Naruto dan semua karakter yang ada di fiksi ini milik Masashi Kishimoto.
AU. OOC. TYPO.
.
Happy Reading.
...
...
...
...
...
Semuanya tampak gelap, seperti tidak berujung dan kakinya tidak dapat menemukan daratan. Perasaan kosong berada saat dimensi di mana semua tampak cepat berlalu. Ketika rasa nyata itu menyeruak, Sakura mendengar beberapa kali namanya dipanggil, dengan akesen suara yang berbeda-beda.
Dan saat rasa nyata itu semakin terasa, bau obat-obatan dan cairan infus adalah hal pertama yang menusuk indra hidungnya. Indra perabanya merasakan banyak tangan di beberapa bagian tubuh; meremas tangannya, mengelus lengan, dan pucak kepalanya.
Secara perlahan, dengan tingkat kesadaran yang semakin bertambah setiap detik, Sakura membuka kelopak matanya.
Pada awalnya semua tampak buram, hanya ada bayang-bayang berwarna-warni mengelilingi Sakura, seperti banyak kepala—dengan bermacam bentuk—memandanginya. Ketika ia kembali berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan matanya yang terasa kaku karena baru terbuka, semua kembali seperti Sakura menemukan penglihatannya.
Ternyata memang di rumah sakit. Sakura bisa merasakan jarum infus menyengat di tangan kirinya.
Dan yang paling mengejutkan karena di sini terlalu banyak orang, bukan orang asing; bukan suster dengan topi di kepalanya ataupun dokter berkacamata bertubuh gemuk, tapi semua yang ada di sini terlalu familie. Mereka adalah teman-teman satu kelasnya.
Sakura mencoba untuk mendudukkan tubuhnya secara pelan, dan berhasil. "Teman—"
"Sakura!"
Belum sempat ia memanggil teman-temannya, bertanya mengapa mereka bisa sampai ada di sini, tubuh Sakura sudah mendapat banyak pelukan dari teman perempuannya.
Memang terasa sesak dan berat, tapi Sakura tidak mampu untuk tidak membalas pelukan rindu dari teman-temannya yang bergumam senang.
Sudah lama rasanya sejak terakhir kali ia tidak seperti ini; berkumpul dengan teman satu angkatannya, bercanda seperti anak remaja yang masa bodoh dengan masalah klise.
"Sakura, aku sangat khawatir sekali denganmu," ucap Tenten, memeluk belakang tubuh Sakura.
"Iya," sahut Hinata. "Sudah beberapa hari ini Sakura-chan tidak berada di sekolah, dan itu membuat semuanya khawatir."
Sakura tidak menjawab, hanya pancaran wajahnya yang cerah dan senyum mengambang adalah simbol rasa bahagianya. Hal yang tak terduga memang ketika teman-temannya berada di sini, semua menjenguk dirinya dengan rasa haru, kecuali mereka sudah tahu mengapa Sakura bisa sampai masuk rumah sakit.
Mendadak Sakura terdiam ketika semua pelukan itu tidak lagi menutupi tubuhnya. Jika apa yang ia pikirkan benar, tentang rumah sakit dan bayi yang dikandungnya, itu berarti teman-temannya sudah tahu semua yang terjadi.
"Tidak apa-apa, kok, Sakura-chan. Kami sudah mengetahuinya," ucap Naruto, berdiri di samping kaki ranjang rumah sakit. Pria itu memang cepat peka dengan suasana. "Ino yang memberi tahu."
Sakura langsung cemberut. Padahal Ino berjanji untuk menjaga semua rahasia yang ia katakan. Hanya sahabatnya itu yang bisa diharapkan, dan seharusnya Sakura tahu jika kesalahannya ada pada pertemuan mereka di cafe saat dirinya menceritakan semuanya.
"Sebenarnya bukan murni dari Ino sendiri, kami yang memaksanya," sahut Kiba, menjaga perasaan Sakura. "Soalnya hanya dia orang yang dekat denganmu."
"Kami sangat senang kau bisa bertahan sampai sekarang, Sakura."
"Sakura, kau sangat hebat!"
"Seandainya saja dari dulu kau mengatakannya, Sakura, mungkin kami bisa membantu. Bukannya kita semua teman?"
Bahkan Matsuri—perempuan satu kelas yang jarang bicara kepadanya dari tahun pertama—juga ada di sini. Keajaibannya adalah kalimat perempuan itu terlampau tinggi, sangat perhatian, seperti seorang teman. Dan memang, kata teman terselip di kalimat itu.
Ini tidak seperti yang Sakura pikirkan tentang bagaimana jika semua temannya mengetahui kehamilannya. Ternyata tidak terlalu buruk. Seharusnya ia berterima kasih karena Ino sudah melakukan yang terbaik.
Sakura merasakan jika hatinya mulai terasa sesak, beban yang dipikulnya ingin keluar melalui sebuah tangisan. Jika saja ia tahu akan seperti ini, mungkin teman-temannya sedikit banyak akan membantu, dan semua masalah tidak akan jauh lebih rumit seperti adanya sekarang.
Sakura memandangi satu per satu—secara bergantian—semua teman-temannya. "Terima kasih. Terima kasih banyak," ucap Sakura, suaranya mulai parau, serak, dan tak tertahan.
Tenten kembali memeluk Sakura, karena tahu tangisan gadis itu sebentar lagi akan pecah. Pelukan yang erat memang bagus untuk mereka yang ingin berteriak sekencangnya.
