Persiapan pernikahan Naruto dan Kurama sudah mulai berjalan, mulai dengan pemilihan pakaian, jamuan makanan, dan juga pendekorasian aula kerajaan utama chalice. Bahkan Minato pun yang biasanya acuh kini ikut andil dalam persiapan ini, meskipun kehadirannya pun tak membawa dampak apapun.

"Aku ingin setelan putih untuk Kurama dan juga setelan sakura untuk Naruto, kupikir itu akan bagus digunakan saat upacara janji suci nanti,"ucap Minato. Ia berbicara dengan salah satu perancang busana terbaik istana dengan teliti, berharap tak ada satu pun kekurangan pada hari terbaik anaknya nanti.

"Kerajaan Huten dari selatan mengirimkan kain sutra terbaik sebagai hadiah penikahan, juga pack werewolf tingkat satu yang mengirimkan daging sebagai hadiah kerajaan, Yang Mulia. Sedang undangan yang telah disebar kini sudah mencapai angka seribu, Yang Mulia."

Minato mengangguk mendengar laporan yang di laporkan tangan kanannya kepadanya, dalam hatinya ia pun yakin kalau pernikahan Naruto akan menjadi pernikahan paling bersejarah yang akan terdengar hingga pelosok negeri.

"Bagus, segera periksa bagaimana persiapan jamuan makanannya. Setelah itu periksa juga persediaan wine kita di ruang penyimpanan."titah Minato.

"Haik, Minato–sama."

Halfbloofd

Pair : Sasuke X Naruto

Rate : T

Disc.: Naruto © Masashi Kishimoto

Pagi kembali menjelang. Awan kelabu terlihat dari ufuk timur, tampak menyembunyikan sinar sang mentari yang seharusnya sudah bisa membangunkan sosok pemuda yang tengah terlelap diantara selimutnya itu.

"Naru–chan, ayo bangun! Kau nanti terlambat!" teriakan serta dibarengi dengan tarikan di selimutnya berhasil membuat Naruto membuka matanya untuk sesaat. Melihat pengganggu kecil yang nyatanya adalah adik sepupunya dari Kerajaan Names.

"Konohamaru–kun!"Naruto memekik sambil duduk di ranjangnya. Sepasang iris birunya menatap sosok yang kira–kira hanya setinggi perutnya yang tengah berdiri di samping tempat tidur sambil berkacak pinggang.

"Konohamaru–kun, apa yang kau lakukan disini?"tanyanya. Naruto melepaskan diri dari kungkungan selimutnya dan beranjak dari kasur. Kakinya melangkah menuju Konohamaru dan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Konohamaru.

"Tentu saja aku datang untuk ikut merayakan pernikahanmu. Naru-chan."ucap sosok kecil berumur lima tahun itu. Naruto mendengarnya hanya tersenyum simpul lalu mencubit gemas kedua pipi gembul milik adiknya.

"Naru-chan, bagaimana wajah suamimu? Saat aku bertanya pada tou-sama ia malah menyuruhku untuk bertanya denganmu."ucap Konohamaru.

Kriet..

Pintu kamar Naruto terbuka, menampilkan sosok Kurama dengan setelan jas gading mewah dengan bubuhan permata di sudut kerah.

"Nah, paman itu lah suamiku. Mau berkenalan?"tawar Naruto. Konohamaru yang masih penasaran hanya mengangguk lalu melompat kedalam gendongan Naruto.

"Perkenalkan, dia ini suamiku."ucap Naruto sambil tersenyum kearah Kurama.

"Halo jagoan, kenalkan namaku Uzumaki Kurama. Kuharap kita bias bekerja sama untuk melindungi Naruto."ucap Kurama dengan tangan terkepal.

"Baiklah. Paman Kurama, namaku Konohamaru."

Twilight Lavender

"Sasuke, ini lah harinya."

Sosok dengan jubah hitam yang menjuntai hingga mata kaki itu tersenyum dengan pandangan kearah luar jendela. Seringai tak hentinya luntur dari wajahnya.

"Mana yang harus kupilih, menculik calon mempelai wanita atau membunuh calon mempelai pria?"Tanya Sasuke. Rambut raven miliknya tergerak dihantam angin. Kedua iris darkgrey miliknya memperhatikan para raven dalam divisinya yang masih berlatih.

"Kurasa menculik mempelai wanita lebih mudah, untuk urusan Kurama itu kau bisa melimpahkannya padaku dan para raven di divisimu. Aku yakin mereka pasti para raven terbaik."ucap Itachi. Pria dengan rambut raven panjang yang dikuncir bawah itu tersenyum licik.

"Kurasa itu bukan tawaran yang buruk, kau bisa membalaskan dendammu, dan aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan."ucap Sasuke.

