General Warnings: AU, canon divergence, language, violence, Naruto-centric, Emotionless Naruto, Root Naruto. And of course, OOC Mc.
Summary: Tiba di dimensi yang lain akibat kesalahan jutsu Obito, Uzumaki Naruto , anggota ROOT, mencoba untuk mencari jalan pulang kembali ke tempatnya ia berasal. Segala cara akan ia gunakan agar dapat kembali dengan selamat ke dunianya.
Chapter 7: Calm before storm.
Hari berganti dengan hari yang lain. Merupakan sesuatu yang akan selalu terjadi dan tidak akan bisa tergantikan. Suara langkah kaki yang berdengung, membawa rasa penasaran dan tatap mata ke arah datangnya bunyi tersebut. Mata melirik untuk sesaat, ada yang mengenali, memberi sapaan dan lainnya. Dan ada juga yang langsung memalingkan pandangannya. Sedangkan yang menjadi perhatian tersebut hanya memberikan anggukan kecil, meskipun tatapan matanya yang tajam memenuhi pemandangan tersebut. Namun hal itu sudah menjadi hal biasa untuk Akedemi Kuoh.
"Tatapannya mengerikan.."
"Ah, aku juga tahu kalau itu. Tapi, kata temanku yang berada di kelasnya, ia tidak seburuk itu kok. Lagipula dia ramah, dan jika pun hal itu tidak benar, mengapa dia tidak membuat masalah seperti kebanyakan preman?"
"Ya, juga sih. Aku tidak pernah dengar tuh, kalau Uzumaki-san pernah membuat masalah." Gadis itu mengangkat bahunya seraya mengangguk. Dan sekejap ekspresinya berubah menjadi jijik. " Daripada si Trio Mesum itu."
"Kalau itu mah, amit-amit cabang bayi. Dari tatapan mereka aja, kita sudah harus menjauh ratusan meter. Tatapan MUPENG."
"Apalagi itu?"
"MUPENG, singkatan dari Muka Pengen. Si Trio Mesum."
Suara tawa humor yang semakin mengeras. Sedangkan dua pemuda yang berada dijauh tempat, hanya bisa meremas-remas kedua tangannya yang telah memerah karena menguping pembicaraan dan juga sekaligus penghinaan akan grup tercinta mereka. "Kurang ajar! Sial! Aku tidak tahan lagi!" Seorang pemuda dengan potongan rambut gundul berdiri dan menggubrak mejanya.
"Tahan kawan!" Tidak mau ambil diam, teman yang berada di sampingnya langsung memeluk pinggang dari pemuda itu dan berusaha menahannya agar tidak melakukan apa yang ia pikirkan. "Lagipula kenapa sih iri amat? Biasanya pas Kiba lewat, santai aja kamunya." Ia kemudian melirik ke samping, "ISSEI!" Motohama berteriak kepada temanya yang lagi santai menyantap makanannya. "Kau juga bantu! Kalau Matsuda sampai menggila lagi, bisa gawat kitanya."
Hyoudou hanya menghela nafas dan kemudian meneguk air mineralnya. Mengeluarkan nafas lega, ia kemudian menutup matanya."Hm, begitu? kalau jalan cerita sampai begitu... aku nggak ikutan deh." Pemuda dengan rambut cokelat itu berkata dengan santainya, serasa tidak memiliki beban atau peduli untuk menghadapi kelakukan para sahabatnya pada saat ini. "Lagipula ini sudah jalan hidup kita. Kita yang memilih menjadi para mesumer sejati. Dan tanpa rahasia-rahasian. Kita harus menanggung akibatnya. Naruto-san meskipun tampangnya yang sedikit menyeramkan, tapi dia tidak berperilaku aneh. Tentu saja akan banyak orang yang lebih menerimanya daripada kita."
..
..
..
Issei membuka matanya dan menemukan dua wajah asing dari temannya. "Huh?"
Kedua pemuda itu menggelengkan kepalanya seperti tidak percaya sama sekali. "Issei... apa kau benar-benar Hyoudou Issei?" Seperti tidak puas dengan tatapan bingung dari lelaki yang sekarang berada di depan mereka. Kedua anggota dari Trio Mesum itu menarik kerah dari baju Issei, dan mulai menggoyangnya secara tidak teratur dengan sekuat tenaga.
"HUOHH! KAU BUKAN ISSEI YANG KAMI KENAL. Sejak kapan Issei bisa ngomong seperti itu!?"
Pemuda yang menjadi Iblis itu tidak bisa menjawab sama sekali, akibat apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya, meskipun memiliki tenaga untuk melempar kedua temannya hingga puluhan meter secara bersamaan, tapi ia tidak akan menggunakannya. Hari-hari seperti ini harus dijaga. Harus dipertahankan, meskipun sakitnya terkadang bukan main. Karena itu, Issei hanya tersenyum tidak jelas meskipun pertanyaan dari Motohama dan Matsuda yang mulai mengada-ngada.
"Ano..."
"ASIA-CHAN!?" Kedua manusia itu langsung melepas Issei, dan membuat pemuda itu terjatuh ke lantai, dengan mata yang berpusar. "Apa yang bisa dibantu oleh kedua pejantan tangguh ini?" Dengan memasang muka semenarik mungkin yang bisa mereka pikirkan, kedua pemuda itu langsung menyambar ke depan gadis berambut pirang tersebut.
"Ise-kun." Meskipun ada keraguan dalam perkataannya, Asia memberikan senyuman kecil namun tetap memberanikan diri. "Bisakah.. aku berbicara sendiri dengannya? Jika itu tidak menganggu..."
Seperti daun layu yang jatuh dari pohon, kedua pemuda itu membatu dengan ekspresi kekalahan total. "Ah... nasib, bahkan Issei... dan Asia.."
Tidak perlu menunggu lama, Issei dengan senyuman mengikuti gadis itu dengan senangnya. Gadis itu juga seperti merasa dalam daerahnya sendiri, memberikan senyuman manis kepada pemuda yang berjalan di sampingnya. Tanpa memperdulikan apa yang ada di sekitar mereka.
Uzumaki Naruto saat ini dalam dilema. Ada dua jenis cake terbaru yang saat ini dijajakan di kantin. Dua jenis cake dengan rasa yang berbeda dan juga bentuk, namun memiliki keistimewaan yang berbeda satu sama lain. Terbuat dari bahan terbaik, dan juga proses yang memakan waktu lama hingga menghasilkan karya terbaik dari yang terbaik. Dari rumor yang ia dengar, katanya cake tersebut memiliki rasa yang bisa membuat lidah meleleh hingga seluruh rasanya menempel hingga beberapa hari ke depan.
Pelajar yang lain kini sudah menjauhi area yang sekarang Naruto tempati. Untuk mengetahui sifat dan juga karakteristik dari Murid baru tersebut, ada beberapa siswa yang memberanikan diri melihat gerak-gerik pemuda yang termasuk golongan pendiam itu selama beberapa hari. Dan, katakanlah semenjak suatu kejadian yang tidak ingin terulang lagi. Terbuat satu peraturan yang tidak resmi, namun melekat di setiap siswa-siswi Akedemi Kuoh. Mengenai kejadian yang sama persis akan terjadi.
Yaitu: Ketika Uzumaki Naruto terdiam dengan tatapan tajam di kaca yang memisahkan dirinya dan Cake yang dijual. Maka radius 5 meter dari tempat itu harus dihindari dengan segala cara. Hanya satu hal yang pasti ketika tidak menjalankan peraturan tersebut.
