.
.
.
Bleach © Tite Kubo
.
Warning:
OOC (stadium akhir); AU (tidak ada yg namanya Shinigami2an atau Hollow apalagi espada); siapkan obat sakit kepala sebelum dibaca; istilah medis yg seenaknya dipake author yg jelas2 tidak tahu apa pun ttg dunia medis
.
Terinspirasi dari:
Grey's Anatomy © Touchstone Television
Surgeon Bong Dal Hee © SBS TV
Team Medical Dragon © TV Asahi Entertainment
.
.
.
.
.
Ragu akan perasaan sendiri; takut bahwa hatinya justru melukainya; bimbang kalau Rukia akan menjauhinya—melayang tanpa jejak. Hanya ada keberanian untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung.
Toushiro tidak pernah merasa se-berani ini.
Toushiro masih berjongkok, masih menggenggam tangannya, masih berada di depannya. Namun, ia tidak sedang menunggu jawaban Rukia. Ia hanya ingin di sana. Berbagi kenyamanan yang direngkuh oleh hening—bersama-sama.
Tak punya maksud mendesak si gadis Kuchiki untuk jawaban demi memuaskan hati.
Rukia perlu waktu; Toushiro akan memberinya.
Sampai detik kala sang dokter muda mengangkat wajah, didapati sepasang manik ungu berkaca-kaca penuh haru. Toushiro tidak butuh berpikir banyak membawa satu tangan menyapu sebulir air yang bertempat di sudut mata si gadis. Tangan itu coba ia tarik kembali, akan tetapi tangan lain menghentikan agar tetap ada di sana. Rukia menggenggamnya erat.
Sepi, sunyi, senyap berubah jadi aura yang nyaman, menyenangkan, dan tenteram dengan sekadar diisi dua pasang mata bertukar tatap. Jemu tak terasa meski kata tak tercetus. Dingin tak menggigil walau lama waktu bergulir. Laksana dunia hanya milik dua anak manusia yang terbenam dalam belaian kasih sarat kehangatan.
Sampai suara langkah perawat Inoue memecah jibaku pandang yang entah berapa lama. Orihime tidak ada maksud mengganggu setelah mengira Hitsugaya-sensei sudah pergi. Ia lalu memutar kaki, berniat kembali masuk.
"Tolong bawa dia masuk, Inoue. Dia kedinginan," namun penyampaian Toushiro membuatnya berhenti. Ia lantas mengangguk kikuk, sebelum Hitsugaya melintas berkawan rona wajah di pipi.
Rukia meraih jas putih yang dilupakan Toushiro dari punggung ketika Orihime menghampiri dan mendorongnya kembali masuk gedung. Memeluk sambil diam-diam menghirup harum maskulin sang dokter muda. Ia tahu kalau Toushiro akan menunggu dirinya untuk sebaris jawaban.
Karena Rukia butuh waktu. Sebentar saja.
.
.
.
LIFE: Wish and Hope
.
# 7 #
Jawaban Rukia
.
.
.
Kalau masalah asmara, jangan ragukan Renji Abarai. Buktinya, dugaan kalau cuma tunggu waktu Toushiro jatuh pada yang namanya kubangan cinta seperti anak ABG, terbukti sudah. Hanya butuh waktu kurang dari dua belas jam.
Semirip anak remaja lima belas tahunan, Toushiro senyum-senyum sendiri sepanjang koridor menuju ruang loker. Untung saja, penghuni rumah sakit telah berkurang mengiringi malam yang mulai larut. Bila tidak, ia akan jadi tajuk utama isi gunjingan kalau dokter muda keren, tampan, dan berbakat ternyata punya sedikit kelainan mental.
Membuka pintu, ia melangkah menuju loker miliknya. Dalam keadaan normal (bukan Toushiro yang sedang berbunga-bunga), ia akan merasa ganjil dengan ruang loker yang sepi, nyaris tak tampak teman sejawatnya satu pun. Juga peka adanya laki-laki yang memberi tatapan menghujam sedari langkah pertama.
Toushiro berganti pakaian dengan cengiran semringah yang tidak jua pudar; tanpa sadar sepasang kaki di balik pintu. Mengeluarkan tas ransel dengan santai untuk ditempatkan di bangku, ia menutup pintu.
Ketika itulah tonjokan keras melayang tepat di pipi kanan untuk mengantar Toushiro terjengkang di kaki bangku. Tidak diberi waktu untuk mengenali pelaku, sergapan kasar meraih kerah jaketnya. Adalah Ggio, yang berlutut di depannya.
"Itu adalah balasan pukulanmu tempo hari," si rambut kepang mendahului Toushiro yang siap menghardik marah. "Apa, Toushiro Hitsugaya?"
Toushiro mendadak diam saja.
