Cantarella

By: Kei Tsukiyomi

.

.

.

Author's Note: Terinspirasi dari film The Little Mermaid karya Hans Christian Andersen dan ff di fandom Naruto yang udah lama banget saya baca dan sekarang udah pasti lupa judulnya.

Silahkan mendengarkan lagu easy listening favorite kalian untuk menemani membaca ff ini. :3

Tapi saya sarankan dengar ost Barbie aja haha… karena saya nulis ini sambil dengerin lagu-lagu Barbie.

Cantarella artinya "Obsesi terhadap cinta" .

Warning: AU, OOC, GS Hyuk! Merman Donghae! Typos, dll DLDR!

Pair: Haehyuk

.

.

.

"Hyukjae… Hyukjae tolong aku. Selamatkan aku!"

"Donghae?"

"Hyukjae tolong aku."

"Itu dia. Duyung itu benar-benar ada. Tangkap dia, jangan biarkan dia lolos! Tembak dia kalau perlu!"

"Tidak! Jangan tembak Donghae!"

"Hyuk-"

Dor!

"DONGHAE!"

Hyukjae terperanjat dari tidurnya dengan nafas memburu. Keringat berjatuhan dari pelipis. Matanya terbelalak sempurna.

Apa itu tadi? Mimpikah? Kenapa mimpinya begitu menakutkan dan terasa nyata?

Hyukjae menghela nafas panjang, menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Belakangan ini dia selalu saja mimpi buruk. Dan ini yang paling menyesakkan. Sudah dua hari Hyukjae kembali ke Seoul. Dan sudah 2 hari pula Hyukjae sangat merindukan Donghae. Semakin lama semakin menyesakkan. Hyukjae ingin memeluk Donghae. Hyukjae ingin mendengar suara Donghae. Hyukjae ingin melihat Donghae.

"Donghae…" panggilnya lirih. Tangannya mengusap-usap kalung yang diberikan ibu Donghae padanya.

"Hyukie sayang kau sudah bangun? Sarapan sudah siap." Suara ibunya terdengar di depan pintu. Memanggilnya dengan lembut.

"Ya eomma," balasnya pelan. Sekali lagi dia menghela nafas sebelum beranjak dari tempat tidur.

.

.

.

"Hari ini kau libur kan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" ibunya menata makanan dan meletakkan segelas susu stroberi di atas meja lalu segera duduk di depan putrinya.

"Ya aku libur tapi aku sedang tidak ingin ke mana-mana." Seulbi mengerutkan dahi melihat ekspresi anaknya yang tak bergairah. Sejak kembali dari liburan Hyukjae selalu terlihat murung. Awalnya Seulbi mengira itu hanya efek kelelahan dan waktu liburannya yang mungkin kurang untuk Hyukjae tapi semakin lama Hyukjae semakin murung. Saat ditanya dia akan segera mengalihkan pembicaraan.

"Hyukie sayang, kau anak eomma yang sangat eomma sayang, kau tahu kan?" Seulbi memegang tangan putrinya dan mengelusnya penuh kasih sayang. Menatap Hyukjae teduh. Hyukjae hanya mengangguk.

"Apa yang menganggumu sayang? Kau terlihat murung akhir-akhir ini. Mau cerita pada eomma?" mendengar suara lembut eommanya iris hitam Hyukjae mulai berkaca-kaca. Apa sekarang waktu yang tepat untuk menceritakan tentang Donghae?

"Sayang kenapa menangis?" Tanya ibunya lembut.

"Eomma…"

"Hmm?"

"Masih ingat dengan ucapanku di telfon pagi itu?" Seulbi menaikkan alis, berusaha mengingat-ingat kapan Hyukjae menelponnya.

"Ah yang itu? Ya eomma ingat, kenapa sayang?" Hyukjae diam, bingung ingin melanjutkan pembicaraan ini atau tidak.

"Hyukie…"

"Eomma aku jatuh cinta." Mata Seulbi melebar mendengar pengakuan anak gadisnya. Dia tersenyum lebar.

"Anakku sudah dewasa ternyata. Siapa laki-laki beruntung itu sayang? Apa kalian bertemu di sana? karena itu kau sedih tidak bisa bertemu dengannya lagi?" Hyukjae menatap sedih ibunya yang berbinar ceria. Kalau ibunya tahu kalau laki-laki yang dimaksud Hyukjae adalah seekor duyung, mungkin ibunya akan histeris.

