HUNHAN | DEPRESSED | CHAPTER 7

Tittle : Depressed

Author : LarasAfrilia1771

Genre : Tragedy, Romance, Yaoi

Cast : Oh Sehun

Lu Han

Wu Yifan

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Kim Jinhwan ( iKON )

A/N : CHAP 7 its coming to town (?) kalo masih ada yang minat silahkan baca jangan lupa review ya karena aku butuh banget semangat juga saran kalian ^_^

Tanpa ada unsur menjelek - jelekkan tokoh saya ciptakan ff ini (?) juga Luhan punya keluarganya semua member juga kecuali Sehun yang mutlak punya saya Bhaqq ^o^

.

.

Summary

Sehun terpaksa dijodohkan dengan putra dari kerabat orangtuanya bernama Luhan. Hal pertaman yang membuat Sehun aneh kepada orangtuanya adalah kenapa ia bisa dijodohkan dengan namja yang mengidap depresi seperti Luhan?

.

.

.

.

_Sebelumnya_

Luhan terbangun pagi – pagi sekali, mengagetkan Sehun yang tengah membereskan barang – barang miliknya. Namja cantik itu sontak menghampiri Sehun, memeluk dengan cepat tubuh Sehun disana.

"Lu kau kenapa?" ujar Sehun sambil mengelur punggung yang bergetar itu. Luhan tak bergeming malah semakin mengeratkan pelukannya. Ia teringat kejadian dulu, disaat dirinya masih duduk di SHS bersama dengan ingatan yang sangat tak ingin ia pikir kembali.

"Sehun aku mencintaimu"

.

.

.

_Depressed_

Kini kedua namja yang telah resmi menikah itu berada didalam sebuah mobil milik Sehun. Seharusnya Luhan pulang pagi tadi namun mengingat pekerjaannya masih menanti Sehun urung untuk mengantarkan Luhan pulang secepatnya dan Luhan hanya bisa merengek untuk itu, alhasil namja cantik tersebut ikut menunggu Sehun hingga waktu yang telah menunjukan pukul sembilan malam.

"Maaf membuatmu menunggu, apa kau sudah minum obatnya?" Luhan mengangguk seketika, menatap kearah paras pendamping hidupnya kini yang nampak sangat kelelahan, meski tetap tampan seperti biasa.

Sehun tersenyum sekilas sebelum menyalakan mesin mobil. Jujur ia merasa bersalah telah membiarkan Luhan menunggu cukup lama di ruangannya, mengingat lagi pekerjaannya mungkin Luhan bisa mengerti.

Suasana nampak hening hingga setengah perjalanan. Sehun hanya fokus pada kemudi dan Luhan kini sudah terlelap di kursi sebelahnya. Namja tampan itu membelokan mobil untuk masuk ke dalam pekarangan apathement lalu memarkirkan mobilnya ke tempat penyimpanan di gedung tersebut.

Merasa tak tega untuk membangunkan Luhan, akhirnya Sehun berinisiatif untuk menggendongnya untuk masuk kedalam. Sehun tersenyum saat dirasa kejadian waktu itu terulang kembali disaat ia menggendong pria cantik ini untuk pergi ke apathemennya, perbedaannya hanya kondisinya saat ini dimana waktu itu Sehun melihat Luhan yang tengah mabuk tak sadarkan diri digendongannya.

"Dasar rusa liar"

Sehun tak sengaja berucap seperti itu. Berjalan sambil sesekali melihat wajah damai Luhan yang tengah tertidur. Bulumatanya lentik dengan bibir yang sedikit terbuka, membuatnya nampak sangat ahh entahlah Sehun tak bisa mendeskripsikannya.

.

.

Setelah merebahkan tubuh Luhan di ranjang, Sehun segera membersihkan dirinya meninggalkan Luhan yang tengah terlelap damai disana dengan pakaian yang masih seperti pagi tadi.

Hanya butuh waktu beberapa menit akhirnya namja tampan itu keluar dari kamar mandi. Kaos putih dengan celana pendek itu membalut tubuh atletis milik Sehun, meski sederhana namun tetap saja terlihat tampan seperti biasa.

Luhan disana menggeliat tak nyaman sebelum mata rusanya terbuka perlahan kemudian menatap sosok Sehun yang berdiri tak jauh darinya.