"Apa! Kau jatuh cinta pada perempuan itu, hah? Kau akan melepaskan segalanya hanya untuk seorang perempuan?"
Toushiro mengerutkan kening tidak suka.
"Kau sungguh mengecewakan. Menghancurkan karier yang susah payah kau bangun hanya untuk hal konyol bernama perempuan? Hanya untuk omong kosong bernama cinta? Gila!"
Raut Toushiro yang bersabar berubah gelap dan dingin. Ggio yang terintimidasi bungkam, telat mengelak dari tendangan di dada. Ia pun berakhir dengan punggung bertemu lantai. Toushiro bangkit, membersihkan debu di celana, meraih tas ransel yang terjatuh ke lantai, mencangklongnya di bahu. Ggio ditatapnya kemudian dengan sorot mata tajam, menusuk, dan dalam. Udara seakan menyusut.
"Jangan bicara seolah kau tahu segalanya."
Ggio harus akui kalau Toushiro (yang sekarang daripada perseteruan sebelumnya) terlihat mengerikan. Kepalanya tertunduk, lidah kelu, tubuh kebas.
"Dia menyelamatkan nyawaku ... Ggio."
Mata emas Vega membeliak.
Lalu tidak lama suara tapak sepatu terdengar, menyusul debaman pintu yang ditutup dari luar. Ggio berbaring sempurna, memandang langit-langit sambil mengumbar napas bebas. Ia tidak tahu apa pun tentang cinta, tapi kemarahan Toushiro yang mirip monster tanpa hati, kalimat 'menyelamatkan nyawa', dan panggilan dengan nama depannya, sudah terlalu banyak untuk ia meyakini bahwa Rukia Kuchiki sungguh berarti untuk rivalnya.
Ya, kata rival lebih cocok untuk mereka ketimbang kata sahabat. Karena alasan Ggio ada di sini adalah untuk mengalahkan Toushiro Hitsugaya.
.
.
.
.
.
Pukulan lewat pukulan.
Renji tahu benar bahwa itu satu-satunya cara untuk mengembalikan keakraban Toushiro dan Ggio yang sempat hilang. Jadi, ia sekadar berdiri di pintu loker ketika mendengar kegaduhan dari dalam. Tidak ada niat melerai seperti di hari sebelumnya. Juga menghentikan Senna yang ingin turun tangan.
Pun tak tampak kagok saat Toushiro membuka pintu dan keluar. Melintasi mereka begitu saja, seolah ia dan Senna tidak berdiri di depan pintu.
Tapi, Toushiro berhenti saat berjarak tiga langkah. "Aku sudah yakin," katanya, separuh menoleh.
Renji tersenyum pasti. "Itu bagus," dengan kata yang juga terdengar pasti. Senna cuma menatap dua orang itu bingung.
Toushiro lanjut melangkah, sesekali membetulkan sandangan tas di bahu. Renji juga beranjak, tapi ke arah lorong berlawanan. Meninggalkan Senna yang masih bertanya-tanya.
Tanpa Renji tahu, Toushiro (yang berbelok di tikungan) melirik sambil melayangkan senyum tipis. Bahwa ia lega dengan sikap ikut campur Abarai dan Ggio walau mengesalkan. Itu jauh lebih baik ketimbang mereka tak peduli sama sekali.
.
.
.
.
.
Malaikat penyelamat. Julukan tak asing kala dokter memberi harapan dan menyelamatkan hidup.
Malaikat kematian. Julukan tak asing kala dokter tak punya cukup kekuatan untuk mempertahankan deru napas.
Bukan sekali ini, Toushiro berhadapan dengan kematian pasiennya. Sebelumnya, sudah dua kali saat bulan-bulan awal masa intern-nya. Namun untuk kali pertama, ia merasa seperti shinigami, alih-alih seorang dokter. Ketika ia tidak bisa berbuat banyak dan sekadar berdiri memerhatikan sebujur tubuh kaku tanpa denyut Choujirou Sasakibe.
Nyaringnya bunyi monitor garis lurus pertanda tanpa harapan hidup mirip sayup-sayup desahan angin yang tak ia hiraukan. Suara Aizen-sensei di seberang meja operasi yang mencoba menegurnya pun tak ia acuhkan.
"Hitsugaya-sensei!"
Baru pada panggilan keempat, lamunan Toushiro pecah dan lambat-lambat membawa perhatian pada dokter bedah otak yang menatapnya marah.
"Panggil."
Satu tarikan napas berat, Toushiro berpaling pada jam yang tergantung di dinding tak jauh di belakang meja operasi.
"Waktu kematian," dirinya menelan ludah, menjernihkan kerongkongan yang terasa mengganjal, "10.19."
.
.
.
.
.