"Ya kami bertemu di sana. Aku sangat mencintainya eomma. Aku mencintainya." Airmata itu akhirnya turun membasahi pipi Hyukjae. Seulbi terdiam melihatnya.

"Jangan menangis sayang, kau hanya perlu menghubunginya dan memintanya untuk menemuimu di sini." Hyukjae menggeleng dengan linangan airmata, membuat Seulbi tak mengerti kenapa anaknya menangis tersedu sepert itu. Seperti memendam perasaan yang begitu menyakitkan.

"Tidak bisa eomma. Dia tidak mungkin bersamaku. Dia… berbeda dengan kita."

"Apa maksudmu? Apa dia mencintai wanita lain?" Hyukjae kembali menggeleng.

"Kami saling mencintai eomma. Hanya saja… dia benar-benar… berbeda. Dia tidak bisa tinggal seperti kita. Tapi aku benar-benar mencintainya eomma." Tangisan Hyukjae semakin keras membuat Seulbi segera memeluknya. Walaupun dia tidak begitu mengerti maksud Hyukjae tapi dia tetap berusaha menenangkan putrinya.

"Sstt sayang jangan menangis. Tenangkan dirimu. Dengarkan eomma. Seperti yang eomma bilang waktu itu. Semua keputusan ada padamu. Tapi satu yang harus kau ingat, bahwa aku dan ayahmu menginginkan yang terbaik untukmu. Lelaki yang akan menjadi pendampingmu haruslah yang bermartabat baik. Kalau dia hanya membawa pengaruh buruk dan memberatkanmu maka tinggalkan dia. Kau pasti akan menemukan penggantinya." Seulbi menepuk-nepuk pelan punggung Hyukjae.

"Manusia normal," lirih Eunhyuk tapi masih bisa didengar oleh Seulbi.

"Tentu saja manusia sayang. Ah eomma jadi ingat sewaktu kau kecil, kau bilang ingin menikah dengan merman. Lucu sekali kau saat itu." Tubuh Hyukjae menegang. Iris hitamnya melirik sekitar dengan gelisah.

"Bagaimana… jika… jika aku benar-benar ingin menikah dengan merman?" tanyanya ragu. Ibunya hanya tertawa.

"Merman itu tidak ada sayang. Itu hanya dongeng atau mungkin dulu memang ada tapi di jaman sekarang ini mustahil." Hyukjae mengigit bibir bawahnya. Ada. Merman itu ada. Hyukjae bahkan jatuh cinta pada salah satunya. Bagaimana caranya mengatakan semua itu pada ibunya?

"Bagaimana jika mermaid atau merman itu sekarang benar-benar ada? Dan bagaimana jika aku jatuh cinta dengan salah satunya?" Seulbi hanya tertawa pelan.

"Sepertinya kau terlalu terobsesi dengan dongeng, putriku menggemaskan sekali. Kalau seandainya kau jatuh cinta dengan merman eomma tidak akan merestuimu." Ucapan tegas itu menyentakkan Hyukjae. Dia melepas pelukan ibunya dan menatapnya. Seulbi tersenyum, mengusap rambut panjang putrinya.

"Kalau seandainya benar, kalian berbeda dunia. Kalian tidak akan bisa bersatu. Sebesar apapun kalian saling mencintai tidak bisa melawan takdir Tuhan." Hyukjae mematung sempurna. Ibunya tanpa sadar telah menolak Donghae. Tidak akan ada yang bisa menerima Donghae.

"Aku harus meninggalkannya, begitu?"

"Untuk kebaikanmu, ya kau harus meninggalkannya. Sudah-sudah ayo makan dulu. Tersenyumlah sayang jangan menangis lagi." Ibunya berdiri dan kembali ke kursi semula. Mulai menyantap makanannya sedangkan Hyukjae hanya terpaku menatap hampa makanan di depannya.

Aku… harus meninggalkan Donghae?

.

.

.

"Kim Woobin-ssi masuklah. Aku sudah menantimu sejak kemarin." Woobin tersenyum angkuh. Masuk ke ruang atasannya di bagian redaksi dan mendudukkan dirinya santai.

"Informasi apa yang kau dapat?" Tanya atasannya tanpa basa-basi. Woobin tersenyum.

"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan terlebih dulu?"

"Kesepakatan?"

