Ini adalah remake dari Pretty Sasuke or Satsuki yang pernah aku publish sebelumnya. Entah kenapa kalau pake alur yang dulu aku ga bisa bikin lanjutannya. Jadi ini versi terbaru yang agak jauh dari cerita yang kemarin. Aku harap readers semua suka

.

.

Disclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto/Pretty Prita punya Andrei Aksana/Sejuta Bintang punya Mito Orihara

Pairing: NaruSasu

Warning: Ada konten tentang menstruasi yang mungkin agak gimana buat beberapa readers, jadi kalau mau bisa langsung di skip aja hehe.

Pretty Sasuke or Satsuki

By: Misa Chiiyuki

.

.

Sasuke membuka matanya. Perut bagian bawahnya terasa sangat sakit. Ia bergegas ke kamar mandi dan duduk di toilet. Ia menguap pelan dan melihat ke arah celana dalamnya. Ia terkejut. Ia... berdarah...

"NARUTO! AKU BENAR-BENAR AKAN MATI!"

.

.

Sebagai pria dewasa, Sasuke tentu tahu apa yang dimaksud dengan menstruasi. Tapi bagaimana pun ini bukanlah hal yang pernah ia alami sendiri secara langsung. Ia bergetar merasakan perutnya diremas. Rasanya sakit sekali. Ia ingin menangis, tapi untuk apa? Sasuke memutuskan untuk menelpon Ino. Sebagai wanita Ino pasti tahu apa yang harus dilakukan.

Tidak lama setelah itu Ino datang dan masuk ke kamar Satsuki. Ia terkejut ranjang Satsuki ternoda darah dimana-mana. Dan Sasuke tergeletak tidak berdaya diatas ranjang dengan celana yang juga terkena darah.

"Ya Tuhan, Sasuke-san. Kau tidak menggunakan pembalut?" tanya Ino. Ia bergegas mencari pembalut yang mungkin dimiliki Satsuki di dalam kamar.

"Hiks, aku tidak bisa mencarinya. Perutku sakit sekali. Aku belum pernah merasakan yang seperti ini."

Ino menemukan pembalut di salah satu laci Satsuki. Ia mengambil celana dalam bersih Satsuki dan memasangkan pembalut tersebut disana.

"Sasuke-san, pergilah ke toilet. Mandi, dan gantilah pakaianmu. Ini, pakai celana dalam yang sudah kutempeli pembalut." Ino menyerahkan celana dalam itu pada Sasuke. Sasuke mengangguk dan berjalan pelan ke kamar mandi. Ino membantu Sasuke, menggantri sprei ranjangnya, dan memasangkan pembalut ke celana dalam Satsuki yang dirasa cukup hingga tujuh hari.

Beberapa saat kemudian Sasuke keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah bersih, dan langsung menghempaskan diri lagi ke ranjang, sambil meringkuk memegang perutnya.

"Masih sakit?" tanya Ino.

Sasuke hanya mengangguk. Sial, ia tidak tahu jika menjadi wanita sebegini merepotkan. Ino pergi ke dapur, dan kembali membawa sebotol air hangat.

"Ini, letakkan botol ini di tempat yang sakit."

"D-dimana?"

Ino mendecak, kemudian meletakan botol air hangat itu di bagian perut dekat rahim (perempuan pasti tahu kan dimana). "Disini."

Perlahan-lahan rasa sakit itu berkurang. "Sudah lebih baik. Terima kasih, Ino-san."

"Sama-sama. Pasti sulit untukmu terjebak di tubuh wanita. Yah, beginilah kami saat menstruasi. Kerepotan." Ino tersenyum melihat 'sahabatnya' yang tampak nyaman dan berkurang rasa sakitnya. Sampai bunyi bel mengagetkan keduanya.

Ino membuka pintu dan melihat Naruto bersama Satsuki datang.

"Oh, hei, ayo masuk." Ino membuka pintu lebar agar mereka bisa masuk.

"Mana Sasuke?" tanya Naruto.

"Emm, ceritanya agak panjang. Singkatnya, ia sedang sakit karena menstruasi."

