Disclaimer: I own nothing but the plot and several OC's


The Girl is Mine

by

nessh


Tiga hari menjelang Natal. Ginny berjalan-jalan di Diagon Alley bersama Luna di sisinya. Ron sibuk di toko George, hari-hari terakhir menjelang Natal penuh dengan orang-orang yang berbelanja di detik terakhir. Seperti Ginny. Sebenarnya Ginny memiliki banyak waktu untuk belanja, tapi ia mengantongi kebiasaan Keluarga Weasley untuk melakukan sesuatu di detik-detik terakhir.

"Kau tidak akan berbelanja?" tanya Ginny ketika mereka keluar dari sebuah toko mainan. Dia baru membeli mainan untuk si kecil Teddy Lupin. Ginny memuja putra tunggal Remus dan Tonks itu, dia sangat lucu.

"Tidak. Aku sudah selesai berbelanja minggu lalu. Aku bosan di rumah dan Ronald sibuk, itu kenapa aku ikut denganmu," jawab Luna datar.

"Aku capek. Mau istirahat dulu?" tanya Ginny, menunjuk Rosa Lee Teabag.

"Tentu,"

Kedua perempuan itu melangkah masuk ke kafe kecil itu dan mengambil meja di dekat jendela. Mereka memesan teh dan camilan.

Ginny menyortir barang apa saja yang sudah dia beli. Dia membeli kado untuk seluruh keluarganya (ya, termasuk Percy dan Fleur), si kecil Teddy, Harry, Hermione, Luna serta Neville. Ginny tersenyum puas, dia sudah menyelesaikan belanjanya, dia berpikir untuk mengunjungi Ron setelah ini.

"Kau sudah mendengar tentang Draco dan Astoria?" tanya Luna tiba-tiba.

"Hah? Oh. Tentu. Bagaimana mungkin aku tidak tahu? Mereka ada di halaman depan Witch Weekly," jawab Ginny.

"Kau baik-baik dengan itu?"

"Apa maksudmu? Tentu aku baik-baik saja. Pertunangan mereka tidak ada hubungannya denganku,"

Luna tersenyum dan berterima kasih pada waitress yang membawakan pesanan mereka. Dia mengambil satu cookie dan mengunyahnya pelan. Matanya menatap lurus dan datar pada Ginny.

"Jangan melihatku seperti itu," gumam Ginny, dia menggenggam cangkirnya, menikmati hangat yang menjalari jemarinya. Matanya menghindari mata Luna. Dia merasa terintimidasi setiap kali mata abu silver milik Luna, mata itu seakan bisa membaca apapun yang ada di kepala Ginny.

"Kau menyukai Draco,"

"Aku tidak menyukainya! Siapa yang bilang aku menyukainya?!" Ginny memekik. Beberapa orang di sekitar mereka sempat melirik karena suara keras Ginny.

"Itu bukan pertanyaan Ginny," sahut Luna tenang, tidak terpengaruh oleh nada tinggi Ginny. "Lagipula, itu terlihat jelas,"

Ginny cemberut dan menggerutu pelan. "Aku tidak menyukainya,"

Luna hanya tersenyum dan meminum tehnya. Dia tidak mengangkat topik tentang Draco lagi sampai akhirnya mereka keluar dari Rosa Lee Teabag dan berjalan dalam diam ke Weasleys Wizard Wheezes. Sebelum mereka masuk, Luna menahan Ginny dengan menggenggam pergelangan tangannya.

"Apapun yang terjadi dengan kau dan Draco, jangan sampai kau menyesalinya,"

Ginny menghela nafas. "Lun, aku tidak menyukai Draco,"

"Sampai kapan kau akan mengatakan itu pada dirimu sendiri? Sampai kau menyesal? Sampai Draco menikahi Astoria? Sampai semuanya sudah terlambat?"

Deg. Ginny merasakan sesuatu menusuk dadanya dengan bayangan Draco menikahi Astoria yang tiba-tiba terlintas di benaknya. Ginny takut dan bingung di saat yang bersamaan. Dia cukup yakin dia tidak menyukai Draco, tidak secara romantis setidaknya.

