Chapter 6!
.
"Junhong! Keluarlah!" Youngjae berteriak dari balik pintu.
"T-taehyung sudah pergi?" Junhong bicara terbata, tubuhnya mulai menggigil.
"Oh Tuhan. Junhong apa lagi yang terjadi pada kalian? Iya dia sudah pergi. Kau harus lihat wajah sedihnya tadi." Junhong terdiam. "Buka pintunya sekarang Junhong! Kenapa sejak tadi kau menyalakan showernya?"
"Aku kotor hyung." Ia mulai terisak. Ingatan tentang semalaman berhubungan badan dengan Jung Daehyun membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri. Sejak tiba di kamarnya, Junhong langsung menuju kamar mandi, melepaskan semua pakaiannya, dan berkali-kali membersihkan tubuhnya. Ia berusaha untuk menghilangkan seluruh bekas dari kegiatan semalam. Namun tetap saja, tanda-tanda kemerahan yang menghiasi hampir seluruh permukaan tubuh mulusnya tidak bisa hilang. Jarinya terus menerus bekerja pada lubangnya, mengeluarkan seluruh sisa sperma si brengsek Daehyun. Oh si brengsek itu bahkan tidak menggunakan kondom. Tidak.
Junhong bergegas berdiri, mematikan shower, dan mengeringkan tubuhnya. Dengan hanya sehelai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya, Junhong keluar dari kamar mandi. Wajah khawatir Youngjae segera menyambutnya. "Junhong." Hyungnya berkata pelan. "Ceritakan pada hyung."
Junhong yang masih merasa panik, segera menuju lemarinya sambil berjalan pincang. Berbeda dengan biasanya yang selalu mempertimbangkan dengan matang pakaian yang akan ia kenakan, kali ini ia sembarangan mengambil pakaian apapun untuk menutupi tubuhnya. Ia tidak punya waktu untuk itu. Tidak sekarang ketika pikirannya sedang sangat kacau. "Hyung aku harus segera ke dokter. Mungkin saja si brengsek itu mengidap penyakit AIDS atau apapun. Dia tidur dengan siapapun!"
"Taehyung tidur dengan siapapun?"
"Bukan hyuuung! Bukan Taehyung. Jung Daehyun!"
"Jung Daehyun?"
Junhong menghela nafas putus asa, berhenti mengkancingkan celana jeansnya dan menghadap hyungnya yang kebingungan. "Aku tidur dengannya semalam, hyung. Bukan Taehyung tapi Jung Daehyun." Berhenti sejenak untuk menarik nafas, ia melanjutkan. "Jangan pandang aku dengan tatapan menghakimi seperti itu hyung! Aku bukannya sengaja melakukannya! Kamarnya gelap, dan si brengsek itu tidur di ranjang Taehyung. Aku pikir itu Taehyung." Kalimat terakhir diucapkannya dengan pelan. Ia teringat kembali rasa bersalahnya pada Taehyung.
"Apa Daehyun sudah menyukaimu sejak dulu?"
"Dia bahkan tidak tahu namaku."
"Kenapa dia mau berhubungan seks denganmu?"
"Kau tahu, dia menyalahkan parfum yang kugunakan. Tunggu dulu. Hyung?" Junhong menatap Youngjae yang mulai menggigit jarinya, gelisah. "Parfum yang kau berikan padaku tadi malam… parfum apa?" tatapan Junhong mulai berubah tajam.
Youngjae semakin cepat menggigit-gigit ujung jari telunjuknya. "Hanya sedikit parfum pemikat testosteron pada lehermu. "
Kedua mata jernih Junhong terbuka lebar, tidak percaya. "Hyung."
"Maafkan aku Junhong. Aku hanya ingin sedikit membantumu. Aku khawatir Taehyung menolakmu jadi-"
"Lebih baik Taehyung menolakku daripada ia melakukannya karena parfum itu hyung. Bukan hubungan seks yang aku mau tapi bercinta Taehyung harus melakukannya dengan sepenuh hati bukan karena hal lainnya. Kau harus berhenti memakai parfum itu untuk menarik Yongguk hyung ke ranjangmu."