Twilight Lavender

Di kamar pribadinya, Naruto sedang dirias oleh sepuluh wanita kepercayaan kerajaan untuk meriasnya. Sedang di sudut kamarnya, tepatnya menempel di manekin ada sebuah gaun putih dengan ekor sepuluh meter yang menjuntai, gaya one shoulder seperti yang di bicarakan Yuuhi Kurenai dan sebuah mahkota bunga matahari guna di sematkan di kepalanya.

"Mari Naruto-sama, kini waktunya anda untuk memakai gaun anda. Hamba rasa Kurama-sama sudah tak sabar menunggu anda di altar pernikahan."ucap salah seorang pelayannya.

Semua periasnya keluar dari kamarnya, dan akhirnya hanya tersisa dirinya dan sosok Yuuhi Kurenai. Wanita dengan rambut ombak itu melepaskan dengan lembut gaun milik Naruto dari manekin dan membawanya perlahan menuju Naruto.

"Sudah kuduga, pasti ukurannya pas padamu, Naruto-sama."ucap Kurenai saat ia selesai menaikkan resleting punggung pada gaun tersebuut.

"Apa aku tak perlu menggunakan daleman? Bukankah pinggulku tak sesempit milik perempuan, Yuuhi-san?"ttanya Naruto. Ia memperhatikan dengan seksama pantulan tubuhnya dari cermin besar yang ada di kamarnya.

"Aku rasa tak perlu Naruto-sama. Buktinya saja gaun itu bisa di resletingkan dengan mudah, itu artinya gaun ini bahkan masih cukup besar untukmu."jawab Kurenai.

"Ah, benarkah?"

"Baiklah, Naruto-sama. Aku akan memanggil para penata rambut segera, mohon undur diri"

Dan setelah itu Naruto di tinggalkan sendirian di dalam kamarnya.

Twilight Lavender

"Bagaimana keadaan kerajaan dan tempat perikahan?"Tanya Minato pada salah satu tangan kanannya.

"Untuk saat ini keadaan cukup aman terkendali, Yang Mulia."jawab tangan kanannya itu.

Minato tersenyum bangga, ia memperhatikan dengan seksama dekorasi altar yang sudah ia rancang begitu juga dengan ruang resepsinya.

"Hubungi pihak kerajaan, bilang pada mereka agar Naruto berangkat kesini karena waktu sudah mendekati pukul delapan pagi,"ucap Minato sambil bersidekap.

Twilight Lavender

Itachi tahu, kalau Sasuke itu orang yang mudah di pengaruhi. Buktinya, untuk mecapai tujuannya sendiri, ia bisa membuat Uchiha Sasuke yang sekarang masih berlari didepannya untuk menculik mempelai wanita milik Kurama.

"Sasuke, jangan lupa mengenai portal yang dibuat Minato di sekeliling kerajaan,"ucap Itachi mengingatkan. Jubah hitam dengan lambang kebesaran Uchiha yang dikenakan Sasuke berkibar membuat sosok pewaris tahta Uchiha itu semakin menakutkan.

Ia dan Sasuke berhenti, tepatnya di depan sebuah lapangan kosong-atau itu lah yang bisa dilihat kita- yang di pengelihatan para Uchiha tentu saja berbeda dengan yang kita lihat.

Tangan berbalut kulit alabaster milik Sasuke membuat sebuah segel mantra yang selanjutnya yang terjadi ialah nampaknya bentuk kerajaan Namikaze atau chalice secara perlahan, yang membuat Itachi dan Sasuke reflek menyunggingkan sebuah seringai tipis.

"Ayo, kita jalankan rencana kita,"ucap Sasuke sambil memakai tudung jubah hitamnya, begitu juga dengan Itachi. Kemudian mereka berpencar dengan Sasuke yang meloncat menuju lantai teratas kastil dan Itachi yang melemahkan penjagaan di bawah.

Twilight Lavender

Mata dark grey milik Sasuke menatap tajam sosok pemuda berambut pirang yang mengenakan gaun pernikahan berwarna putih. Iris cobalt blue milik pemuda di depannya menatap Sasuke takut dan juga kaget, hingga tanpa sadar ia semakin memundurkan tubuhnya.

"Apa yang kau takutkan, Naruto?"Tanya Sasuke. Perlahan ia membuka tudung kepala yang ia gunakan, yang tentu saja berhasil membuat Naruto semakin menjatuhkan dagunya karena kaget.

"K-kau, U-Uchiha Sas-Sasuke,"ucap Naruto tergagap. Pucuk hidungnya mulai memerah, sedang pandangan matanya ia rasa mulai mengembun. Entah kenapa, apakah karena jiwa submissive yang ia punya ataukah… perasaan yang mencekik lehernya, Naruto tak tahu mana yang benar.

