Chapter 7 Up
.
.
.
ENJOY
.
.
.
~ナルトはサスケへ~
Pagi yang cerah untuk jiwa yang cerah...
Tidak... Tunggu!
Simpan pepatah itu untuk hari lain saja!
"Kamu kenapa, Naru-baka? Baru pukul delapan pagi lebih, tapi kau sudah mendesah lebih dari lima puluh kali." Tanya Kiba mendramatisir kata-kata karena jengah melihat Naruto yang mendesah beberapa kali pagi ini dan itu membuat Kiba kehilangan selera makan meski di depannya adalah pancake kesukaannya.
Naruto tidak langsung menjawab, ia memilih menaruh dagu dimeja cafe sambil menatap layar smartphone-nya.
Ya, mereka berdua sedang berada di cafe milik Neji dan sambil menunggu cafe tersebut buka jam 09.00 pagi, mereka memilih untuk duduk bersantai, menikmati dessert dan minuman untuk menganjal perut mereka.
"Sudah dua hari Sasuke tidak menghubungiku..." Gumam Naruto lalu kembali mendesah saat melihat smartphone-nya sekali lagi.
Bunyi garpu dan pisau membentur piring dengan keras, membuat Naruto mendongkakkan kepala dan melihat Kiba tengah membuka mulutnya lebar, shock. Naruto memutar bola matanya, Kiba jelas berpura-pura terkejut.
"Kau berlebihan, aho! Aku hanya mengkuatirkan kondisi si brengsek itu." Katanya sambil memotong pancake miliknya berhubung ususnya sudah meraung minta nutrisi.
"Aawww~" Kiba memekik heboh sambil menangkup kedua tangan dipipi, sok imut. "-Naru mengkuatirkan Sasuke, kekasihnya~"
Kali ini gilaran Naruto yang membanting garpunya, "Aku bukan kekasih si brengsek berkepribadian ganda itu, Kiba bastard!'
Kiba terkekeh lucu, "Kau tahu? Kau semakin mirip dengan gadis yang sedang jatuh cinta. Menatap ponsel berkali-kali untuk melihat sms dari orang yang disukai. Jadi, sekarang kau sudah jatuh cinta dengan si Uchiha itu, Naru?" Alis Kiba turun naik menggoda Naruto, tapi pipi Naruto yang mulai bersemu dan tidak membalas perkataannya membuat mulut Kiba menganga.
Kali ini benar-benar terkejut.
"Holy shit, Naruto! Kau benar-benar menyukai Uchiha keparat itu?!" Tanya Kiba dengan nada melengking tinggi memenuhi seluruh ruangan cafe. "Wooaaa... Amazing! Apa kerennya dia?!" Suara melengking berganti tepuk tangan heboh.
Naruto mengeram malu karena tindakan berlebihan Kiba, untung cafe belum dibuka sehingga tidak ada pengunjung. Jika tidak, mau taruh dimana wajah malu Naruto?
"Kau berlebihan... Apa salahnya jika aku menyukai dia?" Tanya Naruto yang kini sudah menyembunyikan wajah dibawah tangannya.
"Tidak ada yang salah, sih..." Jawab Kiba ringan setelah kembali dari keterkejutannya dan kini tengah memasukkan potongan pancake ke dalam mulut. "-Hanya saja Shikamaru-ku jauh lebih sopan dan baik dibanding Uchiha-mu itu."
"Shikamaru-mu lebih baik, ya..." Gumam Naruto sambil menggosok dagu dan dibalas anggukan Kiba sambil memasukan potongan pancake ke dalam mulut lagi.
"Jika Shikamaru lebih baik..." Naruto sengaja menjeda ucapannya sambil melirik Kiba yang sekarang sebelah alis terangkat heran. "-Apa sebaiknya Shikamaru kurebut saja dari mu, ya?"
Sukses...
Kiba sukses tersedak potongan pancake!
Naruto menyeringai.
"Jangan bercanda, brengsek! Kau ingin mati muda rupanya-..." Nafas Kiba menderu hebat. Kedua tangannya sibuk mengasah pisau dan garpu. "-Sudah bosan hidup, bastard? Sekali lagi kau berkata seperti itu, pisau dan garpu ini menancap ditenggorokanmu!"
Mendengar itu, Naruto tertawa keras sampai kedua matanya mengeluarkan air mata. "Makanya jangan membanding-bandingkan Sasuke dan Shikamaru. Yang baik menurutmu bukan berarti baik dan cocok untukku. Jika seperti itu, semua orang di dunia ini pasti sudah jatuh cinta pada Shikamaru, baka..."
"Sok bijak... Ternyata ada positifnya juga dari menyukai Uchiha keparat itu untuk mu... Lihat silat lidahnya menular padamu." Kiba mendengus kasar kemudian meneguk minumannya sampai setengah, "-Jika kau menjadi kekasih si brengsek itu, mungkin kepintarannya bisa menular padamu mengingat tingkat kebodohanmu yang diluar akal sehat." Kiba menatap Naruto dengan pandangan meremehkan.
Mendengar itu asap imajiner mengepul dikepala Naruto. "Aku tidak sebodoh itu, Kiba bodoh... Kau bahkan tidak lebih pintar dariku, breng-..."
"-Apa pantas anak sekolahan mengeluarkan kata-kata kotor disetiap kalimat saat mereka berbicara?"
Sebuah suara dengan aura dingin memotong ucapan Naruto.
"...Ne-Neji-nii?" Seru Naruto dan Kiba bersamaan, bahkan meneguk ludah pun bersama.
"-Kalian harus menjaga ucapan jika cafe sudah dibuka. Nah, sekarang bereskan sarapan kalian. Sepuluh menit lagi cafe dibuka." Ucapan Neji dengan senyuman, tapi entah mengapa Naruto dan Kiba merasa aura horor. Jadi, tanpa banyak bicara, kedua pemuda ini membereskan perlengkapan makan mereka dan mengekori Neji dari belakang.
"Ternyata Neji-nii juga bisa mengeluarkan aura menyeramkan seperti Gaara...-" Bisik Kiba cukup keras agar bisa didengar Naruto.
Langkah Naruto berhenti, iris birunya melotot galak, mencoba memberi sinyal pada Kiba untuk segera menutup mulut embernya.
"-Lain kali kalau kita berbicara yang kata mereka tidak sopan dan kotor, sebaiknya saat Neji-nii dan Gaara tidak ada saja." Lanjut Kiba tanpa mengerti sinyal dari Naruto.
Kiba bodoh! Dumel Naruto setengah kesal karena ketidakpekaan Kiba. Naruto yakin setelah ini pasti Neji akan bertany-...
"Ah... Kapan temanmu yang bernama Gaara berkunjung ke cafe ini lagi, Naru-chan?"
Benarkan apa yang ditebaknya? Belakangan ini jika berkerja di cafe, ia akan selalu ditanyai tentang kapan Gaara datang berkunjung? Dan hari ini Naruto sudah menghindari membicarakan hal apapun tentang Gaara agar Neji lupa, tapi Kiba si bodoh ini malah mengingatkan pemuda berambut panjang itu.
Tsk! Jangan salahkan Naruto, ia sudah bertanya kapan Gaara bisa datang ke cafe lagi, tapi begitu Gaara tahu alasan Naruto bertanya, selanjutnya ketika ditanya Gaara akan diam seribu bahasa dan menatap Naruto sedatar papan penggilasan siap untuk menggilas Naruto. Namun dibalik tatapan itu Naruto merasa ada arti lain yang sulit untuk diartikan. Nomor ponsel Gaara juga sudah Naruto berikan pada Neji, sekali lagi ada tapi-nya, Neji menolak menghubungi Gaara dari ponsel. Katanya sih tidak sopan dan tidak gentleman.
Jadi, sebenarnya apa mau kedua pemuda ini? Kalau saja bisa, kepala mereka sudah dijitak manis sedari dulu oleh Naruto.
"...Hei Naru..." Kiba memanggil Naruto sedikit berbisik, "Kenapa Neji-nii bertanya soal Gaara? Oh... Apa dia menyukai Gaara?"
Cukup! Naruto sudah tidak bisa menahan rasa jengkel pada Kiba yang masih menunjukkan muka polosnya. Jadi, dengan rasa kesal yang besar, ia menginjak keras kaki Kiba dan meninggalkan pemuda itu dengan keadaan meringgis kesakitan sambil mengumpat dan Neji yang menatapnya dengan speechless.
Bodoh!
~ナルトはサスケへ~
.
.
.
From Tennis With Love
Disclaimer :
Naruto, Masashi Kishimoto
Story :
Punya saya, semua karakter dipinjam dari punya om MK
Genre : Friendship, Romance, Drama & Humor
Rating : T
M for language
Pairing : SasuNaru (Sasuke X Naruto)
Warning : AU, One Shoot, Typos, OOC, Mild Language, Boys Love Sasuke X Naruto [SasuNaru], Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't like it. I've warned you already.
.
.
.
~ナルトはサスケへ~
Naruto menatap datar Gaara yang sedang melahap souffle* dengan cinnamon hot chocolate sebagai teman minuman souffle. Dalam hati Naruto mendecih, Gaara itu tampang datar dan ucapan tajam, tapi sukanya makanan manis. Bertolak belakang sekali!
"Aku senang kau mau menjemput aku dan Kiba..." Naruto memulai percakapan. "-Tapi, jika sekalian ingin makan dan minum, kenapa harus datang saat cafe sudah ditutup?" Tanya Naruto lebih lanjut sambil bersandar dikursi.
"Kau kan akrab dengan si iklan shampo itu, tentu dia tidak akan keberatan jika sahabat baikmu datang meski cafe sudah ditutup." Jawab Gaara ringan sambil memasukkan satu senduk penuh souffle-nya.
Mendengar itu, bibir Naruto mengerucut. Ini salah satu sifat Gaara yang menurut Naruto perlu dirubah yaitu sifat seenak rambut merahnya menebak dan bersifat sesuka hati. Tidak peduli dengan pemikiran orang lain.
"Itu karena sahabat kami itu kau, Gaara..." Kiba ikut berceloteh, "Neji-nii hanya bersifat seperti itu padamu... Sepertinya Neji-nii menyukaimu." Lanjut Kiba sambil mengambil sesenduk souffle milik Gaara. Belum sempat souffle itu terangkat sempurna, Gaara sudah terlebih dahulu memukul tangan Kiba membuat potongan kue itu terjatuh dan dengan gerakan cepat, mengambil potongan kue dan menarik piring lebih dekat kearahnya.
"Kiba... Apa tanganmu tidak pernah diajari sopan santun agar tidak mencuri makanan orang lain?" Gaara mendelik tajam kearah Kiba, aura kelam mulai menyebar sehingga membuat Naruto dan Kiba bergedik ngeri. "-Dan apa mulutmu perlu dicuci dengan cairan pembersih sehingga tidak berbicara yang aneh-aneh?"
Naruto dan Kiba memutuskan untuk tidak membantah perkataan Gaara. Jika, mereka membantah, yakin saja aura dan mulutnya akan semakin tajam. Kedua pemuda itu memilih diam sambil menatap Gaara yang kembali memasukkan potongan kue yang hampir dicuri Kiba tadi.
Begitu potongan kue itu masuk, senyuman Gaara mengembang. "Enaakkkk..." Gumamnya gembira dan kembali memasukkan potongan terakhir souffle.
Kalau saja Naruto dan Kiba tidak bersahabat dengan Gaara dalam jangka waktu lama, tentu saja saat ini mereka berdua sedang speechless. Speechless dengan perubahan mood Gaara yang drastis dan cepat hanya karena sepotong kue manis.
"Siapa yang membuat cake dan minuman seenak ini?" Tanya Gaara lagi ketika selesai meneguk cinnamon hot chocolate miliknya dengan suara 'aaahhhhh' panjang.
"Neji-nii." Jawab Naruto dan Kiba kompak.
"Neji-nii mengatur resep dan membuat adonan, selanjutnya ada helper yang membantunya." Lanjut Naruto.
Mendengar itu, Gaara mendengus. "Tidak kusangka dia bisa membuat kue dan minuman selezat ini. Aku kira dia hanya bisa merawat rambut panjangnya saja." Gaara kembali meneguk minumannnya sampai habis. "-Lalu dimana mata albino itu?"
Naruto dan Kiba langsung terkekeh mendengar panggilan baru Gaara untuk Neji. Gaara memang seperti itu, memanggil nama orang seenaknya. Contoh saja Sasuke dipanggil ayam, Shikamaru dipanggil nanas dan sekarang giliran Neji yang dipanggil asal-asalan, dua panggilan pula.
Iklan shampoo dan mata albino.
"Neji-nii sedang membereskan dapur dan pantry*. Dia bisa berubah menjadi maniak kebersihan yang sangat mengerikan jika menyangkut kebersihan dua ruangan itu." Jelas Kiba sambil berbisik dan menahan tawa. Bisa-bisa gaji hari ini tidak diberikan Neji jika pemuda berambut panjang itu mendengar.
Gaara membentuk huruf 'o' dengan mulutnya tidak begitu tertarik dengan penjelasan Kiba. "Aku sudah selesai makanan. Ayo kita pulang." Ajak Gaara pada Naruto dan Kiba setelah bergumam 'o'. Bahkan ia sudah berdiri.
"Tunggu sedikit, Gaara. Setidaknya kita berpamitan dengan Neji-nii dulu." Ujar Naruto lalu mengeluarkan handphone-nya. Sistem di cafe Neji memang membayar terlebih dahulu barulah makanan dan minumannya bisa dinikmati. Oleh karena itu, Gaara langsung mengajak Kiba dan Naruto agar segera pulang setelah selesai makan.
"Aku tidak ikut bersama kalian..." Ujar Kiba bersemangat dengan senyuman lima jari. Naruto bersumpah ia bisa melihat ada setitik cahaya menyilaukan digigi Kiba akibat senyuman terlampau lebar itu.