"Kau benar." Youngjae menghela nafas, lalu sedetik kemudian ia menatap Junhong dengan panik. "Kau harus segera periksa ke dokter. Aku akan mengantarmu."
.
Junhong tidak pernah merasa begitu lega -bahkan ketika hasil nilai ujiannya keluar- saat hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa dirinya negatif mengidap penyakit HIV/AIDS dan lainnya. Daehyun tidak membawa penyakit apapun. Sulit dipercaya.
.
Junhong berusaha keras untuk bersikap biasa seolah malam terburuk itu tidak pernah terjadi. Mungkin jika itu Taehyung, dan bukan si brengsek Daehyun, itu bukan malam yang buruk. Baiklah itu memang bukan malam yang buruk, Junhong akui malam itu ia menikmatinya. Apa yang ia pikirkan?
Apa yang ia pikirkan? Pertanyaan itu menegur dirinya. Junhong mengalihkan tatapannya dari celana Taehyung, wajahnya merah.
"Susu strawberrynya habis. Ini saja tidak apa-apa ya baby?" Suara berat Taehyung terdengar kecewa. Lalu kemudian ia merasakan punggunggnya bersentuhan dengan punggung Taehyung saat kekasihnya itu duduk di sebelahnya. Kenapa ia merasa begitu panas? "Kenapa kau lari meninggalkanku kemarin? Apa kau sakit perut?"
"I-iya." Wajahnya terasa hangat, malu. Ini memalukan. Tapi setidaknya lebih baik daripada Taehyung tahu yang sebenarnya. "Taehyung." Meraih tangan Taehyung dan mengkaitkan jemari mereka, Junhong membawa kepalanya pada bahu tegas Taehyung. "Apa Jimin tidur di kamar Jungkook lagi nanti malam?" tangan lainnya kini ia gunakan untuk memainkan kain blazer Taehyung.
"Hm. Mungkin. Dia memang suka sekali tidur dengan Jungkook."
Junhong mengutuk keras kedua matanya yang tidak mau menurut. Mereka terus menerus membuat adrenalinnya meningkat dengan tidak mau lepas dari celana Taehyung. Oh aku mulai gila! Teriaknya dalam hati.
"Aku…" menggeserkan tubuhnya semakin dekat dengan Taehyung, ia melanjutkan dengan suara pelan, "boleh tidur di kamarmu malam ini?"
"Tentu saja! Kita bisa mengerjakan tugas bersama-sama hehe."
Junhong lebih suka melakukan hal lainnya bersama-sama. Oh apa yang ia pikirkan?
"Iya tentu saja. Kau bisa membantuku mendapatkan nilai A lagi."
"Tentu! Itu mudah. Serahkan padaku hehe." Junhong melepaskan pelukannya pada lengan Taehyung, menatap wajah ceria Taehyung, lalu menghela nafas. Kekasihnya benar-benar tidak peka. "Aku mau beli es krim. Kau mau?"
"Ung! Aku mau es krim yang dari mulutmu saja hehe."
Junhong rasa wajahnya memanas, berusaha keras menahan dirinya agar tidak melompat ke Taehyung dan menyerang bibir penuh itu. Kenapa kekasihnya bisa semanis ini? Dan kenapa ia tidak peka? Seharusnya Taehyung langsung menarik tangannya dan membawa Junhong ke tempat sepi untuk berciuman. Akh! Junhong berteriak putus asa di dalam hati, berbalik dan berjalan sambil menghentakkan kaki kekanakan menuju mesin es krim.
Ia mendadak berhenti, nafasnya tertahan, menatap penuh benci pada namja yang berdiri di samping stan es krim. Jung Daehyun.
Junhong menghela nafas, berjalan untuk meraih es krim yang diinginkan, sambil mengabaikan tatapan tajam yang melekat ke arahnya.
