Separate

Chapter 06 : Ciuman Menenangkan

Disclamier : Masashi Kishimoto-untuk karakternya. Dan untuk ceritanya original dari Dian sendiri

Rated : T semi M

Genre : Crime, Romance, Action, Mistery & Komedi (maybe?), etc.

Pairing : SasuFemNaru

Warn! Gender Switch! Typo(s)! OC! OOC! EYD/EBI tidak rapih! Millitary! Soldier!

...

"Kau kemana saja seminggu ini, Kitsune?!" tanya Bee dengan nada menuntut.

Bee terkejut ketika sejam yang lalu Utakata menghubunginya dan mengatakan bahwa Kitsune sudah berada di markas. Pria yang sedang keluar itu langsung saja kembali ke markas demi mengetahui kebenaran ucapan Utakata. Dan siapa sangka, ucapannya benar? Dan dengan tampang polos serta tidak bersalahnya, Naruto tersenyum riang, menyapanya ringan seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya yang sukses membuat Bee jengah setengah hidup—karena pria itu belum mati.

Ingin rasanya Bee mencincang-cincang wanita itu, membakarnya menjadi abu, lalu membuang abunya ke laut. Namun sayang, rasa sayangnya terhadap wanita itu mengalahkan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Lagi pula, mana bisa dirinya membunuh Kitsune? Yang ada, dirinyalah yang akan diburu oleh Jendral Besarnya—Namikaze Minato—karena telah berani membunuh anak gadis kesayangannya.

"Menginap dirumah Uchiha dan menunggu situasi kembali aman," jawab Naruto dengan nada santai, seolah tidak ada masalah sebelumnya. "Dan kau pikir tanpa memberitahu markas semuanya akan baik-baik saja?" sahut Bee tajam, namun tidak ditanggapi wanita itu.

"Namikaze Naruto, jangan bersikap seenaknya saat situasi sedang genting seperti ini!" Bee jengah, setengah berteriak memanggil nama Naruto dengan nada tinggi. "Genting apanya? Seenaknya bagaimana? Saya juga bekerja di sana, mempelajari isi flashdisk ini hingga frustasi dibuatnya, dan mengorek informasi tentang Akatsuki langsung dari sumbernya," jawab Naruto dengan ketenangan yang mengagumkan, yang sukses membuat Bee bungkam karenanya.

.

Naruto memutar manik safirnya untuk yang kesekian kalinya. Wanita yang selalu memakai softlens berwarna hitam selama masa penyamaran sebagai sosok 'Naruto' itu lagi-lagi merasa jengah karena harus menerima 'ceramah live' dari atasannya selama dua jam nonstop yang sukses membuat kedua telinga Naruto panas.

Dan sekarang Naruto harus terjebak dalam sebuah rapat kecil guna membahas tentang pergerakan Akatsuki yang sudah diamati oleh Naruto seminggu ini. Dengan hati-hati, wanita itu mengintai pergerakan mereka lewat apartemen sang Uchiha, tentu saja tanpa mereka ketahui. Ia juga sudah membuat daftar orang-orang yang patut dicurigai dan diwaspadai. Namun yang pasti, Naruto mewanti-wanti karena akan ada banyak sekali 'pengkhianat' tak terduga yang akan bermunculan setelahnya.

Mereka juga membicarakan tentang strategi yang akan mereka gunakan ketika melawan Akatsuki. Sebuah strategi yang hebat akan mendatangkan kemenangan yang lebih besar, bukan? Walaupun wanita itu tidak menyangkal jika akan ada kegagalan di sana, mereka juga sudah menyiapkan beberapa rencana cadangan jika strategi utama mereka gagal. Yang perlu mereka lakukan saat ini adalah tetap percaya dan menyerahkan sisanya kepada Yang Maha Kuasa.

Rapat mereka berlanjut sampai pada misi pengawalan. Naruto kebagian untuk menjaga Uchiha Sasuke, Bee turun langsung untuk mengawal Uchiha Fugaku, Uchiha Itachi dikawal Utakata, dan sisanya menjaga klan Nara, Hyuuga, hingga Inuzuka, sebagai para pengusaha yang paling berpengaruh seantero Jepang yang juga menjadi perusahaan pendukung setia PT. Uchilitary.

Rapat pun masih berlanjut dengan obolan-obrolan yang sangat panjang dan terasa begitu berat, hingga akhirnya selesai tiga jam kemudian.

