Just a Feeling

LEON FANFICTION

.

.

.

Jung Taekwoon

Cha Hakyeon

.

.

.

.

Han Sanghyuk as Jung Sanghyuk

Kim Wonshik as Taekwoon friends

Lee Jaehwan as Wonshik's wife (husband?)

and other members

.

.

.

.

Terjemahan, dengan judul sama.

Chap 7 (END)

.

.

Rated 21 +

Taekwoon memarkirkan mobilnya disamping milik Wonshik, dan mereka berjalan bersama. Belum jam lima, jadi lounge-nya masih lumayan sepi. Taekwoon menemukan Jaehwan dan melihat seorang lain yang duduk disampingnya. Dengan rambut kecoklatan, wajah manis, dan seksi.

Wonshik berbisik, "Kau tahu aku bilang Jaehwan selalu tidak ada bandingannya, tapi, damn." Dia tertawa ketika Taekwoon juga, dan menambahkan, "Istriku memang punya selera bagus."

"Lalu bagaimana bisa dia berakhir denganmu?" goda Taekwoon, dan Wonshik menyenggolnya sekali sebelum sampai dimeja.

Perkenalan mereka cepat dan bersahabat. Seokjin nampak langsung berdiri dan menyalaminya. "Jaehwan sudah memesankan minum untuk kalian, dan berkata mengetahui apa yang kalian suka."

Minuman mereka datang beberapa saat kemudian. Taekwoon melihat gelas wishkinya, tapi membiarkan es batunya mencair didalam gelasnya mungkin ide yang bagus karena dia akan menyetir ketika pulang nanti. Mungkin harusnya dia menerima tawaran Wonshik untuk berangkat bersama tadi.

Keluar untuk minum, dengan sedikit alkohol terlihat aneh jika itu untuk Taekwoon, tapi Wonshik memutuskan untuk diam. Tingkat toleransi alkohol Taekwoon cukup tinggi, dan dia tahu itu.

Ditengah obrolan mereka, Seokjin berkata kepada Taekwoon, "Kata Jaehwan kau punya seorang anak laki-laki."

Tanpa berfikir panjang, Taekwoon langsung mengeluarkan ponselnya, "Iya, namanya Sanghyuk." Dia membuka galerinya dan menunjukkan foto Hyuk yang sedang duduk, tertawa. Dia membuka foto selanjutnya, foto yang kemarin diambilnya ketika Hakyeon dan Hyuk sedang cuddling di depan TV. Hyuk ada didalam pelukan Hakyeon, dan keduanya nampak sangat senang.

Seokjin tertawa dan bercanda. "Cute couple,"

Yang mendapat perhatian Wonshik. Dia menyandar sedikit pada Taekwoon dan mellihat fotonya. "Kau punya foto baby sittermu?" ada penekanan di pertanyaannya, dan dia melihat wajah terkejut Seokjin yang tak bisa disembunyikannya dengan sempurna.

"Aku punya foto Hyuk. Dan kebetulan Hakyeon sedang menggendongnya," Taekwoon memutar matanya pada Wonshik, lalu menyingkirkan ponselnya.

Seokjin mengeluarkan ponselnya dan menunjukan foto anak perempuannya. "Ini Yooa,"

Taekwoon melihat fotonya, mungkin itu diulang tahun pertamanya. Ada setumpuk kado yang lebih tinggi darinya. "Dia imut," dengan gaun lucu warna merah muda, dan mahkota kecil di atas kepalanya.

"Terima kasih," Seokjin menjauhkan ponselnya lalu menyandar di kursi. "Aku mungkin terlalu memanjakannya, tapi sulit untuk menahan. Pernak-pernik anak perempuan sungguh sangat lucu."

"Tak lebih mudah juga untuk anak laki-laki. Hyuk bahkan belum bisa merangkak, tapi aku sudah membelikannya sepasang converse kecil." Taekwoon tertawa lalu menambahkan, "Tapi Hakyeon tak mengijinkannya memakai itu lebih dari satu jam. Dia berkata sesuatu tentang telanjang kaki lebih bagus untuk pertumbuhannya,"

Wonshik tidak berkomentar, tapi Taekwoon sadar dia mengecek jam tangannya, seakan menghitung berapa lama lagi dia terus membahas tentang Hakyeon. Taekwoon berusaha tak mempedulikannya,"

"Aku mendengar tentang itu juga," Seokjin nampak tak menyadari Wonshik. "Tapi Yooa tetap punya enam pasang,"

Taekwoon memahaminya, lalu mengangguk. Peralatan bayi adalah topik paling mudah dan mereka menemukan banyak kesamaan. Setelah makanan pembuka datang, Jaehwan berkata, "Taekwoon, apa kau tahu kalau Seokjin banyak bekerja sebagai relawan dengan para muda tanpa rumah? Dia juga bekerja di komunitas berkebun di daerahnya."