Jika sudah seperti ini, tidak ada yang bisa dilakukan selain menangis, menumpahkan segala sesuatu, semuanya, yang tidak bisa untuk di simpan lagi. Sakura meraung, suara tangisannya teredam di bahu Tenten, seperti anak kecil yang tidak bisa melakukan apapun tanpa orang lain.
Rasa sesak itu mulai meluap, seiring raungan tangis yang membuncah. Tangan Sakura mencengkeram kerah baju Tenten yang sudah basah dengan air matanya. Untuk pertama kali, Sakura yang selalu sok kuat dengan sikap tegarnya, menangis di hadapan orang lain selain Sasuke.
Sekejap tangis Sakura berhenti. Wajahnya kentara terkejut, mata yang masih berlinang air mata itu menatap Tenten dengan pandangan penuh tanya, kegugupan terasa diantara celah-celah tersedan-sedannya sehabis menangis.
Dari waktu beberapa menit kesadarannya pulih, Sakura baru mengingat Sasuke Uchiha.
Prianya. Ayah dari anak yang dikandungnya tidak ada di sini. Sakura terlalu bodoh karena baru menyadarinya.
Sedangkan Ino, sahabatnya juga tidak tampak ada di sekitar sini. Dengan rambut blonde panjang tidak sulit untuk Sakura mencari gadis itu di antar semua temannya, dan tentu saja, jika memang Ino ada, gadis itu adalah orang pertama yang memeluk Sakura di sela kesadarannya. Kalau memang begitu, sesibuk itukah hingga Ino tidak ada di sini, hanya sekedar melihat apakah Sakura masih tetap bertahan.
Mengapa orang-orang terpenting di hidupnya tidak ada yang menjenguknya. Terutama Sasuke. Bagaimana bisa pria itu menghilang di saat Sakura berada di titik terpuruk dalam hidupnya.
Bibir Sakura bergetar, terbuka dan tertutup secara cepat, giginya bergemeletuk. "Di mana Sasuke-kun?" tanyanya.
Tenten terdiam. Berdiri dengan sikap kaku. Memandang Hinata, Matsuri, lalu Naruto; mencoba untuk meminta bantuan harus memilih jawaban apa yang tepat.
"Maaf, Sakura-chan. Tapi kami tidak tahu di mana Teme," Naruto berbicara dengan sikap putus asa. Menghela napas dengan pelan, lalu kembali memasukan ponselnya di kantong celana jeans.
Tangan Sakura yang ada di atas selimut bergetar, kepalanya tertunduk, isakan itu kembali terdengar. "Tidak. Tidak boleh. Sasuke-kun tidak boleh pergi meninggalkanku."
Semuanya bungkam ketika tangis itu kembali pecah. Tetesan air mata Sakura berjatuhan, memberi hiasan titik demi titik selimut biru yang sekarang kusut karena cengkeraman tangannya.
"Tidak boleh. Itu tidak boleh terjadi." Sakura menggelengkan kepalanya, cairan itu terus meluncur tanpa tahu kapan akan berhenti. "Sasuke-kun pasti akan kemari. Sasuke-kun pasti ingin tahu bagaimana keadaanku, terutama anaknya. Iya, kan Tenten? Bukankah aku benar?" Sakura begitu kukuh, memandang Tenten dengan rasa percaya diri walau tahu air mata tidak hentinya terus keluar.
"Sakura, aku..." Tenten tidak tahu harus memilih kalimat apa yang bisa menenangkan hati Sakura.
"Tenten, yang aku katakan tadi benar, bukan? Kau percaya padaku, kan, kalau Sasuke-kun pasti datang sebentar lagi?" tanya Sakura, menggoyang-goyangkan tangan Tenten yang lemas, berusahan mengembalikan suaranya agar kembali tegar. "Tenten—"
"Sasuke tidak akan pernah datang, Sakura!" bentak Naruto, memotong kalimat Sakura yang sangat tidak masuk akal. Wajah Naruto berubah sangat marah, giginya saling bergemeletuk kasar. "Lupakan Sasuke dulu. Pikirkan bayimu yang untungnya masih selamat!"
Mulut Sakura terbuka, setiap beberapa detik isak itu lolos begitu saja, hingga tubuhnya terkadang bergetar. "Na-Naruto..."
Bahkan Shikamaru yang tidak suka suara yang keras, tidak ingin protes. Pria itu malah duduk termenung di sofa dekat dinding. Semua orang memang turut berduka dengan keadaan anak Sakura yang untungnya masih selamat.
"Sakura, yang terpenting dari segalanya adalah bayimu. Lihat, meskipun sedang menggunakan pakaian pasien yang longgar—tanpa mengenakan korset, perutmu sudah kelihatan menonjol," ucap Naruto. "Kumohon, sekarang bukan waktunya berlagak seperti kau adalah yang paling kuat dalam hal ini. Kami sangat mengkhawatirkanmu, Sakura. Jangan pernah melakukan hal bodoh lagi. Kumohon."
Naruto mendekat, menangkupkan kedua sisi wajah Sakura dengan sepasang telapak tangannya. Untuk kali ini, mata biru sapir Naruto tidak secerah seperti biasa, bingkai kelopak matanya memerah, hampir diisi dengan cairan bening. Dengan rautnya yang sekarang seperti orang memohon, berharap agar Sakura mau mengerti apa yang coba ia katakan. "Kau sudah kuanggap adikku sendiri, Sakura-chan. Bersikap pintar dan jangan lukai dirimu sendiri. Jangan memikirkan yang tidak pasti."
