Setelah sekian lama hiatus, akhirny saia bisa kembali melanjutkan fic ini. Saia semakin bingung sama plotny, argh!
Anyway, Final Fantasy VII adalah milik Square-Enix
Take VI : New Life
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui ventilasi udara ke dalam ruangan kecil yang pengap dan kekurangan cahaya tersebut, terlihat dua sosok pria sedang tidur. Satu tidur di kasur, sedangkan yang satunya lagi tidur di lantai.
'triiiiiing'
Telepon genggam kedua pria tersebut berbunyi disaat yang bersamaan.
"Clouuud, matikan alarmnya!" teriak pria berambut hitam yang tidur di atas sambil memeluk guling.
Pria berambut jabrik yang tidur di lantai membuka matanya dengan cepat, dan mengambil telepon genggamnya. Ada dua SMS serta satu telepon, dia membuka kotak masuk pesan, SMS yang paling atas adalah SMS terbaru, dan SMS itu dikirim oleh Tifa. "Tifa..." Cloud terdiam beberapa saat. "Ya ampun, aku lupa, Tifa!" panik, Cloud langsung mencari jaket yang dia pakai tadi malam.
Dengan nyawa masih setengah, Zack menatap punggung Cloud. "Ada apa, Cloud?"
"Ada apa?! Aku ini managernya Tifa, tapi aku malah di sini sementara artisku sudah terbangun!" Cloud menjawab sambil terus memeriksa apakah masih ada barangnya di kamar Zack. "Aku pergi dulu, dan terima kasih karena sudah mengizinkan aku menginap."
Pintu kamar Zack dibanting dengan keras, tetapi nampaknya belum cukup keras untuk menggenapkan nyawa Zack.
.
.
.
.
.
Jarak yang harus ditempuh Cloud untuk mencapai apartemen Tifa untungnya tidak terlalu jauh jika kau berjalan kaki, hanya butuh waktu sekitar setengah jam, atau lima belas menit jika kau berlari. Dan itulah yang dilakukan Cloud... Orang-orang yang berpapasan dengannya di jalan hanya bisa mengeritkan kening ketika melihat Cloud berlari seperti sedang dikejar-kejar hantu, dan begitu sampai di pintu utama apartemen The Shiva, Cloud berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya, membuat seorang satpam yang heran bertanya kepada Cloud.
"Anda tidak apa-apa, tuan?"
Cloud masih terus mengatur nafasnya sehingga dia tidak bisa bicara, jadi dia hanya mengangguk.
"Ya, aku tidak apa-apa. Terima kasih," kata Cloud setelah nafasnya sudah kembali normal. Dengan wajah 'aku-tidak-apa-apa' yang sangat jelas dibuat-buat. Ketika dia berjalan, Cloud tidak sengaja menabrak seorang wanita berambut cokelat hingga ia terjatuh.
"Ah, maaf, aku sedang terburu-buru." Cloud dengan cepat membantu wanita itu untuk berdiri. "Kau tidak apa-apa, nona?"
Wanita yang menggunakan gaun terusan berwarna merah muda itu tersenyum kecut. "Aku sih tidak apa-apa, tapi kau nyaris menghancurkan bunga yang harus aku jual."
Cloud melirik tangan wanita itu, ternyata dia membawa sebuah keranjang yang penuh dengan bunga. "Aku sungguh minta maaf. Akan aku ganti..."
Wania itu tertawa. "Tidak kok, hei, aku cuma bercanda. Bunga-bungaku tidak apa-apa. Tapi karena kau telah menyebut-nyebut soal membeli bunga, bagaimana kalau kau beli satu? Kau tahu, wanita sangat suka jika seorang pria datang ke tempat mereka di pagi hari dan membawa bunga."
Cloud bingung, apakah Tifa termasuk salah satu tipe wanita itu? Yah, tapi dia tahu, wanita memang suka bunga. "Baiklah, bisa tolong kau pilihkan satu bunga?"