Toushiro melangkah gontai menyusuri koridor menuju kamar jaga bak tubuh tanpa tenaga (padahal masih pukul 10.30). Ia butuh berbaring sambil menjernihkan benak. Tangannya memegang kenop pintu sampai Inoue datang dan memberitahu tentang kenalan Sasakibe-san yang menanti di ruang tunggu.
Adalah wanita tua yang duduk penuh risau, yang entah bagaimana Toushiro tahu siapa dia. Lalu menegur sopan ala kadarnya saat ia tiba di samping Chikane Iba, wanita yang memperkenalkan diri sebagai sahabat Tuan Sasakibe; baru tiba setelah bertolak dari Inggris.
Inilah wanita itu—wanita yang ditunggu penuh harap Sasakibe-san sampai maut merenggutnya.
Menyampaikan pada keluarga atau orang terdekat pasien yang berakhir tak bernyawa selalu jadi bagian tersulit bagi para dokter. Tidak ada pengecualian untuk Toushiro. Duduk di sebelahnya, ia mengutarakan dengan pelan dan hati-hati. Tapi, tidak cukup membendung air mata yang menbanjiri wajah Chikane-san.
"Bo-boleh ... aku melihatnya?"
Toushiro mengangguk dan membawanya ke kamar mayat. Ia hanya berdiri di samping pintu, menatap Nyonya Chikane membelai wajah keriput Sasakibe-san yang pucat pasi sambil berbisik menguatkan hati. Juga, tak lekang kecupan ia labuhkan di kening seseorang yang tak akan pernah ia temui lagi.
Setelah Chikane-san keluar, Toushiro membungkuk hormat pada sebujur tubuh Sasakibe-san.
"Ini." Ia lalu mengulurkan handycam yang dititipkan si kakek setelah mereka tiba di lobi. "Sasakibe-san ingin saya memberikannya pada Anda."
"Apa...?"
"Itu isi hatinya, dan juga permintaan maaf karena terlalu lama menjadi seorang pengecut."
Setelah tangan gemetar Chikane-san meraihnya, Hitsugaya meninggalkan wanita itu. Tuan Sasakibe tampaknya sudah menyiapkan rekaman jauh-jauh hari—mungkin saat tahu penyakit mematikan yang menggerogoti kepalanya. Sadar bahwa umur tidak panjang lagi dan tidak ingin berakhir kian menyedihkan, ia mengutarakan perasaan lewat rekaman. Pasti pikirnya, itu jauh lebih baik daripada sama sekali tak pernah mengungkapkannya.
Satu tarikan napas panjang mengisi paru-paru, Toushiro menutup mata sambil bergumam, "Terima kasih." Terima kasih pada Sasakibe-san.
Belum jua hilang perasaan pilu dan sendu, sang dokter muda menjumpai Hanatarou Yamada yang berjalan buru-buru di perempatan koridor. Cambukan penasaran, ia mengikuti dan menemukan Riruka Dokugamine bangun dari kondisi koma. Keajaiban benar-benar ada.
Dari tempatnya berdiri, ia tahu kalau Hanatarou sempat menangis sebelum air mata cepat-cepat dihapusnya.
Toushiro bermaksud melenggang dari sana sampai pria berbadan tegap melintas dan bergerak gesit ke kamar dengan pintu terbuka lebar. Ia menghambur ke pelukan Riruka, yang dibalas dengan senang hati. Pria itu adalah pacar Dokugamine yang cuma segelintir waktu ia sisihkan menjenguk sang kekasih. Sekadar mengumbar rahasia bahwa Toushiro pernah sekali mendapati laki-laki itu membawa perempuan lain untuk menjenguk pacarnya yang belum bangun. Berselingkuh saat pacarnya di ambang maut, eh?
Hanatarou tahu itu. Soalnya, ia dan Toushiro sama-sama melihatnya.
"Kuugo, kenapa baru datang?" Sudah tiga jam Riruka sadar, tapi yang dilihat pertama kali adalah Hanatarou, bukan sang kekasih.
"Salahkan Yamada, dia baru memberitahuku setengah jam yang lalu." Hanatarou disalahkan untuk perbuatan yang tidak ia lakukan. "Selain itu, aku datang ke sini setiap hari. Menjenguk dan merawatmu. Benar begitu kan, Yamada?" Ginjou menoleh pada yang bersangkutan tanpa lupa menebar ancaman.
Kikuk dan serba salah, Hanatarou tidak punya pilihan lain—"Ya, Ginjou-san datang menjengukmu setiap saat, Riruka-san." Kecuali ingin sang manajer, Kuugo Ginjou, memecatnya.
"Terima kasih, Kuugo, kau sangat—"
"Kau buta atau bodoh, hah?"
Kata-kata kasar itu menyela kalimat pujian dan manja yang siap Riruka ungkapkan.
"Se-Senpai...!"
