Gomennasai

'

A SasuHina story is mine, and Naruto's desclaimer by MasaKishi sensei.

WARNING: Cerita semakin tidak jelas.

...

.

Mikoto mengelus pipi si gadis bersurai coklat dengan lembut. Ada nafas lega yang berhembus dari mulut sang pemuda, sementara si surai coklat masih mengalirkan air matanya.

"Bibi sangat menyayangimu Hanabi chan, sangat. Kau lah anak perempuan keduaku." Dan Mikoto memberikan pelukan hangat seorang Ibu pada gadis bernama Hanabi. Pelukan hangat yang sangat dirindukan Hanabi, yang telah lama tidak ia dapatkan dari sang Ibu tercinta.

"Oba san." Sang pemuda berujar pelan, rasanya ia tak mempercayai apa yang dilihatnya.

"Biasakan memanggil Kaa san mulai hari ini. Kemarilah Itachi."

Dan Mikoto memberi mereka berdua pelukan hangat.

Jika boleh mengulang waktu, mungkin Itachi dan Hanabi tidak akan berbuat sejauh ini untuk mendapat restu kedua orangtuanya. Seharusnya Itachi sadar, Ibunya adalah wanita terbaik di seluruh dunia. Tapi apa yang dapat mereka perbuat memang, jika nasi telah menjadi bubur. Tinggal meluluhkan hati dua orang angkuh dengan ego setinggi langit. Itu Itachi lho yang bilang.

.

Hinata menghela nafas pelan, dia bosan.. booosan sekali. Hari ini rumah sepi sekali, Tou san sedang ada di kantor, sementara Kaa san nya entah pergi kemana, padahal tadi hanya pamit sebentar. Hanabi pun dihubunginya berulang kali juga tidak diangkat, sebenarnya ada apa sih? Hinata mengunyah makanannya dengan sebal. Sepi, hatinya berteriak frustai.

"Tadaima… " suara Mikoto menggema di ruang tamu. Hinata tersadar, dia buru-buru berlari untuk menyambut Ibu mertuanya tersebut.

"Ah, a-ada Hanabi? Eh Itachi nii juga?" Hinata menatap heran pada tiga orang yang berjalan ke arahnya.

"Hay Hinata." Itachi tersenyum sekilas, sebelum meninggalkan tiga orang wanita di sana.

"Hai, Nii san," Hinata membalas dengan senyum canggungnya. Kemudian dia beralih pada dua wanita di depannya yang tengah mengobrol ringan.

"Sayang, mama bawakan kue cinamon rolls kesukaanmu. Ini bawalah, Kaa san sedikit lelah, jadi akan langsung tidur."

"Hai', arigatou Kaa san." Mikoto memberikan ciuman sekilas pada Hinata, kemudian ia beranjak pergi.

Awalnya ia tak menyadari Hanabi yang sedari tadi terus menatapnya saat menata kue cinamon rolls di atas piring. Hanya tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Kelereng sepucat purnama milik Hanabi menatapnya intens, tapi kosong.

"Hanabi chan, daijobu?" tak ada respon berarti dari gadis yang lebih tinggi 7cm dari Hinata tersebut, hingga si surai indigo harus mengulang pertanyaannya dua kali.

"Hanabi? Ada yang mengganggu pikiranmu?" Hinata mengulurkan tangan kanannya dan mengusap rambut Hanabi yang diikat tinggi-tinggi.

Hanabi tersenyum tipis, kemudian dia menggeleng pelan.

"Ah, aku baru ingat bahwa Tou san tadi menyuruhku pulang sebelum jam 4." Hanabi melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya kemudian memberikan Hinata tatapan maaf.

"Baiklah, mungkin lain kali kita bisa mengobrol lagi. Sampaikan salamku pada Tou san, mungkin besok aku akan berkunjung."

"Hai'. Tolong sampaikan maafku pada Kaa san karena aku buru-buru." Hinata mengangguk pelan dalam pelukan Hanabi.

Setiap alunan kaki yang ia langkahkan terasa berat sekali. Ada yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang membuat dadanya sedikit sesak, dan mendorong aliran air keluar dari sudut mata kanannya.

"Gomennasai, Nee san. Gomennasai."

.

Hanabi POV.

Hari ini Nee chan benar-benar datang ke rumah, namun dengan raut sedih, terlihat jelas dari tatapan sayunya. Saat aku membukakan pintu, dia masuk begitu saja, hanya memberiku senyum sekilas sebelum berlalu ke arah dapur. Ku biarkan dia sibuk membuat ocha dan kue waffle dengan bahan seadanya. Hampir 30 menit dia tak bersuara, namun aroma dari waffle panggangnya membuat perutku bergolak, aku ingin muntah. Sungguh, kurasa sesuatu dalam perutku tak menyukainya.

Sepiring waffle terhidang dihadapanku. Aku hanya terdiam, aku bukan tipe orang yang langsung lari atau menghindari sesuatu yang tak ku sukai, bukan, sebenarnya aku menyukai waffle buatan Nee chan, sangat enakk, tapi.. entahlah. Aku hanya menggeleng ketika sebelah tangan Nee chan mengulurkan potongan waffle ke arah ku.

"Tadi aku bertemu seseorang. Dia membuatku tak bisa berhenti memikirkannya, kisahnya membuatku berpikir keras, tentang… kebodohanku."

