Disclaimer © Tite kubo
(Bleach bukan punya saya)
…
Un amore
by
Ann
…
Warning : AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo, Gaje (Sesuai penilaian masing-masing individu)
Nggak suka? Bisa tekan 'Back' atau 'Close'
dan
Selamat membaca…
…
Ini tentang apa yang kurasakan padamu. Tentang cinta yang tumbuh di hatiku. Tentang keinginan untuk memonopolimu, menjadikanmu hanya milikku. Tentang dia yang ingin kusingkirkan dari hatimu.
…
Chapter 7 : Lebih dari teman
…
Ciuman itu manis dan memabukkan, membuat Rukia terhanyut di dalamnya. Ia lupa jika saat ini ia berada di depan ratusan pasang mata yang menatapnya, sebagian dengan malu-malu. Bagaimana tidak jika mereka disajikan tontonan ciuman panas seperti itu.
Ciuman itu berakhir saat Ichigo melepaskan bibirnya dari bibir Rukia. Menjauhkan gadis itu, namun kedua tangannya masih berada di kedua bahu gadis itu, membuat mereka berjarak hanya sejangkauan tangan. Rukia tertunduk malu saat ciuman itu berakhir, matanya menatap jalinan jemarinya sendiri. Tepuk tangan yang membahana membuatnya semakin tak bisa mengangkat kepalanya.
"Yang tadi itu hebat sekali!"
Seruan Kanonji sama sekali tak membantu malah membuat wajah Rukia memerah sempurna. Diam-diam diliriknya Ichigo. Ternyata pria itu tak sedang menatapnya melainkan menatap seseorang yang duduk di salah satu meja. Rukia mengikuti arah pandangan Ichigo dan hatinya mencelos seketika. Inoue Orihime. Pada gadis itulah tatapan Ichigo tertambat, membuat Rukia tersadar apa alasan yang mendasari perubahan keputusan Ichigo yang tiba-tiba. Ciuman tadi ternyata untuk membuat mantan kekasih Ichigo itu cemburu. Segera saja perasaan malu Rukia berganti menjadi amarah. Jika menurutkan hati ingin sekali Rukia segera turun dari podium dan melesat keluar. Tapi ia tahu jika melakukan hal itu, orang-orang hanya akan menganggap dirinya pergi karena malu.
"Sudah ditentukan…"
Perhatian Rukia teralih pada Kanonji begitu pun Ichigo, yang kini sudah melepaskan tangannya dari bahu Rukia dan berdiri di samping gadis itu, serta para tamu undangan.
"Sudah kutentukan, yang menjadi raja dan ratu pesta malam ini adalah mereka berdua. Rasanya akan menjadi anti-klimaks jika permainan ini terus dilanjutkan, karena pastinya tidak akan ada yang lebih hot dari pasangan kekasih ini."
Segalanya berlalu begitu cepat setelah kata-kata Kanonji. Dua orang penari latar yang sejak tadi membantu Kanonji muncul dan memakaikan atribut raja dan ratu pada Ichigo dan Rukia. Ichigo nampak sangat tak menyukai atribut yang dipasangkan padanya, kelihatan dari wajahnya yang memberengut, sedang Rukia malah terlihat senang bukan karena ia dipasangi atribut ratu, yang kalau boleh jujur sangat norak, tapi karena ia mendapatkan sebuah boneka chappy berwarna merah muda yang merupakan ikon kesukaannya. Tapi kesenangan itu berlangsung singkat karena saat ia menoleh dan bertemu pandang dengan Ichigo, kemarahannya kembali muncul.
…
Ichigo melirik gadis yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Gadis Kuchiki itu menjadi sangat pendiam, hanya dua kata yang Ichigo dengar keluar dari mulut gadis itu. "Iya" saat Ichigo mengajaknya pulang dan "Baik" saat Ichigo menyuruhnya menunggu sebentar kala ia pamit sebentar untuk menerima telepon, selebihnya Rukia hanya diam, diam dan diam. Membuat Ichigo berkesimpulan bahwa Rukia marah padanya. Dan kemarahan itu pastinya disebabkan oleh apa yang dilakukannya di pesta tadi.
"Apa kau marah?" tanya Ichigo hati-hati. Ia memelankan laju mobilnya hanya untuk memperpanjang waktu bersama Rukia. Ia tak ingin malam ini berakhir tidak menyenangkan, terutama bagi Rukia. Jujur saja, bagi Ichigo malam ini memang tak terlalu menyenangkan. Pertama karena ia bertemu Inoue di pesta, lalu permainan Kanonji yang membuatnya melakukan sesuatu yang kini harus dipertanggungjawabkannya. Sebenarnya bisa saja ia menolak melakukan tugas dari permainan tadi, tapi saat matanya bertemu dengan pandangan Inoue, hal itu membuatnya nekad. Ciuman itu murni untuk membuat Inoue cemburu, awalnya memang begitu. Namun, setelah bibir Ichigo bersentuhan dengan bibir Rukia. Tak ada yang lain selain rasa manis yang ia kecap di bibir gadis itu. Bibir itu memabukkan, membuatnya lupa alasan utama ia melakukan ciuman itu. Andai saja mereka tak berada di tengah orang banyak, mungkin ciuman itu tidak akan berakhir sesingkat itu bahkan mungkin berlanjut ke hal lain. 'STOP!' sebuah peringatan berdentang di kepala Ichigo. Membuatnya kembali fokus untuk meminta maaf pada Rukia.
"Tidak."
Itu adalah kata ketiga yang diucapkan Rukia padanya setelah mereka turun dari podium. "Kau pasti marah," ujar Ichigo.
Rukia mendelik Ichigo lalu membuang muka, seolah pemandangan di luar lebih menarik daripada pria yang duduk di balik kemudi itu.
"Kalau tidak marah, kau tidak mungkin membuang muka seperti itu."
Rukia tak menjawab, gadis itu lebih memilih menganggap tak pernah mendengar apa yang Ichigo katakan.
"Aku minta maaf," ucap Ichigo.
Rukia memejamkan matanya, berperang dengan nuraninya sendiri yang menyuruhnya memberi maaf pada pria berambut jingga di sebelahnya. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika Ichigo boleh memanfaatkanmu, Rukia? Lalu kenapa sekarang kau marah? Ichigo hanya memanfaatkan sesuatu yang diberikan padanya.
Rukia mendesah pasrah. Ia masih marah tapi bukan kepada Ichigo melainkan pada dirinya sendiri. Dirinya yang begitu bodoh telah melibatkan diri diantara Ichigo dan Inoue. Jatuh cinta itu merepotkan, pikirnya. Tapi ia sudah terlanjur mencintai Ichigo dan ia belum mau menyerah selagi masih ada kesempatan untuk mendapatkan pria itu. Yang harus ia lakukan sekarang adalah bersabar dan berusaha mengenyahkan Inoue dari hati Ichigo. Tugas yang mudah diucapkan tapi sulit dalam pelaksaannya. Amat sangat sulit.