Luna tersenyum kecil. "Mungkin kau bingung sekarang. Coba pikirkan tentang ini. Bayangkan hidupmu bersama dia dan tanpa dia. Kau akan mengetahui jawabannya,"

Luna melepaskan tangan Ginny dan masuk ke toko tanpa menunggu jawaban Ginny. Ginny bisa mendengar suara riang Ron sebelum pintu tertutup. Dia bisa melihat bagaimana wajah cerah Ron ketika dia melihat Luna dan ekspresi lembut milik Luna ketika tangannya menyentuh pipi Ron. Tanpa sadar Ginny membayangkan menyentuh pipi Draco seperti itu dan melihat kedua mata Draco menatapnya seperti itu.

Ginny menggeleng. Mengenyahkan pikiran itu dari otaknya. Tapi kata-kata Luna terus terngiang di pikirannya. Ginny tidak jadi masuk ke toko dan berjalan keluar dari Diagon Alley menuju London Muggle.

London Muggle terlihat sama ramainya dengan Diagon Alley. Suasana Natal terasa sangat kental dengan dekorasi di setiap toko yang Ginny lewati. Sejak perang berakhir, Ginny banyak belajar tentang dunia Muggle dari Hermione dan Harry. Mereka mengenalkan Ginny tentang uang Muggle, makanan Muggle dan teknologi-teknologi Muggle. Ron tidak pernah mengerti setiap kali Hermione atau Harry menjelaskan sesuatu yang berhubungan dengan Muggle, mereka menyerah setelah dua minggu usaha mereka nihil dan Ron tetap buta dengan dunia Muggle.

Di lain pihak, Ginny semakin tertarik dengan dunia Muggle. Dia bahkan mengantongi uang Muggle kemana pun dia pergi sekarang untuk jaga-jaga seandainya dia menemukan sesuatu yang terlihat menarik di dunia Muggle. Dia bahkan bisa membelikan ayahnya mainan Muggle bernama Yoyo dengan uang itu.

Ginny berhenti di depan etalase sebuah toko pakaian. Dia melihat sebuah sweater berwarna merah gelap. Sosok berambut pirang platinum segera melewati benaknya ketika dia melihat sweater tersebut.

Detik berikutnya, Ginny masuk ke dalam toko.

0oooo0oooo0

Draco Malfoy berbaring di ranjang, menatap langit-langit kamar yang ia tempati sejak dia lahir. Kedua tangannya terlipat di bawah kepalanya. Besok dia akan membuat pernyataan publik tentang pertunangannya dengan Astoria Greengrass. Walau dia yakin, Roman Greengrass yang akan banyak bicara besok. Seandainya dia bisa tidak menghadiri konferensi pers itu, dia pasti akan memilih tidak datang.

"Aku tahu situasi keluargamu sedang sulit. Aku bisa membantumu melewati itu,"

"Membantu? Bagaimana?"

"Nikahi putriku. Aku bisa menjamin hidupmu dan Narcissa,"

Draco menggeleng pelan, berhenti mengulang memori ketika Roman menawarkan solusi untuk masalah yang sedang Draco hadapi.

Keluarga Malfoy memang keluarga yang kaya. Dulu. Sebelum Lucius Malfoy mengalirkan dananya untuk mendukung Lord Voldemort. Harta yang dulu Lucius bangga-banggakan kini hampir tidak bersisa sedikit pun. Dan Draco tahu, dia tidak akan semudah itu mendapatkan pekerjaan walau Harry Potter sendiri sudah menjamin bahwa Draco tidak terlibat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Lord Voldemort, karena tanda kegelapan di tangannya mengatakan demikian.

Roman Greengrass menawarkan solusi untuk men-support hidup Draco dan Narcissa juga menggunakan pengaruhnya di Wizengamot untuk menerima Draco Malfoy kembali. Selain itu, ternyata dulu sekali Lucius dan Roman pernah menandatangani kontrak pernikahan antara Draco dan salah satu putri Roman. Karena Daphne sudah akan menikahi Theo, maka Astoria yang akan memenuhi kontrak tersebut.

Draco tidak terkejut tentang itu. Hampir seluruh pernikahan di keluarganya sudah diatur ketika mereka masih anak-anak oleh orangtua mereka. Itu kenapa Draco tetap seorang Darah-Murni.

