Chap 7: Why?
Summary : Malam itu, Arthur tidak berhenti menangis. Ia bertanya dalam hati," Kenapa jadi begini?"
Rating: T
Warning: USUK conflict, FrUK, slight Chipan dan Spamano
US x UK
Yao menyeret Antonio ke tempat perjanjian. Ia memakai baju ala china berwarna merah yang biasa, sementara Antonio mengenakan kemeja biru tua dengan jeans hitam. Ketika sampai di cafe bernama Fat Lemon, seorang pemuda yang memakai tudung melambai ke arahnya. Pemuda itu sedang bersama seorang pemuda berambut coklat tua dengan keriwil ke arah kiri. Pemuda dengan rambut keriwil itu sedang cemberut sambil menyilangkan lengan di dadanya. Yao menghampiri meja mereka yang berada di sudut yang agak sepi sambil tetap menyeret Antonio yang merepet.
"Yao-niisan," sapa Kiku sambil membuka tudung jaket hitamnya, mempersilahkan mereka duduk. Yao mengambil kursi di depan Kiku, sementara Antonio mengambil kursi di sebelah Yao, berhadap-hadapan dengan pemuda berambut keriwil.
"Mau pesan apa?" Tanya Kiku ketika pelayan berambut keriting hitam dengan bulu mata panjang berwarna gelap menghampiri meja mereka.
Yao memesan kue keju vegetarian dan segelas coklat, sementara Antonio memesan pizza dengan jus tomat.
"Hei! Kenapa pesananmu sama persis dengan pesananku!" Protes pemuda yang duduk di sebelah Kiku kepada Antonio. Ia angkat bicara setelah mengamati daftar pesanan mereka.
Antonio mengangkat bahu,"Mungkin kita jodoh," sahut Antonio asal-asalan, sementara wajah pemuda itu memerah.
Kiku dan Yao tertawa, suasana mencair dan menghangat. Setelah beberapa saat berbincang-bincang, pesanan mereka datang. Mereka berhenti sebentar untuk makan sebelum melanjutkan pembicaraan.
Setelah beberapa saat, Kiku berdehem.
"Lovino-san, aku harus berbicara dengan Yao-niisan," kata Kiku. Lovino mengangkat alis.
"Kalau begitu bicara saja. Aku tidak menghalangi," kata Lovino ketus.
"Sebenarnya ini agak pribadi," jawab Kiku, menekankan nada suaranya pada kata pribadi. Lovino mengeluh.
"Jadi aku harus apa? Memandu kalian ke tempat pribadi itu?" Tanya Lovino kesal. Kiku menggeleng.
"Tolong ajak Antonio-san berkeliling," pinta Kiku. Lovino baru mau membuka mulut untuk protes ketika Kiku menambahkan,"Antonio-san pasti senang kan?" sambil menatap Antonio dengan ramah. Betul saja. Wajah Antonio menjadi cerah. Ia menoleh kepada Yao, seolah meminta izin. Yao mengangguk. Kemudian Antonio berdiri dan menarik tangan Lovino keluar dari kafe itu.
"Ayo, mi tomato, kita kencan," kata Antonio sambil mengedip santai kepada Lovino. Wajah Lovino menjadi merah padam seperti tomat. Tangan Antonio menggenggam tangannya.
"Siapa yang mau kencan denganmu! Jangan panggil aku seperti itu, Antonio no baka!" Protes Lovino, tapi ia tidak menarik tangannya dari genggaman Antonio. Ia malah mengenggamnya balik. Antonio melirik tangan mereka yang bertautan, kemudian tersenyum lebar.
Yao menatap Kiku dengan pandangan bertanya setelah kedua pasangan tomat itu keluar dari cafe. Kiku menjawab tatapan Yao dengan senyum ramah.
"Sebelumnya, saya ingin bertanya pada Yao-niisan," kata Kiku. Yao mengangguk.
"Tanyakan saja, aru," kata Yao. Kiku menggaruk hidung, mengubah posisi duduk, dan meluruskan jaketnya.
"Bagaimana kabar Ivan-san?" Tanya Kiku. Yao langsung tertunduk. Ivan tidak menelponnya sejak hari jumat. Mungkin sekarang ia sedang bersama Alfred. Yao tidak mau meneleponnya. Sulit berbicara dengan Ivan ketika ia sedang bersikap sopan atau menjaga jarak. Jika Yao meneleponnya, mungkin Ivan bilang dia sedang sibuk atau tidak bisa dihubungi sekarang. Mungkin juga ditambah latar belakang tawa Alfred yang mengolok-ngoloknya. Itu lebih buruk daripada tidak menelepon Ivan sama sekali.