Sehun tersenyum sambil mengeringkan rambut basahnya sehabis keramas. Buliran air jatuh satu persatu membuat aura maskulinnya muncul. Luhan yang kini telah terduduk hanya bisa diam memperhatikan gerak – gerik Sehun yang dirasa mulai berjalan kearahnya. Wangi segar yang mengungar membuat jantung namja cantik itu bergemuruh, seolah mengundangnya untuk lebih mendekat.

"Kau sudah bangun, ingin ganti baju?"

"Ya" Ucap namja cantik itu singkat.

Sehun meraih piyama yang sebelumnya ia siapkan untuk luhan di meja nakas. Piyama biru sutra, satu – satunya baju milik Sehun dengan ukuran yang kira – kira cukup untuk Luhan.

"Pakai ini, aku lihat isi tasmu hanyalah pakaian kotor. Aku akan menyuruh orang untuk mencucinya besok" diraihnya satu setel piyama itu. Sehun kira Luhan akan mengganti bajunya di kamar mandi, namun dugaannya salah karena namja cantik itu kini tengah melepas satu persatu kancing kemeja yang dikenakan dihaadapannya, seolah mengundang Sehun untuk lebih mendekat kearahnya.

"Lu, kau mau menggantinya disini?" tanyanya membuat aktifitas Luhan berhenti sesaat. "Ya, memangnya kenapa? Aku tak biasa mengganti baju di dalam kamar mandi" Sehun hanya mengangguk paham, berusaha rileks dengan reaksi berlebihan dari tubunya yang memerlukan sesuatu untuk ini. Sehun kegerahan melihat Luhan yang kini telah membuka pakaiannya,menyisakan kaus dalam dengan underware saja tepat dihadapannya.

Luhan mendengus lucu saat dirasa pakaian yang Sehun berikan membuatnya seperti ingin tenggelam. Bayangkan hanya memakai atasan piamanya saja sudah kebesaran bagaimana dengan bawahannya, dan Luhan berinisiatif untuk memakai atasannya saja.

"Kenapa tak pakai bawahnnya?"

"Itu kebesaran, aku tak suka"

"Tapi Lu, cuaca di luar dingin aku tak—

Telunjuk namja cantik itu telah menempel pada bibir terkatupnya. Mengisyaratkan agar pemuda tampan itu diam.

"Kenapa kau menjadi cerewet seperti ini, cuaca memang dingin tapi itu diluar bukan disini" protes Luhan kala itu, membuat Sehun terdiam sambil memperhatika paras Luhan yang terasa dekat dengannya. "—Dan aku tak suka di diatur seperti itu" telak ucapan itulah yang membuat Sehun berpikir jika Luhan bukanlah namja yang suka di protes, sekehendaknya sendiri dan Luhan akan kesal jika ada seseorang yang mengaturnya, termasuk Sehun.

"Baiklah, lagipula kau nyaman seperti itu bukan dan aku tak akan melarangnya lagi"

Mereka berdiri saling berhadapan. Wajah yang terasa dekat membuat deru napas keduanya terasa satu sama lain, wangin dominan dari Sehun membuat Luhan tak dapat berkutik sedikitpun .

Hingga detik berikutnya entah dorongan dari mana Sehun mulai mendekatkan wajahnya, sedangkan Luhan hanya bisa terdiam menerima apa yang akan terjadi selanjutnya. Mencoba menggapai bibir lawanya, namja tampan tersebut mulai menyesap tekstur bibir Luhan yang terasa lembut. Bibir keduanya menyatu sempurnya, saling memangut hingga menciptakan sebuah ciuman menuntut yang dilakukan Sehun.

"Emmpphh" mendengar leguhan Luhan membuatnya semakin mencumbui bibir itu lebih. Seluruh tubuh Luhan menjadi lemas, membuat namja tampan itu meraih pinggang ramping lawannya untuk menahan jika saja Luhan terjatuh.

Saling memeluk sama lain, hingga dirasa salah satu diantaranya mencoba untuk melepas pangutan itu. Luhan memukul dada Sehun perlahan, ia butuh untuk sekedar mencari oksigen sekarang.

