Disclaimer: seandainya HARRY POTTER punya saya, Hermione akan menikah dengan Draco, *ngarep*
tapi ini tetap punya tante J.K ROWLING. Saya hanya pinjam
karakternya bentar.
Summary: Takdir yang selalu mempermaikan perasaan mereka, akankah dapat menjadi sesuatu yang pantas untuk di
pertahankan?/seorang kelahiran muggle yang menghancurkan ideologi seorang darah murni/
Kata kunci: "DON'T LIKE? DON'T READ!"
Warning: OOC, Typo(s) dan semacamnya.
Rated: aku ganti jadi M. Hehehe bukan apa2 sih, hanya nyari aman aja. XD
Chapter sebelumnya:
"Apa semua itu benar?" tanya Hermione.
"Apa?" Draco menatapnya sinis.
"Tanda itu?"
"Oh, kau mau tau?"
"Ha,"
"Untuk apa Granger, apa untungnya bagimu, lagi pula, apa pun yang akan terjadi kita akan selalu saling memburu kan?!" Draco menyeringai.
Hermione menatapnya lekat. Sekali lagi mencari kebenaran dibalik iris abu-abu sang Malfoy.
.
.
.
.
Draco POV
Pagi di akhir pekan, aku mencoba kembali berbaur dengan yang lain setelah selama ini aku menjadi sangat tertutup dan mengacuhkan teman-temanku. Ketika sampai di aula besar Theo memanggilku, sebelum aku menghampirinya di meja Slytherin aku menangkap sosok gadis yang beberapa minggu ini telah menyita fikiranku, Hermione Granger, muggle-born yang sok tahu.
Jujur saja, sekarang cara pandangku padanya mulai berubah, bagiku dia tak hanya sekedar muggle-born sok tahu, bagiku dia sesuatu yang lebih, bukan berarti aku menyukainya tapi aku sudah mulai mengabaikan status darahnya. Aku tahu, selama ini dialah yang menghancurkan ideologiku tentang muggle-born namun dia melakukannya dengan sangat indah, mempermainkanku dengan tingkah dan kepintarannya, apalagi ia termasuk trio emas Gryffindor.
Ketika aku memperhatikannya, ia balik menatapku hingga pandangan kami saling bertemu, dengan segera aku memalingkan wajah dan duduk diantara murid slytherin yang lain, sedikit menanggapi kritikan Pansy karena penampilanku yang acak-acakkan dan pertanyaan dari yang lain tentang perubahan sikapku selama ini.
Setelah merasa cukup, aku meninggalkan aula, berjalan melewati koridor yang panjang dan berhenti di toilet Myrtle Merana. Kurasa tempat itu akan membuatku dapat menenangkan diri. Aku memasukinya dan berhenti di depan sebuah cermin. Aku menatap wajahku yang dengan penuh kecemasan, aku belum siap untuk melakukan semua ini, aku cukup frustasi tubuhku mulai gemetar. Tiba-tiba aku menyadari ada yang mengikutiku, kucoba untuk melihatnya dari pantulan cermin dan benar saja, Hermione Granger tengah bersembunyi, menatapku dari belakang.
"Keluarlah!" bentakku, apa lagi mau gadis itu, kenapa dia selalu mempunyai cara untuk menerorku?
"Mau apa kau, mud-blood?" sengitku.
"A-" kata-katanya mulai tercekat.
"Kau memang keras kepala, jalang dan benar-benar nona-sok-tahu!" aku membalikkan badan dan menatapnya sinis.
"Malfoy, kau-" lirihnya.
Ia semakin mendekatiku, aku tak tahu entah dari mana ia mendapat keberanian untuk kembali mendekatiku. Tidak Granger, menjauhlah dariku, menjauhi ular ketika sedang kesal adalah hal yang harus kau lakukan tapi kau tidak mengerti.
"Jangan mendekat!" geramku.
Dia berhenti, kini matanya menatap ke arah tanganku. Aku tau apa yang dia cari, sebuah kebenaran tentang semua ini dan akupun tahu bahwa apa yang akan dia lihat nanti akan menentukan semuanya, menentukan apa yang akan dipilih untuk kedepannya. Tapi aku tidak mau ia mengetahui semuanya sekarang.
"Ku bilang, jangan mendekatiku!"
dia tidak menghiraukan perintahku, ia terus melangkah mendekat hingga jaraknya denganku kira-kira hanya 30 cm. Ia mengulurkan tangannya untuk meraih tanganku namun langsung kutepis dengan kasar.