"Ya. Karena info yang akan kusampaikan sangat mahal harganya, kupastikan itu. Apa yang akan kau berikan padaku?" bosnya hanya memasang wajah berpikir keras. Melihat Woobin dengan mata yang disipitkan.

"Kalau kau menipuku kau akan tahu akibatnya!" Woobin tertawa singkat.

"Kalau kau tidak mau aku akan memberi informasi menakjubkan ini pada oranglain yang akan memberiku bayaran yang setimpal." Lelaki tinggi itu baru saja ingin pergi tapi terinterupsi.

"Baiklah aku akan menaikkan pangkatmu dan tentu saja dengan gaji dua kali lipat."

"Hanya itu? Aku juga ingin komisi yang lainnya dan juga kebijakan lainnya. Bagaimana?" bosnya menggertakan gigi. Woobin berusaha memerasnya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini selain menuruti kemauannya. Karna kalau info yang disampaikannya benar adanya maka ia akan kaya raya!

"Baiklah, aku setuju. Jadi cepat beritahu aku informasi apa yang kau dapat." Woobin tersenyum menang.

"Duyung. Duyung itu benar-benar ada. Aku melihatnya sendiri dan aku tahu di mana tempatnya berada." Senyum culas dan mengerikan tersemat di wajahnya.

"Benarkah? Apa buktinya?"

"Saat ini aku tidak membawa bukti tapi aku akan mengajakmu untuk bertemu langsung dengannya. Kita bisa menagkapnya." Mata tua atasannya berkilat antusias. Bayangan jutaan won yang akan ia dapatkan dan kepopuleran yang akan menyongsong bermain di matanya.

"Kalau begitu cepat kita pergi ke sana."

"Tunggu dulu bos. Kita tidak bisa pergi begitu saja."

"Maksudmu?" ekspresi Woobin mengeras dan penuh kebencian.

"Kita membutuhkan umpan untuk mendatangkan merman itu. Dia hanya akan muncul jika ada umpan istimewa yang kita bawa." Bosnya memasang wajah tak mengerti.

"Hyukjae," bisik Woobin penuh penekanan.

.

.

.

Hyukjae menghela nafas lelah. Sudah seminggu berlalu. Gadis manis itu juga sudah kembali bekerja. Rasa rindunya terhadap Donghae semakin bertambah setiap harinya. Apa yang harus dia lakukan?

"Hyukie laporan yang kuberikan padamu sudah kau kerjakan?" Sungmin menghampiri meja kerjanya. Menodongkan tangan meminta laporan yang dimaksud. Hyukjae menjulurkan tangan mencari laporan yang dipinta Sungmin dan segera menyerahkannya.

"Ini." Sungmin segera membukanya dan memeriksa. Bibir M shapenya terbuka lebar.

"Hyukie kenapa laporannya jadi begini?" jarinya menunjuk poin yang dimaksud. Memperlihatkannya pada sahabatnya. Hyukjae hanya tertawa canggung.

"Hehe… maaf akan segera kuperbaiki." Sungmin menggeleng saat Hyukjae menarik mapnya dan kembali mengerjakannya ulang.

"Akhir-akhir ini kau kurang fokus. Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa," jawabnya singkat tanpa melihat Sungmin. Sungmin beradu pandang dengan Siwon dan Chansung dan mereka hanya mengangkat bahu.

"Apa karena… Donghae?" jarinya yang sedang mengetik berhenti seketika saat mendengar nama seseorang yang sangat ia rindukan.

"Hyukie kau bisa menghubunginya dan menyuruhnya untuk menemuimu. Dia pasti tidak akan keberatan." Tidak. Sungmin tidak mengerti. Hal itu tidak mungkin terjadi. Hyukjae menggigit bibir bawahnya.

"Sudahlah Sungmin, kerjakan saja pekerjaanmu. Aku akan menyelesaikan laporan ini secepatnya. Kali ini tidak akan salah lagi, aku janji." Sungmin mengangkat tangan menyerah. Gadis imut itu kembali ke meja kerjanya. Tak menyadari ekspresi Hyukjae yang semakin memprihatinkan.

Hyukjae…

Hyukjae tersentak saat sebuah suara memanggil namanya terdengar di telinga. Donghae. Itu suara Donghae. Tangan Hyukjae mencengkram erat map di tangannya. Tidak bisa. Hyukjae tidak bisa menggantungkan Donghae lebih lama lagi. Dia harus kembali pada Donghae dan memberikan jawabannya. Tanpa basa-basi Hyukjae bangkit dari duduknya dan segera pergi ke ruang di mana atasannya berada. Membuahkan tatapan heran dari teman-temannya.