Wanita itu tersenyum, kemudian menyerahkan setangkai bunga warna putih. "Ini. Aku yakin dia akan sangat senang. Ini mawar putih."
Cloud mengeritkan kening. "Mawar ada yang warna putih? Aku kira hanya warna merah."
Gadis penjual bunga itu tertawa. "Kau lucu. Tentu saja ada mawar putih! Kau harus lebih sering membaca buku mengenai tumbuhan, tuan."
"Ah, um, baiklah." kata Cloud canggung sambil mengambil bunga tersebut. "Berapa harganya?"
"10 Gil."
Cloud merogoh kantong celananya, diberikannya 10 Gil kepada si gadis penjual bunga.
"Terima kasih, tuan. Saya doakan hubungan anda dengan kekasih anda akan awet."
Pipi Cloud merona merah. "Di, dia bukan pacarku!"
"Oh, maaf," si gadis penjual bunga menutup mulutnya menggunakan sebelah tangannya. "tunangan kalau begitu?"
Warna merah semakin menjalar ke seluruh sudut wajah Cloud. "Bukan juga!"
Si gadis penjual bunga terkekeh geli. "Baiklah, tuan. Apapun hubungan kalian, saya doakan kalian akan awet."
"Ya, terima kasih," kata Cloud setengah berbisik. Dengan perasaan bercampur aduk dia berjalan masuk, meninggalkan si gadis penjual bunga yang sedang melambaikan tangannya ke arah Cloud. Setelah satu hembusan nafas yang cukup panjang Cloud keluarkan, dia menekan tombol lift untuk naik ke atas, tangan gemetarnya menyentuh angka 7. Lantai unit apartemen Tifa berada.
Nyali Cloud menciut ketika berdiri di depan pintu apartemen Tifa. Dia rasanya ingin membuang bunga yang tengah dia genggam, tetapi dia tidak tega. Dengan perasaan pasrah, Cloud memutuskan untuk memberikan bunga itu kepada Tifa, tidak peduli apapun reaksi yang akan diberikan olehnya.
'Ting-tong, ting-tong'
Tifa yang baru saja selesai memasak sedikit terkejut mendengar bunyi bel, seingatnya dia tidak ada janji dengan siapapun sepagi ini, dan dia sedang tidak ada jadwal syuting. Lalu, itu siapa? "Ya, sebentar," setelah merapikan rambutnya dan melepas apron yang ia gunakan, Tifa berjalan menuju pintu depan. Sebelum membukanya, dia melihat melalui lubang kecil di pintu. "Cloud!?" pekiknya. Pintu pun terbuka.
Keduanya hanya saling tatap untuk beberapa saat. Cloud bingung harus mengatakan apa. Baru kali ini dia datang ke tempat seorang perempuan di pagi hari, ditambah ini adalah Tifa! Selain itu, Cloud sedikit terkesima dengan penampilan Tifa. Ya, Tifa memang belum berdandan, wajahnya terlihat capek tetapi bahagia, rambutnya basah karena keringat, justru penampilan alami Tifa adalah daya tariknya. Sementara Tifa sendiri terkejut karena melihat Cloud pagi ini, dan juga sedikit malu karena penampilannya masih berantakan. Dan juga, karena Cloud membawa setangkai mawar putih.
"Um, hai," sapa Cloud canggung.
"Oh, hai Cloud," balas Tifa tidak kalah canggung.
"I, ini, ini untukmu," kata Cloud yang gugup setengah mati saat menyerahkan bunga tersebut kepada Tifa. Cloud tidak berani melihat wajah Tifa, oleh sebab itu dia agak menoleh ke kanan ketika menyodorkan bunga itu kepada Tifa.
Wajah Tifa memerah, ini salah satu kelemahannya, dia tidak bisa mengendalikan reaksi alami tubuhnya. Dia sangat amat berharap Cloud tidak melihat wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus. Tetapi Tifa sedikit lebih beruntung dari Cloud, dia tahu bagaimana cara untuk mengendalikan emosi, dengan cepat Tifa berhasil menghilangkan perasaan gugupnya. "Oh, terima kasih, Cloud. Ini bunga yang cantik."