"-Shikamaru mau menjemputku..." Jelas Kiba ketika melihat kedua alis Gaara bertaut.
Sekali lagi Gaara membentuk huruf 'o' dengan mulutnya. "Kalian sudah pacaran? Dia belum mengapa-apakan mu, kan?" Tanya Gaara lagi saat kembali duduk dikursinya.
Kiba menggeleng sambil tertawa. "Belum... Tapi aku berencana mengatakannya terlebih dahulu. Kasihan aku sudah menyia-nyiakan rasa suka kami begini lama." Senyuman Kiba kembali mengembang. "Lagian bukan dia yang mengapa-apakan aku. Tapi, aku yang akan mengapa-apakan dia, Gaara..."
"Pevert!" Komentar Gaara lalu tersenyum sedang Kiba tertawa, namun keduanya terdiam beberapa menit kemudian setelah menyadari Naruto tidak mengikuti percakapan mereka dan malah sibuk memandangi handphone-nya.
"Ada apa, Naruto?" Tanya Gaara penasaran.
Panggilan itu membuat Naruto mengangkat wajah untuk menatap Gaara. "Ak-..."
"-Dia sedang menunggu pesan dari Sasuke. Dia sudah seperti itu sejak pagi tadi...Ah maksudku dia sudah seperti ini selama dua hari, kerja pun tidak ada konsentrasinya..." Kiba memotong cepat perkataan Naruto dengan nada usil sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya.
"Benarkah?" Tanya Gaara semakin penasaran.
Shit! Umpat Naruto dalam hati. Matanya melotot tajam kearah Kiba yang sedang menggodanya dengan cara menaik turunkan kedua alis tebal sialannya itu.
"Tentu saja aku berkata jujur, Gaara." Sambung Kiba lagi, seringgainya melebar. "Dia bahkan mengatakan jika ia mencintai Sasuke padaku." Ujar Kiba dengan wajah polos tanpa dosa.
"A-Aku apa, Kiba-aho?!" Mata Naruto melotot, "Kapan aku mengatakan jika aku mencintai Sasuke, brengsek?!" Raung kesal Naruto terdengar.
"Damn! Kenapa kau suka berteriak, huh?! Oke! Kau tidak mengatakan langsung jika menyukai si brengsek itu. Tapi, cara mu yang tidak membantah dan menunduk malu itu membuktikan semuanya, Naru-little shit!" Raung Kiba juga tidak kalah keras.
"Boys... Bahasa kalian, please..." Sela Gaara dengan nada lembut, tapi beraura mematikan. "Sudah kubilang berkali-kali agar menjaga bahasa kalian. Jika kedua pemuda brengsek yang kalian sukai membuat kalian berbicara bahasa kotor, lebih baik aku jauhkan kalian saja."
"Gaara! Kau sendiri bilang brengsek barusan..." Protes Naruto dan Kiba bersamaan. Bagaimana tidak? Gaara melarang mereka berbicara kotor, tapi Gaara sendiri memanggil orang yang disukai mereka dengan sebutan brengsek. Mana bisa Naruto dan Kiba menerima begitu saja?
Mendengar protes itu, Gaara mengangkat bahunya ringan. "Habisnya kalian saling memaki hanya karena membela mereka. Apa salahnya jika aku juga berkata buruk? Kalau kalian protes artinya kalian memang tidak mau orang yang kalian sukai dikatai. Jadi, sebaiknya berlaku manis dan sopan sebelum aku juga mengatai mereka dengan kata yang lebih kasar lagi!" Tandas Gaara masih dengan senyuman manis, tapi beraura mengerikan.
Naruto dan Kiba terdiam merasa yang dikatakan Gaara dengan panjang lebar itu benar juga.
"-Jadi Naruto, bisakah sekarang kau duduk dan mulai menjelaskan bagaimana sampai kau mulai menyukai ayam itu?" Tanya Gaara memilih untuk mengatakan 'menyukai' dibanding 'mencintai'. Rasanya kata cinta terlalu berlebihan. Apalagi jika Kiba yang mengatakan. Sudah jelas bukan? Kiba tadi sedang menggoda Naruto, jadi Gaara menyimpulkan kata yang dimaksudkan Kiba itu menyukai bukan mencintai.
Naruto mengerang. Seharusnya ia sudah tahu, ujung-ujungnya akan diinterogasi Gaara juga. "Aku tidak tahu bagaimana... Begitu sadar aku sudah menyukainya?" Ucap Naruto lalu lengannya menutup wajah yang diletakkan diatas meja.
"Spesifiknya sejak kapan?" Tanya Gaara sedikit mendesak.
"Gaara..." Desah Naruto, "Aku tidak tahu... Sejak awal aku memang menyukai ketampanannya. Tapi, sekarang tidak hanya wajah, aku menyukainya meski sifatnya menyebalkan, rasa percaya dirinya juga kadang membuatku jengkel."
Alis tipis Gaara bertaut, "Aku sudah menduga sebelumnya, Uchiha Sasuke berpotensi untuk menyakitimu dengan sifat sombongnya. Lagipula pria itu terlalu dingin untukmu. Jadi, bagian mana dari sifatnya itu yang membuatmu menyukainya?"
"Dia tidak seburuk itu, Gaara..." Naruto mengangkat wajahnya untuk menatap Gaara dengan tatapan memelas. "Sejak menjadi ball person-nya... Aku jadi menyukai kerja kerasnya lalu dia juga perhatian walaupun dengan cara menyebalkan. Dia bisa bersikap yang menurutku sangat manis tanpa dia sadari.-"
"-Dia bahkan bisa menebak dengan mudah apa yang aku pikirkan. Jika, kau bersama lebih lama dengannya seperti aku, kau mungkin bisa mengerti kenapa aku menyukainya. Lagian aku juga berpura-pura tidak peduli, tapi nyatanya aku tidak bisa." Lanjut Naruto kemudian diselingi nafas yang mendesah lagi.
Kiba bergumam 'wow' tanpa suara, kagum dengan penjelasan panjang Naruto. Sebagian rasa kagumnya karena ternyata tanpa mereka sadari Naruto memiliki pengamatan dan pandangan sendiri pada Sasuke. Kiba jadi berpikir, Naruto benar juga. Mungkin karena ia dan Gaara belum begitu mengenal Sasuke makanya mereka menganggap Sasuke itu menyebalkan dengan sikap sombong dan kalimat tajamnya. Buktinya Naruto bisa bertahan dengan pemuda itu dan akhirnya menyerah dan mengakui perasaannya.
Disisi lain Gaara juga membenarkan perkataan Naruto. Karena ia merasakan sendiri. Gaara awalnya memang tidak memiliki teman, sulit bersosialisai, perkataannya juga tajam dan sering dikira sombong. Tapi, Naruto dan Kiba bisa menerimanya dan Gaara bisa bersikap seperti dirinya sendiri bahkan sudah menganggap mereka adalah saudaranya. Mungkin Sasuke bisa menjadi diri sendiri dan baik seperti kata Naruto dan mungkin juga hanya dia saja yang belum mengenal lebih dekat maka selama ini ia menganggap Sasuke kurang baik.
Ternyata memang benar. Jangan menilai orang hanya dengan apa yang terlihat dan yang dibicarakan orang. Kenali dulu sendiri barulah mengambil kesimpulan.
"Aku pikir kau hanya terpesona padanya, bukan menyukai dengan artian sesungguhnya. Makanya aku kira ini hanya main-main." Gumam Gaara.
"Aku juga berpikir seperti itu. Sampai kapan rasa suka ini bertahan, aku juga tidak tahu... Yang aku tahu sekarang aku menyukainya..." Naruto juga ikut bergumam.
"Tapi menurutku, nanas-nya Kiba masih lebih baik dan dewasa." Gaara masih tetap memprotes.
"Namanya Shikamaru bukan nanas, Gaara." Kali ini giliran Kiba yang protes. Tidak terima nama Shikamaru diubah Gaara. "Tadinya aku juga bilang kalau Shikamaru lebih baik dari Sasuke, tapi kau ingin tahu apa yang dikatakan Naruto padaku kemudian, Gaara?" Tanya Kiba disambut anggukan bersemangat Gaara.
"-Dia bilang ingin merebut Shikamaru dariku..." Sambung Kiba dengan ekspersi jengkel dibuat-buat.
"Kiba!" Teriak Naruto protes.
Kiba tertawa kecil, "Aku bercanda... Naruto tidak bilang seperti itu dia malah bilang 'Yang baik menurutmu bukan berarti baik dan cocok untukku. Jika seperti itu, semua orang di dunia ini pasti sudah jatuh cinta pada Shikamaru, baka'. Kau bisa bayangkan seorang Naruto berkata bijak bahkan sudah dua kali hari ini?" Kiba mengutip seratus persen perkataan Naruto bahkan tanpa melupakan kata 'baka'.
"-Mungkin Naruto benar, Sasuke memang baik." Lanjut Kiba mencoba untuk merubah pandangan mereka.
Gaara terdiam, memandangi Kiba dan Naruto bergantian. "Terserah kalian sajalah. Toh, yang merasakan kalian bukan aku. Tapi, jika salah satu dari ayam dan nanas menyakiti kalian. Dengan hati gembira aku akan mematahkan leher mereka." Ucap Gaara dengan nada serius.
Seharusnya Naruto dan Kiba takut, tapi mereka malah tertawa keras dibalas dengan senyuman tipis dari Gaara.
"Sudah selesai berceritanya?" Suara lain menginterupsi tawa mereka.
"Neji-nii!" Teriak Naruto dan Kiba kompak sedang Gaara hanya menatap datar. Bukan kewajiban untuk meneriaki nama Neji seperti itu, kan?
"Sejak kapan Neji-nii ada disini?" Itu suara Kiba yang bertanya penasaran.
"Sejak kalian membahas tentang Sasuke, petenis muda Konoha yang saat ini menjadi buah bibir." Jawab Neji, namun matanya memandang kearah Gaara. Yang ditatap menatap balik dengan ekspresi bosan.
"Neji-nii mengenal Sasuke?" Kali ini suara Naruto yang terdengar antusias.
"Tentu saja. Dia sering dibicarakan gadis-gadis muda sejak pertama kali kemunculannya. Aku sering mendengar mereka berbicara di cafe ini, Naru-chan." Neji tertawa kecil melihat Naruto yang mencibir karena cemburu.
"-Nah apa teman kalian menyukai hidangan di cafe ini?" Tanya Neji dan sekali lagi melirik Gaara, namun kali ini dengan senyuman seribu watt miliknya.
Modus! Teriak Naruto dan Kiba bersamaan dalam hati.
"Kami sahabat bukan teman, Hyuga-san." Koreksi Gaara dengan nada ketus dan itu membuat Naruto dan Kiba mulai saling menyikut sambil menahan tawa mereka.
Gaara mode kejam beraksi.
"-Well,aku tidak menyangka jika itu adalah hasil arahan anda. Rasanya lumayan." Lanjut Gaara kali ini dengan nada malas. Sebenarnya enggan, tapi ia tidak bisa berbohong kalau makanan dan minuman hasil racikan Neji pas dengan memang lemah dengan makanan manis.
Belum menyerah, Neji masih tersenyum walau kadar watt-nya sudah turun menjadi tujuh ratus watt karena jawaban ketus Gaara.
"Syukurlah... Kau bisa sering kesini lalu mencoba menu kami yang lain atau sekedar mengobrol bersama."
Gaara menatap Neji dengan tatapan aneh, dari ujung rambut sampai ujung sepatu pemuda itu, "Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu. Kau menyukaiku?" Tanya Gaara dengan alis terangkat sebelah.
Naruto dan Kiba melongo, mereka tahu kalau Gaara itu selalu berbicara to the point, tapi kali ini sangat tepat sasaran.
Poor Neji-nii... Sekali lagi Naruto dan Kiba berbicara dalam hati bersamaan.
Neji menelan ludah gugup dan mencoba untuk menjawab. Tidak mau kalau incarannya ini menganggap ia tidak gentleman. "...Y-ya... Mungkin... Aku memang tertarik padamu." Shit! Umpat Neji dalam hati, kenapa disaat pemuda bertato ai dikeningnya ini butuh keyakinan malah ia menjawab dengan gugup? Apa ia ketularan gagap sepupunya karena tinggal bersama bertahun-tahun?
"Kau yakin?" Kini giliran dua alis tipis Gaara yang saling bertaut.
Neji mengangguk gugup. Oh come on, Neji... Kau bukan remaja labil yang gugup karena baru pertama kali merasakan jatuh cinta! Rutukan terus Neji gumam dalam hati.
Melihat Neji hanya mengangguk gugup, seringaian muncul dibibir tipis milik Gaara. "Aku sudah punya dua anak, loh? Kau yakin bisa menerima aku dan menjaga kedua anakku?"
Kita lihat sampai dimana usahamu albino-kun. Seringaian Gaara semakin melebar.
Neji melonggo hampir menjatuhkan rahangnya. Kiba speechless sedang rahang Naruto secara imajiner sudah jatuh menyentuh lantai.
Tersadar, Naruto menarik ujung baju Kiba perlahan, Kiba melotot kearah pelaku penarikan baju karena merasa tercekik. Pelakunya, Naruto, cuma menyengir lalu minta Kiba mendekat agar ia bisa membisikan sesuatu.
"...Kiba... Memangnya benar Gaara sudah punya dua anak? Kok dia tidak pernah bercerita?"
Nah ini... Ini yang paling membuat Kiba jengkel setengah mati pada Naruto. Polos rangkap bodoh tidak terhingganya mulai kumat setelah tadi berbicara sok bijak.