Sakura menggeleng. "Naruto. Aku tidak bisa. Sasuke-kun terlalu berarti untukku."
"Sangat berarti dari pada bayi kalian?" potong Naruto cepat. "Tanpa kau, Sasuke masih bisa hidup, Sakura. Tapi, anakmu, dia tidak bisa hidup tanpa ibunya yang malah memikirkan orang lain."
Sakura terdiam. Ia tidak lagi menangis tersedi-sedu, tapi air matanya terus menderai keluar. Tangan Naruto terasa bergetar di pipinya. Kasar namun lembut.
Bahkan Naruto, orang yang sering kena pukul Sakura, bersikap seperti bukan diri pria itu sehari-hari; terlalu dewasa untuk Naruto yang dalam kehidupannya memiliki selera humor tinggi. Tapi, untuk hari ini, pria itu memang terlihat seperti kakak laki-laki yang baik, dan Sakura menyadarinya.
Memang benar apa kata Naruto. Untuk sekarang, tidak ada yang perlu dicemaskan selama Sakura dan bayinya masih hidup. Teman-temannya ada di sini, berguna untuk sedikit menghilangkan rasa khawatirnya, dan yang terpenting mereka ada untuk Sakura.
Hanya untuk kali ini, Sakura mencoba untuk tidak memikirkan Sasuke.
"Aku tidak tahu di mana Teme, berani sumpah," ucap Naruto, sedikit santai dari sikap seriusnya beberpa detik lalu. "Ibunya bilang dia tinggal dengan kakaknya sudah beberapa hari, di sekitar kota Tokyo juga. Tapi, Teme sudah berpesan dengan ibunya agar tidak memberi tahu. Jadi kami memang tidak tahu."
"Tidak apa-apa, Sakura. Kami akan membantumu," kata Hinata, tersenyum sambil memegang pundak Sakura. "Sasuke-san pasti bukan orang yang seperti itu. Dia pasti, setidaknya akan menghubungi Sakura-chan."
"Sakura—" pintu ruang rawat Sakura terbuka, dan di sanalah Mebuka berdiri membeku di ambang pintu. "—apa-apaan ini?" tanyanya, dengan intonasi yang langsung tinggi.
Semua kontan menoleh, terkejut adalah hal pertama dari sekian banyak yang mereka rasakan. Bahkan Shikamaru yang hampir saja tertidur, dibuat terbangun hingga memicingkan matanya.
Mebuki Haruno berjalan, seperti ingin merusak lantai keramik dengan kakinya yang menghentak-hentak kasar. "Di mana Utakata? Bukankah aku menyuruhnya menjaga anakku? Kalian..."
Suara gedoran keras yang berasal dari lemari pakaian pasien memindahkan atensi dari Mebuki. Ritme gedoran cepat dan tergesa-gesa, seperti ingin meminta bantuan dari suaranya yang tertahan oleh sumpalan di mulut, sehingga tidak terlalu jelas terdengar.
"Sepertinya dia terbangun," bisik Kiba kepada Naruto. "Mungkin obat bius yang kita pakai tidak lebih dari dosis."
"Sebentar lagi akan kehabisan napas," balas Naruto, nyengir sambil bersedekap.
Mebuki menyimpan amarahnya untuk sejenak, memandang garang kepada teman-teman Sakura sebelum berjalan menghampiri lemari.
Suara gebrakan pintu semakin cepat, seperti tergesa-gesa ingin lekas keluar, dan menghirup sebanyak apapun oksigen yang ada di luar. Karena sekarang Utakata tahu jika udara gratis sangat susah didapatkan di dalam lemari sesak ini.
Mebuki segera memutar kunci, menarik langsung knopnya, membuat Utakata—yang kedua tangannya diikat kebelakang, serta kakinya dibungkus dengan selimut tebal—langsung terjatuh hingga menimbulkan bunyi kasar di atas lantai diiringi jeritan tertahan mulutnya yang disumbat dengan kaus kaki.
"Utakata..." Mebuki tercekat untuk beberapa saat, lalu menatap teman-teman Sakura dengan pandangan geram, termasuk Naruto yang utama. "Kalian, apa yang kalian lakukan, hah!"
"Kami hanya membuatnya diam," ucap Naruto santai. "Penjagaannya bahkan melebihi seorang sekuriti rumah sakit."
"Dan juga banyak bicara," tambah Shikamaru, masih dengan sikap malas-malasnya.
"Pergi!" teriak Mebuki, melayangkan telunjuknya dengan penuh amarah ke arah pintu keluar. "Kubilang, cepat pergi! Atau aku akan melaporkan kalian ke petugas rumah sakit?"
Satu detik adalah waktu untuk mereka tercengang, saling pandang satu sama lain. Jika berurusan dengan petugas rumah sakit, apalagi status mereka sebagai pelajar, bisa-bisa urusannya akan merambat ke sekolah.
Dan waktu tiga detik adalah saat mereka berlari terbirit-birit, saling berdesakan, berusaha untuk keluar dari pintu lebih dahulu sebelum nyonya Haruno menendang bokong mereka.
"Dasar para anak nakal itu menyusahkan saja!" gerangnya, lalu menatap bingung satu orang yang masih tersisa di samping ranjang Sakura. "Hei, kau, kenapa masih ada di sini?"
Hinata hanya tersenyum canggung dan malu, lalu berjalan ke arah pintu. "Sampai bertemu lagi, bibi Mebuki," ucapnya. lalu membungkuk saat melewati ibu Sakura.