"Apa?!" teriak Naruto dan Satsuki bersamaan. Mereka bergegas ke kamar Satsuki dan meliat Sasuke terbaring disana.

"Sasuke, kau baik-baik saja? Mau ke rumah sakit?" Naruto mengusap rambut Sasuke.

Satsuki yang melihat itu mendengus. "Jangan seenaknya menyentuh tubuhku!"

Semua yang ada disana langsung tertawa geli. "Baiklah-baiklah." Naruto menjauh dari Sasuke.

"Ayo kita berangkat. Hari ini aku sudah meminta keluargamu dan Sakura untuk berkumpul." ucap Satsuki.

"T-tapi aku tidak bisa berdiri. Rasanya sesuatu keluar dibawah sana ketika aku berdiri."

"Lalu bagaimana? Aku tidak bisa melakukannya sendiri. Meski pun bersama Naruto, tapi aku juga harus menyampaikan apa yang ingin kau sampaikan."

Mereka berpikir sebentar, sampai Ino mendapatkan pencerahan. "Aku punya ide!"

.

.

.

Naruto dan Satsuki memasuki kediaman Uchiha. Sementara Sasuke dan Ino ada di dalam mobil Naruto. Sasuke berbaring sambil tetap membawa botol air hangat itu. Satsuki masuk dengan earphone dan kamera kecil yang tersembunyi di kerah bajunya. Itulah ide Ino. Sasuke bisa tahu isi pembicaraan itu dengan kamera pengintai yang terhubung dengan ponselnya, dan bisa mengungkapkan isi hatinya melalui Satsuki dan earphone itu. Karena Sasuke harus berbaring, jadi hanya ini yang bisa dilakukan. Untung saja Ino punya kenalan yang punya alat-alat semacam itu.

Sasuke memperhatikan dengan seksama. Ayahnya marah ketika melihat Naruto datang ke rumahnya.

Dan yah, Satsuki cukup gemetaran menghadapi ayah Sasuke yang sedang murka di hadapannya. Ia melirik Naruto yang terlihat , pasti Naruto sudah beberapa kali menghadapi kemarahan ayah Sasuke. Jadi, sudah biasa.

"Bocah tengik, berani-beraninya kau datang ke rumah ini!"ucap ayah Sasuke. Sementara ibu dan kakak Sasuke hanya duduk diam dan memperhatikan sang kepala keluarga. Sesungguhnya, kalau boleh jujur, mereka akan terima jika Sasuke menikah dengan laki-laki, selama itu adalah orang yang dicintainya. Namun agak sulit melunakan hati ayah Sasuke itu.

"Saya sudah pernah bilang, saya mencintai Sasuke dan akan melakukan apapun untuknya. Dan saat ini, kami akan mengatakan sesuatu kepada kalian." ucap Naruto dengan berani. Ia menatap Satsuki.

"Satsuki, ulangi apa yang kuucapkan. Ayah, ibu, kakak, dan Sakura. Aku minta maaf jika aku mengecewakan kalian. Tapi aku sudah tidak bisa membendungnya lagi. Aku mencintai Naruto, dan aku akan menikah dengannya. Aku ingin membatalkan pernikahan dengan Sakura." terdengar Sasuke bicara di earphone kecil yang ia pasang di telinga kirinya.

"Ah, emm, a-ayah, ibu, kakak, dan Sakura. Aku minta maaf jika aku mengecewakan kalian. Tapi aku sudah tidak bisa membendungnya lagi. Aku.. aku mencintai Naruto, dan aku akan menikah dengannya. Aku ingin membatalkan pernikahan dengan Sakura." Satsuki mengikuti perkataan Sasuke.

"Kau sudah gila Sasuke! Kau mau keluarga Uchiha dipermalukan karena ada keturunannya yang gay? Kau mau itu terjadi? Dan kau bocah tengik." Ayah Sasuke menunjuk Naruto. "Kau akan kehilangan kariermu. Popularitasmu! Kau akan dicap menjijikan karena ketahuan jadi seorang gay!"