"Ya, um, tadi aku tidak sengaja menabrak seorang gadis penjual bunga. Dia, dia yang memilihkan bunga itu." kata Cloud pelan.
Tifa agak sedikit kecewa. Jadi bunga ini bukan Cloud yang memilihnya? Tidak apa-apa, toh yang terpenting adalah Cloud memberikan sebuah bunga kepadanya pagi ini. "Uh, ayo masuk. Aku baru saja selesai memasak."
Cloud menutup pintu di belakangnya. "Maaf, apa aku mengganggu?"
Bunga pemberian Cloud sudah dimasukkan ke dalam vas bunga yang terletak di meja makan.
"Oh, tidak, tidak sama sekali." balas Tifa dari dapur. "Hei, apa kau mau sarapan bersama? Aku sengaja memasak lebih, karena, kau tahu, aku pikir kita bisa membahas beberapa skenario yang ditawarkan untukku sambil makan." Tifa menelan ludah berakali-kali. Tifa, kau sungguh bodoh!
Cloud terdiam beberapa saat, matanya masih tertuju ke jendela besar yang terletak di ruang tamu Tifa. Jendela itu sengaja dibuka, membiarkan udara pagi terbang masuk ke dalam unit apartemen Tifa. Di luar ada balkon dan kursi panjang yang terbuat dari kayu, di sebelahnya ada meja bundar berukuran kecil. Di balkon itu terdapat beberapa tanaman. "Oh, um, jika kau mau melakukan itu, tidak apa-apa. Walau aku lebih suka membahasnya setelah makan." Cloud berjalan menuju ke balkon, tangan kanannya menyentuh gorden tipis berwarna putih yang bergerak karena tertiup angin.
Tifa bisa dikatakan cukup beruntung, dari unit apartemennya dia bisa melihat matahari terbenam dan juga matahari terbit, di depannya tidak ada bangunan bertingkat yang menghalangi pemandangan, sehingga matahari pagi ini bisa dilihat oleh Cloud dengan sempurna, dan menyadarkan Cloud, bahwa di Midgar yang penuh dengan gedung bertingkat sekali pun, kita masih bisa menemukan langit yang tidak terhalang gedung dan bisa menikmati keindahan alam.
"Cloud, kau..." Tifa berhenti di depan jendelanya, kemudian tersenyum saat melihat punggung Cloud yang tertimpa sinar matahari. "Apa kau mau sarapan di sini?" tanya Tifa dengan lembut.
Cloud yang terkejut segera memutar tubuhnya ke belakang. "Ah, um, maaf, aku..."
"Tidak apa-apa. Terkadang, aku suka sarapan di sini," Tifa tersenyum, dan mulai berjalan menuju balkon, berdiri di sebelah Cloud yang sedang memunggungi matahari. Tifa meletakkan kedua tangannya di atas pagar balkon. "Sebetulnya dulu ada gedung bertingkat di sebelah timur, tetapi gedung itu menyalahi peraturan, sehingga dirubuhkan. Dan, terima kasih karena perubuhan gedung itu, aku bisa melihat matahari terbit dari tempatku."
"Sama seperti di Nibelheim." kata Cloud pelan.
"Ya, sama seperti di Nibelheim," ulang Tifa. "kau mau sarapan di sini? Jika iya, aku akan membawa..."
"Biar aku bantu," Cloud memotong kalimat Tifa.
Sarapan keduanya bersama Cloud, tetapi bagi Tifa semua ini seperti yang pertama kali...
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Apa kau serius, Tifa?" Cloud bertanya untuk yang kesekian kalinya. Dia tidak mau artisnya salah memilih peran.
"Ya, Cloud. Selama ini aku selalu berperan menjadi protagonis, sekali-sekali aku ingin menjadi antagonis. Dan lagipula, pada akhirnya tokoh ini akan membantu si pemeran utama kan?" Tifa melipat naskah yang baru ia baca.