Setelah ciuman terlepas, segera Luhan meraup oksigen sebanyak – banyaknya. Itu adalah ciuman panjang yang baru ia rasakan pertama kali dalam hidupnya. Sensasi yang berlebihan membuat seluruh tubuh Luhan memanas begitu pula dengan Sehun.

Salah satu lengan Sehun menyibak sedikit helaian rambut milik namja cantik tersebut. Mencium dahi Luhan cukup lama membuatnya menghangat dengan perlakuan yang diberikan. Luhan pikir perjodohan ini akan membuatnya semakin tertekan, namun ternyata tidak. Sehun yang ia kira tak seperti kenyataannya, dimata Luhan sekarang Sehun adalah sosok yang ia cari selama ini.

"Sehun"

"Hmmm"

Luhan tak dapat berkata kata lagi saat tubuh rampingnya mulai dibawa menuju ranjang. Ia tersentak saat dirasa Sehun kembali mencumbui bibirnya, lebih menuntut dari sebelumnya. Sehun terus menciumi Luhan penuh nafsu, mulai dari bibir hingga ke arah leher sekarang. Mendesah yang bisa Luhan lakukan sekarang, karena apa yang Sehun lakukan kini membuatnya tak bisa berhenti untuk mendesah.

"Sehunnn... ahhhh"

"Terus Lu panggil namaku"

Posisi dimana Luhan yang berada di bawah dengan Sehun diatas tengah mencumbui lehernya, bersama dengan beberapa kancing baju Luhan yang mulai terlepas. Sehun tersenyum sesaat sebelum kembali ia membuat tanda kepemilikan di leher mulus pendampingnya.

Suara bel pintu apathement terdengar nyaring, membuat aktifitas mereka terpaksa terhenti. Suara geraman Sehun diatasnya membuat wajah Luhan memerah. Ia malu, menatap Sehun yang terasa sangat bernafsu sekali terhadapanya.

Sehun segera bangkit dari atas tubuh Luhan. Berani – beraninya ada yang menganggangu aktifitas mereka saat ini. Namun pada akhirnya ia menyerah dengan rasa kesal yang teramat. Melangkah untuk mulai membuka pintu apathement, mendapati seorang pengirim makanan yang seingatnya ia pesan beberapa menit yang lalu.

"Ahh, gumawo. Kembaliannya ambil saja"

Dengan cepat ia menutup kembali pintu itu, mengacak rambutnya asal sambil meletakkan pesanannya di atas meja makan.

Luhan yang baru keluar dari kamar segera menghampirinya. Mencium bau masakan yang sangat lezat membuatnya ingin mengisi perut sekarang.

"Aku lapar"

"Ini untuk kita, bisakah kau membantu menatanya"

Luhan mengangguk, mencoba melakukan apa yang Sehun perintahkan. Salah satu perintah yang bisa diterima oleh Luhan tanpa protes.

Setelah selesai mereka duduk saling berhadapan di meja makan. Luhan makan dengan lahap dan Sehun hanya bisa memperhatikannya.

"Makanlah perlahan" ucapnya dengan tangan yang membersihkan sedikit noda di sudut bibir namja cantik itu.

Acara makan tengah malam ini berlangsung cepat. Sehun menguap beberapa kali, ia sangat lelah seharian ini ingin segera untuk mengistirahatkan diri. Hingga pada akhirnya mereka berbaring di ranjang, saling berhadapan, memandang paras satu sama lain.

"Tidurlah Sehun" Sehun yang mendengarnya hanya bisa bergumam, dan mulai merasakan tangan seseorang yang mencoba menyentuh pipinya. Itu Luhan dengan tangannya yang menyentuh pipi Sehun sedikit mengusapnya. Semburan merah samar terhias di pipinya tanpa sepengetahuan Sehun yang sudah terpejam.

Posisi yang masih membuat jarak mereka kikis. Mulai merapat satu sama lain, dengan Luhan yang kini telah berada di pelukan Sehun. Malam yang baru dirasakan oleh masing – masing, saat dinginnya cuaca terasa dan mereka hanya merasakannya sendiri. Dan sekarang itu tak berlaku, karena masing – masing telah memiliki pendamping untuk saling melengkapi satu sama lain.

"Saranghae, good night"

.

.

.