"Aku sama sekali tidak keberatan. Lagipula, sekarang sudah banyak artis yang mengakui kalau mereka gay, dan mereka diterima oleh masyarakat. Aku rasa, sesuatu yang dianggap tabu ini sudah bisa diterima oleh masyarakat. Dan kalau pun aku tidak bisa melanjutkan karierku sebagai aktor, aku tidak keberatan. Asalkan aku bisa bersama Sasuke." jawab Naruto.

"Aku juga sangat mencintai Naruto, ayah..."

"Aku juga sangat mencintai Naruto, ayah..."

PLAK

Terdengar suara yang sangat keras dan menyakitkan. Satsuki memegang pipinya yang terasa sangat sakit karena ditampar oleh ayah Sasuke. Oh tidak, matanya mulai memanas dan siap menumpahkan air mata kapan saja.

Sasuke di mobil Naruto juga menatap ayahnya tidak percaya. Hei, ayahnya memukulnya. Ah, maksudnya memukul Satsuki! Untuk sesaat ia tidak berani bicara apapun. Sampai-

"Memang tidak seharusnya dua orang lelaki saling mencintai satu sama lain. Memang tidak seharusnya aku menerima lamaran Naruto. Tapi- tapi- mencintai seseorang bukanlah suatu kesalahan!" ucap Satsuki.

"Salah!" balas ayah Sasuke tajam. "Tentu saja salah! Apalagi jika menyangkut dengan masa depan keluarga!"

Satsuki tidak bisa menjawab apa-apa.

"Baiklah kalau begitu..."

"B-baiklah kalau begitu." ulang Satsuki.

"Aku akan meninggalkan rumah. Silakan hapus aku dari daftar keluarga, maupun warisan."

"Eh? Apa?" Satsuki ragu untuk mengulangnya.

"Sudah katakan saja!"

"Umm.. Okay. Aku akan meninggalkan rumah. Silakan hapus aku dari daftar keluarga, maupun warisan!"

"Sasuke!" Naruto terkejut mendengar hal itu. Ia memang mencintai Sasuke. Tapi ia juga tidak ingin Sasuke membuang keluarganya demi dirinya.

"Sasuke, apa maksudmu nak? Kau tidak serius kan?" Ibu Sasuke akhirnya buka suara dan menghampiri anak bungsunya itu.

"Aku serius."

"Aku serius."

"Untuk penerus keluarga, masih ada Itachi-nii yang bisa melakukannya. Lagipula, bukankah aku memang tidak bisa melakukan apa-apa dengan baik dan hanya menjadi bayangan Itachi-nii saja?"

"I-itachi-nii akan meneruskan keluarga. Lagipula aku hanya bayangan dari Itachi-nii." ucap Satsuki agak tidak fokus.

"Sasuke!"

"Baiklah, pergilah dari sini. Kau bukan anggota keluarga Uchiha lagi." setelah mengatakan itu ayah Sasuke pergi dari ruang tamu itu.

Ibu Sasuke memeluk anak bungsunya sambil menangis. "Sasuke, jangan pergi."

"Peluk ibuku, dan bilang aku menyayanginya."

Satsuki menuruti perintah Sasuke dan memeluk ibu Sasuke. "Maafkan aku ibu. Aku menyayangimu."

Sementara itu kakak Sasuke menghampiri Naruto, dan mengajaknya berjabat tangan.

"Eh?"

"Aku menitipkan adikku padamu. Dia memang agak manja dan sulit diatur. Tapi dia anak yang baik. Tolong jaga dia." ucap Itachi sambil tersenyum.

Naruto hampir menangis mendengar hal itu, kemudian menyambut jabatan tangan Itcahi. "Baik, Itachi-san. Serahkan saja padaku."

.

.

.

Mikoto, Itachi, dan Sakura mengantar Satsuki dan Naruto sampai depan. Sasuke dan Ino sembunyi di dalam mobil.

"Sasuke, nanti tolong beritahu ibu dimana kau tinggal. Ibu akan mengunjungimu, dan membawakanmu makanan. Dan ini..." Ibu Sasuke menyerahkan amplop dengan sejumlah uang di dalamnya.