Cloud agak sedikit ragu dengan film ini. Jika Tifa serius mau menerima tawaran ini, maka ini akan menjadi film pertama Tifa dibawah arahan Don Corneo. Sudah menjadi rahasia umum kalau sang Don adalah pria hidung belang dan merupakan sutradara paling kurang ajar di seluruh Gaia. Tetapi dia punya uang dan kekuasaan, tidak ada yang berani menyentuhnya, membuat pria bertubuh tambun itu dengan leluasa menggerayangi tubuh aktris-aktris yang akan bekerja dengannya. Bahkan, Cloud pernah mendengar sebuah cerita yang lebih parah lagi. Dan Cloud tidak mau hal itu terjadi kepada Tifanya. Ya, Tifanya...
"Cloud, halo," Tifa melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Cloud yang pucat pasi. Ketika Cloud sudah sadar dari lamunannya, Tifa tertawa. "Aku tahu kenapa kau panik. Tenang, aku bisa jaga diri. Tidak akan aku biarkan si tua bangka itu menyentuhku."
Cloud mengalihkan pandangannya dari wajah Tifa ke skenario film. Tema film ini juga bisa dikatakan tema yang baru untuk Tifa, dan agak sedikit berani. Film mengenai persaingan dua wanita penghibur. Pada awalnya tokoh yang akan diperankan Tifa adalah wanita penghibur paling terkenal di seantero negeri, bayarannya sangat mahal, dan dia hanya mau dengan kalangan atas. Hingga datang pemeran utamanya, yang belum diketahui siapa pemerannya. Dia mencuri seluruh perhatian para pria dari sosok tokoh yang akan diperankan Tifa. Merasa iri, tokoh tersebut berusaha menjatuhkan sang pemeran utama dengan segala cara.
Cloud menggeleng sedih. "Tidak, Tifa. Ini bukan dirimu."
"Justru karena itu, Cloud. Aku ingin memerankan banyak karakter. Aku tidak mau terpusat pada satu tipe karakter saja." Tifa memberi alasan.
Cloud membuka halaman daftar pemeran serta kru film. Rata-rata kru yang digunakan adalah kru pribadi Don Corneo. Ya, pria itu memiliki production house sendiri. Menurut desas-desus, film yang diproduksi adalah film-film dewasa. Dan ada nama Reno Turks di sana. Seingat Cloud dulunya pria itu adalah pengawal pribadi Rufus Shinra, tetapi seorang sutradara melihat bakat akting Reno, dan setelah bermain di sebuah film khusus televisi, nama Reno melejit, dan dia menjadi aktor terkenal sekarang. Reno akan menjadi germo untuk kedua tokoh wanita. Dan, entah apa Tifa menjadi pemeran antagonis atau protagonis dalam film ini, dia akan tetap beradu akting dengan Reno.
Dan akting di sini, bukan hanya sekedar akting. Tanpa disadari, tangan Cloud sudah terkepal dengan erat. Dalam bayangnya tergambar dengan jelas, adegan Reno memukuli Tifa, kemudian menyerang Tifa yang sedang dalam keadaan tidak berdaya, dan saat Tifa berteriak meminta maaf dan memohon agar Reno tidak menyerangnya, Reno hanya tertawa seperti orang kesurupan, dan semakin menaikkan tempo serangannya. Cloud bisa melihat dengan jelas tatapan sayu Tifa, matanya berlinang air mata, tangan kanannya terulur ke depan, berusaha meraih sesuatu, atau berharap akan ada orang yang meraihnya. Bibir ranum yang lebam karena dipukuli itu bergerak dengan pelan disela isak tangisnya, gerakan bibirnya membentuk satu nama, yang tanpa ada suara sudah bisa ditebak oleh Cloud. Sebab, Tifa menyebut namanya...
"Clouuuuuuudddddd!"
Teriakan frustasi Tifa berhasil menarik Cloud kembali ke dunia nyata.