"Apa semua itu benar?" tanyanya.
"Apa?" tanya ku ketus dan menatapnya sinis.
"Tanda itu?"
"Oh, kau mau tau?"
"Ha,"
"Untuk apa Granger, apa untungnya bagimu, lagi pula, apa pun yang akan terjadi kita akan selalu saling memburu kan?!" sinisku dengan sebuah seringaian.
Dia menatapku dalam diam, beberapa saat tidak ada diantara kami yang bicara, aku hanya bergumul dengan pikiranku sendiri, aku juga mempertanyakan semuanya Granger, semuanya.
Aku mempertanyakan tentang kenapa kau hadir dalam duniaku, kenapa kau harus muggle-born, kenapa kau harus cerdas dan berteman dengan Potter dan Weasley, kenapa kau di Gryffindor, kenapa kau tumbuh menjadi gadis yang sok tahu dan cantik, kenapa kau selalu punya cara untuk berurusan denganku, kenapa Granger?
Apa aku terdengar seperti mempertanyakan sebuah takdir? Granger, apa yang harus kulakukan untuk tidak mempertanyakannya, asal kau tahu bahwa aku juga mempertanyakan keberadaanku sendiri.
Lelah, semua ini membuatku lelah, dengan penuh kepasrahan aku menggulung lengan bajuku dan memperlihatkan apa yang ingin ia lihat, sebuah 'tanda kegelapan'. Kulihat ekspresinya berubah tegang, dia terbelalak dan perlahan mundur menjauhiku, nah, Granger, akhirnya kau sadar siapa yang kau hadapikan, sekarang menjauhlah, menjauhlah hingga aku tidak dapat menggapaimu dan menjeratmu ke dalam duniaku lebih dalam.
"M-malfoy, jadi..." lirihnya selagi mundur menjauh.
"Ya, kau baru menyadarinya?" kataku sarkatis.
Kulihat ia panik dan berlari meninggalkanku. "Ya, Granger, larilah sejauh mungkin!" desisku pada sosoknya yang mulai menghilang dibalik koridor.
.
.
.
NORMAL P.O.V
Dua hari telah berlalu setelah kejadian di toilet Myrtile Merana, Draco dan Hermione tidak pernah bertatap muka lagi, mereka seakan sama-sama menjauh dan takdirpun seakan ikut berperan pada perang dingin itu. Semakin hari suasana antara Gryffindor dan slytherin semakin memanas, keduanya saling bernafsu untuk menghentikan satu sama lain, inikah dampak dari bangkitnya pangeran kegelapan?
Di tepi danau hitam terlihat Hermione dengan kegiatan biasanya, apalagi kalau bukan membaca buku tebal yang menurutnya hanya sebuah bacaan ringan. Dia terlihat tenang, tidak terganggu oleh semilir angin yang menerbangkan helaian rambutnya hingga semakin acak-acakkan. Namun jika dilihat lebih teliti, pandangan matanya tampak menggelap dengan sedikit sembab seperti habis menangis.
Mungkinkah Dracolah tersangka yang membuat Hermione seperti itu? Tentu saja, hanya sang pangeran Slytherin yang dapat menyita otak sang gadis hingga tidak dapat berfungsi secara baik dan sekarang masalah semakin rumit. Bukan karena pangeran kegelapan yang tak berhidung atau tanda kegelapan yang dimiliki Draco tapi tentang sebuah perasaan yang seharusnya tidak pernah muncul.
Hermione Granger sedang berusaha untuk membuang sedikit perasaan itu agar tidak semakin berkembang. Akan tiba saatnya dimana perasaan itu menghancurkannya, karena seperti yang dikatakan pemuda itu, apapun yang terjadi mereka tetap akan saling memburu, saling menghancurkan dan ketika saat itu datang, berarti tangan takdir mulai menampakan wujud dalam mengenggam nasib mereka.
Tidak hanya Hermione yang sedang berfikir seperti itu tetapi juga Draco, kini ia sedang berada di hutan terlarang, tempat ia biasa menenangkan diri. Fikirannya jauh lebih kalut, kerutan kecemasan selalu terukir didahinya, ia butuh istirahat walau hanya sebentar.
"Besok..." gumam Draco lalu menutup matanya, menghirup udara segar dari pepohonan yang rindang.