"Aku tahu, aku seharusnya tak melakukan hal itu. Itu tindakan kurang ajar dan kau pantas marah padaku. Aku hanya berharap kau mau memaafkanku." Suara Ichigo mengeluarkan Rukia dari alam pikirannya.
Rukia berpaling pada Ichigo, menatap pria itu sebentar lalu sebuah senyum jahil muncul di bibirnya. Sepertinya sedikit menjahili sulung Kurosaki itu akan membuatnya tidur nyenyak malam ini. "'Hal itu' yang kau maksud itu apa, Ichigo?"
Ichigo melirik Rukia lewat kaca spion. "Apa masih perlu kau bertanya?"
"Kau harus lebih spesifik, Ichigo," ujar Rukia jahil.
Ichigo mendengus. "Baiklah, nona Kuchiki. Aku ingin minta maaf karena aku sudah menciummu," ujarnya.
Sudut bibir Rukia terangkat sedikit, sangat tipis sehingga Ichigo tak menyadarinya. "Sebenarnya…," ujarnya lambat-lambat. "Aku tidak marah kau menciumku." Ichigo menoleh cepat pada Rukia, jelas ia terkejut dengan apa yang dikatakan Rukia. "Malah bisa dibilang aku menyukainya." Kalimat terakhir Rukia benar-benar memberi efek serius pada Ichigo, karena tanpa sadar pria itu menginjak rem dan mobil yang dikemudikannya otomatis berhenti tepat di tengah jalan dan langsung mengundang keributan karena mobil-mobil di belakang langsung membunyikan klakson mereka. Sementara Rukia malah terkikik melihat tampang melongo Ichigo dan wajah pria itu yang merah padam.
"Sial, kau mengerjaiku, Rukia," umpat Ichigo sedetik kemudian. Lalu pria itu langsung memacu kembali mobilnya. Sedang tawa gadis di sebelahnya semakin menjadi.
"Bisakah kau hentikan tawamu itu, nona Kuchiki?" pinta Ichigo dengan nada sebal. Tangannya dengan lincah memutar kemudi untuk berbelok ke pelataran parkir apartemen Rukia.
Rukia berusaha meredam tawanya namun usahanya baru berhasil kemudian. Sesaat sebelum Ichigo membukakan pintu mobil untuknya. "Terima kasih dan maaf," ucap Rukia. "Tapi kau tadi benar-benar lucu, Ichigo." Rukia kembali terkikik.
Ichigo memutar bola matanya. Sebenarnya ia sebal ditertawakan seperti itu tapi itu lebih baik daripada Rukia mendiamkannya. "Kau boleh menertawakanku sepuasmu, Rukia. Lebih baik mendengar tawamu meski menjengkelkan, daripada didiamkan olehmu," ujarnya sambil menggandeng Rukia memasuki apartemen.
Tawa Rukia terhenti seketika dan gadis itu menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Ichigo. "Kumohon kau jangan marah lagi, Rukia," pinta Ichigo. Rukia menatap Ichigo sebentar sebelum berkata, "Sebenarnya aku tidak marah padamu, Ichigo. Aku marah pada diriku sendiri."
Sebelah alis Ichigo terangkat. "Apa yang _" sebelum Ichigo sempat melanjutkan kalimatnya Rukia sudah lebih dulu menyela.
"Aku marah pada diriku yang tidak bisa menepati janjiku sendiri. Aku pernah mengatakan padamu bahwa kau boleh memanfaatkanku, itu sebuah janji yang kubuat padamu. Tapi malam ini, saat kau memanfaatkanku untuk membuat Inoue cemburu aku malah marah padamu. Seharusnya aku tidak boleh begitu, seharusnya aku memegang kata-kataku. Maaf, Ichigo, ternyata aku tidak bisa menepati janjiku." Ichigo membuka mulutnya hendak menyangga tapi Rukia mengangkat tangannya meminta pria itu menunggu ia menyelesaikan kata-katanya. "Aku marah saat tahu kau menciumku karena ingin membuat Inoue cemburu, rasanya aku ingin berteriak padamu agar kau berhenti melihat padanya dan memandangku." Rukia diam sesaat sebelum melanjutkan, "Aku menyukaimu, Ichigo."
…
"Ada yang salah, Hime?"
Pertanyaan itu menyentak Inoue dari lamunannya dan menoleh cepat pada pria yang duduk di sebelahnya dalam sebuah limusin.
"Maaf, Aizen-san," ucap Inoue.
"Kenapa meminta maaf?"
"Karena saya tadi melamun," jawab Inoue.
"Kau sangat pendiam, ada sesuatu yang terjadi?"
Inoue menggeleng pelan. "Saya tidak apa-apa, hanya sedikit lelah," ujarnya. "Akhir-akhir ini saya mendapat banyak pekerjaan dan semua itu berkat bantuan anda. Saya sangat berterima kasih untuk semua yang anda lakukan untuk saya."
"Kau tidak bisa membohongiku, Hime," kata Aizen.
"S-saya tid-"
"Siapa yang kau pikirkan?"
Inoue menatap Aizen. "M-maksud anda?"
"Kau tahu yang kumaksud," jawab Aizen sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Saya tidak mengerti Siapa yang anda maksud, Aizen-san."
"Aku tahu hubunganmu dengan Kurosaki muda itu, Hime."
Inoue memucat lalu ia menunduk dalam menyembunyikan wajahnya. "Hubungan kami sudah berakhir," ujarnya kemudian.
"Tapi kau masih menyukainya, bukan?" Inoue melirik Aizen, pria itu terlihat santai tapi nada suaranya membuat Inoue begidik. Ia tahu jika ia memberi jawaban yang salah akan berakibat buruk bagi dirinya. Ia mengangkat wajahnya, menatap Aizen lalu berkata dengan tegas. "Tidak."
Aizen menatap Inoue, menimbang akan memercayai kekasih barunya itu atau tidak. Sebelum ia membuka mulutnya, Inoue memberinya sebuah senyuman sembari berkata lagi, "Kurosaki adalah masa lalu. Yang saya sukai sekarang adalah anda, Aizen-san." Inoue langsung merangkul lengan Aizen dan bergelayut manja pada pria itu.
"Aku percaya padamu, Hime," kata Aizen.
"Terima kasih, Aizen-san."
"Temani aku malam ini, Hime."
Inoue menelan ludah. Ia tak bisa menolak, ia hanya bisa dan boleh memberikan satu jawaban. "Tentu saja."