"Kau bisa menolaknya, Draco. Aku tidak mau kau mengalami hal yang sama denganku dan ayahmu,"

Itu kata Narcissa. Draco tidak yakin kenapa dia tidak pernah berpikir untuk menolak lamaran Roman tersebut. Dia memikirkan ibunya.

Draco menghela nafas dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Kedua matanya tertutup dan dia pun jatuh ke dalam mimpi.

0oooo0oooo0

Sehari sebelum natal. Draco Malfoy duduk di teras belakang rumah Keluarga Greengrass dengan putri pertama Keluarga Greengrass, Daphne. Mereka menunggu Roman, Agatha dan Astoria yang sedang pergi berbelanja ke Diagon Alley juga menunggu tunangan Daphne, Theo Nott.

"Jadi, kau akan menikahi adikku," kata Daphne dengan nada monoton.

"Aku rasa begitu," sahut Draco.

Sang Putri Es dari Slytherin menghela nafas panjang. "Aku tidak percaya kau menerima tawaran Father begitu saja,"

"Aku rasa aku tidak punya banyak pilihan, bukan begitu Daph? Ada kontrak yang ditandatangani oleh ayahku dan ayahmu,"

"Bahkan setelah dia dipenjara, dia masih bisa mengendalikan hidupmu,"

Draco hanya diam. Dia sudah terbiasa dengan nada dingin dan tajam yang terlontar dari Daphne karena mereka saling mengenal dari kecil. Hal itu yang membuat Daphne mendapatkan julukan Sang Putri Es dari Slytherin.

"Apapun yang terjadi, jangan pernah menyakiti adikku Drake. Dia terlalu baik,"

"Aku tahu,"

"Sejujurnya, aku lebih suka kau menolak tawaran itu. Kau bisa menjamin hidupmu dan ibumu dengan cara lain. Cara lain yang tidak melibatkan perasaan adikku,"

"Astoria bisa saja menolak. Kau tahu itu,"

"Dia mengagumimu Draco. Sejak dia kecil. Aku tahu dia tidak mencintaimu, tapi dia mengagumimu, dia menyukaimu. Dia bilang padaku kalau dia lega itu kau dan bukan Blaise,"

Draco tersenyum kecil. Dia tahu Astoria sangat tidak menyukai sikap Blaise sejak mereka kecil.

"Hey Drake,"

"Hmm?"

"Jika tiba-tiba saja, Weasley datang dan memintamu untuk tidak menikahi Astoria. Apa kau akan melakukannya? Apa kau akan meninggalkan Astoria untuk Weasley?"

Draco terkejut dan sontak menoleh. Mata kelabunya bertemu dengan mata biru Daphne yang menatapnya dalam dan intens. Draco membuka mulutnya, tapi sebelum dia sempat berkata apapun, perhatian mereka berdua teralihkan dengan suara riang Astoria.

"Hai hai!" Astoria menghampiri Daphne dan mendaratkan kecupan di pipinya.

Daphne tersenyum hangat. Sesuatu yang jarang diperlihatkan Daphne. Hanya Astoria, Theo dan kedua orangtuanya yang bisa membuat Daphne berekspresi seperti itu.

"Hey adik kecil," kata Daphne.

Astoria memeluk Draco sekilas. "Sudah lama?" tanyanya.

Draco menggeleng. "Tidak juga. Daphne menemaniku,"

Astoria tersenyum lebar. Berbeda dengan Daphne yang terlihat serius dan dingin, Astoria jauh lebih ramah dan riang. Kadang orang-orang tidak percaya dua orang dengan kepribadian yang jauh berbeda ini adalah adik kakak.

"Tentu. Ayo masuk ke dalam! Sebentar lagi Theo datang," Astoria menarik paksa lengan Daphne. Daphne mengerang kesal tapi bangkit dari kursi dan mengikuti adik perempuan satu-satunya itu.

Draco tidak bisa berhenti berpikir,

Jika tiba-tiba saja, Weasley datang dan memintamu untuk tidak menikahi Astoria. Apa kau akan melakukannya? Apa kau akan meninggalkan Astoria untuk Weasley?