"Baik-baik saja, aru" kata Yao, berusaha melanjutkan pembicaraan, meskipun hatinya hancur menjadi tiga ribu, nggak, empat ribu keping karena pikiran mengerikan tadi.
"Ooh.." Kata Kiku,"Belakangan ini saya dengar anda jarang bersama Ivan-san," lanjut Kiku. Yao mengangguk.
"Karena pekerjaan, aru. Ivan-" kata-kata Yao terhenti sejenak sebelum dilanjutkan,"-membuat naskah Romeo and Juliet bersama Alfred," Itu rekaan sempurna. Yao mulai menyukainya ide itu. Membuat naskah bersama sebagai TEMAN, bukan apa-apa.
"Bersama-sama?" Tanya Kiku tajam.
"Yah..ehm..sebetulnya tidak. Alfred menawarkan diri untuk mengedit naskah itu. Ia berdiskusi dengan Ivan," kata Yao. Otaknya berdesing memikirkan kebohongan selanjutnya. Sejujurnya kebohongan itu mengandung secuil kebenaran, seperti cokelat dengan kacang ditengah-tengah. Alfred memang sedang berdiskusi dengan Ivan mengenai masalah syuting selanjutnya.
"Begitu ya?" Tanya Kiku, nada suaranya tidak bisa dibantah, seolah ia sudah mengetahui kerenggangan hubungan Yao dengan Ivan dan membujuk Yao untuk jujur.
"Oke. Tidak seperti itu, aru" kata Yao dengan nada menyerah,"Ivan jadi agak..dekat dengan Alfred," kata Yao lagi.
Yao menceritakan semuanya. Mulai dari hari dimana syuting Romeo dan Juliet dimulai, sampai ketika Ivan meleponnya. Kiku mendengarkan cerita Yao dengan seksama, seolah cerita itu adalah cerita paling menarik sedunia. Ia mendengus dan bersimpati, membuat Yao lega setelah menceritakan tentang perasaannya.
"Kasihan sekali kau, Yao-niisan," kata Kiku, memandang Yao dengan serius. Yao menghela nafas.
"Begitulah, aru," kata Yao pasrah.
"Kalau begitu, buat saja Ivan-san merasakan hal yang sama," usul Kiku. Yao langsung duduk lebih tegak di kursinya.
"Apa maksudmu?" Tanya Yao cepat-cepat.
Kiku mengangkat bahu, berusaha terlihat tidak yakin.
"Mungkin kau harus menjauhi Ivan-san. Maksudku, kau harus menenangkan diri," kata Kiku,"Jika nanti kau sudah agak tenang, barulah kau bicarakan padanya tentang perasaanmu," suara Kiku persis seperti orang yang sedang membujuk dengan diam-diam. Nada suaranya terdengar seperti biasa, begitu pula gerak-gerik tubuhnya.
Yao termenung selama beberapa saat, memikirkan usul Kiku. Sementara itu, Kiku memandang ke luar jendela, mengamati orang-orang yang lewat. Beberapa orang malah sudah berhenti berjalan untuk memandangi Kiku. Kiku buru-buru memasang tudungnya lagi.
"Kau betul, aru," kata Yao. Kiku tersenyum, mata coklat tuanya memandang Yao dari balik tudung. Tiba-tiba terdengar bunyi telepon. Kiku mengambil iphone-nya dari saku dan menempelkan iphone itu ke telinganya.
"Halo? Ah, Heracles-san," sapa Kiku. Yao memperhatikan Kiku berbicara di telepon. Entah kenapa, wajah Kiku merona merah. Setelah mengeluarkan suara-suara sopan, Kiku mengakhiri pembicaraan.
"Maaf, tapi aku diminta kembali ke kantor," kata Kiku kepada Yao. Yao mengangguk.
"Kalau begitu, aku juga akan kembali ke kantor. Terima kasih, aru," kata Yao. Mereka berdiri kemudian berjabat tangan. Sesudah itu mereka kembali ke kantor mereka masing-masing, melupakan dua orang yang tertinggal.
Lovino sedang berjalan ke arah kafe Fat Lemon sambil berkutat dengan Antonio yang sedang menempel di lengannya dan tidak mau lepas. Antonio terus menggandengnya. Lovino hanya bisa mengomel.