Tiba-tiba wajah Mebuki berubah datar. Sungguh, apakah itu seperti pemerasan secara halus, yang malah terasa seperti lelucon sangat kering. Tapi, kelihatannya gadis itu memang anggun dan tidak menyukai hal yang di luar kata itu sendiri.
Hinata menutup pintu rumah sakit. Teman-temannya masih berada di depan ruang rawat Sakura dengan perasaan cemas, begitu juga dengan dirinya, walau Hinata mencoba untuk bertahan menjadi dirinya yang tenang.
"Sekarang bagaimana?"
Naruto memandangi wajah-wajah kusut bercampur putus asa orang-orang yang mengelilinginya. Tidak ada yang bisa ia dapatkan dari jawaban pasrah semua temannya yang hanya bisa menggedikkan bahu dan menggeleng.
"Maaf, kalau soal urusan keluarga aku tidak bisa memecahkan masalahnya," ucap Shikamaru angkat tangan. Mereka semua memandanginya seolah Shikamaru terlalu sering menonton drama picisan sehingga hapal apa yang terjadi selanjutnya.
Apalagi dengan pandangan Naruto yang mengintimidasi. Seharusnya para perempuan yang tahu, mereka kaum manusia yang sering memakai perasaan ketika melakukan sesuatu. Tapi tidak untuk Tenten, tentu saja.
"Naruto, sepertinya kita memang harus menyerah." Kiba berbicara sambil mengangkat tangannya.
"Ya, lagi pula ini memang urusan keluarga Sakura, kita hanyalah temannya. Masalah ke depannya, itu adalah hak ibu Sakura," tambah Chouji, yang mendapat anggukan setuju dari setengah teman-temannya.
Naruto menggeleng cepat, berusaha menyangkalnya, namun fakta itu benar-benar menohok. Apa yang dilakukan teman memang hanya sekedaru diam, cukup tahu, dan seharusnya begitulah. Mereka bukan orang terdekat Sakura, hanya beberapa teman yang tulus ingin membantu.
Sakura Haruno, betapa berartinya gadis itu untuk Naruto, meski ia tahu cintanya selalu dianggap bodoh; dan pada akhirnya mereka hanya menjadi teman. Tapi, itu sudah cukup. Sakura akan tetap menjadi cinta pertamanya, walau sekarang Hinata-lah yang menjadi orang pertama penyembuh lukanya. Ini tidak akan berhenti secepatnya, sebelum mereka benar-benar berjuang.
"Kalau begitu, berarti sampai di sini saja?" tanya Naruto, matanya berkilat nyalang, "Bahkan sampai sejauh ini, semua yang kita lakukan akan menjadi percuma, cih. Bagaimana dengan Sakura? Dia tidak akan pernah bahagia."
Naruto tahu ini akan sia-sia, malah yang ia katakan hanya seperti berbicara untuk dirinya sendiri saja. Tenten, Shikamaru, Kiba, Chouji, dan yang lainnya hanya bisa terdiam tanpa tahu harus mengeluarkan argumen apa.
"Naruto, kita sudah berjuang sampai sejauh ini. Kita—"
"Kita bisa melakukannya karena sudah sejauh ini!" bentak Naruto, memotong kalimat Shikamaru.
"Kalau begitu kau saja."
Kiba menatap sinis ke arah Naruto, tangannya bersedekap, melangkah begitu saja melewati kerumunan teman-temannya. Ia pergi dengan kekesalan yang mendalam, karena Kiba juga tahu ini akan menjadi hal omong kosong, mereka tidak akan bisa membantu Sakura.
Naruto terdiam. Mulutnya sedikit terbuka karena tersentak oleh apa yang diucapkan Kiba. Mata birunya tidak bisa bergerak, hanya lurus ke depan, tubuhnya membeku.
"Maaf, Naruto," ucap Tenten, ikut mengangkat tangan kanannya. "Aku juga menyerah."
"Aku juga, Naruto."
"Ya, mungkin memang semuanya sudah selesai. Semoga aku bisa bertemu Sakura lagi nanti," ucap Chouji, ikut melangkah pergi.
"Paling tidak jika dia memang akan kembali ke Jepang," tambah Shikamaru, menepuk pundak Naruto yang terdiam mengeras. "Maaf, ya, Naruto. Semoga kau beruntung."
Satu per satu teman-temannya mengugurkan semangat perjuangan Naruto. Lutut kakinya tiba-tiba lemas, dadanya sesak, ada sesuatu yang menakut-nakuti hatinya; sesuatu yang tak kasatmata yang tidak ia ketahui. Mungkinkah sesuatu tentang Sakura yang akan meninggalkan Jepang seperti apa yang Ino katakan benar terjadi. Denyutan di dadanya terasa menusuk.
"Na-Naruto-kun..."
Hanya tersisa Hinata dan Matsuri yang bertahan. Di sana, di ujung lorong sana, Naruto hanya bisa memandang punggung teman-temannya yang mulai menjauh. Harapannya untuk keselamatan dan kebahagian Sakura ikut pergi seiring langkah kaki mereka yang terus jauh dari pandangan.
Dan ini adalah akhir dari semua perjuangan Sakura.
Tiba-tiba tangan Naruto tersentak ketika merasakan getaran ponsel di kantong jeans-nya. Dengan kecepatan yang ia bisa, Naruto mengambil benda persegi panjang itu dan melihat nama penelepon.
Seketika jantungnya hampir copot karena saking terkejut. Kelopak matanya melotot hingga pupilnya mengecil.
"Naruto, kenapa?" Matsuri setengah berteriak, menghampiri.