"I-ibu, ini-"

"Kumohon ambilah. Makan yang banyak. Jangan terlalu banyak pikiran." Ibu Sasuke kembali memeluknya. "Ibu menyanyangimu."

"Aku juga sayang ibu."

Mikoto tersenyum sedih, kemudian menatap Naruto. "Naruto-kun, tolong jaga Sasuke. Jika kalian memang menutuskan untuk menikah... beritahu ibu. Ibu akan membantu menyiapkan pernikahan kalian." Mikoto berjalan ke arah Naruto dan memeluknya erat.

Satsuki tersenyum. Ia menoleh ke arah Sakura. Sedari tadi gadis itu hanya diam. Satsuki yang paling tahu bagaimana perasaan Sakura. Ia berjalan mendekati Sakura dan menepuk pundaknya.

"Maafkan aku, aku yang bersalah."

Sakura hanya menatap kosong, dan ia menangis keras. Satsuki memeluknya memberikan ketenangan. Sakit, pasti hatinya sangat sakit.

Sasuke melihat hal itu dalam mobil.

"katakan padanya, maafkan aku. Semoga kau bisa menemukan seseorang yang lebih mencintaimu dibandingkan aku."

"Maafkan aku, Sakura. Semoga kau bisa menemukan cinta sejatimu."

.

+misamisa+

.

Naruto mengantar Sasuke, Satsuki, dan Ino ke apartemen mereka. Tadi Sasuke sempat menyuruh Satsuki mengemasi beberapa barangnya untuk dibawa pindah. Dan barang-barang itu akan dibawa ke apartemen Naruto. Ya, mereka memutuskan untuk tinggal bersama di apartemen Naruto. Sasuke turun perlahan dari mobil Naruto, ia sudah bisa berdiri dan berjalan. Rasa sakitnya sudah hilang entah kemana.

"Sasuke, besok pagi aku akan menjemputmu."

"Ya. Barang-barangku kau simpan dulu di apartemenmu. Besok aku sendiri yang akan membereskannya."

"Baiklah, selamat malam."

"Selamat malam, Naru." Kemudian mereka bertiga berjalan masuk ke apartemen, sampai Naruto kembali memanggil Sasuke.

"Sasuke! Besok, kau akan kembali kan?"

Sasuke tersenyum dan menjawab. "Iya!" dan kembali berjalan masuk.

Ino kembali ke kamarnya, sementara Sasuke dan Satsuki masuk ke apartemen Satsuki. Setelah membersihkan diri masing-masing, mereka bersiap untuk tidur. Sasuke tidur di atas ranjang, dan Satsuki tidur di bawah menggunakan futon.

"Besok, kita akan kembali normal kan?" tanya Satsuki.

"Aku harap begitu."

"Tentu saja kalian akan kembali. Urusan kalian sudah selesai."

Mereka terlonjak mendengar suara Karin.

"Karin? Kau darimana saja? Selama beberapa hari ini kami mencarimu! Kau pergi kemana disaat kami butuh bantuan?" cecar Satsuki.

Karin tertawa pelan. "Yah, dewa kematian juga punya masalahnya sendiri. Aku dihukum karena terlalu ikut campur dalam urusan kalian manusia."

"Dihukum? Apa yang terjadi padamu?"tanya Sasuke.

"Sudahlah, itu tidak penting. Yang penting besok kalian akan kembali seperti semula. Dan tugasku untuk kali ini sudah selesai."

"Untuk kali ini?"

"Ya, aku masih punya urusan dengan kalian nanti."

"Hmm, Karin-san. Aku ingin berterima kasih." ucap Sasuke pelan.

"Hah? Berterima kasih? Untuk apa?"

"Untuk segalanya." jawab Sasuke singkat.

"Yah, bagaimanapun kau sudah membantu kami. Terima kasih." balas Satsuki.

Karin terdiam mendengarnya, kemudian tertawa. "Hahaha, baiklah, akan kuterima rasa terima kasih kalian. Sekarang sudah waktunya mengucapkan perpisahan. Sampai jumpa, pada saatnya aku akan menjemput kalian lagi."kemudian ia menghilang.

.

.

.

TBC