Satu tamparan keras Kiba daratkan ditengkuk Naruto. "Aho... Gaara belum punya anak! Yang dimaksud dua anak itu kau dan aku¸baka-Naru... Kau tidak menyadari protektif berlebihannya Gaara pada kita berdua, huh?" Walaupun sedang emosi tapi, Kiba tidak mau menganggu momen kedua pemuda yang sedang memperjuangkan cinta mereka... Umm... Lebih tepatnya Neji yang memperjuangkan cintanya. Jadi Kiba tetap memilih berbicara sambil berbisik.
"Oh..." Naruto kembali menyengir tanpa rasa bersalah. "Jadi yang berperan sebagai ibu siapa? Gaara atau Neji?"
"Hmmm...." Kiba mengetuk kening beberapa kali dengan telunjuknya. Ber-pose seolah sedang berpikir keras. "Kalau pun Gaara ibu, Neji-nii mungkin akan menjadi suami-suami takut istri." Lanjutnya dan disambut tawa pelan dari Naruto.
"Apa yang kalian tertawakan, hm?" Tanya Gaara dengan suara datar, mereka sudah bersahabat cukup lama dan Gaara bisa menebak maksud dari tawa Naruto dan Kiba.
"Kami tidak menertawakan apa-apa, kok." Jawab Naruto sambil berkedip cepat. Berpura-pura tidak terjadi apapun sedang Kiba mengangguk membenarkan meski rasa geli tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
"Um... Sebenarnya aku tidak ingin menganggu momen kalian." Ujar Kiba dengan nada geli dan mendapat tatapan tajam dari Gaara. "Maafkan aku, Gaara... Tapi, Shikamaru sudah menjemputku jadi aku sudah harus pulang dahulu." Ujarnya lagi sambil mengangkat handpohone-nya dan menunjukan pesan dari Shikamaru yang dalam perjalanan menuju cafe.
Mendengar itu, Gaara mengangguk. "Oke... Bilang pada nanas itu untuk jangan mengebut dan pastikan kau sampai dirumah dengan selamat atau jika tidak, aku pastikan salah satu anggota tubuhnya berkurang."
Kiba hanya menggeleng maklum dengan perkataan Gaara dan menunjukkan jempolnya. Perlahan Kiba melangkah dan mendekati Neji yang masih tenggelam didunianya sendiri. Dunia yang Kiba sebut dunia shock.
"Cih, yang sedikit lagi menjadi kekasih..." Cibir Naruto saat Kiba melewatinya. Kiba menjulurkan lidahnya mengejek Naruto.
"Ganbatte, Neji-nii..." Ucap Kiba tulus saat berhadapan dengan Neji. Ia lalu terkekeh pelan dan segera berlari kecil keluar dari cafe.
"Jadi, Hyuga-san..." Panggilan Gaara sukses mendapat seratus persen perhatian Neji kembali. "Jika tidak ada urusan lagi, aku dan Naruto juga harus segera pulang dari pada kita bertiga cuma berdiam seperti patung ditaman." Lanjut Gaara dan itu membuat Naruto hampir tidak bisa menahan tawanya.
"Ah... Ya silahkan. Aku tidak akan menahan kalian lebih lama... Hati-hati dijalan." Bukannya merasa kesal, Neji malah tertawa kecil dengan jawaban ketus Gaara sehingga membuat Gaara memandang Neji dengan tatapan heran.
"Baiklah... Kami permisi dulu." Tegur Gaara kemudian, biar bagaimana pun Gaara tetap berlaku sopan terhadap yang lebih tua. Gaara lalu menarik pergelangan tangan Naruto untuk segera keluar dari cafe.
"Berjuanglah Neji-nii... Aku mendukungmu!" Bisik Naruto ketika ia melewati Neji dan mendapati kalau Neji tersenyum sambil mengangguk.
"Gaara... Jangan sekeras itu pada Neji-nii... Dia orang yang baik." Ucap Naruto ketika mereka sudah berada dalam mobil milik Gaara. "Dia juga punya nomor handphone-mu. Tapi, dia bilang tidak mau menganggumu dengan hal seperti itu. Dia hanya ingin mengenal secara langsung. Bukankah kau menyukai orang yang berani tapi sopan?" Lanjut Naruto lagi sambil menatap langsung Gaara. Mereka berdua ditambah Kiba memang jarang sekali berbicara serius seperti ini. Mereka lebih sering bercanda dan saling mengganggu, jika mereka berbicara serius itu artinya memang itu hal penting dan perlu dibicarakan sama seperti sekarang.
"Aku tahu, Naruto... Seperti kau dengan caramu sendiri menguji Sasuke, maka aku menguji albino itu dengan sikap ketus." Seringaian Gaara melebar. "Kita lihat apa dia juga lolos seleksi?"
Naruto tertawa mendengar penjelasan Gaara. "Kau memang Gaara yang tidak pernah terpisahkan dengan kata ketus, ya? Tapi, aku tahu kau itu baik dan aku menyayangimu..." Ucapan tulus Naruto membuat Gaara tersenyum sangat lebar.
"Aku juga. Nah, sekarang berhenti berbicara dan pasang seat belt-mu karena aku akan berkonsentrasi saat berkendara."
Sekali lagi Naruto tertawa, tapi kemudian berdehem pelan. "Gaara..." Panggil Naruto sedikit ragu.
"Hm..." Jawab Gaara disela-sela mengganti persneling.
"Kau benar setuju jika aku menyukai Sasuke?" Tanya Naruto sedikir berbisik.
Gaara terdiam cukup lama dan itu membuat Naruto merasa ada ulat bulu dibawah tempat duduk sehingga membuatnya duduk dengan tidak nyaman.
Bergerak tiada henti.
"Jadi, kau bilang menyayangiku secara tiba-tiba karena ingin aku menyetujuimu dengan ayam itu? Menyebalkan!" Dengus Gaara membuat Naruto menggeleng kepala dengan sangat cepat.
"Bukan seperti itu, Gaa-..."
"Itu hakmu, Naruto." Potong Gaara cepat, tidak mau Naruto salah paham. "Aku hanya membantu menyeleksinya. Kalau dia hanya main-main, cukup dengan satu sifat menyebalkan dariku dan darimu maka ia akan meninggalkanmu. Tapi, buktinya ia malah balas mengataiku dan membuatmu menyerah sehingga menyukainya. Keparat itu benar-benar keras kepala!-" Jelas Gaara panjang lebar tanpa lupa mengumpati Sasuke.
"-Satu hal yang ku amati dia bahkan bisa menyeimbangi misuh-misuhmu dan tidak terganggu, meski dia membalas dengan cara menyebalkan juga. Benar-benar brengsek, bukan?" Sekali lagi Gaara mengumpat namun diselingi tawa kecil dan mau tidak mau membuat Naruto juga ikut tertawa.
"Terima kasih Gaara..." Dengan gerakan cepat Naruto melepas seat belt-nya dan memeluk Gaara.
"Hmm... Tapi, bisakah kau melepaskan pelukanmu? Aku tidak ingin nama kita keluar dikoran besok karena kecelakaan saat berpelukan." Protes Gaara, tapi bibirnya menyungging senyuman. "Cepat kembali ketempat dudukmu sebelum kita celaka dan aku akan menghantui Sasuke selamanya karena ini semua salahnya!"
Buru-buru Naruto melepas pelukannya dan kedua pemuda itu tertawa lepas sekali lagi.
~ナルトはサスケへ~
Hari semakin gelap dan dua hari tanpa telepon atau pesan dari Sasuke membuat Naruto hampir mengigiti kuku-kukunya sampai habis. Naruto akui, ia sedikit merindukan pesan-pesan atau telepon Sasuke meski berawal dan berakhir dengan pertengkaran kecil mereka, tapi kali ini Naruto lebih mempedulikan keadaan Sasuke, seperti...
Apa cideranya sudah sembuh?
Atau...
Apakah Sasuke berlatih semalam suntuk lagi?
Atau...
Apa Sasuke tidak merindukan dirinya seperti ia merindukan Sasu-...
-Tunggu dulu?! Barusan Naruto berpikir apa?
Merasa otaknya bergeser Naruto menggerang kesal dan menjambak rambut frustasi. Akhirnya setelah hampir sepuluh menit menjambak habis rambut dan menendang-nendang kakinya secara membabi buta, Naruto meraih handphone-nya mencari nama kontak 'Temee Bastard Sasuke', lalu menekan icon dial.
Panggilan pertama terputus dan dijawab operator telepon.
Panggilan kedua Naruto mulai gelisah dan sama seperti panggilan sebelumnya, panggilan ini pun terputus.
Mulai mengigiti kukunya, Naruto kembali menelepon untuk ketiga kalinya.
"Ayolah Sasuke... Angkat panggilanku...-" Gumam Naruto gelisah. Ia jadi berpikir, apa Sasuke juga seperti ini jika Naruto tidak mengangkat panggilannya?
"...-Jika kau mengangkat panggilanku kali ini, aku akan yakin kau benar-benar menyukaiku dan aku akan mengakui kalau aku menyukai-"
"Ngghhh... Moshi-moshi?" Suara husky menjawab dari seberang terdengar seperti suara baru bangun tidur. Bola mata Naruto melebar sempurna. Niatnya tadi hanya bercanda dengan kalimat itu dan tidak pernah menyangka jika Sasuke menjawab panggilan.
Jadi, apa sekarang dia harus mengakui rasa sukanya pada Sasuke?
Tanpa sadar Naruto menekan icon merah sehingga panggilan terputus dan semenit kemudian, giliran ponsel Naruto yang berbunyi dan sekali lagi iris biru itu melebar.
Oh, bukan karena Sasuke meneleponnya kembali, tapi demi apa Naruto baru menyadari kalau ia menelepon Sasuke dengan jam satu lewat tiga puluh pagi?! Apa tadi dia kerasukan roh gelisah sampai-sampai menelepon tanpa sadar waktu?
Damn!
Naruto positif yakin otaknya memang sedang bergeser.
"Mo-... Moshi-moshi?" Naruto mengigit lidah karena suaranya terdengar gagap.
"Dobe? Ada apa? Terjadi sesuatu?" Dari nada suaranya, Naruto tahu jika Sasuke kuatir meski suara itu masih serak khas baru bangun tertidur.
Naruto menggelengkan kepala. Mendadak lupa tujuan awal menelepon Sasuke.
"Sudah kubilang, jangan menggelengkan kepalamu... Aku tidak bisa melihatnya..." Suara dengusan terdengar diiringi suara tawa kecil dan itu membuat Naruto merasa kakinya berubah menjadi jelly. Beruntung ia sedang berbaring di atas futon jika tidak, yakinlah ia sudah jatuh.
"Jadi ada apa?" Suara Sasuke kali ini sedikit mendesak.
"...Tidak ada apa-apa..." Gumam Naruto dengan suara yang sangat kecil.
"Jika tidak ada apa-apa, kenapa menelepon jam begini?" Jeda sejenak, Naruto menelan ludah seperti menelan batu. "-Jangan bilang kau merindukanku, dobe?"
"Temeeeee! Kau mengigau, ya?!" Teriak Naruto, entah kenapa emosinya tiba-tiba naik karena tebakan Sasuke yang penuh percaya diri itu. "Aku mengkuatirkan keadaanmu, bersyukurlah aku memikirkanmu!"
"Kau memikirkanku?" Suara itu terdengar tidak percaya.
Sekali lagi Naruto mengigit lidah. Kenapa pilihan katanya buruk sekali, sih?
"Tentu saja aku mengkuatirkan keadaanmu, teme... Masa aku mengkuatirkanmu tapi aku menelepon Kiba?" Ucap Naruto sedikit berbisik. Berterus terang lebih baik. "-Ituuu... Errr terakhir kali bertemu, kakimu terkilir. Apa kau baik-baik saja sekarang?" Lanjut Naruto dengan suara benar-benar mengecil diujung kalimat.
Suara berisik dari seberang telepon membuat Naruto yakin Sasuke juga sedang membalikkan badan seperti yang dilakukannya juga saat ini.
"Aku baik-baik saja... Cidera seperti ini, sudah sering terjadi pada petenis..." Jawab Sasuke pada akhirnya.
"Kok aku merasa kau sedang berbohong soal cideramu, ya?" Terdengar nada sangsi dari suara Naruto.
Hening kembali membuat Naruto merasa ada yang tidak beres.
"Sasuke? Kau tidak sedang berbohong, kan? Kalau berbohong aku buat cideramu lebih parah... Atau jangan-jangan kau sudah tertidur? Bocah sialan! Bisa-bisanya tertidur disaat aku sedang berbica-..."
"Dobe... Bagaimana bisa kau berbicara dengan meledak-ledak seperti itu padahal ini sudah lewat tengah malam? Dan siapa yang kau sebut bocah? Aku lebih tua darimu! Tiga tahun!" Dengusan kasar terdengar dan penekanan perbedaan umur mereka membuat Naruto tidak bisa menahan tawanya.
"...Gomen... Gomen... Habisnya kau diamnya lama, sih..." Naruto berdehem pelan untuk menghilangkan tawanya, "-Jadi kau tidak berbohong soal cideramu, kan?" Kali ini Naruto mencoba terdengar serius.
"Hm... Aku tidak apa-apa..."
"Syukurlah..." Naruto menghembuskan nafas lega. Ada keheningan sampai Naruto melanjutkan perkataannya. "Anggap saja tadi aku meneleponmu untuk mengingatkan soal pertandingan besok pagi... Jam 8.30, bukan?" Tanya Naruto mulai menguap, mengetahui Sasuke baik-baik saja membuat rasa gelisahnya berganti menjadi rasa kantuk.
"Ini sudah besok, dobe... Kau lupa meneleponku dengan jam satu pagi lebih beberapa menit, hm?" Sasuke terkekeh pelan.
"Aku lupa..." Gumam Naruto. "-Istirahatlah, jangan sampai terlambat bangun... Kau butuh stamina..." Mata Naruto mulai terasa berat.
"Dobe?"