Bibi yang menjaga kantin itu hanya menyeringai kecil melihat pelanggan nomor satunya tersebut. Yang saat ini sedang mencoba menentukan pilihannya. "Ayo, Naruto.. kau membuat kantinku sepi jika kau tetap berdiam seperti itu. Lihat, murid yang seharusnya datang ke tempatku kini pindah ke tempat lain."
"Hm.. itu bukan urusanku. Ini adalah sebuah misteri yang tidak bisa kupecahkan sama sekali. Aku sudah menjalani hidup dengan keras, berdarah.. dan penuh akan kegelapan." Setiap kata yang keluar di mulut pemuda itu hanya diiyakan bibi tersebut. Pemuda labil jaman sekarang memang mengerikan. " Tapi, sebuah pilihan tidak bisa kutentukan saat ini. Aku tidak tahu harus memilih yang mana. Lagipula... bagaimana bisa sebuah cake bisa membuat lidah meleleh?"
Bibi penjaga kantin menahan diri untuk tidak menepuk jidatnya sendiri. Daripada repot tidak jelas menjelaskan hal yang seharusnya dipelajari anak SD, ia memilih cara terbaik mengatasi masalahnya. "Jika kamu bingung, beli saja keduanya." Mengingat jumlah cemilan yang sering dibeli Naruto, dirinya merasa pemuda itu bisa dengan mudah membeli apa saja yang diinginkan oleh jiwa mudanya.
Naruto memberikan tatapan serius kepada bibi tersebut, dan kemudian mengangkat jari telunjuknya dan menggoyangnya, beserta kepalanya yang menggelengkan kepala. "Jika itu benar, kedua cake ini bisa meninggalkan rasa yang lama, dan ketika aku memutuskan untuk memakan satu dan kemudian satunya lagi, maka rasa alami dari cake itu akan bercampur. Dan tidak bisa dikatakan sebagai spesial lagi." Ninja itu terdiam sesaat, dan kemudian membuka dompetnya. "Lagipula duitku hanya cukup untuk membeli satu cake. Hm... misteri misteri. Bahkan orang pintar sepertiku tidak tahu harus memilih yang mana."
Bibi itu menarik nafas yang dalam untuk kesekian kalinya, menghadapi keanehan dari murid bernama Uzumaki Naruto dan juga hobinya.
Mata Naruto berputar arah dengan cepat, ketika melihat sebuah tangan kecil hendak meraih sesuatu yang seharusnya kepunyaannya. Dirinya tidak akan menerima seseorang pun yang berani menyentuh cake miliknya. Dengan kecepatan yang melebihi apapun juga, Naruto mencengkram erat pergelangan tangan kecil tersebut sebelum bisa menyentuh permukaan dari kepunyaannya.
"Lepaskan."
"Maaf, untuk kali ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun yang mencoba mengambil cake yang sudah dijanjikan kepadaku." Naruto menambah tenaganya, merasakan kekuatan gadis kecil itu bertambah disetiap detiknya. Meskipun sebenarnya cengkraman yang ia gunakan bisa menghentikan seorang Jounin kelas rendah. "Dan, siapa bilang cake itu boleh kau sentuh. Tolong, dengan hormat jauhkan tanganmu dari kepunyaan Uzumaki Naruto; yaitu Aku."
"Kau belum membayar, dengan kata lain itu bukanlah kepemilikanmu." Jawab singkat, padat dan jelas dari gadis yang memiliki rambut berwarna putih salju tersebut. Tatapannya yang datar, namun dibalik semua itu terdapat rasa tidak ingin mau kalah. Sedangkan Naruto secara bersamaan juga tidak mau kehilangan cake yang seharusnya ia beli.
"Oh, apakah dirimu pernah mempelajari jika binatang menandai daerah kekuasannya, maka jenis lain tidak boleh mencoba untuk mendatanginya. Itulah ucapan yang tepat untuk apa yang kau lakukan pada saat ini." Mata pemuda itu menatap dengan dingin, "Kau. Telah. Berada. Di. Daerah. Kekuasanku." Setiap kata yang diucapkan penuh akan keseriusan dan suara yang lantang. Naruto melakukannya agar gadis berambut putih ini mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Tapi kita bukanlah binatang. Dan kelakukan Naruto-senpai saat ini persis seperti binatang. Bukankah Naruto-senpai seorang Manusia?"
"...Bukan itu yang menjadi masalah sekarang." Ninja itu berdehem untuk sesaat, "Masalah saat ini adalah kau ingin mengambil cake yang seharusnya kubeli."
"Kalau begitu... cepatlah memilih." Koneko menjawab balik dengan singkat. Serasa tidak memiliki kesabaran sendiri akan tingkah manusia yang berada di depannya. "Senpai mengambil satu, dan aku yang satunya." Di dalam hati, gadis itu berbangga bisa menjadi sosok yang lebih dewasa dan bisa membantu pemuda itu dengan masalah sepele yang dianggap kebanyakan orang kekanakan.
Umur tidak menentukan kedewasaan seseorang. Sebuah kalimat yang selalu menjadi pedoman dalam hidupnya.
"Dan masalahnya, diriku tidak suka berbagi dengan orang lain. Aku ingin mempunyai kedua dari cake itu. Tapi karena krisis yang baru-baru ini kuhadapi, aku tidak bisa mengatur keuanganku pada saat ini. Dan mengambil jalan singkat untuk menghemat."
Koneko terdiam sesaat, dan menatap pemuda itu tanpa berkedip sama sekali. Hanya satu kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang dikatakan oleh Naruto ini. "Egois."
"Dan aku tidak mendengar itu." Naruto menjawab dengan nada datar yang lebih datar dari Iblis muda tersebut. "Ini adalah prinsip hidup. Dengan kata lain, jika aku tidak bisa memilikinya, maka orang lain juga tidak bisa."
Koneko menggembungkan pipinya melihat tingkah dari Naruto yang saat ini terjadi. Seberapa besarnya kesabaraan yang dirinya miliki, namun untuk masalah seperti ini, dirinya merasa mulai frustasi. Sebelum manusia di depannya ini datang, ia bisa mendapatkan cemilan apa saja yang ia inginkan tanpa perlu mengantri atau takut kehabisan. Karena kebanyakan orang akan luluh dengan seketika jika melihat dirinya. Meskipun tidak terlalu peduli dengan penampilannya, namun paras yang ia miliki memang terkadang membawa keberuntungan tersendiri. Dan semua itu berubah sejak nega-, tidak, Naruto datang. Untuk menandingi dan menunjukkan bahwa dirinya juga tidak mau kalah, Koneko selalu keluar pertama saat bel istrahat berbunyi, dengan harapan dapat menjadi pembeli pertama di kantin tersebut.
Namun, hal hasil Senpai tersebut sudah terlebih dahulu duduk dengan nyaman ditemani beberapa jenis cemilan yang biasanya selalu ia beli. Itu sebenarnya bukanlah yang menjadi masalah, karena sang Bibi kantin akan selalu menyiapkan cukup banyak. Permasalah utamanya adalah... Naruto memborong semua itu. Toujou Koneko mengaku dirinya bukanlah murid yang cukup baik, namun jika masalah absensi kelas, dirinya bisa disebut selalu hadir. Hanya akan membolos jika ada keperluan penting yang berhubungan dengan Dunia Supranatural. Membolos jam kelas, hanya untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan terlebih dahulu... meskipun malu mengakuinya, tapi Koneko melakukannya.