Napas Naruto tercekat, beberapa kali mencoba untuk berbicara tapi mulutnya terlalu gugup. "Sa-Sasuke... Sa-Sasuke. Ini Sasuke-teme!"
Ketika Naruto berteriak, langkah kaki teman-temannya yang sudah dekat dengan ujung tangga terhenti. Semua menoleh, dengan ekspresi yang tidak jauh beda; tercengang, hampir menganga lebar karena setengah tak percaya.
"Ini Sasuke!" Naruto memberi tahu sambil berteriak, lalu secepat kilat mengangkat telepon sebelum sambungannya ditutup. "Sasuke Bodoh! Ke mana saja kau?"
Lalu semuanya menghela napas lega mendengar sapaan telak dari Naruto. Sasuke tidak menghilang, pria itu masih mengingat Sakura dan bayinya. Ini bisa menjadi salah satu celah yang memiliki kemungkinan besar untuk menyatukan Sasuke dan Sakura.
Jika di luar ruangan ricuh dengan Naruto yang terus mengomeli Sasuke habis-habian, maka di dalam sini Sakura tidak dapat mendengarkan apapun; karena ruangan ini sudah disetel khusus untuk kenyamanan pasien.
"Sakura, jangan pernah meninggalkan ranjangmu."
Ucapan ibunya membuat Sakura sadar tak sadar mengangguk paham. Wajahnya polos dan kosong, terlalu syok dengan keadaan, seperti orang yang hanya bisa mengiyakan dan terus menurut.
Secara fisik, sebenarnya Mebuki agak jijik ketika melepaskan kaus kaki dekil itu dari mulut Utakata. Namun, dari tangan atau kaki, ia lebih memilih membebaskan mulut Utakata terlebih dahulu karena semuanya bisa didapatan dari informasi verbal.
"Anak-anak itu mengeroyokku, Bibi!" ucap Utakata, mengusap dengan kasar bibirnya, lalu berludah di atas lantai. "Di sini ada petugas pembersih, aku tahu," tambah Utaka yang melihat raut tidak enak dari bibinya.
"Seharusnya kita bisa lebih cepat untuk pergi. Mereka tahu kalau sekarang Sakura sudah siuman, pasti ada yang memberi informasi."
Mebuki berjalan ke pintu yang sudah ditutup, menyeret kedua kopernya yang tidak sengaja ia tinggalkan karena anak-anak sialan itu.
"Biar kubantu, Bibi."
Utakata setengah berlari, menggantikan tugas Mebuki menyeret koper.
"Ibu, kita mau ke mana?" tanya Sakura—yang sejak tadi hanya bisa diam mengamati—kini wajahnya berubah khawatir karena rasa tidak enak tiba-tiba menyurak.
"Amerika," kata Mebuki. "Kau sudah tahu itu Sakura. Ayahmu mulai berpikir untuk membawamu ke sebuah pemukima sepi. Kau akan melahirkan di sana dan tinggal bersama Utakata."
Ibunya berbicara seperti itu adalah kehidupan yang indah dan jalan terbaik untuknya—Utakata memang pria tampan dan cukup baik sebenarnya—, tapi untuk Sakura itu adalah mimpi buruk.
Sekarang apalagi, pikirannya tiba-tiba kacau. Dari berbagai macam spekulasi, Amerika adalah hal yang paling ditakutinya.
Sakura merasakan seperti ada batu—dengan permukaan yang tajam—menghatam ke titik di mana hatinya berada. Ia tidak mau pergi dari Jepang; ini adalah tempat di mana bayinya akan tumbuh menjadi anak baik tanpa mengingat masa lalu orangtuanya terdahulu. Mereka akan bahagia bersama, menjadi keluarga kecil dengan hidup penuh kesederhanaan, walau harus tinggal di desa kumuh. Yang penting tetap di Jepang.
Rasanya langit-langit kamar terasa berputar-putar, ada sesuatu di perutnya yang terus menendang-nendang. Itu pasti bayinya yang sekarang sudah berusia sekitar 7 bulan. Sakura tahu, karena setiap saat ia akan terus mengingat hari di mana bayinya nanti akan lahir.
Dan tentu saja, bayinya harus lahir di Jepang, bersama Sasuke di sampingnya nanti.
"Aku tidak mau." Suara Sakura sangat pelan, berusaha untuk tidak terdengar menentang ibunya.
"Bahkan sampai kita akan mengganti status kewarganegaraan kita nanti?" tanya Mebuki, yang sekarang benar-benar tampak kesal. "Kau koma selama 3 hari, dan syukurnya siuman tepat saat keberangkatan kita besok."
Sakura membulatkan matanya. Ibunya berkata seolah itu tidak mungkin terjadi. Pertama tentang status kewarganegaraan, sebenarnya secara hakikat Sakura belum bisa menggantinya karena belum tepat 18 tahun, itu cukup untuk mengundur waktu. Tapi, masalah koma dengan kenyataan ia mengandung anaknya adalah tamparan telak untuk Sakura.
Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada calon anaknya. Dengan segala kebodohan yang Sakura lakukan, stress berkepanjangan, dan kesehatan yang menurun, mungkinkah bayinya tetap normal saat lahir ke dunia.
"Ba-bayiku." Sakura hampir menangis, suara isakan kembali terdengar.
"Jangan khawatir, Sakura," Mebuki menenangkan. "Bayimu masih normal, Dokter bilang bayinya adalah perempuan."