Bagaimana dia harus tahu tentang itu? Taekwoon tidak bertanya, tapi dia membuat dirinya seakan tertarik dengan berkata, "Bagaimana cara kerja komunitasnya?"

Seokjin dengan senang hati menjelaskannya. Dan jujur, itu terlihat sangat luar biasa. Mungkin bukan merupakan suatu hal yang akan dilakukan Taekwoon, tapi tetap saja itu keren.

"Apa kau pernah melakukan kegiatan semacam itu?"

Pertanyaan Seokjin cukup sopan sebenarnya, tapi itu cukup menohok Taekwoon.

"Apa daur ulang juga dihitung?" Taekwoon melirik Wonshik tajam setelah dia tertawa.

"Itu permulaannya," ucap Seokjin dengan nada bersahabat. Tetap saja, Taekwoon tidak yakin apakah dengan itu mereka bisa melanjutkan ke kencan kedua. Tapi mungkin dia tidak keberatan hanya menjadi teman minum.

Pilihan Jaehwan tepat sebenarnya. Seokjin memang hot, berpendidikan, dan nampak memiliki hati yang baik. Setelah Wonshik membayar, Taekwoon semakin sadar. Mungkin Seokjin bukan pilihannya, dan dia bukan yang terbaik untuk Seokjin. Tapi dia yakin, cepat atau lambat Seokjin akan segera bertemu dengan seseorang. Tapi bukan malam itu, dan bukan dia.

Jaehwan nampaknya sedikit kecewa, karena ternyata semua tak berakhir dengan keinginannya. Tapi dia tetap memberikan satu pelukan hangat untuk Taekwoon. "Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi."

Taekwoon langsung teringat, pertemuan terakhir mereka adalah dihari kematian Eunji. Taekwoon sangat kacau hari itu, dan dengan Hyuk yang menangis keras dipelukannya. "Maaf,"

Seokjin menyalami Taekwoon lagi, dan berkata sungguh menyenangkan bisa bertemu dengannya. Tapi Seokjin tak minta bertukar nomor dan Taekwoon pikir itu yang mungkin memang terbaik untuknya.

"Aku yang menyetir," ucap Wonshik dengan tawa. "Tunggu di mobil," dia melemparkan kuncinya pada Jaehwan, yang kemudian mendapat gerutuan lucu darinya.

"Ku kira tadinya hasilnya akan lebih buruk," komentar Wonshik. Tertawa.

"Untungnya, yah dia terlihat baik, tapi,,,"

Wonshik mngangkat kedua bahunya, "Setidaknya Jaehwan akan berhenti mencarikanmu jodoh lagi,"

"Aku berharap dia tidak betemu dengan siapa-siapa lagi," canda Taekwoon sambil berjalan.

"Taruhan aman," Wonshik memberinya tatapan menggoda. "Seorang seperti Seokjin tidak tumbuh dari pohon, kau tahu."

Taekwoon mengangkat kedua bahunya, "Pulanglah, kau mulai mabuk. Sampai jumpa hari senin,"

Wonshik tertawa, lalu Taekwoon mendorongnya agar segera menjauh. Dia sudah akan menelfon untuk mengecek Hyuk. Tapi dia tahu Hakyeon akan mengirimnya pesan jika sesuatu terjadi. Dan bukannya pulang ke rumah, Taekwoon mengambil arah lain, berharap matahari terbenam di dekat sungai Han menenangkan pikirannya.


"Bagaimana kencannya?" Hakyeon bertanya langsung setelah melihat Taekwoon berjalan masuk. Senyumya terlihat kaku, bahkan tak mencapai matanya.

"Belum sampai jam enam. Begitulah."