Dan hasilnya, gagal total. Ya, karena Uzumaki Naruto selalu tepat berada di depan meja kasir saat Koneko tiba di kantin. Dengan Sang-Senpai yang sudah membayar jajanannya. Hanya ada satu kesimpulan yang ia ambil ketika melihat pemuda itu terus-menerus. Bahwa Naruto telah membolos semua jam pelajarannya. Tapi, setelah melihat daftar kehadiran Uzumaki Naruto dengan bantuan rekan Iblis yang berada di Akedemi Kuoh. Ternyata murid yang bernama Naruto selalu hadir dan mengikuti semua pelajaran tanpa ada masalah sama sekali.
"Berada di dua tempat... apa itu bisa?"
"Hm, kau bilang apa?" Naruto menaikkan alis matanya.
"Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa Senpai-pelit."
Koneko menghela nafasnya, bersiap untuk beranjak pergi dan membeli makanan ringan yang lain. Meskipun bukan cemilan favoritnya, tapi setidaknya itu sudah cukup untuk mengganjal perut.
"Untukmu." Suara itu menghentikkan pemikiran gadis kecil itu dan tanpa banyak pikir melirik ke arah tersebut. Serasa tidak yakin, ia melihat tangan itu kembali dan berpindah lagi ke .. itu adalah dua cake yang tadi dipermasalahkan. Namun, sayangnya cake itu tidak lagi utuh. Yang rasa keju sudah terbelah, begitu juga dengan yang cokelat. Hanya sebuah pisau kecil yang menjadi penghubung semua itu. Memberikan tatapan tanda tanya, namun balasan yang ia dapat hanyalah anggukan dan senyuman kecil. Senyuman yang ia tahu menunjukkan ketulusan.
Meskipun sedikit ragu, Koneko tetap menerima pemberian tersebut dan tanpa pikir panjang melahapnya satu persatu. "...Enak."
"Ya, itu memang enak." Naruto mengangguk seraya memakan potongannya. Dan ketika semua telah tercerna, barulah Koneko menyadari sesuatu.
"Tunggu dulu.. bukankah Senpai mengatakan tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli dua cake?" Rasa kosong pada kantong rok kecilnya membuatnya membeku untuk beberapa saat. Dan memberanikan diri melihat sebuah benda pada tangan kiri pemuda itu, yang sayangnya pada saat ini berusaha disembunyikan oleh Naruto. Sebuah dompet merah muda.
Naruto menatap kembali pandangan Koneko saat ini.
"Hm, misteri.. misteri. Tanpa sadar tanganku bergerak dengan sendirinya."
"Bohong."
Seorang gadis yang hendak masuk masa kedewasaannya kini duduk dengan tegap lurus. Sebuah kebiasan yang sudah ia terapkan sejak kecil. Ekspresi wajah yang serius, diiringi dengan tatapan mata yang bergerak dengan setiap lembaran kertas yang berada di tangannya. Dengan tangan kanan yang menulis di sebuah lembaran surat yang baru. Suara pulpen yang bergesekan dengan kertas memenuhi ruangan yang hening tersebut.
"Tidak.. aku tidak akan membiarkan siapapun mencobanya." Hanya kalimat itu yang terulang dalam beberapa waktu. Setiap kertas yang ia tulis, dengan pasti gadis itu akan mengutarakan perkataan itu.
Tidak biasanya, Shitori Souna atau Sona Sitri dalam keseriusan yang teramat sangat seperti ini. Hal ini sudah berlangsung beberapa hari dan tanpa sadar kantung hitam telah menghiasi di bawah kelopak matanya. Beberapa kali atau bahkan berpuluh kali para budaknya berusaha memberikan bantuan untuk menghadapi masalah yang dialami oleh sang Ketua OSIS/Majikan. Namun, kata tidak yang akan selalu menjadi jawaban yang terdengar.
Genshirou Saji menghela nafasnya kembali. Melihat Majikannya masih dalam kesibukan. "Padahal sudah dibilang, biarkan kami yang mengurus semua itu. Lagipula hanya menuliskan surat resmi penolakan, bukan?" Meskipun berbicara dengan dirinya sendiri, tapi dirinya sudah tidak bisa menahannya lagi untuk berbicara di dalam hati dan akhirnya mengeluarkan pemikirannya.
Semua itu terjadi karena kejadian beberapa hari yang lalu, atau tepatnya seminggu yang lalu. Berita Uzumaki Naruto yang berhasil dengan 'mudah' mengalahkan Keturunan Phenex, yang terkenal akan regenerasi dan juga air matanya yang sangat berharga, menyebar layaknya sumbu api ke seluruh penjuru Underworld. Bukan hanya itu, tapi terimakasih juga atas perkembangan teknologi manusia dan juga Iblis, video tersebut juga diunduh ke Iblistube. Di mana para Iblis dari semua kalangan dapat melihat pertarungan sengit tersebut. Pertarungan antara seseorang yang mengaku dirinya hanya 'Manusia' dan juga Iblis yang menyatakan dirinya abadi.
Semua pertanyaan menjadi satu. Penyelidikan juga dilakukan dengan cepat mengenai sosok Uzumaki Naruto. Bukan hanya dari kalangan Iblis reinkarnasi, begitu juga dengan Iblis kelas atas yang memiliki keturunan murni. Seluruh Koneksi di dunia manusia, dan sebagainya digunakan untuk mencari secercal informasi mengenai pemuda itu. Namun, berapapun jumlah biaya yang dikeluarkan... semua usaha untuk dapat mengetahui lebih baik mengenai manusia itu berupa: Nihil.
Hal itu sudah sering terjadi. Setiap peerage Iblis akan berusaha merekrut siapapun yang memiliki potensial atau kekuatan yang bisa menjadi pembalik kartu kemenangan. Pada dasarnya Iblis menyukai kekuatan. Dan untuk membawa atau mengundang ketertarikan dari seorang Manusia, maka Iblis memerlukan semuanya untuk lebih mengerti tentang Uzumaki Naruto. Agar dapat membuat penawaran sangat menarik yang bahkan bisa membuat siapapun tergiur. Untuk melakukan semua itu, maka golongan Iblis harus lebih mengerti terlebih dahulu akan kepribadian targetnya.
Dan semua itu berhubungan dengan surat-surat yang sekarang dalam proses dibalas oleh penguasa Kuoh. Atau lebih spesifiknya Sona Sitri.
Pada suatu waktu, Naruto datang dengan wajah yang menunjukkan kekesalan. Meskipun tidak terlalu ditunjukkan. Namun, dari tatapan matanya saja mereka sudah mengerti apa yang diinginkan oleh pemuda yang membawa satu kardus besar amplop yang memenuhi lokernya. Dan dari sampulnya saja sudah terlihat kemewahan kelas atas. Ada yang diselingi benang emas, dan sebagainya.
Dari sekilas pemikiran, pada awalnya mengira itu adalah surat cinta. Tapi asumsi itu langsung disingkirkan dengan seketika, mengingat Naruto bukanlah tipe pelajar populer. Dan meskipun populer, maka surat sebanyak itu juga mustahil. Lain lagi ceritanya dengan Kiba Yuuto, yang memiliki fansclub dengan materi pembelajaran sosok itu sendiri. Ketika melihat sedikit dari isi surat itu, maka Sona lah yang bereaksi terlebih dahulu. Mengambil kotak itu dan langsung membuat surat balasan baru.
Isinya tidak lain adalah tawaran atau undangan untuk masuk ke peerage Iblis. Ada dari peerage kelas rendah, ada juga yang dari kelas atas. Semuanya berada di dalam kotak tersebut. Untuk manusia biasa, jika melihat isi dari surat itu bahkan akan langsung mengangguk tanpa berpikir panjang. Mengingat banyak pemikiran dunia dikendalikan oleh Uang, maka tidak salah jika ada beberapa kalangan manusia yang menjadi Iblis reinkarnasi karena masalah seperti ini.