.

.

.

Woobin tersenyum misterius. Dia tahu Hyukjae akan kembali ke pulau itu untuk menemui duyung sialan itu. Dia tak sengaja mendengar perbincangan Hyukjae dengan atasannya yang meminta ijin. Hyukjae sempat mengajukan pilihan kalau tidak diberikan ijin maka dia akan keluar dari kantor ini. Sebuah keputusan yang berani. Woobin tidak percaya Hyukjae sebegitu rela mengorbankan apa saja hanya untuk monster itu. Dan bisa dipastikan atasannya memberi ijin selama 4 hari untuk Hyukjae. Karena Hyukjae adalah karyawan yang berkompeten dan sangat dibutuhkan di kantor ini. Woobin menyembunyikan tubuhnya di balik dinding saat Hyukjae keluar ruangan. Dia berseringai.

Well, Hyukjae. Kupastikan bahwa ini akan menjadi pertemuan terakhirmu dengannya.

.

.

.

"Kau yakin akan pergi sendiri sayang? Tidak mau eomma temani?" Hyukjae menyeret koper yang berisi pakaiannya. Tersenyum menenangkan pada ibunya.

"Maaf Eomma. Bukannya aku tidak mau mengajak eomma. Tapi aku ingin menyelesaikan sesuatu di sana. Hanya aku sendiri. Aku akan baik-baik saja, percaya padaku." Seulbi hanya bisa mengangguk. Membalas pelukan putrinya dan mengantarnya hingga ke halaman depan. Sebuah taksi sudah tersedia, bersiap mengantarkannya ke dermaga.

"Aku pergi dulu eomma. Eomma baik-baiklah di rumah. Aku sayang eomma."

"Eomma juga menyayangimu, nak." Hyukjae masuk ke dalam taksi, melambai singkat dan segera berlalu. Seulbi balas melambai. Putrinya itu dengan tiba-tiba memberitahunya kalau dia akan pergi ke pulau yang kemarin ia kunjungi. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Seulbi tentu hanya bisa mengijinkan. Apa ini berhubungan dengan laki-laki yang Hyukjae bicarakan waktu itu? Semoga saja semuanya baik-baik saja. Baru saja Seulbi ingin melangkah masuk saat ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Seorang lelaki muda keluar dan tersenyum sopan padanya.

"Ibu Hyukjae? Bisa bicara sebentar?"

"Ya, anda siapa?"

"Saya Kim Woobin teman kerja Hyukjae."

.

.

.

Hyukjae sudah berada di dek kapal. Menumpukan tangan di pagar pembatas. Memperhatikan lautan yang terlihat tenang. Jantungnya berdebar kencang. Dia akan segera bertemu Donghae. Dia akan melihat Donghae.

"Donghae tunggu aku," Ucapnya pelan seraya mencium kalung di lehernya.

.

.

.

"Apa maksudmu?! Putriku menjalin hubungan dengan duyung?! Lelucon macam apa ini?!" Seulbi berteriak marah pada Woobin. Wanita paruh baya itu bahkan sampai berdiri dari duduknya.

"Tenang ahjumma. Apa yang saya katakan ini adalah kebenaran. Jika tidak percaya saya bisa membawa anda ikut bersama saya untuk melihat kebenaran. Saya dan beberapa rekan saya ingin pergi ke pulau yang Hyukjae datangi sekarang. Kami akan menangkap duyung itu. Anda bisa lihat sendiri nanti. Putri yang anda sayangi ternyata menjalin hubungan dengan monster lautan." Woobin menikmati setiap ekspresi yang ditimbulkan Seulbi. Bagaimana wanita paruh baya itu memucat dan terlihat syok.

Hyukjae, hubunganmu dengan monster itu akan berakhir dengan tragis.

.

.

.

.

Hyukjae berjalan pelan menuju batu karang tempat spesialnya dengan Donghae. Setelah beberapa menit lalu sampai di pulau, Hyukjae segera menaruh kopernya di penginapan yang disewanya lalu tidak mau membuang waktu segera pergi menemui Donghae.

