Ohta bangun dengan keadaan paling buruk sepanjang hidupnya sebagai remaja SMA. Lihat saja, wajah kusam, kantung mata menggantung dengan indah, dan keadaan tubuhnya yang seakan – akan tidak mandi selama satu minggu. Benar – benar berantakan. Ditambah lagi keadaan kamarnya yang tidak kalah berantakan seperti keadaan tubuhnya sendiri.
Semalam, Ohta seperti pemuda yang sedang frustasi. Ia membawa camilan apa saja yang ada dikulkas, dan memakannya dengan tidak berperasaan, untung saja rasa frustasinya tidak membuatnya sampai meneguk alkohol. Remah – remah sisa camilan yang dimakannya semalam juga masih tersisa disekitar tempat tidur, meja belajar, dan lantai kamarnya. Semalam ia bahkan melewatkan makan malam bersama keluarganya dengan alasan tugas yang menumpuk. Ia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.
Apakah ditinggalkan oleh Tanaka memberikan efek semengerikan ini?
Ohta menggeleng – gelengkan kepalanya kencang. Tidak, Ohta harus benar – benar bisa lepas dari Tanaka. Pemuda manis itu sudah membuangnya kan? Heh, bahkan Ohta masih berpikir jika Tanaka itu manis setelah semua ini. hey, itu kenyataan. Tanaka memang manis, dia mungil, berkulit putih, bermata lebar, dengan bibir tipis kemerahan yang terlihat amat ranum.
Shit! Apa – apaan yang barusan dipikirkan Ohta? Kenapa ia bisa mendeskripsikan keindahan Tanaka dengan begitu semangat. Ah, sepertinya Ohta masih belum sadar sepenuhnya. Sesegera mungkin Ohta menyeret kakinya untuk menuju kekamar mandi. Sepertinya guyuran air dingin akan menenangkan pikirannya dan menghapus bayang – bayang Tanaka dari pikirannya.
"Onii-chan, sarapan sudah siap." Teriak Saya dari balik pintu.
"Iya, aku akan menyusul." Jawab Ohta. Dia masih asyik mengguyur kepalanya dengan air dingin sekaligus menenangkan pikirannya. Sebenarnya ia tidak ingin bertemu Tanaka untuk beberapa saat, tapi mau bagaimana lagi? Mereka satu sekolah dan satu kelas, apalagi tempat duduk mereka juga berdekatan.
Ohta mengacak – acak surai kecoklatan miliknya yang sudah panjang. Sialan, sialan, sialan. Berulang kali Ohta mengumpat tidak jelas, entah untuk siapa umpatan itu ditunjukkan yang pasti Ohta tidak akan mampu untuk mengumpat kepada Tanaka. Pemuda itu terlalu manis hanya untuk dicaci maki. Shit! Ohta tidak bisa berhenti menyebut Tanaka manis. Ugh, sialan level kuadrat.
Dengan begitu malas – malasan Ohta duduk diruang makan bersama keluarganya. Ia makan dalam diam. Perubahan sikap Ohta membuat adiknya bertanya – tanya dalam hati, ada apa dengan kakaknya yang biasanya selalu bersikap hangat. Ohta tiba – tiba jadi berubah dingin seperti ini. Meski Saya penasaran dengan perubahan sikap kakaknya, dia tetap tidak berani bertanya apa – apa.
Acara sarapan pagi dikeluarga Ohta berjalan amat cepat. Ohta sendiri terkesan buru – buru dan ingin segera pergi. Dalam hatinya, Ohta sebenarnya ingin pergi kemana saja asalkan selain kesekolah. Ia tidak siap jika harus bertemu Tanaka saat ini. Ohta tidak bermaksud bersikap berlebihan, ini murni apa yang dirasakannya.
Rasanya dibuang itu menyakitkan sekali.
Ohta merasa dibuang. Walau sebenarnya Tanaka tidak bermaksud membuangnya. Ini murni kesalahpahaman keduanya, namun mereka berdua malah semakin memperburuk keadaan.
.
.
.
Dirumah Tanaka, Rino tengah menarik – narik selimut kakaknya dengan brutal sementara Tanaka malah semakin menggulung dirinya didalam selimut. Kemalasannya berlipat ganda saat ini. Tanaka tidak ingin pergi kesekolah, tetapi Rino terus berusaha membangunkan kakaknya yang pemalas itu.
"Onii-chan, cepatlah bangun sudah siang!" Teriak Rino ditelinga Tanaka. Tanaka masih tetap bergeming ditempatnya, ia pura – pura tidak mendengar adiknya padahal dalam hati ia merutuki suara adiknya yang terlampau keras berteriak tepat ditelinganya.
