Instant Princess
Pair and Cast:
Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)
Kim Taehyung (V)
Jeon Jungkook (Jungkook)
Park Jimin (Jimin)
Min Yoongi (Suga)
Jung Hoseok (J-Hope) x Lee Jihoon (Woozi)
Rated: T
Length: Chaptered
Summary:
Seokjin yakin dia adalah orang yang 'cukup' baik, dia rajin bekerja, membantu orang tuanya, dan tidak keberatan memiliki adik cerewet dan suka gossip seperti Jungkook. Tapi kenapa Tuhan memberikannya cobaan yang amat sangat berat seperti menjadi istri dari Kim Namjoon, sang Putera Mahkota Korea Selatan? / NamJin, slight! Other couple, GS, AU.
Warning:
Fiction, AU, GS! for Seokjin, Jungkook, Yoongi, and Jihoon. Inspired by Princess Hours.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Special Chapter: Jimin and Yoongi.
Yoongi pertama kali bertemu Jimin saat usianya tujuh tahun, hari itu ayahnya datang menghampirinya bersama seorang anak laki-laki dengan tubuh gempal dan pipi chubby, ayahnya bilang dia adalah teman main Yoongi.
Yoongi menatap anak laki-laki itu dengan tatapan tidak suka, "Aku tidak butuh teman main, Papa."
Ayah Yoongi menghela nafas pelan, "Yoongi sayang, Jimin ini nantinya akan menemanimu seterusnya, dia bukan sekedar teman mainmu, dia akan menjadi asistenmu."
Yoongi mendongak menatap ayahnya, "Aku bilang aku tidak mau teman main. Aku bisa bermain sendiri."
"Yoongi.." ayahnya mulai pasrah dengan sikap Yoongi yang sangat keras kepala walaupun dia hanyalah anak kecil berusia tujuh tahun.
Jimin melangkah menghampiri Yoongi yang masih sibuk bermain sendiri, "Nona Yoongi, kenalkan, aku Park Jimin.."
Yoongi mendelik menatap Jimin, "Sudah kubilang aku tidak butuh kau! Sana pergi!" Yoongi mendorong Jimin hingga dia jatuh terduduk.
"Yoongi!" tegur ayahnya seraya membantu Jimin untuk berdiri.
Yoongi mendengus dan kembali sibuk dengan boneka beruangnya.
"Nona Yoongi, mau aku temani bermain?" tawar Jimin seraya duduk di dekat Yoongi, kelihatannya Jimin tidak kesal sama sekali pada sikap Yoongi yang tidak bersahabat.
"Aku tidak mau!"
"Aku akan menemanimu bermain apa saja yang Nona Yoongi mau."
Yoongi menoleh ke arah Jimin, kepala mungilnya mulai memikirkan berbagai macam strategi agar Jimin tidak betah menjadi teman mainnya. "Sungguh?"
Jimin mengangguk cepat, "Ya!"
Yoongi tersenyum kecil, "Oke, tapi kau harus benar-benar menuruti perintahku!"
"Baik, Nona!"
.
.
.
.
.
.
.
Hari-hari selanjutnya terlihat bagaikan neraka untuk Jimin, dia menepati janjinya untuk selalu menuruti perintah Yoongi dan perintah Yoongi betul-betul tidak masuk akal.
Hari pertama, Jimin diminta untuk memakai gaun seperti Barbie karena Yoongi bilang dia ingin main Barbie, dengan Jimin sebagai salah satu barbienya.
Hari kedua, Yoongi meminta Jimin untuk mengambilkan buah yang tumbuh di halaman belakang rumahnya. Padahal pohon itu sangat tinggi dan Jimin tidak terlalu pandai memanjat.
Hari ketiga, Yoongi meminta Jimin berdandan ala kappa selama seharian penuh.
Hari keempat, Yoongi meminta Jimin mencarikan sepuluh anak kucing berbeda warna karena Yoongi bilang dia ingin memelihara kucing.
Hari kelima, Jimin diminta untuk mencarikan sepuluh anak kucing lainnya sebagai pasangan untuk kucing yang sudah ada.