==== ,,,,,,, =========,,,,,,,,,,,=========,,,,,,,,
Pukul 02.00 dini hari, pintu kamar kebutuhan menampakkan diri dan terbuka, memperlihatkan beberapa orang yang keluar dari sana. Mereka memakai jubah hitam yang menutupi wajahnya. Tidak ada penghuni Hoghwart yang mengetahui kehadiran mereka, kecuali Draco Malfoy pangeran Slytherin yang berdiri menyambut kedatangan orang-orang yang tidak diundang.
"Kerja yang bagus, Draco!" puji salah seorang dari mereka. Draco sedikit menunduk untuk memberi hormat. Wajahnya jauh lebih pucat dari sebelumnya. Tepat setelah kamar kebutuhan kembali menghilang, mereka menjadi asap hitam lalu lenyap, meninggalkan Draco yang terus mematung.
"Kau yakin dapat menyelesaikan semua ini sendirian?" tiba-tiba Snape datang dan menghampirinya, tampaknya ia telah tahu apa yang terjadi.
"Tentu saja!" ketus Draco lalu melangkah pergi.
"Jika sudah tidak sanggup, katakan padaku, aku yang akan menggantikannya!"
"Cih, bisa-bisanya orang seperti anda melakukan sumpah tak terlanggar," kata Draco sinis.
Belum cukup satu menit setelah orang-orang itu menghilang, sebuah kehebohan terdengar disetiap penjuru Hoghwart. Perang dunia sihir dimulai, perang kebangkitan penyihir yang paling ditakuti, Lord Voldemort. Hanya dalam hitungan detik, Hoghwart berubah menjadi medan perang, dimana-mana terjadi baku hantam dan pelemparan mantra-mantra kutukan. Namun, ada satu penghuni yang tidak muncul, Hermione Granger, anak emas dari Gryffindor, tidak ada yang tau dimana bahkan Harry dan Ron.
Draco berjalan tergesa-gesa di koridor dengan wajah pucat. Sesekali melirik kedalam kelas yang ia lewati seakan mencari sesuatu. Hingga tiba disebuah perpustakaan, dia berhenti, menatap lurus kearah gadis yang sangat dikenalinya, gadis berambut semak yang beberapa minggu ini menjadi penyebab stresnya, Hermione Granger.
Hermione menatapnya balik, dengan tongkat sihir yang digenggamnya dengan erat. Nafasnya tampak tidak beraturan, seakan menahan sesuatu. "Kau..." kata Hermione tercekat.
"Kau bodoh atau pura-pura bodoh, hah?" desis Draco.
"Kau yang bodoh Malfoy!" bentak Hermione berbahaya.
Suasana kembali hening, seakan hanya dengan tatapan mereka dapat saling menghancurkan. Draco mengacungkan tongkat sihirnya, begitu juga dengan Hermione, mereka sudah siap untuk melancarkan kutukan yang telah melintas-lintas dalam benak mereka.
"Inilah jawabannya Granger, semuanya akan berakhir!"
"Kau yang membuat jawabanmu sendiri, kau yang menentukan akhir semua ini!"
"Cruccio!" Darco melancarkan mantra namun langsung dielakkan oleh Hermione. Dalam sekejap keheningan berganti dengan pelafalan mantra, mereka saling menyerang, saling bernafsu untuk menghamcurkan.
Akankah ini menjadi akhir dari permainan takdir mereka, berakhir dengan kematian ditangan salah satu dari mereka. Saat itu, mereka saling yakin atas perasaan yang mereka rasakan, perasaan yang membuat mereka berakhir seperti ini, bukan rasa benci atau suka, tapi cinta. Ya, mereka saling jatuh cinta. Lucu bukan? Bahkan semua lukisan yang ada di Hoghwart pun akan menertawakan mereka. Cinta yang selama ini diartikan sebagai benci, perhatian yang selama ini dianggap sebagai gangguan.
Draco Malfoy, mengakui bahwa ideologinya selama ini telah dihancurkan oleh seorang muggle-born yang ternyata sangat dicintainya. Begitupun Hermione yang mengakui bahwa musuh terberatnya adalah orang yang telah memberinya warna hingga dapat merasakan berbagai macam perasaan. Namun, pernyataan mereka bukan berarti akhir akhir bahagia dari sebuah kisah, tetap saja harus ada salah satu dari mereka yang hancur.
Tiga puluh menit berlalu tanpa ada salah satu dari mereka yang sekarat, seimbang, itulah situasi saat ini. Mereka sama-sama kelelahan dan saling tersandar menyeka keringat yang bercampur dengan debu dari rak buku yang berantakan karna mantra yang meleset.