"Kau tidak melihat kalau pacarmu itu pembohong besar," Toushiro mengabaikan Hanatarou. Pun Ginjou yang mencoba menyergah. "Yang menjagamu selama ini bukan dia, tapi dia!" tunjuknya pada Hanatarou yang selalu berdiri dengan postur tak tegap. "Dia memotong kukumu, membersihkan kakimu, menyelimutimu. Setiap waktu dia ada di sini menjagamu."
"Yaaa! Kau, Sensei! Lakukan saja tugasmu! Jangan ikut campur—"
"Apa itu benar, Kuugo?"
"Tentu saja tidak benar, Sayang." Rayuan andalan Ginjou keluar. "Dokter itu mengada-ada. Kurasa dia sedang ngelantur. Tahulah dokter, sering kurang tidur."
Riruka termakan rayuan maut itu sambil lalu beralih pada Toushiro. "Sensei, kau tidak tahu apa-apa. Tolong tinggalkan kami—berdua."
Toushiro tertawa hambar. "Paling tidak, aku tahu lebih banyak daripada kau yang tertidur selama ini." Berpaling sesaat pada Hanatarou yang masih saja tidak membela diri, ia berkata pada Riruka dengan suara tajam, "Seseorang yang melakukan lebih, pantas untuk mendapatkan lebih. Aku bisa jamin, setelah ini kau akan menyesal."
Toushiro keluar; Hanatarou mengikuti setelah membungkuk hormat pada atasan dan putri pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Dasar gila," umpat Ginjou sebelum menutup pintu dan siap menghabiskan waktu dengan sang kekasih.
"Senpai, tolong jangan ikut campur."
Toushiro berhenti, berbalik menghadap Hanatarou. "Kenapa kau diam saja? Kau bilang kau akan menyatakannya saat dia bangun. Kenapa kau jadi pengecut lagi, hah?"
Hanatarou tidak bilang apa-apa, selain kata undur diri sambil menundukkan kepala. "Permisi, Senpai."
Sang dokter muda membuang napas letih, mengalihkan pandangan ke samping untuk disambut lima perawat yang berkasak-kusuk. Suaranya memang terlampau keras tadi. Bertaruh, gosip yang tidak-tidak sebentar lagi akan mengisi telinga penghuni rumah sakit.
Pun tak luput dari pandangannya adalah Rukia yang berdiri di tikungan koridor, memerhatikan. Mereka bertegur tatap, beradu kata. Sampai Kuchiki berpaling dan menjauh dari sana.
Toushiro mendesah lagi. Hari ini jadi hari yang buruk untuknya. Emosinya meledak tanpa kendali.
.
.
.
.
.
Sudah tujuh kali Toushiro menghela napas sejak duduk di kursi kantin. Juga baru dua gigit roti yang mengisi perutnya. Ia sungguh tidak berselera. Pun memutuskan angkat kaki dan melepas lelah di kamar jaga sebelum sekotak jus mendarat di mejanya.
"Jus semangka!" seru Renji, sebelum duduk berseberangan dengan Toushiro.
Mengingat tradisi para magang, si jabrik putih kembali menghempaskan bokong.
Karena tak lama—"Jus semangka!" Ggio menyusul dengan melabuhkan kotak kemasan persis sama. Sekadar pengingat bahwa hubungan mereka mulai membaik sejak perkelahian lusa.
Senna di belakang Ggio ikut-ikutan. "Jus semangka!"
Tak pelak, Toushiro tersenyum lebar. Berdasar tradisi turun-temurun para magang jika salah satu rekan harus diliputi duka kesedihan setelah kehilangan seorang pasien. Hitsugaya yang baru kehilangan Sasakibe-san akan diberi makanan atau minuman kesukaan sebagai pelipur lara. Tidak punya cukup uang (maklum, magang itu gajinya rendah), memberi Toushiro makanan mahal bukanlah pilihan. Maka, jus favorit pun sebagai pengganti. Daripada tidak ada.
"Terima kasih."
Mendengar balasan yang terdengar lega, Renji, Ggio, dan Senna pun tersenyum lega. Lalu mulai menyantap makanan masing-masing.
"Aku bertemu Hanatarou tadi." Renji membuka suara. "Tapi, wajahnya mirip seseorang yang mau mati besok."
"Aa," jawab Toushiro, yang tahu benar duduk perkaranya.
"Bagaimana keadaannya?" Ggio nimbrung, mencondongkan tubuh pada Toushiro, yang sukses mengangkat sebelah alis putih Hitsugaya. "Pasien kesayanganmu, siapa lagi?"
Siapa lagi. Rukia Kuchiki.
Sang dokter jenius lantas memandang Renji, yang santai mengunyah apel hijau. "Lebih baik tanyakan itu pada dokternya yang overprotective."
Si rambut merah mengerutkan kening. Namun, Senna mendahului dengan spekulasi seenak udel. "Eh, Abarai-sensei, kau juga punya hubungan dengan Kuchiki-san? Berarti ada cinta segitiga. Hitsugaya-sensei/Kuchiki-san/Abarai-sensei."