Dan untuk hari-hari seterusnya juga masih sama. Jimin tidak pernah melewati harinya tanpa perintah aneh-aneh dari Yoongi. Tapi Jimin tidak pernah terlihat mengeluh, dia tetap mengerjakan seluruh perintah dari Yoongi dengan patuh. Walaupun dia harus terluka karena tangannya tergores kulit pohon, demam karena seharian tidak memakai pakaian karena berdandan ala kappa, dan dicakar oleh anak kucing, Jimin tidak pernah terlihat mengeluh atau menangis.
Seluruh maid yang biasanya menemani Yoongi hanya bisa menggeleng pasrah melihat kelakukan semena-mena Yoongi. Yoongi memang dikenal sebagai anak yang sangat mandiri dan agak galak karena dia tidak mendapatkan cukup kasih sayang dari orangtuanya yang sibuk.
Yoongi berbeda dengan adiknya yang terurus dengan baik oleh ibunya karena diajak untuk tinggal di luar negeri selama ibunya mengurus bisnis fashionnya di sana. Yoongi sudah merengek agar dia juga diajak oleh ibunya, tapi ibunya melarang karena Yoongi sudah mulai masuk sekolah. Ayahnya juga tidak kalah sibuk sehingga ayahnya memutuskan untuk meminta Jimin, anak dari kepala pelayan di rumahnya, untuk menemani Yoongi bermain.
Ayahnya berharap dengan ditemani oleh Jimin, Yoongi akan berubah menjadi sosok gadis kecil yang manis. Tapi ternyata sikap Yoongi malah semakin menjadi, dia sangat rajin menjahili Jimin.
Ayahnya sudah menegur Yoongi untuk menghentikan kejahilannya pada Jimin. Tapi Yoongi menolak dengan alasan Jimin adalah 'teman main'nya dan begitulah cara Yoongi bermain. Ayahnya pasrah dan memutuskan untuk membiarkan Yoongi, tapi ayahnya memperlakukan Jimin seperti anaknya sendiri sebagai ucapan terima kasih karena Jimin sudah bersedia menjadi bulan-bulanan Yoongi.
Ayah Yoongi memasukkan Jimin ke sekolah yang sama dengan Yoongi, dia juga mengatur agar Yoongi bisa duduk bersebelahan dengan Jimin. Ayahnya juga mengatur agar Jimin dan Yoongi selalu berada dalam kegiatan yang sama.
Intinya ayahnya mengatur agar Yoongi selalu bersama Jimin selama satu hari penuh. Ayahnya juga meminta Jimin untuk tinggal di rumah Yoongi dan menempati kamar yang hanya berbeda lantai dengan kamar Yoongi. Itu semua agar Jimin bisa selalu menemani Yoongi dan bersama dengannya kapanpun.
.
.
.
.
.
.
.
Tahun berlalu, Jimin masih setia berdiri di sebelah Yoongi. Untungnya Yoongi sudah berhenti menjahili Jimin sejak usianya 10 tahun. Yoongi sudah tidak tahu cara apalagi yang harus dia lakukan karena Jimin tetap saja menempel padanya seperti diberi lem khusus. Jadi Yoongi menyerah dan memperlakukan Jimin selayaknya asisten pribadinya.
Yoongi memang tidak berubah, Yoongi tetaplah Yoongi yang arogan dan agak ketus. Walaupun begitu, tidak ada yang bisa menyangkal bahwa Yoongi tumbuh menjadi sosok gadis yang sangat cantik. Makanya Yoongi memiliki penggemar yang tidak sedikit dan Jimin selalu menjadi benteng pertama perlindungan Yoongi dari penggemarnya.
Yoongi selalu menerima banyak surat cinta dan biasanya Yoongi akan menyuruh Jimin membacakan semua surat cinta itu dan menyuruh Jimin untuk menyampaikan penolakan Yoongi terhadap perasaan mereka. Jimin juga akan melindungi Yoongi dari hatersnya, Jimin lah yang selalu merelakan tubuhnya menjadi 'samsak' para haters Yoongi.
Biasanya mereka yang tidak menyukai Yoongi akan mengerjai Yoongi dengan cara melemparinya tepung, atau mencampur minumannya dengan kecap ikan. Dan untuk melindungi Yoongi dari semua itu, Jimin selalu berjaga-jaga dengan masuk ke kelas lebih dulu dan mencicipi semua makanan Yoongi terlebih dulu sebelum diberikan pada Yoongi. Itu semua Jimin lakukan agar Yoongi tidak terkena perangkap dari orang yang tidak menyukainya.