Tiba-tiba ada getaran di hatinya yang membuat Sakura merasa terlalu senang hingga ingin menangis; bukan karena kesedihan yang melandanya sekarang, tapi air mata yang keluar di sudut matanya adalah bukti dari kebahagiaan.
Ini seperti keajaiban di mana ada kehidupan di dalam perutnya. Seorang bayi perempuan, berdara Uchiha hasil dari pembuahannya bersama Sasuke, yang sebentar lagi akan melihat dunia saat musim semi.
Itu berarti Sakura akan terus berjuang untuk terus bersama Sasuke. Tanpa mentor yang baik seperti seorang ayah, anaknya tidak akan tumbuh lebik baik.
"Mungkin aku bisa di sini, menikah dengan Sasuke-kun, Bu," ucap Sakura, ia tersenyum, mencoba meyakinkan ibunya. "Aku tidak akan merepotkan Ibu. Aku janji—"
"Itu tidak akan pernah terjadi!" potong Mebuki, berjalan mendekati Sakura dengan kemarahan yang membuncah. "Sakura, jangan sampai aku menamparmu untuk yang kedua kalinya." Seketika suaranya berubah datar.
Senyum Sakura langsung memudar; bibirnya terbuka, wajahnya syok dengan apa yang diucapkan ibunya. Hanya tatapan nanar yang dapat ia ekspresikan. Penglihatannya terasa semakin memudar karena air mata yang menggenakan di pelupuk menghalangi pandangannya.
Seberapa banyak kadar yang dibutuhkan ibunya hingga tidak menyetujui Sasuke sebagai ayah biologi bayi yang dikandung Sakura. Lagi pula sebentar lagi pria itu akan datang ke sini; menjemput bayi mereka dan bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Sakura yakin.
"Kau sudah bisa bergerak, kan, Sakura?" tanya Mebuki, yang kini mempersiapkan pakaian Sakura. "Kita akan ke rumah untuk mengecek apakah masih ada barang yang tertinggal."
Tidak ada respon yang Sakura berikan meski perkataan ibunya terdengar jelas. Kepalanya menunduk begitu dalam, berusaha menangis tanpa suara. Ini akhir yang tidak adil untuk dirinya. Tuhan begitu kejam.
"Semua akan baik-baik saja, Sakura." Utakata berkata lembut, mengelus pelan puncak kepala Sakura. "Jika kita bersama, itu akan lebih baik."
Utakata berkata seperti itu adalah jalan satu-satunya. Bahkan Sakura sangat ingin menampar wajah berlagak polos milik kakak sepupunya ini. Ia benar-benar membenci Utakata sekarang, sampai-sampai ingin menonjok wajah itu sepuasnya.
Seandainya saja Utakata tidak perlu pergi ke Jepang—tinggal bersama di rumahnya hingga memberi tahu tentang kehamilan Sakura—, cerita akan berakhir di mana Sasuke akan melamarnya ketika lulus nanti.
"Baiklah. Sekarang kau harus mengganti bajumu, Sakura. Dokter membolehkan karena kesehatanmu juga sudah membaik." Utakata memberi tahu, tangannya masih belum bosan mengelus puncak kepala Sakura.
Utakata adalah pria yang paling egois.
Satu kali suaran isakan kembali lolos. Sakura tidak bisa menahan tangisannya. Kepalanya menunduk semakin dalam, tangannya begitu erat mencengkeram selimut rumah sakit, hatinya begitu hancur.
Ini adalah hidupnya. Sebuah cerita di mana Sakura yang akan melewatinya; memilih jalannya sendiri sesuai apa yang ia inginkan, bukan yang orang lain ingin lihat.
Adakah seseorang yang bisa menggantikan posisi Sakura? Ia ingin sekali mengakhiri kisah tragisnya sekarang. Ini hanyalah karena kejaiban di dalam perutnya yang membuat Sakura berjuang untuk bertahan sampai saat ini.
Dalam suara tangisan pelan milik adik sepepunya, Utakata hanya tersenyum, mendekatkan bibirnya di dekat telinga Sakura.
"Abaikan saja pria itu, Sakura. Lupakan Sasuke Uchiha."
...
...
...
...
...
Sekarang lupakan kebodohanmu sebagai seorang pria. Kalau kau masih ingat bagaimana susahnya mendapatkan apa yang sudah kaumilik, lalu lepas begitu saja semudah menutupi kebohonganmu, maka kejar dia seperti dirimu pertama kali menatap matanya yang bersinar cermelang. Kejar Sakura, dan rengkuh bayimu, Sasuke.
Terima kasih, Kakak.
Terima kasih untuk semua nasihat yang diberikan Itachi. Meskipun keluarganya sudah mengetahui Sasuke menghamili Sakura, dan bagaimana kemarahan besar dari ayahnya sampai ingin membunuh anak bungsunya sendiri, Sasuke akan tetap mengikuti saran kakanya.
Sasuke kabur dari rumah dengan bantuan Itachi. Ia tidak mau dipindahkan ke Eropa dan menjalani kehidupan bodoh di sana. Sakura jiwanya, dan bayinya adalah segalanya. Dua hal yang tidak akan pernah Sasuke tinggalkan. Lagi pula, ia tidak akan pernah mau ada perselisihan antara pengambilan hak asuh karena bayinya memiliki darah Uchiha.
Sebentar lagi Sasuke akan melihat wajah baik-baik saja milik Sakura. Meskipun Naruto mengomelinya dengan kata-kata kasar saat memberi tahu di mana alamat rumah sakit tempat Sakura dirawat, Sasuke bahkan sangat bahagia karena ibu dari bayinya sudah pulih, terutama keadaan calon anaknya yang tetap normal.