_Depressed_

Seorang namja manis kini tengah terduduk di atas ranjang, kakinya ia ayunkan tanpa sedikit menatap pada lantai karena ranjang yang tinggi menurutnya. Baekhyun men-pout-kan bibirnya sebal, sudah hampir dua hari ia tak menemukan dokter Chanyeol dan sekarang ia sudah boleh pulang karena kondisi yang sudah membaik.

"Hyung, ayo kita pulang"

Itu adalah Kim Hanbin, sepupunya dari Jepang yang tengah meneruskan kuliah di Korea. Ia mengangguk patuh, mulai turun dari ranjang dengan perasaan tak rela. Sejujurnya ia ingin bertemu dokter Chanyeol sebelum dirinya benar – benar pulang.

"Hanbin-ah"

"Ne" Sahut namja bernama Hanbin itu, Baekhyun ingin meminta sesuatu padanya namun ia urung merasa tak yakin.

"Aniya"

Baekhyun berjalan beriringan dengan sang sepupu sambil dengan setia Hanbin merangkul bahunya. Baekhyun hanya bisa terdiam, terus berjalan di lorong rumah sakit untuk menuju ke arah mobil jemputan. Tak melihat seseorang lain yang kini mulai masuk ke dalam ruangan rawatnya tadi.

.

.

Chanyeol berjalan dengan cepat menuju ruangan sang pasien pagi ini. Setelah dua hari melakukan penelitian akhirnya ia bisa kembali bekerja di rumah sakit. Perasaannya yang aneh sejak tadi membuatnya berpikir untuk segera bertemu dengan salah satu pasiennya. Entah kenapa Chanyeol sangat ingin bertemu Baekhyun, hingga pintu itu ia buka dan mendapati suster yang kini tengah merapikan ruangan tersebut.

"Suster, Baekhyun sudah pulang?" tanya Chanyeol saat itu, membuat sang suster disana tersentak sesaat karena kaget.

"Ne, baru saja ia dijemput oleh keluarganya"

Tanpa basa – basi Chanyeol segera meninggalkan ruangan itu. Berlari menuju tempat yang ia tuju sekarang, mungkin jika ia cepat Baekhyun masih berada di sana.

Chanyeol menghiraukan banyak tatapan yang tertuju padanya. Ia terus berlari sampai seseorang yang ia cari tengah berada tak jauh darinya. Baekhyun disana sedang berdiri memunggungi dirinya, nampak tengah menunggu seseorang.

Namja manis yang tengah menunggu Hanbin yang tengah mengambil mobil seketika menoleh. Matanya melebar saat dirasa seseorang yang familiar tengah berlari kearahnya, memeluk dengan cepat tubuh yang lebih mungil itu seketika.

Baekhyun terdiam, bingung untuk melakukan apa. Tak pernah sedikitpun ia membayangkan ini, dipeluk oleh dokter yang ia tahu cukup jengkel terhadap sikapnya.

Chanyeol masih memeluk tubuh itu erat, mengatur napasnya yang menggila akibat berlari cukup jauh dari dalam.

"Kenapa kau tak bilang akan pulang sekarang?" tanya Chanyeol masih memeluk Baekhyun.

"Nghhh.. ku kira kau tak peduli" Baekhyun berbicara sedikit susah, mengingat mulutnya yang tertutupi oleh bahu namja tinggi tersebut.

Chanyeol melepas cepat pelukan itu, menatap Baekhyun dalam sebelum berbicara. "Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu heh, dua hari cukup untuk tak melihat kelakuanmu Baekhyun" ucapan Chanyeol membuat hati Baekhyun seketika menghangat, semburan warna di pipinya membuat wajah itu memanas menahan malu.

"Dokter kau tak salah bicarakan?" Chanyeol menggeleng, hingga ia tersadar dengan ucapannya barusan dan meruntuki kebodohannya telah keceplosan berbicara.

"Ahhh,, ya pokoknya aku minta nomer teleponmu"

"Bukannya kau sudah memilikinya"

Bodoh, namja tinggi itu terlalu gugup sekarang hingga ia tak menyadari ucapannya barusan hanya akan membuatnya terlihat sangat bodoh di hadapan namja manis ini.

"Oh ya, aku lupa ya sudah" Ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan .

"Hanya itu?, dasar dokter tak romantis"

Chanyel tersenyum melihat Baekhyun yang nampak tengah merajuk. Satu pelukan ia berikan lagi pada mantan pasiennya itu.