Berbagai macam perlindungan Jimin berikan hingga akhirnya mereka menginjak bangku Senior High School. Jimin masih tetap Jimin yang dulu, yang akan mendahulukan kepentingan Yoongi diatas kepentingannya sendiri. Dan Yoongi tetaplah Yoongi yang arogan dan dingin.
Tapi itu semua berubah saat Yoongi bertemu Namjoon. Sejak bertemu Namjoon, haters Yoongi berkurang, mereka juga tidak pernah mencoba menjebak Yoongi lagi karena takut pada Namjoon yang seorang Putera Mahkota. Selain itu Yoongi juga dekat dengan sahabat baik Namjoon, Hoseok dan Pangeran Taehyung.
Jimin harus mengakui kalau dia bersyukur Yoongi berteman dengan Namjoon. Karena dia tidak perlu berusaha sangat keras untuk selalu memastikan keamanan Yoongi seperti dulu.
Tapi Jimin juga tidak bisa memungkiri bahwa dia.. cemburu dengan kedekatan Yoongi dan Namjoon.
.
.
.
.
.
.
.
"Nona Yoongi, anda sedang apa?" tanya Jimin saat melihat Yoongi sibuk di dapur, padahal saat ini baru jam enam pagi dan biasanya Yoongi tidak akan keluar kamar sebelum jam enam lewat.
Yoongi menoleh ke arah Jimin dan tersenyum ceria, "Aku sedang membuatkan sarapan pagi untuk Namjoon, Hoseok, dan Taehyung."
Jimin berjalan menghampiri Yoongi dan dia melihat kalau Yoongi sedang membuat sandwich untuk mereka. "Mau saya buatkan susu hangat seperti biasanya, Nona?"
Yoongi mengangguk pelan, "Hmm, boleh."
Jimin bergerak untuk mengambil mug dan mulai membuatkan susu untuk Yoongi. "Anda mau sarapan apa, Nona?"
"Tidak perlu, nanti aku sarapan bersama mereka saja." Yoongi menutup kotak bekal berukuran besar itu kemudian menatap Jimin. "Oya, nanti kita tidak berangkat bersama, Namjoon bilang dia akan menjemputku jadi kau antar Jihoon ke sekolah dulu ya."
Jimin terdiam, gerakannya terhenti sebentar sebelum kemudian dia mengangguk kecil, "Baiklah, Nona Yoongi."
Jimin tidak bisa mengatakan kalau dia tidak ingin Yoongi pergi bersama teman-teman barunya. Selama bertahun-tahun ini, Jimin lah orang yang paling dekat dengan Yoongi. Dia tidak rela Yoongi melupakannya begitu saja karena sekarang dia sudah mendapatkan teman baru.
Tapi Jimin tahu diri, dia jelas tidak bisa memaksa Yoongi untuk tetap bersamanya karena Jimin hanyalah 'asisten' Yoongi. Dia bukan tandingan untuk orang-orang seperti Namjoon, Hoseok, dan Taehyung.
Karena itu, Jimin akan tetap berusaha menjadi Jimin yang biasanya. Jimin yang selalu menuruti Yoongi dan mengawasinya dalam diam, dan juga..
… mencintainya dalam diam.
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini adalah ulang tahun Yoongi. Pestanya diadakan di rumah Yoongi dan Yoongi mengundang teman-teman sekolahnya. Acara pesta ini juga sebagai acara perpisahan karena Yoongi akan segera menyelesaikan masa sekolah menengahnya dan melanjutkan ke universitas.
Jimin berdiri di sudut ruangan dengan mata yang terus tertuju pada Yoongi. Yoongi terlihat begitu cantik malam ini. Dia berjalan berkeliling dan menyambut tamunya dengan senyuman tipis di bibirnya.
Sementara Jimin hanya bisa berdiri dan menatap Yoongi dari jauh. Dia menunduk menatap kotak berisi hadiahnya untuk Yoongi. Selama bekerja menjadi asisten Yoongi, ayah Yoongi selalu memberinya gaji yang tidak sedikit setiap bulannya.