Cloud mengerjapkan matanya berkali-kali, ruangan gelap hampa udara yang ia lihat dalam bayangannya sudah lenyap. Tidak ada luka barang segores di wajah Tifa yang terlihat bingung. "Cloud, kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, Tifa," jawab Cloud pelan. "Aku hanya ingin, kau memikirkan kembali peran yang ingin kau ambil. Maksudku, ini akan menjadi film pertamamu di agensiku, jadi..."
"Cloud, sudah aku katakan, aku tidak akan apa-apa." Tifa menggenggam erat tangan Cloud yang seperti es.
Melihat keteguhan hati dalam pancaran mata Tifa, akhirnya dengan berat hati, Cloud mengangguk. Dan lagipula, bukannya itu tugas Cloud? Melindungi Tifa? "Baiklah. Tetapi syuting film itu baru akan diadakan tiga bulan lagi. Apa sebaiknya kau mengisi waktu luang dengan menerima tawaran untuk menjadi model iklan?"
"Oh, kau benar. Ada banyak tawaran, sampai-sampai aku bingung." Tifa sambil tetap menggenggam tangan Cloud mengambil tumpukan kertas yang merupakan tawaran untuk menjadi model iklan. "Ada satu iklan yang menarik perhatianku..."
"Oh ya? Iklan apa?" Cloud tidak melepaskan genggaman tangan Tifa dari tangannya.
"Iklan sarung tangan yang bisa berfungsi sebagai alat kejut listrik. Voltase yang dihasilkan cukup tinggi juga, bisa membuat satu pria dewasa pingsan selama tiga jam."
"Sarung tangan khusus wanita?"
"Ya. Kau tahu kan, belakangan banyak wanita yang menjadi korban perampokan dan sebagainya? Aku rasa sarung tangan ini lumayan juga untuk menjadi alat perlindungan diri. Jika kau menggunakan stun gun, mungkin agak sedikit repot, dan harganya mahal. Sementara sarung tangan ini tidak begitu mahal."
Cloud mengambil kertas yang merupakan rincian sarung tangan yang sekaligus berfungsi sebagai alat pertahanan diri. Jika dilihat dari bentuknya, sarung tangan initidak beda dari sarung tangan wanita pada umumnya, ditambah lagi warnanya yang hitam, orang tidak akan curiga. Alat yang berfungsi untuk menghantarkan listrik berada di bagian luarnya, dan nampaknya cara kerjanya cukup sederhana. Seperti mainan kejut listrik yang biasa Cloud lihat waktu dia masih kecil, alat yang biasanya digunakan kalau bersalaman maka orang tersebut akan tersengat listrik. Tapi sayangnya, tidak ada tombol untuk mengnon-aktifkan si sumber listrik, sehingga siapapun orangnya, tidak peduli apakah dia bahaya atau tidak, jika sudah terkena sengatan, maka dia akan pingsan.
"Agak bahaya juga. Bagaimana jika si pengguna secara tidak sengaja menyerang temannya?"
"Ya, kau benar," Tifa mengangguk setuju. "hei, tapi disebutkan di sini bahwa mereka menerima masukan dari kita. Bagaimana menurutmu, Cloud?"
Cloud mengangguk setuju. "Aku rasa boleh-boleh saja. Tapi, kenapa produk ini?"
Tifa terkekeh malu. "Aku ingin membuktikan kepada seluruh wanita di Gaia, bahwa seorang Tifa Lockhart yang jago bela diri sekalipun terkadang merasa takut jika berjalan sendirian dalam kegelapan, dan dengan adanya sarung tangan ini, dia merasa lebih aman."
"Aku mengerti maksudmu," Cloud mengangguk paham. "Baiklah kalau begitu. Kita akan pergi ke tempat ini sekarang."
Tifa tersenyum bahagia. Akhirnya, pekerjaan pertamaku dengan Cloud sebagai managerku! Serunya dalam hati. "Oh, kalau begitu aku harus bersiap-siap." Tifa mengambil piring serta cangkirdari atas meja bundar yang terletak di balkonnya. Cloud tadinya ingin membantu, tetapi Tifa melarangnya.