Helai cokelat madunya bergoyang pelan terhempas hembusan angin laut. Langkah kakinya terlihat ragu-ragu begitupun dengan ekspresi wajahnya yang menyiratkan kesedihan. Hari ini Hyukjae datang untuk menyampaikan perpisahan pada Donghae. Perpisahan untuk selama-lamanya. Hyukjae sudah memikirkan segalanya dan keputusan akhir yang diambil adalah perpisahan. Mereka tidak akan pernah bisa bersatu, jika terus bersama hanya akan menancapkan luka yang semakin dalam dan menganga. Menghancurkan mereka secara perlahan dan menyakitkan. Hyukjae juga tidak ingin menyakiti hati orangtuanya. Mereka menginginkan kehidupan yang baik untuk Hyukjae yang tentu saja harus didapatkan dari lelaki lain. Manusia.

Mata Hyukjae berkabut dan memburam saat sampai di batu karang. Kenangan demi kenangan tergambar jelas. Saat mereka pertamakali bertemu, saat pertamakali berpandangan, saat pertama kali berpelukan, dan saat pertamakali berciuman. Semua terekam jelas, seperti film yang diputar ulang. Membuatnya sesak.

"Donghae…" panggilnya lirih. Tapi tidak ada yang muncul. Hanya deburan ombak yang menjawabnya.

"Hae… Donghae…" Hyukjae mengeraskan intonasi, suaranya terdengar parau. Beberapa saat kemudian Donghae muncul ke permukaan. Menatap Hyukjae dengan binar bahagia dan juga kerinduan yang begitu mendalam.

"Hyukjae… Hyukjaeku kau datang. Akhirnya kau kembali sayang." Mendengar itu airmata Hyukjae mengalir. Dengan cepat ia berlari dan memeluk Donghae erat. Memendam sebagian tubuhnya di laut. Ia duduk di pangkuan Donghae, menangis tersedu. Donghae membalas pelukannya tak kalah erat. Mengelus punggungnya lembut dan menciumi puncak kepala gadisnya berulangkali.

"Sshh… sayang jangan menangis."

"Hae…"

"Aku di sini sayang."

"Hae… Hae…" cukup lama Hyukjae menangis dengan Donghae yang terus memeluknya dan membisikkan kalimat menenangkan. Hyukjae merenggangkan pelukannya dan mengusap airmata. Dengan lembut Donghae menarik tangan Hyukjae dan menggantikkan menghapus airmata kekasih kesayangannya dengan jemarinya. Mencium kelopak mata Hyukjae bergantian.

"Tuan putri jangan menangis, kalau menangis nanti cantiknya hilang." Hyukjae tersenyum mendengarnya.

"Aku merindukanmu Hae." Hyukjae menyenderkan kepalanya di bahu Donghae. Menikmati hangat tubuh kekasihnya. Memejamkan matanya saat Donghae merunduk dan mencim bibirnya lembut.

"Aku lebih merindukanmu, sayang. Jangan pergi lagi." Hyukjae menggigit bibirnya. Dia kemari ingin mengucapkan perpisahan pada Donghae. Bibir merahnya mengeluarkan suara erangan lembut saat Donghae menciumi lehernya dan menghisapnya kemudian. Membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.

"Haeh…"

"Aku sangat mencintaimu sayang." Donghae mencium bibirnya sekali lagi dan menyeburkan diri ke lautan. Membawa Hyukjae bersamanya ke kerajaannya.

.

.

.

Hyukjae tertawa senang saat Donghae kembali mendorong ayunan yang dinaikinya sekarang. Hahh… Hyukjae juga merindukan taman istana ini. Belasan ikan berwarna cantik mengitari tubuh Hyukjae membuatnya tambah senang. Donghae membawanya ke kerajannya. Tadi bahkan Hyukjae dibawa untuk bertemu dengan ratu kerajaan ini, ibu Donghae. Dia sangat senang melihat Hyukjae kembali. Dia bahkan menyuruh semua bawahannya untuk bersikap ramah dan membuat Hyukjae nyaman. Hyukjae merasa tersentuh dengan itu.

Donghae tersenyum lembut melihat Hyukjae begitu senang. Dia mengangkat tubuh Hyukjae dengan mudah dan mendudukkannya di pangkuannya. Ayunan itu di dorong oleh para ikan. Wajah Hyukjae merona.

"Kau senang?" Hyukjae mengangguk dan menyembunyikan wajahnya di dada Donghae.