Namun, kita tidak bisa langsung menilai seseorang yang menjual jiwanya kepada Iblis karena masalah harta begitu saja. Ada yang membutuhkan biaya untuk pengobatan seseorang yang mereka sayangi. Itu merupakan contoh kecil dari apa yang sebenarnya terjadi di balik manusia yang melerakan jiwanya menjadi iblis. Yang selamanya tertutup dari pintu Surga.
Tidak hanya itu.
Tawaran dan alat negosiasinya juga bermacam-macam.
Dari harta yang tak akan pernah habis tujuh turunan.
Tanah atau wilayah kekuasan. Baik itu di dunia manusia atau underworld.
Senjata kuat yang memiliki sejarah masa lalu.
Bahkan mimpi tergila dari anak muda yang memiliki hormon tinggi, yaitu... Harem. Harem yang berisikan wanita-wanita tercantik dari seluruh penjuru Dunia. Baik itu manusia ataupun Iblis itu tersendiri. Dan tentu saja... Perawan. Alat negosiasi seperti itulah yang biasanya digunakan Iblis untuk mengundang makhluk seperti manusia untuk menjadi anggota peerage atau budak mereka. Dan tidak sedikit pula yang jatuh dan menerima tawaran itu.
Namun, sayangnya... Naruto bukanlah manusia biasa yang Iblis temui. Ia bukanlah tipe yang bisa dengan mudah dibujuk dengan semua itu. Karena di matanya semua itu bukanlah sesuatu yang berharga. Bahkan tidak sama sekali. Manusia yang hidup dengan jalan Ninja, dan juga akan mati di jalan Ninja itu sendiri. Sebuah perkataan yang terngiang di telinga Iblis muda yang mengenal Naruto. Singkat kata, semua tawaran itu ditolak olehnya tanpa pikir dua kali. Meskipun dengan jumlah alat tawaran yang digunakan.
Saji menghela nafasnya kembali. Setidaknya yang bisa ia lakukan adalah membawakan Sona secangkir atau beberapa cangkir kopi untuk tetap bisa bertahan untuk beberapa waktu lebih lama. Sona Sitri tidak akan berhenti jika ada suatu tugas yang ia emban atau pekerjaan yang membutuhkan perhatiannya sendiri. Ia akan mengerjakan semua itu hingga tuntas tanpa ada permasalahan kedua. Itulah salah satu alasan mengapa dirinya jatuh cinta kepada Ketua OSIS yang sekaligus merupakan Raja-nya. Masih ada harapan kecil yang bersarang di hatinya, agar Sona dapat mengerti akan perasaanya.
Dirinya tidak mengerti mengapa seseorang seperti Raja-nya bisa menyimpan perasaan terhadap Naruto yang menurutnya monoton itu. Baginya Naruto tidak memiliki karakteristik yang membuat wanita bisa tertarik kepadanya. Dia tidak terlalu tampan, pakaian yang digunakan juga tidak mengikuti trending. Begitu juga dengan kepribadiannya yang... sedikit membingungkan dan aneh. Dan meskipun dari semua sisi negatif tersebut, satu hal yang lebih parah dari semua itu adalah: Dia bisa menarik perhatian Raja peerage tersebut tanpa melakukan apa-apa. Saji sungguh tidak peduli jika Naruto itu kuat, memiliki banyak harem atau apa sebagainya. Namun, ketika dia berada di lingkaran ketertarikan sang Raja maka lain lagi ceritanya.
Dibelahan dunia manapun, tidak ada laki-laki yang suka ketika melihat perempuan yang ia cintai ternyata menyukai orang lain. Ditambah dirinya sudah berjuang cukup lama untuk mendapat balasan yang sama. Sedangkan orang ketiga tersebut dengan waktu yang singkat. Waktu berlalu dan dirinya hanya bisa menelan pil pahit.
Saji juga ingin melihat gadis yang ia sukai bahagia... meskipun harus menerima kekecewaan yang mendasar.
"Saji, apa yang kau lakukan di sini?"
Suara itu membuat pemuda itu terkejut untuk sesaat, namun menenangkan diri ketika mengenali suara tersebut. Suara dari wakil ketua OSIS Akedemi Kuoh sekaligus Ratu dari Raja-nya, Tsubaki Shinra. Kakak kelas yang juga termasuk dalam jajaran siswi tercantik di Akedemi Kuoh. Meskipun ekspresinya yang selalu terlihat serius. Dengan memberikan tawa gugup, Saji menjawab. "Hahahaha... sebagai pion dari Kaichou, itu sudah menjadi tugasku untuk membantunya sebisa mungkin."
"...Benar."
Dari jawaban itu saja, Saji sudah tahu alasannya tidak akan dipercaya. "Hanya saja..."
"Kau merasa kasihan melihat Sona-sama bekerja seperti itu, bukan?" Gadis berkacamata itu menjawab dengan nada pelan. Melihat ekspresi dari pemuda itu, Shinra sudah yakin akan jawabannya. "Kau seharusnya tidak perlu memikirkan hal itu. Ini sudah menjadi kebiasaan dari Raja kita. Dan juga ini berhubungan dengan Naruto-san, jadi seharusnya itu wajar saja."
"Tapi, bukankah ini masalah yang seharusnya diselesaikan oleh Uzumaki itu sendiri? Kenapa jadi memberikannya ke Kaichou?" Saji mencoba memberikan alasan valid yang mungkin akan memperkuat opininya. "Peerage kita tidak ada hubungannya dengan peerage lainnya dari Underworld, begitu juga dengan tawaran mereka. Seharusnya dia yang menghadapinya dan memutuskan sendiri."
Tsubaki terdiam untuk sesaat dan hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Kau tidak mengerti. Semua ini ada hubungannya. Termasuk apa yang terjadi." Gadis itu melirik ke arah kiri dan kanan untuk sesaat, "Aku tidak berkenan menceritakannya, tapi pada akhirnya Sona-sama merasa berhutang budi pada Naruto-san dan juga Hyoudou-san. Kau sudah tahu bahwa Rias-sama merupakan sahabat dari Sona-sama, jadi itu wajar saja jika Raja kita juga ingin membalas budi."
"Aku tidak mengerti..."
"Dan karena itulah mengapa kau tidak bisa mendekati Sona-sama dari apa yang seharusnya." Perkataan itu membuat Saji melebarkan mata, meskipun berpikir dengan keras, ia tidak menemukan jawaban apa yang ia cari. Belum sempat memberikan tanggapannya, gadis itu telah melanjutnya. "Dan coba kau pikirkan, Naruto-san selama ini selalu menyelesaikan masalahnya sendiri. Tanpa meminta bantuan orang lain."
Saji mengangguk untuk sesaat. Mengingat hasil observasinya terhadap siswa satu itu.
"Dia tidak pernah mempercayai orang yang berada disekitarnya lebih dari batasan normal, mungkin hal itu tidak berlaku bagi Hyoudou-san dan Argento-san. Namun, kita juga tidak tahu akan hal itu. Dari postur tubuhnya, aku sudah melihat dia merupakan petarung terlatih yang bisa menyerang apa saja dalam sekejap jika keadaan mendesak. Semua itu terbukti ketika dia mengalahkan Riser Phenex pada pertandingan waktu lalu."