Redup mata Hakyeon berganti dengan cerah lagi, dia berdiri lalu bercanda, "Bagus?" dia berjalan menuju dapur. "Aku baru saja menidurkan Hyuk, tapi—"

Taekwoon menghentikan Hakyeon dengan tangan dilengannya. Di dalam hati dia berharap pada Tuhan, keputusannya kali ini benar, atau dia akan berada dalam masalah.

Untuk beberapa saat mereka berdua terasa ditahan oleh waktu. Kedua mata Hakyeon membulat karena kaget, tapi dia tak berkata apapapun, hanya menunggu.

Ketika Taekwoon menyelipkan satu tangan bebasnya ke pinggang ramping Hakyeon dan mendekatkannya, Hakyeon membuka mulutnya untuk bernafas. Taekwoon menurunkan kepalanya dan perlahan mendekat, menunggu undangan lain. Atau, setidaknya permisi.

Dia tidak seberuntung itu, jadi dia mengambil kesempatan.

Dia membungkam mulut Hakyeon dengan miliknya, mempertemukan bibir mereka dalam keragu-raguan, dengan gerakan pelan.

Saat Hakyeon terengah diantara ciumannya dan membawa kedua lengannya menggapai bahu lebar Taekwoon, seluruh dunia Taekwoon terasa benar. Dia lalu semakin mendekatkan tubuh mereka dan mendorong lidahnya masuk kedalam mulut Hakyeon. Hakyeon tidak menolak, malah mempertemukan miliknya dengan Taekwoon. Dia membawa jemarinya naik, dari bahu, leher, dan berakhir di rambut Taekwoon, mendekatkan pinggulnya kepada Taekwoon.

Ketika mereka menjauh sedikit untuk bernafas, Hakyeon menangkap tatapan Taekwoon dan berbisik, "I didn't see that coming."

Dan Taekwoon tak bisa menahan tawanya, "Aku tahu, itu sulit dipercaya."

Hakyeon memalingkan wajahnya, tapi berbisik lagi, "Aku takut hanya harapanku saja,"

Jemari Taekwoon menyentuh dagu Hakyeon, membawanya kembali menatapnya, "Jelas bukan," Taekwoon menciumnya lagi, kali ini lebih dalam, membiarkan segala keinginannya tersampaikan lewat sentuhan. Dia menyelipkan tangannya turun ke pinggang Hakyeon dan ketika sampai ke pantatnya dia mendorong Hakyeon berjalan melewati ruang tamu dengan langkah tak stabil.

Taekwoon hampir tersandung kakinya, tapi tetap mendekap Hakyeon dekat. Pikirannya penuh dengan apa yang terjadi jika semua ini salah, ditambah Hakyeon bekerja untuknya, dan mereka yang sudah hidup bersama. Ada banyak jalan buruk untuk memulai hubungan. Dan dia berharap inilah salah satunya. Dia hanya tak ingin melepaskan Hakyeon. "Bagaimana cara kerjanya, sungguh?"

"Begini, Taekwoon," Hakyeon mundur dengan tatapan menggoda di matanya, satu telapaknya ada didada Tekwoon mendorongnya perlahan ke arah kamar tidur saat tangan lainnya menarik ujung kemeja Taekwoon dari dalam celana jeansnya. "Ketika ada dua anak laki-laki amat sangat menyukai satu sama lain,,,"

Taekwoon tertawa, walaupun Hakyeon sedang membawa tangannya semakin turun ke perut ber-absnya, hangat dan halus. "Itu bukan maksudk—" dia tak bisa berpikir lagi, tak bisa lagi selain menggeram saat Hakyeon menyentuh ujung celana jeansnya dengan jemari hangat—panas nya. "God,"

"Kita akan menemukannya," Hakyeon akhirnya berhasil membuka kancing celana jeans Taekwoon dan memasukkan tangannya. "Nanti,"

"Nanti," Taekwoon menganguk dengan bodohnya dan akhirnya langkah mereka sampai didepan kamar tidur. Dengan punggung, Taekwoon mendorong pintu kamarnya hingga terbuka dan mencium Hakyeon lagi.

Mereka berdua terjatuh di tempat tidur bersamaan dengan Hakyeon diatasnya. Taekwoon butuh untuk merasakan kulit Hakyeon, ingin melihat seluruhnya, tidak hanya godaan sekilas yang dia dapat beberapa bulan ini. Mulut mereka terbungkam saat tangan masing-masing sibuk saling menelanjangi. Melepas, kaos, kemeja, jeans, segalanya, keatas lantai.