…
Biasanya pagi hari selalu disambut ceria oleh putri pasangan Byakuya dan Hisana Kuchiki. Rukia selalu menyukai pagi, menyukai udara sejuk yang masuk ke paru-parunya. Menyukai sinar mentari yang mengintip masuk dari gorden kamarnya. Tapi untuk hari ini Rukia tak bisa menyambut pagi dengan ceria, ia tak bisa tersenyum saat menatap mentari yang mulai naik ke paraduannya ataupun bersenandung saat menyeduh kopi dan menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya sendiri. Ia terlalu resah dan sibuk meruntuki diri sendiri sampai-sampai ia berangkat tanpa memakan apa pun hanya segelas air putih. Kejadian tadi malam memenuhi kepalanya, bagaimana dengan embernya mulutnya mengatakan hal itu. Hal yang terlalu pagi untuk ia akui. Tiga kata yang mungkin akan membuat Ichigo mengambil langkah seribu demi menjauhinya.
"Bodoh… bodoh… bodoh…!"
"Ada yang salah, Kuchiki?"
Pertanyaan itu membuat Rukia mendongak. Ia mendapati Ishida berdiri di depan meja kerjanya dan menatapnya khawatir. Ia hanya menggeleng pelan, "Tidak ada yang salah," bohongnya.
Rukia merasa dirinya mengkerut di bawah tatapan tajam Ishida. Pria itu nampak sedang menelitinya, mencari sesuatu, entah apa. "Jika kau butuh teman bicara, Kuchiki. Kau bisa mencariku," kata Ishida sebelum pria itu berbalik dan kembali ke meja kerjanya. Rukia memandangi Ishida yang kembali sibuk dengan komputer dan berkas-berkas di mejanya. 'Mungkinkah apa yang dikatakan Ichigo tentang Ishida benar?' Pikirnya.
"Tidak mungkin." Rukia menggeleng keras.
"Apa yang tidak mungkin, Rukia?"
Lagi-lagi ucapan yang Rukia tujukan untuk diri sendiri terdengar oleh orang lain dan kali ini Momo Hinamori lah yang mendengarnya.
"Bukan apa-apa, Momo," jawab Rukia.
"Itu tadi bukannya bukan apa-apa, Rukia," ujar Momo sembari meletakkan sebuah map di atas meja Rukia. "Apa yang sedang kau pikirkan, Rukia? Apa kau punya masalah?"
Rukia menatap Momo sejenak, lalu tertunduk lemas.
"Mungkin dengan menceritakannya kau akan merasa lebih baik," Momo menawarkan.
"Tadi Ishida menawarkan diri menjadi teman bicaraku, sekarang kau. Apa di wajahku terlihat jelas jika aku sedang punya masalah?"
"Sebenarnya tidak juga, tapi bagi kami yang mengenalmu dengan baik akan terlihat jelas," jawab Momo. "Sampai ketemu istirahat makan siang, Rukia. Saat itu aku akan memasang telingaku dengan baik untuk mendengarkanmu."
…
"Rumit."
Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Momo setelah Rukia menguraikan semua kisahnya pada gadis bercepol itu.
"Apa kau pikir aku bodoh?" Rukia bertanya. Ia tak menatap Momo, iris violetnya sibuk menatap piring berisi salad yang tak kunjung dimakannya, hanya diaduk-aduk tak jelas sejak tadi. Padahal biasanya salad buatan Kenpachi, koki di restoran Gotei 13, tak pernah Rukia lewatkan.
Momo menggeleng pelan. "Orang yang sedang jatuh cinta cenderung melakukan hal-hal yang diluar dugaan, nekad dan terkadang lucu, tapi tidak bodoh. Kau tidak bodoh, Rukia, hanya saja kau melakukan sesuatu tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Hatimu yang berbuat bukan otakmu."
"Jadi, apa yang harus kulakukan?" bisik Rukia. Ia sudah tak tahu apalagi yang harus ia perbuat. Terlalu bingung bagaimana ia akan menghadapi Ichigo setelah apa yang ia katakan semalam.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Momo balik bertanya.
"Aku bertanya padamu karena aku tak tahu apa yang harus kulakukan," sahut Rukia.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan bukan apa yang harus kau lakukan," ujar Momo. "Kau menyukainya, kan? Ingin selalu berada didekatnya, ingin dia melihatmu dan mendapatkan tempat di hatinya, itu kan yang kau inginkan?" Rukia mengangguk-anggukan kepalanya. "Jadi, itu yang harus kau lakukan. Perlihatkan padanya perasaanmu, biarkan dia melihat kesungguhanmu, tunjukkan kalau kau lebih baik daripada nona Inoue itu dan rebut hatinya."
"Tapi…"
"Bersemangatlah, Rukia. Aku yakin kau pasti bisa membuat Kurosaki menyukaimu, kau punya kemampuan untuk itu," serobot Momo penuh semangat. Semangat Momo dengan mudahnya menular pada Rukia, membuat gadis yang tadinya gusar dan resah kini menjadi penuh tekad dan semangat.
Rukia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Momo lalu memeluk erat sahabatnya itu, tanpa memedulikan pandangan tertarik dari pengunjung restoran lainnya. "Terima kasih, Momo," ucapnya.
…
Rukia menghabiskan hari itu dengan tumpukan berkas dan komputernya. Begitu sibuk sampai tak menyadari sudah hampir pukul enam sore. Rukia merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku karena berjam-jam duduk dan menatap komputer. Lalu ia membereskan mejanya dan mematikan komputer, bersiap pulang.
"Kau belum pulang, Ishida?" tanyanya pada Ishida yang masih duduk di meja kerjanya dengan ponsel di tangannya. "Aku tidak mungkin pulang sebelum kau pulang," jawabnya tak acuh.
Satu lagi Isyarat yang membuat Rukia bertanya-tanya apakah Ishida memang menyukainya.
"Kau tidak perlu melakukan itu, Ishida," ujar Rukia sembari mematikan stop kontak di bawah mejanya.
"Melakukan apa?"
"Apa yang kau lakukan untukku," jawab Rukia. "Kau tidak perlu menungguiku, aku bukan tanggung jawabmu."
"Bagimu tidak, bagiku iya," sahut Ishida.
"Dan apa artinya itu?" tanya Rukia bingung.
Sebelum sempat mendengar jawaban Ishida ponsel Rukia berbunyi. Tanpa melihat layar ponselnya Rukia sudah tahu siapa yang menelponnya, karena lantunan ringtone itu hanya dipasangnya untuk sebuah kontak di ponselnya. Kontak milik Kurosaki Ichigo.
"Kenapa tidak dijawab?" terdengar suara Ishida yang penasaran karena Rukia tak kunjung mengambil ponselnya untuk menjawab panggilan itu.
"Akan aku jawab," sahut Rukia sembari meraih ponselnya namun tak segera menjawab panggilan itu. Ia masih belum siap bicara dengan Ichigo. Tak tahu apa yang harus ia katakan pada pria itu. Tekad dan semangatnya tadi siang tidak lantas memberinya kemampuan untuk menyusun kata-kata yang tepat untuk diucapkan pada Ichigo. Dan pekerjaannya yang menumpuk hari ini membuatnya tak sempat memikirkan kalimat apa yang akan dikatakannya pada Ichigo.