Tentu saja karena bayinya adalah Uchiha selanjutnya. Bayi mereka akan menjadi penyokong untuk ibunya agar tetap bertahan. Bayi mereka adalah harapan dan mimpi yang sebentar lagi menjadi kenyataan.
Bayi mereka adalah segalanya.
Sasuke sampai pada gerbang rumah sakit. Napasnya tersekat karena berlari terlalu cepat dari halte bus, keringat membanjiri keningnya dan sebagian di tubuhnya. Ia menelan air liurnya sendiri, bersandar pada gerbang untuk sedikit menghirup udara.
Ia kembali mengingat hari di mana pertama kali mata mereka bertemu, dan saat itu Sasuke telah menemukan rumah untuk hatinya; di mana ada Sakura yang akan tersenyum ketika Sasuke merasa lelah dengan semua beban pekerjaan, dan kehangatan dari pelukan anaknya menjadi salah satu yang ia rundukan.
Itu adalah masa depannya bersama Sakura kelak. Maka dari itu, Sasuke kembali berlari meraih miliknya.
"Sakura..."
Langkah kakinya tiba-tiba melambat, matanya terkejut melihat gadisnya di depan rumah sakit; bersama koper dan barang bawaan yang dibawa oleh kakak sepupu laki-laki Sakura, bahkan bibi Mebuki juga ada di sana. Jadi, mungkin ini akan lebih mudah agar Sasuke segara menyatakan keinginannya melamar Sakura.
Kakinya kembali melangkah, berlari ke arah Sakura, dan tentu saja sekaligus menemui masa depan mereka.
Untuk kali ini, setelah beberapa hari berlalu dengan menyeramkan, mata mereka kembali bertemu.
"Sa-Sasuke-kun..."
Sakura menutup mulutnya, tangannya bergetar, rautnya menyiratkan rasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi, seseorang dengan keringat yang penuh di wajahnya itu memang benar Sasuke.
Sasuke Uchiha, ayah dari anaknya.
"Sasuke-kun," panggil Sakura pelan, mencoba untuk keluar dari ilusi bodoh ini. Matanya yang sembab kembali berkaca-kaca, memandang dengan senyum haru pria di depannya. Tanpa pikir panjang, memastikan jika khayalannya memang nyata, Sakura berlari secepat yang ia bisa dan memeluk tubuh lelaki yang dirindukannya. "Sasuke-kun!"
Kebenarannya ini adalah nyata. Tubuh Sasuke masih hangat seperti pertama kali ia merasakan sentuhannya.
"Sakura."
Sasuke membalas pelukan gadis yang dicintainya. Menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Sakura dan mencium seberapa banyak bau yang ia inginkan. Sasuke merasa berada di rumah sebenarnya.
Mereka melupakan jika Mebuki dan Utakara sangat syok hingga tidak bisa bergerak ketika melihat Sasuke masih berani menunjukkan batang hidungnya.
"Sasuke-kun, aku sangat merindukanmu. Bahkan sampai kapanpun aku sangat merindukanmu."
Sakura berbicara dengan bibir yang bergetar, air mata kembali mengalir, semakin deras ketika mereka merenggangkan pelukan hanya untuk menatap wajah masing-masing.
"Sasuke-kun, aku mencintaimu," ucap Sakura dalam isak tangisnya. Tangan mungil itu mengelus pelan garis rahang miliki pria yang sangat ingin ia sentuh selamanya. Sakura memelankan suaranya ketika berkata, "Aku sangat mencintaimu, bahkan atas segalanya yang telah terjadi. Sampai kapanpun."
"Aku tahu," balas Sasuke, menutup matanya, merasakan bagaimana tangan Sakura yang lembut mengusap permukaan pipinya. "Bahkan sampai selamanya."
Sakura mengangguk, ia tersenyum bahagia meskipun isak tangis terus keluar. Sebelah tangannya yang bebas menarik tangan Sasuke, lalu menempelkannya di permukaan perut Sakura yang sekarang sudah menonjol.
Bayinya terus menendang-nendang sejak pertama—untuk kesekian kalinya dalam penantian duka—melihat wajah Sasuke. Karena, mungkin saja sudah sekian lama bayinya ingin disentuh oleh ayahnya, hingga terlalu senang sampai-sampai Sakura bisa merasakannya.
"Bayi kita perempuan," ucap Sakura, kembali menangis sambil tersenyum. "Bayi kita perempuan, Sasuke-kun. Kita akan segera melihatnya."
Sasuke tercengang untuk beberapa saat. Bibirnya sedikit terbuka, seperti melihat secara nyata keajaiban yang terjadi. Sebentar lagi bayi mereka akan lahir, dan ketika hari itu akan datang Sasuke sudah menjadi seorang ayah. Ini sebuah anugrah.
"Dia pasti cantik seperti mamanya ketika sedang tidak menangis," ucap Sasuke, mengelus beberapa kali perut di mana letak bayinya berada, lalu beralih membersihkan air mata yang membasahi pipi Sakura. "Berhentilah menangis."
Sakura menggeleng kuat. "Tapi aku bahagia."
Sasuke terkekeh, tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang sekarang banyak mengelilingi, ia kembali memeluk Sakura dengan rasa kebahagian yang semakin membuncah setiap kali mengingat bayinya adalah perempuan. "Jangan khawatir, tidak ada yang bisa memisahkan kita selama aku masih ada di sini," bisiknya.