Bugh

Naruto jatuh pingsan tepat dipelukan Sasuke. Ia menggendong Naruto ala pengantin lalu membawanya keluar melalui pintu depan. Entah karena ia gila atau bagaimana, tapi perajurit Kurama dan Minato dikenal cukup tangguh.

Sasuke menyeringai saat tidak didapatinya satu orang penjaga pun dari lantai teratas hingga lantai bawah. Ia masih berjalan hingga menemukan Itachi yang berdiri memunggunginya masih dengan tudung kepala yang tertutup. Sudut bibir Sasuke terangkat hingga mencetak seringai yang jelas.

"Sempurna,"ucapnya lalu pergi dari kerajaan Minato tanpa memperbaiki kembali segelnya.

Twilight Lavender

Kurama menanti kedatangan Naruto di altar dengan pikiran yang berlari kemana-mana. Matanya menatap sekeliling, para undangan pun sama bingungnya dengannya mengenai keterlambatan Naruto.

"Asuma-san, apa ada sesuatu yang terjadi dengan kerajaan?"Tanya Kurama. Iris merah delima miliknya menatap tajam sosok bawahannya yang hanya menundukkan kepalanya mengenai kemarahan Kurama.

"Kurama-kun, gawat!" sosok dengan surai sewarna plum yang terlihat tengah berlari menuju arah Kurama.

"Ada apa?"

"Naruto diculik oleh orang tak dikenal, mereka berhasil membobol pertahanan kerajaan kitta."ucap pemuda yang mengenakan sebuah jubah berwarna violet kepada Kurama.

Sontak, tiba-tiba Kurama segera berlari meninggalkan altar pernikahan, meninggalkan para undangan yang menatap dengan tatapan bingung dan khawatir.

"Minato! Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi?!"teriak Kurama.

Setibanya di kerajaan, tepatnya kamar pribadi milik Minato Kurama langsung meraih kerah kemeja putih yang dipakai sang chalice, mengabaikan apa itu yang disebut dengan etika. Kedua iris merah delima milknya berkilat nyalang. Minato tersenyum kecut, tak menyangka kalau Naruto bisa membuat Kurama hingga mengeluarkan insting hewan yang disembunyikannya.

"Aku sudah mempekerjakan para ahli sihir untuk membuat portal setebal mungkin, Kurama. Hingga tak memungkinkan seorang pun bisa masuk kedalamnya tanpa salah satu penyihir kerajaan."jawab Minato. Kedua telapak tangannya menggenggam telapak tangan Kurama yang masih menggenggam erat kerah kemejanya, berusaha membantu meredakan kemarahan Kurama.

"Uchiha …"

"Pasti para Uchiha bersauda itu yang melakukannya, lihat saja."ucap Kurama. Kakinya melangkah keluar dari kamar Minato, menuju halaman depan dan menyusuri setiap sudut hutan guna mencari keberadaan Naruto yang sudah ia perkirakan tempatnya.

Twilight Lavender

Jubah kebesaran berlambang Uchiha milik Itachi bergerak tertiup angin, kedua lengannya ia gantung di sisi tubuhnya, terlihat sedang menunggu seseorang.

Sudut bibirnya tertarik keatas kala orang yang telah di tunggunya datang, ia melompat turun dari dahan yang sebelumnya menjadi pijakannya. Kedua matanya yang telah berubah warna menjadi merah darah menatap sosok Kurama yang masih terengah-engah.

"Baru menyadarinya, eh?"Tanya Itachi lagi. Kedua mata delima milik Kurama berkilat marah, dengan sebuah kunai di tangan ia segara berlari menuju Itachi yang masih memasang wajah tanpa ekspresi.

"Brengsek kau Uchiha !"teriak Kurama sambil melayangkan sebuah tendangan yang dapat ditangkis dengan mudah oleh Itachi. Mata merah delimanya berkilat segera sebuah sinar oranye aneh menyelimuti tubuh kokoh Kurama. Itachi menyeringai, seiring dengan mata merah darahnya yang mulai berubah.

"Ini sangat menarik."

Twilight Lavender

Tubuh Naruto terasa kaku, tak bisa digerakan seiring dengan sepasang kelopak matanya yang mulai terbuka. Kerutan didahinya menjadi pertanda kalau ia sudah kembali dari dunia mimpinya. Iris safiirnya menatap sekeliling, mencoba mengenali kamar luas yang terasa asing baginya.

"Sudah bangun, eh?"

Suara dari sudut ruangan menyita perhatiannya. Sosok pemuda yang tengah membelakanginya membuat Naruto membulatkan kedua matanya.

"Sa-sa-Sasuke?!"

To be continue…

Maaf banget lama updatenya, apalagi sekarang update cerita pendek lagi T_T
minna-san hontouni gomenasai!

Berharap banget kalo masih ada yang inget ama fanfik abal ini

Mind to review?

Twilight Lavender