"Ada apa, Kuchiki? Kau tidak mau menjawab telepon itu?" Ishida bertanya lagi dan kini pria itu sudah berdiri dan melangkah mendekati Rukia. "Memangnya telepon dari siapa?" Ishida kini sudah berdiri di depan Rukia.
"Bukan dari siapa-siapa," sahut Rukia dan ia segera menyimpan ponselnya yang kini tak lagi berbunyi. "Aku pulang dulu," ujarnya cepat sembari meraih tasnya dan berjalan cepat menuju pintu.
…
Kerutan di dahi Ichigo semakin dalam saat untuk kesekian kalinya teleponnya tak dijawab oleh Rukia. Ia kembali mencoba menelepon gadis itu tapi kali ini ia langsung disambut voice mail yang menyuruhnya meninggalkan pesan. Ichigo mendesah pelan. "Semoga saja dia belum pulang." Ditolehkanya kepalanya ke arah lift, berharap gadis berambut hitam sebahu akan muncul disana. Sembari menunggu di sandarkannya tubuhnya di pilar, pilar yang sama tempatnya menunggu Rukia beberapa hari lalu. Dan penantian itu berbayar manis karena tak berapa lama orang yang ditunggunya melangkah keluar dari lift. Ichigo menyunggingkan senyum lebar padanya sementara Rukia menatapnya tak berkedip, wajah gadis itu memucat. Sesaat Ichigo pikir gadis itu akan berlari menjauhinya seperti yang dilakukannya tadi malam tapi ternyata ia salah, Rukia malah melangkah ke arahnya dengan senyum kaku di bibirnya.
…
Seharusnya pria itu tak berdiri disana, tak menunggunya, tak memberinya senyuman semanis itu. Tapi memang apa yang diinginkan tak sejalan dengan apa yang terjadi. Rukia harus menerima jika pria tampan berambut oranye itu berdiri di sana, menunggunya, dengan senyum yang mampu membuatnya tak bisa memikirkan apa pun selain memiliki pria itu.
Kenapa lari, Rukia? Bukankah kau ingin mendapatkan pria ini? Kalau kau ingin mendapatkannya, beranilah. Kau tak akan bisa memilikinya dengan menjadi pengecut.
"Kupikir tadi kau akan lari," ujar Ichigo setelah Rukia berdiri di depannya.
"Sesaat aku juga berpikir begitu tapi tidak jadi," jawab Rukia.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya? Kenapa aku ingin lari atau kenapa aku tidak jadi lari?"
"Keduanya."
"Aku ingin lari karena aku bingung," aku Rukia. "Setelah apa yang kukatakan padamu semalam, aku bingung bagaimana harus menghadapimu."
"Pantas saja kau tak menjawab panggilanku," ujar Ichigo.
"Maaf," ucap Rukia. Ichigo menggeleng. "Kau tak perlu meminta maaf," ujarnya maklum. "Lalu kenapa kau tak jadi lari?" ia kembali bertanya.
"Karena aku tak mau jadi pengecut. Seorang pengecut tak akan bisa mendapatkan apa yang ia inginkan karena terlalu takut untuk meraihnya," jelas Rukia.
Ichigo menatap Rukia. Kekaguman nampak di matanya. Setiap kali ia bertemu gadis itu, selalu ada hal baru yang ia temukan dalam diri gadis itu. "Dan apa yang ingin kau dapatkan?" ia memberanikan diri bertanya.
"Kau," jawab Rukia cepat dan mantap.
Ichigo hanya bisa menatap Rukia tak berkedip selama beberapa detik bahkan sampai Rukia kembali berkata ia masih menatap gadis itu.
"Aku tahu kalau kau masih menyukai Inoue tapi aku tak bisa membohongi diriku, Ichigo. Aku menyukaimu, itulah yang kurasakan padamu. Aku tidak memintamu serta merta membalas perasaanku, kau bisa mencoba menyukaiku. Siapa tahu dengan terbiasa bersamaku kau akan jatuh cinta padaku," Rukia berkata dengan riang seolah ia hanya membicarakan tentang cuaca bukannya tentang perasaannya.
"Aku̶" Ichigo tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Rukia kembali menyela.
"Kau tak perlu menjawab sekarang. Kita coba pelan-pelan saja jika…," putri Byakuya Kuchiki itu terus menyerocos panjang lebar tentang bagaimana mereka menjalani hubungan mereka sampai ia menyadari jika lawan bicaranya nampak memandangnya dengan sorot geli. "Kau menertawakanku," tuduhnya. Ichigo menyeringai lebar dan Rukia langsung berbalik kemudian melangkah cepat meninggalkan pria itu.
"Rukia!" Ichigo melangkah cepat mengejar gadis itu. "Kau marah ya?" tanyanya setelah bisa menjajari langkah cepat Rukia, yang kini sudah membawa mereka keluar dari pintu utama gedung perkantoran berlantai sepuluh itu. Gadis berambut hitam itu mengabaikannya, tatapannya mengarah ke depan, tak sekalipun menoleh pada Ichigo. "Hei, Rukia." Ichigo mencoba bicara dengannya lagi tapi Rukia tetap mendiamkannya. "Aku minta maaf," ucap Ichigo.
Tiga kata dari Ichigo sukses membuat langkah Rukia terhenti. "Memangnya kau salah apa?" sahutnya sinis.
"Aku tidak bermaksud menertawakanmu tadi," Ichigo coba menjelaskan.
"Lalu kenapa kau tertawa?" Rukia masih tak membuang nada sinisnya.
"Karena kau lucu," jawab Ichigo jujur.
Rukia mendelik pada Ichigo. Delikan yang membuat Ichigo mundur selangkah. "Memangnya aku badut."
"Bukan," sergah Ichigo. "Kau gadis yang paling menggemaskan yang pernah kukenal."
"Kau mencoba merayuku, Ichigo?" mata Rukia menyipit mengarah ke Ichigo.
"Bagi sebagian besar perempuan diatas usia dua puluh tahun, menggemaskan tidak dianggap sebagai rayuan," ujar Ichigo.
"Jadi, tadi kau mengejekku?"
"Bukan, itu tadi kumaksudkan sebagai pujian."
Mulut Rukia terbuka tapi tak ada kata yang keluar dari sepasang bibir berwarna pink pucat itu.
"Aku belum lama mengenalmu, belum sampai satu bulan. Tapi selama itu aku mendapati bahwa kau sangat unik, suatu waktu kau terlihat seperti seorang wanita dewasa dan mandiri, lalu kau terlihat seperti seorang putri yang sangat menyanyangi orang tuamu, tapi di lain waktu kau terlihat seperti anak kecil yang sangat manis, lalu di waktu yang berbeda kau terlihat seperti seorang wanita rumahan yang bisa melakukan semua pekerjaan rumah tangga, dan kau juga bisa terlihat sangat cantik dan seksi di waktu yang berbeda. Aku tak bisa menemukan kata lain yang sesuai untukmu selain menggemaskan, membuatku ingin mengenalmu lebih lagi. Ingin melihat sisi apa lagi yang akan kau tunjukkan jika aku lebih lama bersamamu."