"Benar kau tidak mau es krim?" Tanya namja yang berdiri di samping Daehyun. Ia sedang sibuk memilih es krim sehingga Junhong tidak dapat melihat wajahnya. Namun ketika Junhong sampai di sebelahnya dan melirik sekilas, mata polosnya berkedip lucu. Cantik. Ucapnya penuh kagum di dalam hati. Tidak pernah sekalipun Junhong melihat namja secantik ini. Kulitnya putih, mulus. Ia juga memakai eyeliner yang membuat wajahnya meneriakkan 'seksi'. Dan bibirnya terlihat manis. Junhong menyentuh bibirnya sendiri, berpikir apa bibirnya juga terlihat semanis itu. Tapi satu yang pasti, Junhong tidak punya tubuh sesempurna itu. Oh kenapa tubuhnya harus begitu tinggi? Tidak boleh tidak boleh, kau tidak boleh merasa iri Junhong. Kau harus bersyukur, lagipula yang terpenting, Taehyung masih lebih tinggi darimu. Iya meyakinkan dirinya sendiri. "Oh kau juga mau beli es krim ya? Silahkan. Aku sudah selesai memilih." Namja cantik itu berkata pada Junhong, sebuah senyum berbentuk persegi menghiasi wajah bersinar itu. Bahkan suaranya juga indah.
"Ne." Junhong mengangguk sekilas lalu mulai mencari es krim kesukaannya.
"Ayo Dae."
Sebutan itu memberi alarm pada Junhong, mengingatkannya bahwa sosok yang paling ia benci sedang berdiri di dekatnya. Ia mendongak, terkejut saat mendapati mata Daehyun sedang menatapnya, kemudian tatapan itu bergerak ke bawah, berhenti pada pangkal paha Junhong. Junhong mengerutkan dahi saat Daehyun menjilat bibirnya, dan menarik satu ujung bibirnya. "Aku bisa membantumu dengan itu." Matanya kembali menatap Junhong, kali ini dengan kabut nafsu.
Junhong menatap ke bawah, nafasnya tercekat. Ia buru-buru menarik kemejanya keluar untuk menutupi juniornya yang menyembul di balik celana. Sial. Dengan cepat ia mengambil es krim apapun dalam jangkauannya, dan bergegas berjalan ke kasir. Namun, sebuah genggaman pada pergelangan tangan, menghentikannya. Brengsek. "Lepaskan." Geramnya, kesal.
Daehyun menatapnya dengan tatapan yang masih sama, membuat Junhong merinding. Ia benci pada siapapun yang menatapnya seperti itu. Dan oh kemana namja cantik itu? "101. Pintu kamarku selalu terbuka untuk namja semanis dirimu." Kembali menjilat bibirnya, ia akhirnya melepaskan tangan Junhong. Melangkah pergi.
Sebelum ia sempat berjalan jauh, Junhong berbisik, cukup keras untuk terdengar olehnya. "101… aku akan datang ke kamarmu…" berjalan mendekati Daehyun, ia melanjutkan sambil terus berjalan, memandang lurus ke depan tanpa sedikitpun melihat reaksi namja brengsek itu. "… mengantarkan paket kotak penuh katak."
.
Namun si brengsek itu tidak menepati janjinya. Pintu kamarnya terkunci rapat. Junhong menatap penuh benci pada pintu di hadapannya, membenarkan posisi kotak dus di tangannya agar tidak terasa pegal. Suara katak memenuhi lorong yang kosong dan gelap. "Sial! Dasar pengecut!" menendang pintu bernomor 101 itu untuk yang kedua kalinya, ia melangkah pergi.
.
Junhong tidak bisa habis pikir mengapa namja secantik Byun Baekhyun mau berhubungan dengan namja sebrengsek Jung Daehyun. Ia bahkan membiarkan lehernya dipenuhi kissmark. Menjijikan. Pikir Junhong yang kembali teringat bagaimana Daehyun meninggalkan banyak bekas gigitan pada tubuhnya. Mesum. Kata itu mengisi penuh tatapannya pada namja yang duduk di samping namja cantik itu, di seberang mejanya. Oh kenapa Taehyung harus membiarkan mereka makan siang bersamanya?