"...Ya?" Suara Naruto sudah mulai berbisik berat, rasa kantuknya tidak bisa ditahan lagi. Tapi, ia juga tidak mau memutuskan panggilan ini, suara Sasuke terdengar seperti nyanyian pengantar tidur dan entah saat mengetahui Sasuke baik-baik saja, rasa gelisah mulai menghilang dan begitu mendengar suara Sasuke, rasa rindunya terobati.
Dalam hati, Naruto berjanji. Jika Sasuke menelepon lagi nanti, secepat mungkin ia akan menjawab. Naruto sudah merasakan sendiri, merindukan orang yang disukai bisa membunuh secara perlahan.
"Apa kau sudah ingin tidur?" Tanya Sasuke hati-hati.
"... Um... Sebenarnya ya... Tapi jika kau masih ingin berbicara, aku tidak apa-apa…." Sekali lagi Naruto menguap lebar. "Setidaknya kau sudah meneleponku. Suaramu mengobati rasa rinduku..."
"Kau merindukanku? Kau tidak sedang mengigau, bukan?" Kali ini nada suara Sasuke terdengar tidak percaya.
Naruto terkekeh lucu, "Aku tidak mengigau... Aku serius."
"Apa kau selalu berbicara jujur jika mengantuk?" Dari suaranya, Naruto tahu Sasuke sengaja menyindir, tapi Naruto terlalu malas untuk memulai pertengkaran mereka lagi.
"...Mungkin ya... Setidaknya itu yang dikatakan Kiba dan Gaara, sudah menjadi kebiasaan... Tapi, biasanya aku lupa jika terbangun nanti..." Gumam Naruto lagi, "-...Sial aku sudah benar-benar mengantuk, ttebayo!" Naruto mulai menggerutu.
"Naruto..."
"...Umm?" Naruto masih berusaha menjawab dengan mata yang mulai sayu dan tertutup.
"Aku ingin bertanya dan jawablah dengan jujur..." Bukan nada perintah, lebih pada permintaan.
"Okey..."
"Aku tahu kalau kau tahu tentang wallpaper handphone-ku adalah fotomu... Bagaimana perasaanmu?"
Naruto tertawa pelan, "Apa kita sedang melakukan wawancara disini? Aku tahu soal wallpaper itu dan lalu aku berpikir apa mungkin kau menyukaiku? Sedang kita lebih sering bertengkar..."
"Aku memang menyukaimu..." Sasuke berdecih. "-Sikapmu yang seolah dobe itu yang justru membuatku menyangsikan perasaanmu..."
"Aku hanya ingin kau serius dipertandinganmu saja dulu." Jawab Naruto cepat, tidak ingin Sasuke salah paham, tapi sial! Mata Naruto benar-benar sulit dibuka seakan ada lem super merekatkan kelopak matanya.
"Dobe..."
"Naruto..."
"Oi Naruto kau masih sadar?!"
Sayup-sayup panggilan Sasuke membuat Naruto tersentak.
"Um... Ya... Aku masih mendengarmu..." Naruto sendiri lebih yakin ia sedang bermimpi saat ini.
"Jangan tertidur dulu... Mumpung kau sedang jujur, aku ingin bertanya lagi..."
"Silahkan..." Gumam Naruto dengan suara mulai memberat.
"Apa kau menyukaiku?"
"Ya... Aku menyukaimu dan tidak akan membantah lagi..."
Hening yang sedikit panjang, membuat Naruto yakin ia memang sedang bermimpi. Mendengar suara Sasuke yang tidak terdengar ketus membuat Naruto merasa ini mimpi yang indah, mana ada di dunia nyata ia dan Sasuke berbicara sejujur ini? Yang ada mereka saling bertengkar dan menunjukkan taring.
Nada tenang dari suara Sasuke memang memabukkan.
"Jika aku memenangkan kejuaran ini, maukah kau...-" Sasuke menjeda ucapan sendiri hanya untuk menelan ludahnya dengan susah payah. "-Maukah kau menjadi kekasihku, Naruto?"
"Hm... Aku mau, Uchiha Sasuke..."
Dan Naruto benar-benar tenggelam dalam tidur dengan mimpi indahnya. Toh, bicara jujur dalam mimpinya bukan hal yang salah, kan?
Naruto tidak sadar jika tidak sedang bermimpi, ia hanya terlalu mengantuk dan tidak bisa membedakan yang nyata dan mimpi.
Naruto tidak sadar jika ia berkata terlalu jujur sehingga membuat petenis muda, Uchiha Sasuke memutus panggilan mereka dengan senyuman lebar diwajahnya. Sasuke sangat bersyukur dengan kebiasaan jujur Naruto saat pemuda manis itu hampir terlelap. Aneh memang, tapi setidaknya, ia bisa mengetahui perasaan secara jujur dan langsung dari mulut Naruto sendiri tanpa harus menebak-nebak terlebih dahulu.
"Aku akan mendapatkanmu, Naru dobe-ku..." Gumam Sasuke gembira lalu ikut tertidur.
~ナルトはサスケへ~
Jika dulu menjadi ball person Sasuke adalah hal yang menyebalkan bagi Naruto, tapi tidak dengan sekarang. Ia merasa seperti sedang mendapat tontonan spektakuler. Seperti saat ini, Sasuke sedang membuka baju kasual yang dipakai untuk diganti dengan baju petenis sehingga otot-otot mengiurkan itu terpampang jelas dan selalu minta disentuh oleh Naruto.
Ini pertama kali Naruto melihat Sasuke memamerkan otot secara langsung. Beda dengan dulu, Naruto meneriaki sewaktu pemuda itu pertama kali membuka baju, namun masih memakai kaos singlet, tapi kali ini pamandangan pertama Sasuke dengan lengan dan tubuh atas tanpa dihalangi apapun, menunjukkan otot-otot bisep dengan nadi yang terlihat jelas ditangannya, pinggul dan pinggang yang menurut Naruto proporsional dan perut rata hampir membentuk six pack. Naruto hampir saja tidak bisa menghentikan langkah dan menabrak meja di depannya akibat konsentrasi saat berjalan seratus persen terganggu oleh tubuh atasan tanpa sehelai benang apapun itu yang sialnya sangat seksi.
"Aku tahu ototku mempesona, tapi jangan dipandangi seperti itu..." Ujar Sasuke membuat Naruto kembali dari dunia nyata. Tidak hanya kembali, tapi juga sukses mengeram kesal dan ingin menendang meja di depannya. Bukan karena kata-kata sangat percaya diri itu, lebih untuk meluapkan rasa jengkel pada diri sendiri karena sempat terpesona dan kedapatan menatap otot-otot itu dengan air liur hampir menetes.
Damnit! Rasanya Naruto ingin menggali lubang lalu mengubur diri sekarang juga.
"-Jika terus memandangi tubuhku seperti itu, kau semakin membuatku ingin berbuat yang tidak-tidak padamu." Lanjut Sasuke dengan suara rendah menggoda sambil mendekati Naruto.
Sontak Naruto melangkah mundur. "A-apa maksudmu de-dengan tidak-tidak, teme?" Satu tegukan susah payah berhasil melewati tenggorakan Naruto. Lebih sialnya, Naruto merasa semakin bodoh karena berbicara gagap.
Sasuke sedikit menjauhkan kepalanya untuk menatap Naruto, "Seperti menyuruhmu untuk memakaikan baju petenis untukku?" Sasuke menjeda sejenak ucapannya. "-Astaga, dobe! Tidak kusangka kau punya pikiran kotor. Memangnya apa yang kau pikirkan dengan kata tidak-tidak, huh?" Sasuke terkekeh geli melihat pipi Naruto yang mulai merah padam menahan malu apalagi ia memang sengaja menekankan kata 'tidak-tidak'.
"Brengsek kau teme! Kau sengaja menjebakku, kan? Sana pakai bajumu sebelum aku benar-benar keluar dari ruangan ini!" Ancam Naruto dengan wajah sepenuhnya memerah.
"...-Kamisamaaaa! Apa yang kau pikirkan, Naruto? Kenapa bisa berpikiran aneh sedangkan kau baru berumur delapan belas tahun, huh?! Baka-Naru!" Naruto mulai menjambak rambut pirangnya dan merutuki diri sendiri.
Melihat wajah memerah Naruto, kehilangan kata-kata dan bertingkah seperti itu, membuat Sasuke tidak bisa menahan rasa geli sampai-sampai tangan pucat miliknya digunakan untuk mengacak surai pirang milik Naruto.
Kegiatan menjambak rambut dan merutuk Naruto langsung terhenti karena tindakan Sasuke dan berganti dengan mata biru yang membulat terkejut dan menatap dengan imut, menjadikan Sasuke terpaksa berbalik untuk menggunakan baju tenis-nya. Alih-alih untuk menghentikan pikirannya sendiri yang sudah mulai kotor untuk mengapa-apakan Naruto yang dalam pandangannya terlihat sangat manis dan menggoda dengan mata biru bulat itu.
Sabar Sasuke, ada waktunya... Sasuke menenangkan diri sambil menyeringgai.
Berbeda dengan Naruto yang makin gemas ingin menyusuri tulang belakang Sasuke saat pemuda itu berbalik dengan jemarinya. Namun rasa gemas itu berubah menjadi kernyitan heran saat melihat Sasuke berjalan untuk meraih tas petenis miliknya.
Jika diperhatikan secara teliti, Sasuke memang sedikit terpincang.
"Sasuke?" Panggil Naruto saat merasa tidak bisa menahan penasaran lagi.
"Hm?" Jawab Sasuke tanpa berbalik menatap Naruto.
"Kau yakin baik-baik saja?"
Aktifitas Sasuke sedang memakai tas berhenti, lalu berbalik dan mendapati Naruto menatap dengan alis saling bertaut.
"Tidak perlu menatapku seperti itu..." Sasuke berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu Naruto. "Aku sangat baik hari ini karena sedikit lagi aku akan mendapatkan targetku!" Bisik Sasuke dan segera meninggalkan Naruto.
Naruto terdiam, tidak sepenuhnya mengerti ucapan Sasuke. "Apa yang kau maksud, teme?" Alis itu masih saja mengernyit.
"Tunggu saja waktunya. Kalau kau sedikit lebih cerdas, kau pasti sudah bisa menebak maksudku, dobe." Jawab Sasuke sedikit mencibir dan mengeraskan suaranya karena jarak mereka sudah agak jauh.
Naruto memutar mata karena jawaban itu. Sasuke memang begitu, pasti ujung-ujungnya akan berkata dengan nada menyebalkan. Naruto sudah terlalu hafal dengan sikap Sasuke yang satu ini.
"Ayo bergerak! Kita sudah harus masuk lapangan." Kata Sasuke sambil betepuk tangan beberapa kali ketika melihat Naruto belum bergerak dari tempatnya.
"Iya... Iya... Aku pergi. Semangat sekali, sih!" Cibir Naruto, tapi tetap bergerak mengikuti Sasuke dari belakang.
Mereka berdua berjalan menuju ke lapangan dengan tidak banyak bicara. Naruto juga sengaja berjalan dari belakang karena ingin memperhatikan kaki Sasuke yang terkilir sebelumnya dan benar saja, jika diperhatikan, dilangkah tertentu Sasuke berjalan dengan sedikit pincang.
Apa Sasuke berbohong soal cideranya?
Apa cideranya separah itu?
Tapi, Naruto memilih untuk diam. Enggan untuk bertanya karena tidak mau merusak aura bahagia Sasuke yang menguar sedari tadi.
Saat mereka masuk lapangan sampai mulai pertandingan set pertama pun Sasuke masih baik-baik saja. Sasuke memang memenangkan set pertama dengan skor tipis, tidak banyak bicara pada Naruto saat istirahat sejenak, namun masih sesekali melemparkan senyuman pada Naruto. Tapi, Naruto tahu dari cara berlari Sasuke saat meraih bola yang dipukul lawan terkesan lebih lambat dari pertandingan-pertandingan sebelumnya.
Kekuatiran dan kecurigaan Naruto terbukti saat set kedua berlangsung dan gerakan Sasuke benar-benar melambat. Naruto hampir mengigit habis bibir bawahnya ketika Sasuke meminta time out pada wasit untuk menyeka keringatnya. Nafas Sasuke benar-benar tersenggal.
"Kau benar tidak apa-apa, Sasuke?" Naruto tidak bisa menahan nada kuatir dalam suaranya.
Sasuke mendongkak untuk menatap langsung mata biru Naruto dan memilih diam.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu." Ujar Naruto saat Sasuke bangun dari kursinya.
"Aku berlatih dengan keras untuk pertandingan kali ini." Jawab Sasuke masih menghapus jejak keringat dengan handuk. Ia sengaja untuk mengulur waktu agar bisa berbicara dengan Naruto lebih lama. "Kekuatiranmu tidak beralasan."
Kalau mereka tidak sedang dalam pertandingan resmi, Naruto yakin ia sudah berteriak, membentak lalu memukul kepala Sasuke. Naruto kesal karena Sasuke terkesan acuh terhadap cideranya, tapi Naruto tahu Sasuke menyembunyikan cideranya dengan baik.
Bunyi peringatan waktu habis akhirnya terdengar. Sasuke mendesah pelan lalu meletakkan handuk bekas pakai dibahu Naruto dengan tangan menyentuh bahu pemuda manis itu.
"Tenanglah... Sekalian ini tanda bagiku tentangmu." Tangan yang tadi hanya menyentuh berganti dengan remasan pelan.
Naruto terlalu bingung dengan ucapan Sasuke, rasanya ia ingin bertanya, tapi Sasuke sudah terlebih dahulu masuk lapangan. Jadi, Naruto memilih untuk kembali ke posisi ball person dan mengamati pertandingan itu. Dalam hati Naruto berharap Sasuke bisa memenangkan pertandingan kali ini. Mengingat kerja keras Sasuke, berlatih sampai ada garis hitam di bawah mata dan masih saja berlatih sebelum pertandingannya dimulai. Memang lawan Sasuke bukan unggulan seperti lawan sebelumnya, tapi tetap saja dengan cidera Sasuke, membuat Naruto mau tidak mau kuatir.