Sebagian besar gaji itu memang Jimin berikan pada orangtuanya, tapi sebagian lagi Jimin simpan hingga dia sudah memiliki uang yang cukup banyak.
Sebenarnya Jimin tidak perlu lagi bekerja sebagai asisten Yoongi, uang di tabungannya sudah lebih dari cukup untuk melanjutkan pendidikannya ke universitas dan bekerja di luar keluarga Yoongi. Tapi Jimin tidak rela meninggalkan Yoongi. Dia sudah berjanji pada ayahnya dan ayah Yoongi untuk selalu menemani Yoongi hingga kapanpun.
Jimin masih ingat ucapan ayahnya saat dia mengatakan kalau ayah Yoongi meminta Jimin menjadi teman main Yoongi. Ayahnya bilang Yoongi adalah gadis yang baik, hanya saja dia kekurangan kasih sayang dari orangtuanya yang sibuk. Makanya ayahnya meminta Jimin untuk berdiri di sebelah Yoongi dan menghujaninya dengan kasih sayang yang tidak bisa Yoongi dapatkan dari orangtuanya.
Dan Jimin benar-benar mengerjakan permintaan ayahnya. Jimin selalu menuruti perintah Yoongi dan memberikannya perhatian yang tidak terbatas. Dan tanpa Jimin sadari, di tahun-tahunnya memberikan perhatian pada Yoongi, Jimin juga memberikan cintanya untuk Yoongi.
"Jimin? Kenapa sendirian di sini?"
Jimin tersentak dari lamunannya saat suara halus Yoongi menegurnya. Dia bergegas menyembunyikan kotak berisi hadiahnya di balik punggungnya. "Tidak, Nona. Saya hanya mengawasi Nona."
Yoongi tertawa, "Mengawasiku? Kau melamun, Jim."
Jimin terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa karena dia memang melamun tadi.
"Jangan tegang seperti itu. Ini pestaku, jangan merusak suasana dengan wajah tegangmu itu." Yoongi mengulurkan tangannya dan menarik pipi chubby Jimin sambil tertawa kecil.
Jimin terpaku melihat wajah Yoongi yang berada tidak jauh dari wajahnya. Dia mencengkram kotak berisi hadiahnya, "Nona.."
"Oya, apa kau melihat dimana Namjoon?"
"Eh?"
Yoongi melepaskan jemarinya dari pipi Jimin dan melangkah mundur satu langkah. "Iya, dimana Namjoon? Padahal kan aku sudah menunggunya sejak tadi."
"Nona.. menunggu Yang Mulia Putera Mahkota?"
Yoongi mengangguk, "Pesta ulang tahun tanpa orang yang kau sukai itu tidak seru, kan?"
Jimin bersumpah dia merasa jantungnya berhenti untuk sedetik saat mendengar kalimat Yoongi barusan. "A-apa?"
Yoongi menatap Jimin, "Ah, benar. Aku belum menceritakannya padamu." Yoongi bergerak mendekati Jimin, "Sebenarnya aku menyukai Namjoon. Dia tampan dan dia adalah Putera Mahkota. Sangat sempurna dan cocok untukku, kan?"
Jimin tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Tapi bertahun-tahun menjadi asisten Yoongi membuatnya mampu mengontrol ekspresinya dengan baik, jadi Jimin memasang senyum kecil dan mengangguk. "Ya, dia sangat cocok untuk Nona."
Yoongi tersenyum lebar, "Oya, ngomong-ngomong, dimana kado untukku? Kau tidak menyiapkan kado untukku?"
Jimin mencengkram kotak hadiahnya semakin erat, "Maaf Nona, saya.. tidak menyiapkan apa-apa."
Yoongi berdecak, "Aish, kau ini. Sebagai seorang asisten yang sudah bersamaku selama beberapa tahun seharusnya kau tidak boleh melewatkan kado untukku."
"Maaf Nona.."
Yoongi menghela nafas pelan kemudian mengangguk pelan, "Tidak apa. Kau akan kumaafkan asalkan kau mau membuatkanku ramyun spesialmu itu."
"Eh?"
"Aku tidak mau tahu. Besok kau harus membuatkanku ramyun spesial andalanmu."
