari, pemilik dari suara itu dan sepasang mata merah itu…
Seorang gadis.
Gadis dengan rambut berwarna honey blonde… Dengan pita berwarna merah di kepalanya, dan gaun sederharna berwarna merah…
Aku mengamatinya lebih dekat.
Seluruh tubuhnya penuh dengan bercak-bercak darah. Dan darah menetes dari sudut bibirnya.
Bahkan aku yakin bahwa pita dan gaunnya itu berwarna merah karena darah di ruangan ini…
Dia adalah Rin…
Dia Rin...
...iya kan?
Berbeda.
Dia berbeda dengan Rin..
Rin memiliki sepasang mata berwarna azure, sama sepertiku..
Tapi Rin yang ini… Matanya berwarna merah… Sama seperti warna darah..
"Rin…? Kau kah itu…?"
Aku tau dia itu Rin..
Tapi sesuatu dalam diriku mengatakan bahwa dia tidak sama seperti Rin yang kukenal…
Rin yang ada di hadapanku sekarang, memiliki aura haus akan darah, sama seperti vampire lainnya yang ku temui…
Rin yang ku kenal tidak seperti itu…
Aku semakin mendekat padanya…
Dan ketika jarak kami hanya tinggal beberapa senti,
Gadis itu, Rin, tersenyum padaku.
Bukan senyuman hangat yang biasa ditunjukkan Rin padaku,
Gadis ini berbeda…
Sekali lagi, dia memanggil namaku..
"Len…"
Seperti orang yang sedang mabuk,
Dia tersenyum, memamerkan gigi-gigi taringnya padaku.
Lalu menjilati bibirnya, seolah hendak 'mencicipi'ku.
Dan dengan satu gerakan cepat, dia menghilang dari hadapanku, dan aku bisa merasakan hembusan nafasnya di leherku.
Aku bisa merasakan gigi-gigi taringnya yang hampir menyentuh kulitku,
Dan,
.
Aku mendengar suara seperti sesuatu yang dirobek.
.
Lalu ada banyak darah yang menetes.
.
Disertai suara erangan seorang wanita.
.
Bukan, bukan aku.
Leherku tidak tergores sedikitpun.
.
Sebelum taringnya merobek leherku, aku merasakan sepasang tangan menarikku ke belakang, dan menjauhkanku darinya. Tapi sepertinya taringnya malah mengenai sepasang tangan itu.
Aku bisa mendengar suara geraman rendah, yang berasal dari Rin…
Aku melihat ke belakang, ke arah pemilik sepasang tangan itu.
Luka.
Itu Luka.
Dia membawaku keluar dari ruangan itu, meninggalkan Rin sendirian dalam ruangan itu..
Ah, tidak… tidak mungkin… Aku yakin itu bukan Rin…
Kalau begitu,
'Dia itu siapa?'
Atau lebih tepatnya,
'Dia itu apa?'
.