Sekali lagi dugaan Naruto benar. Baru saja dua puluh menit setelah pertandingan babak kedua dimulai, Sasuke tergelincir dan terjatuh saat mengembalikan bola yang memang berada disudut berlawanan dari tempat berdirinya. Jika saja Sasuke kembali berdiri Naruto akan baik-baik saja, tapi bukannya bisa berdiri, Sasuke malah tergelincir dan jatuh lagi meski raket sudah digunakan menjadi topangan saat pemuda itu mencoba berdiri. Lebih buruk lagi, saat Sasuke kembali ke posisi untuk bersiap menerima service lawan, kakinya kembali pincang. Ekspresi wajahnya pun seperti menahan ringgisan.
Kamisamaaa! Seru Naruto dalam hati. Sasuke masih cidera, ttebayo!
Cidera itu membuat lawan dengan mudah menambahkan poin karena Sasuke yang tidak bisa mengembalikan bola hasil service tepat waktu. Skor lawan semakin mendekati skor Sasuke. Hal ini pun terjadi di service kedua dan ini membuat Kakashi sebagai pelatih Sasuke meminta time out.
"Jangan macam-macam, Kakashi!" Desis Sasuke saat sudah berdiri ditempat istirahat di samping lapangan karena permintaan time out Kakashi. "Kenapa kau minta time out saat aku masih bisa bertanding, huh?!"
"Kau yang macam-macam, Sasuke." Suara Kakashi rendah dan terdengar kesal. "Kenapa kau bertingkah seolah-olah cideramu dari dua hari lalu sudah membaik?"
"Lalu kau ingin aku berbuat apa? Menyerah? Membiarkan impian dan kerja kerasku sia-sia?"
"Tentu saja tidak sia-sia! Kau ingin cidera ini merusak pergelangan kaki dan membuatmu tidak bisa menjadi petenis profesional seperti keinginanmu?" Suara Kakashi mulai terdengar kesal. Meski begitu, Kakashi masih memanggil tim medis untuk membawa spray pereda nyeri saat pemain cidera untuk menyemprot ke kaki Sasuke.
"Naruto kemarilah..." Panggil Sasuke saat melihat Naruto berdiri didekatnya dengan pandangan sulit diartikan. Ball person memang berdiri didekat pemain saat pemain beristirahat. Berjaga-jaga kalau-kalau pemain membutuhkan sesuatu.
Mendengar panggilan itu, Naruto mendekat. Pandangannya bergantian memandang mata Sasuke lalu kaki yang disemprot spray kemudian dipijat pelan oleh tim medis. Sedang Kakashi sudah pergi ke tempat wasit dan merundingkan sesuatu yang Naruto sendiri tidak begitu mendengarkan.
"Jika aku memenangkan turnamen ini, kau akan menepati janjimu, kan?"
Naruto terlalu bingung dengan maksud pertanyaan dan tatapan yang sangat dalam itu.
Janji yang mana?
"Ya, aku akan menepatinya." Bisik Naruto sambil menghapus jejak keringat Sasuke dengan lembut sampai membuat Sasuke menutup matanya. "Jadi, berhenti membuat aku kuatir dengan cideramu. Hasil apapun yang kau dapat, aku tetap akan menepatinya. Jangan terlalu memaksa dirimu" Naruto memang tidak mengerti janji apa yang harus ditepatinya, tapi ia benar-benar ingin menenangkan Sasuke saat ini.
Perlahan Sasuke membuka mata dan menampakan iris malam miliknya sambil menatap Naruto intens. Naruto tidak bisa menahan jantungnya yang berusaha keluar karena debaran sangat kencang akibat tatapan itu.
Pemuda bermarga Uchiha itu berdiri dari tempat duduknya, "Aku akan berusaha." Ujarnya sambil mengetuk kening Naruto dan berjalan masuk kearah lapangan.
Napas Naruto tercekat, jantungnya berdetak semakin liar seakan menabuh drum dengan kecepat penuh. Beruntung tim medis yang bergerak membereskan peralatan menyadarkan keterdiamannya sehingga Naruto kembali ke posisi ball person. Naruto masih sempat melihat Sasuke berbincang dengan wasit dan itu membuat bisik-bisik penonton semakin menjadi-jadi sebelum akhirnya Sasuke masuk ke lapangan.
Naruto menonton pertandingan dengan cemas. Poin Sasuke dan lawan saling memburu, belum lagi gerakan Sasuke kadang melambat membuat suasana semakin menegang. Naruto masih bisa menahan diri untuk tetap tenang sampai akhirnya lawan melihat cela dari posisi berdiri Sasuke dan sekali memukul bola ke sudut yang tidak terjangkau. Sasuke berlari dengan gerakan refleks, sayangnya akibat cidera kaki itu, timing-nya untuk mengembalikan bola tidak tepat jadi, dengan kaki yang cidera Sasuke mendorong tubuhnya kuat untuk mendapatkan bola, tapi sialnya bola itu malah membentur net dan kembali ke lapangan sendiri.
Poin lawan mengungguli Sasuke. Stadion penuh dengan suara gemuruh penonton. Ada yang menyesal dengan gagalnya pengembalian itu dan ada yang bersorak karena mendukung lawan. Naruto tidak peduli dengan suara gemuruh itu, yang Naruto pedulikan saat ini adalah kondisi Sasuke. Pemuda itu tampak bergetar saat kembali berdiri.
Sasuke tidak sedang baik-baik saja. Naruto tahu itu!
Naruto terus merutuk keras kepala pemuda Uchiha itu saat dengan ringannya mengangkat tangan dan memberi instruksi kalau ia tidak apa-apa dan pertandingan bisa dilanjutkan kembali.
Brengsek! Apa ada yang bisa meluluhkan keras kepala itu? Naruto mengumpat dalam hati.
Bukti dugaan Naruto kalau Sasuke tidak baik-baik saja kembali benar. Selang beberapa menit saat pertandingan dimulai, saat Sasuke berlari untuk mengembalikan bola, gerakannya terhenti lalu jatuh terduduk dengan tangan mencengkram erat kakinya dan ekspresi menahan rasa sakit.
Para tim medis, Naruto, Kakashi dan beberapa ball person lain langsung berlari masuk lapangan. Begitu Naruto sampai ditempat terjatuh Sasuke, eranggan kesakitan semakin terdengar jelas. Tim medis mengeluarkan peralatan dan Sasuke menepis dan mencoba berdiri, tapi ia malah kembali terjatuh. Kakashi yang bertindak sebagai pelatih dan paman Sasuke mencengkram bahu Sasuke keras dan memaksa pemuda itu kembali duduk. Ekspresi Kakashi sulit untuk dijelaskan.
Setelah beberapa menit saat Sasuke mulai tenang, tim medis memeriksa keadaannya lalu mengangkat tangan. Pertanda Sasuke tidak bisa melanjutkan pertandingan.
"Apa yang kalian lakukan?!" Suara Sasuke mengeras, "Aku masih sanggup bertanding!"
"Jangan bodoh, Sasuke!" Akhirnya Kakashi bersuara, "Mau sampai kapan kau keras kepala, huh?! Kau ingin berhenti sekarang atau kau ingin berhenti selamanya dari dunia tenis?!"
Sasuke terdiam, berhenti dari dunia tenis disaat masih muda tidak pernah terpikir sebelumnya. "Tapi aku harus menang." Bisik Sasuke kemudian, matanya melirik kearah Naruto yang mengigit bibir bawahnya sampai terlihat sedikit membiru.
"Kau akan menang... Bukan saat ini, tapi nanti." Ujar Kakashi tenang lalu memberi gesture pada Naruto untuk mendekat sehingga bisa memapah Sasuke dan Naruto menuruti permintaan ini. Kakashi lalu meninggalkan mereka dan menuju kearah wasit.
"Aku ingin menang, Naruto..." Bisik Sasuke parau saat Naruto mengangkat tangannya dan memapah Sasuke. "Aku benar-benar berlatih keras untuk ini." Lanjutnya kemudian.
"Aku tahu kau sudah berjuang dengan sangat keras. Semua mengakuinya, kau dengar tepuk tangan penonton? Mereka menyemangati dan bangga padamu." Ujar Naruto menenangkan.
Saat Sasuke mengedarkan pandangan kearah bangku penonton, ia menyadari jika hampir semua penonton berdiri sambil bertepuk tangan saat dirinya meninggalkan lapangan dengan tertatih. Mereka menunjukkan penghargaan bagi Sasuke. Prediksinya memang Sasuke bisa masuk final karena lawan kali ini tidak setangguh lawan dipertandingan perempat final, tapi siapa yang menyangka Sasuke kalah karena cideranya? Dua hari waktu yang singkat dan tidak mungkin cidera bisa sembuh total secepat itu.
"Bagi mereka kau yang memenangkan pertandingan kali ini. Jika bukan cidera, sudah pasti bisa masuk final. Kemenangan lawan hanya karena keberuntungan saja." Lanjut Naruto sambil mencibir.
"Benarkah? Kau juga berpikir seperti itu?"
Jika dalam keadaan biasa, Naruto pasti sudah mempertanyakan keanehan dirinya sendiri. Dapat ilham darimana sampai dia berkata bijak dan menenangkan? Lalu apa barusan Sasuke bertanya dengan suara memelas dan manja?
Apa jiwa mereka berdua bertukar dengan jiwa orang lain?
atau,
Dunia pasti sudah terbalik.
Mau tidak mau Naruto terkekeh, geli sendiri.
"Kau menertawakanku, dobe?"
Kekehan itu berganti dengan dengusan kasar. Baru sedetik lalu suara Sasuke memelas dan sekarang sudah berganti menjadi nada menyebalkan seperti biasa.
"Aku tidak menertawakanmu! Aku hanya lucu dengan kata-kata bijak yang keluar dari mulutku sendiri." Gigi-gigi Naruto bergemelutuk menahan kesal.
"Hm... Sebenarnya aku juga berpikir begitu. Apa kau bertukar jiwa dengan orang lain?" Ujar Sasuke ringan sambil menahan senyum lucu. Bicara dengan Naruto bisa membuatnya sedikit melepas stress-nya.
"Sudahlah, teme. Jangan bercanda lagi, ayo kubantu masuk ruangan. Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja saat ini." Ujar Naruto lalu memperbaiki posisi memapah Sasuke dan tidak menyadari ekspresi Sasuke yang meredup.
~ナルトはサスケへ~
Mereka kembali ke ruangan Sasuke, tim medis juga sudah memeriksa keadaan Sasuke, beruntung meski kemenangan menjadi milik lawan, tapi cidera Sasuke bukan permanen, bisa disembuhkan dengan istirahat sebulan dan beberapa terapi kecil.
Naruto kini sedang membereskan peralatan tenis Sasuke dibantu Gaara. Gaara memang diperbolehkan masuk ruang petenis karena diijinkan Sasuke, lagian Gaara juga menonton pertandingan dan menaruh respek dengan usaha pemuda itu. Sasuke sendiri saat ini sedang membersihkan diri dari keringat di kamar mandi.
"Dia berjuang dengan keras..." Aku Gaara sambil membantu memisahkan pakaian kotor untuk di laundry.
Naruto mengangguk tipis, "Ya, itu yang membuat aku menyukainya."
"Kau benar... Dia tipe pejuang, aku pikir kau pantas bersamanya karena sifatnya itu."
Naruto terkekeh pelan sedikit merasa lega karena Gaara sudah mulai menerima rasa suka Naruto pada Sasuke. Baru saja Naruto ingin menggoda Gaara, bunyi pecahan kaca dari arah kamar mandi mengagetkan mereka berdua. Sontak Naruto berlari kencang kearah kamar mandi diikuti Gaara, memang diruangan itu hanya tersisa Naruto, Sasuke dan Gaara.
"Sasuke?! Sesuatu terjadi didalam?" Teriak Naruto tidak sabaran dengan tangan mengetuk pintu kamar mandi.
"Sasuke?!" Teriak Naruto sekali lagi, tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Tenang Naruto... Biar aku yang mengurusnya." Ujar Gaara tenang saat melihat kepanikan Naruto. Dengan pelan ia mengeser Naruto sedikit menjauh dari pintu kamar mandi dan menekan gagang pintu. Pintu terbuka menampakan Sasuke yang masih memakai pakaian tenis dan kamar mandi seperti kapal pecah. Serpihan kaca bertebaran dilantai.
"Kamisama! Apa yang kau lakukan, Sasuke?!" Bentak Naruto ketika melihat kepalan tangan Sasuke berdarah. "Kau berdarah!' Panik, Naruto meraih tangan Sasuke yang satunya.
Sepertinya Sasuke memukul cermin kamar mandi sampai melukai tangannya.
"-Ayo kita harus segera mengobatinya..." Naruto menarik tangan itu, tapi secepat gerakan Naruto, secepat itu Sasuke menghempas tangannya keras.
"Ini kan yang kamu mau?" Sasuke berkata dengan ekspresi dan nada yang sangat datar, matanya terlihat kosong.
"Apa yang kau maksud, Sasu-..."
"Kau ingin aku kalah, bukan? Sebenarnya itu keinginanmu agar bisa menjauh dari aku kan, Naruto." Suara Sasuke memberat dan bergetar.
"Aku tidak mengerti maksudmu, yang terpenting sekarang obati luka mu dulu."
"Jangan bercanda!" Suara Sasuke naik, membuat Naruto dan Gaara terkejut. "Kau sebenarnya hanya main-main dan tidak pernah peduli padaku. Tidak tahu seberapa kerasnya aku berusaha, kau hanya kasihan padaku sa-..."