Ketika mereka kembali ke meja yang diduduki oleh Yao dan Ivan tadi, meja itu sudah kosong.
"Aaaaaaaah! Ini semua gara-gara kau, bodoh! Aku jadi ditinggal!" Keluh Lovino. Antonio melepaskan pegangannya kemudian menggaruk kepala dengan ekspresi minta maaf.
"Kalau begitu..kita ke rumahku saja, mi tomato," Ajak Antonio. Rencana 'bagus' sudah berseliweran di kepalanya. Wajah Lovino langsung waspada.
"Ma-mau apa kita kerumahmu?" Gagap Lovino. Antonio mengangkat bahu.
"Aku, sih, mau memetik tomat di kebunku. Soalnya kemarin kulihat sudah matang, jadi-" kalimat Antonio terputus ketika Lovino menariknya menuju taksi.
"Ngomong dari tadi kalau kau punya kebun tomat, Antonio bodoh!" Omel Lovino. Tapi wajahnya bersinar. Antonio mengamati wajah itu selama beberapa saat, kemudian tertawa.
"Kenapa kau tertawa? Dasar aneh," gerutu Lovino. Antonia hanya tersenyum. Tiba-tiba ia memajukan badannya dan mencium pipi Lovino dengan lembut, membuat wajah pemilik pipi itu menjadi merah.
"Apa yang kau lakukan!" Jerit Lovino sambil mengusap pipinya yang dicium dengan punggung tangannya. Antonio mengacak rambut Lovino. Lovino berusaha menghindar, namun ia malah membuat dirinya tergelicir jatuh dari jok mobil dan membuat Antonio tertawa lebih keras.
"Jangan tertawa! Dan kau!" Kata Lovino ke supir taksi yang mengamati adegan seru itu melalui kaca spion,"Jangan mencuri lihat!"
~kantor Allies~
Arthur menghela nafas. Kemarin ia sudah mengunjungi apartemen Alfred, tapi apartemennya terkunci. Ia juga sudah mencoba menghubungi Alfred, tapi nomornya tidak aktif. Bahkan Alfred belum mangambil Lamborghini-nya di parkiran sejak hari jumat. Dan sekarang sudah hari senin. Aneh sekali. Karena itu, disinilah ia sekarang, menunggu kedatangan Alfred di sofa lobby kantor Allies. Jam sudah menunjukkan pukul 8.50. Biasanya Alfred datang pukul sembilan.
Tiba-tiba, muncullah sosok yang ditunggu-tunggu oleh Arthur. Alfred memasuki kantor Allies bersamaan dengan Ivan. Alfred memakai jas coklat dengan kemeja hitam dan dasi putih. Ivan memakai syal putih dengan jas hitam dan kemeja coklat. Mereka cocok, terlihat seperti pasangan. Mereka sedang berbincang-bincang dengan akrab sebelum Ivan berbelok ke kantornya. Arthur segera menghampiri Alfred.
"Hey," sapa Arthur. Alfred menolehkan kepalanya, mata birunya melebar begitu melihat siapa yang menyapanya.
"Oh, hey Arthur," jawab Alfred agak kaku. Setidaknya begitulah menurut Arthur. Alfred tidak memanggilnya dengan panggilan,'Iggy'. Alfred tidak bersikap seperti biasanya. Walaupun agak membuatnya malu, Arthur suka dengan sifat Alfred yang agak polos dan kekanak-kanakan. Entah kenapa, hari ini Alfred tidak bersikap seperti itu.
"Hm..kemarin kau kemana? Aku sudah ke apartemenmu, tapi kau tidak ada. Ponselmu juga tidak aktif," kata Arthur. Ia tidak bisa menghilangkan nada menuduh di dalam suaranya. Alfred menggerakkan kaki dengan gelisah.
"Oh, yeah, soal itu. Maaf. Kemarin aku pergi bersama Ivan. Aku lupa memberitahumu," kata Alfred. Ia tidak memandang Arthur ketika mengatakan hal itu.
"Ooh," gumam Arthur, berusaha kedengaran seperti itu berita tidak penting buatnya. Padahal kau bisa mendengar bunyi hatinya yang retak seperti es di Antartika.
"Bagaimana jika kita ke Hamburger World? Aku belum sarapan" ajak Arthur. Ia berniat menginterogasi dan memojokkan Alfred sedalam mungkin tentang hubungannya dengan Ivan. Sejenak Alfred tampak mau menolak, tapi ia setuju setelah Arthur bilang ia yang akan membayar semuanya.