Taekwoon membalik tubuhnya dan merasakan panas tubuh Hakyeon dibawahnya, kedua ereksi mereka bertemu. Dia sudah terlalu lama mendambakan hal ini—mendambakan Hakyeon terlalu lama—dia pikir dia bisa langsung keluar hanya dengan ini.

"Tunggu," Hakyeon berbisik, suaranya serak dan berat di bibir Taekwoon. Taekwoon menahan dirinya dan mundur. Mungkin Hakyeon akan berubah pikiran, pikirnya. Hakyeon langsung menangkap ekspresi stress Taekwoon, lalu tersenyum lembut. "Baby monitor? Hanya mengecek."

Benar. Sial. Sudah menjadi ayah selama beberapa bulan, dan dia melupakan putranya sedang tidur diseberang kamar tidurnya. Rupanya, Hakyeon menjadi otak externalnya juga.

"Benar, bagus." Taekwoon menarik tangannya hingga meraih monitornya, memasang volume penuh. Tak ada apapun, hanya suara halus milik Hyuk yang terdengar.

Thank God.

Hakyeon mengambil keuntungan dari posisi Taekwoon untuk keluar dari kungkungannya, "Juga kondom,"

Kerja bagus lagi. Taekwoon membuka lacinya , mengobrak-abrik isinya hingga dia menemukan kondom dan lube, tapi dia membeku saat kembali menghadap Hakyeon. Dia dengan perlahan mengusap ereksinya sambil menatap Taekwoon.

"Mungkin kau harus cepat, atau kau hanya ingin ini menjadi one man show," terdengar seperti candaan, tapi mungkin Hakyeon tidak.

Taekwoon mendekat dan menciumya lagi, melepas tawa dibawah nafas beratnya. "Katakan apa yang kau inginkan," dia berbisik, tidak mundur, tapi mempertemukan keningnya dengan milik Hakyeon.

"Untuk beberapa alasan kukira kau lebih tegas daripada ini." Hakyeon menarik Taekwoon mendekat, membawa kedua kakinya melingkari pinggang Taekwoon. "Kau bisa menebak, atau kau ungin undangan jelas?"

"Kau ingin yang tegas?" tanya Taekwoon main-main, menampar pantat Hakyeon lirih, lalu mengambil botol lubenya. "Aku beri kau yang tegas"

Mereka tidak banyak bicara setelah itu. Awalnya suara yang terdengar adalah tawa halus Hakyeon, yang kemudian terhenti karena Taekwoon mulai mempersiapkannya. Berubah menjadi geraman, dan nafas putus-putusnya. Saat Taekwoon memasang kondom, Hakyeon terlihat seperti diambang ketidak sanggupannya. Dia mendekat, lalu meninggalkan jejak ciuman pana di leher panjang Hakyeon sebelum berbisik ditelinganya. "Kau sudah terlihat hampir melayang," dia menggodanya dengan ujung ereksinya, tanpa memasukkannya. Ketika dia mundur untuk melihat wajah Hakyeon, yang terlihat adalah wajah paling seksinya.

Hakyeon tidak menjawab, tidak tertawa, maupun tersenyum padanya, namun semakin mendekat dan melebarkan kakinya, meminta tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tiba-tiba Taekwoon merasa dirinya yang akan melayang. Dia mendorong semakin dekat, dan masuk perlahan kedalam tubuh Hakyeon diikuti erangan halusnya, getaran ditubuhnya, keinginan untuk mendapat sesuatu yang lebih, keinginan semain masuk kedalam tubuhnya dan membuat Hayeon menangis karenanya.

Awalnya memang terlihat menyakitkan untuk Hakyeon, tapi setelah sampai dititik terdalamnya, Hakyeon mulai mendesahkan namanya.

Berbagai macam canda—godaan, tawa—semakin terbakar saat Taekwoon mulai bergerak. Hakyeon menggumamkan sesuatu yang Taekwoon tak bisa tangkap dengan telinganya, tapi dengan lewat matanya dia memberitahu Taekwoon segala hal yang harus dia tahu. Bahwa ini bukanlah suatu hal yang buruk. Bahwa ini baik-baik saja. Dan memang beginilah seharusnya.

Dengan beberapa dorongan yang semakin tajam, Hakyeon akhirnya datang diantara mereka, panas dan basah. Taekwoon menciumnya dalam, dan menangkap segala macam suara yang dikeluarkan Hakyeon, hingga dia datang.