Jimin segera mengangguk karena Yoongi sudah mengeluarkan nada perintah. "Baik, Nona."
Yoongi tersenyum puas dan menepuk-nepuk bahu Jimin, "Bagus sekali. Oya, jangan bilang pada siapapun kalau aku menyukai Namjoon, ya?"
Jimin mengangguk, "Tentu, Nona."
Yoongi memberikan senyuman tipisnya kepada Jimin dan berlalu meninggalkan Jimin yang masih terdiam. Di saat Yoongi sudah tidak memperhatikannya, Jimin mengeluarkan kotak yang sejak tadi dia sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Oppa? Apa itu kado untuk Yoongi Eonnie?"
Jimin nyaris saja menjatuhkan kotaknya saat mendengar suara Jihoon, adik Yoongi.
"Tidak, Nona.. ini bukan.."
Jihoon menatap Jimin dengan tatapan jahil, "Eeeyy.. jangan mencoba berbohong padaku, Oppa. Aku tahu itu untuk Yoongi Eonnie, aku melihatmu berada di toko perhiasan itu beberapa hari yang lalu."
Jimin tersenyum kecil, "Yah, karena kau sudah tahu. Aku akan jujur saja, ini memang untuk kakakmu."
"Benarkah? Boleh aku melihatnya?"
Jimin mengangguk dan membuka kotaknya, di dalam kotak itu ada sebuah gelang dengan desain yang rumit. Gelang itu dihiasi oleh batu-batu berwarna hitam kelam dan juga berlian.
"Waah, indah sekali. Aku tidak pernah melihat gelang dengan desain seperti ini." ujar Jihoon kagum.
"Ini.. custom made. Aku membuat desainnya sendiri."
"Benarkah? Waah, harganya pasti mahal."
Jimin tertawa kecil, "Yaah, aku menghabiskan 25% dari seluruh tabunganku selama bekerja di sini untuk membeli ini."
Jihoon terdiam, dia menatap Jimin lama. "Oppa, kau menyukai Eonnie ya?"
Jimin menatap Jihoon dengan raut wajah kaget.
"Tidak perlu memasang wajah seperti itu. Semua orang pasti tahu kalau Oppa menyukai Eonnie. Itu terlihat jelas di matamu."
Jimin terdiam, "Jangan beritahu siapapun. Apalagi kakakmu."
"Kenapa? Menurutku Oppa adalah orang yang tepat untuk Eonnie."
"Aku hanya anak kepala pelayan, Nona Jihoon. Aku tidak pantas untuk kakakmu."
"Memangnya menjadi anak kepala pelayan itu memalukan? Oppa jauh lebih baik dari mereka yang setara dengan kami."
"Nona Jihoon.." Jimin tersenyum dan mengelus kepala Jihoon. Dia sudah menganggap Jihoon sebagai adiknya sendiri.
"Jihoonie!"
Jihoon menoleh dan dia melihat kekasihnya sejak beberapa minggu terakhir, Hoseok, sedang berjalan ke arahnya. "Oppa!"
Hoseok berjalan menghampiri mereka dan mengusap pipi Jihoon. "Hai, sayang.." Hoseok menatap Jimin, "Hai, Jim."
Jimin menunduk sopan, "Tuan Hoseok.."
Jimin mengangkat kepalanya dan saat itu juga dia melihat Namjoon dan Yoongi yang sedang berdiri berhadapan tidak jauh darinya. Kelihatannya Namjoon baru saja memberikan kadonya untuk Yoongi karena Yoongi terlihat begitu bahagia. Senyuman cantiknya tidak pernah pudar selama dia berbicara dengan Namjoon.
Hoseok mengikuti arah pandangan Jimin, "Ah, kau memperhatikan Yoongi, ya? Kapan kau berencana menyatakan perasaanmu padanya?"
Jimin menoleh ke arah Hoseok dengan kecepatan luar biasa, "A-apa?"
"Iya, kau suka Yoongi, kan? Aku bisa melihat itu dari caramu menatapnya. Dan lagi, tidak akan ada yang tahan berada di dekat Yoongi selama bertahun-tahun selain dirimu."
Jimin menundukkan kepalanya, "Aku.. tidak berencana menyatakan perasaanku pada Nona Yoongi."
"Kenapa?"