"Aku tidak masuk hari ini." Ujar Tanaka pada akhirnya. Rino menghela napas lelah.
"Kenapa? Meskipun Onii-chan malas, tapi Onii-chan tidak pernah bolos sama sekali." Rino duduk dikursi belajar kakaknya, ia bertopang dagu. Rino telah rapi dengan seragam sekolahnya, sementara Tanaka masih terlihat mengantuk dengan rambut acak – acakan, dan piyama berantakan yang menempel ditubuh kurusnya.
"Pokoknya hari ini aku tidak masuk." Putus Tanaka. Ia kembali menarik selimut dan menggulung tubuhnya lagi sembari memeluk guling.
Rino yang putus asa akhirnya membiarkan kakaknya. Ia beranjak keluar dari kamar kakaknya. Biar Bagaimanapun Rino juga harus sekolah. Diluar, Saya telah menjemputnya seperti biasa.
Diperjalanan, Saya kembali memikirkan kakaknya. Dia teringat sesuatu, bukankah kakaknya berteman baik dengan kakak Rino.
"Ne, Rino. Apa kakakmu baik – baik saja?" Tanya Saya.
Rino menoleh, memandang temannya dengan alis berkerut. "Kenapa?"
Saya terlihat ragu – ragu untuk mengatakannya, namun gadis itu memutuskan untuk berbicara saja dengan Rino. "Onii-chan jadi aneh sejak semalam. Dia melewatkan makan malam dan bertingkah sangat dingin, seperti ada masalah yang besar."
Rino sedang berpikir sekarang, walaupun raut wajahnya tetap saja terlihat datar. Kejadian ini sama dengan apa yang tengah dialami kakaknya. Tidak biasanya Tanaka menjadi begitu dingin dan irit bicara meskipun kemalasannya sedang berlipat ganda sekalipun.
"Onii-chan juga terlihat aneh. Dia bahkan hari ini tidak mau masuk sekolah." Ujar Rino.
Saya mengangguk – angguk paham. "Apa ada masalah antara Onii-chan dan kakakmu?" Tanya Saya.
Rino menggeleng tanda tidak tau apapun. "Sebaiknya nanti aku cari tau saja dirumah." Saya mengangguki nya.
.
.
.
Ini buruk.
Benar – benar keadaan yang buruk untuk Ohta. Ia sudah ada dikelas saat ini, bel masuk baru berbunyi beberapa menit yang lalu dan sekarang seorang guru tua sedang menerangkan pelajaran—Ohta tidak mendengarkan sama sekali. Pikirannya mengembara entah kemana. Ohta melirik bangku Tanaka yang kosong, pemuda mungil itu tidak masuk sekolah rupanya. Tadi beberapa temannya menanyakan perihal ketidak hadiran Tanaka padanya, dan ia hanya menggeleng dengan canggung.
Jujur saja, ada rasa khawatir yang hinggap disudut hatinya saat mengetahui Tanaka absen hari ini. hanya saja, Ohta sudah berusaha untuk tidak mempedulikannya lagi. Ohta dan keegoisannya yang melekat saat ini benar – benar merepotkan. Dalam hati, Ohta sudah berjanji tidak akan mempedulikan Tanaka sama sekali. Ohta percaya semuanya akan baik – baik saja. Dulu sebelum ia mengenal Tanaka, ia juga baik – baik saja.
Oh shit! Jujur saja, Ohta merasa begitu… kehilangan?
Entahlah. Ohta bingung mendeskripsikan bagaimana suasana hatinya saat ini. begitu rumit, dan Ohta malas untuk menterjemahkannya.
"Pssss…! Ohta, oi…. Psss…!"
Ohta menoleh saat merasakan bahunya dicolek – colek oleh seseorang disampingnya. Pelakunya tidak lain adalah Katou, pemuda super ceria yang tau masalahnya dengan Tanaka. Oha menoleh, memandang kearah Katou yang tengah nyengir lebar.
"Ada apa?" bisiknya pelan. Ohta tidak mungkin mengeluarkan suaranya terlalu keras. Pak tua botak didepan sana bisa saja menghukumnya.
Katou bertahan dengan cengirannya. "Ano, kau tau kenapa Tanaka absen hari ini?" Tanya Katou.
Tanaka lagi. Ohta benar – benar menghindari topik ini saat ini, dan entah kenapa malah banyak yang bertanya perihal ketidak hadiran Tanaka padanya.
"Aku tidak tau, dan tidak mau tau." Tandasnya tajam.
Katou tertegun mendapat jawaban yang seperti itu dari Ohta. "O—oh, hahaha. B—baiklah." Pada akhirnya Katou memilih untuk tidak bertanya apa – apa lagi.
Ohta menghela napas. sampai kapan ia akan mengalami keadaan seperti ini?