Ku biarkan ia memulai ceritanya. Suaranya terdengar kecil, meskipun memang ia selalu melakukannya, aku mulai menajamkan telingaku.

"Hey, Hanabi. Apa kau pikir aku pantas untuk Sasuke-kun?"

Hei! Pertanyaan macam apa itu? Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudnya. Aku masih terdiam, segitu parahnya kah pengaruh 'seseorang' yang bertemu dengannya tadi? Apa yang ia tanyakan sekarang membuatku benar-benar tak habis pikir?

Bibir mungilnya mulai bergerak, melantunkan sebuah kisah pilu dari seorang wanita. Sesekali kulihat dia mencoba menahan sesuatu. Tapi aku tidak mengerti apa yang salah dari semua itu, bukankan mati, lahir, jodoh adalah kuasa sang Kami sama? Manusia hanya mampu berencana. Aku menggigit bibirku kuat-kuat ketika teringat percakapanku dengan Itachi awal bulan lalu.

Aku tidak terlalu menangkap apa kata-katanya karena pikiranku sibuk berkecamuk dengan rumitnya hidupku sendiri. Sampai..

"Apa?!" aku tiba-tiba berteriak ketika ucapan terakhirnya mengusik gendang telingaku.

"Hanabi, pelankan suaramu."

"Jangan bercanda Nee chan. Kau tidak melakukannya."

Dia terdiam. Hanya menatapku dengan tatapan terluka.

"Kau memang harus berubah. Sifatmu itu sungguh keterlaluan Nee chan. Apa yang kau pikirkan bahwa Sasuke Nii dapat bertahan sebegitu lamanya?"

"A-aku.."

"Jangan gagap. Aku saudaramu, bukan oranglain. Kita sedarah Nee chan, sepertinya kau memang harus ke psikiater!"

Hormon sialan! Umpatku, ketika menyadari beberapa anak sungai mulai terbentuk dari dua manik violetnya. Akhir-akhir ini aku benar-benar menjadi lebih sensitif.

"Aku sudah berusaha, Hanabi. Aku sudah siap, tapi… kalian membuatku kembali tidak siap." Ucapnya lirih, dan pernyataannya sukses membuatku menyesali kecerobohan kami. Memori dua bulan lalu berputar cepat, seakan mengingatkanku bahwa aku ambil bagian dalam masalah kakakku.

"Nee chan," aku berucap lirih, berusaha menyalurkan rasa sesalku dari sana.

"Mungkin memang aku butuh ke psikiater. Aku sakit, dan aku butuh dokter. Terima kasih atas sarannya, Hanabi chan."

Dan lagi, aku menggoreskan luka tak kasat mata di hatinya. Setelah ini apalagi, kabar pernikahanku dengan Itachi? Yah, bunuh saja Nee chan tercintamu itu sekalian, Hanabi.

.

Sasuke ternyata pulang dua hari lebih awal dari jadwal, dan perjalanan bisnis mereka sukses berat. Hinata tentu saja menyambut kedatangan suaminya dengan bahagia, namun di sisi lain ada sesuatu yang membuatnya juga enggan pada Sasuke. Malam itu juga Hinata meminta mereka kembali ke apartemen, dengan alasan Hinata sangat merindukan tempat mereka.

"Kau tak apa, Hinata?"

"Ah," Hinata menoleh, Sasuke masih fokus menyetir, tapi sedari tadi pria tersebut memang melirik-lirik kediaman Hinata.

"Apa terjadi sesuatu ketika aku tidak ada?"

Sasuke pria yang baik, meskipun Hinata dulu sedikit tau bahwa Sasuke adalah sosok dingin yang tidak ramah sama sekali. Tapi hampir setahun hidup dengan pria penyuka tomat itu, membuat Hinata tau bahwa Sasuke memang sempurna tidak hanya pada fisiknya saja tapi juga hatinya.

"Hinata?"

Ah, Hinata tanpa sadar melamun lagi, membuat Sasuke melayangkan namanya dengan nada khawatir.

"Aku baik-baik saja, Sasuke kun."

"Kau bukan pembohong yang baik, Hinata." Sasuke menanggapi dengan serius, pernyataan yang membutuhkan jawaban.

"A-aku…"

"Baiklah, aku tidak memaksa. Setelah sampai, ayo kita langsung tidur, aku benar-benar butuh istirahat hingga dua hari ke depan."

"Hai', Sasuke kun." Tangan kiri Sasuke terulur untuk mengusak lembut rambut Hinata. Menimbulkan senyum tulus dari belah bibir mereka.

….

TBC…

Jika aku tiba-tiba kembali dengan cara seperti ini, apakah masih ada yang tertarik dengan fict ku?

Jujur saja aku merasa sedih meninggalkan hutang pada kalian yang sudah rela meluangkan waktu hanya demi membaca fict ku yang tidak jelas ini. hehehe, kuucapkan banyak sekali terima kasih..

Ada yang bertanya kenapa aku tiba-tiba kembali?

Jawabannya pun aku sendiri tidak tau, hahaha.

Tapi yang pasti aku SANGAT merindukan SASUHINA dan KALIAN.

Soo, mohon dukungannya teman-teman.

Mungkin gaya bahasaku akan berubah, bisa jadi kalian menyukainya atau justru sebaliknya.

Arigatou Gozzaimasu.