...

"Habis dari mana saja kau? Jam sepuluh malam baru pulang?" Sasuke bersidekap dada sembari menyenderkan tubuhnya pada dinding apartemen. Pria itu menunggu kepulangan Naruto yang izin pergi keluar sebentar untuk mencari udara segar sedari jam dua siang, dan baru kembali delapan jam kemudian, tepat pukul sepuluh malam. Apa-apaan itu? Jam karet sekali! Pikir Sasuke masam.

Naruto memasang wajah sedatar triplek, andalannya. "Hanya mencari udara segar," wanita itu menjawab dengan tenang, seolah-olah tidak merasa takut akan aura gelap yang sedari tadi menguar dari tubuh Sasuke.

Rahang kokoh milik pria itu mengeras—menahan amarah, bagaimana bisa wanita itu menjawab dengan tenangnya tanpa memikirkan seseorang yang menunggu kepulangannya di rumah dengan cemas? Apa wanita itu tidak memiliki hati? Dan Sasuke semakin frustasi mengapa dirinya bersikap seperti ini kepada seorang wanita asing?

"Kau tidak pernah memikirkan seseorang yang menunggu kepulanganmu di rumah dengan cemas? Apa kau tidak punya hati?" tanya Sasuke dengan nada satu oktaf lebih tinggi. Naruto terdiam, lalu tersenyum meremehkan. "Apa yang kau ketahui tentangku?" tanya Naruto dengan tatapan menantang.

Sebuah pertanyaan singkat yang mampu membungkam Sasuke karea tidak bisa menjawabnya.

Naruto tertawa keras, terdengar menyebalkan di pendengaran Sasuke. "Kau tidak mengetahui apapun tentangku, Sasuke! Asal kau tau saja, aku bahkan tidak punya tempat untuk pulang," jawab Naruto dengan binar menyakitkan terpancar dari manik obsidian indahnya.

Sasuke terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Sasuke akui, ia sama sekali tidak mengetahui apapun tentang Naruto—selain nama wanita itu. "Kau yang hidup nyaman tahu apa? Bahkan rasanya airmata pun tidak pernah hadir di dalam kehidupanmu. Apa aku benar?" Naruto menjawab dengan suara bergetar, seperti menahan tangis.

"Kau tidak tahu apa-apa. Kau hanya orang asing, dan kita hanyalah dua orang asing yang tanpa sengaja bertemu karena takdir. Asal kau tahu, aku tidak memiliki tempat untuk pulang. Aku sendirian, dan tetap seperti itu hingga kematian menjemputku," cicit Naruto pelan, membuat dada Sasuke menjadi sesak karena ikut merasakan sakit yang Naruto rasakan.

Pria itu menarik Naruto kedalam pelukannya, lalu mencium bibir ranum milik wanita itu dengan lembut dan penuh perasaan, terlampau lembut dan tanpa ada nafsu di dalamnya. Sebuah ciuman menenangkan yang berlangsung lama.

.

.

.

Sasuke bingung, sungguh. Pria bermarga Uchiha itu hanya bisa mengerang lelah. Semakin lama, Naruto semakin aneh. Berangkat pagi, pulang tengah malam. Entah sudah ke berapa kalinya ia memarahi Naruto karena pekerjaan anehnya itu. Sudah enam hari Naruto menjadi seperti itu. Dan ini adalah hari ketujuhnya Naruto pergi pagi lalu pulang selalu tengah malam.

Membuat cemas orang saja, batin Sasuke gemas.

Omong-omong tentang Naruto, Sasuke juga sudah mulai berangkat ke kantor seperti biasanya, bukan malah membawa dokumen kantor ke apartemen sejak Naruto tinggal bersamanya, tiga minggu yang lalu. Namun sejak seminggu yang lalu Naruto berubah, dan Sasuke pun mulai mengubah kebiasaannya kembali; berangkat ke kantor dan mengerjakan tugasnya di sana.

Sasuke juga setengah bersyukur karena Kitsune, bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga dirinya sudah mulai bertugas, seminggu yang lalu. Pria itu sudah agak tenang semenjak bodyguard-bodyguard itu mulai bertugas terror Akatsuki sudah mulai menyurut. Dan bodyguard nya ini selalu setia menemani.