"Kau menangis, Granger" ejek Draco yang saat itu mendengar isakan Hermione yang tertahan.
"K-kau kira...hiks aku akan tertawa?" ketus Hermione seraya menahan isakannya.
"Hah-hahhaahha kemana Hermione Granger yang selama ini?" ejek Draco dengan tawa yang dipaksakan.
"Diam kau brengsek!" bentak Hermione.
Draco menatap tajam kearahnya, "Kau benar-benar mau cepat mati?" ancam Draco.
Hermione bangkit dari dudukny dan melangkah maju kearah Draco yang saat itu sudah siap untuk menyerangnya kapan saja.
"Mau apa kau?" tanya Draco sedikit panik.
"..." Hermione tidak menyahut, ia berjalan dengan kepala tertunduk dan menyembunyikan ekspresinya saat itu.
"Granger..." gumam Draco, hanya beberapa langkah lagi hingga Hermione berhasil mendekatinya dan ia sama sekali tidak beranjak dari duduknya.
Lima langkah lagi,
Empat,
Tiga,
Dua,
Hermione menunduk dan merangkul Draco erat. Draco yang kaget tidak bergerak sedikitpun, seakan membiarkan sang gadis merangkulnya. Hermione kembali menangis dan menumpahkan butiran air matanya dipundak Draco.
"G-granger... apa yang kau lakukan?" gumam Draco yang saat itu belum lepas dari keterkejutannya.
Hermione hanya menjawab dengan isakkan yang semakin menjadi-jadi dan mempererat pelukannya. Perlahan Draco balas memeluk Hermione, mengelus rambut gelombang sang gadis, tubuh sang gadis yang terbilang kecil darinya dapat terengkuh dengan erat dan memberikan sensasi nyaman bagi keduanya.
"Apa kau membenciku?" tanya Draco dalam pelukannya.
"Aku tidak tahu, hiks..." jawab Hermione ditengah isaknya.
"Kau tidak seperti biasanya,"
"hum..., bagaimana denganmu?" Hermione balik bertanya.
"Aku membencimu,"
"Sudah kuduga!"
"Aku membencimu, Granger." Draco mengeratkan pelukannya, "aku benci karena kau membuatku menyangkal hal yang selama ini ku tanamkan dalam benakku, kau menghancurkan semua ideologiku."
Hening
"Kau juga yang membuatku berfikir untuk menghianati keluarga dan semua pengikut pangeran kegelapan."
"Eh?" Hermione tersentak atas ucapan terakhir Draco. Sepintas dia merasa salah terhadap pendengarannya tapi pelukan Draco semakin mengerat membuat Hermione sadar bahwa Draco serius mengatakan hal tersebut.
"Hermione Granger..." bisik Draco. "Kumohon, pergilah dari hidupku, hiduplah dan menghilanglah dari hidupku!"
"HERMIONE!" panggil Ron dari kejauhan, keadaannya sedang kacau dengan tongkat sihir yang hampir patah tergenggam erat ditangannya.
Hermione tersentak dan melepaskan diri dari draco, matanya yang sembab menampakkan bahwa ia benar-benar menangis. Dengan segera Hermione menoleh ke arah Ron dan menyusulnya. Dia berlari meninggalkan draco yang terus menatapnya dengan tatapan miris. Saat itu mereka telah sadar bagaimana posisi mereka saat itu, bagaimana takdir yang mempermainkan mereka tengah tertawa puas menyaksikan keputusan berat yang harus mereka pilih.
Dari awal hingga akhir mereka tetap musuh dan kini saatnya lah mereka juga mengakhiri semuanya, memilih jalan yang memang seharusnya mereka pilih. Gryffindor dan Slytherin, Pure-blood dan mugle-born, hal yang jelas-jelas tak dapat disatukan.
= The End =
Akhirnyaaaaaaaaaaaaa selesai dengan begitu hancurnya, silahkan kubur saja saya hidup-hidup... TOT saya memang author yang lelet dan gaje! Ckckkckckc
Sebenarnya bukan seperti ini ending yang saya idam-idamkan *nah loh?* tapi karena saya menderita WB berkepanjangan akhirnya saya lupa seperti apa seharusnya kisah ini mengalir, saya benar-benar lupa... *jedotin kepala kebantal*
Tapi yah...setidaknya saya masih ingat kalau akhirnya adalah sad-ending XD
Balesan ripiu...
Kisi, guest, imas: Hwaaaaaaaaa TOT ampuni saya... saya benar-benar lelet...*sujud2*
Sekian T^T
Ritsu.