Meskipun mengerti apa yang dikatakan oleh sang Ratu tetapi ia tidak menemukan apa hubungannya dengan semua itu.
"Ketika Naruto-san datang ke ruangan OSIS, tempat kita berada. Itu sudah menunjukkan kepercayaannya sudah meningkat dari sebelumnya. Dengan kata lain, Naruto-san sudah mempercayai Sona-sama untuk membantunya dengan masalah yang ia hadapi. Ia sudah mempercayai Raja kita lebih dari cukup untuk memberikan jawabannya kepada para peerage yang tertarik dengannya tanpa mengutarakan satu katapun. Karena Sona-sama sudah mengerti apa keinginan Naruto-san tanpa harus menanyakan lagi. Dan Naruto-san sudah percaya akan kemampuan Raja kita untuk bisa menjawab semua itu tanpa adanya masalah di masa depan." Tsubaki berhenti sesaat, membiarkan Saji menyerap semua apa yang ia katakan.
"Lagipula... tidakkah kau lihat, Sona-sama saat melakukan pekerjaannya?"
Saji tidak perlu menoleh lagi untuk memastikan. Karena ia tahu, Raja-nya tersebut saat ini sedang tersenyum.
Naruto menyandarkan kepalanya ke pohon yang berada di halaman sekolah tersebut. Meskipun merupakan sebuah sekolah yang termasuk taraf internasional, Akedemi itu juga tidak lupa memberikan kenyamanan bagi muridnya. Baik dari fasilitas pembelajaran, maupun dari segi ruang terbuka yang berada di lingkungan sekolah itu. Dan itulah yang sekarang dinikmati Naruto pada saat ini. Pepohonan rindang yang berada di belasan meter dari gedung utama Sekolah itu tumbuh rapi sejajar, dengan kursi panjang maupun jenis lainnya.
Tidak jauh dari tempat tersebut, terdapat lapangan lari. Atau biasa disebut track-and-field. Dan kebetulan atau tidak, lapangan itu saat ini dipakai untuk olahraga kelas tiga. Dari kelas mana, Naruto tidak mau tahu dan tidak ingin tahu. Karena Akedemi Kuoh kebetulan merupakan institusi yang dulunya sekolah khusus perempuan, jadi wajar saja jika yang olahraga pada saat ini kebanyakan adalah kaum hawa. Ketika berlari, siswi dengan dada yang sedikit lebih besar dari yang lain pasti akan menyebabkan guncangan yang menyebabkan dada tersebut bergetar. Dengan cuaca yang sedikit panas, keringat pun tak terhindarkan. Menyebabkan garis pakaian dalam kebanyakan siswi terlihat, maupun lekuk tubuhnya.
Ninja itu sungguh tidak mengerti sama sekali apa yang menarik dari pemandangan yang berada di depannya. Issei-san berkata bahwa dirinya akan mendapatkan pemandangan yang membahagiakan ketika melihat aktivitas tersebut. Sayangnya... Naruto tidak menemukan apapun yang indah dari kegiatan itu. Jika dilihat dari perbedaan dari dunianya dan juga dimensi ini, maka latihan seperti itu hanya dilakukan oleh anak akedemi kelas pertama. Sedangkan Ninja yang berusia 17-18 tahun akan berada di lapangan, memasuki pekerjaan sebagai Ninja yang berbahaya.
Tapi, mereka adalah manusia yang dalam masa kedamaian. Bukan dalam masa peperangan atau saling invasi daerah lain. Atau setidaknya begitu yang mereka pikirkan. Meskipun terlihat seperti ilusi yang suatu waktu akan pecah, namun kedamaian seperti ini juga sudah terlalu bagus untuk menjadi kenyataan di Negara elemen. Setidaknya mereka bisa hidup hingga bisa memiliki anak dan cucu, daripada dunianya yang usia rata-rata hidup tidak bisa ditentukan sama sekali.
Ada perasaan tersendiri yang bisa ia rasakan pada saat ini. Membuatnya berpikir akan semua yang telah terjadi. Tubuh seperti lebih ringan dari sebelumnya, langkah kaki seperti bisa pergi ke mana saja tanpa perlu khawatir akan rantai yang selalu membelunggu setiap arah yang ingin ia tuju. Semuanya terasa berbeda dari yang dulu.
*Naruto...*
"Hm.. Ya, Kurama?"
*Apa yang kau rasakan pada saat ini?* tidak seperti biasanya Kyuubi berbicara seperti ini. Itulah yang berada di pikiran Naruto pada saat ini. Nada kemarahan yang menjadi ciri khasnya menghilang, digantikan nada pelan bersahaja, kata-kata kasar yang selalu terngiang di telinga, berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Dan... itu adalah keanehan. *Bagaimana dengan tujuan kita? Apa kau lupa..*
"...Tidak."
*Kau terdiam untuk beberapa saat, kau tidak yakin.* Kurama langsung menjawab dengan tepat. *Mungkin ini adalah pengalaman baru bagimu, tapi ingat. Kau memasuki sesuatu yang seharusnya tidak kau lakukan. Jangan mencoba sesuatu yang tidak kau yakini, Uzumaki Naruto. Kau tidak boleh menaruh harapanmu pada sesuatu yang tidak pasti.*
"Itu benar. Kau akan selalu benar. Aku minta maaf..."
*Cih.*
"Namun, hidupku akan selalu menjadi datar. Bahkan menjadi minus diantara angka yang lain. Apakah aku harus selalu membunuh? Mencabut nyawa orang lain yang bahkan tidak kuketahui sama sekali... yang bahkan tidak pernah memiliki masalah denganku? Perintah, bukankah kita mengikuti perintah dari Danzo-sama?"
*Jangan panggil monyet itu dengan SAMA, dia tidak pantas mendapatkannya. Dan dia juga bukan tuanku, perbedaan kekuatanku dengan dirinya terlalu jauh bahkan aku tidak sadar jika bisa menginjak tubuhnya; Aku. Tidak. Akan. Pernah. Mengikuti. Perintah. Siapapun. Kecuali...*
"Kecuali?"
*Itu bukan urusanmu, bocah.*
"Apa yang harus kau takutkan jika begitu?" Naruto menutup matanya, mengosongkan pikirannya dan terjatuh ke lubang yang dalam. Tubuh melayang dengan seketika lalu membalikan tubuh hingga kaki yang berada di bawah. Perlahan tapi pasti, ia menginjak permukaan air yang menjadi tempat landasan. Berjalan diantara kegelapan, hingga sampai ke besi jeruji raksasa yang memisahkan dinding antara Kurama dan pikirannya. Berjalan tanpa takut, dengan suara gema yang berulang hingga tidak jelas. Tangan memegang besi dingin besar tersebut.
Dan kelopak mata terbuka, menunjukan iris terbelah berwarna merah.
Naruto terdiam sesaat.
"Kita bebas. Kau dan Aku. Tidak akan ada lagi yang bisa memerintah kita di dunia baru ini... namun, bukan berarti aku akan lari dari kenyataan. Bukan berarti aku akan meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya ku emban." Kurama tidak menjawab, tidak memberikan balasan yang menunjukkan penolakan atau persetujuannya. Hanya deru nafas yang tenang.
*Lucu sekali, kau berkata diriku bebas. Tetapi kau bisa berjalan ke manapun engkau pergi, tanpa perlu khawatir. Sedangkan aku? Berada di tempat ini, tidak bergerak, hanya duduk menyaksikan apa yang kau lakukan dari balik segel terkutuk yang dibuat oleh Ayahmu.*
"Ingat perjanjian kita.." Sebuah suara yang langsung mendiamkan Rubah besar tersebut, "Ketika aku mati, itu adalah hari kebesanmu. Segel itu sudah kuubah. Jika Yondaime-sama menginginkan dirimu ditelan Shinigami setelah kematianku, maka aku sudah merubahnya. Ketika diriku mati, itu adalah hari di mana engkau Kurama Bijuu terkuat terbebas."