Kini giliran Rukia yang menatap Ichigo tak berkedip dengan jemari terangkat menutupi mulutnya.
"Bukankah dari awal kubilang kita bisa memulainya dari berteman, tapi karena sepertinya kita berdua sudah memiliki perasaan yang lebih untuk satu sama lain… mungkin kita bisa mencoba jadi lebih dari sekedar teman."
Sudut-sudut bibir Rukia terangkat membentuk senyuman yang berusaha ia sembunyikan dengan menunduk dalam.
…
Malam harinya Ichigo membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari memikirkan apa yang terjadi sore tadi. Benarkah keputusan yang ia ambil? Dapatkah ia membalas perasaan Rukia? Dapatkah ia menyingkirkan Inoue dari hatinya dan menggantikannya dengan Rukia? Ichigo mengangkat tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. "Sepertinya aku terlalu banyak berpikir," gumamnya. "Berhenti berpikir dan jalani." Ia mengambil ponselnya yang tadi ia letakkan di nakas dan membuka fitur pesan lalu mengirimkan sebuah pesan pendek untuk Rukia. Hanya sebuah pesan yang berisi dua kata, 'Selamat tidur'. Pesan yang dulu setiap malam selalu ia kirimkan, tetapi untuk orang yang berbeda.
…
Rukia tersenyum senang saat membaca sebuah pesan yang masuk ke ponselnya. Pesan dari Ichigo. Sebenarnya isi pesan itu sama sekali tidak romantis, hanya berisi dua kata ucapan selamat malam tapi karena dikirim oleh orang yang sangat berarti baginya dua kata yang sederhana menjadi sangat istimewa.
…
Sebuah taksi berwarna kuning berhenti di depan sebuah apartemen elit berlantai 20. Inoue turun dari kursi penumpang bagian belakang lalu melangkah memasuki pintu utama apartemen itu. Ia langsung menuju lift dengan langkah cepat tanpa menghiraukan sapaan dari dua orang penjaga keamanan yang menyapanya di pintu masuk. Ia memasuki lift, menekan tombol menuju lantai teratas apartemen, tempat tinggalnya dan manajernya, Rangiku Matsumoto.
"Ting!"
Pintu lift terbuka dan gadis berambut karamel itu langsung berbelok ke kiri menuju pintu bernomor 1, sebuah suite yang baru ditinggalinya sebulan terakhir. Suite itu adalah salah satu hadiah yang didapatnya setelah ia menjalin hubungan dengan Shousuke Aizen, yang merupakan pemilik stasiun tv terbesar di Karakura.
"Dari mana saja kau?" Rangiku menyambut Inoue dengan pertanyaan saat gadis itu melangkah melewati ruang tamu. "Kenapa ponselmu mati? Aku mencoba menghubungimu dari semalam, Hime. Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi padamu."
Inoue tak menjawab. Ia berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Rangiku, menuju dapur dan mengambil segelas air putih.
"Aku sedang bicara denganmu, Hime."
Inoue melirih Rangiku lalu menghabiskan air di gelasnya kemudian melangkah menuju kamarnya, masih dalam kebisuannya. Inoue sudah memegang handle pintu kamarnya saat Rangiku menghardiknya.
"Hime!"
Ia pun mengurungkan niatnya membuka pintu dan menoleh pada Rangiku, memberi manajernya itu tatapan dingin.
"Aku menemani Aizen. Memastikan dia akan memberiku lebih banyak pekerjaan. Memastikan dia akan tetap menjamin kesejahteraan finansialku. Memastikan kau dan aku tetap bisa tinggal di apartemen mewah ini."
Rangiku terdiam.
"Aku sudah melakukan semuanya. Aku melakukan semuanya demi karirku, bahkan aku sampai mengorbankan hatiku. Aku meninggalkan orang yang paling kucintai demi ketenaran."
"Hime…"
"Sekarang bisakah kau membiarkanku istirahat?"
Lalu tanpa menunggu jawaban Rangiku Inoue membuka pintu kamarnya dan mengunci dirinya di dalam ruangan itu hingga pagi tiba.
…
"Selamat pagi."
Rangiku menyambut Inoue dengan ceria keesokan harinya.
"Aku minta maaf," ucap Inoue.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan," kata Rangiku. "Lupakan yang terjadi tadi malam."
"Terima kasih."
"Nah, sekarang ayo pergi." Rangiku merangkul lengan Inoue dan menyeretnya menuju pintu.
"Kita mau kemana? Bukannya sampai jam sebelas nanti jadwalku kosong?" tanya Inoue bingung.
"Memang, bahkan aku sudah mengosongkan semua jadwalmu hari ini," jawab Rangiku.
"Ekh? Bagaimana…"
"Jangan pikirkan apapun, hari ini kita have fun. Jalan-jalan, makan es krim, belanja, ke karaoke, pokoknya hari ini jangan pikirkan tentang pekerjaan atau apapun. Hari ini kita khususkan untuk memanjakan diri dan senang-senang, bagaimana?"
Inoue tersenyum lebar dan mengangguk penuh semangat.
"Baik. Sekarang kita pergi sarapan. Kau mau makan apa?" tanya Rangiku sembari mendorong Inoue keluar apartemen dan menutup pintu di belakang mereka.
…
Pagi yang sama di apartemen Rukia :
Pagi ini putri tunggal Byakuya dan Hisana Kuchiki itu tak dibangunkan oleh dering nyaring jam weker berbentuk kelincinya melainkan oleh benda elektronik lain berwarna putih yang ia letakkan di atas nakas di samping tempat tidurnya. Dengan kantuk yang masih menggantung di matanya gadis berambut hitam itu meraih ponsel yang bordering nyaring itu. "Halo," ujarnya tanpa melihat siapa yang memanggilnya.
"Selamat pagi, Rukia."
Suara dari si penelepon membuat kantuk Rukia hilang seketika. Ia menarik ponsel dari telinganya untuk melihat siapa yang meneleponnya. Hanya untuk memastikan dugaannya tidak salah dan memang benar, nama Ichigo lah tertera di layar ponselnya.
"Ichigo?"
"Ya, ini aku."
"Ada apa kau meneleponku pagi-pagi begini?"
"Aku ingin mengucapkan selamat pagi."
"Hanya untuk itu?"
"Ya. Kenapa? Kau tidak suka?"