Toushiro dan Ggio menatap Senna malas, terutama Renji. "Aku akan memberimu saran, Senna. Sebelum berkomentar, singkirkan dulu pikiran 'drama cinta'mu." Maklum, penggila drama. "Dan kau, Toushiro. Kalau kau menyebutku overprotective, lalu kau sendiri disebut apa?"
Senna dan Ggio kompak nyengir dan berseru, "Over-over-over-over-overprotective!"
Toushiro dikeroyok. "Urusai," katanya, tak terdengar marah.
"Aku tidak pernah melihatmu se-emosional itu karena perempuan," Ggio menyinggung. "Kalau Abarai, beda lagi ceritanya."
"Heeei! Kenapa aku disangkutpautkan? Lebih baik untuk saat ini kita bicarakan gosip terpanas." Melirik Senna—"Aizen-sensei yang mengunjungi keluarga Senna Sakurai! Oh, kalian serius?" Lalu beralih pada Ggio yang mendadak menikmati menu di mejanya, salad buah. "Oi, Ggio, sebaiknya kau tidak tinggal diam, cepat ambil langkah."
Tapi Ggio adalah Ggio dengan pertahanan yang tidak mudah jebol. "Langkah apa?" dengan masih saja pura-pura bodoh sambil mengunyah buah stroberi.
Mendengarnya langsung (untuk sekian kali), kesabaran Senna di ambang batas. Satu gerakan cepat, ia berdiri tegap hingga kursi nyaris terjengkang. Sekujur muka merah padam dan pergi dari sana sambil lupa menghabiskan makanan yang baru habis setengahnya.
Toushiro membuang napas. Sebagai sahabat dua orang ini, ia tidak yakin harus berbuat apa. Sebab ia tahu alasan dari kelakuan dingin Ggio. Kecuali karier ingin hancur, ia punya keyakinan untuk menjauhkan diri dari yang namanya cinta dan perempuan. Bagi si rambut kepang, karier adalah segala-galanya. Sedangkan cuma orang buta yang tidak tahu kalau Senna menyukai Ggio sedari awal. Mengeluarkan seluruh kesabaran untuk menunggu laki-laki yang seperti tak berhati itu.
Sementara Renji menggeleng-geleng heran. Andai saja bisa, ia ingin menjitak kepala Ggio. Apa boleh buat, ia berkata, "Kurasa tidak aneh jika Senna mengutukmu jadi perjaka tua."
.
.
.
.
.
Sejak kematian Retsu, hanya segelintir dari teman-teman Toushiro yang masih berhubungan baik dengannya. Mengingat sikap temperamentalnya ketika itu; alih-alih mengajak ngobrol, berada jarak tiga meter saja, mereka ketakutan. Untungnya, Renji dan Hanatarou adalah salah satu yang bisa bertahan dengan sikap labilnya.
Sekali lihat, Yamada itu lemah dengan perawakan ringkih, ceking, kurus, intonasi suara yang sering gelagapan, dan pandangan yang lebih sering ke bawah daripada ke atas. Sangat jarang untuk mendapati pemuda kikuk itu berwajah berani dan sangar. Satu kejadian yang diingat baik oleh Toushiro adalah saat Hanatarou membentaknya tepat di depan wajah karena bermuram durja satu bulan belakangan.
Dan mungkin detik ini, juga. Ketika Hanatarou Yamada beraut penuh determinasi, berdiri tegap (tidak setengah membungkuk, seperti biasa), dan suara lancar tanpa gagap menyatakan perasaannya pada Riruka Dokugamine. Takut, ragu, dan bimbang ia taklukkan, dan keberanian yang berkuasa dalam dirinya.
Naluri penasaran mengantar Toushiro menghampiri si junior setelah usai melakukan 'kewajiban'. Yamada cengengesan sambil memandangnya dengan mata….
Toushiro tahu artinya. Hanatarou ditolak.
"Riruka-san sudah tahu kalau Ginjou-san jarang menjenguknya. Tapi, dia mengerti alasannya. Ginjou-san sangat sibuk."
"Apa kau juga bilang kalau pria itu berselingkuh?"
Hanatarou menggeleng. Mana mungkin ia bilang. Selain itu—"Riruka-san sudah tahu. Dia tahu kalau Ginjou-san pernah berselingkuh. Tapi, mereka sudah putus. Sekarang Ginjou-san kembali padanya. Miliknya. Riruka-san sangat mencintainya."
"Aku yakin begitu." Toushiro tidak heran setelah melihat kekukuhan gadis itu. "Dia pun berpura-pura tidak tahu kalau mereka masih berhubungan. Hah, aku tidak tahu ada perempuan sebodoh dan sebuta itu."