"Aku akan menghubungimu nanti" ucap namja tinggi itu di tengah pelukannya. Baekhyun mengangguk, hingga suara seseorang memecah suasana membuat Baekhyun mendengus dan mulai melepas pelukan itu.

"Ahh Hallo dokter, Hanbin sepupu Baekhyun hyung"

Chanyeol menerima uluran tangan itu sebelum ia memperkenalkan diri.

"Chanyeol"

Setelahnya Hanbin mengisyaratkan untuk berpamitan terlebih dahulu pada dokter tersebut. Chanyeol sedikit tak rela, namun lain waktu ia akan sering menghubungi pria manis itu nanti.

"Hati – hati dijalan"

"Sampai jumpa dokter, kami pergi dulu"

Chanyeol mengangguk, pandangannya mengikuti kemana mobil itu mulai berjalan meninggalkannya. Perasaan aneh ini kembali muncul, seolah bernostalgia dengan kejadian dahulu saat dirinya masih duduk di bangku sekolah.

.

.

_Depressed_

Hujan salju turun cukup lebat belakangan ini, Membuat suhu daerah dapat mencapai hingga minus derajat. Wufan disana tengah menatap sang dongsaeng yang tengah terlelap damai di ranjang akibat demam yang menyerangnya. Dengan sayang ia mengusap dahi yang telah dipasang plester penurun panas,dan mulai memeriksa suhu tubuh sang dongsaeng.

"Cepat sembuh Jinan" Ucap Wufan seraya mencium sayang dahi Jinhwan yang tengah terlelap. Suhu tubuh namja mungil itu sangat tinggi, membuat napasnya terdengar memburu. Wufan ingin membawa Jinhwan ke rumah sakit, namun namja mungil itu menolak dengan alasan ia benci bau aneh khas rumah sakit hingga pada akhirnya Jinhwan dirawat di rumah seperti sekarang.

Wufan mencoba menelpon seseorang disebrang sana. Mungkin ia akan lebih tenang jika menghubungi namja itu sekarang.

"Bisakah kau pergi ke rumahku, Jinhwan sedang sakit"

.

.

Chanyeol yang sedang membereskan beberapa dokumen di mejanya sontak terhenti karena dering ponsel yang terdengar. Segera ia raih benda itu, membaca sesaat nama yang tertera disana lalu mencoba untuk mengangkat sambungan.

"Ne hyung, ada apa?"

...

"Ne, aku akan kesana"

Sambungan itu terputus membuat pekerjaan yang dilakukan dengan santai menjadi terburu – buru. Wufan hyung bilang Jinhwan demam tinggi, dan mungkin Wufan hyung sedang sibuk makanya namja blasteran itu menelepon dirinya.

Dengan cepat ia merapikan dokumen yang berserakan di meja kerja. Mengingat tugasnya telah selesai Chanyeol segera meraih kunci mobilnya kemudian pergi menuju tempat tujuannya sekarang.

.

.

Jinhwan terbangun dikala seseorang tanpa permisi membuka pintu kamarnya. Pusing pada kepalanya sangat terasa mungkin karena efek demam. Hingga ia menatap sosok yang mulai menghampiri ranjang dengan pakaian yang telah diganti dengan setelan yang nampak casual.

"Hey, kau sakit?"

Pertanyaan itulah yang pertama keluar dari mulut namja tinggi itu. Jinhwan hanya mengangguk lemah, bersandar pada kepala ranjang dengan suhu tubuh yang masih tinggi.

"Wufan hyung menghubungiku barusan dan mengatakan jika kau sedang sakit"

"Ya begitulah, aku tak kuat cuaca dingin seperti sekarang"

Setelah percakapan singkat itu keduanya terdiam. Jinhwan masih menyandar dengan keringat yang mengucur di sekitar dahinya, membuat Chanyeol disana sontak terkejut dan mulai memeriksa kondisi Jinhwan lagi.

"Kau sudah minum obatmu?" tanya Chanyeol.

"Sudah, dan aku tak menyukainya" Jinhwan mendengus, merasa sangat sakit di seluruh tubuh ditambah rasa dingin yang menyerang tubuhnya hingga menggigil. Chanyeol tersenyum geli melihat ekspresi Jinhwan yang seolah sangat jijik dengan obat. Namja mungil itu kembali berbaring, menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada tak kuat dengan rasa dingin dari tubuhnya.