"Ya aku senang. Terimakasih Hae." Donghae menjawabnya dengan pangutan lembut di bibirnya.

"Apapun untuk membuatmu senang pasti akan kulakukan."

.

.

.

Hari sudah malam. Hyukjae naik ke permukaan dibantu Donghae. Tadinya Donghae bersikeras agar Hyukjae tidur bersamanya. Donghae bahkan menjamin keselamatannya. Tapi Hyukjae menolak halus. Dia harus kembali ke daratan. Besok pagi mereka bisa bertemu kembali.

"Jangan cemberut seperti itu Hae. Kau jelek kalau begitu." Hyukjae mencubit sudut bibir Donghae lalu tertawa pelan. Donghae memeluknya erat.

"Kau benar-benar tidak mau bermalam di istanaku? Bersamaku?" Tanya Donghae sekali lagi. Wajahnya benar-benar penuh pengharapan. Hyukjae juga ingin tapi tidak bisa. Tidak saat dia ingin mengucapkan perpisahan padanya. Semua itu hanya akan membuatnya tambah tertekan. Donghae memperlakukannya dengan sangat lembut dan manis. Hyukjae tidak akan sanggup untuk mengatakan salam perpisahan.

"Tidak bisa Hae. Mungkin suatu saat nanti." Kalau Tuhan mentakdirkan.

Donghae tidak bicara apa-apa lagi, hanya merundukkan wajahnya dan mencium bibir Hyukjae. Menghisap bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Menjilat bibir manis Hyukjae untuk meminta akses masuk. Hyukjae mengijinkannya dengan membuka mulut. Membiarkan Donghae menguasainya. Menghisap semua yang ada padanya. Hyukjae mengerang, meremas pundak Donghae karna hasrat yang diberikan Donghae membuatnya tak berdaya.

"Ahn.. Haeh.." Hyukjae mendongakkan kepalanya saat Donghae menurunkan ciumannya ke dagunya. Menggigitnya pelan dan terus turun ke lehernya.

"Haeh…" menghisap lehernya dengan kuat sekali lagi, Donghae melepas ciumannya. Menyatukan dahi mereka.

"Aku mencintaimu Hyukjae. Selamanya hanya mencintaimu." Hyukjae membalas tatapan Donghae hingga iris mereka bertemu. Gadis itu memajukan wajahnya dan mencium leher Donghae sekilas.

"Aku juga mencintaimu Hae." Donghae tersenyum lembut, mencium dahi Hyukjae lama.

"Aku menunggumu besok. Perlu kuantar hingga kamarmu?" bisiknya halus. Hyukjae menggeleng pelan.

"Tidak perlu. Aku bisa kembali sendiri."

"Berhati-hatilah. Sampai jumpa besok, sayang." Hyukjae mengangguk, berdiri dari duduknya. Sebelum melangkah pergi dengan cepat Hyukjae merunduk dan mengigit pelan leher Donghae. Membuat merman itu terkejut dan menggeram rendah.

"Ucapan selamat malam untukmu. Mimpikan aku ya." Dengan kedipan genit Hyukjae melayangkan ciuman jarak jauh dan segera berlari meninggalkan Donghae yang terpaku di tempatnya. Merman itu tertawa kemudian.

"Dasar gadis nakal, aku akan menghukummu besok." Setelah mengucapkan itu Donghae kembali menyelam. Kembali ke kerajaannya dengan senyum mengembang.

.

.

.

Woobin dan juga rekannya yang lain baru saja tiba di pulau saat malam sudah tiba. Tidak hanya dengan rekannya. Tapi Woobin juga membawa Seulbi dan juga Sungmin, Siwon, Chansung untuk ikut bersamanya. Untuk menyaksikan pertunjukan yang akan segera berlangsung.

"Sebaiknya kita segera beristirahat. Besok baru kita temui Hyukjae," komandonya pada yang lain. Dia menyeringai kejam.

Besok adalah akhir dari kisah cintamu Hyukjae. Kau hanya boleh bersamaku.

.

.

To Be Continued

Halo~

Apa masih ada yang menunggu ff ini? Kalau ada ini chapter selanjutnya, semoga kalian suka~

Maaf kalau jelek dan aneh.

Chapter depan End. Tapi gak tahu kapan selesainya haha…

Silahkan di review. Karena review kalian penyemangat saya dan nyawa ff ini. Kalau tidak ada yang review saya tidak akan melanjutkan.

Terimakasih~