Rukia menggeleng tapi seketika ia sadar Ichigo tak sedang berada di depannya untuk melihat bentuk jawabannya itu. Jadi, ia segera menjawab, "Tidak, aku hanya kaget kau menelepon sepagi ini hanya untuk hal seremeh itu."
"Ini bukan hal yang remeh menurutku. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat pagi untukmu."
Rukia menangkap nada sebal dalam suara Ichigo sehingga ia cepat-cepat bertanya, "Kau marah?"
"Tidak."
"Maaf," ucap Rukia.
"Untuk apa? aku kan tidak marah."
"Aku tahu kau marah," kata Rukia.
"Tidak."
"Iya, kau marah. Maaf."
"Aku akan memaafkanmu kalau kau menemuiku dalam lima belas menit."
"Ekh? Bagaimana bisa?" pekik Rukia.
"Bisa, jika kau segera mandi, berpakaian dan berdandan lalu temui aku di tempat parkir."
"Tempat parkir mana?"
"Tempat parkir apartemenmu tentunya."
"Tapi…"
"Cepatlah, kalau dalam waktu lima belas menit kau tak muncul, aku pergi."
Tut… tut…
Panggilan itu terputus. Untuk beberapa saat Rukia hanya diam sambil memandangi layar ponselnya lalau detik berikutnya ia segera meloncat turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian Rukia sudah berada di tempat parkir sambil celingukan mencari keberadaan Ichigo.
"Disini."
Rukia memutar tubuhnya dan mendapati Ichigo sedang menyandar di mobilnya. Rukia segera menghampiri pria itu kemudian bertanya, "Sebenarnya ada apa?"
"Memangnya harus ada sesuatu yang penting dulu, baru aku boleh menemuimu?" Ichigo balik bertanya.
Rukia menggeleng pelan. "Hanya saja…"
"Sudahlah, ayo pergi." Ichigo menarik lengan Rukia dan mendorong gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya Rukia setelah mobil yang mereka tumpangi mulai meninggalkan tempat parkir.
"Sarapan bersama," jawab Ichigo.
"Dimana?"
"Suatu tempat yang pasti kau sukai."
Setelah jawaban Ichigo yang terakhir Rukia tak bertanya lagi, ia hanya duduk manis di samping pria itu sambil memerhatikan pemandangan kota yang mereka lalui. Saat Ichigo membelokkan mobilnya masuk ke pelataran parkir gedung tempat kantornya berada barulah ia membuka mulutnya lagi. "Aku tidak menyangka tempat yang pasti kusukai versimu adalah kantorku."
Ichigo hanya tersenyum kecil lalu turun dari mobil. Rukia mengikutinya turun dari mobil.
"Ayo," ajak Ichigo.
"Ke mana?"
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut sulung Kurosaki itu, ia hanya meraih tangan Rukia dan menarik gadis itu agar mengikuti langkahnya.
Saat Ichigo membawa Rukia memasuki kawasan pertokoan yang berada di bagian belakang gedung kantornya, Rukia berharap Ichigo akan membawanya ke tempat itu. Sebuah kedai penjual makanan tradisional Jepang yang berada diantara toko barang antik dan toko bunga. Biasanya jika memiliki waktu luang di pagi hari, Rukia akan datang ke tempat itu untuk sarapan. Sup miso dan ikan makarel panggang adalah menu favoritnya. Dan benar saja, Ichigo memang membawanya ke kedai bernama Mirai itu.
"Apakah ini hanya kebetulan atau kau memang tahu kalau ini kedai favoritku?"
Ichigo tersenyum lebar, "Coba tebak."
Dari senyuman Ichigo, Rukia tahu jika pria itu membawanya ke tempat ini karena tempat itu adalah tempat favoritnya. "Siapa yang memberitahumu?"
"Aku harus merahasiakan sumberku," jawab Ichigo. "Yang jelas orang ini sangat mengenalmu dan tahu segalanya tentangmu."
Rukia mulai berpikir siapa yang memberitahu Ichigo tentang kedai Mirai tapi bau sedap makanan yang tercium dari dalam kedai membuat konsentrasinya buyar, membuatnya memutuskan akan memikirkan hal itu nanti setelah ia menyantap sarapan ala kedai Mirai.
…
Inoue tercenung menantap pintu masuk sebuah kedai di depannya. Di bagian atas pintu itu terdapat sebuah papan nama sederhana dari kayu bertuliskan nama kedai itu, Mirai. "Kenapa kita disini?" tanyanya pada Rangiku.
"Aku sudah bosan sarapan dengan sereal dan kopi, Hime," jawab Rangiku.
"Tapi kenapa tempat ini?"
"Seorang teman menyarankannya padaku, katanya makanan disini enak," jelas Rangiku sembari berjalan memasuki kedai itu. Inoue mengekor di belakangnya sambil memerhatikan dekorasi kedai yang sederhana.
"Kita perlu perubahan suasana, Hime," ujar Rangiku. Inoue hanya mengangguk pelan sambil mengikuti Rangiku duduk di salah satu kursi kayu.
"Selamat datang, ingin memesan apa?" seorang pramusaji menghampiri meja mereka.
"Kau mau makan apa, Hime?" tanya Rangiku.
"Samakan saja denganmu," Inoue menjawab tanpa melihat Rangiku, matanya masih sibuk memerhatikan sekelilingnya. Terbiasa dengan dekorasi modern membuat segala sesuatu di kedai itu menarik minatnya.
"Di sini nyaman," ujar Inoue setelah pramusaji tadi pergi untuk memberitahukan pesanan mereka pada sang koki.
"Dan jika makanannya enak kurasa kita bisa kesini lagi lain waktu," Rangiku menambahkan. Inoue mengangguk mengiyakan.
Beberapa menit kemudian mereka sudah mulai menikmati sarapan mereka, yang terdiri dari nasi, sup miso, ikan panggang dan acar ditambah semangkuk tofu dengan saus kecap.
"Kurasa kita akan kesini lagi lain kali," ujar Rangiku.
"Iya, kita perlu selingan diantara mangkuk berisi sereal, roti dan kopi," tambah Inoue.
"Ternyata aku tidak salah memilih tempat ini," kata Rangiku. "Nanti aku akan mengatur ulang jadwalmu supaya kita punya kesempatan makan disini bulan depan."
"Aku baru akan memintamu melakukan itu."
Mereka kembali menyantap sarapan mereka sambil membicarakan rencana mereka untuk hari ini. Sesekali berdebat tentang tempat yang akan mereka tuju, tapi mereka terlihat senang dan bersemangat untuk menjalani hari ini. Semuanya menyenangkan sampai Inoue mendengar suara yang sangat familiar baginya. Ia pun menoleh dan mendapati Ichigo melangkah menuju pintu keluar bersama Rukia di sampingnya.
…
"Kenapa harus buru-buru sih?" tanya Ichigo.
"Aku terlambat," Rukia menjawab sambil bergegas berdiri.
"Ini baru jam delapan lewat, Rukia," kata Ichigo.