Chanyeol disana hanya bisa menatap Jinhwan yang kini nampak sangat menggigil kedinginan di dalam selimut. Entah mempunyai inisiatif dari mana namja tinggi itu mulai ikut masuk kedalam selimut. Jinhwa terlonjak, menatap terkejut ke arah Chanyeol yang kini tengah berbaring disisinya. Namun ia segera mengerti karena kini Chanyeol tengah merapatkan tubuhnya, memeluk tubuh itu erat bermaksud untuk menghangatkan Jinhwan yang tengah menggigil kedinginan hingga gigi – giginya nampak saling beradu.

Jinhwan ikut mendekap tubuh lebih besar tersebut. Membuang rasa malunya sekarang karena ia butuh ini. Chanyeol menempatkan kepala namja mungil itu di daerah lehernya, karena dengan ini suhu hangat yang ia miliki akan tersalurkan pada Jinhwan.

"Tidurlah, kau nampak menggigil sekali"

Jinhwan hanya bisa bergumam. Posisi ini tak lagi membuatnya tersiksa. Chanyeol merasa tubuh Jinhwan sangat mungil sekali, seperti sekarang ia nampak tengah memeluk seorang adik kecil dalam dekapannya.

"Cepat sembuh Jinhwan"

Mereka salik mendekap satu sama lain. Jinhwan sudah terpejam di dalam dekapan itu di susul dengan mata namja tinggi itu yang mulai meredup. Mungkin hari ini ia akan menginap di rumah keluarga Wu. Mereka terlelap damai, hingga menghiraukan ponsel di nakas yang tengah berkedip nyala tanda ada pesan masuk.

.

.

.

_Depressed_

"Lu kau benar tidak apa – apa aku tinggal sendiri?"

"Aku sudah besar, aku akan baik – baik saja"

Ada sedikit rasa khawatir saat akan meninggalkan suami cantiknya untuk bekerja sekarang. Masalah tentang depresi Luhan lah yang menjadi sebab utamanya, karena jika tidak dikontrol dengan baik Luhan bisa saja melakukan hal – hal aneh yang akan memperburuk kondisinya saja.

"Cepatlah pergi Sehun, pasienmu menunggu" Luhan bersuara mencoba menghampiri Sehun yang tengah berdiri untuk ia beri pelukan. Sehun luluh dengan itu, mulai membalas pelukan hingga memberikan kecupan ringan padanya.

"Jangan bukakan pintu jika kau tak mengenali siapa yang berkunjung, paham?" peringatan Sehun diangguki oleh Luhan. Mencoba untuk bergegas meninggalkannya yang terlihat baik sekarang. Sehun berharap tak akan terjadi apa – apa saat dirinya tak ada nanti.

"Hati – hati Sehun" saat dirasa Sehun mulai menjauh, ia kembali masuk kedalam. Menutup pintu tersebut lalu berjalan menuju dapur untuk sekedar membuka isi lemari es.

Membawa sebuah botol minuman kaleng yang ada di sana. Ia menengguk minuman kaleng dengan rasa aneh itu perlahan, menyalakan televisi besar dihadapannya untuk sekedar menonton acara pagi.

Sejujurnya ia bosan jika harus seperti ini. Ingin rasanya untuk ikut pergi bersama Sehun namun urung karena takut jika akan merepotkan Sehun saja.

Hingga suara bel berbunyi tak kala ia sedang merasa bosan sekarang. Luhan segera bangkit, berjalan untuk segera membuka pintu. Saat dirinya telah berada di depan pintu, ia belum mau membukanya teringat ucapan Sehun tadi.

Layar intercom yang berada disana tak menampilkan seorangpun disana. Ia mengedikkan bahunya dan mulai membuka pintu hingga menemukan sebuah amplop coklat tergeletak dibawahnya.

Ia raih amplop itu, menengok kesamping secara bergantian dan tak menemukan siapapun. Tak terlalu memperdulikan itu, ia segera masuk kembali kedalam sebari penasaran dengan isi dari amplop ini mengingat tak ada nama pengirim maupun penerima disana.