Hanatarou berhenti ketika tiba di teras utama rumah sakit. "Aku sudah tidak punya harapan dari awal. Aku sudah kalah sebelum berperang, hehehe~."
Toushiro tidak habis pikir. "Dasar, kau masih bisa cengengesan?"
Tawa Hanatarou berubah pelan. "Terima kasih sudah membelaku, Senpai. Hanya—"
"Caraku itu salah. Maaf."
Ia lalu meraih payung hitam di tas selempang. Hujan deras sudah mengguyur Seireitei sejam lalu (padahal masih bulan Mei). Hanatarou undur diri dan berpamitan sambil menundukkan kepala sebelum membuka payung.
"Hati-hati. Berkunjunglah ke apartemenku sekali-kali."
Hanatarou tersenyum dan menggangguk. Bersama payung hitam, ia menembus lebatnya hujan dengan kepala tegak. Toushiro memandang punggung kecil itu sambil berpikir bahwa Yamada sudah tahu jauh-jauh hari kalau Riruka akan menolaknya. Menyatakan pada gadis itu tadi untuk melepas pikulan berat yang menemaninya bertahun-tahun. Menyatakan—untuk bebas; bukan menyatakan—untuk mendengar jawaban 'Ya'. Kini, Hanatarou bisa bergerak maju. Tidak terikat lagi.
Ia jauh lebih beruntung dari Sasakibe-san.
Toushiro melangkah masuk dengan tangan terkubur di saku jas. Angin dingin membuatnya merapatkan lengan seerat mungkin sambil setengah menunduk. Mengangkat wajah adalah bertepatan ia bertemu tatap dengan Rukia di beranda atas. Sebentar saja sebelum gadis itu beranjak dari sana.
Toushiro tahu tanda itu. Rukia ingin bertemu dan bicara.
.
.
.
.
.
Kamar 1420 lumayan remang dengan bercahayakan lampu dari luar kamar. Biarpun begitu, tak ada niat Toushiro untuk menekan saklar setelah menutup pintu. Sadar kalau pembicaraan mereka bukan obrolan biasa yang harus didengar banyak orang.
"Aku suka hujan." Suara Rukia mengawali ketika sang dokter tiba di sampingnya. Berdiri memeluk diri dengan hanya mengenakan piyama pasien sambil tanpa jemu mengamati milyaran jarum air menghujam bumi. "Kalau hujan, aku bisa bolos les piano atau les bahasa yang melelahkan. Aku bisa pura-pura sakit. Batuk-batuk atau bersin, misalnya. Paling parah, pura-pura demam."
Toushiro tersenyum kecil. Kuchiki tipe pemberontak, rupanya. "Kalau aku tidak suka hujan," gilirannya yang berkomentar tanpa berpaling pada gadis di sampingnya. Rukia pun hanya melirik. "Aku tidak bisa bermain bola. Bola jadi berat dan lapangan juga jadi rusak karena air yang menggenang. Biasanya kami harus menunggu berhari-hari untuk bisa menggunakan lapangan lagi."
Kini, Rukia yang tersenyum kecil. Pemuda sebelahnya memang penggila bola.
Hening yang dipenuhi suara derasnya hujan mengambil alih. Rukia menjeda untuk memikirkan masak-masak topik yang membuatnya penasaran. Toushiro tidak membuka suara karena memang tidak tahu mau berbincang apa.
"Laki-laki itu ... Sensei mengenalnya?" Akhirnya, Rukia menyinggung sambil setengah menoleh.
Toushiro mengangguk. Tahu betul siapa yang dimaksud. "Hanatarou Yamada ... juniorku di sekolah menengah."
"Perempuan itu ... menolaknya?"
"Ya. Padahal, dia orang yang paling pantas mendapatkan lebih." Hanatarou tidak pernah menyakiti siapa pun. Pemuda canggung itu adalah orang paling baik yang pernah Toushiro temui.
"Tentu, dia pantas mendapatkan lebih—mendapatkan yang lebih baik." Toushiro menoleh langsung, tertarik pada pernyataan Rukia. "Dia terlalu baik untuk perempuan yang sama sekali tidak pernah sadar keberadaannya. Perempuan bodoh itu ... tidak pantas untuknya. Jadi aku yakin, ada perempuan yang jauh-jauh-jauh lebih baik yang tersedia untuk dia."
Senyum merebak di wajah Toushiro. "Aku harap kau bisa mengatakan itu padanya."
"Kalau dia datang ke sini lagi." Rukia menoleh, membalas senyum.
Sepi suara kedua insan kembali berkuasa. Sepuluh jari Rukia tergenggam erat di bawah sana, mencari keteguhan dan mengumpulkan keberanian. Kedua tangan Toushiro terbenam dalam saku jas, mengepak-ngepak gelisah. Menunggu; inilah saatnya untuk sebuah jawaban.