"Jam masuk di kantorku jam setengah sembilan, Ichigo," ujar Rukia gemas.
"Berarti kau belum terlambat," kata Ichigo sembari mengikuti langkah-langkah cepat Rukia.
"Sekarang sih belum, tapi aku akan terlambat jika tidak segera pergi," sahut Rukia.
"Baiklah, tapi tidak perlu berjalan seperti dikejar hantu juga, kan?" Dalam beberapa langkah Ichigo sudah bisa menjajari Rukia.
"Kau sih enak, punya jam kerja flexible," sungut Rukia.
"Kalau begitu bekerja saja padaku, jam masuk kantorku pukul Sembilan bahkan kalau kau masuk pukul sepuluh tidak akan ada yang menegurmu, tapi terkadang kami bisa bekerja sampai dinihari dan saat dikejar deadline aku dan para staff-ku harus merelakan akhir pekan kami," ujar Ichigo.
"Kalau begitu aku tidak mau, aku masih ingin punya dua hari libur di setiap minggunya," sahut Rukia.
"Sayang sekali, padahal kalau kau bilang iya, kau bisa melihatku setiap hari."
Rukia memutar bola matanya. "Apa untungnya melihatmu setiap hari?"
"Aku kan ganteng, bisa melihatku setiap hari adalah anugerah bagimu," jawab Ichigo.
Rukia mendengus. "Narsis," ejeknya.
"Tidak, aku hanya mengatakan apa adanya," sahut Ichigo cuek. "Aku kan memang ganteng."
Rukia menepuk jidatnya. "Kenapa sih aku bisa suka padamu?"
"Karena…" Ichigo terlupa menyelesaikan kalimatnya karena tatapannya bertemu dengan tatapan Inoue yang hanya berjarak satu meter di depannya. Detik berikutnya Ichigo langsung berpaling pada Rukia dan meraih tangan gadis itu lalu membawanya pergi.
"Kurosaki-kun."
Ia sempat mendengar Inoue memanggilnya saat ia melewati gadis itu tapi ia bergeming dan meneruskan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun pada mantan kekasihnya itu.
…
Rangiku mengulurkan tangannya, menggenggam erat jemari Inoue. Memberikan dukungan tanpa kata pada gadis yang lebih muda darinya itu. Ia hanya bisa menghela napas, rencananya untuk memperbaiki suasana hati Inoue yang hampir berhasil, gagal berantakan hanya karena kemunculan Ichigo.
"Sebaiknya kita pulang," kata Inoue.
"Tidak, Hime. Kalau kita pulang kau hanya akan mengurung diri di dalam kamar dan menangis. Jadi, sebaiknya kita tetap melakukan rencana kita semula," tolak Rangiku.
"Aku tidak ingin jalan-jalan," sahut Inoue lirih.
"Kau harus move on, Hime." Rangiku meremas jemari Inoue. "Ichigo sudah move on darimu, sekarang giliranmu. Ingat kau sudah membuat pilihan, tak ada waktu untuk meyesali apa yang kau pilih. Yang seharusnya kau lakukan sekarang adalah menjalani jalan yang sudah kau pilih, bukannya selalu melihat ke belakang."
Inoue menatap Rangiku dengan tatapan kosong, tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Tak jelas apakah ia mau mendengarkan nasihat Rangiku atau tidak, ia hanya diam. Sibuk dengan pikirannya sendiri.
…
Ichigo mengantar Rukia hingga ke depan pintu utama gedung kantor gadis itu. Sepanjang perjalanan dari kedai hingga depan gedung kantor mereka lakukan dalam diam.
"Kurasa kau tidak akan terlambat," kata Ichigo.
Rukia melirik jam tangannya, jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya itu masih menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh menit. "Kurasa tidak," ujarnya. Kecanggungan melingkupi keduanya, Rukia bingung harus mengatakan apa sedang Ichigo sepertinya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Terima kasih untuk pagi ini," ucap Rukia kemudian.
Ichigo hanya mengangguk kecil.
"Aku harus masuk sekarang, sampai jumpa." Rukia berbalik dan mulai beranjak.
"Rukia."
Panggilan Ichigo membuatnya menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Maaf untuk yang tadi," ucap pria itu.
"Kau tidak melakukan kesalahan apapun, Ichigo. Kita sama-sama tidak tahu kalau Inoue akan muncul di Mirai."
"Kenapa dia selalu muncul kemana pun aku pergi?" tanya Ichigo. "Aku ingin melupakannya, Rukia. Sungguh."
"Aku tahu." Rukia memberi sebuah senyuman untuk menyemangati Ichigo. "Dan aku akan membantumu."
"Aku tidak tahu harus berkata apa padamu," kata Ichigo.
Rukia menelengkan kepala nampak sedang memikirkan sesuatu. "Bagaimana kalau terima kasih?" usulnya. "Katakan begini, terima kasih sudah mau membantuku, Rukia."
Ichigo tertawa kecil. "Kau selalu penuh kejutan, Rukia."
"Hm… aku anggap itu pujian," ujar Rukia.
"Itu memang pujian, nona Kuchiki."
Rukia melirik jam tangannya. Pukul 08.25. "Baiklah, sekarang aku harus benar-benar pergi," ujarnya. "Kau juga harus cepat pergi bekerja, Ichigo. Aku tidak mau punya calon suami pemalas."
"Aku tahu," sahut Ichigo.
Rukia pun lalu berbalik dan melangkah meninggalkan Ichigo. Namun baru beberapa langkah Ichigo kembali memanggilnya.
"Rukia, terima kasih."
Suara Ichigo yang cukup nyaring menarik perhatian orang yang berada di dekat mereka. Rukia tak menjawab, ia hanya melambaikan tangannya sebagai isyarat agar pria itu segera pergi.
…
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat, hubungan Ichigo dan Rukia semakin baik. Mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama. Bebrapa kali Ichigo muncul di pagi hari untuk menjemput Rukia atau menunggu gadis itu pulang kerja lalu pergi makan malam bersama. Ichigo merasa sangat nyaman dengan kebersamaan mereka, Rukia kini selalu mengisi hari-harinya, tak ada hari yang ia lewati tanpa gadis itu walau hanya berupa suaranya lewat sambungan telepon. Ia bisa melupakan Inoue, setidaknya ia berusaha untuk menghalau setiap kali bayang gadis berambut karamel itu muncul di pikirannya. Keberadaan Rukia disisinya terbukti sangat kompeten membantunya menyingkirkan Inoue dari pikirannya. Seperti sekarang, saat ia tanpa sengaja membuka salah satu laci mejanya dan menemukan foto Inoue berada dalam laci itu. Foto yang langsung membangkitkan semua kenangannya tentang gadis itu. Tepat saat itu ponselnya berbunyi, panggilan dari Rukia.
"Kau baik-baik saja?"