*...Itu memang benar.* Satu mata yang terbuka kini tertuju kepada mata biru kusam tersebut, *Menunggu 50-60 tahun lagi bukanlah sebuah masalah, waktu bukanlah sesuatu yang akan kupermasalahkan. Aku mempunyai semua waktu di dunia ini.*
"Sekali membuat janji. Aku akan selalu menepatinya... itulah yang akan kulakukan."
*Karena itulah aku lebih suka dibebaskan di dunia kita daripada dunia ini.*
"Karena kau tidak merasa menjadi yang lebih terkuat setelah mendengar adanya Tuhan, dewa dan segala macam yang melebihi kekuatan manusia?" Kurama tidak menjawab, harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui perbedaan kekuatannya dengan makhluk yang supranatural seperti itu. Meskipun ia ingin mencoba kekuatan yang dimiliki dengan makhluk terkuat supranatural.
*Tidak... hanya saja, tempat ini berbeda. Jauh berbeda... ini bukan habitat kita. Dirimu adalah mesin pembunuh, jangan mengelak itu. Kau tidak akan bisa merubahnya, ketika merasakan emosi manusia yang berada di tempat ini; kau bukanlah orang yang cocok tinggal berbaur dengan kehidupan damai ini. Di satu sisi, kau tidak ingin masuk lebih dalam ke dunia supranatural yang berisikan makhluk yang bahkan memiliki kekuatan Tuhan. Namun, lama kelamaan kau malah mendekatkan dirimu dengan kelompok kecil itu.*
"Aku tahu dan kurasa hal itu tidak bisa kuhindari. Karena itulah aku tidak membeberkan informasi diriku terlalu dalam, agar tidak ada yang mengetahui satu hal pun. Meskipun hal itu terjadi, semuanya tidak akan berguna sama sekali." Naruto mengelus jeruji untuk sesaat. "Ketika waktunya tiba, kita akan memikirkannya kembali." Pemuda itu mengambil langkah mundur untuk beberapa saat dan kemudian berhenti karena mendengar suara dari partner-nya.
*Jangan menyesal ketika perpisahan harus diucapkan.*
"Rekan yang kukenal selama beberapa tahun saja mati di depan mataku sendiri. Dan aku tidak merasakan apa-apa. Hubungan kecil yang terjadi pada saat ini bukanlah sesuatu yang berbahaya bagi kita. Karena mereka tidak akan mati, perpisahan hanyalah saling mengungkapkan. Perpisahan tidak akan seburuk melihat rekanmu mati."
Kurama menutup matanya, membiarkan Naruto keluar dan kembali ke kesadarannya.
*Kau memang perlu banyak belajar.*
Ketika Naruto membuka matanya, hal pertama yang ia sadari adalah keberadaan seseorang yang berada di sampingnya. Insting pertama yang bekerja adalah mencoba mengambil kunai dan menusuk siapapun orang itu. Namun, ketika mendengar suara yang sangat ia kenal Naruto pun terhenti sebelum aksi itu bisa terjadi. Dengan menarik nafas berat ia kemudian melirik ke samping.
"Aku kira kau tidak sama seperti Hyoudou-san." Suara itu terdengar kecewa, "Ternyata kau mempunyai kebiasaan untuk melihat perempuan basah akan keringat saat olahraga."
"Tidak, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Naruto mengusap matanya untuk sesaat, "Aku hanya mengikuti saran yang diutarakan oleh Issei-san dan pada akhirnya ketiduran karena tidak terlalu mengerti apa yang menarik dari melihat mereka."
Gadis yang berada di sampingnya hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Berteman dengan Hyoudou-san merupakan sesuatu yang tidak dilarang siapapun. Asalkan kau tidak meniru kebiasan buruknya."
"Oh... Sona." Pemuda itu seperti baru menyadari sesuatu, ketika melihat sosok gadis yang berada di sampingnya. Postur gadis itu melengkung duduk, tidak seperti biasanya yang tegap. Kulit seperti memucat dan juga bibir yang mengering. Namun yang menjadi perhatian utama dari Ninja itu adalah lingkaran hitam yang berada di bawah kedua mata gadis itu. "Kau... tidak tidur."
"Aku menyelesaikan semua balasan yang diperlukan terhadap surat tersebut dan pada saat ini dalam proses pengiriman ke underworld. Hal itu sudah kupastikan agar semuanya terkirim langsung ke alamat-alamat yang tertera." Sona menghela nafasnya, "Aku tidak bisa istrahat jika pekerjaanku belum selesai sama sekali."
Naruto hanya terdiam, meskipun ekspresi wajahnya datar namun ia mengerti kerja keras seperti apa yang dilakukan oleh gadis tersebut. "Sona..."
"Ya, Naruto-kun?"
"Terimakasih."
"I-Itu memang sudah menjadi kewajibanku." Sona tergagap dan melihat arah lain, "Lagipula, dengan ini kau lebih percaya padaku."
"Hm?"
"Tidak ada." Gadis itu membesarkan suaranya, menutupi agar tidak terdengar bagian terakhir tersebut. Namun, tidak berlangsung lama ia merasakan tangan pemuda itu mulai membelai lembut kepalanya, "Seharusnya aku menganggap ini perlakuan tidak sopan yang melanggar peraturan. "Meskipun dirinya mencoba memberikan nada yang tegas, namun lama kelamaan suara itu mati di setiap detiknya. "Tapi, untuk kau... aku akan membuat pengecualian."
Iblis itu hanya menikmati suasana yang ada, meskipun tidak ada satu patah kata pun yang terucapkan. Namun, dirinya tidak merasa itu diperlukan sama sekali untuk saat ini. Waktu serasa tidak berlaku baginya, karena dirinya selalu tahu itu. Mencuri pandang sesekali, untuk melihat ekspresi dari pemuda yang berhasil menghangatkan hatinya untuk saat ini. Dirinya ingin tahu apa yang dipikirkan oleh lelaki ini. Mencoba mengerti dibalik wajah datarnya yang bisa mengelabuhi siapa saja tanpa pengecualian.
"Naruto... apa yang akan kau lakukan di masa depan?"
"Maaf, aku tidak mengerti apa maksudmu." Pemuda itu menjawab dengan tatapannya itu. Membuat Sona menghela nafasnya sesaat, sepertinya jawaban yang seperti ini merupakan mekanis pertahanan dari sosok yang berada di sampingnya. Sona berjanji untuk menghilangkan kebiasan buruk dari Ninja tersebut.
Sona tersenyum, meskipun dirinya tidak yakin ekspresinya yang sekarang asli atau tidak. "Aku tidak terlalu mengenalmu, meskipun aku mengetahui bagaimana kebiasan dan juga kesukaanmu secara general. Ketika kau menghadiri pesta pertunangan Rias dan juga Riser, aku merasa semua sudah ada kesalahan. Aku khawatir... sungguh khawatir ketika Maou-sama memintamu melakukan pertarungan tersebut. Diriku sudah mempelajari sejarah keluarga Phenex dan juga kemampuan mereka yang luar biasa. Semua seperti menjadi mimpi terburukku ketika melihatmu dan Hyoudou-san melawan kekuatan seperti itu."