"Cukup sudah!" Mebuki memotong adegan pelukan yang membuatnya ingin sekali membunuh bocah Uchiha laki-laki itu. "Utakata, bawa Sakura pergi," ucapnya.
"Baiklah, Bibi," sahut Utakata, yang langsung menarik kedua lengan Sakura dengan kasar, melepaskannya dari pelukan Sasuke.
Sakura memekik keras karena lengannya terasa perih. "Apa yang kau lakukan, Utakata? Lepaskan aku, cepat!"
"Lepaskan Sakura!" Sasuke menggerang, matanya berkilat nyalang, hampir berubah menjadi warna merah. "Cepat lepaskan Sakura! Atau aku akan—"
"Brengsek kau!" Mebuki menampar pipi Sasuke sekuat yang ia bisa hingga menyisakan memar. "Kau hanyalah bocah brengsek yang menghamili anak perempuanku satu-satunya!" teriaknya kencang, air mata keluar seiring jeritan frustasinya.
Sasuke langsung bungkam, bola matanya berubah hitam pekat dan kelam, kepalanya menunduk dengan kedua tangan yang saling terkepal erat.
"Tidak! Tidak! Aku ingin bersama Sasuke-kun! Aku ingin hidup bersamanya!" Sakura ikut berteriak, tubuhnya menggeliat dengan kasar di antara kurungan Utakata, berusaha kuat untuk lepas dari kakak sepupunya yang lebih brengsek ini.
"Sudah cukup untuk mengubur semua mimpi putriku. Pergi dari kehidupannya dan lupakan semua yang ada," ucap Mebuki sambi tersedu-sedu, kali ini ia mengeluarkan semua pikulan yang menjerat hatinya. Ia menangis seperti ia sudah lama tidak melakukannya. "Cepat pergi dari kehidupan Sakura!"
Sasuke tidak akan pernah bisa melakukannya sekalipun ibu Sakura memenggal kepalanya. Ia tetap membeku di tempatnya, berdiri kaku dengan kepala yang menunduk.
"Ibu, tidak semuanya adalah kesalahan Sasuke-kun! Tolong jangan membentaknya, jangan perlakukannya seperti itu. Ibu..." Sakura terisak semakin kencang. Tubuhnya terasa lemas dan lunglai, karena seluruh tenaganya ia gunakan untuk melepaskan diri dari Utakata. Sakura sudah tidak berdaya.
Utakata mencengkeram dengan kuat pergelangan Sakura, lalu menariknya menghampiri Mebuki. "Sudah cukup. Bibi malah akan malu dengan semua orang yang ada di sini. Biarkan si Brengsek itu menjadi pecundang."
Karena apa yang dikatakan Utakata barusan adalah benar, Mebuki hanya bisa menghela napas dan menurunkan kadar kemarahannya. "Apa taksi-nya sudah datang?" tanya kepada Utakat.
"Sudah dari tadi, ada di depan pagar rumah sakit."
Mebuki mengangguk. "Ayo, tinggalkan bocah sialan ini," ucapnya, berlalu pergi sambil menyeret koper tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sasuke.
"Sasuke-kun!" Sakura ingin meraih tangan yang terkepal itu, tinggal sedikit lagi ia menggapainya. Tapi, tarikan kasar dari Utakata memaksa Sakura menjauhi Sasuke yang masih terdiam dan menunduk. "Sasuke-kun... aku tidak ingin berpisah denganmu. Tolong."
Di dalam hati, Sasuke menertawai dirinya sendiri yang begitu bodoh karena tidak bisa berkutik. Bahkan, saat Sakura kembali meninggalkannya, ia tidak dapat melakukan apa pun yang bisa menyelamatkan gadisnya.
Sasuke memang pecundang; pria yang brengsek. Ia hanya bisa teridam seperti orang bodoh ketika ibu Sakura menamparnya di depan umum. Ia hanya bisa bungkam ketika ibu Sakura mengeluarkan kalimat yang memukul hatinya. Ia hanya bisa terdiam ketika Sakura menangis dan meninggalkannya pergi.
Tangan Sasuke yang terkepal tiba-tiba bergetar karena tekanan yang ia berikan begitu kuat. Ia tidak boleh melihat Sakura menangis karena meninggalkannya. Sakura tidak boleh meneteskan air mata saat mengucapkan selamat tinggal. Sakura hanya boleh tersenyum ketika melepaskannya, dan mereka akan berpisah dengan tenang sebagai teman.
Tapi, jika Sakura masih tetap menangis dan kehidupan gadis itu tidak terjamin tanpa Sasuke, maka jangan salahkan dirinya jika Sakura hanya akan bahagia bersamanya.
Sasuke harus meyakinkan ibu Sakura jika anak gadisnya bisa bahagia dengan pria berusia 17 tahun. Sasuke akan menjadi pria untuk Sakura, dan tentu saja seorang ayah untuk anaknya.
Di antara orang-orang yang terus mengerumuninya dengan suara bisikan dan desas-desus, Sasuke berjanji untuk meyakinkan dirinya. Ia akan membuktikan segalanya, dan semua orang ini akan melihatnya bersama Sakura di altar pernikahan.
Ini masih sempat untuk Sasuke kembali berjuang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
Terima kasih untuk yg sudah mau menunggu. Sampai bertemu di chapter 7 bagian 2 (last chapter) dan epilog. Endingnya sudah dipikirkan jauh2 hari dan masih tetap sama.
Jika berkenan, masih mau memberi review-nyaa?^-^
.
AiSiYA