"Maaf karena aku serakah," suara Rukia terdengar, tidak berpaling.
Tapi, Toushiro berpaling padanya.
"Sensei sudah menyelamatkanku. Melakukan segala hal yang kau bisa untukku. Tapi, aku malah menginginkan ... hatimu."
Satu tarikan bibir, Toushiro tersenyum. Akhirnya...
"Kalau begitu," sekarang gilirannya. Rukia beralih untuk berhadapan dengan sepasang manik hijau yang meneduhkan, "maaf juga kalau aku seenaknya menjadikan diriku peganganmu, tanpa memikirkan perasaanmu. Aku juga menginginkan ... hatimu."
Senyum paling indah terlukis di wajah Rukia. Toushiro mengakui terang-terangan (dalam hati) itu adalah senyum paling elok yang pernah ia temui. Semu merah pun meraba dua sisi pipi sang dokter, berpaling ke depan untuk menyembunyikan. Tapi jendela kaca melakukan tugasnya dengan baik, memantulkan senyum malu merona Toushiro yang bisa Rukia pandang sepuasnya.
.
.
.
.
.
Dia harus tidur di mana?
Malam sudah sangat larut, dan pastinya Toushiro sudah ketinggalan bus untuk pulang. Tapi kini, kamar jaga sedang penuh; empat ranjang sudah diisi. Ada Renji di ranjang bawah yang sudah terlampau lelap untuk dibangunkan. Dengkurannya pun kelewat keras sampai Ggio harus memasang penyumbat telinga. Si rambut kepang juga kenapa betah tidur di rumah sakit daripada pulang ke rumah. Sampai dirinya dan Renji pernah mengira kalau Ggio itu tunawisma. Tiga bulan berturut-turut, ia tidak pulang meski tidak jaga malam.
Dan karena alasan itulah, Toushiro berakhir di sebuah ranjang di salah satu kamar. Kalau sendiri, sih, tidak apa-apa. Nah, masalahnya, ia berbagi ranjang dengan... hemmm—Rukia Kuchiki.
Begini kisahnya. Seolah sudah bertemu jalan buntu, kakinya tidak ada pilihan lain membawanya ke kamar Rukia. Awalnya, ia hanya tidur di kursi berlengan besi bersandar tembok. Prihatin (dan mungkin kasihan), sang gadis Kuchiki menawarkan setengah ranjang miliknya. Tentu Toushiro tidak mengiyakan begitu saja (takut dipikir mesum), tapi si rambut raven yang justru menariknya, mendudukkannya di sana, lalu meyakinkan sambil mengumbar ancaman.
"Tidurlah, Sensei. Atau besok kau ingin bekerja tanpa tenaga gara-gara tidak tidur dan akhirnya kena bentak Madarame-sensei?"
Ini mirip makan buah simalakama.
Apa daya, sang dokter muda pun mengikuti Rukia yang sudah berbaring lebih dulu. Bayangkan patung berdiri yang direbahkan di ranjang. Pose Toushiro mirip banget dengan leher, badan, lengan, kaki: luruuuuus sempurna. Jangan lupa dengan rona merah yang melengkapi.
Dan satu masalah lain. Toushiro cemas mengingat kegemarannya adalah tidur sambil memeluk guling. Jadi sebelum menutup mata, ia berdoa agar saat tenggelam di alam bawah sadar, ia tidak memeluk Rukia dan menjadikannya bantal guling.
.
.
.
.
.
Pagi menjemput, dan aktivitas pertama Rukia adalah memerhatikan wajah Toushiro yang tertidur dari satu sudut ke sudut lain, mengamati penuh rinci, meneliti tanpa celah dari atas-bawah dan kiri-kanan. Mulai kerutan kening tipis, kelopak mata besar yang tertutup, kedutan napas hidung mancung, rahang tegas, dan sebongkah bibir tipis.
Kuchiki percaya kalau mukanya kini pasti semerah ceri.
Hingga imbasnya, Toushiro membuka mata dan memergokinya. Namun alih-alih Rukia yang grogi karena kepergok, justru sang dokter yang membulatkan mata kaget (jarak mereka hanya sejengkal). Lupa kalau sedang berbaring di ranjang sempit, gerakan tiba-tiba mengirimnya mendarat tak elit di lantai dengan dada mendarat lebih dulu.
"Hahahahaha~..." Jangankan cemas, Rukia malah terduduk sambil tertawa keras.
Mungkin saking merdunya suara tawa gadis itu, Toushiro lupa meringis sakit. Memandang lama sang Kuchiki hingga yang dipandang jadi rikuh sendiri. Berdeham untuk membersihkan kerongkongan, ia berkata pelan, "Maaf... Sensei tidak apa-apa, kan?"