"Tapi, kekhawatiranmu itu tidak diperlukan. Aku masih hidup, masih duduk di sampingmu tanpa adanya luka satupun."
"Salahkah aku mengkhawatirkanmu?"
Meskipun ingin menjawab, meskipun ingin membalas perkataan itu. Naruto tidak bisa menemukan kata yang bisa menjelaskan apa maksudnya yang sebenarnya. Entah mengapa, dari perkataan itu membuatnya merasa membeku. Baik dari luar atau dalam. Ada sesuatu yang menjalar ke dada kirinya, menghangatkan sanu bari.
Bagaikan patung, pemuda itu terdiam dengan sendirinya. Tidak terbiasa mendengar perkataan seperti itu untuk kesekian kalinya. Bagaikan pengalaman baru yang sangat aneh, namun simpel. Wajah itu seperti membesar di penglihatannya, mendekat dengan perlahan bagaikan magnet yang menarik satu sama lain. Pemuda itu tidak bergerak dari itu, hanya menerima dan menunggu akan apa yang dilakukan oleh gadis berkacamata tersebut.
..
..
..
Dan Sona terjatuh, seperti boneka tanpa tali yang mengendalikannya. Dengan kepala yang bersandar di dada Naruto dan seluruh beban ditumpukan kepada pemuda itu. Mata tertutup dengan tenangnya, nafas yang keluar dengan tenangnya membuat pemuda itu mengerti apa yang terjadi. Akhirnya Naruto sadar, lelah seperti apa yang membuat gadis ini bisa pingsan pada akhirnya. Ia menyentuh sesaat bibirnya, masih bisa merasakan kontak antara dirinya dan Sona.
Sungguh, dirinya tidak tahu apa yang harus dipikirkan pada saat ini.
"...Kau...tidak...peka..."
Gumaman yang membuat otak pemuda itu bekerja sendiri. Tidak memahami maksud dari kata-kata itu. Menghela nafas, dan melihat langit untuk sesaat, dirinya kemudian memeluk gadis yang ketiduran tersebut. Memberikan kehangatan untuk beberapa saat yang bisa tubuhnya berikan. Naruto memejamkan matanya, mencoba tidur.
Meskipun ada beberapa siswa yang lewat memberikannya tatapan aneh.
Dan benda apa itu yang mengeluarkan kilatan cahaya?
Rias melepas kacamata bacanya dan menutup buku yang tadinya ia baca. Dari jendela kaca ruangan Markas peerage-nya, dirinya bisa melihat pemandangan biasa dan juga tidak biasa. Yaitu Sona dan juga Naruto. Jika dirinya mempunyai kamera pada saat ini, maka momen seperti ini harus diabadikan. Karena mungkin bisa menjadi bahan pembicaraan antara dirinya dan juga teman masa kecilnya tersebut. Tentu saja akan banyak kesenangan ketika melakukan itu semua.
Suasana hatinya beberapa waktu ini sangat membaik. Meskipun dengan kesibukan sebagai Raja sebuah peerage, tapi apa daya itulah kewajibannya. Namun, berkat kejadian baru-baru ini semua sudah berubah dengan menjadi lebih baik. Bahkan lebih baik dari beberapa tahun sebelum ini, semuanya berkat pertaruhan yang dilakukan oleh Riser dan juga Ise. Dan... tentu saja, Uzumaki Naruto. Karena berkat mereka berdua kebebasan bisa ia raih meskipun dengan kematian Iblis tersebut. Walaupun ada rasa kasihan akibat takdir yang harus diterima Riser, itu merupakan sesuatu yang tidak diperhitungkan sama sekali.
Seluruh beban yang berada di pundak menghilang begitu saja. Tidak ada lagi yang harus dikhawatirkan, tidak ada lagi hari yang harus dihitung ke akhir cerita. Tapi dari semua itu, akhirnya dirinya menyadari apa yang kurang. Kekuatan. Dirinya tidak buta bahwa banyak Iblis lain yang bahkan jauh lebih kuat dari Riser atau yang lainnya, dan Peerage-nya masih belum bisa dikatakan apa-apa dengan para Iblis kelas atas tersebut. Semua sudah terbukit di kala Rating Game melawan Riser, meskipun tidak resmi tapi peraturan yang digunakan sama saja. Rias memang mengakui dirinya menyayangi semua bidak yang menjadi bawahannya. Bahkan menyediakan apapun agar mereka menjadi nyaman bersamanya. Tapi kadang kala, sebagai Raja ia harus bersikap tegas untuk menyongsong masa depan.
Dengan pikiran yang lebih jernih jauh dari masalah, gadis itu mencoba memikirkan strategi latihan terbaru untuk anggota peerage-nya. Guru terbaik, akan ia coba untuk hubungi menggunakan kekuatan keluarga Gremory. Dirinya ingin agar para bidaknya bisa menghadapi dan bertahan dengan diri sendiri. Cukup kuat untuk bisa melawan kelas tengah Iblis atau selebihnya lagi.
Sona...
Mungkin sahabatnya itu tahu mengenai program latihan yang sesuai untuk masing-masing bidaknya. Dengan begitu, Rias membuat rencana pertemuan dengan teman masa kecilnya itu.
"Buchou."
"Akeno." Rias membalas sapaan tersebut tidak lupa memberikan senyuman kepada ratu-nya. Ia melihat sahabatnya itu melirik ke arah jendela, tidak salah lagi melihat apa yang ia pikirkan dari tadi. "Kurasa kita haru membeli kamera untuk disimpan di ruangan ini, siapa menyangka? Kita dapat melihat Sona tanpa ekspresi dinginnya." Gadis itu terkekeh kecil, mengeluarkan opininya akan apa yang terjadi. Namun, entah mengapa Akeno tidak merespon. "Akeno?"
"Ah... " Akeno terdiam sesaat, "Hanya saja ada yang lupa kulakukan."
"Hm?"
Ia kemudian melirik sesaat kepada Rias dan memberikan senyuman sedih. "Kurasa aku salah paham dengannya. Uzumaki Naruto... tanpa berpikir panjang pada waktu itu, aku menamparnya di wajah dan kekuatan yang kugunakan jauh diambang batas garis kekuatan manusia. Setelah itu semua, aku berpikir buruk akan maksud dan juga banyak hal lainnya."
"Aku tidak bisa menyalahkanmu, Akeno." Rias tersenyum sesaat, "Aku saja mengalami hal seperti itu ketika pertama kali bertemu dengan dia. Meskipun begitu, aku mencoba mencari tahu lebih dalam sebelum menilai. Walaupun terkadang tingkahnya menjengkelkan, tapi kurasa itu adalah bagaimana caranya menilai kita terlebih dahulu. Naruto menyudutkan kita dengan tingkah dan juga sifatnya, dia mencoba membuat kita mengeluarkan warna kita yang asli. Diri kita yang sebenarnya..."
Gadis dengan rambut hitam panjang itu terdiam sesaat serasa menyadari sesuatu. "Dan kurasa dia berhasil."
"Begitulah." Iblis dengan rambut merah itu kemudian menatap kembali dari jendela, "Sona mengatakan Naruto merupakan seseorang yang berada di ambang genius, melihat dari IQ, pola pikir, pengendalian emosi, maupun dari cara penyelesaian masalah yang ia lakukan. Bidang akedemi juga bukanlah tandingan lagi untuk sekelasnya. Tidak salah jika kita bisa terkecoh dengan mudah."