"Brengsek!" Belum sempat Sasuke menyelesaikan ucapannya, Gaara terlebih dahulu meraih kerah bajunya lalu dengan sentakkan keras membenturkan punggung itu ke dinding kamar mandi. "Kau yang bercanda, Uchiha! Kau kira Naruto main-main? Dia bahkan hampir mengkuatirkanmu setiap saat sewaktu kau cidera, bukankah kau sendiri yang tidak mengabarinya?-..." Nafas Gaara memburu, ingin sekali melayangkan satu pukulan keras ke kepala Sasuke yang sedang tidak bisa berpikir jernih.
"...-Kami tahu kerja kerasmu, tapi cidera mu bukan salah Naruto. Tidakkah kau berpikir mungkin saja kau berlatih terlalu keras dan hari ini batas toleransi tubuhmu? Lalu darimana asal pikiranmu jika Naruto ingin kau kalah? Cih, yang benar saja dia bahkan tidak bisa bekerja serius di cafe hanya karena terus memikirkanmu.-" Gaara berdecih lalu melepaskan kerah baju Sasuke. Emosinya tidak bisa dikontrol. Rasanya ia bisa saja memaki Sasuke sepanjang hari ini.
"-Dari awal aku sudah tahu, pada akhirnya kata-katamu yang tajam dan akan melukai Naruto. Kau benar-benar keparat, Sasu-..."
"Gaara!" Naruto menegur Gaara, "Jangan berkata seperti itu. teme ini sedang dalam kondisi kurang bagus makanya bicaranya melantur seenak kepala ayamnya." Bibir Naruto mengerucut saat berbalik menatap Sasuke. "Dengar teme... Aku tidak peduli dengan apa yang ada dipikiranmu sekarang. Yang aku peduli adalah kau segera keluar dari kamar mandi sialan ini, agar aku bisa merawat lukamu. Kau ingin tanganmu cidera juga? Lalu kau akan berhenti meraih mimpimu di kejuaran ini dan aku tidak bisa menepati janjiku padamu, huh? Apa kau tidak sadar, jika aku tidak peduli padamu, kenapa aku harus repot-repot meladenimu dari awal?" Ucap Naruto panjang lebar dalam satu tarikan nafas, bahkan setelah berbicara pun, deru nafasnya masih tidak beraturan.
Sasuke terdiam, seolah tersadar dengan ucapan Gaara dan Naruto barusan. Dalam hati Sasuke membenarkan ucapan mereka. Tidak seharusnya ia menyalahkan Naruto karena kekalahannya. Bukan kehendak Naruto juga, padahal Naruto yang merawat dan menyadari cidera sebelumnya, Naruto yang menghubungi Kakashi untuk menyetir karena kondisinya saat itu tidak memungkinkan, Naruto yang tidak bisa menahan rasa kuatir sampai-sampai menghubungi dan menanyakan keadaannya meski sudah sangat larut, Naruto juga yang bertahan meski digoda dan diejek olehnya, dan hanya Naruto yang masih mau merawat luka ditangannya bahkan setelah Sasuke membentak dengan alasan yang tidak masuk akal dan bukankah Naruto juga pernah bilang ingin dirinya mewujudkan impiannya meski tidak mengatakan secara langsung?
Lalu apa pantas ia menyalahkan Naruto?
Tapi, Sasuke hanya merasa tertekan, ia berjuang, berlatih sekeras mungkin, namun hasil akhir seolah tidak sebanding dengan kerja kerasnya dan lebih membuatnya kesal adalah Naruto bilang ingin menepati janji jika Sasuke memenangkan pertandingan, sedangkan Naruto tidak menampakan tanda-tanda mengingat percakapan mereka tadi pagi ditelepon.
"Kau beruntung Naruto peduli padamu. Jika tidak, bukan hanya satu tangan, tapi dua tanganmu aku patahkan." Desis Gaara tajam pada Sasuke, saat Naruto menarik pergelangan tangan pemuda itu untuk keluar.
"Gaara..." Panggil Naruto dengan suara memelas, "Jangan bertengkar lagi. Biarkan aku merawat Sasuke dulu." Tatapan memelaspun Naruto berikan pada Gaara.
Tak kuat dengan tatapan kucing terbuang milik Naruto, Gaara mendesah berat. "Baiklah... Baiklah... Urus saja Sasuke-mu. Aku tidak peduli jika kau dikatai dia lagi, tapi jangan harap dia akan baik-baik saja setelah mengataimu." Kali ini Gaara mendengus.
Naruto tersenyum sangat lebar dan berlari untuk memeluk Gaara, tapi langkah Naruto tertahan, tangannya dicengkram erat oleh Sasuke. Pemuda itu menggelengkan kepala, menolak ide Naruto untuk memeluk Gaara.
"Tsk! Cemburu? Tenang saja, Naruto itu anakku yang kau butuhkan sekarang itu restuku. Seenaknya melarang anak memeluk orangtua-nya sendiri." Gaara berdicih menatap Sasuke tajam, sedang Naruto mendesah dengan kelakuan Gaara. Sasuke? Jangan ditanya lagi, tentu saja sekarang alisnya bertaut bingung karena perkataan Gaara.
Dengan seringgaian usilnya, Gaara melewati Sasuke dan memeluk Naruto erat. "Anakku... Aku harus pergi dulu, sebelum kesabaranku habis karena tingkah si brengsek ini." Decih Gaara ketika tatapannya bertemu dengan Sasuke. "Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai pemuda ayam ini menerkammu. Kesayanganmu ini pergi dulu. Jya ne~" Gaara berujar sambil mencium pipi Naruto sekilas dan keluar ruangan dengan tawa antagonis.
Sasuke mendesis kesal sedang pipi Naruto bersemu merah dengan tingkah Gaara.
Bagaimana jika Sasuke salah paham dengan sikap Gaara barusan? Gaara benar-benar penuh kejutan, ttebayo!
"Kau tidak ada hubungan dengan pand-..."
"KAMI TIDAK ADA HUBUNGAN APAPUN SELAIN SAHABAT, TTEBAYO!"
SIAL! Rutuk Naruto lagi, ia menjawab terlalu cepat. Kalau begini Sasuke pasti sudah bisa menebak kalau ia menyukai petenis yang ada di depannya ini.
"Hooo..." Nada suara Sasuke terdengar menggoda, Naruto menelan ludah dengan susah payah. "Apa itu artinya kau ingin mempunyai hubungan lebih dari sahabat denganku, dobe?"
"DIAM!" Sekali lagi teriakan Naruto memenuhi kamar mandi dan itu sukses membuat Sasuke menutup telinganya karena dengungan suara cempreng itu. Sasuke mengerang tertahan.
"Makanya teme jangan bicara yang aneh-aneh! Sekarang ikuti aku lalu biarkan aku membersihkan dan mengobati lukamu dulu..." Kata Naruto lagi dengan suara lebih pelan. Dengan pipi dan telinga memerah lebih dari tomat, Naruto menarik tangannya yang memegang tangan Sasuke, lebih tepatnya Sasuke yang memegang tangan Naruto karena tadi menahan Naruto agar tidak memeluk Gaara.
Aku benar-benar jatuh cinta padamu, Naruto... Bisik Sasuke dalam hati sambil tersenyum lebar. Apalagi, Naruto kembali memapahnya. Tentu saja posisi mereka semakin dekat.
Senyuman Sasuke tetap bertahan diwajahnya sampai Naruto selesai membersihkan dan mengobati lukanya.
"Dobe?" Panggil Sasuke hati-hati.
"Hm?" Jawab Naruto yang duduk berhadapan dengan Sasuke sambil memiringkan kepala. Mata biru itu berkedip bingung.
Kamisama, aku ingin menciumnya... Sadar dengan pemikirannya, Sasuke menggelengkan kepala keras. Sasuke bahkan lupa kalau saat ini sedang bersedih karena kekalahannya.
"Kalau tidak ada apa-apa, jangan memanggil dan melihatku seperti itu, teme..." Naruto memandang Sasuke seolah ada ekor tumbuh dikepala Sasuke. "Sudahlah, aku ingin memberitahu Kakashi-san untuk mengantarmu pulang." Lanjut Naruto lagi sambil berusaha berdiri.
Dengan satu gerakan cepat, Sasuke berhasil membuat Naruto kembali duduk.
"Jangan panggil siapa pun dulu." Suara Sasuke memang terdengar tenang, tapi cukup membuat darah Naruto berdesir. "Biarkan kita berdua seperti ini tanpa gangguan orang lain karena aku ingin bertanya padamu."
"Bertanya? Bertanya apa?" Alis Naruto bertaut.
"Sebelum kau tertidur setelah aku meneleponmu, apa kau ingat sesuatu?"
Sekali lagi alis Naruto bertaut, menunjukkan ekspresi sangat bingung. "Ingat apa? Bukankah telepon terputus setelah aku menyuruhmu beristirahat?" Sekarang giliran matanya yang berkedip bingung.
Sasuke mengerang, sudah menduga kalau Naruto melupakan perkataannya sendiri padahal itu perkataan penting yang membuat Sasuke berdebar dan kepayang sampai rasanya terbang ke langit ketujuh.
Sialan!
"Kau benar-benar melupakan pengakuanmu sendiri?" Tanya Sasuke dengan suara mengintimidasi dan menarik kursinya semakin mendekat kearah Naruto.
Entah keberapa kalinya hari ini, Naruto menelan ludah dengan susah payah. Berpikir dengan suara rendah Sasuke dan jarak sedekat ini membuat Naruto kesulitan mengingat secara menyeluruh kejadian telepon tersebut.
Apa kebiasaannya yang berbicara jujur saat hampir terlelap membuatnya mengatakan sesuatu pada Sasuke?
Tapi,
Sesuatu itu apa?
Pasrah, akhirnya Naruto menggeleng kepala.
"Benar kau melupakannya?" Tanya Sasuke semakin mengeser kursinya mendekat sampai kedua pahanya menghimpit kedua paha Naruto.
Ketika Naruto ingin bergerak, Sasuke semakin menghimpit kedua kakinya. Sial bagi Naruto karena dia terkurung antara tembok dan Sasuke. Kesempatannya untuk melarikan diri benar-benar hilang. Sekali lagi Naruto pasrah dan menggelengkan kepala sangat lemah.
"Biar aku ingatkan dengan satu petunjuk..." Kali ini bukan kursi yang ditarik untuk memdekat, tapi Sasuke memajukan kepalanya. Ketika hidung mereka hampir bersentuhan, Sasuke mengeser kepalanya untuk mensejajarkan dengan telinga Naruto. Sesaat Sasuke tersenyum tipis melihat telinga Naruto yang memerah.
"-Semalam saat aku bertanya mengenai perasaanmu. Kau bilang kau mengakuinya dan tidak membantah lagi..." Sasuke menjauhkan kepala untuk menatap Naruto yang kini menutup mata erat, alis bertaut dan menahan nafas. Sasuke tahu karena dada Naruto-nya tidak bergerak turun naik.
Kepala Naruto pusing seolah berputar, mencium aroma parfum bercampur keringat dan suara Sasuke begitu dekat dengan indra pendengarannya sungguh sangat tidak baik bagi kesehatan jantung imutnya. Jadi, Naruto memilih menahan nafas dan menutup mata untuk menetralisir jantungnya yang seakan ingin melompat keluar dari mulut.
Beberapa menit lamanya sampai kelopak mata Naruto terbuka dan bola matanya melebar.
"Apa kau menyukaiku?"
"Ya... Aku menyukaimu dan tidak akan membantah lagi..."
"Jika aku memenangkan kejuaran ini, maukah kau... Maukah kau menjadi kekasihku, Naruto?"
"Hm... Aku mau, Uchiha Sasuke..."
Damnit! Kenapa dia bisa berbicara sejujur itu?!
"Aku... Mengingatnya..." Naruto berbisik hampir tak terdengar.
"Kau mengingatnya?!" Suara Sasuke terdengar tak percaya. Bahkan suara itu sedikit melengking. Tapi, melihat Naruto yang mengangguk kepala membuat Sasuke yakin telinganya memang tidak salah dengar.
"Tapi, jangankan memenangkan kejuaran ini, masuk final pun tidak bisa." Kali ini giliran Sasuke yang berbisik sangat pelan. "Karena aku kalah, kau boleh pergi, tidak perlu menepati janji sepihak ini dan bebas dari aku selamanya." Sasuke beranjak bangun untuk meninggalkan Naruto.
"Apa-apaan sih kau temee?!" Bentak Naruto kesal dan dengan kekuatan penuh, ia menarik pemuda itu sampai duduk kembali di depannya. "Kenapa memutuskan sepihak seperti itu? Kenapa tidak tanya dahulu pendapatku? Lalu kau pikir aku ini manusia macam apa yang membatalkan janji? Itu bukan janji sepihak, temeee! Aku memang melupakannya, tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Kau pikir aku main-main? Aku serius! Kenapa malah kau yang mempersulit keadaan?!-"
Sasuke tahu Naruto itu bisa berbicara panjang lebar dalam satu tarikan nafas. Tapi, bukan itu yang membuat Sasuke speechless melainkan kata-kata Naruto terdengar serius dan menyakinkan. Oh jangan lupa kedua tangan tan itu juga sudah berpindah dan menangkup pipi Sasuke saat ini.
Sasuke rasa ia bisa kehilangan nafas saat ini juga.
"-Apa aku tidak pantas diperjuangkan sehingga kau menyerah semudah itu?" Suara Naruto menyenduh. Mata Sasuke membola terkejut. Tidak menyangka Naruto bisa berpikir sampai seperti itu. Sasuke berpikir jika Naruto mengatakan menyukai dan mau menjadi kekasihnya hanya karena paksaan dirinya saja. Sama seperti saat ia memaksa Naruto untuk menjadi ball person pribadinya.
Sasuke menyentuh kedua tangan Naruto yang menangkup pipinya."Aku tida-..."
"Jadi benar seperti itu? Baiklah... Aku memang cuma remaja labil dengan perasaan sepihak dan tidak patut untuk diperjuangkan petenis idola seper-"
Ucapan Naruto terhenti, mata membola sangat lebar, jantungnya memompa kencang, darah berdesir dan nafas tercekat.