Contohnya saat ini, wanita itu dengan setia menemaninya di sebuah café saat ada janji temu dengan kliennya. Kitsune—nama panggilannya, yang Sasuke yakini hanya code name nya saja.

Kitsune pun terlihat menawan hari ini. Wanita itu mengenakan H&M Top yangdibalut dengan H&M Leather Jacket, terlihat pula David Lerner Lederlengging yang membalut kaki jenjang wanita itu. Ganni Army Weekend Bag juga terpasang di kanan dan kiri leggingnya, Baci & Abbracci Ankle Boots juga membalut kaki indah-nya, lalu ada sebuah Dog Tag menghiasi leher wanita itu, di tambah dengan tatapan dingin dari manik safir sebiru lautan yang membuat wanita itu terlihat sempurna.

Seorang wanita yang sempurna namun mematikan secara bersamaan, itulah deskripsi yang cocok untuk sang Kitsune.

"Terima kasih atas keputusan anda, dan selamat bergabung dengan Uchilitary," Sasuke mengakhiri janji temunya dengan kliennya yang baru—Shimura Danzo.

Lelaki tua itu tersenyum tipis, lalu menjabat tangan yang Sasuke ulurkan. "Ya, saya harap kedepannya Shimura Corp. bisa bekerja sama dengan baik dengan Uchilitary."

Sasuke mengangguk singkat sebagai jawaban, lelaki tua itu undur diri—pergi.

"Tuan?" panggil Naruto dengan nada datar. Sasuke yang mendengar bodyguardnya memanggil langsung menyahut, "Hn?"

"Sepertinya anda harus berhati-hati padanya, Tuan. Yang kutahu Danzo adalah orang yang licik. Ia mempergunakan berbagai macam cara demi ambisinya tercapai," kata Naruto datar. Sasuke tersenyum tipis, bahkan terlampu tipis. Pria itu menangkap nada tidak suka terselip diucapan pengawal wanitanya itu.

Ah, senangnya menemukan seseorang yang sejalan dengan jalan pikiranku, batin sang Uchiha bungsu sembari melirik penuh arti kea rah Kitsune namun ditutupi oleh wajah sedater triplek andalannya. Memperlihatkan emosi adalah hal tabu di keluarga Uchiha, maka dari itu semua keluarga Uchiha mempunyai wajah yang menyamai tembok saking pandainya mengatur emosi.

"Aku tahu itu, Kitsune."

"Lalu mengapa anda menerima tawaran kerjasamanya, Tuan?" tanya Naruto atau biasa Sasuke panggil Kitsune tidak mengerti.

"Aku hanya ingin bermain-main dengannya sebentar," kata Sasuke dengan tenang sembari menyeruput minuman yang sudah dipesannya sedari tadi, namun tidak disentuhnya sama sekali. "Guna memancing keluar para pengkhianat dan membumi hanguskan mereka semua dalam sekali ledakan." Sasuke berkata dengan nada menakutkan dan juga tatapan tajam yang mematikan ketika melihat punggung Danzo yang semakin jauh.

.

Sementara itu dilain tempat..

"Ketua." Seorang wanita berambut biru yang mencapai pinggang itu membungkuk hormat kepada sorang pria yang memiliki rambut berwarna orange, seseorang itu sedang duduk dikursi kebesarannya dengan nyaman. Mengangguk pelan menanggapi panggilan darinya.

"Ah, Konan. Semua sudah siap?" tanya sang ketua dari dalam kegelapan kepada wanita itu.

"Semua sudah selesai, Tuan. Hanya menunggu perintah anda saja," jawab Konan.

Sang ketua menyeringai tipis, senang karena pekerjaan wanita itu berjalan dengan baik. Tidak seperti orang itu, batin sang Ketua mendengus sebal. "Lakukan tengah malam nanti dikediaman Uchiha bungsu. Pastikan tidak ada kegagalan. Kau mengerti?"

"Saya mengerti, Ketua," jawab Konan singkat. Wanita itu membungkuk hormat lalu pergi, meninggalkan sang Ketua dalam ruangan gelap itu, sendirian. Tanpa diketahui siapapun akan jati dirinya yang sesungguhnya, yang dipenuhi dengan kegelapan yang pekat.

.

.

TBC

Jangan segan-segan untuk memberi kritik dan saran ya^^

Sampai jumpa di chapter-chapter selanjutnya!

Diandra Nashira

Rabu, 24 Mei 2017