Hakyeon masih menempel padanya saat mereka terengah, tubuh mereka berpadu satu sekan memang diciptakan untuk satu sama lain. Taekwoon ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tak bisa menemukan katanya. Lalu dia semakin mendekatkan Hakyeon, dan membawa jemarinya mengusap auburn halus Hakyeon.

Mereka bertahan dengan posisi itu, terlalu lama mungkin, tapi Taekwoon tak ingin melepas Hakyeon.

Setelah beberapa lama Taekwoon akhirnya menjauh, dan melepas kondomnya. Hakyeon berangsur mendekat ketika Taekwoon berbaring disampingnya.

"Kita harus tidur," gumam Hakyeon saat Taekwoon memeluknya, membawa Hakyeon tenggelam dalam dada bidangnya.

"Kita mungkin harus bicara juga." Taekwoon tidak ingin, tapi ada banyak hal yang perlu dibicarakannya. Detail-detalnya.

Hakyeon mengusap selangka Taekwoon dengan ujung jarinya, dan dia merasakan ujung bibir Hakyeon yang terangkat lewat kulitnya. "Segalanya baik-baik saja Taekwoon. Semuanya akan tetap berjalan," Hakyeon terdengar seperti siap tertidur dengan caranya menguap halus.

"Banyak hal jarang yang hanya akan berjalan dengan sendirinya,"

"Dan beberapa iya,"

Taekwoon berpikir untuk minta nasihat kepada ayah Cha, cara menghadapi ungkapan-ungkapan sederhana yang sesuai dengan logika tapi kadang susah diterima.

Sebelum taekwoon bisa berkata-kata, Hakyeon berbisik, "Kita baik-baik saja, Taek. Lebih dari baik, dan tak akan ada yang berubah."

"Perasaanmu?"

"Lebih dari itu,"

Hakyeon masih mengelaknya, tapi Taekwoon tahu dia sedang menahannya.

Dengan diam yang menyelimuti, Taekwoon tak bisa menahan dirinya tersenyum. Mungkin mereka tidak tahu kapan mereka terjatuh pada satu sama lain. Atau mungkin bahkan mereka sudah jatuh sejak awal.

Taekwoon sudah hampir tertidur saat dia tiba-tiba teringat dengan Eunji. Akankah dia menerima? Ya, tentu saja. Mungkin dia sudah memberikan beberapa kesialan untuk hidupnya, tapi dia juga memberikan Hakyeon untuknya menjalani semua.


Taekwoon tak pernah merasakan tidurnya senyenyak ini setelah beberapa lama berperang dengan rengekan Hyuk tiap malam. Bukan tangisan Hyuk, kali ini yang membangunkannya adalah suara alarmnya. Dia membuka mata, dan menyadari kosong disampingnya.

Dengan satu tangan, Taekwoon mengambil celana boxernya yang tergantung diujung tempat tidurnya, berjalan keluar dengan mata mengantuk.

Taekwoon melihat Hyuk sudah segar-sehabis mandi-berada di gendongan Hakyeon di dapur. Sarapan di meja makan. Dan rumah yang sudah bersih.

Jam berapa ini? Batin Taekwoon.

"Kopi?" tawar Hakyeon.

Taekwoon hanya mengangguk lalu duduk dimeja makan.

Jadi ini maksud Hakyeon dengan berjalan seperti biasa?

Sikap Hakyeon yang sama sekali tak berubah, dan seakan tak pernah terjadi apapun.

Hakyeon tersenyum melihat wajah bingung Taekwoon, lalu memberikan cangkir kopinya.

Dan satu kecupan malu-malu dipipi.

Taekwoon mengerjap, "Kau—"

Hakyeon mengangkat kedua bahunya lalu mulai memberi susu Hyuk. Dia tak menahan tawanya saat Taekwoon membeku.

Yah, setidaknya ada sedikit perubahan.

END!


TAMAT!

Haha, seneng bgt.

Akhirnya, walau tangan sempet gemeteran pas ngetik bagian 21+nya!

Aing baru pertama soalnya,,, huhu.

Tpi, bahagia kok, bisa berbagai cerita lucu nan unyu-unyu ini.

SPECIAL THANKS TO

The original writer.

J. H. KNIGHT