Rasa penasarannya tak bisa ditahan lagi. Tangannya mulai membuka isi didalanya. Menemukan beberapa lembar foto yang menampilkan dua orang disana. Awalnya Luhan kira hanya beberapa kertas putih saja namun seketika matanya membulat tak percaya dengan apa yang tengah ia lihat sekarang. Beberapa foto yang menampilkan dua orang tengah berciuman dengan mesranya. Sehun bersama dengan seseorang tengah berciuman di dalam foto ini. Hati Luhan merasa sakit melihat foto ditangannya, membuat lengannya tiba – tiba bergetar karena tak percaya. Sehun telah berbohong jika ia mencintainya dan Luhan benci pada seorang pembohong.

.

.

Sehun tersenyum pada sang pasien. Sejujurnya namja tampan ini jarang untuk melakukan hal seperti itu, namun entah kenapa belakangan ini ia ingin melakukan hal yang cukup mustahil dilakukan olehnya dan membuat dirinya terheran sendiri.

"Dokter sangat tampan sekali, juga ramah"

"Ahh, ne?" Sehun bertanya, apakah itu sebuah pujian untuknya.

"Kau selalu tersenyum kepada semua pasien dokter" ucap wanita parubaya itu yang tengah berada di hadapannya.

Sehun berfikir jika wanita parubaya ini adalah pasien barunya karena setahunya banyak pasien bilang ia adalah sosok yang kaku juga jarang tersenyum. Ia menjadi ingin tertawa melihat perubahan drastis dalam hidupnya dikarenakan seseorang yang telah mengisi hatinya, Luhan.

Waktu terasa sangat cepat menurutnya hingga tak terasa telah menunjukan pukul sembilan malam, waktunya untuk segera bergegas pulang.

.

Ia mulai mengedari mobilnya agak cepat untuk segera pulang. Entahlah perasaannya tidak enak semenjak tadi, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Hingga akhirnya ia tiba dan segera menuju aparthemen untuk mengecek keadaan Luhan disana.

Ia membuka pintu tersebut. Halal pertama yang ia dapati sekarang adalah keadaan ruangan yang sepi, seperti tak ada seorangpun didalam. Sehun memanggil nama Luhan berkali – kali dan tak ada jawaban setelahnya. Ia menjadi takut, hingga seseorang yang ia cari tengah memunggunginya di balik meja bar. Sehun menghela napas, mulai menghampiri sosok itu perlahan bermaksud untuk memberi kejutan.

Sosok yang tengah berdiri memunggunginya nampak tak bergeming sedikitpun. Hingga tiba – tiba saja Luhan berbalik dengan pisau yang ia genggam sekarang.

"Lu, apa yang kau lakukan?" Sehun melebar menatap pisau yang ada di genggaman Luhan bersama dengan darah yang mengucur dari tangan namja cantik itu.

Sehun berusaha untuk mengambil pisau tajam itu dari Luhan, namun usahanya tak berhasil karena dengan cepat tangannya mengacungkan pisau itu tepat kearahnya.

"Kau pembohong" ucapan dingin itulah yang diterima Sehun saat itu. Ia membeku ditempat, menatap pisau yang mengarah kearahnya.

"Lu turunkan pisau itu" pinta Sehun padanya.

"Kau bohong Sehun aku benci padamu"

Luhan masih mengarahkan pisau itu kearah Sehun, seolah ingin menusuk Sehun sekarang. Namja tampan itu melirik kearah lengah Luhan yang nampak berlumuran darah sekarang. Sebelum ia tiba disini, dirinya yakin Luhan telah melukai lengannya sendiri.

PRAANGGG

Pisau itu ditepis oleh Sehun dengan cepat saat Luhan sedang acuh, membuat Luhan nampak marah padanya. Luhan yang ia lihat sekarang bukanlah namja yang ia kenal dan Sehun baru mengetahui jika apa yang dibicarakan Jinhwan waktu lalu benar jika Luhan sering melukai dirinya sendiri.

Dengan cepat Sehun memeluk tubuh yang lebih mungil itu. Luhan meronta, berusaha melepas pelukan tersebut. Pikiran namja cantik itu sudah dipenuhi kebencian pada Sehun karena telah membohonginya dan Luhan kalut akan emosi sekarang.