"Oh ya Cloud, siapa lawan mainku dalam film itu?" tanya Tifa dari dapur.
Cloud menjawab dengan tenang. "Reno Turks. Dia satu-satunya artis yang ditangani langsung oleh Sephiroth."
Sedetik kemudian, terdengar suara benda pecah dari dalam. Cloud yang memiliki refleks yang cukup bagus langsung berlari ke dapur, dan mendapatkan sosok Tifa dalam kondisi gemetaran, pecahan piring berserakan di sekitar kaki Tifa.
"Tifa, kau tidak apa-apa?" tanya Cloud dengan suara pelan.
Tifa tidak memberikan reaksi apa-apa, tubuhnya menggigil. Hingga tangan Cloud menyentuh pundak Tifa, dan memanggilnya sekali lagi. "Tifa, ada apa?"
"Ti, tidak, tidak apa-apa," Tifa berusaha menyembunyikan rasa takutnya dengan senyum ramahnya. Tetapi Cloud tahu bahwa ada sesuatu, hal itu terlihat dengan jelas dari sorot mata Tifa yang penuh kengerian ketika mendengar nama Sephiroth.
"Jika kau tidak mau bermain dalam film itu..."
"Cloud, sudah aku katakan!" Tifa menyela kalimat managernya. "Aku akan bermain dalam film itu! Aku mohon, percayalah kepadaku, walau hanya sekali dalam seumur hidupmu!"
Cloud ingin membalas ucapan Tifa, tetapi dia sudah lelah untuk mengubah pikiran Tifa. Selain itu, dia ingin tahu, apa yang telah terjadi di antara Sephiroth dengan Tifa, sampai-sampai wanita berambut hitam ini begitu ketakutan hanya dengan mendengar nama pria berambut silver itu?
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Matahari sudah berdiri tegak di langit biru bersih tanpa awan. Dari lantai teratas gedung ShinRa. Inc seluruh kota Midgar nampak terlihat begitu jelas, dan indah.
"Aku penasaran, kenapa kau begitu terobsesi dengan Tifa Lockhart?" terlihat seorang pria berambut pirang tengah menghisap cerutunya.
"Itu bukan urusanmu, Don Corneo." balas seorang pria berambut panjang yang tengah berdiri memunggungi Don Corneo. "Apa Tifa sudah menghubungimu?"
Don Corneo menghembuskan asap cerutunya ke udara. "Belum, tapi aku sangat yakin bahwa Tifa akan mengambil peran ini. Beberapa kritikus film secara tidak langsung sedang menantang Tifa untuk memerankan tokoh dengan latar belakang yang lain, yang belum pernah dia perankan. Dan tokohku, adalah jawaban dari tantangan para kritikus."
"Aku tidak peduli," ucapnya dingin."Lakukan apapun agar Tifa mau bermain dalam filmmu. Kau mengerti?"
"Ya-ya, aku tahu itu! Dasar bocah model iklan sampo, bawel sekali!"
Satu tembakan nyaris mengenai kaki Don Corneo, orang yang menarik pelatuknya tidak lain adalah Sephiroth. Wajahnya terlihat sangat kesal dan merasa terhina. "Tarik kembali ucapanmu barusan, atau aku akan memotong lidahmu."
Don Corneo langsung bersujud. "Baik-baik, tolong maafkan aku, Sephiroth-Sama!"
"Cih, dasar sampah." Sephiroth memasukkan pistolnya kembali ke dalam sarungnya. "Tifa Lockhart, kita lihat, sampai sejauh mana manager barumu itu akan melindungimu..."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Ya ampun, Zack Fair! Sudah aku katakan berapa kali untuk merapikan kamarmu?!" teriakan seorang wanita di dalam kamar Zack berhasil membuat pria berambut jabrik itu terbangun.