"Karena Nona Yoongi menyukai Yang Mulia Putera Mahkota. Dan aku jelas bukan tandingan seorang Putera Mahkota." Jimin menatap Namjoon dan Yoongi yang masih mengobrol. Dia benci mengakuinya tapi Namjoon dan Yoongi memang terlihat serasi.
.
.
.
.
.
.
Yoongi memutar kepalanya ke seluruh isi ruangan, mencoba mencari sosok Jimin yang tidak terlihat dimanapun. Yoongi menyipitkan matanya dan tersenyum riang saat dia melihat Jimin yang berjalan menuju dapur.
Yoongi berlari kecil ke arah sana namun dia tertegun saat dia tidak melihat Jimin di dapur. Yoongi menatap sekeliling dan tidak sengaja matanya melihat sebuah kotak perhiasan di tempat sampah untuk bahan kering. Yoongi membungkuk dan mengambil kotak itu, dan saat dia membukanya sebuah kartu kecil terjatuh dan saat Yoongi mengambilnya, dia melihat tulisan 'Untuk Nona Yoongi' di sana.
Seketika itu juga dia tahu siapa pengirim kotak ini, pengirimnya sudah pasti Jimin. Hanya Jimin yang memanggilnya 'Nona Yoongi' yang lainnya selalu memanggilnya dengan sebutan 'Nona Min Yoongi'.
Yoongi mengambil gelang itu dan memperhatikannya, "Indah sekali. Apa ini kado untukku? Tapi tadi dia bilang dia tidak menyiapkan kado."
Yoongi mengerutkan dahinya saat dia melihat sesuatu terukir di bagian dalam gelang. Tidak banyak yang terukir, hanya ukiran bertuliskan 'Min Yoongi' di sana. Sangat sederhana, tapi Yoongi begitu menyukainya.
Yoongi memakai gelang itu dan tersenyum puas saat melihat gelang itu begitu cocok di kulit pucatnya. Yoongi memutuskan untuk tetap memakai gelangnya dan berjalan mencari Jimin.
Akhirnya setelah cukup lama mencari, Yoongi berhasil menemukan Jimin yang sedang duduk sendirian di halaman belakang.
"Jimin," ujar Yoongi.
Jimin segera menoleh ke arah Yoongi, "Nona Yoongi."
Yoongi berjalan menghampiri Jimin dan mengangkat lengan kirinya yang berhiaskan gelang pemberian Jimin. "Ini darimu, kan? Kenapa tidak diberikan padaku?"
Jimin tersentak, wajahnya perlahan memucat. Dia tidak menyangka Yoongi akan menemukan gelang itu.
"Melihat dari ekspresimu, itu pasti benar. Kenapa tidak kau berikan padaku?"
"Saya.. takut Nona tidak menyukainya."
Yoongi berdecak, "Omong kosong macam apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku suka. Ini kado ulang tahun pertama darimu." Yoongi tersenyum lebar, "Terima kasih, Park Jiminnie."
Jimin terpaku dan perlahan-lahan wajahnya merona karena Yoongi baru saja memanggilnya dengan begitu manis.
"Oke, aku masuk dulu ya." Yoongi berbalik dan menghentikan langkahnya, "Ah, jangan lupa besok kau harus membuatkan ramyun spesial untukku!"
Jimin mengangguk dan tersenyum lebar, "Tentu, Nona Yoongi."
Jimin menatap punggung Yoongi yang menjauh. Yah, dia tidak peduli dia tidak bisa memiliki Yoongi, karena baginya, berdiri di sebelah Yoongi pun sudah lebih dari cukup untuknya. Selama Jimin bisa selalu menjaga dan menemani Yoongi, Jimin tidak perlu memiliki Yoongi seutuhnya. Dia sudah cukup bahagia hanya dengan melihat senyum Yoongi.
End of Special Chapter
.
.
.
.
Ini kubuatkan karena ada salah satu reader yang bilang dia suka MinYoon di cerita ini dan memintaku membuatkan special chapter kisah awal mereka. Makanya aku membuatkan ini.
Chapter lanjutan untuk Instant Princess akan aku publish di chapter berikutnya. Harap sabar menunggu~
Semoga kalian suka dengan special chapter ini!
.
.
.
Thanks