Sekarang mereka berada di taman yang terletak di halaman belakang kantor Allies dengan hamburger di tangan masing-masing. Alfred memakan hamburgernya dalam diam.
"Alfred," Arthur memulai. Alfred memandang Arthur.
"Ada apa? Sepertinya kau sedang menjauhiku atau semacamnya," kata Arthur. Ia memutuskan lebih baik jujur daripada membuang-buang waktu. Alfred menatap sepatunya, tidak menjawab.
"Hey, Alfred," kata Arthur setelah beberapa saat mereka diam. Alfred menoleh memandang Arthur dan tersenyum getir.
"Aku tidak apa-apa. Kalau urusanmu hanya itu, aku permisi," kata Alfred sambil berdiri dan meluruskan kacamatanya. Ia kembali memandang Arthur yang sedang memandangnya balik dengan khawatir.
"Tidak usah mengkhawatirkan aku," kata Alfred,"Urusi saja Francis,"
Kalimat Alfred yang terakhir membuat Arthur ikut berdiri dan mengejar Alfred yang sudah melangkah menjauh. Arthur memegang lengan Alfred, membalikkan badan pemuda itu agar menghadap dirinya.
"Apa maksudmu dengan,'Urusi saja Francis'?" Tanya Arthur, suaranya agak bergetar. Alfred menepis tangan Arthur sambil tersenyum pahit.
"Francis-mu yang tersayang," kata Alfred, menunjuk ke arah belakang Arthur,"Oh, lihat. Penyerbuan,"
Arthur menoleh ke belakang dan mendapati Francis sedang berjalan ke arahnya dan Alfred, mungkin mencium adanya masalah.
"Ada apa, mon cher?" Tanya Francis kepada Arthur. Pemuda itu dapat melihat mata Arthur yang berkaca-kaca. Seperti ada yang pecah di kedalaman mata hijau itu.
"Jelaskan padanya!" Kata Arthur sambil terisak,"Kita cuma berakting!"
Francis terlihat sangat bingung. Tapi ia menatap Alfred dengan pandangan menantang, tangannya melingkari tubuh Arthur yang gemetar, menarik pemuda itu dalam pelukan posesif.
"Aku tidak tahu apa yang kaubicarakan kepadanya, tapi jangan sekali-kali membuatnya menangis," kata Francis tajam dari atas kepala Arthur. Alfred mendengus.
"Kau tahu persis apa yang kubicarakan," kata Alfred, ekspresi wajahnya sama menantangnya dengan Francis. Arthur membebaskan diri dari pelukan Francis, tangannya masih mencengkram lengan Francis.
"Katakan padanya kita cuma berakting. Semuanya tidak betul-betul terjadi semau kita," kata Arthur kepada Francis, yang menggaruk kepala.
Tiba-tiba, bibir Francis menyentuh bibir Arthur. Bukan karena kecelakaan atau akting. Tapi Francis yang menariknya dengan paksa.
"Aku menyukaimu, mon cher. Bukan hanya sebagai teman,"
Arthur menekap mulutnya, menjauhkan diri dari pemuda Prancis itu.
Mata Alfred melebar menyaksikan kejadian di depannya. Kemudian memberikan senyum getir kepada Arthur sekali lagi. Arthur membuka mulut untuk menjelaskan, tapi Alfred sudah lari menjauhi tempat itu. Sebelum berlari ia sempat menggumamkan sebuah kata dengan nada benci untuk Arthur.
"Pengkhianat,"
Punggung Alfred berlari menjauhinya menjadi buram karena air mata sudah meleleh dari matanya.
Arthur terjatuh ke lututnya, menangis tersedu-sedu. Sementara Francis hanya diam di situ, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Mon cher-" kata Francis sambil memegang pundak Arthur dengan ragu-ragu. Ia kembali mendapatkan tamparan keras di pipinya. Jauh lebih keras daripada saat pertama kali Francis ditampar karena mencium bibir Arthur sebagai Juliet.
Arthur langsung bangkit dan berlari ke arah mobilnya, tidak memperdulikan teriakan Francis yang memanggilnya.
Malam itu, Arthur tidak berhenti menangis. Ia bertanya dalam hati," Kenapa jadi begini?"
~To the next chapter~
Bagaimana? Parah ya? Wahahahaha.
Tetaplah mereview yoo~
Lots of Love.