"Aku harus minta maaf kepadanya. Tentang semua itu dan juga berterimakasih." Senyum Akeno kemudian berubah menjadi lembut, "Karena telah membantu menyelesaikan permasalahan itu." Rias hanya tersenyum, tidak membalas. Namun sebuah pertanyaan membuat Rias terdiam untuk yang pertama kali.
"Rias... apa kau yakin putri dari Phenex itu tidak akan membuat masalah ketika transfer ke Akedemi Kuoh, mengingat apa yang terjadi." Ia berbicara dengan pelan, serasa tidak yakin akan topik yang ia ungkit.
"Peraturan dan Hukum sudah dibuat jelas, Phenex dilarang melakukan hal yang tidak menyenangkan kepada Uzumaki Naruto, dengan cara apapun. Dan semua itu sudah tertulis di kontrak yang telah dibuat dengan sihir." Rias menjawab dengan serius, "Jika hal seperti itu terjadi, maka konsekuensinya akan diterima."
Mengingat apa yang diutarakan oleh Naruto pada waktu itu... dirinya tidak yakin akan apa yang terjadi selanjutnya jika hal itu memang terjadi.
..
..
Akeno kemudian duduk di seberang teman kecil sekaligus Raja-nya. "Jadi, apa kau menyerah untuk merekrut Naruto?"
"Hm, tidak ada pilihan lain. Aku tidak akan memaksakan kehendakku kepada siapapun, baik itu manusia atau makhluk yang lainnya. Jika pada akhirnya diriku tidak bisa memberikan alat penawaran yang berarti padanya, maka semuanya sudah berakhir. Aku tidak memerlukan bidak yang dari awal memang tidak menginginkan menjadi Iblis reinkarnasi." Rias kemudian menghela nafasnya sesaat, serasa tidak ingin membahas topik yang berat, karena itu ia menggantinya.
"Dan, bagaimana dengan Ise-kun? Aku tidak melihatnya dari tadi."
"Nfufufufu~ aku tidak tahu Buchou-sama sudah memberikan nama panggilan yang baru kepada Issei." Akeno memberikan tatapan menggoda. "Tentu saja, sang Pion merah dengan armor kerasnya datang menyelamatkan sang Putri. Jika begitu ceritanya, aku juga ingin berada di posisimu." Ia kemudian menaruh jarinya ke dagu seraya mengingat kejadian tadi, "Kalau tidak salah, Ise-kun dan Asia-chan pergi makan bareng."
Rias terdiam untuk sesaat dan kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak, kau salah Akeno.."
"Ara?"
"Tidak, tidak apa. Sebaiknya kita menyusul Issei, Asia dan yang lainnya. Kita tidak mau bukan ketinggalan?" Rias memberikan senyum sesaat dan kemudian berdiri, diikuti oleh Ratu-nya. Sesaat hendak keluar, gadis itu memberikan tatapan terakhir terhadap apa yang terjadi di luar jendela itu. Senyuman itu terjatuh.
Langit malam jepang akan selalu tertutup oleh polusi yang disebabkan kendaraan mereka. Cahaya bintang yang meredup di kala malam, akan sangat sulit untuk ditemukan, apalagi di daerah perkotaan. Namun, meskipun begitu... terdapat fenomena aneh yang terjadi di sebuah hutan yang terdapat di Jepang. Tepatnya di langit itu sendiri. Bagaikan kenyataan yang terbelah, itulah yang terjadi pada malam itu. Lubang hitam yang berbentuk kotak perlahan muncul dari ketidakadaan, membesar...
Hingga sebuah jemari lembut keluar. Cahaya menyinari untuk beberapa saat, bagaikan jendela langit. Malam yang terbelah itu kemudian semakin membesar, hingga membuat jalan tersendiri hingga muat untuk dilewati seseorang. Kimono yang terbuat dari bahan terbaik melayang di atas udara, menutupi tubuh indah dari wanita itu sendiri. Rambut bagaikan surai panjang itu sendiri terbawa angin dengan mudahnya...
Mata tanpa pupil yang melihat keadaan sekeliling untuk beberapa saat. Bagaikan bisikan yang berasal dari dalam jiwa.
"Ke mana pun engkau pergi, diriku akan selalu menemukanmu."
Sesi tanya jawab:
Ada beberapa pertanyaan yang menurut saya sudah saya balas dengan PM tersendiri. Mereka adalah pembaca yang memang membutuhkan penjelasan cukup rinci dan juga yang menarik perhatian saya. Bahkan ada yang berupa pujian dan juga saran yang sangat saya hargai. Untuk kalian yang membaca dan juga mereview dalam rupa apapun, Terima kasih banyak. Saya sangat menghargai itu semua.
Dan ada beberapa PM yang memang menanyakan mengapa saya tidak mengupdate fict saya. Jujur saja... saya memang sibuk. Bahkan tidak memiliki waktu sama sekali untuk memeriksa list follow story saya.
Dan untuk:
Phein. Pemimpin: Kamu adalah contoh pembaca yang tidak tahu berterimakasih. Saya bukan mesin penulis yang bisa mengerjakan sebuah fic tepat waktu, mengingat saya memiliki banyak masalah di real life yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Saya tidak bisa mengedepankan cerita saya daripada masalah itu dulu. Kata-kata kotormu memang mencerminkan bagaimana engkau diajarkan oleh orang tua kamu. Sungguh saya kecewa banget. Saya sudah berusaha menjelaskan tapi... yah... kamunya aja like a boss. Kalau kamu tidak suka bagaimana cara saya mengupdate cerita, saya sudah saranin, un-favorite cerita saya.
AN: Dan sebuah update. Hah... syukurlah. Tidak ada yang mau saya katakan dalam chapter ini. Meskipun akan ada pembaca yang merasa chapter ini kurang menarik. Namun, bagi saya sang Author. Ini merupakan pondasi awal alur yang akan berpisah jauh dari canon-nya. Karena jujur saja, setelah ini mungkin memang ada satu atau beberapa bagian yang akan sama dengan canon, tapi pada akhirnya semua akan terselesaikan menurut pemikiran saya. Mengingat jumlah words yang saya tulis. Saya bisa mengatakan dengan jelas, cerita ini akan tamat dalam kisaran 20-25 chapter. Dengan semua masalah terselesaikan. Ada beberapa ending yang mungkin sudah saya bayangin. Baik itu sad ending, tragic ending, ataupun happy ending. Semua bisa saya lakukan jika dalam masa penulisan ini.
AN 2: Chapter ini belum di proof reading atau di beta-ed terlebih dahulu. Jadi kemungkinan typo, kata tidak baku, dan berbagai macam kesalahan lainnya akan terlihat. Saya memang ingin memperbaikinya, tapi ini sudah larut malam dan anda tahu? saya sudah tidak tidur selama 2 hari full hanya karena mengerjakan tugas. Jadi, jika para pembaca ingin atau mau bersedia membantu saya. Maka bisakah anda mencari setiap kesalahan tersebut? Agar keesokan harinya bisa saya perbaiki langsung. Saya memang tidak biasanya seperti ini, tapi kondisi memaksa.
...
Sekian dan terimakasih telah membaca chapter 7 dari Akar. Jadi yang suka hal seperti ini, silahkan datang, dan jika tidak...ya udah. Saya sangat menghargai jika kalian mau untuk meluangkan waktu kalian untuk mereview chapter ini. Dan akan saya balas dengan PM jika ada pertanyaan. kritik kontruksi, kesalahan typo saya terima semua. katakan apa pendapat kalian, jika menemukan kesalahan jangan sungkan untuk memberitahu saya.
Type your review...here.
VVVVVVVV
VVVVVVVV
VVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVV
VVVVVVV
VVVV
V