Naruto butuh oksigen! Lima tabung oksigen sekarang juga!
Benarkah Sasuke sedang menciumnya?!
Demi apa Sasuke mencium sambil menutup mata?! Meski hanya disudut bibirnya, tapi itu cukup membuat seluruh saraf tubuh Naruto mendadak mati fungsi.
Apa Naruto baru saja bermimpi disiang bolong? Seseorang tolong tampar Naruto sekarang juga agar bisa terbangun segera.
Ciuman itu bertahan berapa menit sampai akhirnya Sasuke menjauhkan wajahnya dan menatap Naruto.
"Kau berbicara terlalu banyak..." Ujar Sasuke dengan suara yang mampu meleburkan hati Naruto, "Ini bukan mimpi, sayang." Sasuke terkekeh sendiri dengan ekspresi lucu Naruto.
Naruto malah melonggo karena panggilan 'sayang' yang baru saja digunakan Sasuke untuknya.
Oke mungkin pendengaran Naruto juga masih mati fungsi, sehingga mendengar Sasuke menyebut kata sayang.
"Ini bukan sepihak... Kita berdua cuma salah paham lalu siapa bilang kau tidak pantas untukku? Hatiku yang menentukan bukan orang lain..." Jelas Sasuke sambil mengelus telapak tangan Naruto dengan jempol tangannya yang tidak terluka.
"Apa kau baru saja menciumku?" Tanya Naruto seolah otak mungil barunya saja bisa bekerja dengan normal setelah gagal fungsi karena shock. Telunjuk Naruto menunjuk bekas tempat ciuman Sasuke iris birunya berkedip cepat dan berulang kali.
"Jika kau menyebut itu ciuman." Ujar Sasuke ringan sambil mengangkat bahu. Selang beberapa saat seringgaian diwajahnya melebar. "Sebenarnya meleset. Ciuman itu seharusnya tepat dibibirmu lalu aku sedikit meluma-..."
Satu pukulan keras Naruto berikan dengan sukacita dikepala Sasuke menggunakan tangannya yang bebas.
"Apa-apan kau, dobe?!" Mata Sasuke melotot protes, ia mengelus kepala sambil meringgis. Naruto memukul cukup keras.
"Kau yang apa-apaan, teme!" Bentak Naruto tidak mau kalah. "Kepala itu memang harus dipukul keras agar otak miringmu bisa kembali ke posisinya!" Kali ini Naruto mendengus kesal. "Bisa-bisa bicara seperti itu terang-terangan."
Sekali lagi Sasuke menyeringai, "Jadi, kau ingin aku berbicara denganmu seperti itu ditempat gelap-gelapan?"
Sial! Naruto merutuk dalam hati. Kenapa lagi-lagi pilihan katanya salah, sih?!
Atau Sasuke teme ini yang pintar membalikkan kata-kata Naruto?
"Bukan seperti itu, teme... Bukannya aku ingin bicara ditempat gelap ta-..." Ucapan Naruto terhenti karena senyuman diwajah Sasuke yang kelihatan sekali ingin menggodanya. "Aaarrrggghhhh! Kenapa susah sekali menjelaskan padamu?" Naruto menjambak rambut pirangnya frustarsi. "Temeee berhenti tersenyum seperti itu, ttebayo! Jika tidak, aku pergi sekarang juga!" Naruto benar-benar berdiri dari kursinya untuk meninggalkan Sasuke.
Niat yang sebenarnya sih ingin melarikan diri.
Melihat Naruto yang serius dengan ucapannya, buru-buru Sasuke ikut berdiri dan menahan pergelangan tangan Naruto. "Aku bercanda..." Sasuke terkekeh pelan. "Kita selesaikan masalah ini dulu, oke?"
Sebenarnya Naruto ingin sekali menolak. Tapi, Sasuke yang berbicara sambil merapikan rambutnya itu membuat Naruto terlena sekaligus terhipnotis sehingga mengangguk dan mengikuti permintaan Sasuke dengan mudah.
Terkutuklah pesona dan sikap manis Sasuke! Naruto mengutuk dalam hati. Sikap Sasuke membuat Naruto merasa dirinya lebih bodoh dari keledai. Kata guru sastranya, 'keledai tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya'. Nah, Naruto malah terjatuh berulang kali karena pesona sialannya Sasuke.
Mungkin saat ini keledai sedang menertawakan kebodohan dirinya.
Naruto mendesah berat, "Kau ingin kita bicara apa?" Tanyanya dengan suara yang sangat pelan.
Tatapan mata Sasuke berubah menjadi serius. "Aku tidak berhasil sampai final. Apa rasa suka dan perjanjian itu masih berlaku?" Tanya Sasuke dengan suara harap-harap cemas.
Dengusan kasar Naruto terdengar, "Kan kau yang mengatakan terlebih dahulu ingin menjadikan aku kekasihmu jika menang. Aku tidak pernah mengatakan seperti itu. Tanpa menang pun aku tetap mau menjadi kekasihmu, kok-..."
Crap! Mulut Naruto sepertinya butuh perekat otamatis sehingga bisa ditutup sebelum berbicara jujur seperti tadi. Lihat saja, akibat bicara jujur seringgaian Sasuke malah semakin lebar dan mengerikan.
"Benarkah?"
Dewa Jashin! Naruto ingin sekali menghapus seringgaian diwajah Sasuke dengan sesuatu yang kotor.
"Hentikan seringgaian jelek itu baru aku mau bicara!" Ancam Naruto dan sukses membuat Sasuke memasang wajah serius dan sukses juga membuat Naruto terkekeh geli dengan tingkah Sasuke.
"Aku sudah mengikuti mau mu. Jadi, sekarang katakan yang sebenarnya." Ada nada memaksa disuara Sasuke.
Naruto mendesah. "Seperti kataku sebelumnya. Tanpa menangpun aku mau. Tapi, kau yang memutuskan ingin menang dulu baru mengatakannya. Jadi aku berkesimpulan mungkin itu bisa menjadi penyemangatmu untuk menang dan memilih untuk menunggu saja. Sialnya kau cidera dan malah patah semangat."
"Maafkan aku karena menyalahkanmu." Ucap Sasuke tulus.
"Kenapa minta maaf? Bukan keinginanmu untuk cidera, kan? Kau masih bertingkah lumayan normal jika stress. Kalau aku? Pasti sudah berteriak, mencabut habis rambut dikepalaku dan makan ramen super pedas seperti orang gila." Dengus Naruto kemudian.
Sasuke tertawa.
Naruto terdiam, ini pertama kali Sasuke tertawa dan itu sanggup membuat Naruto sangat yakin jika ia memang menyukai Sasuke.
"Jadi apa perjanjian tentang memenangkan kejuaraan lalu menjadikanmu kekasihku masih berlaku?" Tanya Sasuke setelah berhasil meredakan tawanya.
"Aku sudah bilang, tanpa menang kejuaraan ini pun aku tetap mau menjadi kekasihmu..." Naruto mendengus lagi.
"Tidak... Aku tidak mau menarik perkataanku. Aku ingin menang lalu kau menjadi kekasihku dengan ikatan lebih serius." Ucap Sasuke mantap. "Maukah kau menunggu sampai aku menang ditahun depan, Naruto?"
Sekarang giliran Naruto yang tertawa, "Apa ini sejenis lamaran?"
"Anggap saja begitu..." Sasuke mengangkat bahu ringan.
"Lalu bagaimana jika kau kalah?" Tanya Naruto dengan mata menyipit tajam.
"Kau mendoakanku untuk kalah?" Sasuke ikut menyipitkan matanya, "Tahun depan aku akan menang!"
"Percaya diri sekali..."
"Uchiha Sasuke memang selalu percaya diri."
"Lalu kau ingin aku cuma menunggu sampai tahun depan? Bagaimana jika aku menemukan kekasih yang lain?" Tanya Naruto dengan nada meremehkan.
"Kau tidak akan menemukan yang lain, kau sudah terjebak bersamaku selamanya. Lagi pula, tidak ada yang lebih sempurna dari aku. Aku pilihan terbaik untukmu!"
"Ya, Uchiha Sasuke dengan rasa percaya dirinya yang berlebihan." Naruto tertawa sekali lagi, dalam hatinya lega. Jika Sasuke sudah berbicara seperti ini, artinya beban akibat kekalahan sudah mulai berkurang.
"Kau mau kan menungguku, Naruto?" Tanya Sasuke dengan hati-hati.
"Tentu saja, ttebayo!" Jawab Naruto dengan suara sedikit dikeraskan. "Awas saja kalau tahun depan kau tidak menang! Ah tidak, awas saja jika cideramu semakin parah dan tidak mengikuti kejuaraan ini ditahun depan." Dengan pipi memerah Naruto menundukkan kepala. "Jika kau lolos saja sampai masuk wembolden, aku tidak apa-apa."
Senyum Sasuke mengembang, gemas dengan sikap Naruto. "Naru-dobe ku." Rasanya Sasuke ingin mencubit pipi gembil Naruto.
"Ralat aku bukan Naru-dobe mu, teme! Aku kan baru resmi menjadi kekasih terikatmu tahun depan..." Protes Naruto sambil menepis tangan Sasuke yang ingin memcubit pipinya.
"Sama saja, tahun depan atau pun sekarang kau tetap kekasihku. Lagian kita sudah berciuman tadi." Ujar Sasuke keras kepala.
"Kau ini egois sekali sih, temeeee! Dan jangan menyebut kata ciuman!" Sekali lagi Naruto protes dengan suara melengkingnya plus wajah memerah karena kata-kata frontal Sasuke. "Terus untuk apa melakukan perjanjian ini, huh?!" Tanya lanjut dengan suara yang masih melengking.
"Well, tentu saja untuk membuatmu tidak bisa melarikan diri karena terikat perjanjian ini."
Naruto memutar bola matanya kesal. Benarkan Sasuke itu egois?
"Ya... ya terserah kau sajalah, teme! Anggap saja aku kekasihmu sekarang, tapi lebih resminya saat kau menang nanti. Aku rasa kepalaku terbentur karena mau menjadi kekasih-..."
"-Serius kau ingin menjadi kekasihku?!" Sasuke memotong cepat perkataan Naruto karena merasa terkejut dan bahagia diwaktu bersamaan.
"Kau pikir aku bercanda tadi? Tentu saja sekarang kita sepasang kekasih dan benar-benar kekasih terikat ditahun depan seperti keinginanmu. Kau pikir kenapa aku tidak langsung memukulmu saat menciumku tadi, hu -... Sasukeee, kenapa dengan senyuman anehmu itu?" Naruto memotong sendiri perkataanya karena merasa senyuman Sasuke terlihat sangat aneh saat ini.
"Karena kita sepasang kekasih sekarang, bolehkah aku menciummu sekali lagi dengan sedikit melumat bi-... Arrgghhh kenapa kau memukul pinggangku, dobe?!" Sasuke berteriak protes karena Naruto memukul pinggangnya dengan keras.
"Itu karena bicaramu mulai melantur." Jawab Naruto dengan galak, tapi pipinya memerah. "Jangan berbuat aneh-aneh jika kita belum terikat sepenuhnya."
"Jadi aku boleh berbuat aneh-aneh jika kita sudah terikat, hm dobe?" Sasuke semakin ingin menggoda Naruto.
"Brengsek!" Naruto mengumpat. Bukan karena Sasuke yang selalu pintar membalik kata-katanya, tapi Naruto mengumpat karena lagi-lagi pilihan katanya salah. "Jangan macam-macam, teme! Kau ingin cidera pinggang juga rupanya." Kata Naruto lagi, tangannya berayun seolah ingin memukul pinggang Sasuke.
"Tidak... Aku yang akan membuatmu cidera pinggang di atas tempat tidurku sampai berjalan terseok." Sasuke menjawab dengan seringgai iblisnya.
Wajah Naruto merah padam, ia sangat mengerti kearah mana ucapan Sasuke. "Kau brengsek, Sasuke... Sepertinya sudah saatnya kita pulang agar kepalamu tidak berpikir kotor lagi." Naruto bergerak untuk menjauh dari Sasuke, tapi pemuda itu malah menahan bahu Naruto sehingga mereka kembali duduk berdekatan.
"Jangan menjauh, Naruto..." Suara Sasuke sangat pelan, "Aku butuh kekuatan dan penopang saat ini."
Naruto terdiam menatap Sasuke dalam. Meski sempat bercanda dan tertawa, ternyata Sasuke masih merasa terbeban. Naruto tersenyum lembut lalu mengulur tangannya untuk membelai surai hitam pekat milik Sasuke dengan jemarinya. Sasuke mendongkak untuk menatap tepat dimata biru yang dari awal sudah mempesonannya.
"Aku tidak akan menjauh, meski sekalipun kau ingin aku menjauh." Naruto masih tersenyum sambil membelai rambut Sasuke dan Sasuke tidak bisa menahan rasa gembira yang menyebar diseluruh tubuhnya. "-Aku juga bisa membantu menjadi penopang dan kekuatanmu. Yakinlah aku akan menjadi kekasih terikatmu, meski cerobah dan sedikit cerewet, tapi aku ini kekasih yang super baik, loh..." Lanjut Naruto sambil tersenyum bangga, mempromosikan kehebatan diri sendiri.
Sekali lagi Sasuke tertawa, "Ya kekasih super baik yang meledak-ledak." Tawa Sasuke berganti dengan senyuman penuh maksud," Jika kau kekasih yang super baik, buktikan dengan satu ciuman..." Pinta Sasuke sambil memonyongkan bibir dan menutup matanya.
Naruto memutar bola matanya jengah, kenapa Sasuke jadi sering menyebut kata cium?
Semenit kemudian Naruto tersenyum miring. "Aku tidak mau menciummu disitu, tapi disini..." Ujar Naruto dengan nada main-main.