Baru Toushiro sadar kalau sedari tadi ia hanya duduk di lantai dengan pose yang jauh dari kata keren. Membersihkan celana tanpa debu sama sekali, ia lalu meraih jas putih yang tersampir di kepala ranjang. Lalu berdiri bergeming, membawa manik hijaunya menatap Rukia yang merunduk malu (malu karena tertawa).
"Aku harus pergi," kata Toushiro, akhirnya.
Melangkah menuju pintu sembari mengenakan jas putihnya. Pandangan Rukia mengikuti dengan harap-harap cemas, takut kalau si dokter marah karena menertawakannya. Namun, spekulasi itu menguap tatkala Toushiro berbalik bersama senyum lembut.
"Kau tahu," ditemani semburat merah jambu, "kau sangat cantik saat tertawa."
Rukia terperangah. Sayang, si pemuda langsung melarikan diri dengan menutup pintu sebelum ia sempat membalas.
Satu benda yang langsung si gadis raih setelahnya adalah selimut untuk menyembunyikan wajah memanas merah.
Ini adalah tawa Rukia pertama kali sepanjang lima tahun hidup suramnya.
.
.
.
.
.
Padahal cuaca di luar sedang mendung, tapi Toushiro ingin teriak kalau cuaca hari ini sangat cerah! Secerah hatinya, secerah senyumnya, secerah rautnya. Awalnya, ia tidak percaya saat Renji bilang orang lagi dimabuk asmara itu mirip orang gila yang senyum-senyum sendiri. Sekarang, ia percaya setelah mendapati pantulan muka dari kaca kamar pasien yang dilalui. Senyum kelewat lebar terpajang di wajahnya. Sebetulnya, itu senyum normal—bagi mereka yang murah senyum. Nah, bagi Toushiro, yang lebih sering cemberutnya, itu kelewat lebar.
Selain itu, ia baru ingat. Ia belum cuci muka. Ah, jorok. Jadi, kaki membawanya ke kamar jaga untuk berakhir di kamar mandi. Membasuh wajah dan merapikan rambut putih jabriknya. Keluar; didapatinya Renji yang berdiri sambil memberi tatapan yang ingin menelannya hidup-hidup.
"Kau ke mana saja? Aku memanggilmu dari tadi!"
Toushiro beraut bingung, lalu memeriksa pager. Akh, sial! Kebiasaan buruknya kambuh, lupa mengganti baterai pager.
"Baterainya habis. Memangnya ada apa?"
"Kau belum melihat pengumuman?"
"Pengumuman apa? Nanti saja. Aku ingin mandi."
"Saat seperti ini kau masih pikirkan mandi? Lihat pengumuman!"
Toushiro mendesah letih. Kadang-kadang Renji lebih mirip ibunya daripada sobatnya.
Apa boleh bilang. Ia pun bergerak menuju lobi atau lantai satu dengan langkah santai walau Renji berteriak puluhan kali untuk buru-buru. Menjumpai kerumunan para magang berdiri di depan papan sambil memerhatikan kertas putih yang terpajang di sana. Seolah diberi aba-aba, kompak belasan kepala beralih pada Toushiro. Mereka lalu menghindar, memberi jalan bebas untuknya demi berhadapan langsung dengan isi pengumuman.
Tapi, apa yang Toushiro lihat detik ini jauh dari apa yang ia pikirkan sedetik sebelumnya.
DISKUALIFIKASI (DROP-OUT) INTERN
(6 BULAN PERTAMA)
Surgical Intern
1. Tetsuya Karakiri | 3 SP | ...
2. Teru Kojima | 3 SP | ...
3. Toushiro Hitsugaya | 3 SP | Residen: Ikkaku Madarame
.
.
.
.
.
The End
.
.
.
.
.
A/N : Ggio itu tidak kejam, hanya tipe yg sangat-sangat realistis.
Sy akhirnya berani buat chara death n korbannya adalah Sasakibe, tp di manganya dia emang sudh tewas, kan (jg dgn cara yg tragis)#kausungguhkejamKubo#plak
Toushiro/Rukia sudah jadian (scr tidak langsung). Juga tidak ada kata cinta. Cinta pun butuh proses. Tp bukan berarti Toushiro/Rukia tdk saling mencintai. Hanya setahap-setahap menuju ke sana.
Dan akhirnya hasrat besar saya updet lebih dari satu chapter tercapai!#banggasendiri#plak 4 ch lagi.
Dan inilah adalah persembahan tuk temen2 yg ngerelain waktu tuk baca fic ini#meluk dan penebusan rasa bersalah author yg updetnya lelet banget, hehehe
Ray Kousen7
23 Desember 2013
LIFE Volume 1 selesai! Sampai jumpa di LIFE volume 2 dgn kelanjutan kisah Toushiro/Rukia (lebih banyak romance-nya lho) dan beberapa tokoh baru yg muncul.