"Kau kemanakan katak-katak yang kita cari semalam?" Tanya Taehyung sambil terus mengunyah makan siangnya.
Junhong meraih dan mengusap saus yang menempel pada ujung bibir Taehyung dengan jemarinya. Aku gagal mengantarkan mereka pada tempat yang seharusnya. Jadi aku titipkan pada Lee ahjussi –yang menerimanya dengan berat hati. Mungkin malam ini mereka akan berhasil mendarat ke tempat yang seharusnya." Ucap Junhong santai sambil melahap pisang di genggamannya. Ia mengharapkan wajah ketakutan, gelisah atau apapun dari sosok yang duduk di hadapannya. Namun saat ia melirik sekilas, tatapan sendu penuh nafsu lah yang Jung Daehyun tunjukkan. Mesum. Ia menatap lekat saat Junhong memakan pisangnya. Mesum mesum mesum. "Katak-katak itu harus sampai malam ini juga!"
Sebuah tawa merdu terdengar dari meja mereka. Byun Baekhyun. Ia tertawa sambil menatap geli pada Junhong yang mulai salah tingkah. Oh ada sesuatu di wajahku?
"Kau benar-benar lucu! Manis sekali~ Aw kau benar-benar terlahir untuk Kim Taehyung." Ujarnya sambil tersenyum, bersinar.
"Gomawo." Bisik Junhong malu-malu. Wajahnya mulai memerah karena perkataan menyenangkan yang diucapkan senior cantiknya itu. Oh betapa Junhong merasa tidak enak. Bukan karena ia telah tidur dengan kekasihnya, Daehyun, bukan. Ia tidak secara sadar melakukannya, jadi itu bukan salahnya. Ia merasa tidak enak karena namja secantik dan sebaik ini harus memiliki kekasih sebrengsek Jung Daehyun.
"Hehe aku dan Junhong benar0benar cocok kan Byun eomma." Kata Taehyung.
Junhong menatap kekasihnya bingung. "Eomma?"
"Iya baby." Taehyung menjawab singkat, sangat singkat.
"Aku masih tidak mengerti." Junhong memajukan bibirnya.
"Banyak yang bilang aku mirip dengan Daehyun hyung hehe. Karena Daehyun hyung itu appa berarti pacarnya; Baekhyun hyung, itu eomma."
Junhong terdiam. Benar mereka memiliki wajah yang hampir serupa. Itu sebabnya, haish. Junhong benci mengingat kejadian itu lagi.
Saat kedua orang di hadapannya berbicara dengan senior lain yang menyapa mereka. Junhong menarik Taehyung, berbisik di telinganya. "Kau tidak memanggil Daehyun sunbaenim 'appa' kan?"
Taehyun beralih untuk berbisik di telinga Junhong juga. Junhong berdebar keras dan sesuatu seakan menggelitik perutnya saat bibir basah Taehyung menyentuh daun telinganya. "Tidak." Bisiknya lucu.
"B-bagus." Junhong tersenyum menyembunyikan perasaan gelisahnya, terlupa dengan pembicaraan selanjutnya. Ia menggigit bibir bawahnya, matanya turun dari wajah tampan Taehyung ke Taehyung junior yang begitu ia rindukan. Oh malam ini ia harus berhasil. Lupakan soal katak, soal balas dendam, atau apapun itu. Hanya Taehyung yang harus ia fokuskan sekarang ini. Hanya Taehyung. Oh dan juniornya, tentu saja. Harus berhasil Choi Junhong.
.
.
.
a.n:
Halloooooooooo. Selamat tahun baru semuanya ^o^ Apa kabar?
Gee cuma mau update sebentar. Sebenarnya, gee lagi dilema soal DaeLo. Feelnya lagi rada berkurang. Aku lagi suka banget sama couple lain *0* Nanti bakal ada di cerita ini, yeah yeah. Kalau bukan karena couple –yang masih rahasia- itu dan reader yang udah semangatin lewat review, mungkin lanjutannya ini bakal ditunda sampai baby Zelo kembali girly xD dan Daehyun kembali punya pipi lololololol
Anyway
Thank you for the review. Love you.