"Lu berhentilah memberontak, ini aku Sehun suamimu"

Luhan berteriak kencang saat itu membuat dirinya kualahan karena Luhan terus saja memberontak di dekapannya. "AKUU BENCI PADAMUUUUU" itulah teriakan disusul dengan geraman keras namja cantik itu. Emosinya memuncak membuat Sehun bingung sebenarnya apa yang telah terjadi pada namjanya.

Sehun terus mendekap tubuh itu, merasakan jika suhu tubuh namjanya cukup tinggi yang ia rasakan. Tangan Luhan tak henti untuk memukul dada Sehun cukup keras dan namja tampan itu tak ambil pusing jika hal itu dapat meredakan emosi Luhan. Hingga perlahan Luhan berhenti memberontak bersama dengan kesadarannya yang menghilang.

Tubuh itu terkulai didekapannya. Sehun mencoba membawa Luhan untuk berbaring sebari mencoba untuk mengobati luka dilengan namja cantik itu. Sehun tidak tahu mengapa Luhan melakukan hal seperti tadi, dan ia mendengar jika Luhan berucap bahwa ia membenci Sehun. Perasaan Sehun menjadi tak menentu dengan keadaan sekarang. Depresi yang diidap Luhan tidak dapat ditebak, labil. Namun Sehun berpikir jika Luhan tak akan melakukan hal tadi jika ada sesuatu yang mengusiknya.

Disaat dirinya akan melangkah sesuatu terinjak oleh kakinya. Sehun segera menaruh Luhan di sofa, ia melupakan benda tadi sejenak mengingat luka yang ada di lengan Luhan harus segera di obati agar tak menimbulkan kehabisan darah.

Dengan telaten Sehun mengobati luka sobek pada lengan pendampingnya. Luhan telah keterlaluan melukai anggota tubuhnya sendiri dan ini bukanlah luka yang kecil. Luhan disana belum sadarkan diri hingga Sehun selesai untuk mengobati luka itu.

Ia putuskan untuk kembali ke tempat dimana ia melihat kumpulan kertas putih itu. Hingga dirasa kertas tersebut tergeletak dengan posisi terbalik. Kertas foto itu ia raih, mencoba untuk melihat sesuatu di balik kertas tersebut. Sehun mengerutkan dahi kaget, melihat foto dirinya bersama seorang namja di sebuah tempat parkir sebuah apathemen. Ia mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu, dan ia ingat sekarang dan tidak salah lagi ini adalah pekerjaan Jinhwan.

Tangannya menggenggam kertas - kertas itu membuatnya menjadi kusut di dalam kepalan. Dengan cepat Sehun mengumpulkan foto itu. Ia tak bisa membayangkan bagaiman reaksi Luhan jika terbangun nanti kepadanya. Yang jelas Sehun tak ingin Luhan membencinya karena ini kesalah pahaman juga dirinya yang sudah mencintai Luhan dengan segenap jiwanya.

"Sialan kau Jinhwan"

.

.

TUBICONTINYUEEEEEEEEEEE~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saya udah gak nongol berapa abad yahh? Tolong jawab sayang.

Tapi saya udah nongol lagi kok sekarang. Beberapa alasan yang membuat ff ini nganggur beberapa abad adalah laptop saya yang error beserta perangkat didalamnya, saya gak kejang gimana coba pas liat laptop error saat mau nge post , sakit banget dadas ya alloh.

Untuk pada reader yang masih nunggu saya ucapkan terimakasih. Yang jadi sinder terimakasih juga karena dengan diam – diam tellah menjadi pengagum rahasia saya.

Em untuk nama Wufan kenapa gak Yifan aja, soalnya saya suka manggil Wufan aja lucu gitu ketinbang Yifan agak aneh menurut saya. Tapi gak usah dipermasalahin juga kali ya yang penting orangnya sama ya hehe. Untuk yang nagih ff saya ucapkan terimakaih banget soalnya gak nyangka ada yang minat baca kelanjtannya. Dan untuk ff satu lagi itu saya hiatusin dulu soalnya gara – gara laptop saya yang error datanya pada kehapus jadi susah buat bikin lagi padahal udah end #SEDIHHHHH

yang bilang chap ini kurang panjang saya sumpahin nikah ama biassss...

Review sangat dibutuhkan untuk kelanjutan ff juga typo yang berserakan.