Mendengar itu, alis Sasuke bertaut, sebelah matanya terbuka dan belum sempat bertanya maksud Naruto, satu kecupan cepat dan ringan mendarat dilehernya, tepat di tato koma miliknya.
Kedua mata Sasuke terbuka, membola sempurna seolah bisa keluar sewaktu-waktu.
Naruto tertawa lepas, lucu dengan Sasuke yang membeku. "Makanya jangan anggap remeh aku." Naruto masih tertawa.
Oh Naruto kau seorang teaser!
"Dobe..." Suara Sasuke terdengar rendah dan mengancam. "Kau melakukan kesalahan. Mulai sekarang aku tidak akan segan-segan lagi."
"Hm... Aku tahu itu kesalahan..." Naruto terkekeh geli. "Tapi, jika itu membuatmu tidak memaksakan diri dan mau merawat cideramu, aku tidak keberatan."
Senyuman Sasuke mengembang.
"Tapi bukannya aku mengijinkanmu untuk berbuat yang tidak-tidak padaku, ya!" Potong Naruto cepat," Setidaknya sampai kau lolos seleksi wembolden dan jika bisa memenangkannya" Suara Naruto mengecil. "Setelah itu kau boleh... Menciumku..." Ucap Naruto dengan jeda panjang sebelum kata menciumku dan diakhiri dengan menunduk malu.
Apa yang kau katakan barusan, Naruto bakaaaaa! Naruto menjerit tak terkendali dalam hati. Apa kau baru saja menyerahkan dirimu?
Sasuke hanya tersenyum mendengarnya, "Aku juga tidak mau mengapa-apakanmu." Ucapan ini disambut cibiran Naruto.
"-Setidaknya untuk sekarang." Tambah Sasuke secepat kilat. Kali ini Naruto mendelik. "Jangan kuatir, kau akan ku jaga sampai kita benar-benar serius..."
Oke... Okey! Naruto meleleh mendengar perkataan Sasuke. Seperti lilin yang dicairkan.
Dengan perlahan Sasuke menarik Naruto mendekat dalam pelukan lembut. Meski mereka masih dalam posisi duduk, pelukan itu tetap terasa nyaman. "Well, setelah terikat serius barulah aku berbuat tidak-tidak padamu." Lanjut Sasuke lagi, kali ini dengan seringgai andalannya.
Mendengar itu, Naruto mendengus lalu kepalanya bergerak dan mengigit bahu Sasuke. Tidak terlalu kuat, namun Sasuke bertingkah seolah Naruto mengigit dengan kuat sampai membuatnya meringgis.
"Gigitan itu... Apa kau sengaja menandaiku?" Tanya Sasuke sambil terkekeh. Baru saja Naruto ingin membuka mulutnya untuk protes, Sasuke memperat pelukannya sehingga membuat kata-kata protes Naruto terhenti begitu saja.
"Aku bercanda, dobe..." Sasuke berusaha meyakinkan Naruto. " Dan maafkan aku karena sempat bersifat kasar tadi..." Kali ini Sasuke mendesah berat. Sungguh ia merasa sangat bersalah.
"Bukan masalah..." Gumam Naruto dan merapatkan kepalanya dibahu tegap Sasuke.
"Kau menyukaiku, kan?" Tanya Sasuke sekali lagi. Ia ingin meyakani perasaan Naruto padanya dan senyuman lebar tidak bisa ditahannya ketika Naruto mengangguk membalas pertanyaannya.
"Tunggu aku, sayang... Tunggu aku sampai aku menjadi petenis profesional."
"Hm... Aku menunggumu." Jawab Naruto sangat pelan, berbisik di bawah telinga Sasuke.
"Kekasihku..." Ujar Sasuke sambil tersenyum.
"Hm..." Jawab Naruto juga ikut tersenyum lebar.
Sasuke tidak pernah menyangka ball person yang awalnya hanya bertemu pandang lalu berbuat kesalahan dan berhasil menarik perhatiannya. Sasuke tidak pernah menyesal mengorbankan rasa malunya dengan meminta panitia untuk menjadikan Naruto ball person pribadi dan ia akan menganggap kecerobohan Naruto tidak pernah ada, karena pada akhirnya Naruto adalah pemuda yang dengan mudah menyeimbaingi sikapnya, memperhatikan dan menyadari keadaannya lalu Naruto juga yang masih keras kepala, membentaki bahkan merawatnya walaupun ia sudah bersikap tidak adil dan kekanak-kanakan.
Sebaliknya Naruto yang awalnya hanya terpesona dengan fisik Sasuke. Meski Naruto juga menganggap Sasuke orang menyebalkan, Namun lama-lama kelamaan ia menyadari tingkah konyol mereka malah membuat ia jatuh pada Sasuke dalam artian sesungguhnya.
Mereka memang sempat salah paham tentang perasaan suka mereka, kadang menyindir dan bersifat kasar, tapi bukankah itu semua menguji keseriusan rasa suka mereka?
Tidak ada jalan yang mulus tanpa kerikil. Kekalahan Sasuke pun hanya kerikil yang bisa Sasuke lalui dan membuatnya semakin berlatih kemudian menjadi petenis profesional.
Well, rasa suka bisa muncul kapan saja ditempat tak terduga. Seperti Naruto yang terjebak menjadi ball person Sasuke, yang menurutnya punya rasa percaya diri tinggi, menyebalkan, keras kepala dan suka menyindir, tapi tampan dan Sasuke yang terjebak rasa suka pada ball person Naruto si ceroboh, meledak-ledak dan suka beradu mulut, tapi manis.
Dengan demikian kisah petenis muda Uchiha Sasuke dan ball person Uzumaki Naruto sebagai sepasang kekasih dimulai dan itu berawal dengan tenis diakhiri dengan cinta.
.
.
.
THE END
.
.
.
Omake :
Diluar ruangan Sasuke, Kakashi berdiri di depan pintu itu dengan pintu yang terbuka beberapa centi.
"Apa aku masuk saja, ya?" Tanya Kakashi lebih pada diri sendiri. "TSK! Kapan drama picisan tidak laku mereka selesai?! Sial! Kenapa tadi sewaktu keluar aku tidak membawa barang-barangku saja sekalian?-" Lanjutnya lagi sambil mengumpat.
"-Sekarang aku malah terlihat seperti paman mesum single yang menonton keponakannya pacaran." Kali ini Kakashi malah merutuki kesialan sekaligus merutuki statusnya yang masih single.
"Masuk! Masuk saja biar sekalian ku patahkan kedua kaki ayam sialan itu!" Raung Gaara menahan kekesalan. "Bisa-bisanya si brengsek itu berbicara hal-hal mesum di depan Naru-kesayanganku!" Keringat membanjiri seluruh wajah Kakashi. Nah, ini juga yang menahan Kakashi untuk tidak masuk ruangan Sasuke.
Menahan Gaara yang mengamuk sejak adegan Sasuke mencium dan berbicara mesum di depan Naruto.
Sebenarnya Kakashi bisa saja membiarkan Gaara masuk, tapi Kakashi berpikir dengan kondisi Gaara yang seperti ini, bisa saja Gaara masuk dan mengamuk. Kakashi tidak peduli jika satu pukulan dilayangkan Gaara gratis diwajah keponakan tidak tahu dirinya itu. Tapi, bagaimana kalau Gaara sampai kehilangan akal sehat dan menghancurkan ruangan petenis?
Kakashi kan tidak mau ganti rugi. Enak saja!
"Biarkan aku masuk! Biarkan aku masuk, Kakashi-san! Ayam sialan! Jangan macam-macam didalam sana!" Memang Gaara tidak begitu keras berbicara, tapi aura membunuhnya sangat kuat sampai rasa-rasanya tumbuhan disekitar mereka juga mati karena aura kelam itu.
"Sabar Gaara-kun... Sabar... Jika Sasuke berbuat macam-macam pada Naru-kesayanganmu, aku dengan senang hati membantumu mematahkan salah satu anggota tubuhnya. Jadi, kumohon tenanglah sedikit." Bujuk Kakashi dengan nada memohon. Kumohon segera keluar dari ruangan ini, keponakan sialan! Sebelum aku tidak bisa menahan panda mengamuk ini lagi! Lanjut Kakashi dalam hati dengan diri imajinernya mengeluarkan air mata.
.
.
.
"Um... Sasuke?" Panggil Naruto masih dalam pelukan Sasuke. "Gaara mengamuk diluar..." Ujarnya kemudian.
"Biar saja..." Sasuke berkata ringan, tanpa melepaskan pelukan mereka. "Aku sengaja biar panda posesif itu tahu kau milikku mulai saat ini!"
"APA?! TEMEEE! KAU SENGAJA, YA?" Teriak Naruto masih didalam pelukan Sasuke. Itu artinya Naruto berteriak tepat di bawah telinga Sasuke.
Refleks Sasuke melepaskan pelukan mereka dan menutup kedua telinganya. "Dobeee...Kau ingin aku tuli, huh?!"
"Gomen..." Naruto terkekeh.
Sasuke menatap Naruto tajam, tapi beberapa detik kemudian mereka berdua tertawa bersama.
.
.
.
Keponakan keparat! Sampai kapan kalian berhenti bermain-main dengan keselamatanku diluar sini?
Poor Kakashi, masih berusaha menenangkan Gaara yang mengamuk.
.
.
.
End Of Omake.
.
.
.
Note :
*Souffle adalah hidangan manis dan lembut yang terbuat dari telur kocok dan bahan-bahan lain lalu dipanggang.
*Pantry : Dapur bersih dan kering untuk menyimpan makanan jadi.
.
.
.
Cuap-cuap Yua :
Dengan demikian ch ini, ch tujuh, From Tennis With Love tamat *lap keringat dipelipis* Terima kasih buat reviewers, kalian pendukung setia hubungan SasuNaru dan itu membuat saya semangat untuk tetap menulis dari awal sampai akhir kisah mereka di fic ini.
Sebenarnya ch ini gabungan dari dua ch makanya update-nya lama *haha* pas mau dibuat to be continued-nya, saya malah kebingungan bagian mana yang harus di-cut biar pas. Akhirnya ya saya putuskan untuk dibuat satu ch saja dan ch ini seluruhnya menyentuh 11k + dan 39 halaman untuk story-nya saja.
Saya berencana menambah satu ch untuk epilog dan sedang mencari inspirasi~~ Mohon dukungannya~
Oh iya, terima kasih buat yang nge-pm menunggu di-update nya fic ini. Maaf ya kelamaan. Yang pm minta akun sosial saya, silahkan berkunjung ke bio saya. Saya tunggu cuap-cuapnya. ^^
Semoga ch ini membuat readers sekalian puas meski humornya berkurang ^^
.
.
.
Q & A
Q : Shiro-theo21
A : Terima kasih, saya memang menyukai tenis jadi saya pikir sekalian saja berbagi biar ada unsur tenis sesuai judulnya... Ok ini sudah dilanjutkan, ya...
Q : yassir2374
A : Sebenarnya saya suka seme yang seolah-olah bisa baca pikiran uke-nya. Terus kalau dilihat-lihat Sasuke cocok juga jadi seme 'pembaca pikiran' makanya dibuat seperti itu.
Q : versetta
A : Ch ini sudah ada kan aksi Neji buat Gaara? Sayangnya Neji masih harus berjuang lagi *khukuku*
Q : SapphireOnyx Namiuchimaki
A : ShikaKiba sudah ada nih di ch ini. Tapi, Shika cuma disebutin saja. *Haha*
Q : Meli Channie
A : Mereka sudah jadian di ch ini *tebar menyan* Mereka memang pasangan absurd.
Q : snluv
A : Rencana awal memang 3-4 ch, tapi saya pikir bakal kepanjangan. Jadi, saya putuskan ch ini tamat ditambah 1 ch buat epilog :3
Q : Grey378
A : Ini, ch ini sudah tamat ^^ waduh, sampai nikah? Punya banyak anak? Haha tidak kepikiran sampai situ.
Q : nathaniasskck
A : Enggak, itu janji Sasuke buat dirinya sendiri. Jika Sasuke menang mau jadiin Naruto kekasihnya gitu...
Q : KJhwang
A : Nah, Neji sudah mulai bereaksi tuh di ch ini... ShikaKiba sudah jelas kan statusnya?
Q : D.A.P
A : Mereka sudah jadian di ch ini *banzaiii* tapi sayangnya saya tidak berencana sampai mereka menikah :/
Q : Rizky2568
A : Pertama sih terpesona aja. Tapi, karena direcokin Sasuke terus lama-lama jadi suka deh Naruto-nya *klasik banget, ya?*
Q : Cha. e. sho
A : Gaara sama Neji sudah muncul ini *grin*
.
.
.
Special Thanks For Reviewers:
Shiro-theo21, michhazz, Habibah794, yassir2374, myungricho, versetta, Nikeisha Farras, uzumakinamikazehaki, Lhiae932, Rin SNL, cheonsa19, Revhanaslowfujosh, kazekageashainuzukaasharoyani, dwi. yuliani. 562, SapphireOnyx Namiuchimaki, Meli Channie, Aiko Vallery, snluv, Haehyuk931, liaajahfujo, gyumin4ever, Grey378, Guest (1), nathaniasskck, Elan, KJhwang, shiroi. 144, ComeNLoveMe, D.A.P, Guest, Rizky2568, meow, Guest (2), Cha. e. sho, Guest (3), Guest (4), Guest(5), uzumakiey resty tafrijian, Guest (6), Guest (7), Guest (8), Guest (9), Guest(10), Guest (11), Guest (12) & Guest (13)
Mudah-mudahan tidak ada yang terlewat...
Dan Sampai jumpa di chapter depan (Epilog)~ Jangan bosan untuk RnR juga di ch tujuh ini...
And the least not the last,,,
Our Ship Doesn't Need A Canon For It To Sail!
~29/04/2016~