"Hah, Aerith?!" wajah Zack pucat, dengan gerakan cepat dia segera menutupi tubuh bagian atasnya menggunakan selimut. "Bagaimana caranya kau masuk ke kamarku?"
Wanita bernama Aerith itu menunjukkan sebuah kunci kepada Zack. "Kau memberikan ini kepadaku, apa kau lupa?"
"Oh," Zack tertunduk malu."Ah, maksudku, kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu sebelumnya?"
"Aku sudah mengetuk berkali-kali, Zack, tetapi tidak ada jawaban." Aerith bertolak pinggang. "Lepaskan selimut itu, kau tidur menggunakan pakaian tidur, bodoh!"
Aerith masih terus mengomel-ngomel sambil merapikan kamar Zack yang berantakan, sementara si pemilik kamar masih duduk manis dan mengamati setiap gerak-gerik kekasihnya dengan senyum sumringah.
"Zack, jika kau punya waktu untuk memperhatikanku, bagaimana jika kau ikut membereskan kamarmu?"
Bukan sebuah jawaban yang didapat oleh Aerith, melainkan sebuah pelukan erat di pinggangnya, dan dagu Zack yang menempel di punggungnya.
"Aku adalah pria paling beruntung di dunia ini~~~"
Aerith menghembuskan nafas. "Oh ya, aku jadi teringat. Aku berpapasan dengan Cloud di depan apartemen Tifa."
Zack langsung bangkit penuh semangat. "Oh ya? Apa dia bersama Tifa?"
"Tidak, dia sendiri."Aerith menyentuh dagunya dengan jari telunjuknya. "Dan aku rasa, dia memiliki perasaan kepada Tifa. Yah, maksudku, siapa yang tidak sih? Tifa Lockhart, sang aktris jago bela diri dan juga mahir masak. Wanita idaman para pria, kan?"
"Tapi wanita idamanku adalah kau, Aerith." Zack kembali memeluk Aerith, tapi kali ini dari samping.
"ZAAAAAAACCCCCKKKK, bereskan kamarmu dulu!" omel Aerith sambil berusaha melepaskan pelukan Zack.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Yuffie merenggangkan kedua tangannya ke atas, meski sekarang sudah siang hari, justru ini adalah saat yang pas untuk mendaki bukit Nibelheim, dan memandangi kegiatan para penduduk Nibelheim di siang hari. Belum ada kabar terbaru dari Cloud, nampaknya dia sedang sibuk membantu Tifa membereskan barang-barangnya dari Midgar. Dan mungkin Cloud akan mengurus satu atau dua kontrak untuk Tifa sebelum mereka kembali ke Nibelheim, Cid sedang pulang ke Rocket Town, itu artinya hanya tinggal dia sendiri di rumah Cloud.
"Haaaaaah, aku bosan!" teriak Yuffie.
Ketika sedang melirik ke samping, tidak pernah sebelumnya, bahkan dalam mimpi sekalipun, Yuffie bermimpi melihat sosok pria berambut panjang tersebut. Dan sekarang, dia nyata, berdiri tidak jauh dari Yuffie. Keduanya menghirup udara yang sama, berada di satu tempat yang sama. Entah sejak kapan Yuffie mengagumi sosok pria ini, baginya, dia adalah segalanya. Ya, Yuffie tahu usia mereka berbeda cukup jauh, tetapi sejak kapan usia menghentikan cinta? Awalnya Yuffie berpikir bahwa perasaan ini hanya sebatas rasa kagum seorang penggemar kepada sosok idolanya, tetapi ternyata tidak, perasaan itu lebih. Melebihi rasa kagum seorang penggemar kepada idolanya.
"Vincent Valentine..." mengucapkan nama pria bermata merah tersebut seperti telah memangkas umur Yuffie sebanyak sepuluh tahun.
Pria yang dipanggil tidak bergeming. Tidak ada suara apapun di puncak bukit Nibelheim, bahkan hembusan nafas dari kedua orang yang tengah saling tatap satu sama lain dalam diam.