Pertanyaan itu meluncur dari Rukia setelah ia mengangkat telepon. Seketika hati Ichigo dipenuhi perasaan hangat nan menenangkan. "Sekarang tidak lagi."
"Sekarang? Berarti tadi…"
"Aku ingin bertemu denganmu," potong Ichigo cepat.
"Kapan?" Suara Rukia terdengar geli.
"Sekarang. Temui aku di Mirai setengah jam lagi," jawab Ichigo sambil meraih jaket dan kunci mobilnya.
"Tapi aku masih bekerja." Rukia tak setuju.
"Aku tunggu di Mirai," kata Ichigo kemudian ia langsung mematikan sambungan dan melesat keluar dari ruang kerjanya.
"Kau mau pergi?" tanya Tatsuki, salah satu staff Ichigo.
"Iya," jawab Ichigo cepat.
"Kau akan kembali dalam satu jam, kan?"
Ichigo melirik jam tangannya. Pukul 15.05. "Tidak, aku tidak akan kembali ke kantor hari ini," ujarnya.
"Bagaimana dengan pertemuan dengan klien baru kita, tuan Nishida?"
"Kau yang temui, lagipula setelah tanda tangan kontrak nanti kau juga yang akan menangani proyek itu."
"Baiklah. Tapi kau mau kemana?" Tatsuki sangat penasaran dengan ketergesaan Ichigo.
"Aku mau pergi kencan."
Jawaban Ichigo langsung membuat Tatsuki terperangah. Bisa-bisanya bosnya itu melempar pekerjaan ke tangannya hanya untuk pergi berkencan. Awalnya Tatsuki ingin marah tapi urung ia lakukan, melihat binar kebahagiaan di mata pria itu. "Baiklah, kali ini aku menoleransimu," ujarnya.
…
"Ada apa, Kuchiki?" tanya Ishida karena bingung melihat rekan kerjanya itu di kursinya mematung dengan ponsel di telinganya. "Kuchiki," panggil Ishida sambil menepuk pelan bahu Rukia.
"Aku harus pergi." Rukia meloncat berdiri.
"Hah?"
"Kalau Ukitake-san mencariku katakan padanya aku keluar sebentar mengurus sesuatu," ujar Rukia. Lalu gadis itu melangkah cepat meninggalkan Ishida yang masih terlihat bingung dengan sikapnya.
…
Langkah cepat Ichigo menuju mobilnya terhenti saat ia melihat seseorang keluar dari mobil lain yang di parkir tepat di samping mobilnya dan berjalan menghampirinya lalu menghentikan langkahnya satu meter di depan Ichigo.
"Ichigo," wanita itu menyapa.
"Maaf, sepertinya aku tidak punya sesuatu yang ingin dibocarakan denganmu, Rangiku," sahut Ichigo dingin.
"Apa begini sopan santunmu dengan orang yang lebih tua, Ichigo?"
Ichigo tersenyum sinis. "Maaf, tapi aku sedang terburu-buru. Aku tak punya waktu bicara denganmu." Ia kembali berjalan menuju mobilnya, meninggalkan Rangiku di belakangnya.
"Orihime menghilang."
Dua kata yang diucapkan Rangiku membuat langkah Ichigo terhenti sesaat. "Kalau begitu lapor polisi, jangan mencariku," sahutnya tak acuh.
"Apa kau benar-benar tidak peduli?" tanya Rangiku. "Bisa saja terjadi sesuatu padanya, dia sudah menghilang selama tiga hari. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak menemukannya."
"Dan kau pikir aku bisa menemukannya? Lebih baik lapor polisi, mereka lebih berpengalaman dalam hal mencari orang hilang," ujar Ichigo sembari meneruskan langkahnya. Saat ia hendak membuka pintu mobil Rangiku menghalanginya.
"Bisakah kau membantuku, Ichigo?" pinta Rangiku.
"Sudah ku…"
"Aku tidak memintamu mencarinya, aku hanya ingin kau menghubungiku jika Hime melakukan kontak denganmu. Jika dia menghubungimu tolong tanyakan dimana dia berada dan beritahu aku. Aku hanya meminta hal itu, tak bisakah kau membantuku?" Rangiku memohon.
Ichigo menghela napas. "Baiklah, akan kulakukan. Tapi aku tidak yakin Inoue akan menghubungiku."
"Dia akan menghubungimu, aku yakin tentang itu. Pasti."
Ichigo hanya mengangkat bahu tak acuh.
"Terima kasih, Ichigo," ucap Rangiku sebelum wanita itu mundur dan memberi ruang bagi Ichigo untuk masuk ke dalam mobilnya. Ichigo bergerak cepat memasuki mobilnya, menghidupkan mesin mobil dan melesat menjauh.
Sepanjang perjalanan Ichigo memikirkan berita yang didapatnya dari Rangiku. Ia berusaha menebak dimana kira-kira Inoue berada, menduga-duga tempat yang mungkin akan didatangi gadis itu.
"Hentikan, Ichigo. Kau tak punya kewajiban untuk mencarinya," ujarnya pada diri sendiri.
Tepat saat itu ponselnya bordering, menandakan ada panggilan masuk. Ichigo segera memasang headphone-nya dan menjawab panggilan itu karena berpikir Rukia lah yang meneleponnya. Namun, ia salah. Suara itu bukanlah milik Rukia dan Rukia tak pernah memanggilnya dengan panggilan, Kurosaki-kun.
…
bersambung
…
Terima kasih untuk semua pembaca yang sudah membaca fic ini dari awal sampai chap 7 ini *bungkuk dalam2* semoga kalian menyukai cerita ini. Dan spesial untuk Naruzhea AiChi, makasih untuk semua masukannya dan kesabarannya menghadapi saya, berkat kamu fic ini bisa terus saya lanjutin sampai sekarang.
…
Review's review :
Darries :
Hai, Darries. Makasih dah RnR ya.
Dari mana kam tahu? Nanya ke Grimmy kah?
Hm… kapan ya? Kapan-kapan deh *-*
Ayo, Byakun bantai si kepala jeruk!
Ini dah lanjut, RnR lagi ya *-*
Jessi :
Makasih dah RnR, Jessi-chan.
Kalo kesel bantai aja tuh si jeruk #plak!
Nanti ditambah lagi di chap depan.
Ini dah lanjut, RnR lg ya *-*
EmKa :
Makasih dah baca en ripiu, EmKa.
Ini udah update neh, RnR lagi ya *-*
Prince Rofe :
Halo, Prince Rofe. Makasih dah RnR ya.
Makasih udah bilang ceritanya bagus *-*
Pertanyaan2mu terjawab beberapa di chapter ini, utk yg blm terjawab, mungkin akan terjawab di chap selanjutnya.
…
Terakhir, jika ada masukan, keluhan, kritik dan saran silahkan tuliskan di kotak review ya.
See ya,
Ann *-*
…
